IDUL ADHA: PERAYAAN TERTAWANYA SARAH


Secara etimologi, aku baru tahu ternyata Idul Adha --hari raya yang identik dengan kurban dan penyembelihan-- erat kaitannya dengan tertawanya Sarah, istri Nabi Ibrahim -- ibunya Ishak. 


**

Selama ini aku tidak mempertanyakan, apalagi menyelidiki, kenapa Idul Adha diidentikkan dengan kisa penyembelihan salah satu anak Ibrahim. Aku mengira, semuanya sudah tertata dan terjustifikasi secara teologis maupun historis. bagiku tidak ada yang aneh dengan pengidentikan tersebut. 

Hanya saja, entah kenapa, kemarin aku iseng mencari tahu apa arti kata Adha. Aku berangkat dari memoriku, yang mengatakan kata tersebut ada kaitannya dengan tertawa atau tersenyum, hal-hal berkaitan dengan aktifitas terssebut. Memoriku yang terbatas ini tidak menyimpan arti Adha selain informasi tersebut. 

"Mungkin memoriku belum terupdate," gumamku,

Kata Adha merupakan bentuk Indonesia dari kata arab   أضحى -- (āḌ-Ḥā, dibaca ad-kha). Selanjutnya, kata arab ini aku masukkan dalam aplikasi باحث القرآني yang memungkinkanku menemukan kata ini dalam Al-Quran. 

Ketemu!

Aplikasi tersebut mengarahkanku pada QS. An-Najm 43; وَاَنَّهٗ هُوَ اَضْحَكَ وَاَبْكٰى (bahwa sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis).

Ternyata benar dugaanku, ad-kha berarti tertawa. 

Aku tidak puas, ingin menemukan berapa banyak diksi ad-kha --beserta derivasiya-- dalam al-Quran beserta seluruh artinya. Sebab, setahuku, dalam ilmu kitab suci, satu diksi bisa memiliki makna lebih dari satu. 

Aku kemudian membuka QS. an-Najm 43 di aplikasi Al-Quran milik developer Greentech. Aplikasi keren ini memungkinkanku tahu berapa jumlah sebuah diksi beserta turunan katanya. 

Greentech menunjukkan ada 10 ayat yang mengandung kata ad-kha dalam Al-Quran. Setelah aku cek, semuanya memiliki arti sama; tertawa/tersenyum dalam berbagai cerita dan konteks. Misalnya, QS.27:19-2 yang menceritakan Nabi Sulaiman yang tersenyum gara-gara ia mampu mendengar perkataan seekor semut. 

فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّن قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَٰلِحًا تَرْضَىٰهُ وَأَدْخِلْنِى بِرَحْمَتِكَ فِى عِبَادِكَ ٱلصَّلِحِينَ 

"Maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih.” -- Terjemahan Sabiq Company


Kata ad-kha dan turunannya juga digunakan dalam beberapa cerita/konteks lain, sebagaimana disebut dalam QS. 53:43, 80:39, 9:82, 23:110, 43:47, 53:60, 83:29 maupun QS.83:34. Hanya saja, kesemua ayat tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan peristiwa pengorbanan anak Ibrahim secara khusus, maupun kehidupan keluarga Ibrahim.  

Namun demikian, ada satu ayat QS. 11:71 yang merekam jejak ad-kha yang berkaitan dengan keluarga Ibrahim. 

"Wah menarik ini," gumamku. 

Setelah aku periksa, aku merasa ayat ini berkaitan dengan ayat sebelum dan sesudahnya. Yakni, seputar kabar gembira kelahiran Ishak yang disampaikan para malaikat yang mengunjungi Ibrahim dan istrinya. Cerita ini, jika perkiraanku benar, terekam oleh QS.11:69-76. 

Kisahnya demikian; beberapa malaikat mempir ke rumah Ibrahim. Mereka sedang dalam perjalanan menuju Nabi Lut (Kota Sodom).

"Salam," kata mereka.
"Salam juga," balas Ibrahim.

tak lama kemudian Ibrahim datang membawa suguhan daging anak sapi yang dipanggang. Namun sayangnya, makanan tersebut tidak sedikitpun dijawah oleh mereka. Ibrahim curiga dan merasa takut; kuatir, mereka datang untuk menghukumnya.

"Ibrahim, jangan takut! Sesungguhnya kami diutus kepada kaum Lut (untuk menghancurkan mereka)," kata mereka.

Jawaban ini rupanya melegakan Ibrahim dan istrinya. Sang istri berdiri dan tersenyum (fadhakhikat, derivasi dari kata ad-kha). Kemudian mereka menyampaikan kabar gembira tentang kelahiran Ishaq dan setelah Ishaq akan lahir Ya'qub (putra Ishaq).

“Sungguh mengherankan! Mungkinkah aku akan melahirkan (anak) padahal aku sudah tua dan suamiku ini sudah renta? Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang ajaib (qâlat yâ wailatâ a alidu wa ana ‘ajûzuw wa hâdzâ ba‘lî syaikhâ, inna hâdzâ lasyai'un ‘ajîb),” kata istri Ibrahim, sangat mungkin ia adalah Sarah. 

Aku membayangkan ia mengatakan ini sembari tertawa tak percaya, persis seperti kita yang akhirnya lolos seleksi setelah puluhan kali mengirimkan surat permohonan tak berbalas.

Respon Sarah ini, yang juga tercatat dalam Kejadian 18:11-15, rupanya membuat mereka, para malaikat, balik bertanya secara retoris kepada Sarah dan Ibrahim, "Apakah engkau merasa heran dengan ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat dan berkah Allah (yang) dicurahkan kepada kamu, wahai ahlulbait! Sesungguhnya Dia Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”

Jawaban malaikat tak pelak menghilangkan rasa takut Ibrahim. Setelah lebih tenang, bapaknya Ismail dan Ishak ini selanjutnya berdiskusi dengan mereka seputar rencana penghancuran kota Sodom. 

***

Ketika aku mengabari temuanku ini kepada pasanganku, ia tak sepenuhnya percaya sampai aku bacakan rentetan ayat--ayat al-Quran seputar kisah ini.

"Kamu ternyata masih bisa baca Quran ya," katanya tersenyum. Aku meringis sambil membatin, "Anyiiiiing"

Lebih jauh aku mengatakan pada pasanganku, bahwa Sarah dan Ibrahim adalah contoh konkrit keberhasilan dalam menghadapi kemandulan. Siapapun perempuan, kataku, yang belum dianugerahi momongan padahal ia sangat ingin untuk itu, maka ia perlu meminta Tuhan dengan perantara Sarah dengan cara membaca al-Fatihah 7 kali kepada perempuan ini setiap hari. Serta, jangan lupa bersedekah/memberi makan kepada mereka yang membutuhkan. 

Kita tidak tahu dengan cara seperti Tuhan akan mendengar doa kita serta bagaimana kita akan meresponnya.

"Bisa jadi kita akan meresponnya seperti Sarah, yang tertawa, setengah tak percaya, atas jawaban Allah," kataku pada Amiroh. 

Maka, Idul Adha bagiku, selain untuk menselebrasi ketidakjadian rencana penyembelihan salah satu anak Ibrahim, kita bisa memaknainya pula secara alternatif; yakni perasaan syukur atas tertawanya Sarah karena doanya agar dikaruniai momongan dikabulkan Gusti.(*)

***

ضَحِكَ, https://lexicon.quranic-research.net/data/15_D/022_DHk.html
Genesis 18:12-15, https://www.bible.com/bible/compare/GEN.18.12-15
https://tafsir.app/11/71
https://quran.nu.or.id/hud
https://gtaf.org/apps/quran/

DUA IBU: SARAH DAN HAGAR



Khusus menyongsong Idul Adha 2024, entah kenapa, aku tergerak menonton kembali His Only Son, film kontroversial yang dilarang tayang di Indonesia. Aku perhatikan kembali apa yang terjadi antara Sarah, Ibrahim dan Hagar.

Aku baru menyadari kompleksitas kedalaman cinta Sarah terhadap Ibrahim. Kedalaman ini menyebabkan perempuan ini terlilit peliknya relasi dengan suaminya. Sarah begitu yakin dengan nubuat yang diterima Ibrahim; bahwa lelaki ini dipilih tuhan untuk sesuatu yang lebih besar dari rumah tangganya.

Sarah tak ragu suaminya telah ditakdirkan akan memimpin sebuah bangsa. Hanya saja, ia merasa menjadi ganjalan bagi suaminya karena kemandulannya. 

Perasaan bersalah Sarah makin membuncah manakala Ibrahim datang padanya, mengabari jika Tuhan baru saja berbicara padanya; Tuhan akan memberinya keturunan langsung dari dirinya (Ibrahim). 

Saat mendengar ini, Sarah terasa tertampar mengingat ia tidak bisa memberi Ibrahim seorang anak. Entah apa yang merasukinya, ia kemudian meminta Ibrahim menggauli Hagar, pembantunya. Ia mengambil keputusan ini semata agar nubuat kenabian Ibrahim terlaksana.

Ibrahim menolak tawaran ini. Sarah kukuh bagai karang, tetap meminta Abraham dan Hagar bercinta. Malam hari, saat majikan dan pembantu ini bercinta, ia menangis sesenggukan di luar tenda. Hatinya hancur lebur membayangkan suaminya melenguh bersama Hagar. 

Rupanya, saat Hagar mengandung anak dari Ibrahim, Sarah menghadapi situasi psikologis yang makin berat. Ia merasa agak inferior di hadapan Hagar. Ya, Hagar dianggap lebih unggul ketimbang ia, majikannya, karena bisa mengandung, sedangkan ia tidak.

Aku membayangkan betapa beratnya keputusan yang telah diambil Sarah. Berat banget. Perubahan besar senantiasa meminta tumbal yang tidak mudah. Tumbal itu bernama kecintaan Sarah atas Ibrahim. 

"Terus gimana akhirnya, mas?" tanya pasanganku saat aku menceritakan kisah ini. 
"Entahlah, mbrut. Sarah dan Hagar adalah perempuan penting yang terjebak dalam kisah besar embrio munculnya sebuah peradaban baru," ujarku. 

Aku kini tak lagi berhasrat memihak Sarah atau Hagar. Bagiku keduanya adalah orang penting. Aku memihak keduanya; ibu para Yahudi, Kristen dan Islam. Aku bersyukur agamaku mengajarkan penghormatan atas Sarah dan Hagar beserta keturunan mereka.

Hormatku untuk beliau berdua.

Selamat Hari Raya Idul Adha.(*)

https://www.facebook.com/share/p/HJzbfL42aD7YLu1f/?mibextid=oFDknk

SOEMARNI SOERIAATMADJA: MUSLIMAH-MARTIR AWAL PERKAWINAN BEDA AGAMA


Mungkin titel ini terlalu bombastis untuk perempuan yang bahkan aku sendiri belum berhasil mendapatkan fotonya. Namun, tak dapat dipungkiri aku berdecak kagum atas upaya muslimah ini memperjuangkan cinta-matinya pada sang kekasih, Ursinus Elias Medellu, polisi Kristen. 


Bagi pengamat politik perkawinan beda agama di Indonesia, kisah Soemarni-Medellu sangatlah terkenal. Dua orang ini sanggup membuat jagad Indonesia tahun 1952 bergemuruh karena kenekatannya. Bahkan, saking kontroversialnya, sastrawan Pramoedya Toer, tidak mau putrinya, Astutik, menikah beda agama dengan Daniel. Gara-gara Soemarni dan Medellu.


Entah bagaimana cerita awal dua anak manusia ini. Namun yang jelas, ayah Soemarni adalah orang penting di Kementerian Agama. Kabarnya, ia adalah Kepala Tata Usaha. Namanya, R.H. Sadikin Soeriaatadja. Soemarni sendiri bergelar R.A. -- gelar ningrat. 


Sebagai ayah, Sadikin menolak merestui PBA Soemarni dan Medellu. Penolakan ini bisa jadi karena posisi strategisnya di Kementerian Agama. Apa kata orang nanti jika melihat putri Kepala TU Kemenag kawin dengan orang Kristen?


Sadikin keukeuh meyakini hukum Islam mewajibkan anak perempuan mendapatkan restu dari ayahnya, mengingat ayah adalah wali mujbir dalam perkawinan Islam bagi perempuan. Pokoknya nggak boleh kawin beda agama. Titik!


Soemarni tidak putus asa. Demi cintanya, ia "melawan," bapaknya dengan cara mendatangi KUA Petamburan. Tujuannya, meminta izin agar diizinkan kawin beda agama. 


Sama seperti bapaknya, KUA menolak memberi izin Soemarni. Penolakan ini rupanya membuat Soemarni pantang mundur. Ia kemudian memohon Pengadilan Jakarta memberikan keadilan pada dirinya dan Medellu. 


Hakim berpandangan tidak ada halangan hukum bagi Soemarni dan Medellu untuk kawin meski berbeda agama. Ia berpijak pada ketentuan Pasal 7 Ayat (2) Reglement op de Gemengde Huwelijken (GHR) yang memungkinkan terjadinya perkawinan campur. 


Hakim mengabulkan permohonan Soemarni dan Medellu. Hal ini membuat R.H. Sadikin tidak terima. Ia mengajukan keberatan melalui kasasi ke Mahkamah Agung. Ia beralasan beralasan menurut hukum Islam izin dari wali mujbir

harus selalu ada dan jika tidak ada izin maka perkawinan beda agama tidak dapat dilangsungkan.


Sayangnya, Mahkamah Agung berpendapat lain. Bagi institusi ini, Indonesia didiami banyak kultur dan agama sehingga perkawinan campur tidak bisa dihindarkan. Tidak adanya larangan PBA adalah demi kepentingan masyarakat. 


"Jika ada larangan terhadap perkawinan beda agama maka akan memperbanyak 

anak-anak yang tidak mempunyai orang tua yang sah menurut hukum. Anak-

anak tersebut tidak terjamin haknya atas pemeliharaan dan warisan dan selama hidupnya akan menderita penghinaan dalam pergaulan sebagai “anak 

gampang," 


Demikian salah satu bunyi pertimbangan Mahkamah Agung. 


Institusi ini, melalui keputusan Mahkamah Agung No. 245K/Sip/1953, menolak kasasi R.H. Sadikin Soeriaatmadja. Itu berarti Soemarni dan Medellu sah sebagai suami istri beda agama. 


Keputusan MA ini membuat tidak sedikit orang Islam Jakarta gusar. Sekitar 5.000 umat Islam berkumpul di Masjid Tanah Abang September 1952. Mereka memprotes keputusan ini. Massa membuat tuntutan resmi kepada Presiden Soekarno agar menyatakan perkawinan Soemarni-Medellu tidak sah menurut hukum Islam. 


Ini barangkali kisah pertama "huru-hara" perkawinan beda agama dalam sejarah Indonesia modern. Jika ada diantara kalian yang punya foto Tante Soemarni dan Oom Medellu, sudilah mengabariku.(*)


*Sumber bacaan:


Cerita Pramoedya Ananta Toer yang Tak Ingin Anaknya Nikah Beda Agama, https://voi.id/memori/250137/cerita-pramoedya-ananta-toer-yang-tak-ingin-anaknya-nikah-beda-agama


Eka Darmayanti, Skripsi, Kewenangan Catatan Sipil Mencatatkan Perkawinan Beda Agama yang Mendapat Penetapan Pengadilan Negeri Menurut 

Pasal 35 huruf a Undang-undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi, Prodi Ilmu Hukum FH UI, 2009.


Kawin Beda Agama (Dialog Mr. S.A Hakim dan Suwarno), https://myslawlibrary.wordpress.com/2014/08/12/kawin-beda-agama-dialog-mr-s-a-hakim-dan-suwarno/


KETIKA AIR SUSU TERUS DIBALAS AIR TUBA



Bagaimana idealitas sikap kita manakala kebaikan kita terus dibalas dengan air tuba? Menyingkir dan berhenti berlaku baik pada mereka adalah langkah rasional.


Hanya saja, Nabi Muhammad kabarnya pernah memiliki pandangan lain atas hal tersebut. Kita orang Islam diminta terus berbuat baik pada mereka. Terus dan terus. 


Sudah lama aku mengkampanyekan, terutama di kalangan pengikut Kristus, agar tetap dan terus berbuat baik pada siapa saja yang bertindak intoleran. "Semakin disikat semakin merambat" ujarku.


Bayangkan, ada seorang Kristen, tiap natal memberi makanan kepada tetangga-muslimnya. Ia tahu makanan tersebut justru dibuang di tempat sampah. Ia tidak patah semangat. Natal berikutnya, ia mengirimi makanan lagi, berharap si tetangga akan sedikit lumer hatinya. 


Ternyata, makanan tersebut dibuang di tempat sampah yang sama. Si Kristen terus memberi makanan tiap natal. begitu pula tetangganya, terus membuangnya. Hal seperti ini berlangsung hingga 7 kali Natal. Itu berarti 7 tahun berjalan. Si Kristen menyerah. Capek, merasa kebaikannya sia-sia. 


"I've done enough, Lord," batinnya.


Natal tahun kedelapan ia memutuskan berhenti memberi makanan, seiring dengan mengerasnya pandangannya terhadap tetangga tersebut. 


Kisah serupa, dengan ending yang jauh lebih dramatis, pernah aku dengar dari Denzel Washington saat berbicara dengan Marton Csokas dalam The Equalizer.


Dikisahkan, seorang ilmuwan terkenal dari Moskow memutuskan mengadopsi anak laki-laki meski ia sendiri telah memiliki 5 orang anak. Motifnya, berbuat baik. Si anak rupanya tergolong bandel dan gemar melakukan kekerasan. Setiap kali ia berbuat kejelakan, si profesor tetap menyayanginya. Tak pernah ia berhenti berbuat baik padanya tidak peduli berapa ratus kali sang anak-adopsi berbuat jahat. Si anak tak pernah merasakan begitu dicintai seperti ini selama hidupnya.


Suatu ketika sang ilmuwan bersama istri ditemukan mati tergelat di ranjang. Beberapa barang milik mereka lenyap. Sang anak dititipkan ke sanak saudaranya. Polisi sendiri kesulitan menemukan siapa pelakunya hingga saat ini.


"Menurutku pembunuhnya adalah si anak tersebut. Ia begitu kuatir akan datang suatu masa di mana kedua orang tua angkatnya berhenti mencintainya. Ia tidak berani menerima imajinasi ketakutan itu akan berubah menjadi kenyataan. Itu sebabnya, ia membunuh keduanya," ujar Denzel.


Berbuat baik itu mudah. Namun berbuat baik secara kontinyu terhadap orang terdekat kita yang terus menerus membalas sebaliknya sungguh bukan pekerjaan yang mudah, apalagi jika nyawa taruhannya. 


Dalam hadits nomor 6525/2558 di Sahih Muslim, sebagaimana diceritakan Abu Hurairah, menceritaka ada seorang laki-laki curhat ke Rasululloh. Ia memiliki sanak saudara dan terus berusaha menjaga hubungan baik. 


Sayangnya mereka berupaya memutuskan hubungan baik tersebut. Namun ia mencoba bersabar dan terus berusaha baik terhadap mereka. Alih-alih menyambut baik, mereka justru mengejeknya. Sangat mungkin lelaki ini berbeda status sosial dan ekonomi dengan mereka. 


"Jika benar yang terjadi demikian, kamu seperti meletakkan abu panas ke mulut mereka. Alloh akan terus membantu dan mendukungmu sepanjang kamu tetap tetap berlaku demikian," ujar Rasululloh. 


Semoga si lelaki itu tidak menyerah seperti halnya si Kristen. Semoga ia tidak bernasib serupa dengan sang ilmuan dalam The Equalizer.(*)

EMPAT TIPE IDEAL PERKAWINAN BEDA AGAMA (PBA); KAMU ADA DI MANA?


Surat Edaran Mahkamah Agung No. 2 Tahun 2023 semakin menyulitkan mereka yang ingin PBA tanpa mengubah kolom agama di KTP. SEMA a quo secara spesifik melarang para hakim pengadilan negeri (PN) meluluskan permohonan PBA. Sebelumnya, PN masih menjadi jujugan terakhir pasangan PBA saat Dukcapil menolak mencatatkan. 


Namun begitu, sepanjang aku berkecimpung dalam dunia PBA beberapa tahun ini, aku mencatat ada setidaknya 4 cara ideal yang bisa dipilih mereka yang ingin melanggengkan relasi asmaranya. 

Pilihan cara mana yang terbaik akan sangat ditentukan oleh keputusan pasangan dengan mempertimbangkan berbagai faktor di lapangan --sebagaimana pernah aku tulis pada status FB sebelumnya, berjudul "Fatimah dan Christian" https://www.facebook.com/1561443699/posts/pfbid02ZVEE3PRrEdeBWz6bUpUj2V4eRNGmmYoJQZujYpLwqXS9uPQhskQZ2jBMAoAqwzs6l/?app=fbl


Lantas, apa saja 4 tipe ideal PBA yang bisa dipilih?

IDEAL 1, yakni PBA yang dicatatkan TANPA menyamakan kolom agama KTP kedua mempelai. Mereka berdua tetap dalam agama masing-masing tanpa perlu log in-log out. Pemberkatan perkawinan menggunakan ritual dua agama yang dianut pasangan -- sekali lagi, keduanya tetap dalam agama masing-masing.

Beberapa contoh pasangan tipe ini yang aku fasilitasi pascakeluarnya SEMA 2/2023 yang berisi larangan pengadilan negeri menerima permohonan PBA adalah, antara lain, Edho (Muslim) dan Christine (Katolik) serta Riyan (Protestan) dan Aya (Muslimah). Tentu saja aku percaya ada pasangan dari agama lain yang juga menggunakan tipe ini meskipun aku tidak punya datanya. 

Sebelum SEMA 2/2023 keluar, aku juga memfasilitasi beberapa pasangan Islam-Katolik maupun Islam-Protestan. Bahkan ada yang berjilbab dan memiliki posisi tinggi dalam struktur ketatanegaraan kita. 

Pencatatan tipe ini hanya dapat dilakukan di Dukcapil. KUA belum mau mencatatkannya. Dua pasangan yang aku sebut di atas dicatatkan di Dukcapil Solo serta Sleman. Tipe ini menurutku tipe paling berat dan menantang untuk dicapai. Pasangan memiliki otoritas penuh

IDEAL 2. Pada dasarnya tipe ini memiliki format serupa dengan Ideal 1. Minusnya, kedua mempelai mencukupkan diri melakukan 1 ritual pemberkatan perkawinan menurut agama salah satu pasangan. 

Misalnya, jika PBA terjadi antara Kristen dan Buddha maka pasangan cukup diberkati menurut Buddha atau Protestan, tergantung kesepakatan mempelai. Namun biasanya pemilihan ritual pemberkatan didasarkan pada agama mana yang tidak hanya dapat memberkati PBA namun juga disertai kesediaan menerbitkan surat PBA. Tanpa surat tersebut, Dukcapil tidak akan dapat mengeluarkan kutipan Akta Perkawinan. Di lingkungan Katolik, surat semacam ini konon biasa disebut dengan matrimonium testimonii.

IDEAL 3; PBA model ini dicatatkan ke Dispendukcapil setelah kedua mempelai MENYAMAKAN kolom agama di KTP. Kedua mempelai sepakat "mengalah" dengan sistem yang rumit saat ini untuk kemudian balik ke agama asal pascakeluarnya kutipan akta perkawinan.

Dengan demikian, secara teknis, salah satu pasangan memilih log-out dari agamanya dan log-in ke agama pasangannya. Setelah mereka menerima kutipan Akta Perkawinan, Kartu Keluarga dan KTP baru dengan kolom agama yang sama, pasangan yang tadi log-out dan log-in kembali ke agama asal. Secara formal, perkawinan ini bisa dianggap bukan PBA karena kerumitan tertentu. Hanya saja, secara spirit, perkawinan mereka bisa dilabeli PBA.

Aspek penting lain dari tipe ini adalah keduanya memilih melakoni dua ritual pemberkatan sesuai agama yang dianut masing-masing pasangan, sebelum mencatatkannya ke Dukcapil. 

Aku mendampingi pasangan yang lebih kurang masuk dalam kategori tipe ini. Sebut saja Denok (Muslimah) dan Febrian (Protestan). Gerejanya Febrian belum bisa melayani PBA. 

Denok dan keluarganya tidak keberatan log-in ke Protestan untuk memudahkan pencatatan di Dukcapil. Febrian juga tidak keberatan Denok kembali ke Islam pascaperkawinan. Hanya saja, Denok dan orangtuanya meminta agar dilaksanakan akad nikah terlebih dahulu tanpa menuntut Febrian masuk Islam. Febrian setuju.

IDEAL 4, yakni PBA yang serupa dengan tipe 3 namun cukup dengan satu ritual pemberkatan saja. Misalnya, Islam dan Protestan; kedua mempelai bisa sepakat memilih perkawinannya akan dicatatkan di mana. 

Jika di Dukcapil maka kolom agamanya harus sama-sama Protestan dan diberkati terlebih dahulu di gereja. Begitu pula saat memilih mencatatkannya di KUA, mempelai Protestan harus masuk Islam dulu sebelum akad nikah. Dan yang terpenting, setelah akta perkawinan/surat nikah diperoleh, mereka kembali ke agama asal ditandai oleh berubahnya kolom agama di KK dan KTP mereka.


Apakah tersedia format ideal lainnya? Sangat mungkin. Kalian bisa menambahkannya. 

Love wins.

MENULIS SEPERTI BERAK!



Aku lupa siapa yang mempopulerkan jargon di atas. Jika tidak salah, itu omongan Abdullah Idrus, salah satu penulis idola Pramoedya Ananta Toer.

Dengan mengambil tafsir agak longgar atas jargon tersebut, aku bayangkan betapa indahnya hidup seseorang seandainya ia bisa menulis rutin seperti halnya ia berak.

Jika semakin lama kita tidak bisa berak, kita pasti kuatir dan rela mengeluarkan berapapun untuk hal itu. Sebagai orang tua, aku pernah mengalami kekalutan saat Cecil-balita punya masalah rutinitas berak. Sedih, bingung, takut dan dunia terasa gelap.

Sayangnya, hal itu berbanding terbalik dengan rutinitas kita menulis. Sebagian besar dari kita tidak menganggap kebisaan dan kerutinan menulis sebagai hal yang urgen. Seurgen berak.

"Pokoknya menulis. Menulis apa saja. Bahkan soal yang dianggap remeh publik sekalipun. Jangan sampai kemalasanmu menulis kamu anggap sebagai normalitas," kata mentor-gaibku.

Maka kunci rutinitas menulis agar sama seperti berak barangkali terletak dari kemauan diri kita. Kemauan tersebut sangat ditentukan oleh cara pandang yang kita bangun. Semakin kita mensugesti diri  pentingnya menulis, apapun, semakin kita akan mendekati idealitas "menulis seperti berak"

Aku mau berak, eh, menulis.

Setengan jam lalu, aku mengontak Firdaus, muslim, bukan nama sebenarnya, pria yang pernah aku dampingi melaksanakan perkawinan beda agama (PBA). Ia berdomisili formal di Surakarta, kawin dengan Fransisca, Katolik, nama samaran, domisili formalnya di Gresik.

Mereka mendapatkan pemberkatan dari paroki di wilyah perbatasan Sidoarjo-Surabaya. Keduanya tetap dalam agama masing-masing. Kolom agama di KTP mereka juga tetap; Islam dan Katolik.

Mereka berdua, sebelum pemberkatan, terlebih dahulu melaksanakan akad nikah di Gresik. Kisahnya pernah aku tulis di Facebook.

"Firdaus, gimana status perkawinanmu dulu. Apakah kamu berhasil mengurus di Dukcapil Surakarta?" tanyaku.

Setelah keduanya akad nikah akhir 2023 dan melangsungkan resepsi beberapa bulan setelahnya, aku tidak lagi menjalin kontak dengan mereka. Kepentinganku malam ini mengontak Firdaus dalam rangka memastikan apakah Dukcapil Surakarta (Solo) telah benar-benar merah-putih --istilah yang aku gunakan untuk mengidentifikasi keberpihakan institusi layanan publik.terkait PBA.

Aku sendiri memilih bersiap untuk protes pada Walikota Gibran, seandainya Dukcapil Solo loyo seperti Dukcapil di hampir semua kota/kabupaten di Indonesia. Loyo, tidak mau menjalankan kewajibannya padahal pasangan PBA telah memenuhi semua syarat administratifnya.

"Alhamdulillah pencatatan PBA di Dukcapil Solo berjalan lancar, informatif dan sangat membantu. Pelayanannya juga bagus," ujarnya.
"Ya Alloh, ikut sueenang aku, Firdaus," balasku, "Jadi sama sekali tidak ada kerumitan-kerumitan ya?"

"Enggak ada kerumitan, gus, lancar banget prosesnya,"
"Berarti kamu berdua membawa testimonium matrimoni dari Paroki K*******g ke Dukcapil Solo ya?"
"Enggeh, gus,"

Aku sangat senang mendengar informasi ini. Lebih-lebih karena masih ada Dukcapil seperti Solo, yang masih mau melayani PBA saat pintu pengadilan negeri untuk PBA tertutup semua.

Firdaus bisa mencatatkan PBAnya karena ia berdomisili di Solo. Artinya, berKTP Solo. Bagi kalian yang sudah mengantongi surat pemberkatan PBA dari pemuka agama selain Islam, kalian memiliki kesempatan mencatatkannya di Solo. Tentunya setelah salah satu dari kalian mengurus perpindahan dokumen kependudukan ke Solo.

"Ini gus kutipan akta perkawinannya," tulis Firdaus, sembari mengirimkan foto dokumen kepadaku.

Aku perhatikan agak seksama. Persis seperti dokumen akta perkawinan PBA milik Riyan dan Ara yang dikeluarkan Dukcapil Sleman.

Tertulis di dokumen milik Firdaus, perkawinan dicatatkan pada 26 Januari 2024 di Dukcapil Surakarta berdasarkan perkawinan yang telah dilangsungkan dihadapan pemuka agama Katholik yang bernama RD.SK pada 13 Januari 2024.

"Thanks, Firdaus. Salam ke Fransisca ya. Semoga kalian senantiasa berbahagia," tulisku mengapresiasi dan mendoakan pasangan ini.

Demikianlah tulisan ini aku buat, semata-mata agar aku dapat mengamalkan jargon; menulis adalah berak!. Semoga bisa istiqomah berak eh, menulis.

FATIMAH DAN CHRISTIAN


"Entah kenapa aku selalu merasa inferior saat bertemu pasangan beda agama yang berkomitmen membakukan relasinya secara ideal," ujarku.
"Kenapa, gus?" celetuk mereka.
"Iya, salib mereka berat. Teraniaya secara sistematis. Orang teraniaya biasanya doanya lebih didengar Tuhan. Malati," tambahku.
****

Sore tadi aku memberikan konsultasi pada Christian dan Fatimah --bukan nama sebenarnya. Keduanya merasa saling berjodoh. Tak bisa dipisahkan. 

Christian adalah anak seorang pendeta dari kekristenan konservatif. Sedangkan Fatimah, putri seorang Muslim Sunni-Nahdliyyin taat. 

Entah bagaimana keduanya bertemu. 

Fatimah kerap mengikuti beberapa forum interfaith yang melibatkanku. Pemikirannya progresif -- meski ia berproses di organisasi mahasiswa Islam yang menurutku moderat minimalis.

Bagiku, relasi mereka merupakan tantangan baru bagiku mengingat Christian tidak bergereja di sinode yang melayani pemberkatan PBA. Selama ini, klien-klienku berasal dari kekristenan yang berani melayani PBA, termasuk, tentu saja, Katolik. 

Untuk memudahkan, aku biasanya membagi percakapan PBA dalam tiga level. Level pertama, mengecek kesiapan pasangan yang menjalani. Jika ada salah satu dari mereka yang terdeteksi memaksa pindah agama, aku biasanya akan menghentikan sementara, meminta keduanya merenung dan berpikir ulang; diteruskan atau tidak. Di level ini, Christian dan Fatimah lolos. Mereka saling support keyakinan masing-masing. Good.


Level kedua; keluarga. Jika ada salah satu atau kedua keluarga pasangan yang nyrimpeti maka langkah-langkah penanganan perlu dilakukan. Peran pasangan sangat krusial dalam meyakinkan keluarga. Pihak ketiga bisa dihadirkan untuk meyakinkan keluarga. 

Di level ini, keluarga pasangan tidak keberatan keduanya PBA sepanjang pencatatannya di Dukcapil --syarat dari keluarga Christian-- dan melakukan akad nikah --syarat dari keluarga Fatimah. Bagiku, ini masih bisa ditoleransi. Artinya, secara teoritik dan praktik dapat disinkronkan. 

Level ketiga; pencatatan perkawinan. Untuk merealisasikan level dua maka menjadi keharusan menemukan gereja yang bisa memfasilitasi pemberkatan beda agama. Tanpa pemberkatan mustahil ada surat keterangan pemberkatan. Ketiadaan surat ini berarti kegagalan melangkah ke Dukcapil. 

Pada level ini, kami juga wajib memetakan Dukcapil mana yang masih melayani PBA. Sebagai catatan, hampir semua Dukcapil i Indonesia telah menutup "pintunya" bagi PBA. Untuk apa punya surat pemberkatan PBA dari gereja jika Dukcapil tidak mau menerimanya?

Kami terus mendiskusikan opsi-opsi yang tersedia, dengan mempertimbangkan tingkat kegagalan yang bisa diprediksi. 

"Hanya tersedia tiga model untuk melanggengkan relasi kalian," ujarku sembari mengurai secara detil ketiganya. 

"Kami memilih model pertama, Gus, model seperti PBAnya Riyan dan Ara," ujar Fatimah.
"Sip. Aku juga berpikir demikian," aku menimpali. 

Wanti-wanti terus aku gaungkan, khususnya seputar ketahanan (endurance) mereka menghadapi proses panjang nan melelahkan dari model yang mereka pilih. 

Betapa aku salut pada mereka, salut atas kesadaran memanggul dan menghadapi penderitaan yang dihadapi.(*)


https://www.facebook.com/1561443699/posts/pfbid0VtxVoRFnUfQwZtZ2k9zpXHnicQb7EMQMvN3dkruT2eRmVktt3WRSZHAkeeUjZE15l/?app=fbl

PERTAMA KALI SEJAK GEREJA INI BERDIRI


Meski seringkali posting terkait gereja dan kekristenan selama Ramadlan namun baru tadi sore aku buka bersama di gereja. Acara ini murni inisiatif mereka. Inisiatif tersebut tidak pernah aku duga sebelumnya.


Sekitar seminggu lalu, telponku berdering. Panggilan dari seseorang yang telah lama aku tahu meski tidak kenal secara akrab. Namanya Mastuki Pandi. 

Aku tahu dia karena kami sama-sama di sebuah grup WA para aktifis dan jurnalis Jombang. Mastuki juga anggota komite sekolah di institusi tempat pasanganku pernah mengajar. 

Yang terbaru, aku dengar ini menjadi salah satu caleg dari partai oranye --partai yang aku tahu tidak terlalu dekat dengan isu pluralisme dan kebhinekaan. 

"Halo, mas. Ini aku, Mastuki. Sampeyan ngerti gereja GKA Zion di Tunggorono? Ini aku sedang bersama pendeta dan pengurusnya," ujarnya di ujung telpon.

Hatiku langsung tidak enak. Pikiranku sudah berpikir liar, "Duh, pasti ada masalah ini," 

Entah kenapa, aku selalu merasa bertanggung jawab jika ada kejadian persekusi terhadap rumah ibadah, khususnya di Jombang. Sangat mungkin hal itu disulut oleh obsesi personal melihat Jombang sebagai barometer toleransi; di mana setiap orang merdeka beribadah dan berkeyakinan. 

Sejak kemelut HKBP di Jombang beberapa tahun lalu, aku memang sudah tidak pernah mendengar lagi persekusi gereja di Jombang. Kemelut tersebut sempat membuat Jombang lumayan menghangat. 

Aku terus berpikir, ada urusan apa Mastuki bertemu dengan para elit GKA Zion Tunggorono. Jangan-jangan ia sedang menekan gereja ini agar tidak boleh beribadah. 

"Iya, aku kenal mereka. Onok opo yo, mas?" aku mencoba tetap tenang.

"Gini, mas. Aku kan ketua RT. Gereja mereka masuk di RTku," tambahnya.

Aku makin deg-degan. Dalam modus operandi persekusi rumah ibadah, seringkali RT dan RW menjadi garda terdepat kelompok mayoritas mendaratkan nafsu arogansinya. 

Yang aku tahu, mayoritas penghuni perumahan Tunggorono adalah orang Islam. "Wah cilaka! Bakal ramai lagi di media nih," batinku.

"Piye, mas? Ada masalah apa?" tanyaku memburu.

"Ini lho, kami sedang menggagas buka bersama di halaman gereja. Aku langsung teringat njenengan kalau urusan lintas agama,"

Ploonggg....

Tanpa berpikir lama, aku langsung menghamburkan apresiasi dan janji manis untuk datang dalam acara tersebut, padahal aku belum memeriksa jadwalku terlebih dahulu.


"Apa Pdt. Made ada di situ, mas?" tanyaku. Pdt. Made adalah gembala utama di GKA Zion Jombang. Aku cukup akrab dengannya.

"Nggak mas, ini ada Pendeta Suyanto dana beberapa pengurus," tambahnya.

"Tolong berikan telponnya ke dia. Aku ingin berbicara dengannya," jawabku. 

Otak dan pikiranku terus berputar mencari tahu apakah aku masih mengingat Pdt. Suyanto. Sayangnya, aku gagal menemukan wajahnya dalam memoriku. Meski demikian aku sangat percaya diri dia pasti mengenalku.

"Halo, gus..." ujarnya di ujung telepon.

Aku selanjutnya berbicara panjang lebar. Isinya, apresiasi besar atas inisiatifnya mengadakan buka bersama di depan gereja untuk warga sekitar. Menurutku, tidak semua geraja berani mengambil inisiatif tersebut. 

Sore tadi, Selasa (2/4), aku memacu motorku ditengah mendung pekat yang menyelimuti kota Jombang, mengarahkanya ke Perumahan Pondok Indah di Tunggorono. 

Aku telah ditunggu oleh Pak Sholeh, kawanku -- guru Injil GKJW Jombang. Ia memang aku ajak ikut acara karena rumahnya dekat dengan gereja tersebut. Sebelum ke lokasi, aku terlebih dahulu mampir ke rumahnya. 

Aku mengenal Pak Sholeh sudah sangat lama. Kami sama-sama aktif dalam gerakan lintas iman di Jombang. 

Sekitar pukul 17.00 kami mendatangi lokasi buka bersama. Ada terop lumayan besar di depan gereja. Gereja ini meski berstatus Pos PI namun bangunannya cukup megah. Mungkin lebih megah ketimbang gereja induk di Jl. Pahlawan.

Kursi telah ditata rapi, menghadap ke baliho depan. Kami berdua disambut dengan akrab oleh beberapa majelis termasuk Ev. Suyanto. 

Jam 17.05 belum ada warga yang hadir. Tak seberapa lama, Pak RT Mastuki datang. Ia mengenakan jaket Banser. Aku menyalami dan memeluknya. 

Lirih aku sampaikan rasa terima kasihku. Ini adalah buka bersama pertama kali yang dihelat sejak gereja ini berdiri lebih dari 25 tahun. 

Acara dimulai sekitar 17.15. Semua kursi terisi penuh. Sebagian besar perempuannya berjilbab. 

Setelah dua sambutan disampaikan Rev. Suyanto dan Cak Mastuki, pembawa acara mempersilahkanku maju, menyampaikan gagasan seputar acara ini. 

Aku maju saja meski tanpa punya konsep yang jelas. Pelan-pelan aku ceritakan pada forum kronologi acara dan apresiasiku pada acara ini.

Sebelumnya aku mengutip ayat tentang janji Gusti terhadap mereka yang mau bersyukur atas nikmat yang telah diberikannya. 

"Dalam al-Quran, Gusti pernah berjanji akan terus mengucurkan anugerah bagi siapa saja mau bersyukur. Jamuan buka bersama ini adalah ucapan rasa syukur. Gusti Alloh akan menambahkan rejekinya pada gereja ini," ucapku.

Selanjutnya aku mengupas ketersambungan perintah puasa dalam Islam dengan agama-agama sebelumnya. Artinya, orang Islam tidak bisa lagi merasa puasa adalah monopolinya. Dalam Kristen dan agama lain juga ada perintah puasa. 

"Dalam al-Quran, Tuhan meminta kita puasa agar menjadi pribadi yang bertaqwa. Taqwa bermakna; menjadi anugerah bagi sekelilingnya. Istilah al-Qurannya, rahmatan lil alamin. Kalau bahasa al-Kitabnya, menjadi terang, menjadi garam," tambahku. 


Aku menyampaikan gagasanku segayeng mungkin. Beberapa kali hadirin tertawa-tawa karena joke-joke yang aku berikan. Saking gayengnya, aku tak mampu menutup pidatoku dengan baik karena adzan tiba-tiba menyeruak. 

"Saya berharap buka bersama ini terus ditradisikan tiap tahun. Setuju nopo mboten?"

"Setujuuu uuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu," respon semua peserta.

Sebelum pulang aku sempat berbincang dengan majelis gereja dan Pak RT, meminta mereka untuk terus menjadikan perumahan ini sebagai teladan dalam interaksi antaragama. Bagiku, orang Islam akan sangat sulit toleran tanpa bantuan orang Kristen dan penganut agama lain.(*)

Featured Post

IDUL ADHA: PERAYAAN TERTAWANYA SARAH

Secara etimologi, aku baru tahu ternyata Idul Adha --hari raya yang identik dengan kurban dan penyembelihan-- erat kaitannya dengan tertawan...

Iklan

Tulisan Terpopuler