Pages

Friday, June 26, 2026

KALA KETURUNAN IBRAHIM BERKUMPUL DI STASI BRINGKANG

Untuk pertama kalinya siapa yang sebenarnya akan disembelih Ibrahim didiskusikan antara dua kelompok di Gresik; Katolik dan Islam. Acaranya dilakukan di rumah ibadah Katolik di Menganti yang empat tahun lalu sempat bikin geger.

**

Beberapa hari setelah menggelar acara diskusi Bunda Maria antara Katolik-Islam di Pusat Pastoral Keuskupan Surabaya, aku akhirnya mendatangi Stasi St. Agustinus desa Bringkang kecamatan Menganti kabupaten Gresik, 26 Mei 2026.

Ini stasi penting karena beberapa tahun lalu sempat mengguncang jagad internet. Stasi ini didemo beberapa warga sekitar karena dianggap tidak berijin. Salah satu pendemonya menggunakan atribut/tulisan "Ansor" -- organisasi underbouw Nahdlatul Ulama yang dikenal toleran. 

Sebelum didemo, stasi ini digunakan ibdah seperti biasanya. Jumlah jemaatnya sekitar 400an kepala keluarga. Lebih dari 1000 warga jika dikalikan 3. 

Stasi ini luas sekali. Sekitar 1 hektare. Menempati bekas pabrik yang tidak lagi digunakan pemiliknya. Konon pabrik ini dibeli oleh salah satu umat di sana. Aku juga mendengar ada versi pabrik ini dibeli oleh otoritas Katolik.

Secara administratif stasi ini menginduk di Paroki St. Yakobus Citraland Surabaya. Romo kepalanya sekarang adalah kawan lamaku, Romo Eko --yang dulu menjabat sebagai vikaris jenderal Keuskupan Surabaya periode alm. Uskup Sutikno. 

Romo Eko malam itu, Selasa (26/5), menjadi salah satu narasumber selain aku. Aku cukup lama kenal dengan Romo Eko, semenjak ia menjabat sebagai kepala kevikepan Nganjuk. Aku pernah mengunjunginya di sana. 

Dia juga pernah aku undang mengisi 1000 hari wafatnya Gus Dur di Paroki Santa Maria Jombang. Terakhir kali aku bertemu dengannya di Unika Widya Mandala Dinoyo. Saat itu ia vikjend dan menjadi salah satu narasumber bersamaku.

Romo Eko adalah salah satu dari sedikit romo yang memiliki kedekatan personal dengan alm. Gus Dur. Ia bahkan pernah diijinkan menginap di Wisma Negara seaat GD menjadi presiden. 

"Betul, saya menginap di sana, teman-teman yang lain memilih tidak mau," kataya di hadapan peserta diskusi Kurban malam itu. 

Ia menyinggung posisi Katolik terkait siapa yang akan dikorbankan. Yakni, Ishak. Lebi jauh ia menekankan pentingnya menghayati esensi peristiwa pengorbanan tersebut dalam konteks keindonesiaan.

"Setiap orang perlu menyadari pentingnya pengorbanan agar Indonesia yang plural ini bisa tetap berdiri," katanya.

Baginya, Gus Dur adalah salah satu cerminan bagaimana pengorbanan dilakukan untuk mempertahankan kohesifitas di masyarakat, khususnya ketika ia menjadi presiden. 

Sebagai pembicara kedua, aku menyinggung posisi Al-Quran dalam urusan siapa yang akan dikorbankan Ibrahim. 

Tidak ada nama spesifik di sana --tidak juga Ismail atau adiknya, Ishak. Kitab suci ini seperti sadar diri; tidak memihak. Ia hanya menyebutkan "anak laki-laki terkasihku"

Sebelum abad 10, masih cukup banyak tafsir Al-uran yang mengakomodasi tokoh-tokoh Islam yang berpandangan Ishak adalah yang dimaksud Al-Quran, misalnya Ali bin Abi Thalib. 

Namun setelah abad 10, beberapa tafsir, seperti Katsir dan Qurtubi, memberikan keberpihakannya kepada Ismail. 

Peran Ishak tergeser sangat mungkin karena semakin menguatnya keberadaan Islam. Penguatan ini secara teoritik dalam konteks kompetisi antarkeyakinan/agama biasanya membutuhkan dua hal. 

Pertama, pemenangan simbolik atas peristiwa-peristiwa ritualistik. Apalagi jika peristiwa ini menjadi "sengketa" da diperebutkan antarkeyakinan. 

Dan, kedua, penguatan identitas pembeda yang mengiringi pemenangan peristiwa tersebut. 

Misalnya, Islam-Katolik bersengketa atas figur Yesus. Keduanya membangun narasi kecintaannya sendiri --yang selanjutnya wajib diimani oleh para penganutnya. 

Saking tajamnya perebutan ini, sebagian kelompok Islam dan Kristen/Katolik bahkan membuat distingsi yang agak menggelikan; Yesus tidak sama dengan Isa. 

Yesus diasosiasikan dalam narasi penyaliban dan kristologi trinitarian, sedangkan Isa dinarasikan lolos penyaliban dan bersemanyam dalam kristologi unitarian.

Mana yang benar? Wallohu a'lam, namun aku meyakini pendapat yang benar adalah pendapat mana saja yang mampu membuat kita semakin menyayangi orang lain, khususnya yang berbeda pendapat denganmu.

Malam itu aku melihat puluhan orang Islam, Kristen dan Katolik bercengkerama tanpa sekat, membincang perbedaan kurban sebagai sesama keturunan Ibrahim. Mereka memiliki keyakinan masing-masing siapa yang sebenarnya akan dikurbankan Ibrahim.  

"Perbedaan ini perlu dirawat sebagai energi untuk saling menguatkan," kata salah satu peserta yang aku ajak bicara. 

Dalam konteks operasionalisasi Stasi Bringkang yang masih terkendala, situasi malam ini merupakan tanda dari langit bagi stasi ini. Semoga rumah ibadah ini bisa segera bisa digunakan kembali seperti sebelumnya.

Aku perlu memberikan kredit bagi Khosyiah dan segenap kru GUSDURian Gresik. Juga kepada Husni dan Petrus. Mereka sedemikian intens merajut kembali jaring yang terkoyak di Bringkang. (*)

Featured Post

KALA KETURUNAN IBRAHIM BERKUMPUL DI STASI BRINGKANG

Untuk pertama kalinya siapa yang sebenarnya akan disembelih Ibrahim didiskusikan antara dua kelompok di Gresik; Katolik dan Isla...