"Sesungguhnya Allah menyuruhmu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarangmu berbuat keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu mengambil pelajaran." (QS. 16:90)
Friday, July 31, 2020
Soal Berkurban, Kita Perlu Belajar dari Mereka
Tuesday, September 11, 2018
SURAT UNTUK CECIL DAN GALANG; AYO BERHIJRAH
Dear Cecil dan Galang,
Aku lewatkan tahun baru hijriyah kali ini di Purwokerto, ibukota kabupaten Banyumas.
Meski selevel kecamatan, cukup banyak jejak institusi besar yang sangat jarang dimiliki kecamatan-kecamatan lain. Ada katedral dan ada Bank Indonesia. Kabupaten ini juga memiliki dua pengadilan negeri serta dua pengadilan agama.
Sebelum digabungkan menjadi satu dengan Banyumas, sangat nampak Purwokerto merupakan kota yang cukup penting di masa lalu, semacam situs berperadaban tinggi yang membuat banyak orang tertarik berhijrah ke sini.
Purwoketo mengingatkan Ayah kepada Madinah, kota tempat Nabi Muhammad berhijrah 1440 tahun lalu. Madinah adalah kota Yahudi berperadaban tinggi. Salah satu cirinya, perempuan Madinah dikenal kritis dan tidak gampang tunduk pada nalar patriarki.
Itu sebabnya mereka relatif punya posisi tawar yang setara dengan laki-laki. Kabarnya, Umar bin Khattab sempat gusar dengan istrinya yang berubah menjadi kritis padanya. "Ini pasti karena terkontaminasi perempuan Anshar (Madinah)," kata Umar
Ada sekitar 66 klan Yahudi di sana sebelum akhirnya mereka digilas dan digantikan komunitas muslim. Transisi ini sendiri tidak membutuhkan waktu lama, kurang dari 10 tahun sejak Nabi hijrah ke kota ini tahun 622 masehi.
Dear Cecil dan Galang,
Saat di Purwokerto kemarin, ayah melihat pawai dari sekolah-sekolah Islam. Mereka berbaris dan berarak menyusuri jalanan kota itu. Persis seperti hijrah Nabi.
Hijrah bisa diartikan "berpindah," atau "meninggalkan," Ayah memaknainya sebagai kesediaan seseorang meninggalkan era kegelapan menuju peradaban yang lebih manusiawi. Istilah Quraniknya; min al-dlulumati ila al-nuur.
Kelak jika besar nanti, kamu berdua akan tahu betapa Negeri yang terlihat tenang dan adem ayem ini sebenarnya menyimpan keganasan akut.
Tidak sedikit dari orang yang seagama dengan kalian melakukan kekerasan dan persekusi kepada pemeluk agama minoritas. Ngeri sekali datanya.
Itu sebabnya, Senin (10/9) ayahmu sangat bersyukur bisa membawa hampir 100 orang berhijrah agar tidak menjadi predator atas nama agama. Mereka adalah mahasiswa/mahasiswi jurusan Studi Agama-agama IAIN Purwokerto, kampus yang belum pernah ayah singgahi.
Bersama teman-teman GUSDURian Banyumas, ayah mengajak mereka untuk mengenal 9 nilai Gus Dur di Klenteng Hok Tek Bio Pasar Wage. Ayah melihat sendir mereka tidak lagi canggung masuk ke klenteng, berdiskusi dengan Js. Mariyati dan selfie di sudut-sudut klenteng.
Mereka juga sangat antusias mengikuti kesaksian Bhikku Agus dari padepokan Astha Brata Kemutug Baturaden. "Te, ceritain dong ke mereka bagaimana pergulatan spiritualitas panjenengan hingga akhirnya menjadi Buddhist," kataku kepada laki-laki jebolan beberapa pesantren ini.
Usai di klenteng, ayah membawa mereka ke tempat paling menyeramkan bagi banyak orang Islam; gereja! Ayah memilih GKI Gatot Subroto yang tidak jauh dari Klenteng. Pendetanya, Adon, adalah teman ayah. GKI Gatsu sudah seperti rumah sendiri karena ayah bisa numpang tidur di salah satu kamarnya, kapan saja.
Kunjungan di gereja ini tidak kalah hebohnya dengan di klenteng. Para mahasiswa sangat antusias bertanya dan mengomentari soal kekristenan; dari Trinitas hingga film The Nun. Diakhir acara, tiga pendeta yang hadir di acara tersebut; Adon, Maria (GKJ), dan Stefanie, berdoa dan mengangkat tangannya untuk memberi berkat semua yang hadir.
Pertemuan di GKI Gatsu yang merupakan destinasi akhir dari hijrah hari itu ditutup dengan peneguhan keindonesian. Kami menyanyikan lagu "Satu Nusa Satu Bangsa" berjamaah.
Dear Cecil dan Galang,
Itulah sekelumit cerita dari perjalanan ayahmu yang terus berupaya menjadikan dunia ini lebih baik, di mana setiap orang bisa saling menghormati dan mencintai. Namun demikian, tidak semua orang bisa memahami ayahmu. Kelak, sangat mungkin kalian berdua akan mendengar pengakuan orang yang mengagetkan. "Ooooo jadi kamu anaknya Aan Anshori ya. Bapakmu dulu itu tukang ngajak orang Islam ke gereja dan membela kelompok LGBT,"
Ayah hanya berharap kalian tidak malu dengan cibiran itu. Sebab, kalian berdua harus tahu, tidak sedikit orang yang membenci ayahmu. Sangat mungkin karena mereka belum memahami visi yang kami bangun dalam beragama. Andai mereka memahami visi ayah, niscaya mereka akan bahu-membahu membantu banyak orang untuk berhijrah.
Namun jangan kuatir, ayah tidak sendirian. Selain 3 pendeta tadi, ada banyak orang seperti ayah GUSDURian Banyumas, misalnya Mbak Ory, Gus Chumedy Yusuf, Kholis, Zahro, Ester dan puluhan lainnya. Mereka nantinya adalah teman-teman kalian jika sudah dewasa. Semoga kalian berdua bisa mengenal mereka.(*)
Monday, March 12, 2018
Undangan Narasi Memori "Melampaui Rasa Takut"
Project narasi memori "Melampaui Rasa Takut" adalah inisiatif menuliskan pengalaman unik/menegangkan seputar interaksi dengan kekristenan, misalnya pertama kali masuk gereja, ikut natal, berteman dengan orang Kristen, dll. Contoh tulisan yang bisa dirujuk adalah "Termenung di hadapan Salib GKJW Banyuwangi" karya Fina Mawaddah PMII Untag Banyuwangi
Tujuan project ini adalah untuk memperkuat dialog hubungan Islam - Kristen di Indonesia melalui penarasian memori kader/alumni PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia).
Project ini bersifat mandiri, tidak didukung oleh lembaga donor, parpol atau institusi sejenis lainnya.
Beberapa hal penting:
1. Penulis adalah kader/alumni PMII dari mana saja.
2. Tulisan merupakan pengalaman pribadi (melihat, melakukan, mendengar) penulis, non-fiksi, dan belum pernah dipublikasi sebelumnya.
3. Ditulis dalam gaya bebas, memenuhi kriteria 5W+1H (what, when, where, who/whom, why, and how), sebanyak 700-1000 kata, dan dikirim ke pmii4diversity@gmail.com PALING LAMBAT 5 Mei 2018
4. Editor berhak mengedit tulisan jika diperlukan
5. Penulis menyertakan profil pendek yang memuat sekurang-kurangnya data identitas PMII, misal, _Aan Anshori, Mapaba 2000 Komisariat Pattimura PC PMII Jombang_
6. Penulis akan mendapat buku gratis jika sudah diterbitkan
7. Informasi lebih lanjut bisa mengontak WA/Telegram 08155045039
Thank
Aan Anshori
Sunday, June 11, 2017
Termenung di Hadapan Salib GKJW Banyuwangi
Oleh Fina Mawadah
Entah aku harus memulai ini dari mana, yang jelas semua hal apapun itu pasti ada permulaan, pasti ada yang pertama, pertama aku masuk Banyuwangi, pertama masuk kampus, dan kali ini untuk pertama kalinya aku masuk gereja.
Menjadi yang minoritas atau bahkan satu-satunya sudah sering kualami. Satu-satunya mahasiswa fakultas ekonomi prodi manajemen semester VI UNTAG Banyuwangi yang berasal dari Sumatra (Lampung), menjadi satu-satunya yang tidak memahami bahasa Madura ketika event silaturahim dan diskusi bersama sahabat-sahabat PMII Jember, Situbondo, Bondowoso dll.
Tapi hari ini, malam ini, 10 Juni 2017, di sini, di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Banyuwangi, aku menjadi minoritas bahkan satu-satunya yang memakai hijab dalam acara buka bersama dan sarasehan.
Ragu bercampur takut ketika menerima pesan dari aktifis GUSDURian Banyuwangi, mas Ahmad "Tejo" Rifa'i, yang berisi ajakan untuk acara ini. Bagaimana tidak, ini bukanlah hal biasa bagiku, lagi pula ini berbarengan dengan acara komisariat PMII Untag, yaitu bukber dan diskusi dengan sahabat Anggi Dian Pratama Putra sebagai pemantiknya.
Namun atas dasar sungkan dan malu ketika menolak maka kuputuskan untuk meng"iya" kan ajakan ini.
Ragu, takut, deg-degan kembali kurasakan saat kaki ini melangkah untuk pertama kalinya memasuki halaman gereja. Namun perasaan ini seketika pecah ketika mendapat sambutan hangat dari bapak-bapak dan ibu-ibu umat Kristen di halaman tersebut.
Perasaan itu kembali muncul bahkan semakin keras ketika dihadapkan dengan hidangan buka puasa; nasi, takjil dan seperangkatnya yang telah siap untuk disantap. Takut yang kurasa karena pikiran-pikiran yang terlintas di kepala ini; "Bolehkah ini? Dosakah ini?"
Semua itu tertimpa oleh rasa malu ketika aku hanya diam, tidak makan dan minum apapun. Tidak inginnya ada ketersinggungan oleh pihak tuan rumah dan sebagai perwujudan nilai toleransi maka dengan Bismillahirrahmaanirrahiim kuberanikan diri untuk menyantap hidangan itu, meskipun dalam keadaan takut sehingga makanan ataupun minuman serasa sulit untuk ditelan.
Suasanapun mencair mengalir perlahan, setelah berbuka puasa kami rombongan melaksanakan ibadah shalat maghrib di mushala yang berada di dalam RSUD blambangan, karena kebetulan GKJW terletak tepat di depannya. Aku pun mencurahkan segala apa yang kualami dan kurasakan pada saat itu dalam bingkai do'a kepada sang khaliq Allah SWT.
Nampaknya, lamanya waktu yang kuhabiskan menuai reaksi dari salah satu rombongan yaitu mas Bibit Ari Wijaya (Bejo). Dengan bercanda, ia berseloroh "Sangking takutnya (masuk gereja) shalatnya sampai lama," Ini menandakan bahwa ketakutan yang kurasakan begitu kentara dan dapat dipahami oleh orang lain.
Kamipun kembali memasuki gereja dalam acara selanjutnya yaitu sarasehan. Tempatnya yang di dalam gereja --tempat beribadah. Kami duduk di barisan paling depan dan posisiku duduk adalah tepat di depan salib yang dipasang dengan indahnya di aula gereja tersebut.
Perasaan yang ada dalam diri ini semakin kacau dan tidak menentu, gejolak yang ada dalam hati, dag dig dug jantung serasa dua kali lebih cepat. Pikiran yang terus berkutat pada pertanyaan "Bolehkah? Benarkah? Dosakah?" Gemetar merinding dan wajah yang tegang adalah wujud nyata yang nampak pada tubuh ini.
Sarasehan pun mengalir, dimoderatori oleh pendeta Kristanto. Sebelum dimulai kami pun diperkenalkan satu persatu. Malu luar biasa kurasakan saat itu.
Ketika narasumber pertama, Pendeta Natael Hermawan, wasekum PGI Jawa Timur, mulai menyampaikan materi dengan 2 titik pembahasan yaitu terkikisnya toleransi dan intolerans di negeri ini. Padahal ruh dari Pancasila adalah gotong royong tanpa memandang suku, ras maupun agama. Artinya, Indonesia adalah rumah bersama. Semua untuk semua. Gus Dur pernah berkata "Tidak penting agama ataupun sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak akan bertanya apa agamamu,"
Narasumber yang kedua, mas Tejo, mengajarkan kami tentang UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM, di mana salah satu poinnya adalah kebebasan pribadi. Hal ini mengandung makna kebebasan beragama, "Yang namanya keyakinan itu tidak bisa dipaksakan," ujarnya.
Sampai di sini gemetar yang kualami semakin tidak terasa.
Memasuki pemaparan dari narasumber yang ketiga yaitu Gus Aan Anshori dari Jombang. Gejolak yang ada dalam diri yang sebelumnya sudah mulai tenang, kembali terasa bahkan semakin akut. Gemetar merinding dan wajah tegang semakin terlihat jelas. Bagaimana tidak, alangkah mengerikannya sesuatu ketika hanya dipahami secara tekstual bukan secara kontekstual, akan menjadi suatu persoalan besar di negeri ini.
Aku terlahir dari keluarga muslim, bisa dikatakan muslimku ini adalah muslim turunan dari orang tua. Aku hidup dan dibesarkan dilingkungan mayoritas muslim di desa Pulau Jaya (salah satu desa di kab. Lampung Selatan). Dan akupun bersekolah di madrasah (ibtidaiyyah, tsanawiyyah, dan aliyah) yang semua siswa dan guru nya adalah muslim.
"Lakum diinukum waliadin," menjadi peganganku, kupahami itu dengan artian selagi kita tidak mengganggu, mengusik, melarang mereka untuk beibadah dan begitupun sebaliknya, hal itu cukup. Selebihnya apapun yang mereka lakukan aku tidak mau ikut campur lebih dalam, selagi tidak keluar dari patron kita Pancasila.
Orang tua, guru ngaji, guru di sekolah tidak pernah mengajarkan untuk melarang untuk bergaul dengan yang berbeda (agama), tidak melarang untuk menerima pemberian, bahkan mengajarkan untuk hidup saling berdampingan. Hal tersebut membuat konstruksi diri yang kubuat untuk diri sendiri. Saya menyadari bahwa masyarakat Indonesia adalah heterogen, dan sangat indah ketika dapat hidup dan berjalan secara berdampingan. Namun saya membatasi diri untuk tidak ikut campur hal apapun, melainkan cukup sebatas tidak mengganggu mereka melaksanakan ibadah.
Jangankan untuk memasuki rumah ibadah agama lain, sebatas mengucapkan selamat pada hari-hari besar mereka, aku ragu tak berani dan akhirnya memutuskan untuk tidak. Hal ini bukan karena aku dilarang tapi dengan konstruksi yang telah terbangun dan juga tidak biasa melakukan itu sedari kecil.
Entah seperti apa kontruksi yg terbangun di lingkungan tempat aku dibesarkan. Namun yang kurasakan, secara garis besar semua dapat berdampingan, namun sama-sama tidak mau ikut campur hal-hal yang mendasar. Hanya sebatas tidak mengganggu.
Dan malam ini sesuatu yang baru terjadi dalam diri ini, tidak sekedar hanya ucapan, bahkan akupun masuk dan makan di dalam gereja bersama saudara-saudara yang berbeda. Gemetar merinding terasa berfluktuasi pada tubuh ini, ringan, sedang, semakin keras bahkan sangat terasa dan terlihat saat berlangsungnya sarasehan, kemudian semakin memudar seiring berjalannya waktu.
Bagaimana tidak, semua yang ada di sini menerima kami dengan sangat hangat dan baik-baik, tak ada perbedaan di antara kita. Toleransi tercipta nyata di sini. Selain itu puisi yang dibawakan Taufiq Wr Hidayah, salah satu GUSDURian yang juga dikenal sebagai budayawan Banyuwangi semakin menyadarkan kita bagaimana kondisi Indonesia akhir-akhir ini. Nilai-nilai toleransi sangat dirindukan. Tak sadar air mata pun mengalir dengan sendirinya.
Banyak sekali hikmah yang bisa didapatkan. Sudahilah memahami sesuatu hanya secara tekstual, sudah saat bongkar konteks yg terkandung dari teks tersebut. Beradalah dalam level toleransi. Kita hidup sebagai makhluk Tuhan yang memmpunyai kewajiban untuk beribadah dan kita juga sebagai makhluk yang berbangsa dan bernegara.
Sebagai bangsa, Indonesia adalah Negara dengan Pancasila sebagai ideologi dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan. Sudah saatnya kalimat "Ketika Gus Dur hidup kami tenang, dan sekarang setelah beliau wafat kami was-was," kita ganti dengan "Hari ini kami rasakan sama halnya seperti Gus Dur masih hidup." Menjadi tugas kita semua masyarakat Indonesia untuk mewujudkan hal itu. Amin.
Sunday, June 4, 2017
Rilis Konsolidasi Kebangsaan Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid dalam acara Buka dan Sahur Keliling Ramadlan 2017 di Surabaya dan Sidoarjo
Salam Kebangsaan,
Merespon situasi kebangsaan akhir-akhir ini, Ibu Negara RI-4 Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid akan mengunjungi Surabaya dan Sidoarjo. Kunjungan ini akan dikemas dalam acara konsolidasi kebangsaan bersama elemen masyarakat sipil di dua kota tersebut.
Di Surabaya, Bu Sinta akan bertemu dan berdialog dengan komponen lintas agama/etnis dan masyarakat marginal di Kampung Pecinan Tambakbayan Alun-alun Contong Bubutan, Jumat (16/6) , jam 15-18.00, diakhiri buka bersama.
Selain memberi santunan, kegiatan ini juga akan dimeriahkan bazar lintas agama/etnis, art performances, barongsay, pembacaan macapat dan penyalaan 1000 lilin
Selanjutnya pada 17 Juni dini hari, Bu Sinta dan rombongan akan meluncur ke Klenteng Teng Swie Bio di Jln. Imam Bonjol No.124 Krian Sidoarjo untuk sahur bersama para _dluafa_, tokoh lintas agama dan etnis, serta pemangku kebijakan. Acara yang juga dimeriahkan art performance dan santunan ini diperkirakan mulai sejak pukul 23.00 (16/8) hingga 04.00 (17/8).
Tahun ini merupakan tahun ke-17 pelaksanaan buka dan sahur yang dilakukan Ibu Sinta Nuriyah. Untuk kaki ini, tema yang diusung adalah "Dengan Berpuasa Kita Genggam Erat Nilai Demokrasi dan Pluralisme". Bu Sinta ingin bersama-sama warga memperkuat keyakinan dalam meneguhkan demokrasi dan pluralisme.
Secara khusus, kegiatan yang diselenggarakan Yayasan Puan Amal Hayati milik Sinta Nuriyah yang bekerja sama dengan puluhan organisasi pro demokrasi di tiap kabupaten/kota ini bertujuan (1) memperkuat tali persaudaraan dan kerukunan antar warga masyarakat, (2) melakukan pendidikan warga (civic education) tentang sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan serta anti kekerasan, serta (3) membangun jaringan kerja sama kemanusiaan dan antikekerasan antarumat beragama.
Acara ini bersifat terbuka. Untuk informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi masing-masing kordinator acara; Irianto Susilo (Surabaya) +62 817-0362-5368, dan Zen Haq (Sidoarjo) +62 812-3111-2390
Terima kasih
@aananshori
GUSDURian
Featured Post
Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 35
Rilis Jaringan NU Kultural (JANUR) Jombang, 19 Agustus 2026 Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 35 Muktamar ke-35...
-
Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer --semena-mena; hitam-putih. Yang satu merasa lebih superior sembari ...
-
Bukan, ia bukan tokoh masa kini seperti Lady Di(ana) atau Lady Gaga. Saya berani jamin Anda pasti kesulitan melacaknya di Vanity Fair atau ...
-
Santy Winarta, Religion F, Univ. Ciputra Surabaya, IG @santywinarta MENURUT saya, selain melakukan ibadah, puasa dapat diartikan sebagai car...
