Ditengah maraknya persekusi simbol-simbol kekristenan di Indonesia oleh sebagian kelompok Islam, apa yang dilakukan masyakarat Islam dusun Sukoharjo desa Penggaron kecamatan Mojowarno Jombang menarik diamati.
Tiap tahun mereka menyelenggarakan doa bersama di makam tersebut. Doa tersebut merupakan bagian dari rangkaian sedekah desa untuk merayakan perayaan Suroan.
Buyut Nolo dipercaya sebagai pendiri Sukoharjo, dulunya bernama Sukobendu, cikal bakan desa Penggaron, 2 km barat desa Mojowarno. Mungkin karena dianggap bukan nama baik, Sukobendu diganti menjadi Sukoharjo.
"Iya, kami sering diketawain orang-orang gara-gara nama Sukobendu. Kata mereka itu nama jelek," kata salah satu ibu berjilbab, peserta doa bersama di makam Buyut Nolo, Kamis, 2 Juli 2026.
Mereka menganggap bendu bermakna amarah, siksaan, penderitaan. Padahal, arti kata itu menurut KBBI, adalah "sahabat, sanak, sedulur,"
---
Siang hari, 1 Juli. Sahabatku Endah, kristiani GKJW, keturunan Buyut Nolo yang tinggal di Sukoharjo menghubungiku. Ia mengundangku hadir dalam doa bersama. Tak perlu waktu lama bagiku untuk mengatakan iya.
Sejak menggeluti Buyut Nolo beberapa tahun ini aku memang ingin merasakan langsung atmosfer "kirim ndungo" warga yang dipusatkan di komplek makam Buyut Nolo.
Dengan kondisi kurang sehat karena batuk pilek, sore keesokan harinya, aku motoran ke Sukoharjo. Transit sebentar ke rumah Endah untuk minta kopi. Aku ngobrol sebentar dengan dia dan Roni suaminya.
Selanjutnya, kami menuju ke makam Buyut Nolo. Jaraknya sekitar 700-800 meter dari rumah.
Di sepanjang jalan, aku melihat banyak perempuan berjilbab berjalan kaki menuju arah yang sama dengan kami. Aku lega sedikit agak lega kala melihat beberapa perempuan tidak berjilbab juga ada di antara mereka.
"Alhamdulillah, ada orang Kristen yang juga ikut hadir," batinku.
Mengidentifikasi mana Islam dan Kristen jauh lebh mudah terhadap perempuan ketimbang laki-laki; jika tidak berjilbab, bisa dipastikan ia Kristen.
Jujur saja, aku memang sangat berharap warga Kristen di Sukoharjo ikut terlibat. Di dusun tersebut setidaknya ada 3 denominasi kekristenan (protestan); GKJW, GBIS dan Bala Keselamatan -- semuanya tidak terlalu berorientasi pada yang-mati ketimbang yang-hidup.
Dalam kaitannya dengan ziarah kubur, sikap mereka mirip Muhammadiyyah ketimbang NU yang jauh lebih apresiatif terhadap perayaan orang mati.
Di areal makam sudah berkumpul banyak orang. Perempuan mendominasi. Endah dan Roni sempat mengenalkanku kepada para tokoh dan perangkat desa yang hadir.
Beberapa diantaranya adalah para pengurus Nahdlatul Ulama kecamatan Mojowarno dari divisi da'wah (LDNU), salah satunya Mas Suparlim.
Kami berjalan mendekati bangunan makam. Sudah berjajar banyak laki-laki duduk di sana.
Ada terop cukup besar depan makam. Semua peserta lesehan. Persis manaqib kubro --tradisi di kalangan NU.
Berbagai hasil bumi seperti nanas, padi, kacang, pisang, singkong, labu, jeruk, dll. bergantungan di dekat pintu masuk cungkup makam.
"Ini (hasil bumi) nanti yang akan jadi bahan rebutan warga pada akhir acara, Gus," Endah menjelaskan padaku.
Bangunan makam Buyut Nolo seperti bujur sangkar. Luasnya sekitar....
Di dalamnya ada ruangan seperti kamar. Ada 4 kuburan di ruangan itu; Buyut Nolo, istrinya dan Kari adik Buyut Nolo. Ketiganya membujur timur-barat.
Di sebelah timur ketiganya ada satu makam lagi. Makam Islam, membujur utara-selatan. Menurut Endah, itu adalah makam Buyut Kunjoro, anak Buyut Nolo.
Endah sendiri, dari jalur ibunya, merupakan keturunan dari Kunjoro. Ibunya Endah dulunya Islam, sebelum pindah Kristen.
"Monggo sami-sami mlebet," kata salah satu tokoh sembari mempersilahkan para tokoh agama masuk ke ruangan cungkup. Awalnya mereka duduk lesehan di luar cungkup.
Aku melihat Pak Lurah, Roni, Pdt. Guntur dari Bala Keselamatan, dan Kiai Sunaryo masuk ke cungkup.
"Monggo gus, njenengan juga," kata kiai Suparnan.
Aroma dupa menyeruak dalam ruangan. Kami bercakap-cakap sebentar. Tak seberapa lama, MC memberikan kode kepada kami yang ada dalam cungkup. Tanda acara dimulai.
Aku sempat bingung karena ada jeda cukup lama, hening, baik di dalam maupun luar cungkup. Rupanya ini semacam momen teduh.
Aku melihat semua yang ada di cungkup mulutnya komat-kamit. Aku pun mau tidak mau melakukan hal serupa. Al-Fatihah aku rapalkan 3 kali untuk 4 kuburan yang ada di sana.
Tak berselang lama, MC pria memandu proses kirim doa. Ketua panitia, kiai Suparman, tampil ke depan, memberikan ulasan singkat historisitas Buyut Nolo.
Selanjutnya, Pak Lurah Ricky menyambungnya. Lurah yang masih setia melajang ini menekankan pentingnya warga Sukoharjo merawat leluhur sebagai pondasi kerukunan dan keberkahan dusun.
Ia sempat menyinggung "kecemburuan" dusun lainnya. Menurut dusun tersebut, lurah dianggap menganakemaskan dusun Sukoharjo.
Kecemburuan ini ditepisnya. Ricky meyakinkan bahwa tugas utamanya adalah memberikan pelayanan bagi semua warga apapun dusunnya.
Selesai sambutan, MC memanggilku. Aku agak kaget meski sudah bisa menduga akan kedapuk sambutan. Dalam sambutan, aku menyampaikan kekagetan sekaligus kekaguman fenomena Buyut Nolo.
"Usia saya 50 tahun, baru pertama kali ini saya melihat makam tokoh Kristen dirawat dan dijaga warga Islam bersama warga Kristen. Ini mungkin satu-satunya di Indonesia," ujarku.
Fenomena ini menunjukkan sikap kegamaan dan relijiusitas di atas rata-rata. Darah, tambahku, memang lebih kental ketimbang agama.
Mayoritas penduduk dusun Sukoharjo merupakan keturunan dari Buyut Nolo. Ada yang Kristen, ada juga yang Islam. Mereka masih terus meyakini Buyut Nolo sebagai punjer kehidupan mereka.
Dalam kesempatan itu pula aku mengutip hadits yang pernah disampaikan Abu Hurairah, sebagaimana tercatat daam Sunan Tirmidzi.
تَعَلَّمُوا مِنْ أَنْسَابِكُمْ مَا تَصِلُونَ بِهِ أَرْحَامَكُمْ
Kira-kira artinya sebagai berikut, "Pelajarilah nasab kalian sehingga kalian dapat menyambung tali silaturahmi,"
Bagiku, silaturahmi (relasi yang baik) adalah kunci meningkatkan kesejahteraan. Silaturahmi adalah lawan kata dari keengganan berelasi baik. Terfragmentasi.
Masyarakat yang terfragmentasi akan sangat rentan berkonflik. Kita tahu, tidak ada satupun peradaban maju yang terus menerus dalam situasi konflik. Pengembangan ekonomi, sosial maupun politik akan terhambat oleh konflik.
Aku tidak menemukan cerita konflik antaragama di dusun Sukoharjo. Sangat mungkin kohesifitas antarwarganya terpelihara oleh banyak faktor, termasuk oleh kesamaan historisitas-genealogis dari Buyut Nolo.
"Kangge kulo, Sukoharjo alias Sukobendu adalah desa Pancasila," ujarku disambut tepuk tangan.
Jejak-jejak kekeramatan Buyut Nolo kini lebih mudah diakses melalui informasi di internet. Ini karena mulai banyak tulisan mengenai sosok ini.
Salah satunya ditulis Nanda Citra Karunia, lulusan Univ. Negeri Surabaya. Skripsinya memotret tradisi kirab dusun untuk menghormasi Buyut Nolo.
"Saya tadi lihat Citra ada di sini. Citra, tolong kamu berdiri ya," ujarku dalam sambutan.
Perempuan berdarah Tionghoa ini kemudian berdiri di antara kerumunan warga. Malu-malu. Dia mendapat aplaus meriah dari warga.
Akhir sambutanku menandai dimulainya inti acara, ritual doa. MC memanggil Roni, wakil dari komunitas Kristen, sekaligus menantu dari keturunan Buyut Nolo.
Ia memimpin doa lumayan panjang versi Kristen. Menurutku ini merupakan hal yang wajar. Ia terlatih untuk itu karena termasuk majelis di gerejanya.
Setelahnya, giliran Kiai Suparnan tampil memimpin tahlilan. Semua peserta khusyuk mengikuti doa dua agama tersebut.
Setelah itu, semua peserta menikmati tumpeng dan kuliner lain-lain. Semuanya dipersiapkan secara mandiri oleh peserta. Potluck.
Aku pikir acara telah selesai. Sebagian besar peserta meninggalkan lokasi. Anehnya ada sekitar 20an orang yang bertahan, termasuk para tokoh agama.
"Ini acara apa lagi, An?" bisikku kepada Endah.
Perempuan ini menjelaskan akan ada ritual istighotsah -- doa khusus dalam tradisi NU.
Ritual ini terkenal memiliki durasi agak panjang dibanding tahlilan. Mungkin itu sebabnya tidak dilaksanakan secara umum, hanya orang-orang tertentu yang siap.
"Setelah itu, baru rebutan hasil bumi," tambahnya sembari menunjuk aneka hasil bumi yang menempel di sekitar cungkup.
Istighotsa dipimpin Kiai Sunaryo dengan penuh khidmat. Menjelang akhir istighostah para peserta, terutama ibu-ibu, terlihat sudah bersiap-siap melakukan rebutan hasi bumi.
Dan benar, begitu Kiai Sunaryo selesai berdoa, mereka semua rebutan, seperti anak kecil. Padahal hampir semuanya sudah tua. Mereka tertawa-tawa sembari memegang hasil rebutannya, riang gembira.
Selama 2-3 jam aku larut bersama warga Sukoharjo, merawat identitas diri mereka sebagai keturunan Buyut Nolo, Kristiani yang membangun dusun tersebut pertama kali.
Hampir jam 21.00. Aku pamit karena harus meluncur ke rumah Gus Mamik di kompleks Pesantren Darul Ulum Rejoso Peterongan. Ada diskusi rutinan alumni PMII Jombang.
Dalam perjalanan menembus gelap dan dinginnya malam, aku masih terngiang-ngiang percakapanku kepada peserta saat memberi sambutan tadi.
"Pak, Buk, njenengan semerap nek kuburane Buyut Nolo niki mujur ngetan-ngulon?"
"Semeraaaap,"
"Biasane kuburan Islam kan ngalor-ngidul?"
"Nggiiihhhhh,"
"Lha terus?"
"Nggih mboten nopo-nopo." (*)


