Pages

Tuesday, April 14, 2026

Ciganjur Dan Perkawinan Beda Agama



Dalam urusan perkawinan beda agama (PBA), setahuku keluarga Ciganjur tidak pernah mengeluarkan sikap resminya. Keluarga Gus Dur yang menjadi panutan ribuan orang ini sikapnya netral; tidak mendukung juga tidak melarang. Hanya saja, kehadiran Inaya Wahid dalam proses ijab kabul PBA Rera dan Moses, Minggu (10/11/2024) mau tidak mau, sedikit menguak ke arah mana sikap keluarga ini.
***
Saat enak-enakan merokok di ruang salah satu hotel di Bogor, aku melihat perempuan muda berlari-lari kecil sembari menenteng high-heels. Ia terlihat clingak-clinguk mencari ruangan.

Aku amati betul-betul perempuan itu. Terlihat seperti Inaya Wahid, putri bungsu Gus Dur. Betul, Ia adalah Inaya.

Segera aku berlari menyambutnya. Aku mencoba meraih tangan kanannya, berusaha menciumnya. Cium tangan adalah tradisi pesantren yang wajib dilakukan santri terhadap kiai dan seluruh keluarganya, li ta'dziman.


"Lho An, kamu kok di sini?" ia terlihat makin kaget saat melihatku ada di sana.
"Iya. Lha kamu juga ngapain di sini?" ujarku pura-pura nggak tahu.
"Aku mau ke kawinannya Moses dan Rera. Di sebelah mana ya ruangannya?" ujarnya masih dalam sedikit kebingungan --kuatir ketinggalan moment.
"Tenang. Akad nikah belum dilaksanakan. Penghulunya masih di sini kok," kataku sembari tersenyum.
"Heh?! Kamu penghulunya? Wah..kacau ini.." Inaya mulai tampak lebih tenang.

Inaya adalah salah satu saksi dalam perkawinan tersebut. Ia tidak sendirian. Ada dua tokoh perempuan lagi yang juga akan menjadi saksi; Ayu Kartika Dewi, stafsus Jokowi yang PBAnya pernah menggegerkan Indonesia, dan Mardliyah Chamim, wartawan senior, mentor Rera dan Moses saat belajar di TEMPO. Ketiga saksi perempuan ini dilengkapi oleh Miftahul Huda, aktifis Nahdliyyin, sebagai saksi keempat.

"Aku tidak menyangka akan diminta menjadi saksi perkawinan Islam. Setahuku, perempuan sangat jarang diperbolehkan menjadi saksi perkawinan. Aku langsung mengiyakan saat diminta Rera," kata Mbak Mardiyah Chamim, dedengkot TEMPO Institute, kepadaku.

Pagi itu, proses akad nikah berlangsung gayeng penuh kekhidmatan. Dua keluarga besar; Sarjan dan Runtuwene, bersatu dalam semangat merayakan penyatuan Rera dan Moses.


Ayah Rera, Ajan Sarjan, memilih mengakadkan sendiri anaknya dengan Moses Runtuwene. Sebagai penghulu, Aku sangat senang sekali. Untuk kelancaran akad, aku telah melatih Pak Ajan dan Moses sebelum acara.

"Sebelum ijab kabul dimulai, saya minta Rera memohon izin terlebih dahulu kepada ayahnya agar semuanya bisa menyaksikan apakah perkawinan ini direstui atau tidak," ujarku.

Rera kemudian meraih mikrofon dan mulai membaca permohonan izin. Air matanya mulai berderai saat menyinggung betapa pilihannya menikah dengan Moses menyulitkan posisi ayah dan keluarganya di lingkungan kampungnya. Ayah Rera adalah pemangku masjid, posisi yang cukup terpandang dalam struktur sosial Islam.

"Bapak, saya mohon Rera diijinkan menikah dengan Moses," ujar Rera.

Sebelum akhirnya memberikan ijin, ayah Rera terlebih dahulu menggambarkan betapa ia sangat menyayangi putrinya. Keengganannya menerima perkawinan beda agama Rera didasarkan pada perasaan sayang tersebut.

Ekspresi rasa sayang kemudian bermetamorfosis menjadi persetujuan setelah melalui dinamika spiritualitas yang tidak mudah.

Aku pikir Pak Sarjan akan kuat menahan air matanya. Sayangnya, dugaanku salah. Air matanya ambrol. Aku sendiri memilih untuk tidak melihatnya agar tidak ikut-ikutan ambrol meski mataku sudah panas sekali.

"Perkawinan Rera dan Moses pagi ini menandai babak baru dalam perkawinan a ala Islam. Dua saksinya, tidak hanya perempuan namun juga belum menikah," ujar Inaya saat memberikan sambutan.

Apresiasi serupa juga disampaikan oleh Mbak Mardiyah. Ia sangat senang Rera dan Moses akhirnya bersatu dalam ikatan perkawinan, mengingat ia mengetahui betul beratnya lika-liku keduanya. 

"Rera dan Moses, sebagai orang yang juga melakukan PBA, aku ikut senang dengan penyatuan ini," ujar Ayu. Menurutnya cinta kasih bersifat universal, tidak bisa disekat dan dikotak-kotakan berdasarkan suku maupun agama.

Akad nikah sudah selesai. Pemberkatan akan dilakukan pada hari dan di lokasi yang sama jam 16.00.


Allohumma allif baynahuma kama allafta adam wa hawwa wa allif baynahuma kama allafta Ibrahim wa Sara wa allif baynahuma kama allafta Yusuf wa Zulaykha wa allif baynahuma kama allafta Muhammad ibn Abdilla wa Khadijatul Kubro.

Selamat untuk Rera dan Moses!.

No comments:

Post a Comment

Featured Post

PENDETA MENGUTIP AYAT INI SAAT MEMBERKATI PERKAWINAN BEDA AGAMA RERA & MOSES

Moses tidak bisa lagi menahan emosinya. Tangisnya pecah. Suaranya sesenggukan ketika memberikan sambutan di akhir pemberkatan perkawinan bed...