Melihat begitu demonstratifnya penolakan Masjid Darul Amanah Liliba Kota Kupang, hatiku campur aduk-aduk.
Menurutku, ini pengalaman pertamaku melihat sedemikian "garang" masyarakat di sana menolak rumah ibadah yang bukan milik mayoritas. Dalam memoriku, Kota Kupang adalah simbol toleransi paling moncer seluruh jagad Indonesia, selain Manado, Singkawang dan Salatiga.
Aku tahu ada problem administratif dalam pembangunan masjid tersebut. Namun melakukan vandalisme terhadap bangunan masjid maupun rumah ibadah lain sungguhlah tidak perlu dilakukan, kecuali dengan maksud mengirimkan pesan kepada publik.
Ya, aku merasa sedemikian kuat aura penolakan pembangunan masjid itu. Dalam berbagai komentar di medsos, kegeraman terhadap masjid tersebut sedemikian garang dan menyayat hati.
Seakan, mereka para penghujat masjid tersebut tengah mengirimkan pesan sangat jelas dan keras kepada Indonesia bagian Barat, khususnya Pulau Jawa, "Lihatlah, kami juga bisa melakukan hal serupa sebagaimana kalian memperlakukan gereja/rumah ibadah Kristen di sana, bahkan mungkin bisa lebih pedih,"
Aku sangat bisa memahami keterlukaan banyak orang Kristen Kota Kupang. Mereka "pantas" membalas atas nama penderitaan banyak saudara seagamanya karena diperlukan tidak adil, khususnya, di Pulau Jawa. Mata harus dibayar dengan mata -- apalagi secara hukum masjid tersebut dianggap "bersalah" membangkang peraturan bersama menteri.
Dalam 2-3 bulan terakhir ini, aku -- yang Islam ini-- menyuarakan masalah GKJW Mojoroto Kediri. Pembangunannya ditolak sebagian orang Islam sekitar dengan alasan administratif, sama seperti di Kota Kupang.
Bedanya, di Kediri tidak terdeteksi ada vandalisme. Begitu pula kejadian di Tarik Mojokerto maupun GPIB Benowo. Khusus di Benowo, ada spanduk penolakan namun kemudian segera diturunkan oleh, konon, aparat.
Dalam 3 kejadian tersebut, aku yang --sekali lagi-- Islam ini, berteriak supaya kemerdekaan beragama orang Kristen dijamin; rumah ibadahnya dibiarkan berdiri dan bahkan harus dipercantik. Bagiku, setiap orang bisa merdeka menjalankan aktifitasnya, termasuk membangun rumah ibadahnya.
Aku membayangkan; panitia pembangunan masjid Darul Amanah ini kurang lebih sama posisinya dengan sekelompok orang Kristen di Jawa yang juga membutuhkan rumah ibadah. Keduanya, dengan semangat toleransi, idealnya perlu dibantu ketimbang dipalu.
Di Kupang, rasanya aku belum mendengar keberpihakan aktifis Kristen toleran yang berani bersuara agak jernih, sebagaimana sebagian orang Islam bersuara membela keberadaan gereja/rumah ibadah yang dipersekusi sekelompok orang Islam. Tapi mungkin perasaan seperti ini dianggap terlalu berlebihan.
Aku membayangkan para aktifis toleransi di Kupang sangat mungkin memilih diam. Bisa jadi kediaman mereka karena didorong nalar birokratis yang normatif-regulatif. Atau, bisa jadi karena mereka membayangkan kengerian dirisak kawan-kawan mereka sendiri yang sedemikian ekspresif menyatakan penolakan terhadap masjid -- persis seperti kegarangan banyak orang Islam saat menutup rumah ibadah Kristen/Katolik di Jawa.
Namun, mari kita sadari, ke-diam-an tersebut sesungguhnya telah secara tegas menunjukkan pada posisi mana kaki kita berpijak. Bagiku, gerakan mata-dibalas-mata kini terasa di depan mata. Dan, yang membuatku sedih, gerakan tersebut mengemuka dari Kota Kupang.
Bagi umat Islam di sana, yang merasa belum mendapatkan hak-haknya secara optimal, tak perlu berkecil hati. Kalian masih tetap bisa beribadah. Peristiwa ini menunjukkan betapa relasi antaragama perlu lebih giat dipupuk agar kecurigaan semakin terkikis.
Bagi umat Islam di luar Kupang, khususnya di Jawa, peristiwa penyegelan dan vandalisme merupakan ujian mahaberat dan pastilah menyakitkan. Ada dua jenis rasa sakit; yang merugikan orang lain, dan rasa sakit yang menyembuhkan.
Jenis yang pertama tadi adalah rasa sakit yang menghasilkan dendam; mata dibalas mata -- "Kau tutup masjid, aku ganti tutup gerejamu!"
Sedangkan yang kedua, rasa sakit yang menyembuhkan -- semacam rasa sakit yang menyebabkan seseorang tidak akan melakukan aktifitas yang membuat orang lain menderita.
Aku sedemikian menyayangi Kupang dan, itu sebabnya, mencoba menuliskan perasaanku ini. Memang, aku sudah lama tidak mengunjungi kota ini. Terakhir kali aku ke sana sebelum Covid menyerang. Saat itu aku mengunjungi UKAW membedah bukunya Prof. Gerrit, serta ke STF Ledalero.
Namun keterkaitanku dengan Kupang dan NTT selalu terjaga setiap waktu. Semester ini, ada mahasiswa/i Kupang ikut belajar di hampir semua kelasku. Kordinator matkulku orang NTT.
Menurutku Kupang sedang dalam ujian toleransi. Ujian mengatasi rasa sakit. Aku sendiri juga tidak cukup mengerti bagaimana indikator kelulusan dari ujian tersebut nantinya.
Aku membayangkan Kupang akan menemukan kedewasaannya, menawarkan format baru toleransi yang tidak legalistik sebagaimana Jawa.
Yang jelas, pelan tapi pasti, intoleransi di Jawa sedang merambat ke Indonesia Timur. Rivalitas Islam vs. Kristen; Indonesia Barat vs. Indonesia Timur makin nyata di pelupuk mata.
I love thee, Kupang.(*)




No comments:
Post a Comment