Tiga hari lalu, aku mengunjungi Museum Wayang Potehi (WMP) Gudo. Sudah agak lama aku tidak mengunjungi pemiliknya, Mas Toni.
Sebulan sebelumnya kami janjian untuk maesong. Sayangnya ia tidak bisa hadir. Mamanya masuk rumah sakit dan ia harus menjaganya. Anak laki-laki adalah kekasih ibunya. Itu hukum alam.
Aku bertemu dengannya di MWP dan mulai ngobrol seputar banyak hal, termasuk wayang Potehi.
"Mas, aku sudah lama berkecimpung di wayang potehi. Tapi aku merasa nggak bisa apapun. Paling-paling hanya bisa cerita sejarah museum ini. Aku tidak punya kemampuan memainkan alat musik, apalagi menjadi dalang. Aku pengen iso ndalang," ujarku tiba-tiba.
"Wah, apik mas. Aku dukung penuh," ujar mas Toni dengan mata berbinar-binar. Aku tak menyangka.
"Tapi mas, aku ndak mau membawakan cerita masa lalu, masa kerajaan, Sun Go Kong, dll. Aku tidak tertarik. Aku tertarik membawakan cerita perjuangan Tionghoa Indonesia modern," ujarku
"Wah, joss mas.. sip!"
"Beri aku usulan cerita, mas," kataku memberinya pekerjaan rumah.
Tak seberapa lama, ia mengusulkan cerita, seputar perjuangan perkawinan Khong Hu Cu (KHC) pertama kali dan keterlibatan Gus Dur.
Pertengahan awal tahun 90am, Indonesia pernah digegerkan dua orang Tionghoa; Budi Wijaya dan Lany Guito. Keduanya nekat kawin KHC padahal agama tersebut belum diakui negara. Dampaknya jelas, Catatan Sipil Surabaya (CSS) menolak menerbitkan Kutipan Akta Perkawinan.
Yang mengagumkan, keduanya tak patah arang. Sikap CSS digugat melalui PTUN Surabaya, PT TUN hingga judex juris, Mahkamah Agung.
"Ok, mas, aku sreg dengan cerita itu," kataku.
Aku selanjutnya melakukan riset pustaka secara cepat. Tugasku memahami alur kronologis peristiwa tersebut dan, sekuat tenaga, menemukan kutipan-kutipan otoritatif, termasuk ucapan-ucapan Gus Dur saat ini.
Google Scholar adalah database intelektual yang pertama kali aku sasar. Selanjutnya adalah klipingan koran dan majalah yang terbit pada 1995-2000. Ini pekerjaan yang melelahkan namun menyenangkan bagiku.
Kemudian, aku menyusun kronologi itu dalam draft kasar cerita wayang; terdiri dari 6 babak. Aku menargetkan pertunjukan ini tidak lebih dari 30 menit.
"Mas, aku sudah selesai dengan draft awal. Aku ingin mempresentasikan dengan sampeyan dan para dalang untuk mendapatkan input serta gambaran lebih riil terkait tata musik dan visualnya," ujarku kemarin.
Hari ini, aku presentasi draft tersebut di hadapan tiga dalang; Mas Toni, Mas Widodo dan Kelung. Ketiganya punya jam terbang tinggi, baik lokal hingga internasional.
Kami terlibat dalam diskusi yang sangat bernas dan konstruktif. Mereka sangat responsif mengusulkan visualisasi dan musikalisasinya. Dengan cepat mas Toni mencatat kebutuhan kostum dari banyak sosok pemain yang muncul dari penjelasanku.
Aku sedemikian bergairah hingga tak jarang harus berdiri untuk menyitir ucapan-ucapan Gus Dur maupun para hakim yang menyidangkan kasus tersebut.
"Tenang, mas, aku nanti bersedia jadi asisten dalang. Sampeyan jadi dalangnya," kata mas Toni yang ikut-ikut bersemangat sepertiku.
Kepada mereka aku menyatakan dalang tidak harus aku. Siapapun bisa. Yang penting, skripnya jelas dan oke. Khususnya, terkait ucapan-ucapan Gus Dur dan para aktor lainnya, diupayakan harus verbatim.
"Oooo tidak bisa, mas, dalangnya harus sampeyan. Kalau dalang lain, ndak pas," ujarnya.
Dalam draft yang aku buat dan bagikan kepada para dalang, aku sertakan pula bibliografi. Persis seperti bikin tulisan ilmiah.
Bagiku ini pekerjaan ilmiah. Perlu riset. Perlu kutipan. Agar penonton mendapatkan realitas yang optimal.
Sempro calon dalang berjalan lancar. Ada banyak catatan dari para dosen yang perlu aku masukkan dalam draftku.
"Kita ketemu dua minggu lagi untuk mendiskusikan draft penyempurnaan," ujarku. Mereka menyambut dengan gembira.
Saat mau pulang aku bertemu Pak Kekek. Usianya sudah tua. Perawakannya masih segar. Karena jarang melihatnya di MWP, aku pikir ia sekedar tamu yang tidak terlalu penting.
Mas Toni mengisahkan sosok Kekek sebagai tukang becak di ITC dekat Stasiun Surabaya Kota, selama lebih dari selama 30 tahun.
"Mas, jangan salah, ia adalah dalang wayang Potehi yang sangat jago, khususnya dalam mengkreasi guyonan-guyonan," katanya.
Aku benar-benar tak menyangka ia seorang dalang. Harusnya ia bergabung dalam tim dosen yang mengujiku dalam sempro.(*)
https://medium.com/@gantengpolnotok/sempro-calon-dalang-potehi-6cff3759dbed



















