Sudah lama aku tidak silaturrahmi dengan kawan-kawan HKBP Jombang. Mungkin ada setahunan lebih,
Namun akhirnya semesta seperti tidak mengizinkan keterpisahan tersebut berlama-lama. Kami akhirnya bersua kembali.
Dua orang petinggi HKBP Jombang main ke rumahku, Rabu (29/4); Pdt. Daniel Sidoro dan bang Manurung (sintua). Keduanya ditemani Ricky, anak dari bang Manurung. Ia mahasiswa olahraga di Univ. PGRI Jombang.
"Kita di luar aja ya. Kalau di dalam nggak bisa merokok," ujarku sembari menggelar karpet.
Meski perokok kelas agak berat, aku terkena perjanjian domestik dengan pasanganku Amiroh; rumah harus steril dari asap rokok. Bahkan ketika masuk kamar, aku wajib mandi setelah merokok. Wajib,
Pernah aku mandi 3 hari dalam semalam. Gara-garanya, aku kebelet pengen merokok padahal sudah siap-siap tidur. Mandi terakhir karena kami habis ML. Tidak ada nikmat melampaui merokok pasca ritual tersebut.
Kedua kawanku menyampaikan maksudnya, terkait rencana kunjungan ke makam Gus Dur dan Tebuireng. Aku dengan senang hati berjanji akan membantunya.
Dalam setiap kesempatan bertemu dengan orang-orang non-muslim, aku selalu mengatakan akan memprioritaskan pelayananku pada mereka terkait makam Gus Dur.
"Orang-orang Islam bisa masuk bludas-bludus ke sana. Namun biasanya ada semacamn halangan psikologis bagi non-muslim. Untuk itu aku selalu dengan senang hati membantu," ujarku.
Aku menganggap ini semacam affirmative action bagi non-muslim. Agar, makam ini tetap terjaga nuansa pluralitasnya, bukan hanya "milik" orang islam saja.
Kepada keduanya, aku juga mengucapkan selamat atas rencana konven para pendeta HKBP di HKBP Jombang. Aku malah mengusulkan agar panitia juga mengundang wakil ormas-ormas di Jombang saat pembukaan.
"Kan, belum banyak dari mereka yang tahu lokasi HKBP Jombang," kataku.
Pasca peristiwa intoleransi beberapa tahun lalu. kini HKBP Jombang telah memiliki gedung sendiri. Mereka tentu saja lebih nyaman di sana. Biasanya, utuk beribadah, mereka menyewa salah satu ruangan di kawasan pertokoan Jl. A. Yani, sebelah Ringin Conthong.
Aku juga mengusulkan agar pada konven nanti, para pendeta diberi asupan menu intelektual yang lebih luas. Misalnya, terkait perkembangan toleransi dan intoleransi di Jawa Timur. Menu ini penting supaya ada pemerataan informasi dan keprihatin dalam skala regional dan lokal.
"Assalamualaikum," tiba-tiba ada suara dari balik gerbang. Aku melihat pasangan suami istri, lengkap dengan pakaian islaminya.
Keduanya adalah tamu istriku, kunjungan prahaji. Aku kenalkan pasangan ini dengan kedua tamuku, sebelum akhirnya aku bawa masuk ke rumah. Buru-buru aku tutup pintu ruang depan. Takut asap masuk.
"Maaaasssss, kamarnya bau rokoooooook," teriak istriku dari kamar, setelah tamuku meninggalkan rumah.
"Matik aku!"
Cepat-cepat aku ke kamar mandi. Mengguyuri badan dan menyabuninya.(*)

No comments:
Post a Comment