EMPAT TIPE IDEAL PERKAWINAN BEDA AGAMA (PBA); KAMU ADA DI MANA?


Surat Edaran Mahkamah Agung No. 2 Tahun 2023 semakin menyulitkan mereka yang ingin PBA tanpa mengubah kolom agama di KTP. SEMA a quo secara spesifik melarang para hakim pengadilan negeri (PN) meluluskan permohonan PBA. Sebelumnya, PN masih menjadi jujugan terakhir pasangan PBA saat Dukcapil menolak mencatatkan. 


Namun begitu, sepanjang aku berkecimpung dalam dunia PBA beberapa tahun ini, aku mencatat ada setidaknya 4 cara ideal yang bisa dipilih mereka yang ingin melanggengkan relasi asmaranya. 

Pilihan cara mana yang terbaik akan sangat ditentukan oleh keputusan pasangan dengan mempertimbangkan berbagai faktor di lapangan --sebagaimana pernah aku tulis pada status FB sebelumnya, berjudul "Fatimah dan Christian" https://www.facebook.com/1561443699/posts/pfbid02ZVEE3PRrEdeBWz6bUpUj2V4eRNGmmYoJQZujYpLwqXS9uPQhskQZ2jBMAoAqwzs6l/?app=fbl


Lantas, apa saja 4 tipe ideal PBA yang bisa dipilih?

IDEAL 1, yakni PBA yang dicatatkan TANPA menyamakan kolom agama KTP kedua mempelai. Mereka berdua tetap dalam agama masing-masing tanpa perlu log in-log out. Pemberkatan perkawinan menggunakan ritual dua agama yang dianut pasangan -- sekali lagi, keduanya tetap dalam agama masing-masing.

Beberapa contoh pasangan tipe ini yang aku fasilitasi pascakeluarnya SEMA 2/2023 yang berisi larangan pengadilan negeri menerima permohonan PBA adalah, antara lain, Edho (Muslim) dan Christine (Katolik) serta Riyan (Protestan) dan Aya (Muslimah). Tentu saja aku percaya ada pasangan dari agama lain yang juga menggunakan tipe ini meskipun aku tidak punya datanya. 

Sebelum SEMA 2/2023 keluar, aku juga memfasilitasi beberapa pasangan Islam-Katolik maupun Islam-Protestan. Bahkan ada yang berjilbab dan memiliki posisi tinggi dalam struktur ketatanegaraan kita. 

Pencatatan tipe ini hanya dapat dilakukan di Dukcapil. KUA belum mau mencatatkannya. Dua pasangan yang aku sebut di atas dicatatkan di Dukcapil Solo serta Sleman. Tipe ini menurutku tipe paling berat dan menantang untuk dicapai. Pasangan memiliki otoritas penuh

IDEAL 2. Pada dasarnya tipe ini memiliki format serupa dengan Ideal 1. Minusnya, kedua mempelai mencukupkan diri melakukan 1 ritual pemberkatan perkawinan menurut agama salah satu pasangan. 

Misalnya, jika PBA terjadi antara Kristen dan Buddha maka pasangan cukup diberkati menurut Buddha atau Protestan, tergantung kesepakatan mempelai. Namun biasanya pemilihan ritual pemberkatan didasarkan pada agama mana yang tidak hanya dapat memberkati PBA namun juga disertai kesediaan menerbitkan surat PBA. Tanpa surat tersebut, Dukcapil tidak akan dapat mengeluarkan kutipan Akta Perkawinan. Di lingkungan Katolik, surat semacam ini konon biasa disebut dengan matrimonium testimonii.

IDEAL 3; PBA model ini dicatatkan ke Dispendukcapil setelah kedua mempelai MENYAMAKAN kolom agama di KTP. Kedua mempelai sepakat "mengalah" dengan sistem yang rumit saat ini untuk kemudian balik ke agama asal pascakeluarnya kutipan akta perkawinan.

Dengan demikian, secara teknis, salah satu pasangan memilih log-out dari agamanya dan log-in ke agama pasangannya. Setelah mereka menerima kutipan Akta Perkawinan, Kartu Keluarga dan KTP baru dengan kolom agama yang sama, pasangan yang tadi log-out dan log-in kembali ke agama asal. Secara formal, perkawinan ini bisa dianggap bukan PBA karena kerumitan tertentu. Hanya saja, secara spirit, perkawinan mereka bisa dilabeli PBA.

Aspek penting lain dari tipe ini adalah keduanya memilih melakoni dua ritual pemberkatan sesuai agama yang dianut masing-masing pasangan, sebelum mencatatkannya ke Dukcapil. 

Aku mendampingi pasangan yang lebih kurang masuk dalam kategori tipe ini. Sebut saja Denok (Muslimah) dan Febrian (Protestan). Gerejanya Febrian belum bisa melayani PBA. 

Denok dan keluarganya tidak keberatan log-in ke Protestan untuk memudahkan pencatatan di Dukcapil. Febrian juga tidak keberatan Denok kembali ke Islam pascaperkawinan. Hanya saja, Denok dan orangtuanya meminta agar dilaksanakan akad nikah terlebih dahulu tanpa menuntut Febrian masuk Islam. Febrian setuju.

IDEAL 4, yakni PBA yang serupa dengan tipe 3 namun cukup dengan satu ritual pemberkatan saja. Misalnya, Islam dan Protestan; kedua mempelai bisa sepakat memilih perkawinannya akan dicatatkan di mana. 

Jika di Dukcapil maka kolom agamanya harus sama-sama Protestan dan diberkati terlebih dahulu di gereja. Begitu pula saat memilih mencatatkannya di KUA, mempelai Protestan harus masuk Islam dulu sebelum akad nikah. Dan yang terpenting, setelah akta perkawinan/surat nikah diperoleh, mereka kembali ke agama asal ditandai oleh berubahnya kolom agama di KK dan KTP mereka.


Apakah tersedia format ideal lainnya? Sangat mungkin. Kalian bisa menambahkannya. 

Love wins.

MENULIS SEPERTI BERAK!



Aku lupa siapa yang mempopulerkan jargon di atas. Jika tidak salah, itu omongan Abdullah Idrus, salah satu penulis idola Pramoedya Ananta Toer.

Dengan mengambil tafsir agak longgar atas jargon tersebut, aku bayangkan betapa indahnya hidup seseorang seandainya ia bisa menulis rutin seperti halnya ia berak.

Jika semakin lama kita tidak bisa berak, kita pasti kuatir dan rela mengeluarkan berapapun untuk hal itu. Sebagai orang tua, aku pernah mengalami kekalutan saat Cecil-balita punya masalah rutinitas berak. Sedih, bingung, takut dan dunia terasa gelap.

Sayangnya, hal itu berbanding terbalik dengan rutinitas kita menulis. Sebagian besar dari kita tidak menganggap kebisaan dan kerutinan menulis sebagai hal yang urgen. Seurgen berak.

"Pokoknya menulis. Menulis apa saja. Bahkan soal yang dianggap remeh publik sekalipun. Jangan sampai kemalasanmu menulis kamu anggap sebagai normalitas," kata mentor-gaibku.

Maka kunci rutinitas menulis agar sama seperti berak barangkali terletak dari kemauan diri kita. Kemauan tersebut sangat ditentukan oleh cara pandang yang kita bangun. Semakin kita mensugesti diri  pentingnya menulis, apapun, semakin kita akan mendekati idealitas "menulis seperti berak"

Aku mau berak, eh, menulis.

Setengan jam lalu, aku mengontak Firdaus, muslim, bukan nama sebenarnya, pria yang pernah aku dampingi melaksanakan perkawinan beda agama (PBA). Ia berdomisili formal di Surakarta, kawin dengan Fransisca, Katolik, nama samaran, domisili formalnya di Gresik.

Mereka mendapatkan pemberkatan dari paroki di wilyah perbatasan Sidoarjo-Surabaya. Keduanya tetap dalam agama masing-masing. Kolom agama di KTP mereka juga tetap; Islam dan Katolik.

Mereka berdua, sebelum pemberkatan, terlebih dahulu melaksanakan akad nikah di Gresik. Kisahnya pernah aku tulis di Facebook.

"Firdaus, gimana status perkawinanmu dulu. Apakah kamu berhasil mengurus di Dukcapil Surakarta?" tanyaku.

Setelah keduanya akad nikah akhir 2023 dan melangsungkan resepsi beberapa bulan setelahnya, aku tidak lagi menjalin kontak dengan mereka. Kepentinganku malam ini mengontak Firdaus dalam rangka memastikan apakah Dukcapil Surakarta (Solo) telah benar-benar merah-putih --istilah yang aku gunakan untuk mengidentifikasi keberpihakan institusi layanan publik.terkait PBA.

Aku sendiri memilih bersiap untuk protes pada Walikota Gibran, seandainya Dukcapil Solo loyo seperti Dukcapil di hampir semua kota/kabupaten di Indonesia. Loyo, tidak mau menjalankan kewajibannya padahal pasangan PBA telah memenuhi semua syarat administratifnya.

"Alhamdulillah pencatatan PBA di Dukcapil Solo berjalan lancar, informatif dan sangat membantu. Pelayanannya juga bagus," ujarnya.
"Ya Alloh, ikut sueenang aku, Firdaus," balasku, "Jadi sama sekali tidak ada kerumitan-kerumitan ya?"

"Enggak ada kerumitan, gus, lancar banget prosesnya,"
"Berarti kamu berdua membawa testimonium matrimoni dari Paroki K*******g ke Dukcapil Solo ya?"
"Enggeh, gus,"

Aku sangat senang mendengar informasi ini. Lebih-lebih karena masih ada Dukcapil seperti Solo, yang masih mau melayani PBA saat pintu pengadilan negeri untuk PBA tertutup semua.

Firdaus bisa mencatatkan PBAnya karena ia berdomisili di Solo. Artinya, berKTP Solo. Bagi kalian yang sudah mengantongi surat pemberkatan PBA dari pemuka agama selain Islam, kalian memiliki kesempatan mencatatkannya di Solo. Tentunya setelah salah satu dari kalian mengurus perpindahan dokumen kependudukan ke Solo.

"Ini gus kutipan akta perkawinannya," tulis Firdaus, sembari mengirimkan foto dokumen kepadaku.

Aku perhatikan agak seksama. Persis seperti dokumen akta perkawinan PBA milik Riyan dan Ara yang dikeluarkan Dukcapil Sleman.

Tertulis di dokumen milik Firdaus, perkawinan dicatatkan pada 26 Januari 2024 di Dukcapil Surakarta berdasarkan perkawinan yang telah dilangsungkan dihadapan pemuka agama Katholik yang bernama RD.SK pada 13 Januari 2024.

"Thanks, Firdaus. Salam ke Fransisca ya. Semoga kalian senantiasa berbahagia," tulisku mengapresiasi dan mendoakan pasangan ini.

Demikianlah tulisan ini aku buat, semata-mata agar aku dapat mengamalkan jargon; menulis adalah berak!. Semoga bisa istiqomah berak eh, menulis.

FATIMAH DAN CHRISTIAN


"Entah kenapa aku selalu merasa inferior saat bertemu pasangan beda agama yang berkomitmen membakukan relasinya secara ideal," ujarku.
"Kenapa, gus?" celetuk mereka.
"Iya, salib mereka berat. Teraniaya secara sistematis. Orang teraniaya biasanya doanya lebih didengar Tuhan. Malati," tambahku.
****

Sore tadi aku memberikan konsultasi pada Christian dan Fatimah --bukan nama sebenarnya. Keduanya merasa saling berjodoh. Tak bisa dipisahkan. 

Christian adalah anak seorang pendeta dari kekristenan konservatif. Sedangkan Fatimah, putri seorang Muslim Sunni-Nahdliyyin taat. 

Entah bagaimana keduanya bertemu. 

Fatimah kerap mengikuti beberapa forum interfaith yang melibatkanku. Pemikirannya progresif -- meski ia berproses di organisasi mahasiswa Islam yang menurutku moderat minimalis.

Bagiku, relasi mereka merupakan tantangan baru bagiku mengingat Christian tidak bergereja di sinode yang melayani pemberkatan PBA. Selama ini, klien-klienku berasal dari kekristenan yang berani melayani PBA, termasuk, tentu saja, Katolik. 

Untuk memudahkan, aku biasanya membagi percakapan PBA dalam tiga level. Level pertama, mengecek kesiapan pasangan yang menjalani. Jika ada salah satu dari mereka yang terdeteksi memaksa pindah agama, aku biasanya akan menghentikan sementara, meminta keduanya merenung dan berpikir ulang; diteruskan atau tidak. Di level ini, Christian dan Fatimah lolos. Mereka saling support keyakinan masing-masing. Good.


Level kedua; keluarga. Jika ada salah satu atau kedua keluarga pasangan yang nyrimpeti maka langkah-langkah penanganan perlu dilakukan. Peran pasangan sangat krusial dalam meyakinkan keluarga. Pihak ketiga bisa dihadirkan untuk meyakinkan keluarga. 

Di level ini, keluarga pasangan tidak keberatan keduanya PBA sepanjang pencatatannya di Dukcapil --syarat dari keluarga Christian-- dan melakukan akad nikah --syarat dari keluarga Fatimah. Bagiku, ini masih bisa ditoleransi. Artinya, secara teoritik dan praktik dapat disinkronkan. 

Level ketiga; pencatatan perkawinan. Untuk merealisasikan level dua maka menjadi keharusan menemukan gereja yang bisa memfasilitasi pemberkatan beda agama. Tanpa pemberkatan mustahil ada surat keterangan pemberkatan. Ketiadaan surat ini berarti kegagalan melangkah ke Dukcapil. 

Pada level ini, kami juga wajib memetakan Dukcapil mana yang masih melayani PBA. Sebagai catatan, hampir semua Dukcapil i Indonesia telah menutup "pintunya" bagi PBA. Untuk apa punya surat pemberkatan PBA dari gereja jika Dukcapil tidak mau menerimanya?

Kami terus mendiskusikan opsi-opsi yang tersedia, dengan mempertimbangkan tingkat kegagalan yang bisa diprediksi. 

"Hanya tersedia tiga model untuk melanggengkan relasi kalian," ujarku sembari mengurai secara detil ketiganya. 

"Kami memilih model pertama, Gus, model seperti PBAnya Riyan dan Ara," ujar Fatimah.
"Sip. Aku juga berpikir demikian," aku menimpali. 

Wanti-wanti terus aku gaungkan, khususnya seputar ketahanan (endurance) mereka menghadapi proses panjang nan melelahkan dari model yang mereka pilih. 

Betapa aku salut pada mereka, salut atas kesadaran memanggul dan menghadapi penderitaan yang dihadapi.(*)


https://www.facebook.com/1561443699/posts/pfbid0VtxVoRFnUfQwZtZ2k9zpXHnicQb7EMQMvN3dkruT2eRmVktt3WRSZHAkeeUjZE15l/?app=fbl

PERTAMA KALI SEJAK GEREJA INI BERDIRI


Meski seringkali posting terkait gereja dan kekristenan selama Ramadlan namun baru tadi sore aku buka bersama di gereja. Acara ini murni inisiatif mereka. Inisiatif tersebut tidak pernah aku duga sebelumnya.


Sekitar seminggu lalu, telponku berdering. Panggilan dari seseorang yang telah lama aku tahu meski tidak kenal secara akrab. Namanya Mastuki Pandi. 

Aku tahu dia karena kami sama-sama di sebuah grup WA para aktifis dan jurnalis Jombang. Mastuki juga anggota komite sekolah di institusi tempat pasanganku pernah mengajar. 

Yang terbaru, aku dengar ini menjadi salah satu caleg dari partai oranye --partai yang aku tahu tidak terlalu dekat dengan isu pluralisme dan kebhinekaan. 

"Halo, mas. Ini aku, Mastuki. Sampeyan ngerti gereja GKA Zion di Tunggorono? Ini aku sedang bersama pendeta dan pengurusnya," ujarnya di ujung telpon.

Hatiku langsung tidak enak. Pikiranku sudah berpikir liar, "Duh, pasti ada masalah ini," 

Entah kenapa, aku selalu merasa bertanggung jawab jika ada kejadian persekusi terhadap rumah ibadah, khususnya di Jombang. Sangat mungkin hal itu disulut oleh obsesi personal melihat Jombang sebagai barometer toleransi; di mana setiap orang merdeka beribadah dan berkeyakinan. 

Sejak kemelut HKBP di Jombang beberapa tahun lalu, aku memang sudah tidak pernah mendengar lagi persekusi gereja di Jombang. Kemelut tersebut sempat membuat Jombang lumayan menghangat. 

Aku terus berpikir, ada urusan apa Mastuki bertemu dengan para elit GKA Zion Tunggorono. Jangan-jangan ia sedang menekan gereja ini agar tidak boleh beribadah. 

"Iya, aku kenal mereka. Onok opo yo, mas?" aku mencoba tetap tenang.

"Gini, mas. Aku kan ketua RT. Gereja mereka masuk di RTku," tambahnya.

Aku makin deg-degan. Dalam modus operandi persekusi rumah ibadah, seringkali RT dan RW menjadi garda terdepat kelompok mayoritas mendaratkan nafsu arogansinya. 

Yang aku tahu, mayoritas penghuni perumahan Tunggorono adalah orang Islam. "Wah cilaka! Bakal ramai lagi di media nih," batinku.

"Piye, mas? Ada masalah apa?" tanyaku memburu.

"Ini lho, kami sedang menggagas buka bersama di halaman gereja. Aku langsung teringat njenengan kalau urusan lintas agama,"

Ploonggg....

Tanpa berpikir lama, aku langsung menghamburkan apresiasi dan janji manis untuk datang dalam acara tersebut, padahal aku belum memeriksa jadwalku terlebih dahulu.


"Apa Pdt. Made ada di situ, mas?" tanyaku. Pdt. Made adalah gembala utama di GKA Zion Jombang. Aku cukup akrab dengannya.

"Nggak mas, ini ada Pendeta Suyanto dana beberapa pengurus," tambahnya.

"Tolong berikan telponnya ke dia. Aku ingin berbicara dengannya," jawabku. 

Otak dan pikiranku terus berputar mencari tahu apakah aku masih mengingat Pdt. Suyanto. Sayangnya, aku gagal menemukan wajahnya dalam memoriku. Meski demikian aku sangat percaya diri dia pasti mengenalku.

"Halo, gus..." ujarnya di ujung telepon.

Aku selanjutnya berbicara panjang lebar. Isinya, apresiasi besar atas inisiatifnya mengadakan buka bersama di depan gereja untuk warga sekitar. Menurutku, tidak semua geraja berani mengambil inisiatif tersebut. 

Sore tadi, Selasa (2/4), aku memacu motorku ditengah mendung pekat yang menyelimuti kota Jombang, mengarahkanya ke Perumahan Pondok Indah di Tunggorono. 

Aku telah ditunggu oleh Pak Sholeh, kawanku -- guru Injil GKJW Jombang. Ia memang aku ajak ikut acara karena rumahnya dekat dengan gereja tersebut. Sebelum ke lokasi, aku terlebih dahulu mampir ke rumahnya. 

Aku mengenal Pak Sholeh sudah sangat lama. Kami sama-sama aktif dalam gerakan lintas iman di Jombang. 

Sekitar pukul 17.00 kami mendatangi lokasi buka bersama. Ada terop lumayan besar di depan gereja. Gereja ini meski berstatus Pos PI namun bangunannya cukup megah. Mungkin lebih megah ketimbang gereja induk di Jl. Pahlawan.

Kursi telah ditata rapi, menghadap ke baliho depan. Kami berdua disambut dengan akrab oleh beberapa majelis termasuk Ev. Suyanto. 

Jam 17.05 belum ada warga yang hadir. Tak seberapa lama, Pak RT Mastuki datang. Ia mengenakan jaket Banser. Aku menyalami dan memeluknya. 

Lirih aku sampaikan rasa terima kasihku. Ini adalah buka bersama pertama kali yang dihelat sejak gereja ini berdiri lebih dari 25 tahun. 

Acara dimulai sekitar 17.15. Semua kursi terisi penuh. Sebagian besar perempuannya berjilbab. 

Setelah dua sambutan disampaikan Rev. Suyanto dan Cak Mastuki, pembawa acara mempersilahkanku maju, menyampaikan gagasan seputar acara ini. 

Aku maju saja meski tanpa punya konsep yang jelas. Pelan-pelan aku ceritakan pada forum kronologi acara dan apresiasiku pada acara ini.

Sebelumnya aku mengutip ayat tentang janji Gusti terhadap mereka yang mau bersyukur atas nikmat yang telah diberikannya. 

"Dalam al-Quran, Gusti pernah berjanji akan terus mengucurkan anugerah bagi siapa saja mau bersyukur. Jamuan buka bersama ini adalah ucapan rasa syukur. Gusti Alloh akan menambahkan rejekinya pada gereja ini," ucapku.

Selanjutnya aku mengupas ketersambungan perintah puasa dalam Islam dengan agama-agama sebelumnya. Artinya, orang Islam tidak bisa lagi merasa puasa adalah monopolinya. Dalam Kristen dan agama lain juga ada perintah puasa. 

"Dalam al-Quran, Tuhan meminta kita puasa agar menjadi pribadi yang bertaqwa. Taqwa bermakna; menjadi anugerah bagi sekelilingnya. Istilah al-Qurannya, rahmatan lil alamin. Kalau bahasa al-Kitabnya, menjadi terang, menjadi garam," tambahku. 


Aku menyampaikan gagasanku segayeng mungkin. Beberapa kali hadirin tertawa-tawa karena joke-joke yang aku berikan. Saking gayengnya, aku tak mampu menutup pidatoku dengan baik karena adzan tiba-tiba menyeruak. 

"Saya berharap buka bersama ini terus ditradisikan tiap tahun. Setuju nopo mboten?"

"Setujuuu uuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu," respon semua peserta.

Sebelum pulang aku sempat berbincang dengan majelis gereja dan Pak RT, meminta mereka untuk terus menjadikan perumahan ini sebagai teladan dalam interaksi antaragama. Bagiku, orang Islam akan sangat sulit toleran tanpa bantuan orang Kristen dan penganut agama lain.(*)

ANJANI DI ANTARA PELANGI


Perjalanan buka dan sahur keliling Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid (SNAW) senantiasa menjadi magnet bagi kelompok marginal, tak terkecuali mereka yang memiliki identitas gender dan seksual non-mainstream -- biasa dikenal sebagai kelompok pelangi. Anjani adalah call sign SNAW di lingkungan Paspampres yang rutin mengawalnya.


***


"Halo mbak, dari pengajian waria al-Ikhlas Surabaya ya? Monggo mlebet," sapaku kepada rombongan yang baru datang. Tampilan mereka beragam. Ada yang menggunakan jubah maskulin. Beberapa mengenakan busana muslimah mirip sosialita. Jumlah mereka sekitar 8-9 orang. 


Mereka diundang menghadiri acara buka bersama SNAW di Griya Rahmatan lil Alamin Prapen Pandaan, Jumat (29/3). Kehadiran mereka tampak cukup mencolok, membuat undangan lain, mau tidak mau, memperhatikan mereka. 


"Mas Aan!" 


Aku mendengar teriakan agak kenes. Rupanya dari Mbak Sofa Latjuba, salah satu pentolan pengajian yang hadir agak telat. Sampai saat ini aku tak ingat siapa nama aslinya. Sofa Latjuba adalah nama panggung dari aktifis transpuan senior berdarah Madura yang juga merupakan elit dari Persatuan Waria Kota Surabaya (Perwakos).



Aku langsung menghampirinya, menyalami dan tak lupa cipika-cipiki. Buru-buru aku mempersilahkan masuk lokasi acara sebab SNAW sudah tiba di lokasi.


Saat sesi dialog, Sofa tampil mengajukan pertanyaan ke SNAW. Dengan gaya kenesnya, ia menceritakan ada dua pengajian yang ada di lingkungan waria Surabaya; satu pengajian Islam dan satunya untuk Kristen, namanya PHDI jika tidak salah. 


"Acara malam ini memang merepresentasikan Indonesia. Hampir semua komponen masyarakat hadir di sini," kata SNAW dalam ceramahnya. 


Selain komunitas pengajian waria al-Ikhlas, acara yang dihadiri lebih dari 500 orang itu juga dihadiri oleh komunitas Narasi Toleransi, dipimpin oleh Mikha, aktifis transpuan yang sudah malang melintang di kawasan Kediri, Tulungagung dan Trenggalek. 


Ia hadir bersama sekitar 8 orang anggota komunitasnya. Ada gay, transman, lesbian dan waria. Mereka datang dari Kediri, Blitar, Malang dan Surabaya.


Saat acara berlangsung, Narasi Toleransi ikut menyumbang musikalisasi puisi. Saking semangatnya mereka membawa sendiri satu gamelan untuk mengiringinya.  Seluruh rangkaian acara dapat dinikmati melalui channel Youtube NU Pasuruan. https://www.youtube.com/live/CTJ_pZnJ5JM?feature=shared


Al-Ikhlas dan Narasi Toleransi tidaklah sendiri. Masih ada satu komunitas pelangi lain; Peduli Napas -- didirikan oleh, salah satunya, Gus Fikri, seorang transman asal Mojokerto.


Setelah acara, aku sempat ngobrol bersama Narasi Toleransi dan Peduli Napas. Obrolan juga diikuti oleh beberapa panitia dari Gusdurian Pasuruan serta Ketua Griya Rahmatan lil 'alamin, Fatur.


Obrolan tentu saja masih seputar gender, seksualitas dan agama. Topik ini terasa seperti anggur (wine), semakin tua semakin enak dinikmati.


"Gus, ada salah satu anak yang menyangka sampeyan itu waria lho," ujar salah satu orang. Tentu saja aku tertawa kecil sembari menambahkan hal itu bukanlah yang pertama. 


"Terlalu sering aku disangka demikian. Aku juga pernah dituduh Tionghoa, Batak, dan Kristen karena sering bergaul dengan mereka. Aku menganggapnya sebagai bentuk apresiasi padaku. Terima kasih," ujarku


Sebagaimana ditegaskan Sofa Latjuba, Gus Dur dan Keluarga Ciganjur dikenal sebagai pembela militan kelompok minoritas gender dan seksual, khususnya waria. Ia berharap komitmen tersebut tetap dipegang selama-lamanya. 


Terima kasih, Anjani!(*)


** Beberapa foto aku ambil dari wall mbak Laura Perez Maholtra



https://www.facebook.com/share/p/Sf9D5bffqT1Nfi6v/?mibextid=oFDknk


 

ANJANI DI ANTARA PELANGI


Perjalanan buka dan sahur keliling Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid (SNAW) senantiasa menjadi magnet bagi kelompok marginal, tak terkecuali mereka yang memiliki identitas gender dan seksual non-mainstream -- biasa dikenal sebagai kelompok pelangi. Anjani adalah call sign SNAW di lingkungan Paspampres yang rutin mengawalnya.


***


"Halo mbak, dari pengajian waria al-Ikhlas Surabaya ya? Monggo mlebet," sapaku kepada rombongan yang baru datang. Tampilan mereka beragam. Ada yang menggunakan jubah maskulin. Beberapa mengenakan busana muslimah mirip sosialita. Jumlah mereka sekitar 8-9 orang. 


Mereka diundang menghadiri acara buka bersama SNAW di Griya Rahmatan lil Alamin Prapen Pandaan, Jumat (29/3). Kehadiran mereka tampak cukup mencolok, membuat undangan lain, mau tidak mau, memperhatikan mereka. 


"Mas Aan!" 


Aku mendengar teriakan agak kenes. Rupanya dari Mbak Sofa Latjuba, salah satu pentolan pengajian yang hadir agak telat. Sampai saat ini aku tak ingat siapa nama aslinya. Sofa Latjuba adalah nama panggung dari aktifis transpuan senior berdarah Madura yang juga merupakan elit dari Persatuan Waria Kota Surabaya (Perwakos).



Aku langsung menghampirinya, menyalami dan tak lupa cipika-cipiki. Buru-buru aku mempersilahkan masuk lokasi acara sebab SNAW sudah tiba di lokasi.


Saat sesi dialog, Sofa tampil mengajukan pertanyaan ke SNAW. Dengan gaya kenesnya, ia menceritakan ada dua pengajian yang ada di lingkungan waria Surabaya; satu pengajian Islam dan satunya untuk Kristen, namanya PHDI jika tidak salah. 


"Acara malam ini memang merepresentasikan Indonesia. Hampir semua komponen masyarakat hadir di sini," kata SNAW dalam ceramahnya. 


Selain komunitas pengajian waria al-Ikhlas, acara yang dihadiri lebih dari 500 orang itu juga dihadiri oleh komunitas Narasi Toleransi, dipimpin oleh Mikha, aktifis transpuan yang sudah malang melintang di kawasan Kediri, Tulungagung dan Trenggalek. 


Ia hadir bersama sekitar 8 orang anggota komunitasnya. Ada gay, transman, lesbian dan waria. Mereka datang dari Kediri, Blitar, Malang dan Surabaya.


Saat acara berlangsung, Narasi Toleransi ikut menyumbang musikalisasi puisi. Saking semangatnya mereka membawa sendiri satu gamelan untuk mengiringinya.  Seluruh rangkaian acara dapat dinikmati melalui channel Youtube NU Pasuruan. https://www.youtube.com/live/CTJ_pZnJ5JM?feature=shared


Al-Ikhlas dan Narasi Toleransi tidaklah sendiri. Masih ada satu komunitas pelangi lain; Peduli Napas -- didirikan oleh, salah satunya, Gus Fikri, seorang transman asal Mojokerto.


Setelah acara, aku sempat ngobrol bersama Narasi Toleransi dan Peduli Napas. Obrolan juga diikuti oleh beberapa panitia dari Gusdurian Pasuruan serta Ketua Griya Rahmatan lil 'alamin, Fatur.


Obrolan tentu saja masih seputar gender, seksualitas dan agama. Topik ini terasa seperti anggur (wine), semakin tua semakin enak dinikmati.


"Gus, ada salah satu anak yang menyangka sampeyan itu waria lho," ujar salah satu orang. Tentu saja aku tertawa kecil sembari menambahkan hal itu bukanlah yang pertama. 


"Terlalu sering aku disangka demikian. Aku juga pernah dituduh Tionghoa, Batak, dan Kristen karena sering bergaul dengan mereka. Aku menganggapnya sebagai bentuk apresiasi padaku. Terima kasih," ujarku


Sebagaimana ditegaskan Sofa Latjuba, Gus Dur dan Keluarga Ciganjur dikenal sebagai pembela militan kelompok minoritas gender dan seksual, khususnya waria. Ia berharap komitmen tersebut tetap dipegang selama-lamanya. 


Terima kasih, Anjani!(*)


** Beberapa foto aku ambil dari wall mbak Laura Perez Maholtra



https://www.facebook.com/share/p/Sf9D5bffqT1Nfi6v/?mibextid=oFDknk


 

KURMA; BUAH SANG MESIAH?


Jika kalian, para pengikut Gusti Yesus, masih meneruskan tradisi war takjil, jangan lupa memasukkan kurma dalam daftar perburuan. Buah ini, dalam al-Quran, memiliki kaitan sangat erat dengan perjuangan hidup-mati Maryam saat melahirkan Isa/Yesus. 


** 
Kurma, sebagaimana unta, kerap diolok banyak orang sebagai salah satu buah yang memiliki agama; Islam. Sangat mungkin karena buah ini kerap dikaitkan dengan berbagai kuliner-ilahia Islam. Jangan pernah pulang dari berhaji tanpa membawa buah kurma. Sangat tidak afdhol. 

Pasanganku dan Cecil sangat doyan kurma. Ia bisa membelinya hingga 4-5 kilogram seketika di olshop. Kadang aku berpikir ia dan Cecil adalah penyuka kurma garis keras. 

"Bagus untuk diet, mas" katanya.

Tentu aku sudah tahu narasi di atas. Yang secara sadar baru aku ketahui adalah kaitan kurma dengan Maryam, mamanya Yesus. Adalah Ning Um, bu nyaiku di Tambakberas yang menyegarkan kembali ingatan ini melalui Facebook beberapa waktu lalu.  

Aku tak pernah berfikir bahwa pohon yang disandari Maryam saat melepas penat dalam perjalanan solo bersama Yesus dalam kandungan adalah kurma. 

Al-quran memang memiliki narasi sendiri seputar proses kehamilan dan kelahiran Yesus. Jika dibandingkan dengan Alkitab; ada bagian yang sama namun ada juga yang berbeda. 

Salah satu yang berbeda adalah Maryam, dalam al-Quran, digambarkan melalui masa-masa sulit hamil hingga melahirkan secara SENDIRIAN --hanya ditemani secara virtual oleh Jibril. 

Dalam Alkitab, penggambarannya agak berbeda. Maryam diceritakan kerap ditemani Yusuf --sang tunangan (yang bukan papanya Yesus?) -- termasuk saat melakukan perjalan jauh mengunjungi Elisabeth; dari Nazaret ke Yehuda. 

Terhadap penggambaran Maryam berjuang sendiri atas kehamilannya dalam al-Quran, aku hingga hari ini terus berpikir; kenapa al-Quran memilih cerita seperti ini? Kenapa ia berbeda dengan 4 Injil yang telah ada -- Matius, Markus, Lukas dan Yohanes? 

Saking penasarannya, aku sempat bertanya Gemini Google; jika ada, dari mana cerita ini kemungkinan diadaptasi oleh al-Quran. Gemini angkat tangan, "The Quranic story regarding the birth of Jesus (referred to as Isa in the Quran) isn't explicitly attributed to any one source," 

Pada tahap selanjutnya, rasa penasaranku terus menggulir; pesan substantif apa yang sesungguhnya ingin disampaikan al-quran? Apakah kitab ini sedang meyakinkan pembacanya bahwa kehamilan tanpa bapak biologis merupakan hal yang mahasulit bagi perempuan, yang oleh karenanya ia dan bayinya bersifat suci tak boleh diolok? Atau seperti apa? 

Seperti halnya Hagar yang digambarkan mengalami masa sulit sendirian tanpa pasangan, melalui cerita Maryam, apakah al-Quran sedang mengobarkan keteguhan dan kemandirian perempuan pada masa-asa yang sangat sulit dan kompleks? Entahlah.

Maka, dia (Maryam) mengandungnya, lalu mengasingkan diri bersamanya (bayinya) ke tempat yang jauh.

Saat rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma. Maryam berkata, “Oh, seandainya aku mati sebelum ini dan menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan (selama-lamanya). 

Di saat seperti ini, Jibril berseru kepadanya dari tempat yang rendah, meminta Maryam agar tidak bersedih, "Sungguh, Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menjatuhkan buah kurma yang masak kepadamu. Makan, minum, dan bersukacitalah engkau,"

Jibril mewanti-wanti kepada Maryam untuk menyiapkan semacam template jawaban seandainya bertemu orang dan ditanyai perihal bayinya,"Sesungguhnya aku telah bernazar puasa (bicara) untuk Tuhan Yang Maha Pengasih. Oleh karena itu, aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini."

Aku membayangkan Maryam berada di padang pasir, sendirian, bersusah payah dengan kehamilan 9 bulannya, hanya mengkonsumsi kurma dan air hingga ia melahirkan Isa/Yesus. Dua hal itu merupakan sumber nutrisinya, terutama kurma --buah yang berkontribusi pada kelahiran sang Mesiah.

**

Tidak. Aku tak hendak mengislamkan Yesus. Siapalah aku ini. Ia sudah bergelar Mesiah --sedemikan tinggi derajatnya. Bagiku, Islam juga mengakui hal itu dengan cara dan tradisinya sendiri --yang kadang masih dicurigai oleh mereka,  pengikut Yesus garis keras.

Menganyam Kesucian Maryam


Dalam tradisi Islam, sosok Maryam (mamanya Yesus/Isa) sangatlah mentereng. Pangkatnya; perempuan terbaik sejagad raya (was thofaki ‘ala nisai al-‘alamin). Perempuan ini tetap dianggap suci sungguhpun ia --saat hamil Yesus/Isa-- dianggap tidak mengalami kelaziman proses sebagaimana manusia lainnya. Ia diyakini hamil tanpa intervensi lelaki, melainkan langsung "diintervensi" Tuhan. Uniknya, Al-Quran, pada kenyataannya, justru membuka peluang terbukanya tafsir terbalik; kehamilan Maryam dimungkinkan berjalan layaknya manusia biasa, dengan intervensi laki-laki yang tidak sembarangan.

Maryam 17

Ada satu ayat dalam al-Quran yang menarik untuk dieksplorasi menyangkut kehamilan Maryam. Ayat tersebut adalah QS. Maryam 17.


فَاتَّخَذَتۡ مِنۡ دُوۡنِهِمۡ حِجَابًا فَاَرۡسَلۡنَاۤ اِلَيۡهَا رُوۡحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا‏ ١٧


"lalu dia memasang tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, maka dia menampakan diri di hadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna."


Kenapa ayat ini menarik? Sebab, ayat ini barangkali menjadi jawaban atas mitos "kesucian" Maryam atas kelahiran Yesus/Isa dari rahimnya. Kesucian perempuan ini begitu kuat dipertahankan demi menjaga sebuah motivasi religius, salah satunya, untuk melindungi keistimewaan Yesus/Isa.


Doktrin kesucian Maryam selama ini dipahami dengan sederhana, yakni ia hamil tanpa "sentuhan seksual" lelaki. Dalam narasi klasik Kristen, Maryam dipersepsi tetap perawan meski ia sendiri diwartakan memiliki suami. Agak sulit diterima akal ada seorang suami tidak menggauli istrinya pada saat yang sama tidak ditemukan informasi akurat Yusuf( suami Maryam) seorang gay atau mengalami impotensi.


Mitos kesucian Maryam nampak semakin dipertegas dalam al-Quran. Kitab suci ini menggambarkan Maryam tidak memiliki pasangan --baik pacar maupun suami. Alih-alih sebagai perempuan binal penganut free sex, Al-quran justru dengan tegas mendeskripsikan Maryam sebagai perempuan sholihah. Pekerjaannya sehari-hari-hari adalah menyembah tuhannya. Siang dan malam. Tidak ada waktu untuk hal-hal yang bersifat rekreatif.


Lalu dari mana ia bisa mendapatkan kehamilan atas dirinya? Sim salabim; ia bisa hamil atas kehendak Tuhan. Kehendak tuhan terkadang bisa dinalar oleh logika dan akal sehat dan kadang juga tidak membutuhkan. Nampaknya, kehamilan Maryam selama ini dalam tradisi Islam dipahami dalam format kedua tadi. Kun fayakun --Jadilah, maka jadilah.


Saya termasuk orang Islam yang percaya al-Quran tidak mungkin bertabrakan dengan akal sehat, logika, maupun ilmu pengetahuan. Jika ada ayat yang memiliki nuansa melawan akal sehat, saya akan mencoba mencari celah jawaban agar ayat tersebut tidak bertabrakan dengan ilmu pengetahuan. Dalam pemahaman saya, sederhananya begini; secara teologis, Tuhan memiliki bahasaNya sendiri. Tidak ada satupun orang yang mengklaim tahu persisnya apa dan bagaimana bahasa tersebut. Namun, tatkala Tuhan memutuskan perlu "berbicara" kepada sebuah peradaban maka, secara logis, ia harus menggunakan bahasa yang bisa dipahami peradaban tersebut. Untuk apa Tuhan ngotot menggunakan bahasaNya jika pada akhirnya ia tahu kehendakNya tidak dapat dipahami peradaban tersebut? Tuhan tidaklah sebodoh itu.


Namun, bagaimana seandainya tidak berhasil merekonsiliasi ketegangan antara ayat dan logika, saya biasanya memilih "memarkir" ayat dan menggunakan ilmu pengetahuan (sains) sebagai pegangan sembari berharap mampu merekonsiliasi keduanya dalam titik tertentu.


Dalam konteks al-Quran yang berbicara atas kehamilan Maryam yang hidup sendiri (single), dan dipakai sandaran untuk sampai pada kesimpulan kehamilan Maryam adalah keajaiban atas kehendak tuhan tanpa melalui proses manusiawi bertemunya sperma dan sel telur, saya susah menerima kenyataan tersebut.


Peradaban ini telah memiliki hukum sendiri; kehamilan hanya terjadi manakala sperma bertemu sel telur. Jika Tuhan bersikukuh menabrak hukum tersebut, Dia bisa jadi akan dituduh tidak menghargai tatanan yang sedari awal telah ia izinkan berproses menjadikan ilmu pengetahuan sebagai instrumen pentingnya.


Celah Muasal Kehamilan Maryam

Ketika menelusuri proses kehadiran Yesus/Isa dalam QS. Maryam, saya menaruh sedikit kecurigaan terhadap ayat 17. Di sana terekam penggambaran kehadiran Roh Tuhan (Jibril) di depan Maryam, face to face, dalam kesempurnaan bentuknya (sawiyya) sebagaimana manusia pada umumnya. Dalam arti, Jibril menemui Maryam, yang pada waktu itu sendirian, tidak secara ghaib. Alih-alih, al-Quran, sekali lagi, menggambarkan Jibril hadir dalam rupa manusia. Sarjana Aisha Bewley bahkan menggunakan kata "handsome" saat menerjemahkan ayat 17 tersebut.


Jibril saat itu, menurut al-Quran, diutus Alloh menemui Maryam, untuk mengabari perempuan ini rencana Tuhan seputar kehamilannya. Menjadi layak diselidiki lebih jauh apakah perjumpaan ini berlangsung secara langsung ataukah melalui mimpi. Banyak para penafsir al-Quran mengindikasikan perjumpaan keduanya terjadi secara langsung, dalam posisi sadar. Namun demikian, ada satu penafsir al-Quran, Mawlana Muhammad Ali, mengatakan sebaliknya. Dalam "The Holy Quran with Commentary," Muhammad Ali meyakini keduanya bertemu dalam mimpi, "This shows that it was in a vision that the spirit came, and the conversation that follows also took place in a vision. The word tamaththala (“it appeared”) used here lends support to this, for the word signifies assuming the likeness of another thing, and this happens only in a vision. Further the spirit or angel of God appears to His chosen ones only in a vision, and angels are not seen by the physical eye."


Saya sendiri lebih memilih meyakini Maryam dan Jibril berjumpa secara langsung. Imam al-Mahalli dan al-Suyuti dalam Tafsir Jalalyn bahkan mendeskripsikan QS. Maryam 17 sebagai berikut;

فاِتَّخَذَتْ مِن دُونهمْ حِجابًا﴾ أرْسَلَتْ سِتْرًا تَسْتَتِر بِهِ لِتُفَلِّي رَأْسها أوْ ثِيابها أوْ تَغْتَسِل مِن حَيْضها ﴿فَأَرْسَلْنا إلَيْها رُوحنا﴾ جِبْرِيل ﴿فَتَمَثَّلَ لَها﴾ بَعْد لُبْسها ثِيابها ﴿بَشَرًا سَوِيًّا﴾ تامّ الخَلْق) (Demikianlah dia berhijab dari mereka, dia menyelubungi dirinya dengan kerudung untuk menyembunyikan dirinya saat dia mencuci rambutnya dari kutu atau mencuci pakaiannya atau membersihkan dirinya dari haid; kemudian Kami kirimkan kepadanya Ruh Kami Jibril dan dia tampak di hadapannya setelah dia mengenakan pakaiannya menyerupai manusia yang proporsional sempurna dalam bentuk fisik). 


Tafsir Ibn Abbas malah menginformasikan kehadiran Jibril dalam bentuk manusia terjadi sesaat setelah Maryam mandi suci sebagai tanda telah selesainya siklus menstruasinya, “(Dan telah memilih pengasingan dari mereka) agar dia bersuci setelah selesai haidnya. (Kemudian Kami kirimkan kepadanya Ruh Kami) Utusan Kami Jibril setelah dia selesai menyucikan dirinya (dan dia dianggap seperti manusia sempurna)”


Jika boleh membayangkan, perjumpaan Jibril dan Maryam barangkali seperti scene pertemuan antara Kata dan Algren dalam film The Last Samurai. Saat itu Algren menemui Kata sesaat setelah perempuan ini selesai mandi dari pancuran. Keduanya memang pada akhirnya saling jatuh cinta. 


Mungkin imajinasi ini terlalu vulgar untuk diposisikan menggambarkan relasi Jibril dan Maryam --dua entitas ciptaan yang berasal dari dua dimensi yang berbeda. Di sinilah krusialnya kata "sawiyya" yang disematkan Allah dalam al-Quran. Jibril saat bertemu Maryam tidak lagi sepenuhnya berupa malaikat namun ia telah bertransformasi menjadi manusia sepenuhnya --termasuk dengan segenap atribut seksualitas heteroseksualnya. Al-Quran sama sekali tidak menyebutkan secara literal apakah pada akhirnya Maryam dan Jibril --dua sosok suci tak tercela ini-- terlibat dalam adegan asmara.


Al-quran dalam hemat saya memang tidak perlu harus sedemonstratif itu untuk menggambarkan kehendak tuhan "berbahasa" yang dipahami ilmu pengetahuan dalam peradaban manusia. Tuhan telah saya anggap cukup jelas dengan maksudNya melalui simbol berupa kata "sawiyya," dalam QS.19:17 tadi.


Keder Karena Kader

Dengan kalimat yang lebih lugas, saya terprovokasi membayangkan bahwa kehamilan Maryam --dalam konteks al-Quran-- merupakan proses alamiah, hasil konsekuensi logis "hubungan," antara Maryam dan Jibril. Terus terang saja, saya tidak menemukan penafsir al-Quran yang berani memposisikan diri mendukung "kekurangajaran," cara pandang ini, sebelum akhirnya saya menemukan tulisan pendek Yulia Riswan, peneliti The Global Quran Universitas Freiburg Jerman, berjudul "Qur’an Translation Of The Week #186: Dutch Qur’an Translation: A Literary Adaptation Of The Qur’an By A Migrant Intellectual, Kader Abdolah,"


Yulia dalam tulisan tersebut mengabarkan pandangan Kader Abdolah, imigran Iran yang kini menetap di Belanda dan menghasilkan menerbitkan terjemahan al-Quran versinya sendiri, terhadap relasi Maryam dan Jibril. Abdollah tanpa malu-malu melukiskan perjumpaan keduanya dalam nuansa tafsir yang, menurut Yulia cukup dipengaruhi oleh corak Persia, terasa lebih vulgar dan lebih manusiawi.


"Maria stond naakt in de rivier. Opeens verscheen er een knappe man. Maria schrok en rende naar de struiken om zich te verstoppen. Wees niet bang, Maria, riep de man, ik ben de engel Ghabriel. Ik kom om je een kind te geven. De engel wist Maria over te halen, verleidde haar achter de dadelbomen en maakte haar zwanger." (Maria berdiri telanjang di sungai. Tiba-tiba seorang lelaki tampan muncul. Maria ketakutan dan berlari ke semak-semak untuk bersembunyi. Jangan takut, Maryam, lelaki itu berseru, akulah malaikat Ghabriel. Aku datang untuk memberimu seorang anak. Malaikat itu membujuk Maria, merayunya di balik pohon kurma dan menghamilinya.)


Belum pernah saya temukan tafsir atas diri Maryam terkait kehamilannya seperti ini. Jika Kader Abdolah hidup di Indonesia sangat mungkin karya kontroversinya akan memantik kemarahan publik secara luas. Bahkan, ia bisa dipenjarakan atas gagasannya ini. Namun seandainya kita mengamini tafsiran Kader Abdollah maka dengan demikian proses kehamilan Maryam atas bayi Yesus/Isa menjadi "selaras" dengan akal sehat dan kinerja ilmu pengetahuan seputar reproduksi manusia. Tidak ada lagi "kuasa misteri," dalam diri Maryam atas kelahiran Yesus/Isa. Dengan demikian, kelahiran sang juruselamat ini sepenuhnya melalui kelaziman proses reproduksi manusia pada umumnya. 


Lantas, akankah "kesucian," Maryam menjadi hilang, tergerogoti atas keterusterangan al-Quran melalui tafsir Kader Abdollah? Ini merupakan tantangan bagi kita semuanya. Sebab, selama ini doktrin menyangkut kesucian Maryam --yang bertumpu pada keperawanan-- bisa jadi merupakan konstruksi cara pandang klasik yang bias-patriarkhi. Bias ini mengguratkan garis sangat tegas untuk mengkategorisasi perempuan baik-baik dan suci dalam indikator yang sangat purbawi, yakni mampu menjaga keperawanannya atau tidak. Standar kebaikan moral perempuan yang selama ini acapkali diteropong dengan ukuran keperawanan telah lama dipertanyakan relevansinya. Para pendukung kesucian Maryam dalam skema klasik ini tak pelak akan menolak mentah-mentah tafsir Abdollah dan segenap upaya menjelaskan kehamilan Maryam secara lebih manusia --yang itu akan berakibat pada keniscayaan atas ketidakperawanan Maryam.


Tafsir Abdollah dengan demikian bisa jadi menawarkan alternatif cara pandang baru atas "kesucian" -- yakni, Yesus/Isa lahir dari dua manusia yang suci. Kesucian Maryam terletak pada ketaatannya mengabdi pada Tuhan. Sedangkan Jibril, ayah Yesus/Isa, merupakan duta besar resmi yang suci (“ruhana” --roh kudus Allah) yang menjelma sebagai manusia atas izin dari Tuhan. Meskipun begitu, kesucian ini senyatanya dapat dikritisi lebih jauh dalam perspektif ikatan perkawinan. Bisa jadi kekudusan dua insan ini ternyata belum dianggap suci mengingat relasi seksual mereka berdua tidak diikatkan pada institusi perkawinan pada saat itu. Keduanya bisa dituduh melakukan perzinahan non-perselingkuhan (adultery) --- Maryam dan Jibril tidak sedang terikat perkawinan dengan pihak lain pada saat peristiwa itu terjadi.


Mengunci Kesucian

Doktrin kesucian yang mengelilingi kehamilan Maryam atas diri Yesus/Isa selama ini lebih bertumpu pada aspek keperawanannya. Penjagaan atas doktrin ini sangat mungkin dipengaruhi oleh obsesi patriarki atas idealitas sosok perempuan. Perspektif ini, jujur saja, tak lagi relevan dipertahankan karena terlalu sederhana mengukur moralitas perempuan dari aspek tertentu ketubuhannya. Selain itu, yang juga tidak kalah pentingnya, memposisikan Maryam tetap perawan padahal ia senyatanya mengandung bayi sungguh bertentangan dengan akal sehat dan ilmu pengetahuan yang berlaku universal. Al-Quran membuka peluang terjadinya rekonsiliasi antara dogma kesucian yang ada dalam teks dan ilmu pengetahuan seputar kehamilan Maryam atas diri Yesus/Isa. Dengan demikian, doktrin kesucian dan kekudusan Maryam sesungguhnya terletak pada sosok lelaki yang "bersama" Maryam saat itu, yaitu Jibril, utusan suci Tuhan yang disebut dalam QS.19:17 sebagai ruhuna (God's soul). Entah tafsir kesucian mana yang benar atas misteri kehamilan Maryam. Wallohu a'lam.()


-----

Daftar bacaan


Abdalhaqq, M., & Bewley, A. (1999). The Noble Qur’an: A New Rendering of its Meaning in English. Dubai: Bookwork.

Abdolah, K. (2008). De Koran. Een Vertaling.

Ali, M. M. (2002). The Holy Qur’ån. English Translation. https://www.ahmadiyya.org/english-quran/a-prelim.pdf

Hamza, F. (2007). Tafsir al-Jalalayn. Royal Aal Al-Bayt Institute for Islamic Thought Amman. Jordan.

Stowasser, B. F. (n.d.). Mary. In Encyclopaedia of the Qurʾān. Brill. Retrieved March 11, 2024, from https://referenceworks.brillonline.com/entries/encyclopaedia-of-the-quran/mary-EQCOM_00113?s.num=0&s.f.s2_parent=s.f.book.encyclopaedia-of-the-quran&s.au=%22Stowasser%2C+Barbara+Freyer%22&s.q=mary

Yulia Riswan. (2024, February 23). Qur’an translation of the week #186: Dutch Qur’an Translation: A Literary Adaptation of the Qur’an by a Migrant Intellectual, Kader Abdolah - GloQur- The Global Qur’an. https://gloqur.de/quran-translation-of-the-week-186-dutch-quran-translation-a-literary-adaptation-of-the-quran-by-a-migrant-intellectual-kader-abdolah/

تفسير الجلالين | 19:17 | الباحث القرآني. (n.d.). Retrieved March 4, 2024, from https://tafsir.app/jalalayn/19/17

موقع التفير الكبير. (n.d.). Altafsir.Com. Retrieved March 4, 2024, from https://Altafsir.com



Featured Post

EMPAT TIPE IDEAL PERKAWINAN BEDA AGAMA (PBA); KAMU ADA DI MANA?

Surat Edaran Mahkamah Agung No. 2 Tahun 2023 semakin menyulitkan mereka yang ingin PBA tanpa mengubah kolom agama di KTP. SEMA a quo secara ...

Iklan

Tulisan Terpopuler