Pages

Friday, June 26, 2026

Pria Mencintai Pria; Narasi Alternatif dari Hadits

Sejauhmana romantika sesama jenis, khususnya laki-laki terhadap laki-laki, diapresiasi dalam literatur hadits? Benarkah Nabi Muhammad (NM) memiliki satu sikap saja, yakni melarang, perasaan ini? Aku sendiri, jujur saja, terkejut dengan temuanku. Sungguh.

**
Istana sempat jadi bulan-bulanan isu LGBT dengan kehadiran Teddy. Pria ganteng ini sebelumnya sempat menjadi idola emak-emak. Kini ia terasa menjadi sansak hidup.

Di media sosial, ia dihujat, dibully, direndahkan, dengan berbagai cemoohan di balik badan tegapnya. Amien Rais barangkali menjadi corong paling tegas atas kehadiran Teddy. 

Tokoh gaek ini bahkan menudingnya, membawa-bawa peristiwa paling sensitif dalam galaksi seksualitas islam tradisional; Kaum Nabi Luth. Kita semua tahu ke mana arah tudingan Amien Rais ini.

Negara ini memang seperti tengah sakit berat. Warganya, aparatnya, tokoh agamanya, secara berjamaah menunjukkan ketakutan berat pada homoseksualitas. 

Oleh pengadilan, puluhan anak-anak muda, laki-laki, dikondisikan bersalah dalam kasus Siwalan Party baru-baru ini. LBH Surabaya mati-matian membela hak konstitusional mereka di meja hijau.

Aku merasakan sendiri kuatnya homofobia di kelasku. Meski tidak terekspresikan secara demontratif, homofobia ternyata cukup laten pada mayoritas mahasiswa/iku. 

Semester lalu aku mengampu 3 kelas; 2 kelas Religion dan 1 kelas Pancasila. Totalnya 144 mahasiswa/i. Di akhir perkuliahan, aku memberi pertanyaan kepada mereka; seberapa mengancam keberadaan kelompok LGBT di Indonesia. 

Tahu jawaban mereka? Sebanyak 105 orang mengaku terancam/sangat terancam. Sebanyak 28 merasa tidak terancam. Sisanya, 11 mahasiswa menjawab tidak tahu. 

Sebagai catatan, hampir 85% total mahasiswaku beragama Kristen/Protestan. Sisanya diperebutkan oleh Katolik, Buddha, Islam, Hindu dan Khong Hu Cu.

Yo-Da
Aku menduga kuat mereka, penganut Kristus, tidak terlalu diperkenalkan dengan fenomena Daud - Yonatan. Padahal, relasi dua pria ini terpatri kuat secara Alkitabiah. Kalaupun diperkenalkan, kisahnya dijauhkan dari relasi sesama jenis.

Yonatan mengasihi Daud seperti dirinya sendiri. Jiwa Yonatan, konon, terpaut kepada Daud.

"Yonatan mengikat perjanjian dengan Daud, karena ia mengasihi dia seperti dirinya sendiri." "Berpadu jiwalah Yonatan dengan jiwa Daud, dan Yonatan mengasihi dia seperti jiwanya sendiri."

Yonatan konon rela melepaskan pakaian dan memberikannya pada Daud. Mereka bercium-ciuman seorang dengan yang lain dan menangis bersama-sama. Yonatan meyakinkan Daud bahwa ia akan selalu dekatnya.

"Engkau akan menjadi raja atas Israel dan aku akan menjadi orang kedua sesudah engkau." kata Yonatan pada Daud.

"Aku sangat susah karena engkau, saudaraku Yonatan; engkau sangat baik kepadaku; cintamu kepadaku ajaib, melebihi cinta perempuan." kata Daud meratapi Yonatan.

Bayangkan, sekali lagi bayangkan, jika Teddy atau laki-laki lain mengungkapkan kata-kata Alkitab ini untuk seorang laki-laki. Aku bertaruh; hampir tidak akan ada satupun dari kita yang tidak menduga ada baluran kuat romantisisme. 

"Tak mungkin tidak ada apa-apa di antara mereka," mungkin demikian batin kita.

Tradisional vs. Modern
Hanya saja, meski relasi Yonatan-Daud telah sedemikian benderang, kalangan tradisional Kristen --antiLGBT-- tetap keukeuh; menganggap tidak ada relasi asmara di antara keduanya. 

Di mata mereka Yonatan dan Daud adalah ikon persahabatan sakral dan perjanjian politik. Bahasa kasih, kata mereka, tidak selalu mengarah seksual. Apalagi, mereka beragumen, Daud memiliki istri-istri dan keturunan. 

Pandangan tradisional ini menemukan tantangan dari kalangan kristen modern. Bagi mereka tidak perlu kuliah hingga level S3 untuk dapat merasakan apa yang sesungguhnya terjadi pada mereka berdua. 

Hubungan mereka, atau salah satu diantaranya, tidak membutuhkan lagi penjelasan lebih lanjut karena berlaku Pasal 184 ayat (2) KUHP, "Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.".

Kata Hadits
Bagaimana dengan pandangan hadits sebagai sumber hukum kedua setelah Al-Quran? Cukup banyak beredar hadits-hadits bernuansa pengutukan terhadap relasi seksual sesama jenis, utamanya dikaitkan dengan preseden kaum Luth. 

Yang barangkali kurang diketahui publik Islam adalah adanya beberapa hadits yang bisa dibilang cukup akomodatif terhadap perasaan laki-laki terhadap laki. Mungkin tidak sevulgar Daud-Yonatan namun jejaknya cukup terang untuk menunjukkan toleransi atas romantika laki-laki kepada laki-laki.

Ada sebuah hadits yang konon diceritakan Anas bin Malik; disebutkan, suatu ketika NM duduk bersanding dengan sahabat pria. Tidak disebutkan namanya. 

Lalu melintaslah seorang pria di hadapan mereka. Sahabat pria tadi memendam rasa suka padanya dan memberitahu NM. Yang mengagetkan, alih-alih memarahinya, NM justru meminta sahabat pria tadi mengungkap perasaannya kepada laki-laki tersebut. 

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا الْمُبَارَكُ بْنُ فَضَالَةَ، حَدَّثَنَا ثَابِتٌ الْبُنَانِيُّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ رَجُلاً، كَانَ عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَمَرَّ بِهِ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي لأُحِبُّ هَذَا ‏.‏ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ أَعْلَمْتَهُ ‏"‏ ‏.‏ قَالَ لاَ قَالَ ‏"‏ أَعْلِمْهُ ‏"‏ ‏.‏ قَالَ فَلَحِقَهُ فَقَالَ إِنِّي أُحِبُّكَ فِي اللَّهِ ‏.‏ فَقَالَ أَحَبَّكَ الَّذِي أَحْبَبْتَنِي لَهُ ‏.‏

"Seorang laki-laki bersama Nabi (saw) dan seorang laki-laki melewatinya dan berkata: Utusan Allah! Saya suka pria ini. Rasulullah SAW kemudian bertanya: Sudahkah kamu memberitahukannya? Dia menjawab: Tidak. Dia berkata: Beritahukan kepadanya. Dia kemudian mendatanginya dan berkata: Aku mencintaimu karena Allah. Dia menjawab: Semoga Dia yang demi siapa kamu mencintaiku, mencintaimu!"

Hadits ini terekam dalam Sunan Abi Dawud (ditulis 880 M) dan Musnad Ahmad (ditulis 796 M). Dari dua kitab tersebut, beberapa kitab belakangan juga mencatatnya, misalnya Riyadh al-Shalihin (± 1260 M), Sharḥ Sunan Abī Dāwūd (± 1340 M), Kanz al-'Ummāl fī Sunan al-Aqwāl wa al-Af'āl (± 1550 M), Ithāf al-Maharah bi Aṭrāf al-'Asharah (± 1430 M), Iṭrāf al-Musnad al-Mu'talī bi Aṭrāf al-Musnad al-Ḥanbalī (± 1430 M), Jāmi' al-Uṣūl min Aḥādīth al-Rasūl (± 1200 M), Jam' al-Fawā'id min Jāmi' al-Uṣūl wa Majma' al-Zawā'id (± 1400 M), dan al-Jāmi' al-Ṣaḥīḥ lil-Sunan wa al-Masānīd (± 1350 M).

Dengan gamblang kita bisa menemukan NM sedemikian asertif dan akomodatif terhadap perasaan sahabat tersebut. Padahal NM sebenarnya dapat dengan mudah melarangnya dengan alasan, misalnya, kenajisan perasaan. Tapi kenapa NM tidak melarangnya?

Naungan Allah?
Dalam hadist lain, sebagaimana dicatat dalam Sahih Bukhari (864 M) dan Sahih Muslim (864 M), NM konon pernah menyampaikan, bahwa salah satu kelompok yang mendapat naungan Allah adalah dua orang laki-laki yang saling cintai --dan berpisah-- karena Allah (وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ).
 
Berikut hadits lengkapnya.

 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ عُبَيْدِ اللهِ قَالَ: حَدَّثَنِي خُبَيْبُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ، فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ، أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ.»

"Muhammad bin Bashar menceritakan kepada kami, dia berkata: Yahya memberitahu kami, atas otoritas Ubayd Allah, dia berkata: Khubaib bin Abdul Rahman menceritakan kepadaku, atas otoritas Hafs bin Asim, atas otoritas Abu Hurairah, atas otoritas Nabi, damai dan berkah Allah besertanya, bersabda: “Ada tujuh orang yang akan dinaungi Allah di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya: Imam yang adil, dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadahnya. Ya Rabb, Dan seorang laki-laki yang hatinya bertaqwa kepada masjid-masjid, dan dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah, bersatu demi dia dan berpisah demi dia, dan seorang laki-laki yang dicari oleh seorang wanita yang mulia dan cantik, Maka dia berkata, “Aku bertakwa kepada Allah,” dan seorang laki-laki yang bersedekah, menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dibelanjakan tangan kanannya, dan seorang laki-laki yang menyebut Allah secara sembunyi-sembunyi dan matanya berkaca-kaca."

Tanda Keimanan
Hadits dengan nuansa senafas juga pernah dicatat ahli hadits Sulaiman ibn Ahmad al-Tabarani dalam karyanya Al-Mujam al-Awsat (950 M). Dia bahkan pernah menarasikan cinta lelaki pada lelaki lain, sepanjang karena Allah, merupakan tanda keimanan.

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: قال رسول الله ﷺ:"إن من الإيمان أن يحب الرجل الرجل لا يحبه إلا لله عز وجل، من غير مال أعطاه إياه، فذلك الإيمان."

"Dari Abdullah bin Mas'ud ra., ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya termasuk iman ialah seorang lelaki mencintai lelaki lain semata-mata karena Allah Yang Mahamulia lagi Mahatinggi, bukan karena harta yang pernah diberikannya; itulah iman."

Hadist marfu' ini juga tercatat dalam Al-Targhib wa al-Tarhib (± 1380 M) karya Abd al-Azim al-Mundhiri, Majma al-Zawaid (± 1380 M) karya Nur al-Din al-Haythami dan Silsilat al-Ahadith al-Daifah (diterbitkan bertahap sejak 1960-an) karya Muhammad Nasiruddin al-Albani.

Masuk Surga
Nur al-Din al-Haytami dalam Majmaʿ al-Zawāʾid wa Manbaʿ al-Fawāʾid (Himpunan Hadis-Hadis Tambahan dan Sumber Berbagai Faedah) juga mencatat hadits lain, yang isinya mengapresiasi cinta antarlaki-laki, "..Barangsiapa mencintai seorang pria karena Tuhan, maka Tuhan akan mencintainya, maka keduanya masuk surga.” 

Bunyi lengkapnya sebagai berikut.

 - وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ: " «مَنْ أَحَبَّ رَجُلًا لِلَّهِ فَقَدْ أَحَبَّهُ اللَّهُ، فَدَخَلَا جَمِيعًا الْجَنَّةَ، وَكَانَ الَّذِي أَحَبَّهُ لِلَّهِ أَرْفَعَ مَنْزِلَةً، أَلْحَقَ الَّذِي أَحَبَّهُ لِلَّهِ» ".رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ، وَرَوَاهُ الْبَزَّارُ وَلَفْظُهُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: " «مَنْ أَحَبَّ رَجُلًا لِلَّهِ فَقَالَ: إِنِّي أُحِبُّكَ لِلَّهِ، فَدَخَلَا جَمِيعًا الْجَنَّةَ، فَكَانَ الَّذِي أَحَبَّ أَرْفَعَ مَنْزِلَةً مِنَ الْآخَرِ أُلْحِقَ بِالَّذِي أَحَبَّ لِلَّهِ» ". وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ.

"Dan dari hadis Abdullah bin Amr: Bahwa Rasulullah - semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya kedamaian - bersabda: “Barangsiapa mencintai seorang pria karena Tuhan, maka Tuhan akan mencintainya, maka keduanya masuk.” Surga, dan orang yang mencintainya mempunyai derajat yang paling tinggi di hadapan Allah, setara dengan orang yang dicintainya di hadapan Allah.” “Diriwayatkan oleh Al-Tabarani, dan diriwayatkan oleh Al-Bazzar, dan perkataannya adalah: Rasulullah bersabda Allah - semoga Tuhan memberkati dia dan memberinya kedamaian -: “Barangsiapa mencintai seorang pria karena Tuhan dan berkata, 'Aku mencintaimu karena Tuhan,' maka mereka semua akan masuk surga, dan orang yang dicintainya akan lebih tinggi derajatnya dari yang lain terikat pada apa yang dicintai Tuhan.” Rantai periwayatannya bagus."

Hubb yang Membingungkan
Benarkah rasa cinta ini berada dalam konstruksi asmara, ataukan persaudaraan? Inilah menariknya. 

Masyarakat Islam bisa jadi akan terbelah menjadi kelompok tradisionalis maupun modernis, sebagaimana dalam dunia Kristen terkait masalah ini.

Tradisi kekristenan sendiri, seperti kita tahu, mengenal beberapa jenis perasaan cinta; storge, agape dan eros --untuk membedakan cinta dalam konteks apa. Dalam hadits-hadits tadi, perasaan cinta dilambangkan dengan diksi "hubb". 

Dalam berbagai literatur, kata ini berlaku untuk semuanya --baik persaudaraan, tali keturunan, spiritualitas maupun seksualitas. Hubb atau mahabba, bagi al-Raghib al-Isfahani (w. 1108 M) dalam Mufradat Alfaz al-Quran merupakan kehendak atas sesuatu yang dilihat atau disangka sebagai kebaikan. 

Hubb bersifat umum. Maka terlalu sederhana jika ia dipaksa masuk dalam kerangka binerik; persaudaraan, erotisisme atau lainnya. Di sinilah pangkal kebingungan sebagian orang. 

Hal lain yang tak kalah menarik, ada kata "fi allah" muncul konsisten dalam beberapa hadits di atas. Kata ini, sederhananya, bermakna "karena Allah". 

Hadits-hadits tersebut nampaknya memiliki satu kerangka yang sama; apapun jenis perasaan cinta, sepanjang didasarkan atas nama (untuk, dari, dan oleh) Tuhan maka perasaan tersebut tidak dipermasalahkan. 

Dengan demikian, ekspresi keagungan cinta dilihat hanya apakah rasa cinta itu dipersembahkan untuk Tuhan atau yang lain. Hubb fi allah adalah dua orang yang memiliki afeksi, kedekatan, dan keterikatan hati satu sama lain yang berakar pada orientasi kepada Allah,

Batasan
Aku penasaran, jika ada orang menyatakan "aku mencintaimu karena Allah" maka bagaimana kita tahu batasan operasionalnya? Cinta yang seperti apa, yang harus diwujudkan karena menyandang kata "fi Allah" di belakangnya? 

Perasaan cinta karena Allah, menurutku, setidaknya memiliki 5 ciri. Pertama, rasa cinta akan mendorong pasangan untuk menapaktilasi jejak Rasululloh. (QS. 3:31). Dalam konteks akhlaq/etika, Rasululloh dikenal sebagai pribadi yang lembut (QS. 3:159), bermanfaat bagi seluruh umat, bukan hanya golongan tertentu (QS. 21:107), empatis (QS. 9:128), konsultatif dan pemaaf (QS. 3:169). 

Kedua, rasa cinta diantara mereka akan mendorong keduanya semakin kuat dalam menyebut/mengingat/berpikir/merenung/memahami (dzikir) atas Allah dan ciptaanNya. Dalam konteks modern, keduanya tidak ragu menjelajahi ilmu pengetahuan dalam kerangka berdzikir kepada Allah (QS. 3:190-191, 33:41, 7:205, 2:152). 

Ketiga, tidak berbasis materi -- cinta karena Allah membuat pasangan tidak lagi memposisikan pengagungan materi sebagai pondasi utama rasa cinta mereka (QS. 9:24). Keempat, sanggup tetap bertahan dalam perasaan cinta meski berpisah maupun saat kondisi berubah (Q.S. 33:23). 

Dan, kelima, rasa cinta karena Allah akan menggerakkan kesetiaan aktif, perlindungan dan kelapangan terhadap pasangan (QS. 9:71, 8:72). Artinya rasa cinta akan berfungsi sebagai penggerak aktif kesetiaan, saling melindungi dan supportif bagi pasangannya, serta orang lain.

Satu hal yang pasti mencintai, secara seksual, karena Allah tidak akan membuat seseorang berani melakukan pemerkosaan, menyetubuhi anak bawah umur, maupun ekspoitatif pada orang lain/pasangannya. Cinta sejati bercirikan 5 hal tadi --ciri yang seringkali dipendekkan menjadi "karena Allah"

Maka sudahkah kita benar-benar mencintai pasangan kita --apapun orientasi seksualnya-- karena Tuhan? Love wins.(*)


https://medium.com/@gantengpolnotok/pria-mencintai-pria-narasi-alternatif-dari-hadits-f27c07d9a9da

No comments:

Post a Comment

Featured Post

Pria Mencintai Pria; Narasi Alternatif dari Hadits

Sejauhmana romantika sesama jenis, khususnya laki-laki terhadap laki-laki, diapresiasi dalam literatur hadits? Benarkah Nabi Muhammad (NM) m...