Pages

Showing posts with label islam. Show all posts
Showing posts with label islam. Show all posts

Wednesday, February 3, 2021

JAWA DI ANTARA GUEST HOUSE DAN KURUSETRA ISLAM-KRISTEN

**ditulis untuk merayakan HUT ke-92 GKJ Bhayangkara Purwokerto

Jika ke Purwokerto, hanya ada dua tempat yang biasa aku jadikan jujugan menginap; kantor GUSDURian Banyumas dekat alun-alun dan guest house Gereja Kristen Jawa (GKJ) Bhayangkara Purwokerto, belakang Polres. Tidak jarang aku jalan kaki dari GKJ dan kantor GUSDURian. Lumayan jauh. Sekitar 2 kilometeran.

Dari sekitar 340an gereja milik GKJ sangat mungkin guest house GKJ Purwokerto yang paling sering aku tiduri. Guest house GKJ biasanya diperuntukkan bagi para pendeta yang "tukar mimbar," -- istilah bagi pendeta yang melayani diluar jemaatnya.

Meski aku bukan pendeta, GKJ Purwokero berbaik hati menampungku di sana. Mungkin mereka menerapkan prinsip; fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh teman-temannya. Tak peduli apapun agamanya -- mirip seperti yang ada dalam konstitusi.

Tidak hanya memberiku tempat tidur, mereka juga berbaik hati memberiku makan dan minum selama di sana. Namun tang paling penting justru, aku berkesempatan belajar kekristenan model GKJ Purwokerto.

Pada setiap kesempatan mengunjungi komunitas non-Islam, aku memposisikan diriku seperti mahasiswa jurusan studi agama-agama. Setiap tempat adalah medan pembelajaran memahami liyan. Pembelajaran ini tidak bertujuan apapun selain untuk bisa mengenali agar tidak salah paham.

Pada banyak kesempatan, selama di sana, aku sering ikut nimbrung saat ada pertemuan formal maupun informal. Aku pernah menyaksikan para adiyuswa (sebutan jemaat lansia) senam zumba di halaman gereja. Kebetulan salah satu pendetanya, Maria Puspitasari, cukup lihai dalam aspek ini.

Beberapa kali juga aku ikut sit-in bersama jemaat, baik sewaktu ibadah maupun pendalaman Alkitab. Jika ada yang tidak aku pahami --, misalnya, terkait liturgi maupun penggunaan bahasa Jawa level tinggi, aku biasanya bertanya pada Pdt. Maria dan mas Yohannes Triwidiantono. Untuk urusan bahasa aku lebih sering ke nomor dua ketimbang nomor satu. Menurutku, nomor satu "tidak terlalu Jawa" meski sangat Jawa. Bahasa jawanya kurang medok.

Jawa dan Kekristenan di Indonesia adalah hal yang unik. Agama ini hadir saat islam berusaha mati-matian menguasai pangsa pasar agama di kalangan suku Jawa. Kekristenan Jawa yang tidak bisa dilepaskan dari nama, salah satunya, seperti Radin Abas --sebelum berubah menjadi Kiai Sadrach-- senyatanya telah berhasil mengambil hati banyak orang Jawa pascaperang Jawa. Kekristenan ini seperti menawarkan model keselamatan alternatif selain Islam.

Sadrach, begitu pula Tunggul Wulung dan Coolen, adalah faksi Kristen yang memilih mempertahankan identitas kejawaannya, ketimbang model kekristenan londo yang juga banyak pengikutnya. Mereka, terutama Sadrach, menggunakan berbagai simbol kejawaan untuk menjelaskan teologi kristen trinitarian. Sangat mirip dengan strategi sinkretisme-mistis yang digunakan Islam kala "menaklukkan," Jawa. Mungkin itu sebabnya ia mendapat banyak pengikut di kalangan Jawa.

Saat kekristenan Jawa di bawah Sadrach berkembang, tidak sedikit orang Islam yang marah. Hampir semua gereja yang dibangun pengikut Sadrach dibakar, antara 1882-1884.

Sadrach memang fenomenal. Ricklefs mencatat lelaki yang pernah belajar di Pesantren Jombang (Tebuireng?) ini sebagai tokoh lokal paling berpengaruh dalam kekristenan di Jawa Tengah.

Hingga 1900, terdapat sekitar 20.000 orang Kristen di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jumlah ini kira-kira 0,1 persen saja dari populasi di Jawa. Angka ini tentu saja sangat kecil dibanding dengan jumlah orang Jawa yang berislam.

Namun pada 1967-1970, jumlah orang Indonesia yang berpindah Kristen meningkat tajam. Sekitar hampir 1 juta orang. Gereja-gereja di Jawa mendapat pengikut baru yang tidak sedikit. Ukur dan Cooley memperkirakan GKI Jawa Timur mendapat 17 persen, GKJTU 15,5 persen, GITJ 12,2 persen, GKJ dan GKJW masing-masing 9 persen.

Banyak elit Islam saat itu, bahkan hingga kini begitu terluka melihat peristiwa ini. Kemarahan mereka semakin mendidih terhadap kekristenan. Mereka menganggap kekristenan tengah "mencuri," orang-orang Islam. Diksi kristenisasi di Indonesia jika mau dilacak, menurutku, berakar dari peristiwa ini.

Peristiwa ini, bagi banyak orang Jawa-Islam, terasa seperti goresan pada luka yang pernah ditorehkan Sadrach. Aku sendiri pernah dikondisikan untuk merasakan luka tersebut, luka yang dikreasi agar banyak orang Islam, khususnya Jawa, marah pada Kekristenan.

Jika kini aku merasa tengah berproses agar bisa sembuh dari luka sejarah tersebut namun mungkin tidak bagi banyak muslim-Jawa lainnya. Mereka sepertinya masih memilih merawatnya dengan cara pandang klasik. Aku bisa merasakan itu, termasuk saat tidur di guest house yang hanya berjarak kurang dari 5 cm dari masjid yang dibangun secara unik.

Keunikan ini menyeret rasa penasaranku untuk menelisik dan menuliskannya, sekitar 2-3 halaman. Namun pada akhirnya aku memilih untuk tidak mempublikasikannya atas saran beberapa orang. Aku respek pada mereka meski sempat agak kecewa dengan mereka.

Saran mereka semakin membuatku percaya dan bersyukur Jawa akhirnya tidak lagi dimonopoli total oleh Islam. Monopoli, dalam hal apapun --termasuk agama, tidaklah sehat bagi jiwa dan tubuh bangsa. Kita butuh keragaman. Keragaman membuat kita memiliki banyak opsi dan kita merdeka memilih opsi tersebut seraya harus tetap menghormati pilihan lain.

Selamat ulang tahun ke-92 GKJ Bhayangkara Purwokerto. Majulah kekristenan Jawa untuk merawat kebinnekaan Indonesia. Biarlah guest house tetap terbuka untuk orang-orang sepertiku.


Ttd

Aan Anshori
Jawa-Islam-Nahdlyyin-GUSDURian

Friday, March 20, 2020

TOLONG GUS


Aku tak tahan untuk tidak menuliskannya. Cerita ini --cerita tentang keinginan seorang ayah agar anaknya bisa dikembalikan sebagai perempuan "sejati," yang feminin dan menyukai lawan jenis. Bukan sebaliknya.

"Tolong gus...." ia memohon begitu tulusnya dengan intonasi tersebut.

Aku benar-benar bingung dan trenyuh atas permohonan ini. Intonasi itu mengingatkanku pada Priam, raja Troy, ketika memohon kepada Achilles agar dizinkan membawa pulang mayat Hector anaknya. Mayat itu tergeletak bersimbah darah di depan tenda Achilles setelah keduanya duel satu lawan satu.

Aku bingung karena aku bukan Achilles dan ia juga bukan Priam, King of Troy.

---

Ini adalah kedatangannya kedua kali ke rumahku. Kedatangan yang pertama sekitar setahun lalu. Ia bersama istri dan putrinya yang ia minta aku "sembuhkan,"

Saat itu sang putri, sebut saja Steve, baru saja bertengkar hebat dengannya. Terjadi kontak fisik, meski keduanya saling menyesali atas peristiwa itu sesudahnya. Sang bapak, panggil saja Priam, begitu frustasi melihat Steve tidak juga kembali ke "kodrat,"nya sebagai perempuan pada umumnya.  Keduanya sama-sama emosional dan sedikit lepas kendali. 

"Dari dulu aku selalu diajak ayah berkunjung ke kiai-kiai pilihan ayah, aku turuti. Sekarang giliranku mengajak ayah ke kiaiku, namanya Gus Aan," Steve bercerita. 

Priam sangat berharap ada kekuatan dari langit, semacam larikan roh kudus, yang bisa membuat Steve putrinya menjadi apa yang ia idealkan. Itu sebabnya ia meretas kekuatan tersebut melalui kanal para kiai-kiai, para orang-orang tua. Dari mereka, Priam berharap Steve akan sembuh. 

Kecintaan Priam terhadap putrinya membuat pria ini begitu sangat bersemangat mengubah Steve. Namun sayangnya kecintaan ini malah membuat Steve begitu tertekan.

"Nek koyok ngene aku tak bunuh diri aja, gus" katanya sembari mendengus di hadapan kami bertiga. Terdengar ada sesenggukan tangis. Tidak dari Steve namun dari orang di sampingnya. Sang ibu. 

Perempuan ini terus mengelus Steve sembari menangis. Menangis dan menangis. Ia tampak sedang mentransfer energi kedamaian kepada putrinya ini. Cinta mati betul kedua orang ini pada Steve, batinku.


"Mas, tak banyak kiai, gus atau ustadz yang pernah belajar ilmu gender dan seksualitas, meski mereka menguasai fikih," kataku. 

Tanpa ilmu tersebut, tambahku, fikih hanya akan menjadi arena penghakiman bagi Steve.  Jika diteruskan, itu berarti sampeyan berdua harus siap-siap kehilangan Steve. Entah mereka siap atau tidak. Ibunya makin tersengguk-sengguk.

"Sampeyan itu wataknya keras, mas. Pemberani. Ksatria. Siapapun akan sampeyan hadapi sepanjang sampeyan tidak merasa bersalah. Sampeyan juga perlu menyadari Steve mewarisi itu. Aku nyuwun tulung, jangan bersikap keras pada Steve," pintaku.

Selanjutnya aku memberikan perspektif SOGIE-SC pada mereka. Steve tentu  sudah menguasai ilmu tersebut dan aku meyakini ia sudah menyampaikan ke orang tuanya. Selain SOGIESC, aku juga menawarkan cara pandang baru dalam berislam, khususnya dalam perspektif keadilan minoritas gender dan seksualitas.

Meyakinkan mereka tentu tidaklah mudah, sesulit meyakinkan orang yang bertuhan secara membabi buta dalam isu corona. Padahal aku merasa sudah sangat gamblang dan rasional menjelaskan hal tersebut.

Malam itu, Priam melakukan resistensi padaku di hadapan anak dan istrinya. ia menahan rasa marah yang meluap-luap dan terlihat sangat kecewa dengan "kiai," yang dianggapnya tidak sejalan dengan pikirannya.

Aku diam saja sembari tersenyum, mendengarkan ia membentak-bentakku, di rumahku. Aku meminta maaf padanya karena tidak seperti yang ia bayangkan, sembari terus mempersilahkannya berbicara, mengeluarkan uneg-unegnya. 

Dalam hatiku, aku hanya membatin, betapa Tuhan sangat menyayangiku dengan cara memberiku tamu yang unik pada tuan rumahnya. Kadang aku masih suka senyum-senyum sendiri mengingatnya.

Ketiganya lalu pamit pulang. Priam nampak begitu bersalah padaku. Berkali-kali ia minta maaf. Namun aura kemaraham tetap tinggal di raut wajahnya. 

"Ndak popo mas, aku bisa memahami sampeyan kok. Tolong jangan ada lagi kekerasan saat berbeda pandangan dengan Steve," ujarku. ".... Mbak, aku nitip bojo sampeyan dan Steve ya. Siramlah air kala mereka sedang panas," kataku pada perempuan ini. Ia hanya mengangguk sambil terus menyeka matanya dengan tisu.

Itu kejadian setahun lalu. 


Sore itu, Priam datang membawa seplastik besar krupuk menemuiku kembali. Aku benar-benar tidak menyangka. Pengharapanku pupus setelah peristiwa itu.

"Mas, aku senang sampeyan ke sini lagi. Sungguh," ujarku menyapanya. Ia langsung meminta maaf.

Jika boleh jujur, tiga hari sebelum Priam ke sini, aku merasa telah mendapat pertanda dari alam raya. Secara tak sengaja, aku melihat postingan di IG Steve. Mereka sekeluarga tampak sedang menunggu makanan di meja restoran. Uniknya, tidak hanya ada Priam, istrinya dan Steve di foto itu. Ada satu sosok perempuan berwajah oriental feminim duduk di samping Steve. 

Kami segera larut dalam obrolan yang bernas, penuh canda diselingi negoisasi-negoisasi agak alot.

"Tolong ya gus...."
(*)

Thursday, June 1, 2017

Perihal Lesbian dalam Al-Quran

Kira-kira seminggu lalu saya menghadiri undangan Mas Dede Oetomo, dedengkot aktifis LGBT. Founder GAYa Nusantara ini melaunching gerakan baru untuk mempromosikan hak ketubuhan dan seksualitas di komunitas muslim, namanya kerennya Coalition for Sexuality and Bodily Rights in Moslem Society, disingkat CSBR.

Dalam pertemuan di Perpus Bank Indonesia Surabaya itu saya bertemu banyak sekali aktifis dari berbagai sektor, utamanya yang concern dalam isu LGBTIQ (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Intersex, Queer). Secara reflek, gaydar saya mendeteksi tidak sedikit dari mereka yang berorientasi seksual homo, baik gay maupun lesbian.

Gaydar merupakan kemampuan built-in yang dimiliki seorang homoseksual. Dengannya, seseorang mampu mendeteksi (awal) orientasi seksual orang lain; apakah dia hetero, homo atau biseksual tanpa perlu bertanya kepada yang bersangkutan. Meski bukan gay, saya tertarik melatih kemampuan ini. Mentor awal saya adalah Dv. Dia perempuan dan seorang L; kode umum untuk menyebut lesbian.

Kembali ke pertemuan tadi, secara tidak sengaja saya bertemu Dy, seorang kawan lama. Dia adalah direktur salah satu organisasi yang juga fokus pada isu seksualitas. Sama dengan Dv, Dy juga seorang L. Keduanya termasuk lesbian yang berani menyatakan dirinya seorang lesbian. Istilah umumnya 'sudah berani coming out'. Urusan coming out ini memang agak rumit, sebab tidak sedikit dari mereka yang masih memilih menyembunyikan identitas orientasi seksualnya.

Alasannya beragam. Ada yang masih bingung dengan eksistensi seksualitasnya, namun tidak sedikit yang belum bisa menerima realitas bahwa mereka seorang L. Entahlah, namun saya menduga faktor insekuritas dan inkonfidensi cukup dominan sebagai latar belakangnya. Bagi mereka, dalam lingkungan seperti ini, tidak mampu berelasi dengan lawan jenis merupakan beban sosial yang tidak mudah. 'Hah?! Wedok kok seneng wedok. Hueekkk...' Begitu respon miring salah satu teman saya suatu ketika.

Atau, coba tanyakan orang tua secara acak, bagaimana respon mereka saat mendapati anak perempuannya ternyata lebih menyukai perempuan ketimbang laki-laki. Saya yakin, mereka akan terguncang, raut muka mereka akan berubah tegang. Persis seperti wajah tante saya ketika menjawab pertanyaan pendek yang saya lontarkan dengan bercanda, 'Yok opo nek anak sampeyan ujuk-ujuk ngaku nek de'e seneng podo lanange?'

Dalam arus besar pandangan Islam, homoseksualitas tidak terapresiasi positif, bahkan bisa dikatakan mengalami represifitas. Pandangan minor atas orientasi-seksual ini selalu ditautkan pada peristiwa yang menimpa umat Nabi Luth. Pengalamatan ini tidak seluruhnya tepat karena terdapat unsur fakhisyah (kekejian) pada praktek masa itu. Sedangkan tidak selamanya hubungan seksual sejenis mengandung unsur tersebut. Generalisasi atas sodom dan homoseksualitas pada gilirannya berimplikasi terhadap cara pandang para ulama, terutama dalam penerapan hukum Islam atas praktek ini.

Bagaimana dengan lesbian? Nasibnya setali tiga uang. Banyak ulama menganggap praktek ini sama dengan zina, yang oleh karenanyaya berlaku hukuman zina. Namun ada juga ulama yang lebih lunak bersikap. Lesbian dianggap bukan zina karena tidak melibatkan penis dalam aktifitas seksualitas.

Melucuti Basis Represifitas
Dalam komunitas Islam, lesbianisme dianggap tercela karena dipersepsi melawan idealitas sosok perempuan. Lesbianisme adalah subversif dan “kontra-revolusioner” karena melawan garis takdir perempuan yang telah ditentukan oleh cara pandang laki-laki; yakni sebagai ibu dan istri. Sebagai istri, perempuan ditempatkan tidak lebih dari sekedar obyek seksualitas laki-laki. Dalam pandangan patriarkhi, posisi ini selanjutnya perlu 'disempurnakan' lagi dengan cara "mewajibkan" para istri berstatus subur agar mampu melakukan reproduksi.

Nah, seksualitas perempuan yang tidak linier dengan dua hal tersebut -termasuk lesbian- dianggap terjangkiti penyakit jiwa, yang pada akhirnya perlu disembuhkan. Menurut Habib (2007), dalam epistomologi kontemporer Arab secara umum, penyebab terjadinya homoseksualitas perempuan bisa bermacam-macam; pengalaman kekerasan oleh laki-laki, trauma kehidupan seksual, pendidikan yang salah, dan dituduh menderita gangguan jiwa ringan.

Sungguhpun demikian, sebenarnya praktek lesbianisme telah menjamur di kalangan umat Lut 40 tahun sebelum “diambil alih” laki-laki (Murray, 1997). Hasrat seksualitas antarperempuan di komunitas Islam bukanlah hal yang tabu awalnya. Pada batas tertentu, masyarakat muslim bisa mentolerir kehidupan ini, sama seperti yang juga terjadi pada kekristenan awal (Boswell, 1980).

Riset Samar Habib yang dipublikasikan pada 2007 dengan judul Female Homosexuality in the Middle East: History and Representations, menunjukkan homoseksualitas perempuan di dunia Arab bukanlah sesuatu yang dianggap saru hingga abad 13. Berbagai literatur dan karya seni menunjukkan variatifnya intimasi di kalangan perempuan.

Tidak saja terjadi di kalangan elit dan terpelajar, praktek lesbianisme juga muncul di kalangan budak perempuan. Dalam rekaman historikus Islam, Tabari, kondisi ini muncul pada saat pemerintahan al-Hadi, khalifah keempat dinasti Abbasiyyah, sebelum digantikan Harun al-Rasyid. Represifitas atas homoseksualitas mengemuka seiring bangkitnya faksi ortodoks Islam diberbagai rezim.

Meminjam Foucault, cara pandang yang memberangus lesbianisme ini dioperasikan melalui hegemoni pengetahuan. Kuasa wacana 'lesbian adalah pendosa dan melawan kehendak 'alam' berjalan dengan cara merebut tafsir teks suci dan membakukannya ke dalam berbagai produk keagamaan, lalu didistribusikan melalui berbagai institusi pendidikan dan sistem sosial yang ada.

Bagaimana teks suci dioperasikan membungkam lesbianisme dalam Islam?. Pertama, terdapat dua ayat al-Quran Surah al-Nisaa' 15-16 yang dijadikan kerap dijadikan tautan. Saya akan kutipkan.

ﻭَﺍﻟﻼَّﺗِﻲ ﻳَﺄْﺗِﻴﻦَ ﺍﻟْﻔَﺎﺣِﺸَﺔَ ﻣِﻦ ﻧِّﺴَﺂﺋِﻜُﻢْ ﻓَﺎﺳْﺘَﺸْﻬِﺪُﻭﺍْ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻦَّ ﺃَﺭْﺑَﻌﺔً ﻣِّﻨﻜُﻢْ ﻓَﺈِﻥ ﺷَﻬِﺪُﻭﺍْ ﻓَﺄَﻣْﺴِﻜُﻮﻫُﻦَّ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺒُﻴُﻮﺕِ ﺣَﺘَّﻰَ ﻳَﺘَﻮَﻓَّﺎﻫُﻦَّ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕُ ﺃَﻭْ ﻳَﺠْﻌَﻞَ ﺍﻟﻠّﻪُ ﻟَﻬُﻦَّ ﺳَﺒِﻴﻼً

“Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan KEJI, hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan lain kepadanya”.

ﻭَﺍﻟﻠَّﺬَﺍﻥَ ﻳَﺄْﺗِﻴَﺎﻧِﻬَﺎ ﻣِﻨﻜُﻢْ ﻓَﺂﺫُﻭﻫُﻤَﺎ ﻓَﺈِﻥ ﺗَﺎﺑَﺎ ﻭَﺃَﺻْﻠَﺤَﺎ ﻓَﺄَﻋْﺮِﺿُﻮﺍْ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠّﻪَ ﻛَﺎﻥَ ﺗَﻮَّﺍﺑﺎً ﺭَّﺣِﻴﻤﺎً

“Dan terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji di antara kamu, maka berilah hukuman kepada keduanya, kemudian jika keduanya bertaubat dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.

Apa yang dimaksud dengan fakhisyah (kekejian) pada dua ayat tersebut? Para penafsir Al-Qura seperti Tabari, Katsir, Jalalayn, Maududi maupun Qurtuby memaknainya sebagai perzinahan-heteroseksual. Mereka setidaknya satu suara ayat ini tidak berlaku lagi setelah turunnya regulasi-quranik menyangkut perzinahan dalam al-Nuur ayat 2. Hanya duo-Jalal dalam tafsirnya, Jalalayn, yang memperluas makna kata
ya’tiyanihima pada ayat 16 dengan ‘liwat’ (sodomi). Jalalyn nampaknya mengamini pandangan madzhab Syafii yang memposisikan liwat sama seperti zina heteroseksual.

Yang menarik, jika ayat 16 ini dibaca secara konsisten dengan frame seksualitas-sejenis maka untuk pasangan gay bisa dihukum. Apa hukumannya? Tidak cukup jelas, namun menurut Ibn Katsir dan al-Suyuthi, pelaku gay cukup dicela dan digampar dengan sandal. Seandainya pasangan gay tersebut bertaubat dan memperbaiki diri maka sudah dianggap cukup.

Kemungkinan lain, jika ayat 15 ditafsirkan sebagai praktek lesbianisme, maka apakah tidak seharusnya kata ganti (dlomir) dalam kata ‘alaihinna menjadi alaihima (dua orang perempuan)? Kecuali jika Alloh memaksudkannya sebagai praktek lesbian berjamaah (orgy). Di luar penafsiran-penafsiran tadi, patut juga dibaca dua ayat sebelumnya yang membincang tentang menejemen pembagian waris, tidakkah ada kemungkinan kekejian ini berkaitan dengan peringatan tuhan agar perempuan dan laki-laki tidak berlaku culas dalam pembagian waris (financial dishonesty)?

Jadi, kalau mau jujur, kedua ayat ini terlalu spekulatif dan terkesan sangat absurd untuk merepresi seksualitas lesbian. Bagi saya, menerapkan hukuman hadd atas lesbianisme tidak bisa didasarkan pada asumsi, hipotesis, pendapat, ‘kesepakatan’ sebuah kelompok, atau bahkan hadits sekalipun.

Penghukuman ini –menurut hemat saya- membutuhkan justifikasi teks al-quran yang terang benderang, tidak interpretative, atau dalam bahasa hukum disebut beyond reasonable doubt . Apalagi hingga saat ini belum ada preseden historik Nabi pernah menghukum pelaku lesbianis pada zamannya.

Al-Quran Mengafirmasi Lesbian?
Sebaliknya, eksistensi lesbian cukup kuat terdeteksi dalam QS. 24:60.

ﻭَﺍﻟْﻘَﻮَﺍﻋِﺪُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀ ﺍﻟﻠَّﺎﺗِﻲ ﻟَﺎ ﻳَﺮْﺟُﻮﻥَ ﻧِﻜَﺎﺣﺎً ﻓَﻠَﻴْﺲَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻦَّ ﺟُﻨَﺎﺡٌ ﺃَﻥ ﻳَﻀَﻌْﻦَ ﺛِﻴَﺎﺑَﻬُﻦَّ ﻏَﻴْﺮَ ﻣُﺘَﺒَﺮِّﺟَﺎﺕٍ ﺑِﺰِﻳﻨَﺔٍ ﻭَﺃَﻥ ﻳَﺴْﺘَﻌْﻔِﻔْﻦَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻟَّﻬُﻦَّ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﺳَﻤِﻴﻊٌ ﻋَﻠِﻴﻢٌ

“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian (1051) mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Bijaksana. (1051) Maksudnya: pakaian luar yang kalau dibuka tidak menampakkan aurat”.

Hampir semua penafsir memaknai kata ﻭَﺍﻟْﻘَﻮَﺍﻋِﺪُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀ ﺍﻟﻠَّﺎﺗِﻲ ﻟَﺎ ﻳَﺮْﺟُﻮﻥَ ﻧِﻜَﺎﺣﺎً sebagai perempuan tua yang
menopause dan tidak punya hasrat lagi untuk menikah. Para penerjemah al-Quran seperti Pikthall, Muhsin dan Hilali maupun Yusuf Ali juga mengikuti jejak para penafsir awal.

Kita memahami bahwa kata dalam bahasa Arab punya banyak arti. Penting bagi kita tahu bahwa dalam Kamus al-Munawwir terbitan Pesantren Krapyak, kata qawaa’ida disamping punya arti pondasi, dasar, maupun berhenti, diksi tersebut juga punya arti menahan dan keengganan. Kedua ayat tersebut terbuka untuk diartikan “ Perempuan –perempuan yang enggan, yaitu mereka yang tiada ingin kawin ”.

Jika terjemahan ini yang dipakai maka semakin jelas al-Quran telah menyinggung keberadaan perempuan yang enggan kawin tanpa dibatasi oleh syarat menopause terlebih dahulu. Sebagaimana ada laki-laki yang tidak punya hasrat terhadap perempuan (QS 24:31) [1] , kondisi perempuan-perempuan seperti ini bisa jadi dipengaruhi oleh banyak faktor, misalnya trauma berelasi dengan laki-laki, atau mempunyai orientasi seksual yang berbeda dari perempuan kebanyakan.

Absennya terjemahan maupun tafsiran al-Quran yang sensitif terhadap penerimaan perempuan lesbian merupakan hal lumrah dalam dunia ilmu pengetahuan yang hidup dalam tradisi patriarkhi ketat saat itu. Dalam cara pandang tradisi tersebut, heteronormativitas-prokreasi merupakan kebenaran mutlak yang harus dipertahankan dengan cara apapun, sampai kapanpun.

Ayat lanjutan yang memungkinkan kita mengendus jejak lesbianisme ada pada QS al-Syuaara (42) 49:50.

ﻟِﻠَّﻪِ ﻣُﻠْﻚُ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻳَﺨْﻠُﻖُ ﻣَﺎ ﻳَﺸَﺎﺀُ ﻳَﻬَﺐُ ﻟِﻤَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ ﺇِﻧَﺎﺛﺎً ﻭَﻳَﻬَﺐُ ﻟِﻤَﻦ ﻳَﺸَﺎﺀُ ﺍﻟﺬُّﻛُﻮﺭَ

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki”

ﺃَﻭْ ﻳُﺰَﻭِّﺟُﻬُﻢْ ﺫُﻛْﺮَﺍﻧﺎً ﻭَﺇِﻧَﺎﺛﺎً ﻭَﻳَﺠْﻌَﻞُ ﻣَﻦ ﻳَﺸَﺎﺀُ ﻋَﻘِﻴﻤﺎً ﺇِﻧَّﻪُ ﻋَﻠِﻴﻢٌ ﻗَﺪِﻳﺮٌ

“atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa”.

Terjemah dan tafsir mainstream menyebut dua ayat di atas sebagai kuasa tuhan dalam memberikan anak/keturunan. Dia bisa menganugerahkan anak laki-laki saja sebagaimana kepada Ibrahim, atau hanya memberi anak perempuan seperti pada Nabi Nuh. Atau, Alloh punya otoritas memberi berkat berupa anak laki-laki dan perempuan sebagaimana kepada Nabi Muhammad. Atau bahkan, tuhan menjadikan seseorng mandul sehingga tidak bisa bereproduksi.

Perkembangan baru dalam tafsir berperspektif lesbian menunjukkan adanya cara baca yang cukup mengagetkan. Seperti yang didalilkan Mark Burstman dalam Queer Sexuality and Identity in the Quran and Hadith, dua ayat tersebut sangat mungkin tidak membicarakan tentang pemberian anak, namun justru dalam konteks penciptaan pasangan hidup. Tuhan menganugerahkan baik laki-laki maupun perempuan bagi siapa saja yang Dia kehendaki untuk dijadikan pasangan jiwa. Pemahaman ini tentu saja terdengar ganjil.

Kelompok ini membangun argumentasinya pada dua hal. Pertama, digunakannya kata
zawwaja yang berarti pasangan atau mengawinkan. Jika dimaknai 'berpasangan' dalam arti lahir kembar maka sangat jarang ada kelahiran kembar laki-laki dan perempuan. Kedua, kelompok ini mendalilkan bahwa hanya pada ayat ini, perempuan disebut dahulu ketimbang laki-laki. Hal ini dianggap tidak biasa mengingat laki-laki biasanya disebutkan pada posisi pertama sebelum perempuan sebagaimana QS. 3:195, 4:12, 4:124, 6:143-144, 16:97, 40:40, 49:13, 53:21, 53:45, 75:39 dan QS.92:3.

Berbagai ayat di atas tadi menantang kita untuk berfikir ulang mengenai posisi lesbianisme dalam teks suci. Penafsiran tersebut sangat mungkin dipersepsi sebagai upaya memperkosa teks demi melegalkan sebuah orientasi seksual yang antimainstream. Saya katakan tidak. Teks tidaklah mampu berbuat apa-apa sampai seseorang menggunakannya sebagai dalil.

Teks bersifat tetap, sedangkan arti dan pemaknaannya bersifat relatif, tergantung dari sudut pandang masing-masing. Dan hal itu merupakan sesuatu yang lumrah dalam koridor keragaman tafsir.
Saya meyakini orientasi seksual bersifat tetap –meskipun Tuhan bisa berkehendak lain. Seorang heteroseksual tidak bisa dipaksa menjadi homo, atau orientasi seksual lainnya, begitu juga sebaliknya. Lesbian tetaplah manusia yang punya kedudukan sama dengan yang lain. Martabat dan haknya tidak bisa dikurangi hanya karena dia diciptakan berbeda. Tidak sepatutnya kebencian kita pada suatu kelompok membuat kita boleh berlaku tidak adil pada mereka.(*)

Jombang Media Center, 7 September 2015, 14:02.

[1] Keberadaan laki-laki seperti ini sesungguhnya telah terkonfirmasi sejak zaman nabi. Silahkan baca tulisan Rowson bertajuk The Effeminates of Early Medina yang mengulas cukup detil sosok ini. Ada di antara para sahabat nabi yang sampai akhir hayatnya hidup membujang. Salah satunya adalah Abu Hurairah. Dalam sebuah riwayat dalam Sahih Bukhari, pria pengkoleksi hadits terbanyak ini pernah curhat kepada Nabi mengenai kondisinya. Dia mengaku tidak mampu menikah dan takut terjerumus dalam kerusakan ('anata ). Tiga kali dirinya menanyakan hal tersebut namun tidak dijawab Nabi. Baru setelah dirinya menanyakan hal sama yang keempat kali, nabi segera menjawab agar Hurairah membujang seumur hidup atau menikah.

Thursday, May 18, 2017

KUPI Dan Perjuangan Panjang Kaum Tertindas

Kata KUPI mirip dengan 'kopi'. KUPI sendiri singkatan dari Kongres Ulama Perempuan Indonesia. Ketika kami berangkat ramai-ramai dengan semangat membara dari Jombang menuju Cirebon lewat jalur utara (kota Babat) karena di jalur selatan sudah tidak ada lagi tiket, ada seorang saudara lelaki yang bilang begini; "Wah ikut KUPI pasti tidak ngantuk karena minum kopi terus,"

Wednesday, April 19, 2017

Lovely Cecilia: Tarik Ulur Kristen-Islam

Ini adalah foto anakku Cecilia bersama tantenya. Saat SD, setahuku sangat mungkin ia adalah satu-satu siswi di kelasnya  yang memanggul nama panggilan tidak islami; Cecil. Ia sekolah di SD Islam sesuai arahan bunda tercintanya.

Saat dalam kandungan, kami --aku dan pasanganku-- sepakat urunan nama untuknya. Aku awalnya menimang Abigail sebagai nama yang ingin aku sematkan padanya. Namun belakangan aku memilih Cecilia karena terdengar dan tertulis lebih sexy. *halah

Sedangkan bundanya memilih Vraza karena terinspirasi nama butik --entahlah. Ia waktu itu juga tidak tahu artinya. "Nggak ngerti, Mas, sing penting itu terasa indah menurutku," ujarnya.

Aku pun tak hendak mendebatnya.

Maka, jadilah anak sulungku bernama Vraza Cecilia --tanpa kami tahu apa arti sesungguhnya.

Saat ia berusia beberapa bulan, ia kami bawa ke Gresik, kampung bundanya. Semua menyambut gembira dengan kehadiran Cecil. Namun gumaman miring dari keluarga Gresik kami dengar setelah mereka tahu namanya. "Lha kok jenenge koyok wong Kristen gitu? Apa nggak sekalian ditambahi Mississipi Arizona?" kata salah satu keluarga dengan nada guyon. Kami pun tertawa sambil berargumentasi ringan.

Perlu diketahui, pasanganku lahir dari keluarga yang bisa dikatakan suangat santri. Ayahnya kiai kampung yang sangat keras mendidik warga dengan hukum islam yang ketat. Ia semakin disegani karena kemampuannya di bidang falak (astronomi). Ayahnya adalah penentu kapan orang sekampung bisa memulai dan mengakhiri puasa Ramadlan. Anda tahu, konon, almarhum mertuaku itu bisa meramalkan kapan sehelai daun akan jatuh dari pohonnya. Aku tahu karena beberapa penduduk di sana menyatakan demikian. "Hebat benar bapak mertuaku ini," gumamku.

Dengan seluruh kemampuan dan pengalaman yang ia miliki, maka bapak mertuaku itu sangat selektif memilih jodoh untuk putri2nya. Kriteria utamanya, tentu harus berpenampilan santri!

Itu sebabnya ia cukup kaget anak bungsunya membawaku ke rumah setelah kami 4 tahun pacaran, dan berani mengatakan 'Pak, iki Aan, koncoku" kata istriku. Ingatnya, dalam tradisi sana, jika ada laki-laki yang berani datang ke rumah itu artinya harus siap dikawinkan.

Almarhum mengecekku dari atas hingga bawah, tanpa berbicara sedikit pun. Aku tahu, ia tak suka denganku. Maksudnya, ia semacam tak rela bungsu yang ia sangat sayangi jatuh ke tangan laki-laki yang tidak ada sedikitpun jejak kesantrian menempel di tubuh. Apalagi berambut agak gondrong dengan jari kaki --salah satunya-- bercincin.

Kembali ke Cecil anakku. Kami merasa keluarga besar ingin nama Cecil diganti yang lebih islami, tapi kami enggan. Akhirnya jalan tengah diambil; namanya harus ditambahi dengan diksi islam. Kamipun mempertimbangkan itu dan menerima.

Akhirnya Cecil kami bawa ke Kauman Mojoagung -- menemui ibuku. Ia sangat bersuka cita dengan cucu pertamanya. Amiroh meminta agar mertuanya bisa menambahkan nama untuk cucunya itu --setelah kami menceritakan peristiwa di Gresik.

Ibuku tentu senang dan berjanji akan mencarikannya. Sedikit catatan, almarhum ibuku sering dimintai nama bayi oleh banyak orang. Relasi sosialnya cukup bagus mengingat ia adalah pedagang di pasar Mojoagung sejak lama. Puluhan tahun. Pendek kata, tak ada penghuni  pasar yang tak kenal "Kaji Alfiyah".

"Tambahono Aida Zamzama, nduk. Kayaknya pas," katanya kepada pasanganku. Amiroh pun setuju. Maka jadilah anak sulungku bernama Vraza Cecilia Aida Zamzama.

Ia kini tumbuh dewasa. Mungkin suatu saat aku akan menjalani laku sebagaimana bapak mertuaku dulu; mengecek setiap laki-laki yang ngepoin anak gadisnya.

Featured Post

Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 35

Rilis Jaringan NU Kultural (JANUR)  Jombang, 19 Agustus 2026 Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 35 Muktamar ke-35...