Pages

Wednesday, January 21, 2026

KEBAHAGIAAN CECERAN NATALAN


Natal telah lama berlalu. Namun demikian, kenangannya selalu hadir meski aku orang Islam.

"Pak, kalau jajan natalnya masih ada, saya mau mampir ya," aku menirim WA ke Pak Setyo Adi, jemaat GKJW Mutersari Bareng. 

Aku kenal dia sejak lama karena cukup sering beraktifitas di gerejanya. Tidak hanya itu, aku juga akrab dengan Yulius, anaknya yang menjadi pendeta di GKJW. 

Bersama Rifan, aku datang ke rumahnya, Rabu (14/10 di Banjaragung Bareng, siang hari. Rumahnya sangat dekat dengan kediaman almarhum Mas Yanto, bupati Jombang. 

Terakhir kali aku mengunjungi rumah Mas Yanto saat ia maju bupati menggandeng Pak Wijono. Belum ada pemilihan langsung. Kepala Daerah dipilih DPRD. Jika tidak salah, keduanya melawan Pak Harto dan Gus Tamim. Suyanto-Widjono keluar sebagai pemenang. 

"Monggo mlebet, Gus Aan," undang Pak Adi mempersilahkan kami berdua. 

Tak seberapa lama, istrinya bergabung bersama kami. Obrolan melantur ke mana-mana. 

Pak Adi menceritakan putrinya, yang baru saja diangkat sebagai P3K Paruh Waktu di SMAN dekat rumahnya. Putrinya lulusan salah salah satu sekolah tinggi pendidikan agama Kristen (PAK) di Malang, yang saat ini tengah hamil tua. 

Aku senang ada banyak generasi muda Kristen mengambil jurusan PAK. Indonesia yang aku rasakan masih membutuhkan tenaga pendidikan profesional dalam pengajaran agama Kristen.

Setelah menikmati sajian makan siang, aku pamit dan minta tolong diantarkan ke makam Mas Yanto. Aku ingin nyekar seniorku ini karena gagal hadir ketika pemakaman. 


Tiba di TPU Serning, aku langsung menuju kompleks pemakaman keluarga Sukito --bapaknya Mas Yanto. 

Pak Sukito adalah Tionghoa yang beristri Jawa. Dengan demikian, anak-anaknya adalah "Cino Ampyang" -- istilah orang-orang Suroboyo. 

Aku dan Rifan duduk dan membaca tahlil singkat. Setelah selesai, aku mengambil dua ranting pohon. Aku tancapkan di pusara kepala Mas Yanto.

"Amit yo, mas. Cekne gak sepiro kepanasan," ujarku lirih kepada Mas Yanto yang aku yakin mendengarku.

Teologi untuk Gian

Dari TPU Serning, kami berdua selanjut bergeser ke rumah Endah. Natalan. Ia juga warga GKJW Mutersari sebagaimana Pak Adi. Rumahnya tidak terlalu jauh dari TPU, di desa Penggaron.

Aku punya sejarah khusus dengan Penggaron. Desa ini merupakan homebase Exxon Mobil saat raksasa ini mengobrak-abrik Jombang dengan uji seismiknya. 

Saat itu aku masih di Lakpesdam NU Jombang, melakukan perlawanan bersama organisasi lainnya. 

Memori lainnya, ada makam unik di salah satu dusun di Penggaron. Makam Mbah Buyut Nolo. Aku pernah ke sana. Tiap tahun makam tersebut menjadi tempat berkumpulnya seluruh warga desa pada bulan tertentu. 

Mayoritas warga Penggaron adalah muslim. Namun tidak sedikit yang Kristian. Mereka tumplek blek di makam memanjatkan doa di makam beliau. 

Aku pernah masuk di cungkupnya. Ada yang unik. Terdapat 3-4 kuburan di dalamnya. Ada yang membujur timur-barat. Ada juga yang utara-selatan. Kuburan-kuburan tersebut konon adalah keluarga Buyut Nolo.

Seingatku kuburan Buyut Nolo membujur timur-barat. Sisanya, selatan-utara.

Dari model kuburannya, secara sekilas kita akan tahu ini kuburan campuran. Islam dan Kristen. Tokohnya adalah Buyut Nolo.

Aku meyakini Buyut Nolo memeluk Kristen, meski buktiku tidak cukup melimpah. Aku tidak punya cukup energi merisetnya. 

Keyakinanku atas kekristenan Buyut Nolo mendorongku mengambil hipotesis betapa uniknya makam ini. Merupakan hal cukup lumrah jika ada kuburan tokoh Islam dikunjungi peziarah Islam dan Kristen, misalnya makam Gus Dur atau Bung Karno. 

Namun, berapa banyak makam tokoh Kristen terus dihidupi oleh baik warga Islam maupun Kristen? Inilah keunikannya.

Aku pernah didatangi, secara tidak bersamaan, dua mahasiswa yang sedang mengeksplorasi jejak toleransi di Jombang. Satu dari UKSW, Yadija cowok. Satunya dari Unesa, cewek, lupa namanya. 

Aku langsung meminta mereka berdua menulis tentang Buyut Nolo. Keduanya menyanggupi dan langsung aku arahkan ke Endah sebagai narahubung lokal.

Hanya saja mereka tak pernah mengabari lagi, apalagi membagi hasil risetnya. Pokoknya la salam wa la kalam.

Saat tulisan ini aku ketik, aku mencoba mencarinya di Google Scholar dengan keyword "buyut nolo penggaron"

Woila.. muncul satu jurnal, ditulis duet Nanda Citra Karunia dan Maya Mustika Kartika Sari. Keduanya dari Unesa. Judulnya "Tradisi Kirab Dusun Masyarakat Dusun Sukoharjo dalam Membangun Kerukunan Antar Umat Beragama"

Aku jadi teringat; sangat mungkin yang menemuiku adalah Nanda. Entahlah.

**


Aku dan Rifan ditemui Endah dan ibunya. Kami ngobrol seputar banyak hal. Tak seberapa lama, datanglah Gian, anak semata wayang Endah.

Gian menyalamiku dan Rifan. 
"Ngambil teologi ya, le, kalau kuliah, jadi pendeta," ujarku spontan.
"Nggih," jawabnya pendek dengan wajah agak sumringah.

Aku jadi kaget atas respon anak kelas 3 SMP ini. Ibunya lalu menceritakan tentang anaknya, yang sejak lama memiliki ketertarikan dengan dunia kependetaan.

Aku senang sekali mendengar cerita ini. Mbah putrinya Gian, yang juga duduk bersama kami, juga terlihat gembira. 

Tak seberapa lama, datanglah papanya Gian. Ia rupanya habis bekerja. Terlihat dari peralatan "perang" yang ia bawa di atas motor. 

"Nek kulo, Gus, luwih remen Gian dadi pulisi," ujarnya datar. 

Aku sangat mengapresiasi keinginan tersebut. Menjadi polisi adalah pekerjaan mulia, pada dasarnya. 

Masa depan Gian masih panjang. Ia memiliki kemerdekaan menentukan hidupnya. Menurutku, ia perlu bersyukur memiliki keluarga yang supportif. 

Kami berdua pamit. Namun kunjungan Natal ke dua keluarga ini bukanlah yang terakhir. Aku dan Rifan berencana mengunjungi keluarga besar GKJW di Besowo dan Gedangan Kandangan.(*)

No comments:

Post a Comment

Featured Post

KEBAHAGIAAN CECERAN NATALAN

Natal telah lama berlalu. Namun demikian, kenangannya selalu hadir meski aku orang Islam. "Pak, kalau jajan natalnya masih ada, saya ma...