Pages

Saturday, July 4, 2026

"MEMAKELARI GUSTI"; PERJUMPAAN KATOLIK-FILIPINA DAN ISLAM-JOMBANG

Kalau aku pikir-pikir, banyak kegiatanku selama ini isinya adalah perjumpaan. Perjumpaan, khususnya, antara kelompok yang berbeda identitas. Baik identitas etnis dan agama maupun gender maupun berbeda seksualitasnya. 

Label yang mungkin cocok bagiku adalah mak comblang, makelar, blantik, matchmaker, atau apa saja yang senafas dengan diksi-diksi itu.

Seminggu yang lalu, aku menjomblangi rombongan dari Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS). 

Jumlahnya sekitar 26 orang --sepuluh diantaranya mahasiswa Hubungan Internasional dari Ateneo de Manila University Filipina.

"Gus, aku pengen ngajak mahasiswa/mahasiswi Filipina bisa live in di salah satu pesantren Jombang. Tolong bantuen ya," kata kawanku, Simon Untara, wakil dekan Fakultas Filsafat.

Perjumpaan dengan komunitas Islam di Indonesia, menurutnya, sangatlah penting bagi mereka. Di Filipina, tidaklah mudah bagi orang-orang Katolik untuk membaur dengan komunitas Islam. 

"Mereka sangat penasaran bagaimana bisa orang Katolik dan Islam di Jawa Timur bisa hidup sedekat ini. Aku awalnya memang menceritakan pada mereka betapa dekatnya kami dengan kalangan Islam," ujar Simon padaku.

Aku lantas memilih Pesantren Mambaul Hikam (PMH) Kwaron Diwek sebagai tempat mereka live in. Pesantren ini dipimpin oleh Kiai Irfan dan Nyai Ika. Nama yang kedua cukup aktif di GUSDURian Jombang beberapa tahun ini. 

Rombongan UKWMS tiba di PMH tanggal 28 Juni sekitar pukul 16.00, sehari sebelum Hari Raya Idul Fitri. 

Sebagai penanggung jawab, Simon merasa Idul Adha merupakan momentum tepat bagi rombongan untuk lebih memahami ritual perayaan Kurban. Sangat mungkin ini merupakan pengalaman pertama bagi rombongan.

Rombongan akan menginap semalam. Tanggal 29 pagi, saat Hari Raya, mereka akan melihat ritual shalat Idul Adha dan perayaan pemotongan hewan Kurban, sebelum akhirnya mereka bertolak menuju situs katolik Puhsarang di Kediri siangnya.

Aku tiba di pesantren sekitar jam 18.30. Motoran. Bersama dengan rombongan UKWMS dan PMH, aku berkeliling menjelajahi pesantren putra. Jaraknya sekitar 500 meter dari tempat mereka menginap --pesantren putri.

Situasi malam itu begitu riuh-rendah. Suara takbiran menggema seantero pesantren. Begitu bising. 

"Not all of you surely have sensational experinces entering mosque, right? So, come. Let me guide you all to enter," ujarku pada rombongan.

Kami pun masuk masjid pesantren putra. Saat itu sedang akan dilaksanakan shalat Isya' berjamaah. 

Mereka mengobservasi dan mengabadikan apapun yang mereka anggap menarik. Diskusi-diskusi kecil seputar ritual shalat, kesucian, dan politik masjid terkait hal itu. 

Setelah dianggap cukup, kami pun kembali ke Pesantren Putri. Kami memang berencana menggelar ngobrol santai seputar Islam, kearifan lokal dan Indonesia pada jam 19.30. 

Pemantiknya adalah Kiai Irfan -- sehari-hari mengajar di Fakultas Syariah dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya. 

Presentasi dari Kiai Irfan begitu bernas dan menarik, memantik banyak mahasiswa/i Filipina mengeksplorasi lebih jauh terkait topik tersebut. Dengan tangkas, menurutku, Kiai Irfan meladeni satu per satu pertanyaan dari mereka. 

Tak terasa waktu sudah mengurung kami di titik 22.00. Waktunya tidur. 

Keesokan hari, aku datang kembali ke PMH. Aktifitas penyembelihan hewan Kurban berlangsung meriah. 

Ratusan santri/wati tumplek blek di halaman pesantren putri. Mereka bahu-membahu mengurus hewan Kurban agar bisa dinikmati yang-berhak. 

Aku melihat beberapa dari rombongan UKWMS ikut terlibat bersama para santri/wati. Pihak pesantren berinisiatif menyediakan arang, tusuk sate dan alat pemanggang bagi mereka. 

Acara nyate bersama menjadi ajang untuk saling mengakrabkan semua pihak. Mereka berkomunikasi dengan bahasa Inggris terpatah-patah, khususnya para santri/wati.

Meski tidak lebih dari 24 jam, aku merasa perjumpaan mereka dengan keluarga besar PMH meninggalkan kesan mendalam bagi semua pihak yang terlibat. Aku yakin mereka mendapat banyak insight dari perjumpaan tersebut.

Aku jadi teringat, saat diskusi malam hari sebelumnya, salah satu mahasiswi Filipina bercerita, ia didatangi seorang santri/wati. Mereka terlibat dalam obrolan untuk pertama kalinya.

"I was shocked because one of them asked me whether I believe in heaven and hell when I told them I am Catholic," ujarnya.

Aku tidak tahu apa persisnya konteks percakapan mereka sehingga muncul pertanyaan seputar surga dan neraka. Serta, bagaimana sebenarnya persepsi mahasiswi tersebut hingga merasa kaget. 

"I guess that is a such normative communication for those who made an encounter for the very first time. I think we should thank and enjoy it," ujarku disambut tertawa oleh forum.

Aku sepenuhnya menyadari pertanyaan seputar surga dan nerakan merupakan cerminan kegairahan dan ketulusan orang yang baru pertama kali mengetahui saudaranya yang berbeda agama. 

Biasanya kedua belah pihak akan berusaha mengalami dan mengkonfirmasi persamaan dan perbedaan diantara mereka.

Pengalaman ini sangat mungkin akan dikenang oleh pemiliknya dan, jika beruntung, kita bisa berharap akan ada perjumpaan lebih intensif. 

Bagiku, toleransi hanyalah akan bermakna penggelembungan busa kata-kata jika tanpa diikuti kesediaan untuk saling mengetahui satu dengan yang lain.

"Gus, bisakah kamu ikut dalam sesi jam 8-11 pagi hari Jumat? Kalau perlu aku jemput kamu ke Jombang dari Puhsarang," tanya Simon kepadaku sebelum rombongan bertolak meninggalkan PMH. 

"Serius amat anak ini," batinku. Aku mengiyakan. Seperti biasanya. Khas Gemini.

Jumat, 30 Juni, hari terakhir perjalanan rombongan UKWMS. Mereka berlabuh di Wisma Bethlehem Puhsarang. Aku memutuskan mengendarai Shogun 125 --serdadu tua setia yang masih sanggup melayaniku ke mana saja.

Ada tiga romo di forum tersebut, semuanya bergelar doktor dan pengajar di Fakultas Filsafat; Romo WIdyawan, Romo Immanuel dan Romo Ramon --- yang terakhir ini dari kelompok Opus Dei. 

Forum saat itu merupakan ajang refleksi para mahasiswa/i dari Filipina. Semuanya diminta berbicara; boleh juga bertanya. Semuanya tentu memakai bahasa Inggris. 
Aku lupa bagaimana detil pembicaraan di forum tersebut. Begitu banyak refleksi dari mereka yang, to be honest, tergolong mahasiswa/i cerdas dan pemberani bicara di depan publik. 

Forum menjadi semakin menghangat manakala ada salah satu dari mereka bertanya seputar isu LGBT di kalangan Islam dan Katolik. Sejak awal aku memang sengaja memprovokasi mereka untuk berani membincang masalah itu. 

Aku selipkan kata LGBTIQ dalam beberapa penjelasanku sebelumnya. Ingin sekali aku mendengar respon dari tiga romo terpelajar yang saat itu duduk bersama kami.

"Gus, mohon maaf, untuk masalah ini aku belum bisa komentar. Aku, terus terang saja, masih belum bisa menerima," salah satu romo berbisik padaku.

"Oooh ndak papa, Mo. Aku sangat bisa memahami kok. Semua perlu proses. Eh, kita tetap berteman kan?" ujarku menggodanya. Dia tertawa lebar.

Di akhir, Simon sebagai fasilitator forum mempersilahkan doktor Noti, dosen pembimbing dari Ateneo de Manila, untuk memberikan perspektifnya. Bahasa Inggris perempuan ini begitu bagus, pun refleksinya. 

Ia mengatakan betapa berharganya pengalaman bisa live in dan menikmati kehidupan langsung pesantren, sekaligus melihat dari dekat komunitas Muslim di Jombang. Ia berharap dapat melakukan kunjungan seperti ini setiap tahun.  

Tugasku sebagai makelar usai sekitar pujul 12.30. Aku pamit, menggeber Shogunku membelah Kediri-Papar-Kunjang-Gudo-Cukir dan akhirnya kembali ke rumah. 

Entah kemana lagi makelar ini akan diutus Gusti.(*)

http://www.gusdurianjombang.my.id/2023/07/gusti-perjumpaan-katolik-filipina-dan.html?m=1

Friday, June 26, 2026

Pria Mencintai Pria; Narasi Alternatif dari Hadits

Sejauhmana romantika sesama jenis, khususnya laki-laki terhadap laki-laki, diapresiasi dalam literatur hadits? Benarkah Nabi Muhammad (NM) memiliki satu sikap saja, yakni melarang, perasaan ini? Aku sendiri, jujur saja, terkejut dengan temuanku. Sungguh.

**
Istana sempat jadi bulan-bulanan isu LGBT dengan kehadiran Teddy. Pria ganteng ini sebelumnya sempat menjadi idola emak-emak. Kini ia terasa menjadi sansak hidup.

Di media sosial, ia dihujat, dibully, direndahkan, dengan berbagai cemoohan di balik badan tegapnya. Amien Rais barangkali menjadi corong paling tegas atas kehadiran Teddy. 

Tokoh gaek ini bahkan menudingnya, membawa-bawa peristiwa paling sensitif dalam galaksi seksualitas islam tradisional; Kaum Nabi Luth. Kita semua tahu ke mana arah tudingan Amien Rais ini.

Negara ini memang seperti tengah sakit berat. Warganya, aparatnya, tokoh agamanya, secara berjamaah menunjukkan ketakutan berat pada homoseksualitas. 

Oleh pengadilan, puluhan anak-anak muda, laki-laki, dikondisikan bersalah dalam kasus Siwalan Party baru-baru ini. LBH Surabaya mati-matian membela hak konstitusional mereka di meja hijau.

Aku merasakan sendiri kuatnya homofobia di kelasku. Meski tidak terekspresikan secara demontratif, homofobia ternyata cukup laten pada mayoritas mahasiswa/iku. 

Semester lalu aku mengampu 3 kelas; 2 kelas Religion dan 1 kelas Pancasila. Totalnya 144 mahasiswa/i. Di akhir perkuliahan, aku memberi pertanyaan kepada mereka; seberapa mengancam keberadaan kelompok LGBT di Indonesia. 

Tahu jawaban mereka? Sebanyak 105 orang mengaku terancam/sangat terancam. Sebanyak 28 merasa tidak terancam. Sisanya, 11 mahasiswa menjawab tidak tahu. 

Sebagai catatan, hampir 85% total mahasiswaku beragama Kristen/Protestan. Sisanya diperebutkan oleh Katolik, Buddha, Islam, Hindu dan Khong Hu Cu.

Yo-Da
Aku menduga kuat mereka, penganut Kristus, tidak terlalu diperkenalkan dengan fenomena Daud - Yonatan. Padahal, relasi dua pria ini terpatri kuat secara Alkitabiah. Kalaupun diperkenalkan, kisahnya dijauhkan dari relasi sesama jenis.

Yonatan mengasihi Daud seperti dirinya sendiri. Jiwa Yonatan, konon, terpaut kepada Daud.

"Yonatan mengikat perjanjian dengan Daud, karena ia mengasihi dia seperti dirinya sendiri." "Berpadu jiwalah Yonatan dengan jiwa Daud, dan Yonatan mengasihi dia seperti jiwanya sendiri."

Yonatan konon rela melepaskan pakaian dan memberikannya pada Daud. Mereka bercium-ciuman seorang dengan yang lain dan menangis bersama-sama. Yonatan meyakinkan Daud bahwa ia akan selalu dekatnya.

"Engkau akan menjadi raja atas Israel dan aku akan menjadi orang kedua sesudah engkau." kata Yonatan pada Daud.

"Aku sangat susah karena engkau, saudaraku Yonatan; engkau sangat baik kepadaku; cintamu kepadaku ajaib, melebihi cinta perempuan." kata Daud meratapi Yonatan.

Bayangkan, sekali lagi bayangkan, jika Teddy atau laki-laki lain mengungkapkan kata-kata Alkitab ini untuk seorang laki-laki. Aku bertaruh; hampir tidak akan ada satupun dari kita yang tidak menduga ada baluran kuat romantisisme. 

"Tak mungkin tidak ada apa-apa di antara mereka," mungkin demikian batin kita.

Tradisional vs. Modern
Hanya saja, meski relasi Yonatan-Daud telah sedemikian benderang, kalangan tradisional Kristen --antiLGBT-- tetap keukeuh; menganggap tidak ada relasi asmara di antara keduanya. 

Di mata mereka Yonatan dan Daud adalah ikon persahabatan sakral dan perjanjian politik. Bahasa kasih, kata mereka, tidak selalu mengarah seksual. Apalagi, mereka beragumen, Daud memiliki istri-istri dan keturunan. 

Pandangan tradisional ini menemukan tantangan dari kalangan kristen modern. Bagi mereka tidak perlu kuliah hingga level S3 untuk dapat merasakan apa yang sesungguhnya terjadi pada mereka berdua. 

Hubungan mereka, atau salah satu diantaranya, tidak membutuhkan lagi penjelasan lebih lanjut karena berlaku Pasal 184 ayat (2) KUHP, "Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.".

Kata Hadits
Bagaimana dengan pandangan hadits sebagai sumber hukum kedua setelah Al-Quran? Cukup banyak beredar hadits-hadits bernuansa pengutukan terhadap relasi seksual sesama jenis, utamanya dikaitkan dengan preseden kaum Luth. 

Yang barangkali kurang diketahui publik Islam adalah adanya beberapa hadits yang bisa dibilang cukup akomodatif terhadap perasaan laki-laki terhadap laki. Mungkin tidak sevulgar Daud-Yonatan namun jejaknya cukup terang untuk menunjukkan toleransi atas romantika laki-laki kepada laki-laki.

Ada sebuah hadits yang konon diceritakan Anas bin Malik; disebutkan, suatu ketika NM duduk bersanding dengan sahabat pria. Tidak disebutkan namanya. 

Lalu melintaslah seorang pria di hadapan mereka. Sahabat pria tadi memendam rasa suka padanya dan memberitahu NM. Yang mengagetkan, alih-alih memarahinya, NM justru meminta sahabat pria tadi mengungkap perasaannya kepada laki-laki tersebut. 

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا الْمُبَارَكُ بْنُ فَضَالَةَ، حَدَّثَنَا ثَابِتٌ الْبُنَانِيُّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ رَجُلاً، كَانَ عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَمَرَّ بِهِ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي لأُحِبُّ هَذَا ‏.‏ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ أَعْلَمْتَهُ ‏"‏ ‏.‏ قَالَ لاَ قَالَ ‏"‏ أَعْلِمْهُ ‏"‏ ‏.‏ قَالَ فَلَحِقَهُ فَقَالَ إِنِّي أُحِبُّكَ فِي اللَّهِ ‏.‏ فَقَالَ أَحَبَّكَ الَّذِي أَحْبَبْتَنِي لَهُ ‏.‏

"Seorang laki-laki bersama Nabi (saw) dan seorang laki-laki melewatinya dan berkata: Utusan Allah! Saya suka pria ini. Rasulullah SAW kemudian bertanya: Sudahkah kamu memberitahukannya? Dia menjawab: Tidak. Dia berkata: Beritahukan kepadanya. Dia kemudian mendatanginya dan berkata: Aku mencintaimu karena Allah. Dia menjawab: Semoga Dia yang demi siapa kamu mencintaiku, mencintaimu!"

Hadits ini terekam dalam Sunan Abi Dawud (ditulis 880 M) dan Musnad Ahmad (ditulis 796 M). Dari dua kitab tersebut, beberapa kitab belakangan juga mencatatnya, misalnya Riyadh al-Shalihin (± 1260 M), Sharḥ Sunan Abī Dāwūd (± 1340 M), Kanz al-'Ummāl fī Sunan al-Aqwāl wa al-Af'āl (± 1550 M), Ithāf al-Maharah bi Aṭrāf al-'Asharah (± 1430 M), Iṭrāf al-Musnad al-Mu'talī bi Aṭrāf al-Musnad al-Ḥanbalī (± 1430 M), Jāmi' al-Uṣūl min Aḥādīth al-Rasūl (± 1200 M), Jam' al-Fawā'id min Jāmi' al-Uṣūl wa Majma' al-Zawā'id (± 1400 M), dan al-Jāmi' al-Ṣaḥīḥ lil-Sunan wa al-Masānīd (± 1350 M).

Dengan gamblang kita bisa menemukan NM sedemikian asertif dan akomodatif terhadap perasaan sahabat tersebut. Padahal NM sebenarnya dapat dengan mudah melarangnya dengan alasan, misalnya, kenajisan perasaan. Tapi kenapa NM tidak melarangnya?

Naungan Allah?
Dalam hadist lain, sebagaimana dicatat dalam Sahih Bukhari (864 M) dan Sahih Muslim (864 M), NM konon pernah menyampaikan, bahwa salah satu kelompok yang mendapat naungan Allah adalah dua orang laki-laki yang saling cintai --dan berpisah-- karena Allah (وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ).
 
Berikut hadits lengkapnya.

 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ عُبَيْدِ اللهِ قَالَ: حَدَّثَنِي خُبَيْبُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ، فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ، أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ.»

"Muhammad bin Bashar menceritakan kepada kami, dia berkata: Yahya memberitahu kami, atas otoritas Ubayd Allah, dia berkata: Khubaib bin Abdul Rahman menceritakan kepadaku, atas otoritas Hafs bin Asim, atas otoritas Abu Hurairah, atas otoritas Nabi, damai dan berkah Allah besertanya, bersabda: “Ada tujuh orang yang akan dinaungi Allah di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya: Imam yang adil, dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadahnya. Ya Rabb, Dan seorang laki-laki yang hatinya bertaqwa kepada masjid-masjid, dan dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah, bersatu demi dia dan berpisah demi dia, dan seorang laki-laki yang dicari oleh seorang wanita yang mulia dan cantik, Maka dia berkata, “Aku bertakwa kepada Allah,” dan seorang laki-laki yang bersedekah, menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dibelanjakan tangan kanannya, dan seorang laki-laki yang menyebut Allah secara sembunyi-sembunyi dan matanya berkaca-kaca."

Tanda Keimanan
Hadits dengan nuansa senafas juga pernah dicatat ahli hadits Sulaiman ibn Ahmad al-Tabarani dalam karyanya Al-Mujam al-Awsat (950 M). Dia bahkan pernah menarasikan cinta lelaki pada lelaki lain, sepanjang karena Allah, merupakan tanda keimanan.

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: قال رسول الله ﷺ:"إن من الإيمان أن يحب الرجل الرجل لا يحبه إلا لله عز وجل، من غير مال أعطاه إياه، فذلك الإيمان."

"Dari Abdullah bin Mas'ud ra., ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya termasuk iman ialah seorang lelaki mencintai lelaki lain semata-mata karena Allah Yang Mahamulia lagi Mahatinggi, bukan karena harta yang pernah diberikannya; itulah iman."

Hadist marfu' ini juga tercatat dalam Al-Targhib wa al-Tarhib (± 1380 M) karya Abd al-Azim al-Mundhiri, Majma al-Zawaid (± 1380 M) karya Nur al-Din al-Haythami dan Silsilat al-Ahadith al-Daifah (diterbitkan bertahap sejak 1960-an) karya Muhammad Nasiruddin al-Albani.

Masuk Surga
Nur al-Din al-Haytami dalam Majmaʿ al-Zawāʾid wa Manbaʿ al-Fawāʾid (Himpunan Hadis-Hadis Tambahan dan Sumber Berbagai Faedah) juga mencatat hadits lain, yang isinya mengapresiasi cinta antarlaki-laki, "..Barangsiapa mencintai seorang pria karena Tuhan, maka Tuhan akan mencintainya, maka keduanya masuk surga.” 

Bunyi lengkapnya sebagai berikut.

 - وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ: " «مَنْ أَحَبَّ رَجُلًا لِلَّهِ فَقَدْ أَحَبَّهُ اللَّهُ، فَدَخَلَا جَمِيعًا الْجَنَّةَ، وَكَانَ الَّذِي أَحَبَّهُ لِلَّهِ أَرْفَعَ مَنْزِلَةً، أَلْحَقَ الَّذِي أَحَبَّهُ لِلَّهِ» ".رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ، وَرَوَاهُ الْبَزَّارُ وَلَفْظُهُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: " «مَنْ أَحَبَّ رَجُلًا لِلَّهِ فَقَالَ: إِنِّي أُحِبُّكَ لِلَّهِ، فَدَخَلَا جَمِيعًا الْجَنَّةَ، فَكَانَ الَّذِي أَحَبَّ أَرْفَعَ مَنْزِلَةً مِنَ الْآخَرِ أُلْحِقَ بِالَّذِي أَحَبَّ لِلَّهِ» ". وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ.

"Dan dari hadis Abdullah bin Amr: Bahwa Rasulullah - semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya kedamaian - bersabda: “Barangsiapa mencintai seorang pria karena Tuhan, maka Tuhan akan mencintainya, maka keduanya masuk.” Surga, dan orang yang mencintainya mempunyai derajat yang paling tinggi di hadapan Allah, setara dengan orang yang dicintainya di hadapan Allah.” “Diriwayatkan oleh Al-Tabarani, dan diriwayatkan oleh Al-Bazzar, dan perkataannya adalah: Rasulullah bersabda Allah - semoga Tuhan memberkati dia dan memberinya kedamaian -: “Barangsiapa mencintai seorang pria karena Tuhan dan berkata, 'Aku mencintaimu karena Tuhan,' maka mereka semua akan masuk surga, dan orang yang dicintainya akan lebih tinggi derajatnya dari yang lain terikat pada apa yang dicintai Tuhan.” Rantai periwayatannya bagus."

Hubb yang Membingungkan
Benarkah rasa cinta ini berada dalam konstruksi asmara, ataukan persaudaraan? Inilah menariknya. 

Masyarakat Islam bisa jadi akan terbelah menjadi kelompok tradisionalis maupun modernis, sebagaimana dalam dunia Kristen terkait masalah ini.

Tradisi kekristenan sendiri, seperti kita tahu, mengenal beberapa jenis perasaan cinta; storge, agape dan eros --untuk membedakan cinta dalam konteks apa. Dalam hadits-hadits tadi, perasaan cinta dilambangkan dengan diksi "hubb". 

Dalam berbagai literatur, kata ini berlaku untuk semuanya --baik persaudaraan, tali keturunan, spiritualitas maupun seksualitas. Hubb atau mahabba, bagi al-Raghib al-Isfahani (w. 1108 M) dalam Mufradat Alfaz al-Quran merupakan kehendak atas sesuatu yang dilihat atau disangka sebagai kebaikan. 

Hubb bersifat umum. Maka terlalu sederhana jika ia dipaksa masuk dalam kerangka binerik; persaudaraan, erotisisme atau lainnya. Di sinilah pangkal kebingungan sebagian orang. 

Hal lain yang tak kalah menarik, ada kata "fi allah" muncul konsisten dalam beberapa hadits di atas. Kata ini, sederhananya, bermakna "karena Allah". 

Hadits-hadits tersebut nampaknya memiliki satu kerangka yang sama; apapun jenis perasaan cinta, sepanjang didasarkan atas nama (untuk, dari, dan oleh) Tuhan maka perasaan tersebut tidak dipermasalahkan. 

Dengan demikian, ekspresi keagungan cinta dilihat hanya apakah rasa cinta itu dipersembahkan untuk Tuhan atau yang lain. Hubb fi allah adalah dua orang yang memiliki afeksi, kedekatan, dan keterikatan hati satu sama lain yang berakar pada orientasi kepada Allah,

Batasan
Aku penasaran, jika ada orang menyatakan "aku mencintaimu karena Allah" maka bagaimana kita tahu batasan operasionalnya? Cinta yang seperti apa, yang harus diwujudkan karena menyandang kata "fi Allah" di belakangnya? 

Perasaan cinta karena Allah, menurutku, setidaknya memiliki 5 ciri. Pertama, rasa cinta akan mendorong pasangan untuk menapaktilasi jejak Rasululloh. (QS. 3:31). Dalam konteks akhlaq/etika, Rasululloh dikenal sebagai pribadi yang lembut (QS. 3:159), bermanfaat bagi seluruh umat, bukan hanya golongan tertentu (QS. 21:107), empatis (QS. 9:128), konsultatif dan pemaaf (QS. 3:169). 

Kedua, rasa cinta diantara mereka akan mendorong keduanya semakin kuat dalam menyebut/mengingat/berpikir/merenung/memahami (dzikir) atas Allah dan ciptaanNya. Dalam konteks modern, keduanya tidak ragu menjelajahi ilmu pengetahuan dalam kerangka berdzikir kepada Allah (QS. 3:190-191, 33:41, 7:205, 2:152). 

Ketiga, tidak berbasis materi -- cinta karena Allah membuat pasangan tidak lagi memposisikan pengagungan materi sebagai pondasi utama rasa cinta mereka (QS. 9:24). Keempat, sanggup tetap bertahan dalam perasaan cinta meski berpisah maupun saat kondisi berubah (Q.S. 33:23). 

Dan, kelima, rasa cinta karena Allah akan menggerakkan kesetiaan aktif, perlindungan dan kelapangan terhadap pasangan (QS. 9:71, 8:72). Artinya rasa cinta akan berfungsi sebagai penggerak aktif kesetiaan, saling melindungi dan supportif bagi pasangannya, serta orang lain.

Satu hal yang pasti mencintai, secara seksual, karena Allah tidak akan membuat seseorang berani melakukan pemerkosaan, menyetubuhi anak bawah umur, maupun ekspoitatif pada orang lain/pasangannya. Cinta sejati bercirikan 5 hal tadi --ciri yang seringkali dipendekkan menjadi "karena Allah"

Maka sudahkah kita benar-benar mencintai pasangan kita --apapun orientasi seksualnya-- karena Tuhan? Love wins.(*)


https://medium.com/@gantengpolnotok/pria-mencintai-pria-narasi-alternatif-dari-hadits-f27c07d9a9da

KALA KETURUNAN IBRAHIM BERKUMPUL DI STASI BRINGKANG

Untuk pertama kalinya siapa yang sebenarnya akan disembelih Ibrahim didiskusikan antara dua kelompok di Gresik; Katolik dan Islam. Acaranya dilakukan di rumah ibadah Katolik di Menganti yang empat tahun lalu sempat bikin geger.

**

Beberapa hari setelah menggelar acara diskusi Bunda Maria antara Katolik-Islam di Pusat Pastoral Keuskupan Surabaya, aku akhirnya mendatangi Stasi St. Agustinus desa Bringkang kecamatan Menganti kabupaten Gresik, 26 Mei 2026.

Ini stasi penting karena beberapa tahun lalu sempat mengguncang jagad internet. Stasi ini didemo beberapa warga sekitar karena dianggap tidak berijin. Salah satu pendemonya menggunakan atribut/tulisan "Ansor" -- organisasi underbouw Nahdlatul Ulama yang dikenal toleran. 

Sebelum didemo, stasi ini digunakan ibdah seperti biasanya. Jumlah jemaatnya sekitar 400an kepala keluarga. Lebih dari 1000 warga jika dikalikan 3. 

Stasi ini luas sekali. Sekitar 1 hektare. Menempati bekas pabrik yang tidak lagi digunakan pemiliknya. Konon pabrik ini dibeli oleh salah satu umat di sana. Aku juga mendengar ada versi pabrik ini dibeli oleh otoritas Katolik.

Secara administratif stasi ini menginduk di Paroki St. Yakobus Citraland Surabaya. Romo kepalanya sekarang adalah kawan lamaku, Romo Eko --yang dulu menjabat sebagai vikaris jenderal Keuskupan Surabaya periode alm. Uskup Sutikno. 

Romo Eko malam itu, Selasa (26/5), menjadi salah satu narasumber selain aku. Aku cukup lama kenal dengan Romo Eko, semenjak ia menjabat sebagai kepala kevikepan Nganjuk. Aku pernah mengunjunginya di sana. 

Dia juga pernah aku undang mengisi 1000 hari wafatnya Gus Dur di Paroki Santa Maria Jombang. Terakhir kali aku bertemu dengannya di Unika Widya Mandala Dinoyo. Saat itu ia vikjend dan menjadi salah satu narasumber bersamaku.

Romo Eko adalah salah satu dari sedikit romo yang memiliki kedekatan personal dengan alm. Gus Dur. Ia bahkan pernah diijinkan menginap di Wisma Negara seaat GD menjadi presiden. 

"Betul, saya menginap di sana, teman-teman yang lain memilih tidak mau," kataya di hadapan peserta diskusi Kurban malam itu. 

Ia menyinggung posisi Katolik terkait siapa yang akan dikorbankan. Yakni, Ishak. Lebi jauh ia menekankan pentingnya menghayati esensi peristiwa pengorbanan tersebut dalam konteks keindonesiaan.

"Setiap orang perlu menyadari pentingnya pengorbanan agar Indonesia yang plural ini bisa tetap berdiri," katanya.

Baginya, Gus Dur adalah salah satu cerminan bagaimana pengorbanan dilakukan untuk mempertahankan kohesifitas di masyarakat, khususnya ketika ia menjadi presiden. 

Sebagai pembicara kedua, aku menyinggung posisi Al-Quran dalam urusan siapa yang akan dikorbankan Ibrahim. 

Tidak ada nama spesifik di sana --tidak juga Ismail atau adiknya, Ishak. Kitab suci ini seperti sadar diri; tidak memihak. Ia hanya menyebutkan "anak laki-laki terkasihku"

Sebelum abad 10, masih cukup banyak tafsir Al-uran yang mengakomodasi tokoh-tokoh Islam yang berpandangan Ishak adalah yang dimaksud Al-Quran, misalnya Ali bin Abi Thalib. 

Namun setelah abad 10, beberapa tafsir, seperti Katsir dan Qurtubi, memberikan keberpihakannya kepada Ismail. 

Peran Ishak tergeser sangat mungkin karena semakin menguatnya keberadaan Islam. Penguatan ini secara teoritik dalam konteks kompetisi antarkeyakinan/agama biasanya membutuhkan dua hal. 

Pertama, pemenangan simbolik atas peristiwa-peristiwa ritualistik. Apalagi jika peristiwa ini menjadi "sengketa" da diperebutkan antarkeyakinan. 

Dan, kedua, penguatan identitas pembeda yang mengiringi pemenangan peristiwa tersebut. 

Misalnya, Islam-Katolik bersengketa atas figur Yesus. Keduanya membangun narasi kecintaannya sendiri --yang selanjutnya wajib diimani oleh para penganutnya. 

Saking tajamnya perebutan ini, sebagian kelompok Islam dan Kristen/Katolik bahkan membuat distingsi yang agak menggelikan; Yesus tidak sama dengan Isa. 

Yesus diasosiasikan dalam narasi penyaliban dan kristologi trinitarian, sedangkan Isa dinarasikan lolos penyaliban dan bersemanyam dalam kristologi unitarian.

Mana yang benar? Wallohu a'lam, namun aku meyakini pendapat yang benar adalah pendapat mana saja yang mampu membuat kita semakin menyayangi orang lain, khususnya yang berbeda pendapat denganmu.

Malam itu aku melihat puluhan orang Islam, Kristen dan Katolik bercengkerama tanpa sekat, membincang perbedaan kurban sebagai sesama keturunan Ibrahim. Mereka memiliki keyakinan masing-masing siapa yang sebenarnya akan dikurbankan Ibrahim.  

"Perbedaan ini perlu dirawat sebagai energi untuk saling menguatkan," kata salah satu peserta yang aku ajak bicara. 

Dalam konteks operasionalisasi Stasi Bringkang yang masih terkendala, situasi malam ini merupakan tanda dari langit bagi stasi ini. Semoga rumah ibadah ini bisa segera bisa digunakan kembali seperti sebelumnya.

Aku perlu memberikan kredit bagi Khosyiah dan segenap kru GUSDURian Gresik. Juga kepada Husni dan Petrus. Mereka sedemikian intens merajut kembali jaring yang terkoyak di Bringkang. (*)

Tuesday, May 5, 2026

ROKOK HKBP


Sudah lama aku tidak silaturrahmi dengan kawan-kawan HKBP Jombang. Mungkin ada setahunan lebih,
Namun akhirnya semesta seperti tidak mengizinkan keterpisahan tersebut berlama-lama. Kami akhirnya bersua kembali.

Friday, May 1, 2026

Voting dan Referendum Homoseksualitas



Mungkin belum banyak yang tahu, pencabutan status "mental disorder" bagi homoseksualitas merupakan hasil voting dan referendum. Kok bisa?

***
Saat menulis tesis di kampus Hasyim Asy'ari Tebuireng, aku sedikit melacak perdebatan posisi homoseksual di kalangan para psikiater Amerika, yang tergabung dalam APA (American Psychiatric Association) .

Aku merasa wajib melacaknya karena tesisku berjudul "Rekonstruksi Perkawinan Sesama Jenis dalam Hukum Islam perspektif Hak Asasi Manusia dan SOGIE-SC,"

Tuesday, April 14, 2026

PENDETA MENGUTIP AYAT INI SAAT MEMBERKATI PERKAWINAN BEDA AGAMA RERA & MOSES



Moses tidak bisa lagi menahan emosinya. Tangisnya pecah. Suaranya sesenggukan ketika memberikan sambutan di akhir pemberkatan perkawinan beda agamanya dengan Rera, Minggu (10/11).
"Saya mengucapkan terimakasih kepada bapak dan ibu (orangtua Rera). Saya benar-benar tidak menyangka bapak dan ibu akhirnya mau hadir dalam pemberkatan kami. Diberikan izin untuk menikahi Rera adalah anugerah. Namun kehadiran bapak dan ibu saat itu sungguh membuat saya bahagia," ujarnya dengan sesenggukan. 
Ruang ibadah sontak senyap, larut bersama emosi Moses dan Rera. 

Ciganjur Dan Perkawinan Beda Agama



Dalam urusan perkawinan beda agama (PBA), setahuku keluarga Ciganjur tidak pernah mengeluarkan sikap resminya. Keluarga Gus Dur yang menjadi panutan ribuan orang ini sikapnya netral; tidak mendukung juga tidak melarang. Hanya saja, kehadiran Inaya Wahid dalam proses ijab kabul PBA Rera dan Moses, Minggu (10/11/2024) mau tidak mau, sedikit menguak ke arah mana sikap keluarga ini.
***

Friday, March 27, 2026

RIYAYAN DIKOMANDANI NU-KATOLIK



"Aku punya kawan, Katolik cerdas, barusan jadi doktor hukum, pernah di seminari. Nampaknya ia agak jarang ke gereja. Tolong sampeyan libatkan lagi di bagian PHUBB, mas,"
"Paroki mana, gus?"
"Entahlah. Tapi rumahnya lho satu perumahan karo sampeyan,"
"Lho?! Siapa namanya, Gus?"
---

Monday, March 23, 2026

Relasi Kristen-Islam: Membaca Ulang Pernikahan Unik Nabi Muhammad SAW


Ternyata, berislam hingga usia 50 tahun tidak menjaminku tahu sepenuhnya lika-liku perkawinan Nabi Muhammad (NM), tak terkecuali dengan Ramlah bint Abi Sufyan --akrab dipanggil Ummu Habibah (UH). 

Perkawinan NM dengan UH menurutku tergolong unik, salah satunya, karena NM diwakili King Aramah (KA), Raja Kerajaan Aksumit. Dalam literatur klasik Islam dia identik dengan Ashamah ibn Abjar, Raja Habasyah Ethiopia, pengikut Kristus, memerintah periode 614-630 M.

Monday, March 9, 2026

PUTTI -- Perhimpunan Transpuan dan Transman Tionghoa Indonesia

"Ayo Cinere-Cinere ngumpul. Diajak foto sama Gus Aan," kata Mikha memberi komando kumpulan kawan-kawannya di warung kopi depan Hotel Lotus Kediri, Minggu (1/3).

**
Mikha adalah aktifis transpuan, sudah malang-melintang di dunia minoritas gender dan seksual Jawa Timur. Ia sudah aku anggap sebagai adikku sendiri. 

Tuesday, February 10, 2026

TAK BISA JAUH-JAUH DARI SETIJADI


Entah siapa Setijadi itu. Yang pasti ia tentulah lelaki. Aku berani bertaruh. Tak pernah aku bertemu dengannya, baik maya ataupun nyata. 

Dua minggu lalu, aku diminta para senior Tionghoa menemani  perempuan Tionghoa, dosen di Singapura. Namanya Charlotte Setijadi, Never heard that name. 

Friday, February 6, 2026

SEMPRO CALON DALANG POTEHI


Tiga hari lalu, aku mengunjungi Museum Wayang Potehi (WMP) Gudo. Sudah agak lama aku tidak mengunjungi pemiliknya, Mas Toni. 

Sebulan sebelumnya kami janjian untuk maesong. Sayangnya ia tidak bisa hadir. Mamanya masuk rumah sakit dan ia harus menjaganya. Anak laki-laki adalah kekasih ibunya. Itu hukum alam.

Monday, February 2, 2026

MENCARI HIKMAT LGBT DI MANADO


"Karena firman itu telah menjadi daging," aku berbisik pada Prof. Emanuel Gerrit Singgih (EGS) di GMIM Sion Winangun Manado, Jumat (2/2). "Anda telah menyelamatkan kekristenan Indonesia, pak, dan juga kami," lanjutku.

Aku berkata seperti itu saat melihat hampir seratusan orang yang hadir memenuhi gereja tersebut menyuarakan pentingnya mengakhiri stigmatisasi terhadap kelompok LGBTIQ, dalam bedah buku "Menafsir LGBT dalam Alkitab,"

Thursday, January 29, 2026

SEPEDA UNGU UNTUK MESSIAH DAN ELIANA


Aku sempat ragu sepeda warna ungu atau biru yang akan aku pakai ke pasar. Dua sepeda pancal tersebut adalah warisan dari Galang dan Cecil yang sudah tidak dipakai lagi.

Aku putuskan pakai ungu saja meski rem belakangnya tidak cukup nyaman. Ungu bukanlah warnaku. Hanya saja, aku sulit tidak memperhatikannya. Semacam ada magnet yang terasa membetotku --tidak peduli apakah aku suka atau tidak.

Dalam sejarah Yunani kuno, ungu merupakan warna yang melambangkan kebangsawanan dan kedaulatan. Hanya keluarga sultan dan kroni-kroninya saja yang mampu memakainya.

Entah kenapa bisa seperti itu. Sangat mungkin karena tidak mudah membuat warna ini. Diperlukan banyak keong laut sebagai bahan warna ini. Kabarnya.

Ungu semakin ngehit sebagai warna sultan kala Raja Sulaiman (Solomon) memilihnya sebagai warna tirai kuil suci yang ia bangun di Yerussalem. Konon. Aku belum menyaksikannya sendiri.


Saat Yesus disiksa tentara Romawi, konon, Ia dijubahi warna ungu bersamaan dengan mahkota duri. "Hail King of Jews!" sorak mereka memcemooh seraya memukuliNya.

Mungkin itu sebabnya banyak kawan-kawanku pendeta memakai selendang berwarna ungu di masa tertentu. Entah karena motivasi kesultanan (royalty) ataukah justru sebagai solidaritas atas penghinaan padaNya.

Aku belum tahu, misalnya, apakah warna jubah Nabi Muhammad juga ungu ketika mengalami penderitaan akibat makanan yang diduga bercampur racun. 

Namun yang aku tahu, Messiah tidak memakai warna ungu saat "menyentuh," Eliana -- pekerja seks yang ditugaskan menggoda Messiah.

"Do you think we will have a sex?" tanya Messiah saat Eliana menelusupkan tanganya ke payudaranya sendiri.

"I want to," ujar Eliana sembari mulai membuka mantelnya.

"How's that going to cure you?" Messiah terus mencecarnya dengan pertanyaan. Eliana memang mengklaim kedatangannya menemui Messiah di hotel karena ingin sembuh dari penyakitnya.

Namun Messiah sudah tahu siapa Eliana --pekerja seks yang dibayar orang penting di Gedung Putih untuk mendekreditkannya. Tanpa disadari, dua orang ini sedang diawasi cctv tersembunyi. Dikontrol Will Mather, seorang US Marshall. Ia diminta mengawasi Messiah 24 jam.


Di layar cctv, Will melihat jelas Messiah, dengan kelembutan yang sangat piawai, berhasil menyadarkan Eliana agar tidak meneruskan menjadi kaki tangan orang jahat. 

Saat itu Messiah meminta Eliana tidak takut berkata jujur; tidak hidup dalam kepura-puraan.

"How can you be the person God intended if you're not honest about who you are?" ujar Messiah. Eliana makin terisak. Sesenggukan. Air matanya meleleh deras.

Perkataan Messiah ini rupanya juga "menampar," Will yang selama ini merasa hidup dalam kepura-puraan. Pura-pura bahagia berkeluarga bersama istrinya, padahal ia tidak bisa hidup tanpa kekasih prianya. 

"I love you," kata Will kepada pacarnya, di ujung telpon.

Messiah adalah serial Netflix yang beberapa kali aku tonton. Sayangnya, karena mendapat banyak menuai protes gara-gara dianggap antiislam, serial ini berhenti produksi. Padahal menurutku film ini bagus sekali. 

****
Pisang ijo, tahu, kopi ketan sambel, krupuk, tempe, dan air kelapa. Nggak sampai 40k. Cukup untuk berhari-hari.(*)

----
https://www.google.com/amp/s/www.christianity.com/wiki/holidays/why-is-the-color-purple-associated-with-easter.html?amp=1

https://sunnah.com/bukhari:3169
https://sunnah.com/bukhari:2617

https://www.google.com/amp/s/www.independent.co.uk/arts-entertainment/tv/news/messiah-netflix-series-1-s2-cancelled-islamophobia-jordan-a9430946.html?amp

**FB 29 Januari 2022

A-M-B-Y-A-R



Akhirnya jebol juga air mata Kartika Diredja saat menjadi partnerku memfasilitasi sesi STIGMA di forum Chtistian Study for Muslim Scholars 2020 Asosiasi Teolog Indonesia, Senin (27/1), di STT Setyabakti Malang.

Suara perempuan Tionghoa ini semakin parau di hadapan puluhan peserta. Ia nampak begitu terluka saat 16 orang Islam "mendapat" stigma dari puluhan mahasiswa/mahasiswi STT SATI yang hadir dalam sesiku. 

"Saya bersama mereka selama beberapa hari ini. Mereka orang baik. Tidak seperti yang kalian tuliskan di papan ini," katanya serak. Air matanya makin meluap saat ia menautkan luka historik yang ia miliki bersama keluarganya. Peserta Islam menyodorkan tisu padanya 

Diam-diam aku merasakan buliran hangat meleleh dari mataku melihat perempuan ini dari pojokan. 

"Cuk, ambyar kabeh," aku membatin.

Saat sesi baru mulai, Kartika berdiskusi denganku untuk meminta setiap peserta Muslim menulis stereotype orang Kristen yang ada dalam pikirannya. Begitu juga sebaliknya; yang Kristen menulis stereotype orang Islam dalam pandangan mereka.

"Semua boleh menulis apa saja. Jangan takut ketahuan karena kalian tidak perlu menulis nama atau IG kalian di kertas tersebut," kataku memberi petunjuk. 

Semua kemudian menulis di kertas secara cepat. 

Aku menggotong papan besar di depan dan meminta selotip untuk menempelkan hasil tulisan mereka. White board aku beri tanda pemisah. "Kertas dari Kristen ditempel sebelah sini. Yang dari Islam ditaruh sebelah sini,"

Panitia bekerja sangat efisien. Kertas-kertas ditempelkan dengan sangat cepat. Aku beberapa kali mengecek hasil tempelan dua kelompok. Aku merasa agak kuatir.

"Guys, listen to me. Tdak boleh ada yang memotret hasil kerja kalian. Kertas-kertas di papan ini tidak boleh keluar dari ruangan," kataku setengan berteriak dan memberi senyuman.


Selanjutnya, aku meminta semua peserta untuk maju ke depan membaca hasil tabulasi aspirasi mereka, dengan terlebih dahulu meninggalkan gadget mereka. Aku memang agak kuatir jika ada yang memotret dan kemudian mengunggahnya ke media sosial.

Kekuatiran lebih karena konten-konten tersebut akan berpotensi memicu kesalahpahaman yang tidak perlu. Utamanya kertas konten yang berisi pandangan peserta Kristen terhadap Islam. Isinya begitu tajam. Sangat tajam. 

Itu sebabnya, barangkali, Kartika merasa perlu merespon hal itu. Bahkan, dosen mereka, bung gembala Jefry sempat agak emosional setelah mengetahui begitu pekat stigma yang dilekatkan terhadap keislaman. Ia terlihat benar-benar terkejut dan meminta maaf.

"Mereka tidak salah kok karena sejak awal kita meminta mereka bersikap jujur. Ini adalah fakta berharga yang perlu kita refleksikan bersama," kataku menetralisir. Aku juga meminta peserta Islam meneladani sikap elegan Kartika dan Jefry saat itu; berani meminta maaf saat klompoknya dianggap menyinggung perasaan orang lain. 

Aku kemudian diberi kesempatan agak panjang mengurai dari mana stigma pekat Islam terhadap Kristen yang berakibat fatal hingga hari ini. Stigma tersebut dilekatkan begitu mendalam melalui teks suci dan diimplementasikan secara totaliter dalam lanskap historis. 

"Persekusi terhadap Kekristenan sudah mendekati level genosida," kataku sembari memapar data yang dirilis BBC tahun lalu. Aku selanjutnya memapar kenapa hal itu bisa terjadi termasuk betapa dahsyat kontribusi Kristologi al-Quran. 

Mereka tertawa saat mendengar istilah kristologi al-Quran. Mungkin mereka belum diajari hal itu.

"Yang akan aku papar ini materi level master atau bahkan level doktoral yang mungkin belum pernah kalian nikmati. Kalian beruntung mengundangku," kataku sembari mapar model kristologi al-Quran yang begitu sangat dipengaruhi model kekristenan awal lawan dari kelompok Trinitarian aliran utama seperti sekarang.

Entah mereka paham atau tidak. Namun aku berusaha menjelaskan segamblang mungkin. "Kami ini seperti seorang adik yang begitu sangat bernafsu membuktikan dirinya juga sukses seperti kakaknya. You know what I mean, don't you?" kataku.

Di forum itu pula aku bertemu dengan salah satu peserta, perempuan asal GUSDURian Malang. Aku bertanya tentang trinitas karena ada sesi khusus tentang itu di acara ini. 

"Duh.. Aku masih bingung, gus. Makin rumit. Kenapa harus serumit itu ya?" katanya di luar forum. Aku yakin ia tidak sendirian. Aku sangat berkepentingan tiap peserta Muslim bisa memahami secara sederhana konsep tersebut agar bisa menetralisir stigma menyekutukan Tuhan (shirk) terhadap orang Kristen. Stigma ini sangat prevalent di kalangan orang Islam dan sangat berbahaya. 


"Jika ada orang Islam menganggap Tuhan orang Kristen ada tiga, maka sebagai lulusam CSMS kamu berkewajiban menjelaskannya. Tuhan mereka esa, bukan tiga," ujarku sembari menjelaskan dengan meminjam segitiga sebagai ilustrasinya. 

"Ini bukan penjelasan ideal namun setidaknya kalian bisa lebih terbantu memahami ajaran Kristen yang terstigma sebagai 'menyekutukan Tuhan' dalam ajaran kita," ujarku.

Aku melihat senyuman dari arah perempuan tersebut. Wajahnya terlihat lega. Tanda ia lebih paham. Aku meyakini.

Di luar forum, aku menemui gerombolan peserta Islam. Mewanti-wanti agar mereka terus belajar tentang kekristenan agar selamat dari stigma. 

"Jika bingung dengan penjelasan dari orang Kristen, kontaklah aku. Mungkin aku bisa menjelaskan dengan nalar Islam yang aku pahami," kataku sembari meninggalkan mereka, mencari kopi bersama Danang dan genk GUSDURian Malang serta Nganjuk.

Jam 3.30 aku membangunkan satpam STT. Memintanya membuka gerbang agar aku bisa mencegat bis. Aku harus bergeser ke Univ. Ciputra karena ada matakuliah Pancasila jam 7.30-nya.

Di atas bis, aku buka gadgetku. Melihat dua foto tempelan kertas-kertas mereka di papan. Aku perhatikan lagi sebelum kemudian menghapusnya. 

Thanks, ATI and STT SATI!

** Facebook 29 Jan 2020

Wednesday, January 28, 2026

I LOVE THEE, KUPANG


Melihat begitu demonstratifnya penolakan Masjid Darul Amanah Liliba Kota Kupang, hatiku campur aduk-aduk. 

Menurutku, ini pengalaman pertamaku melihat sedemikian "garang" masyarakat di sana menolak rumah ibadah yang bukan milik mayoritas. Dalam memoriku, Kota Kupang adalah simbol toleransi paling moncer seluruh jagad Indonesia, selain Manado, Singkawang dan Salatiga. 

Aku tahu ada problem administratif dalam pembangunan masjid tersebut. Namun melakukan vandalisme terhadap bangunan masjid maupun rumah ibadah lain sungguhlah tidak perlu dilakukan, kecuali dengan maksud mengirimkan pesan kepada publik.

Wednesday, January 21, 2026

KEBAHAGIAAN CECERAN NATALAN


Natal telah lama berlalu. Namun demikian, kenangannya selalu hadir meski aku orang Islam.

"Pak, kalau jajan natalnya masih ada, saya mau mampir ya," aku menirim WA ke Pak Setyo Adi, jemaat GKJW Mutersari Bareng. 

Aku kenal dia sejak lama karena cukup sering beraktifitas di gerejanya. Tidak hanya itu, aku juga akrab dengan Yulius, anaknya yang menjadi pendeta di GKJW.

Friday, January 16, 2026

Bach Di Tarawih Pertama


"Bach lagi meratap soal apa? Kok terasa kelam sekali?" batinku.

Pelan-pelan aku cari judulnya. Bahasa Jerman. Ketemu. Aku ketik di Google untuk menemukan liriknya. Ketemu juga.

***

Sunday, January 11, 2026

NANAS TANAH SUCI



Kemarin, Sabtu (10/1), aku motoran ke Pasar Induk Sayur di Pare Kediri. Jaraknya sekitar 30 km. Tekadku satu; beli nanas. 

Sebulan terakhir ini keluarga sangat doyan nanas, kecuali Galang. Hampir tiap kami beli nanas; di pasar, pinggir jalan, atau minimarket. 

Yang paling brutal mengkonsumsi nanas adalah Cecil. Ia memang terlihat diet. Makanan utamanya telur rebus dan...nanas. Entah madzhab apa dietnya. 

Kenapa di Pasar Induk Pare? Aku meyakini harganya lebih miring. Benar dugaanku. Nanas besar per biji hanya dihargai Rp.4.500. Di pasar Jombang 7-8 ribu. Di pinggir jalan, 13k.

Sunday, January 4, 2026

Ketamakan Agamis

Jika ketidakbahagiaan berumah tangga ditandai, salah satunya, dengan perceraian, maka harusnya perkawinan seagamalah yang harusnya dilarang, karena menyebabkan ketidakbahagiaan. 

Featured Post

"MEMAKELARI GUSTI"; PERJUMPAAN KATOLIK-FILIPINA DAN ISLAM-JOMBANG

Kalau aku pikir-pikir, banyak kegiatanku selama ini isinya adalah perjumpaan. Perjumpaan, khususnya, antara kelompok yang berbed...