Pages

Monday, July 13, 2026

Buyut Nolo Drono; Makam Kristen Dirawat Masyarakat Islam dan Kristen

Ditengah maraknya persekusi simbol-simbol kekristenan di Indonesia oleh sebagian kelompok Islam, apa yang dilakukan masyakarat Islam dusun Sukoharjo desa Penggaron kecamatan Mojowarno Jombang menarik diamati. 

Tiap tahun mereka menyelenggarakan doa bersama di makam tersebut. Doa tersebut merupakan bagian dari rangkaian sedekah desa untuk merayakan perayaan Suroan.

Buyut Nolo dipercaya sebagai pendiri Sukoharjo, dulunya bernama Sukobendu, cikal bakan desa Penggaron, 2 km barat desa Mojowarno. Mungkin karena dianggap bukan nama baik, Sukobendu diganti menjadi Sukoharjo. 

"Iya, kami sering diketawain orang-orang gara-gara nama Sukobendu. Kata mereka itu nama jelek," kata salah satu ibu berjilbab, peserta doa bersama di makam Buyut Nolo, Kamis, 2 Juli 2026.

Mereka menganggap bendu bermakna amarah, siksaan, penderitaan. Padahal, arti kata itu menurut KBBI, adalah "sahabat, sanak, sedulur,"
---
Siang hari, 1 Juli. Sahabatku Endah, kristiani GKJW, keturunan Buyut Nolo yang tinggal di Sukoharjo menghubungiku. Ia mengundangku hadir dalam doa bersama. Tak perlu waktu lama bagiku untuk mengatakan iya. 

Sejak menggeluti Buyut Nolo beberapa tahun ini aku memang ingin merasakan langsung atmosfer "kirim ndungo" warga yang dipusatkan di komplek makam Buyut Nolo. 

Dengan kondisi kurang sehat karena batuk pilek, sore keesokan harinya, aku motoran ke Sukoharjo. Transit sebentar ke rumah Endah untuk minta kopi. Aku ngobrol sebentar dengan dia dan Roni suaminya. 

Selanjutnya, kami menuju ke makam Buyut Nolo. Jaraknya sekitar 700-800 meter dari rumah. 

Di sepanjang jalan, aku melihat banyak perempuan berjilbab berjalan kaki menuju arah yang sama dengan kami. Aku lega sedikit agak lega kala melihat beberapa perempuan tidak berjilbab juga ada di antara mereka. 

"Alhamdulillah, ada orang Kristen yang juga ikut hadir," batinku. 

Mengidentifikasi mana Islam dan Kristen jauh lebh mudah terhadap perempuan ketimbang laki-laki; jika tidak berjilbab, bisa dipastikan ia Kristen. 

Jujur saja, aku memang sangat berharap warga Kristen di Sukoharjo ikut terlibat. Di dusun tersebut setidaknya ada 3 denominasi kekristenan (protestan); GKJW, GBIS dan Bala Keselamatan -- semuanya tidak terlalu berorientasi pada yang-mati ketimbang yang-hidup. 

Dalam kaitannya dengan ziarah kubur, sikap mereka mirip Muhammadiyyah ketimbang NU yang jauh lebih apresiatif terhadap perayaan orang mati.

Di areal makam sudah berkumpul banyak orang. Perempuan mendominasi. Endah dan Roni sempat mengenalkanku kepada para tokoh dan perangkat desa yang hadir. 

Beberapa diantaranya adalah para pengurus Nahdlatul Ulama kecamatan Mojowarno dari divisi da'wah (LDNU), salah satunya Mas Suparlim.

Kami berjalan mendekati bangunan makam. Sudah berjajar banyak laki-laki duduk di sana.

Ada terop cukup besar depan makam. Semua peserta lesehan. Persis manaqib kubro --tradisi di kalangan NU. 

Berbagai hasil bumi seperti nanas, padi, kacang, pisang, singkong, labu, jeruk, dll. bergantungan di dekat pintu masuk cungkup makam. 

"Ini (hasil bumi) nanti yang akan jadi bahan rebutan warga pada akhir acara, Gus," Endah menjelaskan padaku.

Bangunan makam Buyut Nolo seperti bujur sangkar. Luasnya sekitar.... 

Di dalamnya ada ruangan seperti kamar. Ada 4 kuburan di ruangan itu; Buyut Nolo, istrinya dan Kari adik Buyut Nolo. Ketiganya membujur timur-barat. 

Di sebelah timur ketiganya ada satu makam lagi. Makam Islam, membujur utara-selatan. Menurut Endah, itu adalah makam Buyut Kunjoro, anak Buyut Nolo. 

Endah sendiri, dari jalur ibunya, merupakan keturunan dari Kunjoro. Ibunya Endah dulunya Islam, sebelum pindah Kristen. 

"Monggo sami-sami mlebet," kata salah satu tokoh sembari mempersilahkan para tokoh agama masuk ke ruangan cungkup. Awalnya mereka duduk lesehan di luar cungkup.

Aku melihat Pak Lurah, Roni, Pdt. Guntur dari Bala Keselamatan, dan Kiai Sunaryo masuk ke cungkup. 

"Monggo gus, njenengan juga," kata kiai Suparnan.

Aroma dupa menyeruak dalam ruangan. Kami bercakap-cakap sebentar. Tak seberapa lama, MC memberikan kode kepada kami yang ada dalam cungkup. Tanda acara dimulai. 

Aku sempat bingung karena ada jeda cukup lama, hening, baik di dalam maupun luar cungkup. Rupanya ini semacam momen teduh. 

Aku melihat semua yang ada di cungkup mulutnya komat-kamit. Aku pun mau tidak mau melakukan hal serupa. Al-Fatihah aku rapalkan 3 kali untuk 4 kuburan yang ada di sana.

Tak berselang lama, MC pria memandu proses kirim doa. Ketua panitia, kiai Suparman, tampil ke depan, memberikan ulasan singkat historisitas Buyut Nolo. 

Selanjutnya, Pak Lurah Ricky menyambungnya. Lurah yang masih setia melajang ini menekankan pentingnya warga Sukoharjo merawat leluhur sebagai pondasi kerukunan dan keberkahan dusun. 

Ia sempat menyinggung "kecemburuan" dusun lainnya. Menurut dusun tersebut, lurah dianggap menganakemaskan dusun Sukoharjo. 

Kecemburuan ini ditepisnya. Ricky meyakinkan bahwa tugas utamanya adalah memberikan pelayanan bagi semua warga apapun dusunnya.

Selesai sambutan, MC memanggilku. Aku agak kaget meski sudah bisa menduga akan kedapuk sambutan. Dalam sambutan, aku menyampaikan kekagetan sekaligus kekaguman fenomena Buyut Nolo. 

"Usia saya 50 tahun, baru pertama kali ini saya melihat makam tokoh Kristen dirawat dan dijaga warga Islam bersama warga Kristen. Ini mungkin satu-satunya di Indonesia," ujarku.

Fenomena ini menunjukkan sikap kegamaan dan relijiusitas di atas rata-rata. Darah, tambahku, memang lebih kental ketimbang agama. 

Mayoritas penduduk dusun Sukoharjo merupakan keturunan dari Buyut Nolo. Ada yang Kristen, ada juga yang Islam. Mereka masih terus meyakini Buyut Nolo sebagai punjer kehidupan mereka.

Dalam kesempatan itu pula aku mengutip hadits yang pernah disampaikan Abu Hurairah, sebagaimana tercatat daam Sunan Tirmidzi. 

تَعَلَّمُوا مِنْ أَنْسَابِكُمْ مَا تَصِلُونَ بِهِ أَرْحَامَكُمْ

Kira-kira artinya sebagai berikut, "Pelajarilah nasab kalian sehingga kalian dapat menyambung tali silaturahmi,"

Bagiku, silaturahmi (relasi yang baik) adalah kunci meningkatkan kesejahteraan. Silaturahmi adalah lawan kata dari keengganan berelasi baik. Terfragmentasi. 

Masyarakat yang terfragmentasi akan sangat rentan berkonflik. Kita tahu, tidak ada satupun peradaban maju yang terus menerus dalam situasi konflik. Pengembangan ekonomi, sosial maupun politik akan terhambat oleh konflik. 

Aku tidak menemukan cerita konflik antaragama di dusun Sukoharjo. Sangat mungkin kohesifitas antarwarganya terpelihara oleh banyak faktor, termasuk oleh kesamaan historisitas-genealogis dari Buyut Nolo. 

"Kangge kulo, Sukoharjo alias Sukobendu adalah desa Pancasila," ujarku disambut tepuk tangan. 

Jejak-jejak kekeramatan Buyut Nolo kini lebih mudah diakses melalui informasi di internet. Ini karena mulai banyak tulisan mengenai sosok ini. 

Salah satunya ditulis Nanda Citra Karunia, lulusan Univ. Negeri Surabaya. Skripsinya memotret tradisi kirab dusun untuk menghormasi Buyut Nolo. 

"Saya tadi lihat Citra ada di sini. Citra, tolong kamu berdiri ya," ujarku dalam sambutan. 

Perempuan berdarah Tionghoa ini kemudian berdiri di antara kerumunan warga. Malu-malu. Dia mendapat aplaus meriah dari warga. 

Akhir sambutanku menandai dimulainya inti acara, ritual doa. MC memanggil Roni, wakil dari komunitas Kristen, sekaligus menantu dari keturunan Buyut Nolo. 

Ia memimpin doa lumayan panjang versi Kristen. Menurutku ini merupakan hal yang wajar. Ia terlatih untuk itu karena termasuk majelis di gerejanya. 

Setelahnya, giliran Kiai Suparnan tampil memimpin tahlilan. Semua peserta khusyuk mengikuti doa dua agama tersebut. 

Setelah itu, semua peserta menikmati tumpeng dan kuliner lain-lain. Semuanya dipersiapkan secara mandiri oleh peserta. Potluck. 

Aku pikir acara telah selesai. Sebagian besar peserta meninggalkan lokasi. Anehnya ada sekitar 20an orang yang bertahan, termasuk para tokoh agama.

"Ini acara apa lagi, An?" bisikku kepada Endah.
Perempuan ini menjelaskan akan ada ritual istighotsah -- doa khusus dalam tradisi NU. 

Ritual ini terkenal memiliki durasi agak panjang dibanding tahlilan. Mungkin itu sebabnya tidak dilaksanakan secara umum, hanya orang-orang tertentu yang siap.

"Setelah itu, baru rebutan hasil bumi," tambahnya sembari menunjuk aneka hasil bumi yang menempel di sekitar cungkup.

Istighotsa dipimpin Kiai Sunaryo dengan penuh khidmat. Menjelang akhir istighostah para peserta, terutama ibu-ibu, terlihat sudah bersiap-siap melakukan rebutan hasi bumi. 

Dan benar, begitu Kiai Sunaryo selesai berdoa, mereka semua rebutan, seperti anak kecil. Padahal hampir semuanya sudah tua. Mereka tertawa-tawa sembari memegang hasil rebutannya, riang gembira. 

Selama 2-3 jam aku larut bersama warga Sukoharjo, merawat identitas diri mereka sebagai keturunan Buyut Nolo, Kristiani yang membangun dusun tersebut pertama kali. 

Hampir jam 21.00. Aku pamit karena harus meluncur ke rumah Gus Mamik di kompleks Pesantren Darul Ulum Rejoso Peterongan. Ada diskusi rutinan alumni PMII Jombang. 

Dalam perjalanan menembus gelap dan dinginnya malam, aku masih terngiang-ngiang percakapanku kepada peserta saat memberi sambutan tadi. 

"Pak, Buk, njenengan semerap nek kuburane Buyut Nolo niki mujur ngetan-ngulon?"
"Semeraaaap,"
"Biasane kuburan Islam kan ngalor-ngidul?"
"Nggiiihhhhh,"
"Lha terus?" 
"Nggih mboten nopo-nopo." (*)

Saturday, July 4, 2026

"MEMAKELARI GUSTI"; PERJUMPAAN KATOLIK-FILIPINA DAN ISLAM-JOMBANG

Kalau aku pikir-pikir, banyak kegiatanku selama ini isinya adalah perjumpaan. Perjumpaan, khususnya, antara kelompok yang berbeda identitas. Baik identitas etnis dan agama maupun gender maupun berbeda seksualitasnya. 

Label yang mungkin cocok bagiku adalah mak comblang, makelar, blantik, matchmaker, atau apa saja yang senafas dengan diksi-diksi itu.

Seminggu yang lalu, aku menjomblangi rombongan dari Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS). 

Jumlahnya sekitar 26 orang --sepuluh diantaranya mahasiswa Hubungan Internasional dari Ateneo de Manila University Filipina.

"Gus, aku pengen ngajak mahasiswa/mahasiswi Filipina bisa live in di salah satu pesantren Jombang. Tolong bantuen ya," kata kawanku, Simon Untara, wakil dekan Fakultas Filsafat.

Perjumpaan dengan komunitas Islam di Indonesia, menurutnya, sangatlah penting bagi mereka. Di Filipina, tidaklah mudah bagi orang-orang Katolik untuk membaur dengan komunitas Islam. 

"Mereka sangat penasaran bagaimana bisa orang Katolik dan Islam di Jawa Timur bisa hidup sedekat ini. Aku awalnya memang menceritakan pada mereka betapa dekatnya kami dengan kalangan Islam," ujar Simon padaku.

Aku lantas memilih Pesantren Mambaul Hikam (PMH) Kwaron Diwek sebagai tempat mereka live in. Pesantren ini dipimpin oleh Kiai Irfan dan Nyai Ika. Nama yang kedua cukup aktif di GUSDURian Jombang beberapa tahun ini. 

Rombongan UKWMS tiba di PMH tanggal 28 Juni sekitar pukul 16.00, sehari sebelum Hari Raya Idul Fitri. 

Sebagai penanggung jawab, Simon merasa Idul Adha merupakan momentum tepat bagi rombongan untuk lebih memahami ritual perayaan Kurban. Sangat mungkin ini merupakan pengalaman pertama bagi rombongan.

Rombongan akan menginap semalam. Tanggal 29 pagi, saat Hari Raya, mereka akan melihat ritual shalat Idul Adha dan perayaan pemotongan hewan Kurban, sebelum akhirnya mereka bertolak menuju situs katolik Puhsarang di Kediri siangnya.

Aku tiba di pesantren sekitar jam 18.30. Motoran. Bersama dengan rombongan UKWMS dan PMH, aku berkeliling menjelajahi pesantren putra. Jaraknya sekitar 500 meter dari tempat mereka menginap --pesantren putri.

Situasi malam itu begitu riuh-rendah. Suara takbiran menggema seantero pesantren. Begitu bising. 

"Not all of you surely have sensational experinces entering mosque, right? So, come. Let me guide you all to enter," ujarku pada rombongan.

Kami pun masuk masjid pesantren putra. Saat itu sedang akan dilaksanakan shalat Isya' berjamaah. 

Mereka mengobservasi dan mengabadikan apapun yang mereka anggap menarik. Diskusi-diskusi kecil seputar ritual shalat, kesucian, dan politik masjid terkait hal itu. 

Setelah dianggap cukup, kami pun kembali ke Pesantren Putri. Kami memang berencana menggelar ngobrol santai seputar Islam, kearifan lokal dan Indonesia pada jam 19.30. 

Pemantiknya adalah Kiai Irfan -- sehari-hari mengajar di Fakultas Syariah dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya. 

Presentasi dari Kiai Irfan begitu bernas dan menarik, memantik banyak mahasiswa/i Filipina mengeksplorasi lebih jauh terkait topik tersebut. Dengan tangkas, menurutku, Kiai Irfan meladeni satu per satu pertanyaan dari mereka. 

Tak terasa waktu sudah mengurung kami di titik 22.00. Waktunya tidur. 

Keesokan hari, aku datang kembali ke PMH. Aktifitas penyembelihan hewan Kurban berlangsung meriah. 

Ratusan santri/wati tumplek blek di halaman pesantren putri. Mereka bahu-membahu mengurus hewan Kurban agar bisa dinikmati yang-berhak. 

Aku melihat beberapa dari rombongan UKWMS ikut terlibat bersama para santri/wati. Pihak pesantren berinisiatif menyediakan arang, tusuk sate dan alat pemanggang bagi mereka. 

Acara nyate bersama menjadi ajang untuk saling mengakrabkan semua pihak. Mereka berkomunikasi dengan bahasa Inggris terpatah-patah, khususnya para santri/wati.

Meski tidak lebih dari 24 jam, aku merasa perjumpaan mereka dengan keluarga besar PMH meninggalkan kesan mendalam bagi semua pihak yang terlibat. Aku yakin mereka mendapat banyak insight dari perjumpaan tersebut.

Aku jadi teringat, saat diskusi malam hari sebelumnya, salah satu mahasiswi Filipina bercerita, ia didatangi seorang santri/wati. Mereka terlibat dalam obrolan untuk pertama kalinya.

"I was shocked because one of them asked me whether I believe in heaven and hell when I told them I am Catholic," ujarnya.

Aku tidak tahu apa persisnya konteks percakapan mereka sehingga muncul pertanyaan seputar surga dan neraka. Serta, bagaimana sebenarnya persepsi mahasiswi tersebut hingga merasa kaget. 

"I guess that is a such normative communication for those who made an encounter for the very first time. I think we should thank and enjoy it," ujarku disambut tertawa oleh forum.

Aku sepenuhnya menyadari pertanyaan seputar surga dan nerakan merupakan cerminan kegairahan dan ketulusan orang yang baru pertama kali mengetahui saudaranya yang berbeda agama. 

Biasanya kedua belah pihak akan berusaha mengalami dan mengkonfirmasi persamaan dan perbedaan diantara mereka.

Pengalaman ini sangat mungkin akan dikenang oleh pemiliknya dan, jika beruntung, kita bisa berharap akan ada perjumpaan lebih intensif. 

Bagiku, toleransi hanyalah akan bermakna penggelembungan busa kata-kata jika tanpa diikuti kesediaan untuk saling mengetahui satu dengan yang lain.

"Gus, bisakah kamu ikut dalam sesi jam 8-11 pagi hari Jumat? Kalau perlu aku jemput kamu ke Jombang dari Puhsarang," tanya Simon kepadaku sebelum rombongan bertolak meninggalkan PMH. 

"Serius amat anak ini," batinku. Aku mengiyakan. Seperti biasanya. Khas Gemini.

Jumat, 30 Juni, hari terakhir perjalanan rombongan UKWMS. Mereka berlabuh di Wisma Bethlehem Puhsarang. Aku memutuskan mengendarai Shogun 125 --serdadu tua setia yang masih sanggup melayaniku ke mana saja.

Ada tiga romo di forum tersebut, semuanya bergelar doktor dan pengajar di Fakultas Filsafat; Romo WIdyawan, Romo Immanuel dan Romo Ramon --- yang terakhir ini dari kelompok Opus Dei. 

Forum saat itu merupakan ajang refleksi para mahasiswa/i dari Filipina. Semuanya diminta berbicara; boleh juga bertanya. Semuanya tentu memakai bahasa Inggris. 
Aku lupa bagaimana detil pembicaraan di forum tersebut. Begitu banyak refleksi dari mereka yang, to be honest, tergolong mahasiswa/i cerdas dan pemberani bicara di depan publik. 

Forum menjadi semakin menghangat manakala ada salah satu dari mereka bertanya seputar isu LGBT di kalangan Islam dan Katolik. Sejak awal aku memang sengaja memprovokasi mereka untuk berani membincang masalah itu. 

Aku selipkan kata LGBTIQ dalam beberapa penjelasanku sebelumnya. Ingin sekali aku mendengar respon dari tiga romo terpelajar yang saat itu duduk bersama kami.

"Gus, mohon maaf, untuk masalah ini aku belum bisa komentar. Aku, terus terang saja, masih belum bisa menerima," salah satu romo berbisik padaku.

"Oooh ndak papa, Mo. Aku sangat bisa memahami kok. Semua perlu proses. Eh, kita tetap berteman kan?" ujarku menggodanya. Dia tertawa lebar.

Di akhir, Simon sebagai fasilitator forum mempersilahkan doktor Noti, dosen pembimbing dari Ateneo de Manila, untuk memberikan perspektifnya. Bahasa Inggris perempuan ini begitu bagus, pun refleksinya. 

Ia mengatakan betapa berharganya pengalaman bisa live in dan menikmati kehidupan langsung pesantren, sekaligus melihat dari dekat komunitas Muslim di Jombang. Ia berharap dapat melakukan kunjungan seperti ini setiap tahun.  

Tugasku sebagai makelar usai sekitar pujul 12.30. Aku pamit, menggeber Shogunku membelah Kediri-Papar-Kunjang-Gudo-Cukir dan akhirnya kembali ke rumah. 

Entah kemana lagi makelar ini akan diutus Gusti.(*)

http://www.gusdurianjombang.my.id/2023/07/gusti-perjumpaan-katolik-filipina-dan.html?m=1

Friday, June 26, 2026

Pria Mencintai Pria; Narasi Alternatif dari Hadits

Sejauhmana romantika sesama jenis, khususnya laki-laki terhadap laki-laki, diapresiasi dalam literatur hadits? Benarkah Nabi Muhammad (NM) memiliki satu sikap saja, yakni melarang, perasaan ini? Aku sendiri, jujur saja, terkejut dengan temuanku. Sungguh.

**
Istana sempat jadi bulan-bulanan isu LGBT dengan kehadiran Teddy. Pria ganteng ini sebelumnya sempat menjadi idola emak-emak. Kini ia terasa menjadi sansak hidup.

Di media sosial, ia dihujat, dibully, direndahkan, dengan berbagai cemoohan di balik badan tegapnya. Amien Rais barangkali menjadi corong paling tegas atas kehadiran Teddy. 

Tokoh gaek ini bahkan menudingnya, membawa-bawa peristiwa paling sensitif dalam galaksi seksualitas islam tradisional; Kaum Nabi Luth. Kita semua tahu ke mana arah tudingan Amien Rais ini.

Negara ini memang seperti tengah sakit berat. Warganya, aparatnya, tokoh agamanya, secara berjamaah menunjukkan ketakutan berat pada homoseksualitas. 

Oleh pengadilan, puluhan anak-anak muda, laki-laki, dikondisikan bersalah dalam kasus Siwalan Party baru-baru ini. LBH Surabaya mati-matian membela hak konstitusional mereka di meja hijau.

Aku merasakan sendiri kuatnya homofobia di kelasku. Meski tidak terekspresikan secara demontratif, homofobia ternyata cukup laten pada mayoritas mahasiswa/iku. 

Semester lalu aku mengampu 3 kelas; 2 kelas Religion dan 1 kelas Pancasila. Totalnya 144 mahasiswa/i. Di akhir perkuliahan, aku memberi pertanyaan kepada mereka; seberapa mengancam keberadaan kelompok LGBT di Indonesia. 

Tahu jawaban mereka? Sebanyak 105 orang mengaku terancam/sangat terancam. Sebanyak 28 merasa tidak terancam. Sisanya, 11 mahasiswa menjawab tidak tahu. 

Sebagai catatan, hampir 85% total mahasiswaku beragama Kristen/Protestan. Sisanya diperebutkan oleh Katolik, Buddha, Islam, Hindu dan Khong Hu Cu.

Yo-Da
Aku menduga kuat mereka, penganut Kristus, tidak terlalu diperkenalkan dengan fenomena Daud - Yonatan. Padahal, relasi dua pria ini terpatri kuat secara Alkitabiah. Kalaupun diperkenalkan, kisahnya dijauhkan dari relasi sesama jenis.

Yonatan mengasihi Daud seperti dirinya sendiri. Jiwa Yonatan, konon, terpaut kepada Daud.

"Yonatan mengikat perjanjian dengan Daud, karena ia mengasihi dia seperti dirinya sendiri." "Berpadu jiwalah Yonatan dengan jiwa Daud, dan Yonatan mengasihi dia seperti jiwanya sendiri."

Yonatan konon rela melepaskan pakaian dan memberikannya pada Daud. Mereka bercium-ciuman seorang dengan yang lain dan menangis bersama-sama. Yonatan meyakinkan Daud bahwa ia akan selalu dekatnya.

"Engkau akan menjadi raja atas Israel dan aku akan menjadi orang kedua sesudah engkau." kata Yonatan pada Daud.

"Aku sangat susah karena engkau, saudaraku Yonatan; engkau sangat baik kepadaku; cintamu kepadaku ajaib, melebihi cinta perempuan." kata Daud meratapi Yonatan.

Bayangkan, sekali lagi bayangkan, jika Teddy atau laki-laki lain mengungkapkan kata-kata Alkitab ini untuk seorang laki-laki. Aku bertaruh; hampir tidak akan ada satupun dari kita yang tidak menduga ada baluran kuat romantisisme. 

"Tak mungkin tidak ada apa-apa di antara mereka," mungkin demikian batin kita.

Tradisional vs. Modern
Hanya saja, meski relasi Yonatan-Daud telah sedemikian benderang, kalangan tradisional Kristen --antiLGBT-- tetap keukeuh; menganggap tidak ada relasi asmara di antara keduanya. 

Di mata mereka Yonatan dan Daud adalah ikon persahabatan sakral dan perjanjian politik. Bahasa kasih, kata mereka, tidak selalu mengarah seksual. Apalagi, mereka beragumen, Daud memiliki istri-istri dan keturunan. 

Pandangan tradisional ini menemukan tantangan dari kalangan kristen modern. Bagi mereka tidak perlu kuliah hingga level S3 untuk dapat merasakan apa yang sesungguhnya terjadi pada mereka berdua. 

Hubungan mereka, atau salah satu diantaranya, tidak membutuhkan lagi penjelasan lebih lanjut karena berlaku Pasal 184 ayat (2) KUHP, "Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.".

Kata Hadits
Bagaimana dengan pandangan hadits sebagai sumber hukum kedua setelah Al-Quran? Cukup banyak beredar hadits-hadits bernuansa pengutukan terhadap relasi seksual sesama jenis, utamanya dikaitkan dengan preseden kaum Luth. 

Yang barangkali kurang diketahui publik Islam adalah adanya beberapa hadits yang bisa dibilang cukup akomodatif terhadap perasaan laki-laki terhadap laki. Mungkin tidak sevulgar Daud-Yonatan namun jejaknya cukup terang untuk menunjukkan toleransi atas romantika laki-laki kepada laki-laki.

Ada sebuah hadits yang konon diceritakan Anas bin Malik; disebutkan, suatu ketika NM duduk bersanding dengan sahabat pria. Tidak disebutkan namanya. 

Lalu melintaslah seorang pria di hadapan mereka. Sahabat pria tadi memendam rasa suka padanya dan memberitahu NM. Yang mengagetkan, alih-alih memarahinya, NM justru meminta sahabat pria tadi mengungkap perasaannya kepada laki-laki tersebut. 

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا الْمُبَارَكُ بْنُ فَضَالَةَ، حَدَّثَنَا ثَابِتٌ الْبُنَانِيُّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ رَجُلاً، كَانَ عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَمَرَّ بِهِ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي لأُحِبُّ هَذَا ‏.‏ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ أَعْلَمْتَهُ ‏"‏ ‏.‏ قَالَ لاَ قَالَ ‏"‏ أَعْلِمْهُ ‏"‏ ‏.‏ قَالَ فَلَحِقَهُ فَقَالَ إِنِّي أُحِبُّكَ فِي اللَّهِ ‏.‏ فَقَالَ أَحَبَّكَ الَّذِي أَحْبَبْتَنِي لَهُ ‏.‏

"Seorang laki-laki bersama Nabi (saw) dan seorang laki-laki melewatinya dan berkata: Utusan Allah! Saya suka pria ini. Rasulullah SAW kemudian bertanya: Sudahkah kamu memberitahukannya? Dia menjawab: Tidak. Dia berkata: Beritahukan kepadanya. Dia kemudian mendatanginya dan berkata: Aku mencintaimu karena Allah. Dia menjawab: Semoga Dia yang demi siapa kamu mencintaiku, mencintaimu!"

Hadits ini terekam dalam Sunan Abi Dawud (ditulis 880 M) dan Musnad Ahmad (ditulis 796 M). Dari dua kitab tersebut, beberapa kitab belakangan juga mencatatnya, misalnya Riyadh al-Shalihin (± 1260 M), Sharḥ Sunan Abī Dāwūd (± 1340 M), Kanz al-'Ummāl fī Sunan al-Aqwāl wa al-Af'āl (± 1550 M), Ithāf al-Maharah bi Aṭrāf al-'Asharah (± 1430 M), Iṭrāf al-Musnad al-Mu'talī bi Aṭrāf al-Musnad al-Ḥanbalī (± 1430 M), Jāmi' al-Uṣūl min Aḥādīth al-Rasūl (± 1200 M), Jam' al-Fawā'id min Jāmi' al-Uṣūl wa Majma' al-Zawā'id (± 1400 M), dan al-Jāmi' al-Ṣaḥīḥ lil-Sunan wa al-Masānīd (± 1350 M).

Dengan gamblang kita bisa menemukan NM sedemikian asertif dan akomodatif terhadap perasaan sahabat tersebut. Padahal NM sebenarnya dapat dengan mudah melarangnya dengan alasan, misalnya, kenajisan perasaan. Tapi kenapa NM tidak melarangnya?

Naungan Allah?
Dalam hadist lain, sebagaimana dicatat dalam Sahih Bukhari (864 M) dan Sahih Muslim (864 M), NM konon pernah menyampaikan, bahwa salah satu kelompok yang mendapat naungan Allah adalah dua orang laki-laki yang saling cintai --dan berpisah-- karena Allah (وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ).
 
Berikut hadits lengkapnya.

 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ عُبَيْدِ اللهِ قَالَ: حَدَّثَنِي خُبَيْبُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ، فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ، أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ.»

"Muhammad bin Bashar menceritakan kepada kami, dia berkata: Yahya memberitahu kami, atas otoritas Ubayd Allah, dia berkata: Khubaib bin Abdul Rahman menceritakan kepadaku, atas otoritas Hafs bin Asim, atas otoritas Abu Hurairah, atas otoritas Nabi, damai dan berkah Allah besertanya, bersabda: “Ada tujuh orang yang akan dinaungi Allah di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya: Imam yang adil, dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadahnya. Ya Rabb, Dan seorang laki-laki yang hatinya bertaqwa kepada masjid-masjid, dan dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah, bersatu demi dia dan berpisah demi dia, dan seorang laki-laki yang dicari oleh seorang wanita yang mulia dan cantik, Maka dia berkata, “Aku bertakwa kepada Allah,” dan seorang laki-laki yang bersedekah, menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dibelanjakan tangan kanannya, dan seorang laki-laki yang menyebut Allah secara sembunyi-sembunyi dan matanya berkaca-kaca."

Tanda Keimanan
Hadits dengan nuansa senafas juga pernah dicatat ahli hadits Sulaiman ibn Ahmad al-Tabarani dalam karyanya Al-Mujam al-Awsat (950 M). Dia bahkan pernah menarasikan cinta lelaki pada lelaki lain, sepanjang karena Allah, merupakan tanda keimanan.

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: قال رسول الله ﷺ:"إن من الإيمان أن يحب الرجل الرجل لا يحبه إلا لله عز وجل، من غير مال أعطاه إياه، فذلك الإيمان."

"Dari Abdullah bin Mas'ud ra., ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya termasuk iman ialah seorang lelaki mencintai lelaki lain semata-mata karena Allah Yang Mahamulia lagi Mahatinggi, bukan karena harta yang pernah diberikannya; itulah iman."

Hadist marfu' ini juga tercatat dalam Al-Targhib wa al-Tarhib (± 1380 M) karya Abd al-Azim al-Mundhiri, Majma al-Zawaid (± 1380 M) karya Nur al-Din al-Haythami dan Silsilat al-Ahadith al-Daifah (diterbitkan bertahap sejak 1960-an) karya Muhammad Nasiruddin al-Albani.

Masuk Surga
Nur al-Din al-Haytami dalam Majmaʿ al-Zawāʾid wa Manbaʿ al-Fawāʾid (Himpunan Hadis-Hadis Tambahan dan Sumber Berbagai Faedah) juga mencatat hadits lain, yang isinya mengapresiasi cinta antarlaki-laki, "..Barangsiapa mencintai seorang pria karena Tuhan, maka Tuhan akan mencintainya, maka keduanya masuk surga.” 

Bunyi lengkapnya sebagai berikut.

 - وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ: " «مَنْ أَحَبَّ رَجُلًا لِلَّهِ فَقَدْ أَحَبَّهُ اللَّهُ، فَدَخَلَا جَمِيعًا الْجَنَّةَ، وَكَانَ الَّذِي أَحَبَّهُ لِلَّهِ أَرْفَعَ مَنْزِلَةً، أَلْحَقَ الَّذِي أَحَبَّهُ لِلَّهِ» ".رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ، وَرَوَاهُ الْبَزَّارُ وَلَفْظُهُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: " «مَنْ أَحَبَّ رَجُلًا لِلَّهِ فَقَالَ: إِنِّي أُحِبُّكَ لِلَّهِ، فَدَخَلَا جَمِيعًا الْجَنَّةَ، فَكَانَ الَّذِي أَحَبَّ أَرْفَعَ مَنْزِلَةً مِنَ الْآخَرِ أُلْحِقَ بِالَّذِي أَحَبَّ لِلَّهِ» ". وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ.

"Dan dari hadis Abdullah bin Amr: Bahwa Rasulullah - semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya kedamaian - bersabda: “Barangsiapa mencintai seorang pria karena Tuhan, maka Tuhan akan mencintainya, maka keduanya masuk.” Surga, dan orang yang mencintainya mempunyai derajat yang paling tinggi di hadapan Allah, setara dengan orang yang dicintainya di hadapan Allah.” “Diriwayatkan oleh Al-Tabarani, dan diriwayatkan oleh Al-Bazzar, dan perkataannya adalah: Rasulullah bersabda Allah - semoga Tuhan memberkati dia dan memberinya kedamaian -: “Barangsiapa mencintai seorang pria karena Tuhan dan berkata, 'Aku mencintaimu karena Tuhan,' maka mereka semua akan masuk surga, dan orang yang dicintainya akan lebih tinggi derajatnya dari yang lain terikat pada apa yang dicintai Tuhan.” Rantai periwayatannya bagus."

Hubb yang Membingungkan
Benarkah rasa cinta ini berada dalam konstruksi asmara, ataukan persaudaraan? Inilah menariknya. 

Masyarakat Islam bisa jadi akan terbelah menjadi kelompok tradisionalis maupun modernis, sebagaimana dalam dunia Kristen terkait masalah ini.

Tradisi kekristenan sendiri, seperti kita tahu, mengenal beberapa jenis perasaan cinta; storge, agape dan eros --untuk membedakan cinta dalam konteks apa. Dalam hadits-hadits tadi, perasaan cinta dilambangkan dengan diksi "hubb". 

Dalam berbagai literatur, kata ini berlaku untuk semuanya --baik persaudaraan, tali keturunan, spiritualitas maupun seksualitas. Hubb atau mahabba, bagi al-Raghib al-Isfahani (w. 1108 M) dalam Mufradat Alfaz al-Quran merupakan kehendak atas sesuatu yang dilihat atau disangka sebagai kebaikan. 

Hubb bersifat umum. Maka terlalu sederhana jika ia dipaksa masuk dalam kerangka binerik; persaudaraan, erotisisme atau lainnya. Di sinilah pangkal kebingungan sebagian orang. 

Hal lain yang tak kalah menarik, ada kata "fi allah" muncul konsisten dalam beberapa hadits di atas. Kata ini, sederhananya, bermakna "karena Allah". 

Hadits-hadits tersebut nampaknya memiliki satu kerangka yang sama; apapun jenis perasaan cinta, sepanjang didasarkan atas nama (untuk, dari, dan oleh) Tuhan maka perasaan tersebut tidak dipermasalahkan. 

Dengan demikian, ekspresi keagungan cinta dilihat hanya apakah rasa cinta itu dipersembahkan untuk Tuhan atau yang lain. Hubb fi allah adalah dua orang yang memiliki afeksi, kedekatan, dan keterikatan hati satu sama lain yang berakar pada orientasi kepada Allah,

Batasan
Aku penasaran, jika ada orang menyatakan "aku mencintaimu karena Allah" maka bagaimana kita tahu batasan operasionalnya? Cinta yang seperti apa, yang harus diwujudkan karena menyandang kata "fi Allah" di belakangnya? 

Perasaan cinta karena Allah, menurutku, setidaknya memiliki 5 ciri. Pertama, rasa cinta akan mendorong pasangan untuk menapaktilasi jejak Rasululloh. (QS. 3:31). Dalam konteks akhlaq/etika, Rasululloh dikenal sebagai pribadi yang lembut (QS. 3:159), bermanfaat bagi seluruh umat, bukan hanya golongan tertentu (QS. 21:107), empatis (QS. 9:128), konsultatif dan pemaaf (QS. 3:169). 

Kedua, rasa cinta diantara mereka akan mendorong keduanya semakin kuat dalam menyebut/mengingat/berpikir/merenung/memahami (dzikir) atas Allah dan ciptaanNya. Dalam konteks modern, keduanya tidak ragu menjelajahi ilmu pengetahuan dalam kerangka berdzikir kepada Allah (QS. 3:190-191, 33:41, 7:205, 2:152). 

Ketiga, tidak berbasis materi -- cinta karena Allah membuat pasangan tidak lagi memposisikan pengagungan materi sebagai pondasi utama rasa cinta mereka (QS. 9:24). Keempat, sanggup tetap bertahan dalam perasaan cinta meski berpisah maupun saat kondisi berubah (Q.S. 33:23). 

Dan, kelima, rasa cinta karena Allah akan menggerakkan kesetiaan aktif, perlindungan dan kelapangan terhadap pasangan (QS. 9:71, 8:72). Artinya rasa cinta akan berfungsi sebagai penggerak aktif kesetiaan, saling melindungi dan supportif bagi pasangannya, serta orang lain.

Satu hal yang pasti mencintai, secara seksual, karena Allah tidak akan membuat seseorang berani melakukan pemerkosaan, menyetubuhi anak bawah umur, maupun ekspoitatif pada orang lain/pasangannya. Cinta sejati bercirikan 5 hal tadi --ciri yang seringkali dipendekkan menjadi "karena Allah"

Maka sudahkah kita benar-benar mencintai pasangan kita --apapun orientasi seksualnya-- karena Tuhan? Love wins.(*)


https://medium.com/@gantengpolnotok/pria-mencintai-pria-narasi-alternatif-dari-hadits-f27c07d9a9da

KALA KETURUNAN IBRAHIM BERKUMPUL DI STASI BRINGKANG

Untuk pertama kalinya siapa yang sebenarnya akan disembelih Ibrahim didiskusikan antara dua kelompok di Gresik; Katolik dan Islam. Acaranya dilakukan di rumah ibadah Katolik di Menganti yang empat tahun lalu sempat bikin geger.

**

Beberapa hari setelah menggelar acara diskusi Bunda Maria antara Katolik-Islam di Pusat Pastoral Keuskupan Surabaya, aku akhirnya mendatangi Stasi St. Agustinus desa Bringkang kecamatan Menganti kabupaten Gresik, 26 Mei 2026.

Ini stasi penting karena beberapa tahun lalu sempat mengguncang jagad internet. Stasi ini didemo beberapa warga sekitar karena dianggap tidak berijin. Salah satu pendemonya menggunakan atribut/tulisan "Ansor" -- organisasi underbouw Nahdlatul Ulama yang dikenal toleran. 

Sebelum didemo, stasi ini digunakan ibdah seperti biasanya. Jumlah jemaatnya sekitar 400an kepala keluarga. Lebih dari 1000 warga jika dikalikan 3. 

Stasi ini luas sekali. Sekitar 1 hektare. Menempati bekas pabrik yang tidak lagi digunakan pemiliknya. Konon pabrik ini dibeli oleh salah satu umat di sana. Aku juga mendengar ada versi pabrik ini dibeli oleh otoritas Katolik.

Secara administratif stasi ini menginduk di Paroki St. Yakobus Citraland Surabaya. Romo kepalanya sekarang adalah kawan lamaku, Romo Eko --yang dulu menjabat sebagai vikaris jenderal Keuskupan Surabaya periode alm. Uskup Sutikno. 

Romo Eko malam itu, Selasa (26/5), menjadi salah satu narasumber selain aku. Aku cukup lama kenal dengan Romo Eko, semenjak ia menjabat sebagai kepala kevikepan Nganjuk. Aku pernah mengunjunginya di sana. 

Dia juga pernah aku undang mengisi 1000 hari wafatnya Gus Dur di Paroki Santa Maria Jombang. Terakhir kali aku bertemu dengannya di Unika Widya Mandala Dinoyo. Saat itu ia vikjend dan menjadi salah satu narasumber bersamaku.

Romo Eko adalah salah satu dari sedikit romo yang memiliki kedekatan personal dengan alm. Gus Dur. Ia bahkan pernah diijinkan menginap di Wisma Negara seaat GD menjadi presiden. 

"Betul, saya menginap di sana, teman-teman yang lain memilih tidak mau," kataya di hadapan peserta diskusi Kurban malam itu. 

Ia menyinggung posisi Katolik terkait siapa yang akan dikorbankan. Yakni, Ishak. Lebi jauh ia menekankan pentingnya menghayati esensi peristiwa pengorbanan tersebut dalam konteks keindonesiaan.

"Setiap orang perlu menyadari pentingnya pengorbanan agar Indonesia yang plural ini bisa tetap berdiri," katanya.

Baginya, Gus Dur adalah salah satu cerminan bagaimana pengorbanan dilakukan untuk mempertahankan kohesifitas di masyarakat, khususnya ketika ia menjadi presiden. 

Sebagai pembicara kedua, aku menyinggung posisi Al-Quran dalam urusan siapa yang akan dikorbankan Ibrahim. 

Tidak ada nama spesifik di sana --tidak juga Ismail atau adiknya, Ishak. Kitab suci ini seperti sadar diri; tidak memihak. Ia hanya menyebutkan "anak laki-laki terkasihku"

Sebelum abad 10, masih cukup banyak tafsir Al-uran yang mengakomodasi tokoh-tokoh Islam yang berpandangan Ishak adalah yang dimaksud Al-Quran, misalnya Ali bin Abi Thalib. 

Namun setelah abad 10, beberapa tafsir, seperti Katsir dan Qurtubi, memberikan keberpihakannya kepada Ismail. 

Peran Ishak tergeser sangat mungkin karena semakin menguatnya keberadaan Islam. Penguatan ini secara teoritik dalam konteks kompetisi antarkeyakinan/agama biasanya membutuhkan dua hal. 

Pertama, pemenangan simbolik atas peristiwa-peristiwa ritualistik. Apalagi jika peristiwa ini menjadi "sengketa" da diperebutkan antarkeyakinan. 

Dan, kedua, penguatan identitas pembeda yang mengiringi pemenangan peristiwa tersebut. 

Misalnya, Islam-Katolik bersengketa atas figur Yesus. Keduanya membangun narasi kecintaannya sendiri --yang selanjutnya wajib diimani oleh para penganutnya. 

Saking tajamnya perebutan ini, sebagian kelompok Islam dan Kristen/Katolik bahkan membuat distingsi yang agak menggelikan; Yesus tidak sama dengan Isa. 

Yesus diasosiasikan dalam narasi penyaliban dan kristologi trinitarian, sedangkan Isa dinarasikan lolos penyaliban dan bersemanyam dalam kristologi unitarian.

Mana yang benar? Wallohu a'lam, namun aku meyakini pendapat yang benar adalah pendapat mana saja yang mampu membuat kita semakin menyayangi orang lain, khususnya yang berbeda pendapat denganmu.

Malam itu aku melihat puluhan orang Islam, Kristen dan Katolik bercengkerama tanpa sekat, membincang perbedaan kurban sebagai sesama keturunan Ibrahim. Mereka memiliki keyakinan masing-masing siapa yang sebenarnya akan dikurbankan Ibrahim.  

"Perbedaan ini perlu dirawat sebagai energi untuk saling menguatkan," kata salah satu peserta yang aku ajak bicara. 

Dalam konteks operasionalisasi Stasi Bringkang yang masih terkendala, situasi malam ini merupakan tanda dari langit bagi stasi ini. Semoga rumah ibadah ini bisa segera bisa digunakan kembali seperti sebelumnya.

Aku perlu memberikan kredit bagi Khosyiah dan segenap kru GUSDURian Gresik. Juga kepada Husni dan Petrus. Mereka sedemikian intens merajut kembali jaring yang terkoyak di Bringkang. (*)

Tuesday, May 5, 2026

ROKOK HKBP


Sudah lama aku tidak silaturrahmi dengan kawan-kawan HKBP Jombang. Mungkin ada setahunan lebih,
Namun akhirnya semesta seperti tidak mengizinkan keterpisahan tersebut berlama-lama. Kami akhirnya bersua kembali.

Friday, May 1, 2026

Voting dan Referendum Homoseksualitas



Mungkin belum banyak yang tahu, pencabutan status "mental disorder" bagi homoseksualitas merupakan hasil voting dan referendum. Kok bisa?

***
Saat menulis tesis di kampus Hasyim Asy'ari Tebuireng, aku sedikit melacak perdebatan posisi homoseksual di kalangan para psikiater Amerika, yang tergabung dalam APA (American Psychiatric Association) .

Aku merasa wajib melacaknya karena tesisku berjudul "Rekonstruksi Perkawinan Sesama Jenis dalam Hukum Islam perspektif Hak Asasi Manusia dan SOGIE-SC,"

Tuesday, April 14, 2026

PENDETA MENGUTIP AYAT INI SAAT MEMBERKATI PERKAWINAN BEDA AGAMA RERA & MOSES



Moses tidak bisa lagi menahan emosinya. Tangisnya pecah. Suaranya sesenggukan ketika memberikan sambutan di akhir pemberkatan perkawinan beda agamanya dengan Rera, Minggu (10/11).
"Saya mengucapkan terimakasih kepada bapak dan ibu (orangtua Rera). Saya benar-benar tidak menyangka bapak dan ibu akhirnya mau hadir dalam pemberkatan kami. Diberikan izin untuk menikahi Rera adalah anugerah. Namun kehadiran bapak dan ibu saat itu sungguh membuat saya bahagia," ujarnya dengan sesenggukan. 
Ruang ibadah sontak senyap, larut bersama emosi Moses dan Rera. 

Featured Post

Buyut Nolo Drono; Makam Kristen Dirawat Masyarakat Islam dan Kristen

Ditengah maraknya persekusi simbol-simbol kekristenan di Indonesia oleh sebagian kelompok Islam, apa yang dilakukan masyakarat I...