Pages

Friday, March 27, 2026

RIYAYAN DIKOMANDANI NU-KATOLIK



"Aku punya kawan, Katolik cerdas, barusan jadi doktor hukum, pernah di seminari. Nampaknya ia agak jarang ke gereja. Tolong sampeyan libatkan lagi di bagian PHUBB, mas,"
"Paroki mana, gus?"
"Entahlah. Tapi rumahnya lho satu perumahan karo sampeyan,"
"Lho?! Siapa namanya, Gus?"
---

Hujan deras langsung menyambut kedatangan 5 orang lelaki penting ke rumahku, Rabu (25/3/). Jam menunjukkan hampir 19.00.

Kelimanya sudah janjian ingin riyayan. Rumahku adalah pemberhentian ketiga, terakhir, dari perjalanan mereka seharian; dari Surabaya menuju Lamongan, Gresik dan Jombang.

Mereka adalah kawan-kawanku Katolik Surabaya, setidaknya berasal dari 3 paroki; St. Stefanus, Yakobus dan Algonz. Semuanya berada di Surabaya bagian barat.

Karena tiap minggu rutin ngajar ke Citraland, aku juga merasa bagian dari Surabaya Barat. Apalagi, Paroki Yakobus berada di Citraland.

Aku sudah pernah mengunjungi ketiga paroki ini, meski sudah cukup lama. Tidak hanya kunjungan informal namun juga beracara, baik offline maupun online.

Di Paroki Stefanus, aku pernah diundang mengisi diskusi seputar sosok Maria. tandem dengan RD. Siga. Ini rekaman diskusinya.  

Di Yakobus, aku pernah menjadi salah satu pengajar Sekolah Teologi Katolik bersama Gus Ulil Abshar dan alm. Romo Suryo Nugroho. Aku juga pernah menjadi narasumber bedah buku RD. Joko Lelono di Paroki Algonz,  

Maka, aku senang sekali mereka ke rumahku. Mereka dikomandani oleh Husni, orang NU deles yang menemukan spiritualitasnya di Katolik. 

Jika biasanya orang akan ogah mengunjungi "rumah lamanya" setelah konversi agama, maka itu tidak berlaku bagi Husni. Unik.

Ia masih aktif menyambung silaturahmi dengan kawan-kawannya di NU Lamongan, bahkan menjadi jembatan relasi banyak paroki di Keuskupan Surabaya dengan NU Lamongan serta tokoh-tokoh NU yang ia kenal. 

Husni adalah satu dari sangat sedikit orang yang mampu mengemban takdir seperti ini.

"Sebagai orang Islam NU saya sangat senang Husni menemukan keislamannya di Katolik. Terima kasih sekali. Ia adalah berkah bagi Islam, Katolik dan Indonesia" kataku pada Mas Stefanus, mas Simbolon, mas Valen dan mas Petrus.

Kegilaan hujan semakin menjadi-jadi. Meja kursi yang telah aku tata apik dan duduki terpaksa kami tinggalkan. Atap depan rumahku bocor. Sedikit, tapi sangat mengganggu. 

Kami akhirnya memilih lesehan. Hanya itu opsi realistis yang tersedia. Opsi lain adalah masuk ke ruang tamuku. 

Namun sepertinya tidak mungkin karena mayoritas kami perokok. Ruang tamuku berstatus haram bagi perokok. 

Anak istriku bisa ngamuk jika ada jejak asap rokok di rumah. Kami para perokok memang pendosa; pendosa yang terus dicerca sekaligus dipalaki untuk memenuhi kebutuhan fiskal Republik ini. Ironis memang.

"Lalu, mau dibawa ke mana stasi yang ada di Bringkang?" tanyaku kepada Petrus, orang penting di Yakobus, mengorek luka lama persekusi rumah ibadah di wilayah Gresik. 

Peristiwa Bringkang sempat mencuat pada 2022 dan 2023. Viral. Nama Ansor dan NU terseret-seret saat terjadinya persekusi.

Kami lalu mendiskusikan masalah ini. Menganalisis cukup lama. Berbagai strategi coba dilontarkan; dari softcore hingga hardcore. 

Aku paling senang ngompori orang Katolik. Mereka terkenal paling santai, tidak reaktif, tidak mudah disulut apalagi mereka yang ada di Yakobus. Jemaatnya santai banget.

"Petrus, bulan Agustus masih cukup panjang. Ada baiknya kamu dan tim mempertimbangkan untuk membuat kegiatan pemanasan di Bringkang," ujarku.

Aku jelaskan cukup rinci terkait strategi Agustus; tujuan dan targetnya. Tak lupa juga melengkapinya dengan strategi mitigasi -- seandainya berjalan tidak sesuai rencana. 

Selain kopi, air putih dan aneka jajanan hari raya, aku mengeluarkan stok air zamzam, oleh-oleh umroh beberapa bulan lalu. 

Air ini aku ambil langsung di dekat Masjidil Haram, menggunakan botol plastik yang telah aku kunci rapat dengan selotip. Setiap orang aku beri satu sloki. Mirip perjamuan kudus.

"Gus, kami mau menempati stasi kami yang baru di Benowo. Semuanya berjalan lancar meski awalnya banyak hambatan," kata mas Stefanus.

Pria senior berdarah Ambon-Tionghoa yang lahir di Surabaya ini adalah tokoh di lingkungannya. Jaringannya luas. 

Aku tahu karena ia mampu bercerita agak detil perannya dalam gejolak di GPIB Benowo beberapa waktu lalu. Aku ikut membantu memviralkan kejadian itu.

"Dia ini, gus, penjaga palang pintu perumahan. Tidak ada yang tidak kenal dengannya," kata mas Simbolon sembari tertawa.

Mas Stef menceritakan berbagai penolakan saat ia dan kawan-kawannya ingin mendirikan stasi di perumahannya. 

Kepiawaiannya bermasyarakat sangat bermanfaat, mampu mencairkan ketegangan yang ada. Stasi ini belum difungsikan untuk ibadah. Baru sebatas digunakan untuk kegiatan non-ibadah. Kabarnya akan ada soft-launching. 

Aku salut sekali atas pencapaian ini. Aku kemudian menawarkan "pekerjaan rumah" untuk menuju kelancaran soft-launching tersebut. Semacam tes ombak dengan potensi turbulensi yang agak tinggi. 

Bagiku, tes ini penting untuk menguji sejauhmana asumsi-asumsi subyektif atas sikap komunal warga terhadap stasi tersebut.  

Dari sini, gereja akan memiliki gambaran lebih terang mengenai apa yang perlu dilakukan. Sebab hari ini, kehadiran rumah ibadah seakan dituntut membawa terang, rahmatan lil alamin, bagi semuanya, tidak hanya umatnya saja.

"Oh ya, mas," kataku pada Mas Stef, "..aku mau minta tolong supaya kawan ngajarku di kampus bisa dilibatkan dalam kiprah lintas iman paroki. Kebetulan ia tinggal di perumahan sampeyan," kataku.

Ia sempat berpikir lama setelah aku memberi tahu namanya. Ia seperti asing dengan nama itu. Aku tunjukkan fotonya. Ia masih saja tidak mengenalinya. 

Ia kemudian menelpon seseorang, entah siapa --namun aku yakin ia orang penting di lingkungannya. Orang tersebut mengkonfirmasi keberadaan kawanku tersebut. 

"Tolong ada kunjungan pastoral padanya, mas. Eman kalau ia tidak terlibat dalam kerja-kerja interfaith di paroki sampeyan,"
"Iya, gus, nanti kami akan kunjungi dengan beberapa pengurus. Saya sudah tahu kok rumahnya," kata mas Stefanus.

Hujan sudah reda agak lama. Sebelum pamit aku memohon berkat doa dari waki rombongan. Ditunjuklah mas Simbolon, putra Batak Toba ini, sebagai penghantar doa.  

Doa dilangitkan dengan sederhana penuh hikmat. Kami semua mengamininya.

"Eh sebentar, saya punya souvenir kecil dari umroh kemarin. Rosario a la Islam, berjumlah 33 biji dalam satu untaian. Mohon diterima sebagai tanda persahabatan kita," ujarku sembari membagikan pada mereka satu per satu.(*)

No comments:

Post a Comment

Featured Post

RIYAYAN DIKOMANDANI NU-KATOLIK

"Aku punya kawan, Katolik cerdas, barusan jadi doktor hukum, pernah di seminari. Nampaknya ia agak jarang ke gereja. Tolong sampeyan li...