Pages

Thursday, January 29, 2026

A-M-B-Y-A-R



Akhirnya jebol juga air mata Kartika Diredja saat menjadi partnerku memfasilitasi sesi STIGMA di forum Chtistian Study for Muslim Scholars 2020 Asosiasi Teolog Indonesia, Senin (27/1), di STT Setyabakti Malang.

Suara perempuan Tionghoa ini semakin parau di hadapan puluhan peserta. Ia nampak begitu terluka saat 16 orang Islam "mendapat" stigma dari puluhan mahasiswa/mahasiswi STT SATI yang hadir dalam sesiku. 

"Saya bersama mereka selama beberapa hari ini. Mereka orang baik. Tidak seperti yang kalian tuliskan di papan ini," katanya serak. Air matanya makin meluap saat ia menautkan luka historik yang ia miliki bersama keluarganya. Peserta Islam menyodorkan tisu padanya 

Diam-diam aku merasakan buliran hangat meleleh dari mataku melihat perempuan ini dari pojokan. 

"Cuk, ambyar kabeh," aku membatin.

Saat sesi baru mulai, Kartika berdiskusi denganku untuk meminta setiap peserta Muslim menulis stereotype orang Kristen yang ada dalam pikirannya. Begitu juga sebaliknya; yang Kristen menulis stereotype orang Islam dalam pandangan mereka.

"Semua boleh menulis apa saja. Jangan takut ketahuan karena kalian tidak perlu menulis nama atau IG kalian di kertas tersebut," kataku memberi petunjuk. 

Semua kemudian menulis di kertas secara cepat. 

Aku menggotong papan besar di depan dan meminta selotip untuk menempelkan hasil tulisan mereka. White board aku beri tanda pemisah. "Kertas dari Kristen ditempel sebelah sini. Yang dari Islam ditaruh sebelah sini,"

Panitia bekerja sangat efisien. Kertas-kertas ditempelkan dengan sangat cepat. Aku beberapa kali mengecek hasil tempelan dua kelompok. Aku merasa agak kuatir.

"Guys, listen to me. Tdak boleh ada yang memotret hasil kerja kalian. Kertas-kertas di papan ini tidak boleh keluar dari ruangan," kataku setengan berteriak dan memberi senyuman.


Selanjutnya, aku meminta semua peserta untuk maju ke depan membaca hasil tabulasi aspirasi mereka, dengan terlebih dahulu meninggalkan gadget mereka. Aku memang agak kuatir jika ada yang memotret dan kemudian mengunggahnya ke media sosial.

Kekuatiran lebih karena konten-konten tersebut akan berpotensi memicu kesalahpahaman yang tidak perlu. Utamanya kertas konten yang berisi pandangan peserta Kristen terhadap Islam. Isinya begitu tajam. Sangat tajam. 

Itu sebabnya, barangkali, Kartika merasa perlu merespon hal itu. Bahkan, dosen mereka, bung gembala Jefry sempat agak emosional setelah mengetahui begitu pekat stigma yang dilekatkan terhadap keislaman. Ia terlihat benar-benar terkejut dan meminta maaf.

"Mereka tidak salah kok karena sejak awal kita meminta mereka bersikap jujur. Ini adalah fakta berharga yang perlu kita refleksikan bersama," kataku menetralisir. Aku juga meminta peserta Islam meneladani sikap elegan Kartika dan Jefry saat itu; berani meminta maaf saat klompoknya dianggap menyinggung perasaan orang lain. 

Aku kemudian diberi kesempatan agak panjang mengurai dari mana stigma pekat Islam terhadap Kristen yang berakibat fatal hingga hari ini. Stigma tersebut dilekatkan begitu mendalam melalui teks suci dan diimplementasikan secara totaliter dalam lanskap historis. 

"Persekusi terhadap Kekristenan sudah mendekati level genosida," kataku sembari memapar data yang dirilis BBC tahun lalu. Aku selanjutnya memapar kenapa hal itu bisa terjadi termasuk betapa dahsyat kontribusi Kristologi al-Quran. 

Mereka tertawa saat mendengar istilah kristologi al-Quran. Mungkin mereka belum diajari hal itu.

"Yang akan aku papar ini materi level master atau bahkan level doktoral yang mungkin belum pernah kalian nikmati. Kalian beruntung mengundangku," kataku sembari mapar model kristologi al-Quran yang begitu sangat dipengaruhi model kekristenan awal lawan dari kelompok Trinitarian aliran utama seperti sekarang.

Entah mereka paham atau tidak. Namun aku berusaha menjelaskan segamblang mungkin. "Kami ini seperti seorang adik yang begitu sangat bernafsu membuktikan dirinya juga sukses seperti kakaknya. You know what I mean, don't you?" kataku.

Di forum itu pula aku bertemu dengan salah satu peserta, perempuan asal GUSDURian Malang. Aku bertanya tentang trinitas karena ada sesi khusus tentang itu di acara ini. 

"Duh.. Aku masih bingung, gus. Makin rumit. Kenapa harus serumit itu ya?" katanya di luar forum. Aku yakin ia tidak sendirian. Aku sangat berkepentingan tiap peserta Muslim bisa memahami secara sederhana konsep tersebut agar bisa menetralisir stigma menyekutukan Tuhan (shirk) terhadap orang Kristen. Stigma ini sangat prevalent di kalangan orang Islam dan sangat berbahaya. 


"Jika ada orang Islam menganggap Tuhan orang Kristen ada tiga, maka sebagai lulusam CSMS kamu berkewajiban menjelaskannya. Tuhan mereka esa, bukan tiga," ujarku sembari menjelaskan dengan meminjam segitiga sebagai ilustrasinya. 

"Ini bukan penjelasan ideal namun setidaknya kalian bisa lebih terbantu memahami ajaran Kristen yang terstigma sebagai 'menyekutukan Tuhan' dalam ajaran kita," ujarku.

Aku melihat senyuman dari arah perempuan tersebut. Wajahnya terlihat lega. Tanda ia lebih paham. Aku meyakini.

Di luar forum, aku menemui gerombolan peserta Islam. Mewanti-wanti agar mereka terus belajar tentang kekristenan agar selamat dari stigma. 

"Jika bingung dengan penjelasan dari orang Kristen, kontaklah aku. Mungkin aku bisa menjelaskan dengan nalar Islam yang aku pahami," kataku sembari meninggalkan mereka, mencari kopi bersama Danang dan genk GUSDURian Malang serta Nganjuk.

Jam 3.30 aku membangunkan satpam STT. Memintanya membuka gerbang agar aku bisa mencegat bis. Aku harus bergeser ke Univ. Ciputra karena ada matakuliah Pancasila jam 7.30-nya.

Di atas bis, aku buka gadgetku. Melihat dua foto tempelan kertas-kertas mereka di papan. Aku perhatikan lagi sebelum kemudian menghapusnya. 

Thanks, ATI and STT SATI!

** Facebook 29 Jan 2020

No comments:

Post a Comment

Featured Post

SEPEDA UNGU UNTUK MESSIAH DAN ELIANA

Aku sempat ragu sepeda warna ungu atau biru yang akan aku pakai ke pasar. Dua sepeda pancal tersebut adalah warisan dari Galang dan Cecil ya...