Moses tidak bisa lagi menahan emosinya. Tangisnya pecah. Suaranya sesenggukan ketika memberikan sambutan di akhir pemberkatan perkawinan beda agamanya dengan Rera, Minggu (10/11).
"Saya mengucapkan terimakasih kepada bapak dan ibu (orangtua Rera). Saya benar-benar tidak menyangka bapak dan ibu akhirnya mau hadir dalam pemberkatan kami. Diberikan izin untuk menikahi Rera adalah anugerah. Namun kehadiran bapak dan ibu saat itu sungguh membuat saya bahagia," ujarnya dengan sesenggukan.
Ruang ibadah sontak senyap, larut bersama emosi Moses dan Rera.
Kebahagiaan Moses atas kehadiran orangtuanya Rera sangatlah beralasan. Sejak awal, yang aku tahu, bapaknya Rera telah memberi sinyal tidak akan hadir dalam pemberkatan meski restu telah diberikan kepada Moses, menantunya. Ketidakhadiran ini sangat mungkin berkaitan dengan sikap teologis yang memang dipilihnya.
Pemberkatan ini adalah bagian dari rangkaian perkawinan beda agama (PBA) keduanya menggunakan ritual Islam dan Kristen. Pagi sebelumnya, keduanya melaksanakan akad nikah. Aku yang memfasilitasinya.
"Rera dan Moses, jika memang bapaknya Rera tidak berkenan hadir dalam pemberkatan kalian, sikap tersebut harus kalian terima dan hormati dengan lapang dada, sungguhpun itu tidak sesuai ekspektasi kalian," ujarku saat menerima konsultasi mereka berdua sebulan sebelum acara.
Menurutku tidaklah mudah bagi tokoh agama seperti bapaknya Rera untuk dapat sedemikian jauh bersikap, menerabas kelaziman sebagaimana yang diyakini komunitasnya.
Namun demikian, aku minta keduanya, terutama Rera, untuk terus mempersuasi bapaknya agar bersedia mempertimbangkan untuk hadir dalam pemberkatan.
"Rera, salam ke bapakmu ya. Bilang ke beliau, Gus Aan akan hadir dalam pemberkatan dan merasa terhormat untuk membersamai beliau," ujarku.
"Iya, gus" jawabnya.
Lokasi pemberkatan berada di hotel yang sama dengan pelaksanaan akad nikah. Sekira 15 menit sebelum pemberkatan dimulai, ruangan pemberkatan sudah hampir penuh terisi.
Aku memberikan pesan kepada bapaknya Rera melalui wedding organizer (WO); aku sangat senang jika diperbolehkan duduk membersamainya dan keluarganya.
Saat masuk ruangan aku melihat cukup banyak perempuan berjilbab di ruang pemberkatan. Aku lega.
WO menuntunku ke blok kanan kursi paling depan, tempat duduknya keluarga inti; ayah, ibu dan adik perempuan Rera. Aku salami ketiganya sembari terus menunjukkan jempol pada mereka.
Aku kemudian berdiri dan menoleh ke arah kiri, berusaha menemukan pendeta yang akan memimpin acara.
Pria berpenampilan pendeta melihatku dan berdiri. Aku menghampiri tempat duduknya. Kami berpelukan. Aku membisikkan ucapan terima kasih kepadanya karena mau membantu memberikan berkat.
"Saya sering bertemu Gus Aan di Facebook," ujar Ps. RL. Ucapannya membuatku merasa dekat dengannya.
Aku belum pernah bertemu dengan pria inu sebelumnya, seingatku. Ia nampaknya memiliki persekutuan/gereja sendiri, bukan dari denominasi gereja yang kerap aku dengar.
Namun demikian entah kenapa aku selalu merasa dekat dengan pendeta, apapun denominasinya. Aku selalu percaya mereka semua berasal dari gereja-gereja besar berbasis suku sebelum akhirnya mendirikan mimbarnya sendiri. Gereja-gereja besar tersebut menginduk di PGI.
Pendeta ini dekat dengan keluarga Runtuwene. Beberapa kakaknya Moses bergereja di mana Ps. RL melayani. Runtuwene adalah marga Minahasa. Sangat mungkin kekristenan mereka memiliki jejak dengan GMIM, sinode terbesar di Sulawesi Utara.
"Saya pernah ke Manado, Tomohon, dan Minahasa Utara, kak. Berkunjung ke gereja di sana," ujarku saat bercakap dengan keluarga Runtuwene.
"Oh ya, dari Tomohon, saya masih ke atas," ujar kakak perempuan Moses yang menjadi pendeta di sana.
"Bahkan, saya pernah ke Boolang Mongondow. Duh jauuhhnya," ujarku.
Pemberkatan dimulai. Ps. RL bersama timnya menyajikan ibadah pemberkatan perkawinan dengan indah dan khusyuk. Sesekali ia menyelinginya dengan joke-joke segar.
Tidak ada satupun kursi kosong di ruangan tersebut. Full booked. Bahkan puluhan orang mengikutinya dengan berdiri di belakang.
"Ini melampaui ekspektasi kami berdua. Saya awalnya kuatir tidak ada yang mau datang dalam pemberkatan kami," ujar Moses.
Aku menyimak dan menikmati beberapa firman Tuhan yang disampaikan Ps. RL berharap ia mengutip ayat landasan kenapa ia mau memberkati PBA.
"Mohon tidak memahaminya dengan salah. Saya memberkati ini salah satunya berdasarkan 1 Korintus 7:12-16," ujarnya.
Aku buka pelan-pelang aplikasi Alkitab di hpku. Aku baca. Betapa bijaknya ayat-ayat tersebut. Bijak sekali.
Selesai berkhotbah, aku menyalami Ps. RL dan mengucapkan terima kasih, sekali lagi, atas pelayanannya. Kepadanya aku berkata betapa aku berharap akan banyak pendeta yang bersedia memberkati PBA ke depannya.(*)




No comments:
Post a Comment