Pages

Friday, January 16, 2026

Bach Di Tarawih Pertama


"Bach lagi meratap soal apa? Kok terasa kelam sekali?" batinku.

Pelan-pelan aku cari judulnya. Bahasa Jerman. Ketemu. Aku ketik di Google untuk menemukan liriknya. Ketemu juga.

***

"Yuk selfie dulu. Biar ada dokumentasinya,"

Aku melakukan door stop kepada Galang dan bundanya ketika keduanya mau berangkat tarawih, menandai kick off ramadhan tahun ini.

Biasanya, tarawih keluarga dilakukan di masjid yang sama. Bareng-bareng. Atau, memilih model persekutuan keluarga di rumah.

Namun di keluarga kami, tarawih dilakukan di lokasi sekehedak masing-masing. Kami bertiga tarawih terpisah. Galang di masjid kampus Undar, bundanya di musholla dekat rumah.

Setiap dari kami berupaya menjalankan tarawih senyamannya. Tanpa paksaan, tanpa saling mengintervensi.

Aku, untuk saat ini, nyaman tarawih di masjid dekat lampu merah Jelakombo. Alasannya sangat sederhana, dekat warkop langgananku. Setelah tarawih, tinggal lompat saja ngopi.


Tanpa sengaja, aku menemukan lagu baru yang menarik hatiku. Sangat kebetulan. Aku tak tahu artinya karena berbahasa Jerman.

Saat itu, setelah tarawih, aku ke warkop tersebut. Ngopi sembari melanjutkan ritual koreksi tugas mahasiswa. Iseng aku ketik "Bach Orchestra" di Youtube. Aku klik yang muncul pertama. 

Aku bukan penggemar Bach. Bahkan aku tidak tahu perbedaan karya Mozart, Bethoven, dan Bach. Cuma kenal namanya saja. 

Karena durasi videonya lebih dari sejam, aku geser slidernya ke kanan, berharap menemukan sesuatu yang baru. Sesuatu yang sanggup membetotku untuk tertarik.

Muncullah suara orang koor, persis seperti yang sering aku dengar di gereja-gereja Katolik. Nadanya menyayat hati. Pasti ini bercerita tentang kesedihan. Tak perlu tahu arti liriknya untuk tahu ini lagu ratapan. 

"Bach lagi meratap soal apa? Kok terasa kelam sekali?" batinku.

Pelan-pelan aku cari judulnya. Bahasa Jerman. Ketemu. Aku ketik di Google untuk menemukan liriknya. Ketemu juga. 

Dengan bantuan Google Translate, pelan-pelan aku pahami liriknya.

Betul. Bach sedang meratap, meratapi kenapa Juruselamatnya, digebukin dan dianiya sedemikian dahsyatnya, padahal Dia tidaklah berdosa. 

Sebaliknya, menurut lirik tersebut, pendosa adalah ia dan semuanya; merekalah yang menyebabkanNya sengsara dan menjalani kesyahidan yang sangat menyiksa. 

Aku tertegun sembari membatin, "Betapa kerennya Bach ini, mampu menciptakan musik dengan kualitas sedemikian menyentuh dan meraung-raung halus dari peristiwa menyakitkan tersebut. 

Ratapan ketidakrelaan ini disuarakan dengan cara berbeda oleh orang-orang Islam seputar penyaliban Yesus. Ketidakrelaan orang diwujudkan dengan nada yang sangat berapi-api; menolak mengakui peristiwa tersebut. 

Bagi sebagian besar orang Islam, Yesus/Isa tak mungkin disalib. Tuhan mustahil membiarkan kekasihnya diperlakukan seperti itu. Isa/Yesus terlalu agung dan suci untuk mengalami penghinaan tertinggi dalam bentuk penyaliban. 

Dua cara pandang berbeda yang sama-sama ingin mengagungkan sosok tersebut, pada perjalanan sejarah, malah membuat keduanya tidak akur, bahkan hingga sekarang. Sama-sama memilih terpenjara dengan warisan konflik masa lalu. 

Tiba-tiba ada WA masuk, "Mas, segera pulang ya. Aku nggak bisa tidur kalau kamu belum di rumah."(*)

No comments:

Post a Comment

Featured Post

Bach Di Tarawih Pertama

"Bach lagi meratap soal apa? Kok terasa kelam sekali?" batinku. Pelan-pelan aku cari judulnya. Bahasa Jerman. Ketemu . Aku ketik d...