Kemarin, Sabtu (10/1), aku motoran ke Pasar Induk Sayur di Pare Kediri. Jaraknya sekitar 30 km. Tekadku satu; beli nanas.
Sebulan terakhir ini keluarga sangat doyan nanas, kecuali Galang. Hampir tiap kami beli nanas; di pasar, pinggir jalan, atau minimarket.
Yang paling brutal mengkonsumsi nanas adalah Cecil. Ia memang terlihat diet. Makanan utamanya telur rebus dan...nanas. Entah madzhab apa dietnya.
Kenapa di Pasar Induk Pare? Aku meyakini harganya lebih miring. Benar dugaanku. Nanas besar per biji hanya dihargai Rp.4.500. Di pasar Jombang 7-8 ribu. Di pinggir jalan, 13k.
Aku beli 20 biji 90k. Dapat bonus 2 biji nanas.
"Dijual lagi, oom? Kok banyak," kata penjualnya.
"Ndak, dimakan sendiri," jawabku
Aku ke sana diantar Rifan dan Wida. Keduanya berangkat dari Kandangan. Kami memang janjian ngopi awalnya. Keduanya aku ajak terlebih dahulu nyari nanas.
Setelah kelar, kami bertiga ngopi di daerah Badas. Ngopi unik karena meja kursinya di tengah sungai kecil. Kami ngopi sambil merendamkan kaki hingga kedinginan.
Tak lupa kami ngobrol ngalor-ngidul seputar banyak hal. Wida adalah aktifis pemuda GKJW di Kandangan. Sedangkan Rifan, dosen muda di STITNU dekat Trowulan Mojokerto.
Dia mengajakku diskusi khusus terkait kelas Pancasila yang ia ampu. Ia dosen progresif. Semangatnya menyebarkan toleransi tak pernah padam meski diganjal kiri-kanan di internal.
"Ajak mahasiswamu belajar luar kelas. Berkunjung ke situs-situs yang merepresentasi praktek penyebaran kehidupan multikultur," kataku.
"Candi dan tempat ibadah sudah pernah, gus. Pengen suasana lain," ujarnya.
Aku kemudian menyarankan beberapa tempat, selain yang pernah ia dan mahasiswanya singgahi. Ia nampaknya tertarik dengan lokasi milik kawanku dosen yang mengelola home stay. Tempat itu diformat cukup unik, menggabungkan multikultur dan multiagama. Nampaknya cocok.
"Pripun kasusnya Gus Yaqut, gus?" tanya Rifan.
Aku tersenyum saja sembari mengingat ucapan istriku sebelum aku berangkat ke Pare; ia pamit pagi itu untuk latihan manasik haji di dekat rumah.
Nama istriku masuk daftar yang akan berangkat haji tahun ini. Aku tidak ikut karena tidak mendaftar.
Aku sendiri lupa kapan tepatnya istriku mendaftar. Kira-kira 10-15 tahun lalu. Ia, demikian juga ratusan ribu calon jemaat haji lainnya, harus mengantri bertahun-tahun.
Mereka sedemikian sabar menerima hal ini sebagai ujian dari langit, tanpa peduli betapa politik dunia kerap memporakporandakan garis langit.
Yang mereka tahu, mengunjungi Tanah Suci saat haji merupakan panggilan ilahi yang harus didambakan setiap orang Islam -- tak peduli serumit apa pertikaian KPK vs. Gus Yaqut cs.
Panggilan ilahi tersebut merupakan finalitas kesempurnaan normatif keislaman mereka. Mereka mendamba menjadi seorang muslim dan muslimah secara kaffah alias paripurna.
Tiba-tiba ada WA masuk, dari seorang kawan, pengikut Kristus. Ia curhat rumah tangganya di bibir jurang perpisahan saat pasangannya menunaikan umroh.
"Padahal, gus, saya membayangkan Tanah Suci akan membuatnya semakin berislam secara lebih baik, bukan malah mengembalikan saya ke orangtua saya," katanya menyemburkan luka domestik yang aku sendiri tak yakin mampu menutupinya.
Aku menatap lagi puluhan nanasku. Sebentar lagi buah ini akan aku bawa pulang.(*)


No comments:
Post a Comment