Pages

Showing posts with label banyuwangi. Show all posts
Showing posts with label banyuwangi. Show all posts

Monday, June 12, 2017

Menjemput Lailatul Qadar di GKJW Banyuwangi

Oleh. Subhan Bastomi

Malam itu, Sabtu (10/6), aku mendapat undangan dari sahabatku gus Aan hadir dalam sebuah acara yang sangat asing bagiku, beribadah dari dalam gereja. Jujur, itu pertama kali aku lakukan walaupun sebelumnya aku sering keluar masuk gereja, tapi malam ini berbeda karena sebelumnya aku hanya berfikir ketika gereja memanggilku itu berarti aku mendapat pekerjaan dan dapurku bisa mengepul. Maklum kita hanya lelaki pemuas (tembok) atau bahasa kerennya painters (tukang cat).

Sebelum berangkat aku sempat bingung baju apa yang harus kukenakan untuk menghormati mereka dan gus Aan tidak malu punya kawan seperti saya. Karena maaf, saya tidak punya baju yang sopan. Dalam lemari saya hanya bertumpukan kaus yang bertuliskan merk cat, beberapa jersey adventure trail dan mungkin itu yang menggambarkan pekerjaan dan hobi saya. Ada beberapa hem tapi sudah tidak proporsional dengan ukuran tubuh saya, cuma satu batik andalan tapi di saku depan pas di dada tertulis MWC NU Tegalsari beserta lambang jagad berbintang sembilan.

Saya merasa baju-baju sangat tidak mungkin, "Ahh masa bodolah tentang pakaian...yang penting pantes walaupun pepatah; mengatakan ajining rogo soko busono,"

Ketika sampai di gereja pas waktu berbuka puasa. Dari beberapa teman rombonganku mungkin aku yang paling pede, mungkin karena aku yang paling sering masuk gereja. Namun sungguh, saya agak ndredek ketika kami disambut dengan senyum dan pecah suasana ketika kami dihampiru Gus Aan dengan cerah-ceria khas beliau.

Dari raut wajahnya tercermin sebuah kalimat welcome in my home. Kami pun masuk ruang makan dan dikenalkan kepada pengurus jemaat serta pendeta Krispong. Mereka berkumpul menemani kami berbuka puasa. 

Ketika pendeta Kris berkata bahwa acara dimulai pukul 18.00, kami memohon izin sebentar untuk menunaikan sholat maghrib. Mereka mempersilahkan dengan penuh hormat seakan kami adalah rombongan Raja salman yang di sambut oleh para alumni 212.

Setelah sholat magrib kami sudah ditunggu jemaat gereja. Kami dipersilahkan duduk paling depan seperti seorang kiai yang hadir dalam pengajian peringatan hari besar Islam. Saya mencoba berdamai dengan keadaan memandang sekeliling sambil menghela nafas panjang.

Dalam hati saya berkata; "Sudah kafirkah aku?" Saya tidak lupa terus beristighfar. Bukan tanpa alasan aku berfikir seperti itu. Maaf, aku nyantri di PP Darussalam 6 tahun, setelah itu berlanjut di Pesantren Al-Falah Jember. Pendidikan awalku adalah TK Khadijah, MI Miftahul Ulum, MTs Al-Amiriyyah, MA Alamiriyyah -- semuanya berafiliasi dengan Lembaga Pendidikan Maarif NU.

Anda bisa bayangkan, dengan latar belakang seperti itu, barangkali sangat normal ketika terjadi pergumulan batin yang bermuara.  Suudzon dan khusnudzon campur aduk berproses menjadi rasa pengen kentut, kencing, menjadi satu dan tidak bisa keluar. (Coba anda bayangkan sejenak rasanya)

Tapi jujur saja, memang benar itulah yang saya alami dan insyaAllah akan menjadi cerita pengantar tidur bagi anak cucuku kelak.
Kemudian, sebagai pembuka kedua, sahabat kami yang hadir diperkenalkan oleh Pdt. Kris, serta diundang ke depan beserta Pdt. Natael untuk menjadi narasumber. Acara malam itu dalam rangka bulan Kesaksian dan Pelayanan (Kespel) dengan tema "Menyongsong Masa Depan NKRI".

Kemudian oleh Pdt. Kris, kami diperkenalkan satu persatu kepada seluruh jemaat yang hadir. Mereka menyambut dengan senyum ramah serta tepuk tangan tanda penghargaan bagi kami yang telah sudi nenghadiri dan menghormati acara yang mereka.

Pendeta Natael membuka saresehan pada malam hari itu dengan lembut khas seorang ayah yang sedang memberi petuah kepada anak anaknya. Beliau memaparkan tentang sejarah Pancasila, rumusan dasar dan keragaman idenya dalam tubuh BPUPKI masa itu.

Menurut Pdt. Natael, semua pada akhirnya bermuara pada satu rumusan lima sila yang terbingkai dalam Bhineka Tunggal Ika. Natae juga mengejawantahkan tentang konsep anak kandung dan anak angkat, mayoritas dan minoritas. Dia memberikan satu kesimpulan; kita adalah satu. Ada quote dari almaghfurlah KH. Abdurrahman Wahid; tidak penting apa agamamu, apa sukumu. Ketika engkau bisa berbuat baik, mereka tidak akan bertanya apa agamamu dan apa sukumu. Kemudian Pdt. Natael menutup sesinya dengan quote KH. Hasim Muzadi; "Pancasila bukan agama tapi tidak bertentangan dengan agama. Pancasila bukan jalan tapi titik temu antara semua perbedaan jalan, beda suku budaya agama dan bahasa. Hanya Pancasila yang mampu menyatukan,"

Kemudian sesi dilanjut oleh junior saya, Tedjo Rifa'i, mantan mubaligh cilik yang sangat kondang bahkan sering satu pentas dengan Rhoma Irama dengan Nada dan Dakwahnya. Sekarang job dakwahnya sepi. Dia yang pernah sedikit "murtad" kala bergumul di rayon Al Hikam PMII Unisma Malang, merupakan seorang  advokat yang punya hubungan baik dengan beberapa tokoh ring satu Banyuwangi.

Tedjo memang punya kualifikasi berbeda dengan yang lain. Ia pernah mengikuti beberapa kursus diantaranya diklat pengacara HAM dan kursus auditor hukum yang diammpu langsung oleh Prof. Jimly Assidiqi.

Malam ini dengan sedikit ndredeg dia membawakan tema sesuai dengan kualifikasinya yaitu tentang kesetaraan dan hak asasi manusia. Tema ini sangat matching dengan materi yang disampaikan oleh pemateri sebelumnya.

Forum berjalan khidmat dan audien semakin semangat karena materi Tedjo adalah pengetahuan penting yang bisa digunakan sebagai alat melawan bullying ataupun persekusi. Harus diakui, penyampaian materinya masih sangat normatif namun cukup lumayan. Saya meyakini Tedjo menyampaikannya sembari ndredeg, ngempet kentut dan kencing.

Sesi terahir yang sangat ditunggu-tunggu jemaat adalah pemaparan sahabat saya, Aan Anshori. Katanya dia NU tapi saya belum pernah tahu ia menunjukan kartanunya hehehe...

Dengan penuh antusias seluruh jemaat menyimak apa yang disampaikan beliau dengan gaya khas LGBT --walaupun sejatinya sudah terbukti ada Galang dan Cecil. Ia sangat komunikatif memaparkan tentang bahaya radikalisme dan data-data tentang perkembangan radikalisme di Indonesia.

Wow saya sangat ngeri dengan data tersebut dan saya hampir mengangkat tangan untuk ampun menyerah tidak kuat menahan emosi kebangsaan saya yang rasanya tercabik-cabik. Namun saya tetap tegar karena saya seorang Banser yang telah lulus Diklatsus.
Benar apa yang dikatakan gus Aan ketika kita mengupas kitab suci kita dengan setengah-setengah maka itulah yang terjadi, dan saya pernah mengalami fase itu.

Saya berfikir ketika hal tersebut tidak segera kita benahi maka ancaman serius sedang mengintai bumi kita tercinta ini. Maka ada hal hal yang harus kita mulai dari kita sendiri yaitu mencoba mengimplementasikan secara utuh apa itu rahmatan lil 'alamiin. Di sana tersimpan sebuah mutiara yang bernama cinta. Mengutip apa yang pernah disampaikan oleh Rumi bahwa Tuhan adalah segalanya Ia menganugerahi kebaikan kepada siapapun yang senantiasa tenggelam dalam lautan cinta.

Sesi dilanjut dengan tanya-jawab. Ada beberapa penanya mengungkap tentang apa yang pernah dia alami yang cukup membuat diri saya malu di hadapan tuhan. Sadar atau tidak aku atau pun kawanku yang lainnya sering bersuudzon tentang mereka. Padahal dari ungkapan mereka,  sebenarnya mereka lebih tahu dan lebih bisa mengamalkan apa itu ajaran agama kasih sebagai wujud inti dari rahmatan lil alamiin.

Bahkan jika mereka berkenan aku kan meminta maaf atas apa yang pernah aku prasangkakan terhadap mereka.

Ketika kita sadar bahwa manusia tercipta dengan segenap kekurangan; apakah pantas ketika kita selalu merasa "Akulah yang paling benar. Ketika engkau tidak seperti aku maka engkau kafir..?"

Harus kita ingat pula bahwa manusia dicipta dengan berbagai perbedaan dan bersuku-suku bangsa itu adalah haq (kebenaran). Mungkin sekarang ini urat malu kita sudah tertutup dan terlapisi lemak jahat, kolesterol atau asam urat yang menggerogoti sehingga urat malu kiat putus.

Puisi persaksian dari Taufiq WR Hidayat menjadi refleksi bahwa kita tidak akan sempurna menunaikan hidup ketika tanpa perbedaan yang saling melengkapi. Aku teringat sahabat karib saya, MHW, seorang pelukis seniman yang selalu mengajarkan cinta kasih terhadap saya. Teman saya ini terbiasa bekerja menghias ornamen pada pura seperti patung, atau pun altar untuk gereja, klenteng ataupun tempat-tempat ibadah lain.

Kadang setiap Natal dia mengajak saya untuk mendekor GPDI di Desa Jajag. Ia seorang hafidz al-Quran 30 juz (untuk yang ini hanya saya, istrinya dan Alloh saja yang tau serta itu alasan saya pake inisial).

MHW selalu mengajarkan kepada saya; cintailah apapun yang menurut nuranimu baik karena nurani tak pernah bohon. Yang membuat saya kadang merasa aneh, ketika dia melukis salib, Yesus atau ketika sedang membikin patung ogoh-ogoh, mulut MHW tidak pernah berhenti melafalkan ayat al-Quran yang dia hafal.

Saya kemarin bertanya pada dia apakah kamu tidak menista alquran dengan seperti itu? Dia hanya menjawab; fafirru ilallah (larilah menuju Allah). Jawaban itu seperti memukul telak uluhati saya karena baru sadar alam semesta beserta isinya adalah ciptaan tuhan dan hanya tuhan yang berhak menghakimi.

Pernahkah kita terfikir kenapa kita begitu mudah lupa akan perintah-perintah Allah di saat kita tersasar dan melakukan kesilapan yang berkali-kali? Pernahkah kita berfikir, kenapa begitu mudah kita melakukan perbuatan yang kita tahu akan dosanya dan silapnya? Pernahkan terlintas di benak kita kenapa kerap kali hati kita merasa begitu mudah untuk membeku hingga terlepas dari peluang-peluang membuat kebaikan?
Apakah yang telah terjadi saat itu? Apakah yang memberhentikan masa sehingga kita tersilap dan terus membuat kesilapan.

“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang telah melupakan (perintah-perintah) Allah, lalu Allah menjadikan mereka melupakan (amal-amal yang baik untuk menyelamatkan) diri mereka. Mereka itulah orang-orang yang fasik – derhaka” – Al- Hasyr: 19

Gereja beserta jemaatnya pada malam itu memberikan pelajaran kepada saya betapa berharganya sebuah kehidupan, indahnya toleransi dan sucinya cinta. Setelah sekian tahun saya tidak menulis, hari ini saya menulis dan ingin memprasastikan pengalaman berharga dalam hidup ini. Sebab dalam setiap fase kehidupan saya, harus ada prasasti yang bermanfaat untuk saya.

Maaf saudaraku aku pernah menista kalian. Maaf tuhanku, kami belum mampu mengurai benang kusut perselisihan. Semoga rahmatmu bisa kami implemetasikan terhadap sesama dengan penuh cinta.

Sunday, June 11, 2017

Termenung di Hadapan Salib GKJW Banyuwangi

Oleh Fina Mawadah

Entah aku harus memulai ini dari mana,  yang jelas semua hal apapun itu pasti ada permulaan, pasti ada yang pertama, pertama aku masuk Banyuwangi, pertama masuk kampus, dan kali ini untuk pertama kalinya aku masuk gereja.

Menjadi yang minoritas atau bahkan satu-satunya sudah sering kualami. Satu-satunya mahasiswa fakultas ekonomi prodi manajemen semester VI UNTAG Banyuwangi yang berasal dari Sumatra (Lampung), menjadi  satu-satunya yang tidak memahami bahasa Madura ketika event silaturahim dan diskusi bersama sahabat-sahabat PMII Jember, Situbondo, Bondowoso dll.

Tapi hari ini, malam ini, 10 Juni 2017, di sini, di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Banyuwangi, aku menjadi minoritas bahkan satu-satunya yang memakai hijab dalam acara buka bersama dan sarasehan.

Ragu bercampur takut ketika menerima pesan dari aktifis GUSDURian Banyuwangi, mas Ahmad "Tejo" Rifa'i, yang berisi ajakan untuk acara ini.  Bagaimana tidak, ini bukanlah hal biasa bagiku, lagi pula ini berbarengan dengan acara komisariat PMII Untag, yaitu  bukber dan diskusi dengan sahabat Anggi Dian Pratama Putra sebagai pemantiknya.

Namun atas dasar sungkan dan malu ketika menolak maka kuputuskan untuk meng"iya" kan ajakan ini.

Ragu, takut, deg-degan kembali kurasakan saat kaki ini melangkah untuk pertama kalinya memasuki halaman gereja. Namun perasaan ini seketika pecah ketika mendapat sambutan hangat dari bapak-bapak dan ibu-ibu umat Kristen di halaman tersebut.

Perasaan itu kembali muncul bahkan semakin keras ketika dihadapkan dengan hidangan buka puasa; nasi, takjil dan seperangkatnya yang telah siap untuk disantap. Takut yang kurasa karena pikiran-pikiran yang terlintas di kepala ini; "Bolehkah ini? Dosakah ini?"

Semua itu tertimpa oleh rasa malu ketika aku hanya diam, tidak makan dan minum apapun. Tidak inginnya ada ketersinggungan oleh pihak tuan rumah dan sebagai perwujudan nilai toleransi maka dengan Bismillahirrahmaanirrahiim kuberanikan diri untuk menyantap hidangan itu, meskipun dalam keadaan takut sehingga makanan ataupun minuman serasa sulit untuk ditelan.

Suasanapun mencair mengalir perlahan, setelah berbuka puasa kami rombongan melaksanakan ibadah shalat maghrib di mushala yang berada di dalam RSUD  blambangan, karena kebetulan GKJW terletak tepat di depannya. Aku pun mencurahkan segala apa yang kualami dan kurasakan pada saat itu dalam bingkai do'a kepada sang khaliq Allah SWT.

Nampaknya, lamanya waktu yang kuhabiskan menuai reaksi dari salah satu rombongan yaitu mas Bibit Ari Wijaya (Bejo). Dengan bercanda, ia berseloroh "Sangking takutnya (masuk gereja) shalatnya sampai lama," Ini menandakan bahwa ketakutan yang kurasakan begitu kentara dan dapat dipahami oleh orang lain.

Kamipun kembali memasuki gereja dalam acara selanjutnya yaitu sarasehan. Tempatnya yang di dalam gereja --tempat beribadah. Kami duduk di barisan paling depan dan posisiku duduk adalah tepat di depan salib yang dipasang dengan indahnya di aula gereja tersebut.

Perasaan yang ada dalam diri ini semakin kacau dan tidak menentu, gejolak yang ada dalam hati, dag dig dug jantung serasa dua kali lebih cepat. Pikiran yang terus berkutat pada pertanyaan "Bolehkah? Benarkah? Dosakah?" Gemetar merinding dan wajah yang tegang adalah wujud nyata yang nampak pada tubuh ini.

Sarasehan pun mengalir, dimoderatori oleh pendeta Kristanto. Sebelum dimulai kami pun diperkenalkan satu persatu. Malu luar biasa kurasakan saat itu.

Ketika narasumber pertama, Pendeta Natael Hermawan, wasekum PGI Jawa Timur, mulai menyampaikan materi dengan 2 titik pembahasan yaitu terkikisnya  toleransi dan intolerans di negeri ini. Padahal ruh dari Pancasila adalah gotong royong tanpa memandang suku, ras maupun agama. Artinya, Indonesia adalah rumah bersama. Semua untuk semua. Gus Dur pernah berkata "Tidak penting agama ataupun sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak akan bertanya apa agamamu,"

Narasumber yang kedua, mas Tejo, mengajarkan kami tentang UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM, di mana salah satu poinnya adalah kebebasan pribadi. Hal ini mengandung makna kebebasan beragama, "Yang namanya keyakinan itu tidak bisa dipaksakan," ujarnya.
Sampai di sini gemetar yang kualami semakin tidak terasa.

Memasuki pemaparan dari narasumber yang ketiga yaitu Gus Aan Anshori dari Jombang. Gejolak yang ada dalam diri yang sebelumnya sudah mulai tenang, kembali terasa bahkan semakin akut. Gemetar merinding dan wajah tegang semakin terlihat jelas. Bagaimana tidak, alangkah mengerikannya sesuatu ketika hanya dipahami secara tekstual bukan secara kontekstual, akan menjadi suatu persoalan besar di negeri ini.

Aku terlahir dari keluarga muslim, bisa dikatakan muslimku ini adalah muslim turunan dari orang tua. Aku hidup dan dibesarkan dilingkungan mayoritas muslim di desa Pulau Jaya (salah satu desa di kab. Lampung Selatan). Dan akupun bersekolah di madrasah (ibtidaiyyah, tsanawiyyah, dan aliyah) yang semua siswa dan guru nya adalah muslim.

"Lakum diinukum waliadin," menjadi peganganku, kupahami itu dengan artian selagi kita tidak mengganggu, mengusik, melarang mereka untuk beibadah dan begitupun sebaliknya, hal itu cukup. Selebihnya apapun yang mereka lakukan aku tidak mau ikut campur lebih dalam, selagi tidak keluar dari patron kita Pancasila.

Orang tua, guru ngaji, guru di sekolah tidak pernah mengajarkan untuk melarang untuk bergaul dengan yang berbeda (agama),  tidak melarang untuk menerima pemberian, bahkan mengajarkan untuk hidup saling berdampingan.  Hal tersebut membuat konstruksi diri yang kubuat untuk diri sendiri. Saya menyadari bahwa masyarakat Indonesia adalah heterogen, dan sangat indah ketika dapat hidup dan berjalan secara berdampingan. Namun saya membatasi diri untuk tidak ikut campur hal apapun, melainkan cukup sebatas tidak mengganggu mereka melaksanakan ibadah.

Jangankan untuk memasuki rumah ibadah agama lain, sebatas mengucapkan selamat pada hari-hari besar mereka, aku ragu tak berani dan akhirnya memutuskan untuk tidak. Hal ini bukan karena aku dilarang tapi dengan konstruksi yang telah terbangun dan juga tidak biasa melakukan itu sedari kecil.

Entah seperti apa kontruksi yg terbangun di lingkungan tempat aku dibesarkan. Namun yang kurasakan, secara garis besar semua dapat berdampingan, namun sama-sama tidak mau ikut campur hal-hal yang mendasar. Hanya sebatas tidak mengganggu.

Dan malam ini sesuatu yang baru terjadi dalam diri ini, tidak sekedar hanya ucapan, bahkan akupun masuk dan makan di dalam gereja bersama saudara-saudara yang berbeda. Gemetar merinding terasa berfluktuasi pada tubuh ini, ringan, sedang, semakin keras bahkan sangat terasa dan terlihat saat berlangsungnya sarasehan, kemudian semakin memudar seiring berjalannya waktu.

Bagaimana tidak, semua yang ada di sini menerima kami dengan sangat hangat dan baik-baik, tak ada perbedaan di antara kita. Toleransi tercipta nyata di sini. Selain itu puisi yang dibawakan Taufiq Wr Hidayah, salah satu GUSDURian yang juga dikenal sebagai budayawan Banyuwangi semakin menyadarkan kita bagaimana kondisi Indonesia akhir-akhir ini. Nilai-nilai toleransi sangat dirindukan. Tak sadar air mata pun mengalir dengan sendirinya.

Banyak sekali hikmah yang bisa didapatkan. Sudahilah memahami sesuatu hanya secara tekstual, sudah saat bongkar konteks yg terkandung dari teks tersebut. Beradalah dalam level toleransi. Kita hidup sebagai makhluk Tuhan yang memmpunyai kewajiban untuk beribadah dan kita juga sebagai makhluk yang berbangsa dan bernegara. 

Sebagai bangsa, Indonesia adalah Negara dengan Pancasila sebagai ideologi dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan. Sudah saatnya kalimat "Ketika Gus Dur hidup kami tenang, dan sekarang setelah beliau wafat kami was-was," kita ganti dengan "Hari ini kami rasakan sama halnya seperti Gus Dur masih hidup." Menjadi tugas kita semua masyarakat Indonesia untuk mewujudkan hal itu. Amin.

Featured Post

Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 35

Rilis Jaringan NU Kultural (JANUR)  Jombang, 19 Agustus 2026 Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 35 Muktamar ke-35...