Pages

Showing posts with label jombang. Show all posts
Showing posts with label jombang. Show all posts

Saturday, March 28, 2020

TAKUT MATI


Seluruh histeria global terkait corona sebenarnya bermuara pada satu hal; takut mati. Namun kadang seseorang terlalu takut mengakuinya, lalu membungkusnya dengan argumentasi yang canggih-canggih. 

Namun pagi ini, aku tak menyangka akan "ditampar," oleh seorang nenek, saat kami berdua asik berbelanja di stand aneka sayur Pasar Legi Jombang. Kejadiannya dua jam lalu. 

"Mbak, pertimbangkan untuk memakai masker. Situasinya sudah seperti ini lho," kataku pada pemilik stand sembari menyerahkan uang Rp.2.000 untuk seikat serai. 

"Aku pengen, dik, tapi aku sulit bernafas," jawabnya dengan tetap meladeni pembeli lainnya.

Tiba-tiba seorang nenek di depanku, yang asyik memilih tomat menimpali kami tanpa rasa bersalah. Ia dengan ketus berpandangan tidak perlu memakai masker. 

"Nggak usah pakai. Kayak kita nggak percaya Tuhan saja. Masih ada Tuhan," ujarnya. 

Kami pun terus berdiskusi sembari tetap memastikan kebutuhan kami terlayani dengan baik. Aku pergi meninggalkan mereka berdua setelah serai di tanganku.

Omongan nenek tadi terus menggedor-gedor pikiranku. Kenapa harus ada kebodohan menempel ke tubuh makhluk yang oleh Tuhan diberi akal untuk berfikir. Terlalu banyak orang seperti nenek tersebut. Konfidensinya keterlaluan. 

Setelah menikmati kopi yang disajikan Tini, pemilik warkop langgananku, aku berfikir; kenapa nenek itu bisa sampai sekonfiden itu? Kenapa ia tidak takut mati? Apa yang ia cecap sehingga memiliki keberanian setinggi gunung Uhud ditambah Mahameru? 


Aku yakin ia tidak punya akun sosial media, bahkan sangat mungkin ia tidak memiliki gadget yang terkoneksi internet. Ia mungkin memiliki TV namun aku tidak yakin ia terpengaruh massifnya  pemberitaan tentang corona, yang pada titik tertentu menstimulasi kekuatiran seseorang dengan cepat. 

Kekuatiran berselaput ilmu pengetahuan berlapis-lapis inilah selanjutnya diyakini sebagai fase "menjadi lebih pintar," --- dan meminta pemilik tubuh untuk memilih satu-satunya opsi yang tersedia; takut mati. 

Aku yakin nenek itu tidak takut mati --meski aku tidak sempat menanyakannya. Namun percayalah, ia pasti akan menjawab, kira-kira, "Mati iku urusane Gusti Awwoh," Tidak kurang, tidak lebih. 

Jika demikian jawabnya, aku mungkin akan ganti menimpalinya balik "Silahkan saja mati, namun masalahnya, kamu juga membuat orang lain akan mati jika tidak patuh SOP," Rasanya puas bisa memojokkan dirinya.  Namun bukankah jawabanku hanya meneguhkan kebenaran bahwa kematiaan adalah hal yang harus ditakutkan? 

Nenek ini, jangan-jangan, pernah membaca novel "The Physician," karya Noah Gordon yang diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama 2013 lalu. Sebab ketidaktakutan nenek ini terasa senafas dengan omongan Ibn Sina dalam film tersebut. 

"Because there is nothing to be afraid of. Death is merely a threshold we must all cross, into the silence, after the final heartbeat. Drifting away with our final exhalation into eternal peace..."

Jika kepandaian nenek tersebut setara  Ibn Sina atau Noah Gordon ia pasti  mampu meredaksikan pengetahuannya sesastrawi mereka. Namun aku yakin kematian, bagi sang nenek, adalah kepastian yang harus diterima setiap orang agar bertemu Tuhan sebagai wujud kedamaian abadi

Di titik mati-adalah-kedamaian-abadi, kita sepakat dengan nenek itu. Bedanya, ia tampak tidak takut dengan kematian. Sedangkan kita? Rasanya justru sebaliknya.

Tidak takut mati per hari ini bukanlah monopoli nenek dan orang-orang sejalannya. Keberanian menantang maut juga secara nyata ditunjukkan mereka yang berada di garda depan penanggulangan corona. Siapa mereka? Siapa saja yang tanpa rasa takut "menyelamatkan," mereka yang tengah dirundung ketakutan akan mati. 

Harusnya, takut-mati mendorong kita lebih menghargai hidup. Bukan hidup kita personal ---karena kita akan terjebak dengan egoisme individual, namun hidup orang lain. Egoisme individual secara sederhana ditunjukkan dengan masih adanya strategi profit taking, malas berbagi, atau menipu orang lain atas nama corona. Cara ini sungguh tak terpuji atas nama takut-mati.


Bandingkan dengan yang dilakukan Hazem Sedda, sebagaimana dilansir harian Independent Inggris. Pria ini menerapkan kebijakan "beli banyak lebih mahal," untuk kertas toilet yang dijualnya. Satu pak tisu dihargai USD 3,5  --setara Rp.56 ribu. Jika beli dua pak, Anda akan dikenakan USD 99 atau setara Rp.1,6 juta.

"Ojo serakah, cuk. Mikiro wong liyo!" begitu ia menambahkan tulisan di daftar harga.


Sedda mengajak orang berani menghargai hidup dengan cara memikirkan orang lain. Nenek tadi, mengajarkan keberanian, tidak takut mati dengan caranya sendiri. Ada juga yang takut mati hingga hanya ia yang ada dalam pikirannya. 

Lalu siapa yang akan mati duluan ke depannya? Di sinilah misterinya. 

Dan aku mendengar nenek itu, dengan suara berat, mengutip omongan Achilles ke Briseis, dalam film Troy, "The gods envy us. They envy us because we're mortal, because any moment may be our last. Everything is more beautiful because we're doomed. You will never be lovelier than you are now. We will never be here again."


-- Warkop Iwan Pasar Legi, tetap dengan menjaga jarak. 


 

Tuesday, February 5, 2019

PERANG PUNK DAN BIROKRASI JOMBANG

Jika kamu berpenampilan a la anak punk; terlihat tidak intelektual, berbau lebus (nggak mandi 2-3 hari) dan berkeliaran di jalan-jalan protokol Kota Santri, maka siap-siap saja digaruk Satpol PP Jombang, seperti Fredi --bukan nama sebenarnya.

Dia teman ngopiku dua hari lalu, Minggu (3/2). Ia bercerita pengalamannya digelandang Satpol PP Jombang kemarin. Saat itu ia tengah ngopi di sekitar Ngrandu karena lelah setelah habis kulakan jeruk di sekitar lokasi itu.

Fredi ditangkap karena ikut-ikutan lari saat terjadi penggerebekan pengamen berpenampilan a la punk. "Pas enak-enak ngopi, aku ndelok arek-arek akeh sing mlayu. Aku yo melok mlayu sisan. Wedi onok opo-opo," katanya sembari menghisap Lucky Strike-nya dalam-dalam.

Fredi memang berpenampilan nyentrik. Rambut tipis samping dan membiarkan bagia atas serta belakangnya panjang. Tak lupa, ia juga mengecatnya. Sepatunya kets dipadu celana ketat agak kumal dengan atasan kaos Persebaya. Kulitnya hitam. Sekilas memang seperti anak punk.

Ia mengaku dibawa ke kantor Satpol PP untuk diinterogasi. Dirinya menolak tuduhan sebagai bagian dari kelompok punk. "Lha ambumu lebus (badanmu bau)," kata Fredi menirukan alasan yang disampaikan salah satu petugas.

Lebus adalah bahasa suroboyoan untuk mengidentifikasi bau badan yang tidak mandi selama berhari-hari.

Fredi akhirnya dilepas setelah salah satu perangkat desanya dihadirkan untuk memverifikasi kebenaran pengakuan Fredi.

Entah salah apa dengan berpenampilan a la punk, namun dalam beberapa hari terakhir ini, rezim Munjidah-Sumrambah melakukan razia besar-besaran terhadap mereka. Yang ditangkap kemudian dimasukkan ke panti-panti untuk "diperbaiki," dan "dididik,"

Punk dicitrakan sebagai sampah masyarakat, tukang buat onar dan mengganggu keindahan. Sudah sejak lama kelompok ini "dicekal" untuk menyelenggarakan pentas musik oleh otoritas keamanan setempat.

Bagi saya, kelompok punk adalah sasaran empuk rasa frustasi Satpol PP yang tidak mampu menjalankan fungsinya dengan optimal menegakkan aturan di Jombang. Mereka tidak kuasa menindak supermarket tidak berijin yang menjamur, pabrik-pabrik yang melanggar aturan pembuangan limbah. Padahal mereka harusnya mampu melakukan itu.

Kekuasaan selalu menindas yang lemah untuk membuktikan dirinya masih berkuasa, meskipun acapkali terasa absurd. Sangat mirip dengan strategi yang dilakukan rezim Kota Santri ini.

Keduanya baru saja melakukan ritual mutasi besar-besar birokrasi Jombang. Dengan itu, mereka ingin membuktikan dirinya berkuasa dan mampu. Namun sejauhmana proses mutasi dilakukan dengan transparan dan akuntabel? Itulah masalahnya.

Mutasi kemarin hanyalah urusan geser-menggeser saja, tanpa disertai reasoning yang jelas kenapa seseorang harus menempati posisi tertentu. Publik juga tidak dilibatkan untuk sekedar ikut menakar rekam jejak birokrat yang menggeser maupun digeser. Mungkin hanya di kota ini saja, peringkat kedua seleksi Sekda bisa mengalahkan peringkat pertama. Itupun setelah ia kabarnya pernah tidak lolos seleksi administrasi.

Tak pelak, proses gelap mutasi ini memunculkan aroma tak sedap. Benarkah tidak ada komersialisasi jabatan? Terus terang saja saya ragu. Sejak awal, bupati dan wabup tidak pernah menunjukkan ketegasan komitmen transparansi dan antipungli dalam mutasi.

Di sisi lain, saya mendengar sayup-sayup mengenai praktek transaksional tak terpuji. Bahkan konon, salah satu transaksinya dilakukan di tempat yang sangat sakral bagi kami warga Nahdliyyin. Entah benar, entah tidak.

Sudah waktunya KPK bertindak agar warga tidak terus-terusan dirugikan dalam pelayanan publik. Fredi mengalami kerugian akibat aparat yang salah identifikasi. Kelompok punk terjengkang dan meradang karena kualitas birokrasi yang timpang.

Hayati lelah, Bang.

at Wijaya Kusuma yang transit di Gubeng menuju Jombang

Saturday, August 19, 2017

Al-Falah diantara Philadelphia dan Filadelfia

"Mas, aku jemput sekarang ya, mumpung aku senggang. Karena nanti malam kami ada yasinan di Masjid Al-Falah," pesan pendek masuk ke ponsel segera setelah aku mendapat free wifi hotel. Aku memang hanya mengandalkan internet gratisan selama di AS. Paket data di negeri ini lumayan mehong (mahal). Aku harus ngirit, hidup mengandalkan uang saku #IVLP yang tidak bisa dikatakan melimpah ruah. *hais

Pesan itu datang dari Mas Aditya, warga Suroboyo yang tinggal lama di Philly bersama istri dan seorang anak. "Aku melok Yasinan, Mas," sahutku tanpa berfikir panjang. Yasin adalah salah satu surat panjang yang wajib aku hapal jika ingin lulus Tsanawiyah di Tambakberas puluhan tahun lalu. Jangan tanya apakah aku paham artinya dan kandungannya, selain bahwa surat ini diyakini cukup ampuh mempermudah kepergian orang dari dunia ini.

Setelah acara keliling kota singkat, kami pun meluncur ke Masjid al-Falah. Jangan dibayangkan masjidnya seperti Istiqlal. Untuk ukuran musholla di kampungku Mojongapit saja, al-Falah masih lebih kecil.

Bangunan ini tidak lebih merupakan apartemen yang terintegrasi dengan deretan apartemen lain di South Philly. Letaknya bisa Anda temukan di Google Map dengan keyword "alFalah Philadelphia".

Setelah menunaikan sholat Maghrib, kami Yasinan dan Waqi'ahan sebentar, dilanjut shalat Isya' dan makan bersama ala pesantren. Selama di AS baru kali ini saya membaui aroma beras yang sangat saya kenal. "Dari baunya, ini jenis Bramu. Kalau di Indonesia, ini beras kelas atas," kataku tanpa ditanya.

Kewangian Bramu hanya bisa dikalahkan oleh jenis Menthik Wangi -- tolong jangan dikacaukan dengan Kuntilanak Wangi karya Saskia Eleanor Wieringa. Jamaah yang hadir ternyata tidak kenal dengan nama Bramu. "Iki beras Thailand, Mas," kata Hani White, salah satu aktifis masjid.

Hani yang datang malam itu bersama suaminya terbilang unik. Dia pakai celana panjang, kaosan dan tidak menutup kepala (jilbab) di acara tersebut. Dia ikut dari awal hingga akhir. Penerimaan al-Falah terhadap keragaman busana malam itu menggembirakanku.

"Di Jawa, kamu akan sulit bertahan dengan pilihan tanpa berkerudung saat ikut Yasinan dan Waqiahan. Aku senang itu tidak terjadi di sini. Keislaman perempuan tidak bisa sepenuhnya dilihat dari busananya," sahutku mengomentari sembari terus melahap gado-gado.

Aku senang sekali saat diminta menjelaskan apa itu Jaringan GUSDURian di forum itu. Tidak lupa, aku memberikan konteks kontemporer situasi intoleransi Indonesia. Pluralitas peserta yang hadir --dari NU dan Muhammadiyah, memberiku landasan realitas untuk menukik pada isu keragaman yang telah lama ada di belantara hukum Islam.

"Kamu tarawih 8, saya tarawih 20, mana sebenarnya yang benar-benar Islam?" tanyaku menggoda. Aku menegaskan hal ini untuk melucuti model berfikir biner "hanya satu Islam" yang kerap menyerimpung nalar sehat umat Islam Indonesia akhir-akhir ini.

Cara berfikir biner kerap menyandera kewajiban seseorang untuk mengedepankan respect terhadap liyan. Aku secara jujur menyampaikan betapa beruntungnya mereka yang hadir dirawat oleh kemajemukan Philadelphia. Sebab di Indonesia, nama Filadelfia justru menjadi ikon intoleransi atas sebuah gereja HKBP.(*)

*Logan Park, PA, August 19th, 7:49am.

Wednesday, June 28, 2017

Kunjungan Fitri dari Paroki

Saya merasa perlu mengabarkan moment ini. Lebaran hari kedua kemarin, rombongan Paroki Santa Maria Jombang mendatangi rumah saya di Mojongapit, Senin (26/6). Tidak tanggung-tanggung, mereka dipimpin langsung oleh dua orang romonya; Rm. Warno, yang senior, dan Rm. Sentosa, lebih muda.

Saya anggap ini kunjungan spesial dan bisa dikatakan sebagai lawatan balasan. Natal tahun lalu saya dkk. diperkenankan bersilaturahmi ke Paroki. Saat itu Romo Warno terlihat kaget namun ia tampak sumringah, ada semburat kegembiraan. Wajahnya seakan berkata 'Hah? Dikunjungi orang Islam pas natalan di Paroki?  This could be too damn good to be true!'

Romo Warno memang pantas terkejut, di tengah bombardiran fatwa haram mengucapkan 'selamat natal' dari MUI, lha kok malah ada anak muda datang berjamaah ke gereja hanya untuk melanggar fatwa haram itu.

Kami saat itu datang tidak sembunyi-sembunyi. Sebaliknya, kunjungan kami bisa dikatakan demonstratif. Saya undang media dan liputannya menjadi headline di Radar Jombang besoknya. Masih saya simpan kliping korannya.

Saat datang ke rumah saya malam itu, Romo Warno dan warga Katolik tengah berusaha menampilkan keseimbangan dalam berelasi. Keseimbangan ini merupakan barometer etis dalam tata krama. Maksudnya, alangkah tidak beradabnya kita yang hanya mau disowani namun enggan sowan balik. Jika rumah atau tempat ibadahmu pernah dikunjungi penganut agama lain, maka sebenarnya kita telah berhutang kunjungan-balik kepada mereka. Sesimpel itu menurut saya.

"Eh Mo, tahu nggak, tempat duduk sampeyan itu persis dengan posisinya Modik pas main ke sini," kata saya. Modik adalah call sign Romo Didik, vikaris jenderal keuskupan Surabaya sebelum akhirnya digantikan Romo Eko. Modik memang pernah mampir ke rumah, bersama kawan saya Tatiek dan Kiky.

Malam itu ngobrol ngalor-ngidul tentang banyak hal, terutama seputar intoleransi dan inisiatif kami dalam merespon hal itu. Saya bilang akan mengadakan kegiatan "Walk for Peace" pertengahan Juli ini ---semacam kunjungan anak muda lintas iman ke beberapa rumah ibadah Jombang untuk belajar singkat tentang agama-agama. Termasuk kunjungan ke Paroki Santa Maria.

Melihat Romo Warno sangat apresiatif mendengar hal itu, saya langsung menimpali, "Tapi nganu, mo, kami datang ke Paroki pas jam makan siang ya, sekalian minta makan siang. Anggaran kami mepeeeet banget,"

Saya ngomongnya sembari cengar-cengir. Tanpa beban sama sekali. Rasa malu dan sungkan telah saya amputasi sedemikian pendek untuk mengatakan hal itu. "Oh siap Gus.. Kami senang dan siap. Ada lagi yang harus kami persiapkan?" jawabnya balik. Saya sempat mikir, "Busyet ..wong iki tengah menyindirku (nglulu, bahasa Jawa) atau serius nanya ya?" Saya memang hanya butuh makan siang saja di Paroki untuk aspek logistik.

Tak seberapa lama kemudian, datanglah Pendeta Kristian Muskanan, gembala Gereja Bethel Indonesia Jemaat Diaspora. Ia datang bersama istrinya. Pak Kris yang tahun lalu menjabat sebagai Ketua Persekutuan Gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII) cabang Jombang, adalah pendeta yang memimpin doa saat aqiqahnya Galang.

Selang sesaat setelah Pak Kris dan istrinya pamit pulang karena ada tamu, rombongan Katolik juga minta undur diri.

"Boleh pulang tapi tolong saya minta doanya ya, Mo, agar rumah ini menjadi lebih barokah," ujar saya. Romo Warno mempersilahkan Romo Sentosa memimpin doa. Kami semua khusuk mengamininya, terutama saya.

Saya bersyukur mendapat kunjungan fitri dari paroki. Ke depan, jika ada pemuka agama lain atau penghayat kepercayaan datang ke rumah saya, pasti saya akan minta mereka berdoa di rumah saya.

Monday, June 19, 2017

Beasiswa Training Penggerak Perdamaian dan Keberagaman Berbasis Komunitas

Latar Belakang
Pandangan bahwa ideologi dan gerakan radikal menjadi ancaman terpenting bukanlah hal yang berlebihan, mengingat rentetan aksi terorisme pada tataran internasional, regional dan nasional tetap menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Dalam konteks Indonesia, terorisme yang terjadi ditengarai meningkat baik secara kuantitatif maupun kualitatif setelah reformasi bergulir, dan tidak dapat diabaikan bahwa gerakan terorisme tersebut membawa serta ideologi radikal yang mengancam kesatuan bangsa.      

Ideologi-ideologi dan gerakan radikal tersebut dalam kenyataannya jelas telah mampu menggerakkan aktor-aktor dari masyarakat sipil menjadi pelaku teror dan radikalisme. Hal ini terlihat dengan semakin meluasnya praktek intoleransi yang semakin masif berlangsung.

Berkembangnya aksi-aksi radikalisme dan terorisme ini pada akhirnya akan mengoyak kebinekaan, yang akibatnya, muncul ego sektarian, rasa curiga, bahkan aksi balas dendam. Jika ini terus dibiarkan maka dapat mengancam keutuhan NKRI.

Menyadari makin meningkatnya radikalisasi melalui aksi-aksi kekerasan berbasis agama dan keyakinan di Indonesia, menjadikan sebuah keprihatinan tersendiri bagi Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI). Sebagai sebuah lembaga keumatan, PGI tetap berkeinginan memberikan kontribusi penyelesaian persoalan-persoalan ditengah kehidupan berbangsa.

Salah satu kontribusi PGI atas maraknya kasus intoleransi yang berujung pada radikalisme tersebut, mendasari PGI bersama dengan lembaga-lembaga keumatan lain seperti NU, KWI, Walubi, PHDI dan Matakin, melakukan penyusunan modul “Agama-agama Melawan Intoleransi dan Radikalisme”.

Penyusunan modul yang telah dibuat ini bebasis pada pembentukan komunitas muda lintas iman dan agama sebagai agen perubahan dan agen perdamaian untuk menjadi komunitas pioneer yang toleran. Maka dalam proses pelatihan dan sosialisasi modul ini, sekaligus juga menjadi sarana membentuk komunitas-komunitas antar iman muda yang akan menjadi fasilitator perdamaian dan kelompok yang toleran bagi komunitas mereka berasal dan diutus.

PGI menyadari bawah bekerja di hulu untuk menangani masalah intoleransi dan radikalisme adalah pekerjaan yang tidak mudah. Dibutuhkan sebuah revolusi mental umat beragama untuk menyadari keberagaman yang menjadi esensi dan kekayaan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, perlu upaya komprehensif dari berbagai pihak untuk mencegah gerakan radikalisme dan terorisme semakin berkembang yang dapat mengancam NKRI.

Tujuan
1. Mengenal dan memahami berbagai gerakan radikalisme berbasis identitas primordial yang berkembang di indonesia.
2. Belajar dan hidup bersama antar agama sebagai jalan mengurangi kecurigaan antar kelompok yang menjadi dasar bisa saling menghargai dan anti pada tindakan intoleransi
3. Membentuk komunitas lintas iman sebagai wadah kader-kader lintas iman agar bisa menjadi pioneer perdamaian.
4. Membentuk dan membangun kapasitas bagi kader yang bisa melakukan sosialisasi konsep toleransi dan melakukan kampanye tentang hidup di dalam kebhinnekaan.

Strategi Pelaksanaan
Persiapan
Perekrutan pemuda lintas agama yang dilakukan di daerah tempat pelaksanaan pelatihan. Rekrutmen ini dilakukan bersama dengan lembaga mitra di daerah pelaksanaan kegiatan. 
Pelaksanaan pelatihan modul toleransi kepada para pemuda pilihan yang akan menjalankan live in.

Lokasi live-in akan ditentukan di daerah pelaksanaan kegiatan yang mengambil rumah ibadah, pesantren, perkampungan masyarakat dan lain-lain yang disesuaikan untuk mencapai tujuan kegiatan.

Peserta
Peserta terdiri dari 35 orang (dari komunitas lintas iman/agama dan keseimbangan jender) di wilayah Jawa Timur. Mereka adalah kelompok usia muda antara 20-30 tahun.

Live In 
Live in adalah strategi yang dipilih untuk proses training ini. Strategi ini mejadi pilihan untuk memaksimalkan interaksi dan ralasi para peserta dengan masyarakat yang dikemuadian hari akan manjadi ruang bagi kampanye-kampanye perdamaian dan  melawan radikalisme.

Selama live-in kegiatan yang akan dilakukan oleh para pemuda lintas agama antara lain FGD : focus group disscusion (diskusi terarah) membahas isu-isu dan strategi adaptasi/bahan modul pelatihan untuk memperdalam pemahaman tentang hidup bersama dalam keberagaman dsb. Penyusunan strategi aksi yang dapat dilakukan bersama untuk meningkatkan toleransi antar umat beragama sebagai bentuk kampanye mengembangkan hidup toleran dan perdamaian dalam bingkai kebhinnekaan.

Gerakan Aksi dan Kampanye
Pelaksanaan gerakan aksi pada akhir puncak live in sesuai rancangan aksi saat FGD seperti : gotong royong membersihkan tempat ibadah lintas agama, pembuatan gambar, publikasi atau kreasi ruang publik dengan tema kebersatuan dalam keberagaman.

Mengunjungi situs-situs keagamaan yang ada di daerah lokasi kegiatan (makam Gus Dur, GKJW Mojowarno dan Pura Amartya Ngepeh).

Monitoring dan Evaluasi
Identifikasi hasil dampak pelatihan dan kegiatan live in serta aksi nyata melalui kuesioner

Tempat Pelaksanaan 
Training ini akan dilaksanakan di Klenteng Hong San Kiong Gudo Jombang, Jawa Timur pada tanggal 11-14 Juli 2017.

Pelaksana
Kegiatan ini dilaksanakan oleh PGI bekerjama dengan GUSDURian Jombang dan Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD) Jawa Timur.

Fasilitator
- Pdt. Penrad Siagian (PGI)
- Aan Anshori (JIAD)
- Amin Siahaan (JKLPK)

Pendaftaran
Pendaftaran dapat dilakukan melalui formulir online SEBELUM tanggal 5 Juli 2017. Hanya pelamar terpilih yang akan dihubungi panitia. Bagi pelamar terpilih, panitia akan menanggung akomodasi selama training, live in, field trip dan dukungan transportasi lokal.

Kontak Panitia
Affandi 085649770810 (WA) 
Susi 081217604928

Penutup
Demikian kerangka acuan ini dibuat untuk menjadi panduan pelaksanaan kegiatan.

Thursday, May 18, 2017

KUPI Dan Perjuangan Panjang Kaum Tertindas

Kata KUPI mirip dengan 'kopi'. KUPI sendiri singkatan dari Kongres Ulama Perempuan Indonesia. Ketika kami berangkat ramai-ramai dengan semangat membara dari Jombang menuju Cirebon lewat jalur utara (kota Babat) karena di jalur selatan sudah tidak ada lagi tiket, ada seorang saudara lelaki yang bilang begini; "Wah ikut KUPI pasti tidak ngantuk karena minum kopi terus,"

Wednesday, April 19, 2017

Lovely Cecilia: Tarik Ulur Kristen-Islam

Ini adalah foto anakku Cecilia bersama tantenya. Saat SD, setahuku sangat mungkin ia adalah satu-satu siswi di kelasnya  yang memanggul nama panggilan tidak islami; Cecil. Ia sekolah di SD Islam sesuai arahan bunda tercintanya.

Saat dalam kandungan, kami --aku dan pasanganku-- sepakat urunan nama untuknya. Aku awalnya menimang Abigail sebagai nama yang ingin aku sematkan padanya. Namun belakangan aku memilih Cecilia karena terdengar dan tertulis lebih sexy. *halah

Sedangkan bundanya memilih Vraza karena terinspirasi nama butik --entahlah. Ia waktu itu juga tidak tahu artinya. "Nggak ngerti, Mas, sing penting itu terasa indah menurutku," ujarnya.

Aku pun tak hendak mendebatnya.

Maka, jadilah anak sulungku bernama Vraza Cecilia --tanpa kami tahu apa arti sesungguhnya.

Saat ia berusia beberapa bulan, ia kami bawa ke Gresik, kampung bundanya. Semua menyambut gembira dengan kehadiran Cecil. Namun gumaman miring dari keluarga Gresik kami dengar setelah mereka tahu namanya. "Lha kok jenenge koyok wong Kristen gitu? Apa nggak sekalian ditambahi Mississipi Arizona?" kata salah satu keluarga dengan nada guyon. Kami pun tertawa sambil berargumentasi ringan.

Perlu diketahui, pasanganku lahir dari keluarga yang bisa dikatakan suangat santri. Ayahnya kiai kampung yang sangat keras mendidik warga dengan hukum islam yang ketat. Ia semakin disegani karena kemampuannya di bidang falak (astronomi). Ayahnya adalah penentu kapan orang sekampung bisa memulai dan mengakhiri puasa Ramadlan. Anda tahu, konon, almarhum mertuaku itu bisa meramalkan kapan sehelai daun akan jatuh dari pohonnya. Aku tahu karena beberapa penduduk di sana menyatakan demikian. "Hebat benar bapak mertuaku ini," gumamku.

Dengan seluruh kemampuan dan pengalaman yang ia miliki, maka bapak mertuaku itu sangat selektif memilih jodoh untuk putri2nya. Kriteria utamanya, tentu harus berpenampilan santri!

Itu sebabnya ia cukup kaget anak bungsunya membawaku ke rumah setelah kami 4 tahun pacaran, dan berani mengatakan 'Pak, iki Aan, koncoku" kata istriku. Ingatnya, dalam tradisi sana, jika ada laki-laki yang berani datang ke rumah itu artinya harus siap dikawinkan.

Almarhum mengecekku dari atas hingga bawah, tanpa berbicara sedikit pun. Aku tahu, ia tak suka denganku. Maksudnya, ia semacam tak rela bungsu yang ia sangat sayangi jatuh ke tangan laki-laki yang tidak ada sedikitpun jejak kesantrian menempel di tubuh. Apalagi berambut agak gondrong dengan jari kaki --salah satunya-- bercincin.

Kembali ke Cecil anakku. Kami merasa keluarga besar ingin nama Cecil diganti yang lebih islami, tapi kami enggan. Akhirnya jalan tengah diambil; namanya harus ditambahi dengan diksi islam. Kamipun mempertimbangkan itu dan menerima.

Akhirnya Cecil kami bawa ke Kauman Mojoagung -- menemui ibuku. Ia sangat bersuka cita dengan cucu pertamanya. Amiroh meminta agar mertuanya bisa menambahkan nama untuk cucunya itu --setelah kami menceritakan peristiwa di Gresik.

Ibuku tentu senang dan berjanji akan mencarikannya. Sedikit catatan, almarhum ibuku sering dimintai nama bayi oleh banyak orang. Relasi sosialnya cukup bagus mengingat ia adalah pedagang di pasar Mojoagung sejak lama. Puluhan tahun. Pendek kata, tak ada penghuni  pasar yang tak kenal "Kaji Alfiyah".

"Tambahono Aida Zamzama, nduk. Kayaknya pas," katanya kepada pasanganku. Amiroh pun setuju. Maka jadilah anak sulungku bernama Vraza Cecilia Aida Zamzama.

Ia kini tumbuh dewasa. Mungkin suatu saat aku akan menjalani laku sebagaimana bapak mertuaku dulu; mengecek setiap laki-laki yang ngepoin anak gadisnya.

Saturday, April 15, 2017

Jalan Salib --dari Tebuireng ke GKJW

Begitu mendapat undangan prosesi arakan salib Paskah di GKJW Jombang, aku langsung mencatat tanggalnya di kalender, Sabtu (15/4). Selama ini aku tak pernah melihat secara langsung bagaimana episode penting Yesus di Bukit Golgota. Paling-paling hanya bisa menyaksikannya melalui koran, internet atau saat film Passion of Christ-nya Mel Gibson diputar.

Itu sebabnya, aku sudah berencana memenggal kuliahku yang memang merendeng dari jam 8.30 - 16.00 hari ini. Memang berat mengkompromikan jadwal nonton prosesi dengan kewajiban masuk kelas --apalagi hari ini dimulainya matakuliah baru 'Filsafat Hukum Keluarga Islam'.

Tuhan ternyata masih berpihak padaku. Matakuliah Dr. Miftah diakhiri jam 15.30 setelah lelaki asal Lamongan ini menutupnya dengan membagi tugas presentasi.

"Antum coba bikin presentasi gegerannya Imam Ghazali vs Ibnu Rusyd ya. Dan jangan lupa menautkan implikasi filosofisnya terhadap formasi sistem hukum keluarga Islam," ujarnya sembari menunjuk kepadaku.

"Matek!" aku merutuk dalam hati. Namun demi percepatan bubarnya kelas maka aku iyain saja.

Segera aku memacu Shogun bututku ke arah kota, menjauhi Tebuireng, kampus Sabtu-Mingguku.

Aku tak mau kehilangan moment bersejarah ini. Bagi GKJW Jombang --gereja tempat banyak temanku berproses-- prosesi Paskah ini adalah yang pertama kalinya sejak gereja ini didirikan. Kalian tahu berapa usianya? 95 tahun! Dan baru kali ini mereka punya keberanian melakukan arakan.

Mereka selalu diliputi kecemasan antara menggelar atau tidak. Dan kecemasan itu telah menyandera mereka selama 94 tahun hingga hari ini.

Seperti aku duga, polisi telah berjaga-jaga menutup akses ke jalan Adityawarwan dari pertigaan Kartini. Ada beberapa tentara dan tentu saja cukup banyak intel berseliweran. Dari mana aku tahu mereka intel? Aku punya radar untuk itu:).

Segera aku hubungi kawanku di Jawa Pos agar meliput momentum bersejarah ini. Aku memang tak pernah mampu membayangkan arakan salib bisa dihelat di Kota Santri ini, apalagi ditengah mengamuknya badai intoleransi Pilkada Jakarta. Sungguh.

Bersyukur aku bisa menyaksikan dari awal hingga "Yesus" diturunkan dan acara bubar. Kalian tahu siapa yang berperan jadi Yesusnya? Dia adalah Nanda, calon pendeta yang tengah vikar di gereja tersebut. Nanda adalah pengisi Ngaji Gus Dur putaran III. Saat itu ia mempresentasikan skripsinya tentang Gus Dur dan pluralisme.

"Cuk, ternyata kamu to yang tadi disalib," sapaku tertawa saat usai acara dan ia menghampiriku yang sedang makan soto dengan Pendeta Chrysta Andrea --senior di GKJW.

Nanda hanya cengengas-cengenges saja, "Suwun rawuhipun, Gus".

Rasanya hanya aku saja undangan yang datang dari Muslim, tidak termasuk aparat keamanan yang menjaga prosesi itu.

Memang ada banyak perempuan berkerudung sebagaimana tampak di foto. Namun mereka bukanlah muslimah, melainkan jemaat perempuam GKJW yang tengah berbusana dalam konteks zaman Yesus hidup.

Sepanjang pengetahuanku, wafat atau tidaknya Yesus/Isa merupakan polemik yang tak berkesudahan. Ada banyak teori tentang kematian sosok penting bagi umat Kristiani. Jangankan antara Kristen dan Islam, di internal Islam sendiri saja belum ada kata sepakat. Para penafsir al-Quran yang hidup ratusan/ribuan tahun pasca Yesus masih bersitegang mengartikan diksi 'mutawaffika' di Surah Maryam. Beginilah jika aspek historis dan teologis diaduk-aduk tak karuan. Rumit.

Aku sendiri pernah menulis artikel pendek menyangkut misteri penyaliban Yesus dari perspektif Islam, judulnya "Kematian Berkabut; Refleksi Personal Menghormat Paskah". Anda mungkin akan menemukan sesuatu yang sangat mungkin tidak diajarkan selama anda di SD hingga kuliah di institusi Islam, termasuk di pesantren.

Aku benar-benar menikmati perayaan ini, sebagaimana aku larut bersama ratusan warga Hindu Senduro di kaki Gunung Semeru saat pawai ogoh-ogoh kemarin. Aku benar-benar merasakan bagaimana menjadi minoritas di tengah lautan manusia ---seberapa sering kita mendapat pengalaman seperti ini?

Maka, segera aku kirim impresi ke kawanku yang menjadi jurnalis, melalui whatsapp, "Sebagai umat Islam, aku mengapresiasi perayaan keagamaan ini, sebagaimana aku mengapresiasi perayaan Maulid, Nyepi, atau yg lain. Perayaan ini sekaligus makin mengokohkan Jombang sebagai Kota Santri sekaligus Kota Toleransi,"

Semoga beritanya bisa kalian nikmati di Radar Jombang Jawa Pos esok pagi, Minggu.

Happy Easter, fellas!

Saturday, April 8, 2017

Timun & Sindrom-Iri-Vagina (2)

Pak Tar ternyata sibuk melayani pembeli. Aku sendiri sudah cukup lama nongkrong di warung kopi itu. Saatnya membeli lombok dan telur --pesanan pasanganku-- ke pasar sebelah.

Sosok 'kejantanan egois' Pak Tar, mengingatkanku pada curhat colongan seorang teman aktifis saat kami ngobrol 8 tahun lalu, bersama banyak kawan. Ia ada di friend lists FBku.

"Dari 10 kali hubungan seksual dengan suamiku, aku hanya 'nyampe' sekali saja," katanya dengan derai tawa.

'Nyampek' adalah istilah lain dari 'mendapatkan kenikmatan seksual', istilah teknis operasionalnya, o-r-g-a-s-m-e.

Saat memfasilitasi workshop penarasian memori beberapa waktu lalu, aku juga iseng melontarkan pertanyaan yang di forum --pesertanya laki-laki dan perempuan. Seingatku ada dua perempuan yang menjawab.

'Kalau aku hanya 2-3, pak" kata Sita --bukan nama sebenarnya.

'Nek aku yo podo pak. Biasane bojoku nek "wis" yo langsung ngorok,' Detta menimpali. Juga nama samaran.

Harus diakui, laki-laki sangat dimanjakan oleh berbagai instrument sosial, lebih-lebih keagamaan, untuk bebas berkehendak di atas ranjang. Tentu saja ada konsep egaliter dalam al-Quranemyangkut relasi suami-istri, misalnya, wa'asyiruhunna bi al-ma'ruf (menggauli istri dengan baik) dan/atau hunna libasu al-lakum wa antum libasu al-lahun (istri adalah pakaian suami, pun sebaliknya).

Namun, terdapat teks Quranik benderang yang kerap menjadi basis legitimasi kesewenangan laki-laki atas pasangannya, misalnya saja, nisaukum khartsu al-lakum fa'tu khartsakum anna syi'tum --pasanganmu adalah ladangmu, maka datangilah ia dengan cara yang kamu suka.

Mungkin itu sebabnya, bagi laki-laki yang suka bergaya "aneh" di atas ranjang tanpa peduli consent pasangannya, kerap akan menggunakan jurus domestic-confidentiality untuk berkelit.

Dari sini, apakah Anda sudah paham dengan istilah 'consent' dan "domestic-confidentiality"? Jika belum, aku akan jelaskan.

Consent itu penerimaan yang didasarkan atas kepahaman akan dampak maupun resikonya. Masih belum paham? Kira-kira begini contohnya; "Mama, aku pengen WOT. Konsekuensinya, lututmu mungkin akan lebih mudah capek lututmu tapi bla...bla...bla... Gimana, boleh?"
Kalau istrimu ok, ya lanjut.

Sedangkan confidentiality-domestic adalah kerahasiaan keluarga. 'Awas lho ya, jangan diomongin ke tetangga  kalau aku habis mukul kamu. Ini aib, Ma, aib...." Kira-kira seperti itu contohnya.

Aku tidak sempat menanyai Pak Tar, berapa banyak gaya bercinta yang ia praktekkan. Itu sangat ditentukan oleh sejauhmana ia mengakses pengetahuan tentang itu. Jika ia membiarkanku 5 menit saja bersama gadgetnya, aku bisa tahu sedekat apa seseorang dengan pornografi; cek recent history browser, lihat folder gallery, dan masih ada trik lainnya. Sayangnya, Pak Tar tidak memakai smartphone.

Pak Tar mungkin akan sangat kecewa jika tahu memaksa pasangan (istri) berhubungan intim merupakan tindak pidana, menurut UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Pak Tar bisa jadi terkaget-kaget melihat betapa panasnya perdebatan legislatif atas UU a quo kala itu. Kabarnya, pernah ada anggota DPR yang mencak-mencak, "Ini negara model apa kok mau ngurusin ranjang seseorang!"

Mungkin legislator tersebut merasa terhina saat negara memasang 'cctv' di kamarnya untuk mengetahui apakah ada penindasan di atas kasur atau tidak. Ia sangat mungkin tidak sendirian karena bisa jadi puluhan juta laki-laki sepakat dengannya --tak rela kejantanan yang didedahkan dengan cara sewenang-wenang berujung pidana.

Saat polemik RUU tersebut mencuat, saya teringat, SCTV menggelar diskusi terbuka. Rosiana Silalahi sebagai hostnya, jika memoriku tak tergerus. Ada perempuan didatangkan ke acara itu dan ia berbicara di balik korden hitam.

Perempuan itu menceritakan pengalamannya. Setiap kali ingin berhubungan intim, suaminya selalu merebus timun terlebih dahulu, sejam sebelum ML. Besarnya kira2 seukuran timun yg sekilo isi tiga biji.  Setelah agak kenyal, timun itu didiamkan ke dalam air dingin beberapa menit, lalu dipasangi kondom.
"Trus gimana, bu?" tanya Rosi.
"Yaaa 'itunya' bapak masuk ke anu saya, timunnya masuk ke dubur," jawabnya enteng.
"Nggak sakit?' Rosi menimpali agak begidik
" Ya sakit sekali. Lebih dari sepuluh tahun seperti itu, Mbak"

Menurut perempuan tersebut, ia mau melakukan itu karena tugas istri adalah membahagiakan suami, meski sakit. "Nanti kalau nggak dituruti dan cari perempuan lain,

Aku miris sekali menyaksikan tayangan itu, sembari berfikir apa yang sebenarnya ada dalam benak suaminya. Is it love? Hatred? Or just one of symptoms of vagina-envy-syndrome?

Percayalah padaku, ada ribuan perempuan yang masih tersandera di ranjang suaminya. Jika tidak percaya, silahkan cek di Komnas Perempuan. Datanya melimpah ruah Cukup untuk membuat kita, para lelaki, berhenti semena-mena.

Aku kembali ingat Pak Tar. Besok pagi kami satu forum lagi di warkop pasar pithik.

Friday, April 7, 2017

Jeruk & Sindrom-Iri-Vagina

Lihatlah keranjang dengan tumpukan jeruk di atasnya. Itu adalah lapak milik Pak Tar, lelaki yang ada di depan saya saat cerita ini aku tulis. Ia bisa katakan salah satu jamaah kopi pagi di mana aku adalah anggotanya.

Pak Tar menurutku sangat cerdas, terutama ketika membaca pasar. Saat pepaya lagi booming, ia menggelar buah itu beberapa hari di lapaknya, sampai datang musim buah lain. Ingatan saya, selain pepaya dan jeruk, ia paling sering menjual pisang. Jika musim durian berlangsung, ia segera merotasi dagangannnya.

Saat pasar buah sedang letih bercampur lesu, ia mengambil 'sabbatical day' dengan cara ikut menjadi buruh bangunan di proyek perumahan milik developer atau individual.

Itu sebabnya, ia hampir tak pernah kesulitan dengan ketersedian uang. Pernah ia mengatakan, paling sedikit ia bisa mengumpulkan minimal 200 ribu dari jualan minimalis seperti itu. Kalikan angka itu dalam 20 hari, dan bandingkanlah dengan penghasilan kalian selama sebulan.

Aku meyakini penghasilan trtsebut menjadi faktor kunci konfidensi Pak Tar dalam berelasi, termasuk dengan pasangannya.

Dengan gayanya yang ceplas-ceplos terbuka, baru saja ia menceritakan sekelumit kehidupan seksualnya di hadapan kami, para jamaah pasar pitik.

"Aku menetapkan undang-undang pada istriku," ujarnya dengan suara menggelegar. "Setiap malam, istriku wajib menawariku berhubungam seksual, nggak peduli aku butuh atau tidak. Pokoknya harus ditawari," tambah laki-laki berkulit gelap ini.

Penawaran tersebut, menurutnya, harus disuarakan dalam keadaan telanjang. Pak Tar juga menerapkan prosedur ketat bagaimana mereka saat tidur. "Nggak boleh pakai underwear! Awas kalau ketahuan pakai celana dalam, aku gunting," ia tegas.

Iseng aku nanya bagaimana kalau istrinya capek atau sedang tidak berhasrat. Pak Tar langsung menimpaliku bahwa tugas istri adalah melayani, membuat suami puas di ranjang. "Mana berani ia melawanku? Apa dia ingin aku cari perempuan lain?" ia terkekeh-kekeh.

Memoriku langsung menggulung ke belakang, melacaki teks-teks keagamaan yang berpotensi menjadi basis argumentasi Pak Tar. Aku tentu saja tanpa kesulitan menemukan beberapa.

Dalam pandanganku, teks-teks keagamaan Islam --sepanjang menyangkut urusan persenggamaan masih terlalu berpihak kepada laki-laki. Kenikmatan derit kasur sangat kurang terkonsentrasi melayani syahwat perempuan. Entah kenapa, namun aku curiga teks-teks bernada demikian disusun dengan nalar yang mengidap semacam sindromada. Aku menamainya sindrom-iri-vagina --aku belum gugling apakah istilah ini sudah ada secara akademik.

Sindrom ini menggambarkan kecemburuan laki-laki yang rata-rata mengalami ejakulasi lebih cepat dibanding perempuan. Laki-laki terobsesi itu, ingin memilikinya, namun tidak cukup punya kemampuan mengetahuinya caranya.

Keirian ini selanjutnya menggumpal dan mendorong praktek dekstruktif terhadap obyek yang di-iri-i. Kalian paham dengan penjelasanku? Aku pakai analogi begini saja, jika ada warung yang menjual dagangan persis sama dengan milik kalian, dan ternyata jauh lebih ramai pengunjungnya, apa yang akan kalian lakukan? Jika pilihan kalian adalah melakukan sabotase atasnya --alih2 mencontoh praktek bisnisnya-- maka, begitulah kira  sindrom-iri-vagina itu.

Namanya juga iri hati, pengidapnya kerap tidak mampu mengendalikan  obsesinya. Setiap hari ia mengalami kedukaan mahahebat, meratapi 'kekurangan'nya itu. Dan pada akhirnya membuat serangkaian 'ajaran' untuk diterapkan.

Aku menduga sunat kepada perempuan adalah bagian reflektif atas sindrome itu. Perempuan dicurigai memiliki kadar syahwati berlebihan, yang oleh karenanya perlu "normalisasi". Caranya, ya dilukai organ reproduksinya, agar tidak binal. Dan masih ada ajaran-ajaran lainnya.

Agar ajaran ini langgeng, maka ia kemudian distempel dengan klaim agama dan membangun argumentasi sektoral-akademik untuk menjustifikasinya. I presume.

Kembali ke Pak Tar, ternyata ia sudah tidak di tempatnya saat aku menyelesaikan tulisan ini.

Saturday, March 25, 2017

Pluralisme Sarung dan Celana Pendek

Untuk kesekian kalinya saya menghadiri diskusi bedah film yang diselenggarakan Staramuda, sekitar dua minggu lalu. Kali ini film besutan Ari Sihasale, Di Timur Matahari, yang mendapat giliran.

Jika biasanya penyelenggaraan diskusi berada di tengah kota, kali ini cukup jauh bergeser. Yakni mengambil posisi di Kepanditan Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno. Jaraknya sekitar 17 km dari pusat kota Jombang.

Mojowarno ini eksotik secara historis. Setelah 'ditaklukkan' oleh Ditrotuno (Kyai Abisai) -murid Coolen- sekitar akhir 1843, wilayah yang awalnya hutan lebat bernama Dagangan ini menjadi milestone penting dalam penyebaran kristen bumiputra di Jawa Timur.

Di Mojowarno inilah proses rekonsiliasi Kristen Jawa Timur terjadi pada 4-6 Agustus 1946. Setelah sebelumnya, GKJW terbelah menjadi dua kubu – Raad Pasamuan Kristen dan Majelis Agung GKJW- akibat perbedaan pandangan menyikapi politik kolonial saat penjajahan Jepang.

Entah sudah berapa judul film yang pernah dijadikan titik diskusi oleh Staramuda. Seingat saya ada beberapa. Agora, Long Walk to Freedom, Five Minarets in New York, "Tanda Tanya", 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta, Freedom Writer, cin(T)a, dan beberapa film lainnya.

Rata-rata adalah film berlatar belakang pluralisme dengan tarikan nafas anak muda. Romantis pelik, gairah dan perbedaan, serta kerumitan memilih merupakan beberapa kualifikasi yang kerap dijadikan instrument penapis film yang dipilih. Khas anak muda.

Maklumlah, Staramuda ini kumpulan individu yang mendaku dirinya sebagai anak muda dengan beragam latar belakang. Tak hanya agama serta etnis, mereka pun punya orientasi seksual dan identitas gender yang tidak tunggal. Islam, Kristen, Hindu, Budha, gay, straight, lesbian dan transgender ada di organisasi ini.

Dalam catatan saya, Staramuda merupakan satu-satunya organisasi yang berada di lingkar Jaringan GUSDURian dengan corak pelangi yang begitu kental.

Sungguhpun demikian, film dan perhelatan diskusinya bukanlah fokus yang ingin saya tulis. Namun, lebih kepada apa yang saya kenakan saat mendatangi event tersebut.

Sebenarnya tidak ada istimewanya dengan sarung yang membalut tubuh saya. Memakainya merupakan kelaziman, semacam pakaian dinas harian. Terutama saat menemui tuhan dan rapat resmi NU.

Pada perkembangan lanjutan, sarungan dalam kontinum-subyektif bagaimana saya membusanai tubuh telah menjelma sebagai titik kompromi; antara keengganan memakai celana panjang dan kerikuhan untuk terus-menerus berparade mengenakan celana pendek.

On the record, saya senang sekali memakai celana pendek dan berkaos. Rute terjauh yang pernah saya tempuh dengan memakai celana pendek, kaos plus ransel terjadi minggu lalu, Hotel Harris Tebet - Pancoran - Soetta- Juanda - Bungurasih - Jombang. Ini jalur keramat dalam memorabilia percelanapendekan saya.

Anda tidak perlu mengandaikan tokoh sekaliber Gus Sholah atau Gus Mus akan menapaktilasi rute bersejarah tersebut dengan bercelana pendek. Disamping ngoyo woro (percuma), membayangkan keduanya seperti itu bisa dianggap su'ul adab.

Sungguh, tak ada yang istimewa dengan bercelana pendek dan berkaos --selain hanya berpotensi mendegradasi status seseorang di hadapan publik.

Masih ingat cibiran miring sebagian orang saat Presiden Gus Dur melambaikan tangan -bersama anaknya Yenny- di hadapan para pendukungnya sesaat sebelum meninggalkan Istana Presiden?

Gus Dur dianggap telah mengalami disorientasi. Mentalitasnya dituduh oleng akibat kekuasaannya dilucuti. Lalu Gus Dur diyakini tidak lagi sanggup mengendalikan cara berbusananya.

Saya memilih tidak percaya cibiran itu.

Dia bukan sosok ambisius. Tidak mengharap jabatan namun tidak akan menolak jika diberi mandat. Gus Dur tidak pernah meniati dirinya menjadi presiden sehingga cukup naïf jika dia dituduh terpukul saat kekuasaannya dilucuti.

Gus Dur adalah simbol kemerdekaan dan keserderhanaan dalam banyak hal. Dia seringkali memilih tidak cerewet dalam berbagai urusan. Anda tahu, dia rela berjam-jam menunggu kerumitan staf rumgapres menyulap jas lusuhnya saat sesi foto kepresidenan, sampai akhirnya disetrika sendiri oleh Mbak Ratih – Sekretaris Presiden- di hadapan puluhan staff tersebut? Padahal, Gus Dur sangat punya otoritas dan alasan kuat memecat staf-staf tersebut karena ketidakprofesionalan mereka berdampak pada penelantaran presiden. Namun, jangankan dipecat, dimarahipun tidak.

Di jaman Pak Harto, seorang staff dipastikan akan suram nasibnya hanya karena dianggap gagal menginterpretasi dehem Pak Harto.
Jika bercelana pendek identik sebagai symbol kejelataan, maka Gus Dur sangat mungkin tengah melakukan apa yang didengungkan sebagai desakralisasi istana kepresidenan. Yakni penjebolan mitos aristokrasi Istana Presiden, tempat di mana harga seseorang akan sangat ditentukan oleh busana yang dikenakannya.

Atau jangan-jangan, celana pendek Gus Dur ini adalah sublimasi dari apa yang kerap disuarakan oleh Emha Ainun Najib; "gak dadi presiden, gak pathe'en".

Wallohu 'alam. Hanya Gus Dur dan Tuhan saja yang tahu soal misteri celana pendek itu.
**

Saya tak hendak menyejajarkan diri dengan Gus Dur. Berfikir ke arah sana pun tidak berani. Namun, sejarah celana pendeknya memberikan snapshot penting untuk diimani; pada beberapa hal, melepaskan diri dari kekaprahan dan keumuman terkadang penting.
Resiko berbanding lurus dengan dampak yang akan dihasilkan.

Saat para kiai memilih resisten dan diam atas tuntutan korban 65, Gus Dur malah melakukan pembelaan, dengan sepenuhnya sadar. Hujatan dan cacian menderanya. Alih-alih mendukung, semua fraksi di DPR berbalik menentang gagasan ini, termasuk "fraksi" Kramat Raya. Gus Dur pun bergeming, bahkan saat beberapa korban 65 malah menggugatnya ke pengadilan.

Gus Dur, bagi saya, telah mencatatkan dirinya dalam sejarah gerakan pembelaan peristiwa 65. Dampaknya, membincang isu ini tidak akan pernah bisa mengabaikan legasi yang telah ditanam Gus Dur.

Nyatapun demikian, keberanian Gus Dur bercelana pendek tidak mampu menginjeksi nyali saya meneruskan
laku-katho'an ke acara bedah film Staramuda. Sungkan jika harus bertemu Pdt. Wimbo, pendeta senior pemangku gereja setempat.

Bercelana panjang rasanya bukan opsi yang menarik hati. Pilihan rasional yang tersedia adalah memakai sarung. Jika acara selesai, sarung bisa dilipat, dimasukkan jok motor dan saya bisa kembali bercelana pendek lagi.

Tiba di GKJW Mojowarno, dari kejauhan saya melihat sekumpulan orang berjejer duduk di teras kepanditan. Dari posenya yang tertib, saya sudah menduga mereka bukan peserta bedah film.

Feeling saya benar. Deretan itu terisi oleh para pendeta dan beberapa majelis gereja yang hendak ke luar kota termasuk tuan rumah, pendeta Wimbo. Saya teramat sangat bersyukur kenapa akhirnya memilih memakai sarung.

Kasus sarung ini terus berlanjut paginya. Adalah seorang pendeta perempuan yang ikut berderet kemarin. Dia yg saya kenal progresif dan tengah intens bergumul dengan isu politik tubuh, menceritakan jemaatnya yang melihat saya di bedah film.

"Bu ndito, mas ingkang ndamel sarung sat wingi niku pendito (GKJW) pundi?"

Saya sendiri tidak menganggap pertayaan polos tersebut sebagai hal aneh. Pergulatan historis sejak pertengahan abad 19 menjadikan gereja ini kental dengan tradisi lokal.

Sebutan kiai cukup populer sebagai representasi ketokohan kristen kala itu. Kiai Sadrach atau Radin Abas adalah sosok yang tidak akan ditinggalkan jika membincang historisitas genre kekristenan ini.

Bangunan gereja berarsitektur menyerupai masjid juga dapat dengan mudah ditemukan. Meski tidak lagi lazim, aksi kontemporer bernuansa Islami sering dilakukan "kakak" saya, Mas Chrysta Andrea. Dia adalah pendeta senior GKJW yang memangku wilayah Sitiharjo, sebuah desa di ujung selatan Kabupaten Malang.

Mas Chrysta kerap memakai songkok hitam a la Islam-NU pada pertemuan-pertemuan lintas iman. Dengan jenggot yg dibiarkan tumbuh cukup lebat, performanya persis gus atau kiai, aristokrat muslim. Saya melihat adaptifitas GKJW menerima kultur yang berkembang secara dialektis mempengaruhi pendetanya menjadi lebih lentur dalam mengapresiasi simbol-simbol agama/kebudayaan lain.

Dia, kawan-pendeta saya yang ditanya jemaatnya tadi, menilai aksi sarungan saya saat itu terasa unik dan memberikan corak warna lain. Sarungan tersebut ia yakini telah mengintrodusir kembali kedamaian, utamanya saat digunakan dalam momen relijius-heterogenistik dengan semangat pluralisme dan kemanusiaan.

Refleksinya itu mendorong saya berefleksi balik. Mungkinkah dia sudah muak melihat simbol-simbol agama diparadekan sebagai alasan menghancurkan agama dan keyakinan liyan, seperti halnya pada Peristiwa Situbondo 1996?

Dia barangkali begidik membaca brutalitas invasi kelompok Wahabi ke tanah Batak Selatan sepanjang tahun 1816-1820 dimana darah tertumpah sangat atas nama agama. Atau bahkan, dia limbung akibat membayangkan pembantaian massal yang dialami oleh Suku Qurayza pada tahun 627 masehi.

Saya, pada titik ini berharap ia tidak sedang termangu galau karena berhasil menelusuri jejak amok 65 di Jawa Timur dan Bali, yang sebegitu dahsyat pembantaiannya hingga Sarwo Edhie harus turun tangan menghentikannya.

Laksana gangbang, kodrat agama sebagai wajah agung tuhan telah diperkosa sedemikian rupa. Dihinakan kesuciannya melampaui batas terendah yg bisa dinalar manusia waras. Mungkin kekagumannya atas aksi-sarungan saya hanya basa-basi. Sebatas etika berelasi antarkawan.

Namun siapa yang bisa menjamin dia tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya? Siapa yang bisa menggaransi dia - dan mungkin ratusan juta penduduk Indonesia lainnya- tidak sedang mendamba negeri ini terbebas dari kutukan kekerasan berbasis agama? Dia bisa saja menaruh asa pluralisme merekah melalui salah satu simbol penting Islam jawa; sarung.(**)

Thursday, March 23, 2017

Pelangi untuk KH. Hasyim Muzadi dan Yu Patmi

Bertempat di aula GKJW Jombang, puluhan aktifis lintas iman Kota Santri menggelar doa bersama menandai 7 hari KH. Hasyim Muzadi, Kamis, 22/3.

Kordinator acara, Aan Anshori, menegaskan warisan alm. KH. Hasyim Muzadi terhadap kehidupan pluralisme di Indonesia. Alm. merupakan jembatan antarumat beragama untuk menjaga keragaman sebagaimana mandat konstitusi dan ajaran Islam.

Menurut Sholeh, wakil dari GKJW, KH. Hasyim Muzadi mempunyai ikatan emosional yang kuat dengan gerejanya. Beberapa kali Kiai Hasyim hadir dalam acara lintas iman yang diselenggarakan GKJW. "Terakhir kali ya dua bulan lalu di Sidoarjo. Pak Hasyim datang memakai kursi roda dengan tangan yang masih ada bekas infus. Kami berhutang jasa pada beliau," tegas guru injil ini dalam refleksinya.

Hal senada juga disampaikan Pdt. Kristian Muskanan, gembala Gereja Bethel Diaspora. Ia melihat Gus Dur dan Pak Hasyim sebagai sosok yang konsisten menyuarakan pentingnya hidup harmonis dalam keragaman. "Kami khusus mengadakan ini bagi beliau," ujarnya.

Tidak hanya untuk KH. Hasyim Muzadi, peserta yang hadir juga mendoakan Ibu Patmi, petani Kendeng yang meninggal dunia saat berjuang menolak pabrik semen. Patmi dan puluhan lain tengah melakukan aksi mengecor kakinya di depan istana.

Jaringan lintas iman Jombang, menurut Aan Anshori, mengajak seluruh warga Indonesia untuk tidak melupakan Ibu Patmi. "Patmi adalah simbol konsitensi keberanian rakyat melawan korporasi perusak lingkungan," tegas aktifis Jaringan GUSDURian ini.

Beberapa peserta lain yang hadir antara lain Pdt. Eddy Kusmayadi, Pdt. Eko dan perwakilan dari PMII, GKI, Gusdurian, GKJW, GBI Diaspora, dan mahasiswa S2 Univ. Hasyim Asyari Tebuireng.(aan)

Wednesday, March 15, 2017

Kota Santri, Kota Jorok Korupsi?

Berita dugaan jual-beli jabatan di lingkungan pemkab Jombang  kembali menyeruak untuk kesekian kalinya. Saat ini ada 7 SKPD yang lowong dan sangat berpotensi dijual dengan harga ratusan juta rupiah. Saya sendiri pernah mendapat cerita dari sumber internal terkait mutasi di tempatnya bekerja. Saat itu ada sekitar tujuh posisi strategis yg lowong di 1 SKPD. Kabarnya, seluruh posisi tersebut dibeli borongan 2 miliar. Itu pun hanya sebatas Plt. Kepala.

Bagi saya, komersialisasi jabatan melalui mutasi merupakan modus lama untuk meraup keuntungan secara ilegal. Mutasi-panas akam semakin sering terjadi manakala kepala daerah telah menghaiskan banyak uang saat politik elektoral. Begitulah rumusnya.

Jombang terkenal jorok untuk masalah transparansi dan akuntabilitas. Rasan-rasan komersialisasi tak pernah mendapat respon serius dari Bupati, misalnya dengan membangun sistem yang bisa mencegah terjadinya hal ini. Bupati dan wabup tak pernah memberikan teladan bagi pejabat dan rakyatnya agar taat melaporkan LHKPN. Bupati  dan Wabup tak pernah berani menerapkan zona integritas bagi seluruh SKPD.

Bagaimana dengan tim saber pungli? Saya merasa tim ini hanyalah lipstik-politik agar pemkab masih 'punya muka" di hadapan Pusat. Meskipun kinerja tim ini masih sangat jauuuhh dari idealitas sebuah tim penyapu pungli beranggaran 300 juta.

Jangankan menangkap pejabat sekelas Camat seperti di Mojokerto, menangkap kades yang kerap dikeluhkan kinerjanya saja belum mampu. Agar tidak terlalu, maka ditangkaplah bawahan selevel penarik karcis retribusi pasar. Memang luar biasa tim saber pungli Jombang! Seharusnya, mereka bisa menangkap penjahat yang lebih kakap, misalnya pihak-pihak yang terlibat dalam dugaan komersialisasi jabatan di pemkab.

Saya perlu mengingatkan kepada Bupati dan jajarannya agar berhati-hati, tidak terjebak dalam pusaran korupsi. Jangan sampai bernasib seperti Bupati Klaten yang terkena OTT KPK.

Tanpa komitmen antikorupsi yang jelas dan terukur, saya bisa katakan, duet maut Nyono-Munjidah telah sukses mencitrakan Jombang sebagai Kota Santri yang jorok oleh korupsi.

Warkop Seroja Jombang, 16 Maret 2017


Aan Anshori

Direktur LINK, Aktifis NU Jombang,
Relawan Santri Antikorupsi

Thursday, February 23, 2017

Dibawah Lindungan Dua Anjing

Hari ini, Kamis (23/2), merupakan akhir dari perjalanan saya. Sejak hari Minggu (19/2), saya keluar rumah menuju Lumajang dan Jember.

Pagi ini, saya memulai hari dengan menikmati secangkir kopi. Karena masih berstatus tamu, kopiku dibuatkan Mas Doni, suami Pdt. Nicky. Ritual ngopi menjadi semakin istimewa karena saya menikmatinya dengan penjagaan dua anjing di depan saya. Jaraknya 3-4 meter. Yang lebih kecil sekitar 7-8 meter. Entah siapa nama mereka.

"Biasane kalau ada orang asing masuk sini, pasti menyalak-nyalak keras, bersahutan. Namun kenapa tidak ke sampeyan ya Mas," kata Doni. Selama tinggal di komplek GKJW Sidoreno, aku melihat ada sekitar 3-4 anjing yang setia menjaga kawasan itu. Tadi malam ada tiga anjing yang 'ikut' jagongan saya dengan dua orang warga Sidoreno.

Kok tidak takut anjing? Ah, Siapa bilang. Sampai hari ini pun aku terus berusaha mengikis stigma yang ditempelkan ke binatang tersebut di memoriku. Buas, ancaman digigit, menjijikkan, perwujudan setan, dan lain-lain. Pembakuan ketakutan sebagian muslim --terutama Sunni madzah Syafi'i-- menjadi sempurna manakala anjing "diborgol" dengan status kenajisan paling berat; mugholladzoh.

Tidak hanya itu, di beberapa komunitas Islam --setidaknya di tempat saya dibesarkan, hanya ada satu kata jika ada anjing masuk ke desa kami; buru dan bunuh. Saya masih ingat betul saat masih di kelas 5 madrasah ibtidaiyyah, saya bergabung dengan puluhan orang dan anak memburu anjing yang masuk desa. Tentu saja kami membawa aneka senjata tajam! Kami punya senior yang dikenal kejam, ia yang memimpin perburuan itu.

Saya masih mengingat, betapa takutnya anjing itu saat tertangkap setelah persembunyiannya di barongan (kawasan pohon bambu) kami kepung berjam-jam. Mungkin ia terkencing-kencing saat mendengar sorak-sorai kami. "Pateni ae! Kepruki boto ae! Ayo diedel2!".

Saya ikut larut dalam gempita itu. Entah bagaimana menjelaskannya, namun ketakutan (paranoid) bisa membuat orang berubah menjadi sangat bengis. Saat mempelajari Peristiwa 65, saya menemukan diksi amuck atau amok, yakni paranoia terhadap PKI yang memicu orang tega melakukan pembantaian massal dengan cara-cara yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Meski saya belum menemukan teks al-Quran yang secara eksplisit menyuruh umat Islam membenci anjing, namun yang mengagetkan, ajaran kebencian kerap kita temukan dalam hadits yang kerap dinisbatkan kepada nabi. Misalnya, dalam kitab Muwatta' karya Imam Malik, atau Musnad milik Ibn Hanbal.

Abu Hurayra pernah dikutip Bukhari, Muslim, dan Musnad, ketika menyatakan batalnya shalat seseorang jika ada anjing, keledai, dan perempuan, yang melintas didepannya. Aishah, istri Nabi, pernah protes keras kepada Abu Hurayrah yang menyamakan perempuan dan anjing.

Entah benar atau tidak Nabi pernah mengucapkan hal-hal buruk mengenai anjing, saya tidak tahu. Yang saya ketahui, hikayat ashhab al-kahfi dengan anjingnya menghiasi al-Quran hingga sekarang. Yang saya tahu, paranoia terhadap anjing masih setia menjalari benak banyak Muslim. Termasuk dua pendekar FPI yang tunggang langgang didekati anjing pelacak polisi saat mereka mendemo Ahok 11 November 2014 lalu.

Thursday, February 2, 2017

Darah Promotheus di Warkop Tebuireng

Saya tersanjung dengan tulisan ini meski ada beberapa yang terasa berlebihan dan perlu dikoreksi. Terima kasih, Tessa.
Saya merasa hanyalah seorang santri kalong, bukan keluarga, apalagi pure blood Tebuireng. That's away of my league.

Khusus untuk urusan darah daging ini kita memang perlu hati-hati. Gara-gara darah, Nusron terpaksa perlu mengupload foto ijasah dan akte lahirnya --hanya untuk menegaskan kata "wahid' bukanlah kegenitannya agar dianggap trah Ciganjur. Gara-gara (garis) darah pula, kontestasi Sunni-Syiah yang bersimbah darah sepertinya akan terus langgeng hingga kiamat.

Saya memang kerap ke Tebuireng  untuk berbagai kebutuhan. Intensitas kunjungan saya meningkat karena sejak tiga bulan lalu, saya 'nyantri' di Univ. Hasyim Asy'ari.  Setiap Sabtu dan Minggu harus masuk kelas  Hukum Keluarga Islam untuk mendengar dosen dan berdiskusi dengan mereka

Harap juga diketahui, salah satu kesenangan saya adalah mengantar orang-orang berkunjung ke komplek pemakaman Tebuireng, khususnya ke Gus Dur. Saya menganggap aktifitas pengantaran itu bagian dari laku wajib sebagai orang Nahdliyyin marja' GUSDURian. 

Adalah kehormatan bisa mengajak banyak orang berkunjung ke Tebuireng, tentu saja sembari berlagak seperti tour-guide --membagi-bagi cerita Gus Dur agar bisa diteladani.

Dengan seperti itu, saya merasa seolah membawa obor layaknya Prometheus, seorang Titan yang meski dirantai oleh Zeus namun tidak membuatnya menyerah 'mengambi' obor dari surga untuk diberikan kepada manusia -begitulah Merriam Webster mendefinisikan Prometheus.

Kata 'promotheus' itulah yang agak menyentak saya ketika tahu kata ini dijadikan bagian dari nama blognya Tessa. Entah apa yang melatarbelakanginya memilih diksi itu. Bisa jadi ia mempunyai keinginan karyanya bisa dipublikasi Prometheus Publishing, penerbit kondang yang diinisiasi filosof Paul Krutz pada 1965.

Atau, jangan-jangan dia, sebagaimana halnya saya, telah jatuh cinta pada salah satu serial X-Files yang berjudul "The Post-Modern Prometheus". Namun agaknya saya tidak terlalu yakin dia juga menggandrungi 'Walking in Memphis', lagu yang menutup serial tersebut dengan indah.

Meski demikian ketidakyakinan itu tidak lantas membuat saya ragu mengatakan Tessa adalah sedikit kader HMI yang punya cita-cita indah membuat Negara ini menjadi lebih baik, seperti halnya Ahmad Wahib, Nurcholis Madjid maupun Syafii Maarif.

Ketiganya adalah Promotheus, yang meski kaki dan tangannya 'dirantai' namun menolak tunduk menjadi apa yang tidak mereka kehendaki. Mereka bertiga tetap membawa obor bagi kemanusiaan. And I hope you will be the fourth, Tessa!

Memenjarakan Diri di Rutan Gresik

Hampir berusia setengah abad, baru kemarin saya berlama-lama dalam penjara. Itu pun harus terlebih dahulu memacu motor dengan jarak 150an kilometer pulang pergi.

Saya berangkat jam 5.45 agar bisa tiba di Rumah Tahanan (rutan) Cerme Gresik pukul 8.30. Maklum waktu besuknya hanya sampai 11.30.

Saya memang janjian dengan teman-teman Forum Masyarakat Gresik Cinta Keberagamaan (Formagam) - kumpulan penggiat lintas iman Gresik di mana saya ikut membidani kelahirannya beberapa tahun lalu- untuk mengunjungi Khosyiah.

Khosyiah adalah teman baik kami. Di mata saya, ia adalah sosok aktifis lugu, sangat sederhana namun punya komitmen kuat terhadap nasib orang dan temannya. Khosiah tidak bisa mengendarai motor, apalagi mobil. Jadi jangan tanya apakah dia punya dua kendaraan itu karena jawabnya adalah; tidak punya.

Identitas-identitas itulah yang membawanya harus meringkuk di penjara karena dikibuli karibnya. Ia terperosok dalam kubangan huru-hara P2SEM yang membuat tidak sedikit teman-teman saya satu korsa berjatuhan di tangan kejaksaan negeri.

Kasus P2SEM adalah epik panjang perang saudara yang dibalut keserakahan, dusta, intrik politik, maupun ambisi personal. Saya merasakan jargon "Hari ini kita makan siapa?" merupakan hal jamak di kasus ini, bahkan terhadap temannya sendiri.

Sekitar tanggal 21 September 2016 dini hari, enam hari sebelum ia dipenjara, Khos menemui saya di Jombang dengan dibonceng adikk
nya, dari Bangkalan. Meski saya sangat senang bertemu dengannya, namun tetap saja rasa penasaran menyembul-nyembul di hati; iki jane onok opo se?.

Khos menceritakan kasusnya, singkat. Saya cukup terperanjat karena mengira kasus tahun 2008 itu sudah selesai.

"Iya sudah selesai. Namun aku dituntut lagi. Kali ini tipikor dan putusan kasasi sudah turun," lirih suaranya.

"Koen mangan duit sing mbok kelola gak?," saya langsung menohoknya.

"Ora, An, semua untuk kegiatan. Aku diberi 40 juta untuk kegiatan dan bantuan, ya aku gunakan sesuai prosedur. Belakangan aku ngerti kalau dananya ternyata 150 juta" ia menjelaskan sembari menyebut beberapa nama yang saya kenal sebagai orang "atas' yang sangat paham program itu. Belakangan ketika membaca putusan kasusnya dari situs MA, beberapa nama itu muncul di sana. Dan mengingkari pernah mengenal Khos. Pengadilan memang sirkuit ampuh membuka topeng siapa kawan dan lawan kita.

Saya akhirnya masuk ke Rutan itu bersama tiga orang; Pak Gideon, Pak Djoko, dan Pak Eko. Dua yang pertama adalah pendeta dan majelis GKI Gresik, sedangkan yang terakhir pengurus Gereja Katolik.  Kebetulan Pak Gideon sekalian melakukan pelayanan di penjara.

Saya ikut ke gereja melihat beberapa penghuni melakukan persiapan. Di sebelahnya, saya mendengar orang yang tengah mengaji.

"Sejauhmana kehidupan toleransi di sini, Pak?" saya membuka pembicaraan ke Pak Sianturi, pejabat rutan yang tercatat sebagai warga GKI Gresik. Entah apa jabatannya, namun dari tindak-tanduknya terhadap petugas lain, dia nampaknya punya jabatan menengah ke atas. Imperative style. Terasa cocok dengan marganya.

Dia kemudian menjelaskan secara normative kerukunan hidup muslim-kristen di sana. "Jika natalan, kami menghadirkan berkat bagi semunya. Empat ratus orang, Gus," ujar Sianturi ke-14 ini.

"Apakah yang Muslim ada yang mau membantu menyiapkan perayaan? Apakah ada yang mau hadir dan mengucapkan selamat jika Natal tiba?" saya agak mendesak.

Meski tidak semua, Sianturi menjelaskan, beberapa tahanan muslim kerap membantu mempersiapkan perayaan. Banyak dari mereka yang ikut bersuka cita. "Kami guyub, kalau lebaran kami mengucapkan selamat, begitu juga  saat natal," tandasnya.

Saat kami diskusi, ada seorang laki-laki berwajah preman yang selalu memperhatikan kami. Di duduk di sebelahnya Pak Sianturi. Dia bukan pengunjung nampaknya. Saya memperhatikan tangannya, ada akik kusam namun terlihat mahal. Potongan rambutnya kekinian, a la anak muda meski ia sudah paruh baya. Merek rokoknya pun tak luput dari amatannnya, dan ia menghisap rokok menggunakan cangklong. Ya cangklong! Saya menebak; iapernah punya status sosial di masyarakat. Auranya nampak begitu.

Laki-laki itu ternyata mantan kades Suci, ia divonis 5 tahun gara-gara korupsi tukar guling tanah dengan pengembang. Ampun deh.

Ia kemudian terlibat pembicaraan dengan kami seputar toleransi dan radikalisme. "Saya tadi perhatikan, ngomong sampeyan kok banyak nyebut-nyebut NU dan Gus Dur. Saya NU, Mas, pernah menjadi pengurus LPPNU Cabang Gresik. Saat Gus Dur akan dilengserkan, saya ikut ke Jakarta, ngepos di pondoknya Yai Nur Iskandar SQ," ujarnya bersemangat kepada saya.

Saya memanggilnya Mas Udin, tahanan yang lain menyapanya Abah Udin. Dia mengelola forum istighotsah dan tahlilan di penjara. Malahan ia punya jadwal khutbah di masjid sebulan dua kali. "Narapidana nahdliyyin gusdurian bertampang preman yang divonis korupsi dan 5 bulan lagi keluar penjara ini menjadi khatib Jumat!? Gusti awwoh.. Luar biasa!" saya membatin kecut sembari geleng-geleng.

Mas Udin punya banyak cerita semasa di rutan. Sayang jika tidak ditulis. Saya dorong dia mencatatnya. "Kalau perlu minta tolong Khosyiah, Mas" ujar saya sembari menoleh ke Khosyiah. Karib saya ini memang punya kesibukan baru selama di rutan; menulis! Ia mencatat kisahnya juga kisah temannya. "Biase arek-arek nang aku, njaluk critone ditulis. Ya aku tulis," kata Khosyiah. Dia mengaku sudah menghabiskan 4 bolpoin untuk menulis. Mungkin Khosyiah tidak kenal Pram yang menghasilkan masterpiece selama diasingkan di Pulau Buru.

Saya tak menyangka Khosyiah menulis. Sungguh. Dia tipikal aktifis konvensional yang motorik; pinter merancang dan mengeksekusi kegiatan namun pasif mencatat, kecuali laporan -- karena bagian dari kegiatan.

Penjara nampak telah membuatnya banyak melakukan sesuatu yang baru. Ia tidak nampak sedih. Ceria dan riang yang menjadi ornamen kepribadiannya selama ini, tetap saya temukan siang itu. Saya bahagia sekali.

Selama di rutan, ia tetap aktif berhubungan dengan pekerjaannya selama ini; menulis surat, mereview laporan dan perencanaan, memberikan pendapat atas suatu masalah dan lain-lain. 'Biasanya kawan-kawan ke sini bawa berkas untuk aku review dan tanda-tangani," ujarnya menjelaskan.
Ia bahkan sempat mengkordinasi jaringannya di luar rutan agar menyelenggarakan bhakti sosial kesehatan di tempatnya. Menurutnya, jika para penghuni sehat, hal itu akan berdampak pada psikologisnya.

"Tidak bawa gadget?" tanya saya.
"Itu terlarang di sini. Aku biasanya pakai kurir (pembesuk), kertas dan bolpoint," ia menjawab tanpa ragu.

Kepada Pak Sianturi, Mas Udin. pak Djoko, Khosyiah, dan Pak Eko, saya meminta mereka untuk terus terlibat menyemai gagasan Gus Dur terkait keindonesian di penjara, sebab virus intoleransi kerap masuk melalui ceramah-ceramah pengajian. "Jangan sampai ada ustadz atau kiai yang menggelorakan kebencian di penjara ini. Itu ndak NU sekali," kata saya. Kami pun tertawa.

Saya merasa penjara memang unik, sanggup membuat orang berubah. Sistemnya, mengamini Foucault, memungkinan para penghuninya mengalami transformasi berdasarkan muatan relasi kuasa yang ada dalam sistem tersebut melalui konsep 'docile body'. Saya lantas teringat film favorit saya tentang penjara, Shawsank Redemption.

Di penghujung pemenjaraan diri, saya berpamitan. Saya beranikan diri bercipika-cipika lagi dengan Khosyiah sebagaimana pertemuan awal di ruangan sipir. Saya tahu ada kecanggungan karena kami tidak pernah melakukannya, for the sake of our nahdliyyin tradition.

Namun saya hanya berharap hal itu bisa menyatakan kesungguhan saya  hadir bersamanya, memberi dukungan atas keceriannya dan segala optimisme yang tengah ia gulati di sana.

'An, salam nang bojomu. Eh opo aku sido PK?" tanyanya melepas saya, Pak Djoko dan Pak Eko.

"Gampang, nanti kita diskusikan dengan yang lain. Teruslah menulis dan berbuat baik sebagaimana biasa,' saya melambaikan tangan sembari menuju gerbang besi angkuh setinggi 4 meter untuk keluar. (*).

Wednesday, February 1, 2017

Rilis Jaringan Alumni Santri Jombang (JAS-iJO) terkait Ahok dan KH. Ma'ruf Amin

Mencermati panasnya polemik Ahok dan Kiai Ma'ruf Amin dalam persidangan kasus dugaan penodaan agama, kami perlu menyatakan sikap sebagai berikut:

1. Meminta semua pihak menahan diri untuk tidak saling melukai secara verbal, dan mengedepankan dialog dalam menyelesaikan persoalan. Kami meyakini ada dua kekuatan besar yang tengah berusaha kuat membenturkan massa NU untuk meraup keuntungan politik dalam pilkada Jakarta. Dua kekuatan tersebut adalah partai politik oportunis dan kelompok yang selama ini kerap melakukan praktek intoleransi

2. Jas Ijo sepenuhnya bersikap tunduk kepada KH. Mustofa Bisri dan kiai-kiai lain yang mengedepankan; persatuan dan kesatuan bangsa, menjaga akhlak dan keikhlasan berkhidmat perjuangan, dan menolak penghalalan segala cara dalam berpolitik.

3. Mengapresiasi penuh seluruh kekuatan Nahdliyyin yang tetap setia membela muru'ah para kiai.

4. Mengapresiasi Ahok dan pengacaranya yang telah meminta maaf kepada Kiai Ma'ruf atas apa yang mereka anggap tidak pantas.

Jombang 1 Februari 2017

Aan Anshori

Featured Post

Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 35

Rilis Jaringan NU Kultural (JANUR)  Jombang, 19 Agustus 2026 Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 35 Muktamar ke-35...