Pages

Tuesday, November 23, 2021

BERTEMU MERLYN BERTEMU BERLI(A)N

Mungkin judulnya terlalu lebay. Namun itu adalah diksi yang terlintas dibenakku untuk menggambarkan perasaanku setelah mengundang perempuan ini ke kelasku.

Aku senang sekali. Aku bahagia.

Kebahagiaan itu hampir paripurna setelah aku membaca refleksi mahasiswa/iku pascapertemuan dengan Merlyn.

Merlyn adalah waria --diksi yang ia pilih sendiri ketimbang transgender atau transpuan. Aku sudah lama mendengar namanya, terutama saat menggeluti isu minoritas gender dan seksualitas, sekitar 5-7 tahun lalu.

Jika ada yang bertanya kenapa aku yang hetero dan cis-gender ini menggeluti isu yang sangat berbahaya ini, jawabnya; aku nggak tahu.

Yang aku rasakan, aku selalu merasa isu tersebut "memanggilku," --ia seperti mengatakan "Jangan kelamaan membela isu pluralisme agama, sudah waktunya kamu menghampiri kami,"

itu yang aku rasakan.

Perasaan tersebut sebenarnya mengalami gejolak yang tidak mudah. Sebab, seperti yang diduga banyak orang, aku menemukan kesukaran-kesukaran dalam hidupku.

Tak terhitung lagi berapa banyak kawanku yang, aku rasakan, mulai menjauhiku. Keluarga besarku juga berkomentar, termasuk anak dan istriku.

Aku masih tidak bisa lupa sebuah peristiwa. Saat itu aku di bis Damri, dari Soekarno-Hatta menuju sebuah hotel --tempat syuting ILC -- di mana aku diundang untuk pertama kalinya.

Saat di bis, aku ditelpon seorang kawan. Ia mengaku membawa pesan dari orang yang sangat aku hormati, imamku dalam gerakan. Pesannya, aku diminta tidak menyebutkan organisasiku sebagai afiliasi saat di ILC.

"Tahu sendirilah, isunya terlalu beresiko bagi organisasi kita," ujarnya.

Aku tidak mendebatnya. Untuk apa? Ia hanya pembawa pesan saja. Tidak lebih.

Aku akan menjadi tidak dewasa jika menanggapinya secara emosional.  Santai saja. Namun demikian aku tidak habis pikir kenapa tidak boleh.

Aku harus jujur, keterlibatanku dalam isu ini, bagi organisasi tersebut, rupanya cukup menyulitkan posisi organisasiku tersebut. Khususnya di hadapan para elders; para tetua; yang memiliki cukup kuasa atas republik ini.

Namun demikian jangan salah, aku merasa semua kawan di organisasiku adalah pribadi yang memiliki komitmen memperjuangkan nilai-nilai yang selama ini kami hayati. Mungkin ini hanya terkait strategi.

Dari berbagai pergulatanku dengan hal seperti ini, aku semakin menghayati betapa tidak nyamannya disalahpahami, dieksklusi, dikucilkan, dan semacamnya.

Penghayatan ini semakin meneguhkanku untuk berusaha mencegah orang agar tidak salah paham atas suatu yang kurang mereka pahami. Kesalahpahaman adalah langkah awal kehancuran.

Banyak orang Islam membenci rumah ibadah agama lain, khususnya gereja, karena faktor ketidaktahuan. Menurutku.

Tidak sedikit orang membenci LGBT , juga, karena kekurangpahaman atasnya. Menurutku.

Ini membuatku sedih.

Itu sebabnya, dalam beberapa tahun in, aku senantiasa berusaha mengajak sebanyak orang Islam untuk lebih memahami Kekristenan dan agama lain, serta, kelompok minoritas gender dan seksualitas.

Merlyn termasuk kelompok yang aku sebut terakhir tadi.

Meski tidak pernah bertemu secara fisik, aku semakin "intens," dengan Merlyn melalui salah satu filmnya, "Perempuan Tanpa Vagina," --diproduksi tahun 2019.

Film ini aku jadikan semacam film wajib dalam kelas yang aku ampu sejak 2019 lalu. Baik kelas Pancasila maupun Religions.

Hampir semua mahasiswa/i yang aku ajar di UC pasti pernah menontonnya. Itu sebabnya, jika suatu saat kalian ketemu alumni UC dan mengaku pernah menonton film tersebut selama kuliah, aku yakin ia pernah ikut kelasku.

Sangat mungkin aku adalah satu-satunya dosen yang menjadikan film Merlyn tersebut sebagai materi pembelajaran. Belum pernah aku tahu ada dosen lain "sengawur," aku --membawa isu minoritas gender dan seksual ke dalam kelas.

Keberanianku membawa isu ini ke kampus didorong oleh apa yang sudah aku jelaskan di awal. Aku seperti merasa bertanggungjawab jika menemukan orang yang memiliki kesalahpahaman berkaitan dengan isu identitas. Aku juga merasa spirit Gus Dur hadir mendongkrak keberanian tersebut.

Keberanian mengundang Merlyn ke kampus aku lakukan juga karena posisiku sebagai dosen Pancasila. Aku tidak mau jika suatu saat sejarah mengadiliku, "Aan, kenapa kamu tidak berupaya mendidik mahasiswa/imu agar berhenti membenci, padahal kamu memiliki kapasitas dan kesempatan untuk itu lho?"

Betapa aku akan gelagapan saat aku tidak melakukannya.

Dengan memanfaatkan posisi sebagai dosen aku mengambil resiko mengundang Merlyn, tanpa terlebih dahulu berembug dengan kordinator matakuliah maupun dekan. Aku merasa tidak perlu karena ini menyangkut kewenanganku sebagai dosen. Cukup aku saja yang menyelesaikan dan bertanggung jawab. Aku digaji untuk itu.

Aku juga sangat sadar jika suatu saat dituding mengkampanyekan isu LGBT di kampus. Aku mungkin dengan enteng menjawab; bahwa pandangan tersebut tidaklah tepat. 

Pancasila mendidik kita agar berani bertumbuh dengan kemanusiaan yang adil dan beradab  dan menjaga persatuan Indonesia. Pancasila mendorong kita, sebagai warganegara, untuk senantiasa bertujuan mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. 

Di titik ini aku akan berhenti sembari bertanya balik, "Bagaimana mungkin kita akan mewujudkan hal tersebut jika kita bisa memahami orang-orang yang ada di dalamnya?

Menudingku mengkampanyekan LGBT di kampus akan sia-sia. Sebab aku tak pernah mengatakan, "Mari kita menjadi gay, lesbian atau transgender," Yang aku kampanyekan justru dorongan kepada para mahasiswa untuk melihat dan memperlakukan manusia sebagai manusia. Nothing more nothing less.

Aku baru saja selesai membaca refleksi pendek --lebih tepatnya semacam kesan-- yang dibuat oleh hampir seratus mahasiswaku yang hadir bersama Merlyn. Semuanya mengapresiasi positif acara tersebut. 

Terdapat banyak dari mereka mengaku mendapat pencerahan setelah mendengarkan langsung dari Merlyn. Bertemu Merlyn seperti menemukan berli(a)n.(*)

Wednesday, November 17, 2021

MERAH-PUTIHKAN MUI!

RILIS Jaringan Islam Antidiskriminasi terkait penangkapan elit Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan dugaan terlibat terorisme


JIAD tidak cukup kaget dengan penangkapan beberapa petinggi Majelis Ulama Indonesis (MUI) pusat terkait dugaan keterlibatannya dengan terorisme.

Hal ini didasarkan pada kecenderungan MUI, selama ini, yang terlihat tidak progresif mendukung empat pilar kebangsaan. Alih-alih, organisasi ini justru mencitrakan dirinya sedemikian kuat sebagai penjaga konservatifme Islam.

Konservatifme Islam sendiri, kita tahu, tidaklah sehat. Ia sangat terobsesi menyeret Indonesia sebagai negara islam dalam bingkai Pancasila. 

Pancasila --yang awalnya dimaksudkan sebagai landasan bersama (kalimatun sawa) semua agama/kepercayaan untuk keharmonisan, oleh kelompok di MUI-- telah ditelikung untuk menghalalkan tegaknya formalisasi Islam di Indonesia.

Penelikungan ini sangatlah berbahaya jika tidak diantisipasi dan direspon sesegera mungkin. Sebab, secara politik, keberadaan MUI dalam memengaruhi model keislaman di Indonesia masih sangat strategis. 

JIAD sangat mengapresiasi kerja-kerja Densus 88 yang bekerja cukup serius "mejaga," MUI dari anasir-anasir terorisme dan radikalisme berbasis Islam. 

Sungguhpun demikian, JIAD mendesak aparat keamanan tetap bekerja profesional, transparan, dan akuntabel dalam kasus ini, berpatokan pada hukum dan aturan yang berlaku.

Penangkapan ini, menurut JIAD, tidak bisa dikatakan sebagai upaya politik rezim Jokowi merepresi Islam maupun ulama. Tudingan seperti itu tidaklah pas dan cenderung emosional.. Sebaliknya, implementasi keislaman butuh kontrol semua pihak agar tetap dalam relnya; rahmatan lil 'alamin.

Bagi JIAD, Islam tidak sama dengan "politik Islam," maupun "kelompok Islam," Ada banyak kelompok Islam Merah-Putih yang cukup serius berseberangan dengan kelompok yang ditangkap Densus 88. 

Namun demikian, sayangnya, kelompok "Merah-Putih," di MUI terasa tidak berkutik, kikuk, dan keok hadapan kelompok radikal di sana.  Padahal di sana terdapat NU yang dikenal sebagai tulang punggung Islam moderat. 

Kekikukan seperti ini, menurut JIAD, tidak bisa lagi ditolerir mengingat hal tersebut justru akan merobohkan MUI sebagai salah satu pilar penjaga Pancasila di tubuh kelompok Islam. 

Oleh karena itu, kelompok Merah-Putih di MUI, bersama dengan pemerintah, perlu melakukan seleksi ketat terkait siapa yang bisa duduk di kepengurusan MUI. Tidak asal terima. 

Untuk keperluan ini, JIAD mendorong MUI Merah-Putih berani melakukan otokritik dan bahkan, kalau perlu, melakukan reassessement bagi seluruh pengurus MUI --untuk mengetahui mana yang bersetia pada Pancasila dan mana yang lamis.

Dengan demikian JIAD tidak setuju dengan gagasan dan pemikiran pembubaran MUI. Karena, hal tersebut bertabrakan dengan semangat demokrasi. 

Sebagai institusi sipil, peran MUI sama dengan peran organisasi sipil lainnya. Malfungsi MUI hanya bisa diperbaiki dengan cara melakukan pembenahan orang-orang yang ada di dalamnya.

Reviitalisasi MUI menjadi lebih Merah-Putih merupakan jawaban yang perlu direalisasikan. Semua komponen, termasuk Densus 88, wajib mendorong realisasi tersebut.

Seandainya MUI menolak berbenah,  pemerintah bisa menghentikan dukungan kepada lembaga ini, sampai ia benar-benar merah-putih. 

Oleh karena, untuk apa mendukung institusi yang malah justru menggangsir eksistensi Merah-Putih? 


Jombang, 17 November 2021


Aan Anshori
Kordinator
aan.anshori@gmail.com
089671597374
IG @gantengpolnotok
Twitter @aananshori

https://kempalan.com/2021/11/17/merah-putihkan-mui/

Monday, November 15, 2021

MALES NYETATUS

Hanya saja, aku harus menuliskannya agar aku bisa menziarahi kembali kenanganku. 



Malam ini aku terkantuk-kantuk di Stasiun Jombang. Menunggu kereta Wijayakusuma yang akan membawaku ke Jember. Dari sana, sekitar jam 03.00 dini hari aku akan dijemput sopir. Membelah pekatnya pagi menuju Bondowoso. 

Di kota itu, aku akan menghadiri penahbisan ---semacam pelantikan dalam tradisi gereja-- seorang teman. Namanya Pdt. Martin Krisanto Nugroho. 


Dia akan menyandang status baru di lingkungan Gereja Kristen Indonesia (GKI) wilayah Jawa Timur sebagai; pendeta tugas khusus. 

Entah apa kekhususannya. Aku tidak tahu. 

Yang aku pahami, jabatan barunya ini semacam penegasan bahwa Martin sangat mungkin bukan lagi pendeta sembarangan.Kan sudah berstatus khusus? Kalau mobil, mungkin platnya RFS.😝

"Datang yo, gus. Offline," undangnya. 

Aku menyanggupi dengan perasaan agak berat. Pandemi telah membuatku terkena virus "enak mager," --malas pergi jauh-jauh. 

Apalagi, pasanganku juga sedang keluar kota untuk beberapa hari. Praktis anak-anakku di rumah sendirian. 

Hanya saja, aku merasa perlu hadir sebab Pdt. Martin bukanlah figur sembarangan. Ia tidak hanya cerdas namun juga progresif. 

Aku pernah menjajalnya sendiri saat ia dan beberapa pendeta muda GKI membikin "kejutan," pada event BBVC di Banyuwangi. 

Keberanian mereka membuat jagat gereja mereka horek, terutama setelah aku menulis liputannya di FB. Bahkan, sampai saat ini, tulisan tersebut masih berstatus "only me," --temporary self-suspended.

Menurut beberapa kawan, peristiwa tersebut merupakan langkah mundur. Mungkin mereka benar.

Hanya saja, yang jarang kita sadari; agar bisa maju lebih progresif, seseorang perlu mundur, mengambil ancangan. Semakin ia mundur, lentingannya akan semakin yahut. Persis seperti ketapel.

Tampaknya GKI wilayah Jawa Timur akan melenting lebih jauh ke depannya. Aku mendengar Pdt. Martin akan tandem dengan Pdt. Leo. Pendeta kedua ini akan menjadi nakhkoda baru di sinode wilayah Jawa Timur. 

Mas Leo tidak hanya terkenal dengan ketekunan akademiknya. Lebih jauh, ia juga tak kalah progresifnya dengan Martin.

"Gus Aan, terima kasih telah mensupport dan bersama GKI Yasmin selama ini," ujarnya suatu ketika. 

Perjalanan ke Bondowoso, aku yakini, akan membawa gairah baru padaku. Setidaknya gairah nulis status ini. (*)

Thursday, November 11, 2021

Ayat Keramat


"Iku ayat keramat," kata Gus Mujib, kawanku saat mondok di Tambakberas 33 tahun lalu, barusan.

Ia mengatakan itu saat aku ngomong sendiri, dengan perasaan heran, saat qori' (pelantun al-Quran) membacakan QS. Al-Imran 169-170. 

Aku memang tidak menyangka ayat tersebut dilantunkan dalam acara haul (commemoration) KH. Ach. Nasrullah Abd. Rohim dan 100 hari bu Nyai Zubaidah, belahan hatinya, malam ini, Rabu (11/11). Mereka berdua adalah kiai dan bu nyaiku.


Sepanjang perjalanan motoran menuju Tambakberas, aku berpikir keras, bagaimana menempatkan ulang sosok yang telah meninggal dunia, yang kita anggap penting dalam galaksi spiritualitas kita; apakah mereka benar-benar telah meninggalkan kita, atau bagaimana. 


Aku langsung teringat ayat keramat tersebut. Aku mewiridnya terus sembari berusaha membenamkan dan menghayati maknanya; bagi sebagian orang, kematian itu tidak berlaku. Yang ada adalah hidup terus menerus. 

"Kalau orang yang sudah mati, ya sudah, ndak usah dipikirkan lagi. Mati ya mati. Nggak usah diratapi, apalagi diglorifikasi sedemikian rupa," kata seorang kawan beberapa waktu lalu.

Itu sebabnya, tambah kawan itu, yang mati tidak butuh doa. Justru yang harus didoakan adalah yang masih hidup.

Mungkin ia benar; berkeinginan agar kita tidak dibebani aneka perasaan yang malah justru berpotensi membuat kita tidak bisa move on. 


Mungkin ia berfokus pada yang hidup ketimbang yang telah mati. Dan itu, menurutku, hal yang sangat masuk akal. 

Namun bagaimana jika yang telah mati tidak sepenuhnya mati, ia sebenarnya masih hidup --mungkin dalam dimensi lain, mungkin dalam memori orang-orang yang tidak ingin membiarkannya mati? Mungkinkah? 

Ayat keramat yang disebut Gus Mujib tadi memuat eksposisi ilahi seputar ketidakmatian para jihadis, crusader, para kekasih Tuhan yang gugur di medan lagi. 

"Tidak. Tidak. Mereka yang terbunuh di jalanKu sebenarnya tidak mati. Sebaliknya, mereka hidup di sampingku bergelimangan anugerah," kira-kira seperti itu Allah berfirman.

Haul malam ini bisa dianggap sebagai upaya merawat memori kolektif kami atas sosok Abah Nas dan Bu Nyai Dah. Beliau berdua diposisikan sebagai figur yang hidup --alih-alih dianggap mati. 

Keduanya, juga jutaan tokoh yang telah meninggal, perlu dihidupkan untuk membimbing yang masih hidup agar menjadi lebih baik. Kalau mereka dimatikan oleh yang hidup, aku merasa hal itu justru merugikan kita semua.  

Menghidupkan yang sudah mati adalah strategi utama bagaimana agama dan kepercayaan beroperasi memengaruhi para pengikutnya. Tanpa strategi ini, agama dan kepercayaan akan kesulitan menemukan dan merawat mereka, pengikutnya.

Sekarang Nabi Musa sudah tidak bisa kita jumpai  --begitu juga dengan Siddharta Gautama, Yesus, Athanasius, Nabi Muhammad, Imam Ghazali, Luther, Calvin dan yang lain. Namun mereka terus dihidupkan oleh para pengikutnya demi memperkuat spiritualitas dan komunitasnya.

Terkait ini, ada cerita unik. Sekira 3 jam sebelum ke Tambakberas, aku berdiskusi di sebuah WA grup. Anggotanya cuma 4 orang. 

Salah duanya adalah aku dan alm. Mas Steve Suleeman. Grup ini berkaitan dengan GKI Yasmin. 

Aku masih berusaha "menghidupkan," mas Steve. Mengajaknya ngobrol dan me-mention-nya --seperti tidak ada peristiwa kematiannya.

Ia tentu tidak bisa mereply percakapan kami dengan gaya normatif. Namun kami percaya ia menjawab kami dengan caranya --dan itu bersifat personal. 

"Yesus itu secara fisik kan ya ndak ada, namun dunia kan tidak hanya cukup disokong oleh fisik saja. Sebagaimana Yesus, Mas Steve akan selalu ada, hadir bagi yang merasakan 😁😁," begitu jawabku pada kawan bicaraku. 

Semua karena ayat keramat.

Lamat-lamat aku mendengar Kiai Marzuki Mustamar menyampaikan gagasannya di forum haul.(*)

Tuesday, November 2, 2021

Penyaliban Yesus/Isa di GKJ Bhayangkara


Seorang ibu, warga jemaat GKJ Bhayangkara Purwokerto , mengaktifkan mikrofonnya. Ia bertanya padaku seputar penyaliban Yesus yang kontradiktif antara ajaran Kristen trinitarian dan pandang Islam mainstream. Mana yang benar? Bagaimana mendamaikannya?
**

Aku akhirnya mengisi katekisasi internal di GKJ Bhayangkara Purwokerto. Teman baikku, Pdt. Maria, melayani di sana. 

Gereja ini adalah tempat singgahku setiap kali ke Purwokerto --selain sekretariat GUSDURian di dekat alun-alun kota itu. Aku mengenal banyak jemaat maupun pengurusnya. Aku merasa mereka adalah keluargaku.

Itu sebabnya saat dikontak Maria untuk mengisi katekisasi Senin (18/10) jam 18.00, aku sulit menolaknya. Padahal aku sudah ada acara pada waktu yang sama.

"Beri aku waktu sampai besok untuk memutuskannya ya, M" tawarku padanya.

Selain faktor kedekatan dengan gereja tersebut, topik yang ditawarkan padaku cukuplah menantang -- topik apa sih yang lebih hot ketimbang sengkarut ketuhanan Kristen dalam benak orang Islam? Tidak ada. 

Nah Pendeta Maria memintaku menyampaikan gagasan, pandanganku terkait trinitas a la Islam moderat. Maria mengklasifikasikanku sebagai kelompok moderat. Aku berterima kasih untuk itu.

"Gus Aan, saya ini dulunya Islam, ada hal yang cukup mengganggu saya," ujar bu Wince --bukan nama sebenarnya, ketika sesi tanya jawab berlangsung.
"Soal apa ya, mbak?" tanyaku balik.

Ia kemudian memapar kegalauannya seputar kontradiksi  penyaliban Yesus antara Alkitab dan pemahaman Islam pada umumnya.

Aku kemudian dengan santai mengajaknya membayangkan ia memiliki suami tentara, yang terbunuh secara sadis di tangan musuh. Tubuhnya dicincang musuh setelah terlebih dahuu mengalami penyiksaan sangat pedih. 

Saking tragisnya, kematiannya tidak perlu digambarkan. Menggambarkannya dengan kata-kata justru malah akan "merendahkan," martabat almarhum.

"Mbak, aku sangat bisa memahami seandainya mbak memilih tidak menceritakan secara detil kematian tersebut ketika ditanya anak-anak mbak yang masih kecil menanyakannya," kataku.

Detil kematian ayah mereka, jika dipaksaceritakan, tambahku, sangat mungkin justru akan memengaruhi kondisi psikologi mereka; dapat membuat mereka trauma dan kehilangan konfidensi atas ayah mereka.

Pilihan untuk tidak menceritakan detil kematian merupakan keinginan mulia yang muncul sebagai konsekuensi watak baik tiap manusia. Pilihan ini juga dimaksudkan untuk melindungi dan menjaga kehormatan pemilik tubuh agar tidak tercoreng oleh aib. Kematian dengan cara seperti itu adalah aib, harus disembunyikan.


"Lihatlah bagaimana tradisi Kristen Indonesia memperlukan orang yang sudah mati. Diberikan pakaian terbaik, diawetkan, dimake over habis-habisan agar ia bisa menghadap Gusti dengan sebaik--baiknya, sehormat-hormatnya," ujarku.

Seandainya ada bekas luka di wajah jenazah, maupun di bagian lain tubuhnya, sangat kecil kemungkinan hal itu akan dibiarkan tampil begitu saja. Perawat jenazah pasti akan mengintervensi hal tersebut. Demi menjaga kehormatan jenazah.

Menjaga kehormatan, dalam konteks ini, dirasa lebih penting ketimbang "bersikap jujur," menampilkan jenazah yang sesungguhnya. 


"Maka, mbak, nalar seperti inilah yang dipilih kristologi Islam dalam meyakini penyaliban Yesus," ujarku.

Yesus/Isa bagi orang Islam, tambahku, adalah sosok yang sangat suci. Kehormatan sosok seperti ini tidak boleh dinodai sedikitpun. Yesus/Isa yang disiksa --dan akhirnya meregang nyawa di kayu salib adalah aib yang sangat berat, yang harus ditutupi, demi menjaga kehormatannya.

"Kami sangat mencintai Yesus. Itu sebabnya kami tidak akan membiarkan kehormatannya tercoreng ---sungguhpun peristiwa penyaliban itu benar-benar terjadi. Dari sini kira-kira bisa dipahami kan, mbak?"

Yesus, tambahku, kami anggap "terlalu suci," untuk "dikotori," oleh penghinaan dalam bentuk penyiksaan, penderitaan dan penyaliban. 

Posisi keimanan kami atas Yesus yang "tidak pernah disalib," --jelasku-- kira-kira sama persis dengan pilihan tradisi kekristenan dalam memperlakukan jenaazah secara positif sebagaimana di atas. 

Forum katekisasi begitu sunyi saat aku menjelaskan hal ini. Entah apa yang ada dalam benak para peserta atas responku. Yang aku pedulikan hanyalah bagaimana aku mampu menjelaskan kejujuranku.

Aku juga tidak yakin seberapa banyak orang Islam mengetahui dan menerima rasionalisasi seperti yang aku jelaskan di atas. Kebanyakan dari kami selama ini, sejujurnya, telah dididik untuk bersikap taken for granted atas doktrin antipenyaliban. Sami'na wa atho'na, pokoknya.

Akan tetapi Siapapun yang pernah belajar sejarah gereja, pasti tahu ada doktrin docetism yang sangat memengaruhi sekte Monofisit pada masa kekristenan awal. Doktrin yang menitikberatkan pada aspek ketuhanan Yesus ini secara otomatis menyangkal kemanusiaan Yesus. Dengan demikian, doktrin ini menyangkal realitas kelahiran, ketubuhan, penderitaan, dan juga penyaliban Yesus. Semua aspek kemanusiaan Yesus adalah ilusi belaka.  Doktrin ini secara sederhana ingin menyatakan; Yesus adalah 100 persen tuhan dan 0 persen manusia.

Doktrin ini berbeda dengan doktrin trinitas yang mengimani bahwa Yesus merupakan tuhan sepenuhnya dan manusia sepenuhnya. 

Docetism dan monofisit selanjutnya dianggap sebagai ajaran heterodoks, bidat, murtad, dan sesat. Tidak boleh diajarkan.

Kelompok ini, bersama sekte-sekte  non-trinitarian lainnya, selanjutnya menyingkir ke semenanjung Arab, hidup di sana, termasuk di Makkah dan Yathrib (Madinah) lebih dulu sebelum kemunculan Islam. Beberapa sekte lain, misalnya, Ebionite, Gnostic, Arian, dan Nestorian.

Bisa dikatakan, Islam tumbuh dan "dibesarkan,"  dalam tradisi dan doktrin sekte-sekte tersebut. Itu sebabnya, pengaruh mereka sangat kuat membentuk kristologi Islam yang sangat antitrinitarian, termasuk dalam isu penyaliban.

"Mbak, saya percaya fakta sejarah. Jika Yesus secara historis telah dibuktikan mati di kayu salib, saya tidak bisa menyangkal hal tersebut. Namun saya juga bisa memahami seandainya mbak memilih tidak menceritakan ke anak-anak seputar detil kematian ayah mereka. Semoga poinku bisa dipahami ya," kataku.

Di akhir forum, aku mendorong peserta merenung; apakah memang Yesus pernah menyatakan secara jelas dan tegas bahwa trinitas merupakan satu-satunya jalan keselamatan; apakah memungkinkan semakin seseorang fanatik terhadap trinitas semakin ia bisa menerima semua cara menuju Yesus?

Lamat-lamat aku teringat sebuah kalimat; kali kecing kali bening, segoro wajib nompo.

Monday, November 1, 2021

MENANTANG KEWARGANEGARAAN DI PADJADJARAN

Matakuliah umum (MKU) seperti Pancasila, Ilmu Sosial dan Budaya, Agama, maupun kewargaan, sering dianggap remeh. Seringkali, matkul tersebut dijadikan tempat pembuangan dosen-dosen, di beberapa kampus.

Padahal, MKU merupakan "jantung," perubahan cara pandang mahasiswa/i. Melalui MKU, para mahasiswa tidak hanya belajar tentang ilmu pengetahuan, namun juga mendialogkannya dengan nilai (value) --supaya terjadi perubahan perilaku.


Jika kita pernah dengar Seven Deadly Sins, maka, menurutku, di MKUlah tempatnya; kita boleh menjadi kaya namun tidak boleh rakus; kita bisa pintar namun terlarang meninggalkan kemanusiaan, dan yang lain.


Nah, kerapkali --aku ambil contoh matakuliah Kewarganegaraan-- tidak bisa optimal mengubah cara pandang seseorang, misalnya, terkait toleransi dan intoleransi.


Sangat mungkin hal ini disebabkan banyak faktor, salah satunya, teknik/metode maupun paradigma mengajar. Seandainya pengajaran matkul tersebut lebih "didaratkan ke bumi," ketimbang dibiarkan "gentayangan di atas langit," --maka bisa jadi hasilnya berbeda.


Di video ini, saat diundang oleh FISIP Universitas Padjadjaran (30/10/2021), aku menawarkan sedikit cara bagaimana idealitas pengajaran MKU kewarganegaraan (civics).


Selama lebih kurang 30 menit, aku coba menjelaskannya, disertai basis teori dan implementasinya, berdasarkan pengalaman kelasku Pancasila di kampus Ciputra. Berikut videonya.


Nah yang menurutku menarik, saat itu, aku juga melakukan polling pada mahasiswa yang hadir. Aku namai pollingnya; tes wawasan kewarganegaraan.


Isinya, menelusuri sejauhmana penerimaan mereka terhadap kelompok berlatar belakang agama dan identitas berbeda dengan mereka. Misalnya, apakah kamu memiliki teman LGBT; apakah keberatan pacaran beda agama; apakah keberatan jika ada dosen/staff/karyawan/mahasiswa LGBTIQ di kampusmu.


Pokoknya seru!

Jika tidak percaya, silahkan melihatnya sendiri di SINI.


Dari jawaban-jawaban yang masuk, kita jadi tahu seberapa akut kadar bias identitas bercokol dalam pikiran mereka.


Aku berpikir, instrumen ini bisa terus dikembangkan supaya kita lebih akurat mendapat gambaran tentang diri dan lingkungan kita. Gambaran ini kemudian bisa dijadikan milestone untuk intervensi lanjutan; mau diperparah atau disembuhkan.


Dengan model yang aku tawarkan, kini pembelajaran matakuliah kewarganegaraan tidak lagi mengawang dan membosankan. Sebaliknya, ia dipenuhi gebrakan dan, tentu saja, tantangan.(*)


Sunday, September 5, 2021

13+16+7


Ini adalah kombinasi baru berkaitan dengan sosok yang dihormati ratusan juta orang Islam. Termasuk bagiku.

Bagi mereka mengetahui lebih dalam sosok yang dianggap suci dalam sebuah agama adalah hal fundamental, termasuk dalam Islam. Darinya diharapkan kita bisa mengambil teladan (uswah) agar menjadi pribadi yang lebih baik.

Nabi Muhammad (NM), oleh para pengikutnya, telah dipercaya sebagai profil sempurna. Sosoknya dianggap representasi utama untuk menuju Tuhan.

Itu sebabnya, semakin banyak pengetahuan yang dicecap darinya, semakin seseorang lebih mengenalnya. Dan, semakin dalam pengetahuan terkait dirinya semakin terbuka peluang seseorang bisa menjadi rahmatan lil 'alamin.

Beberapa waktu lalu aku telah menuliskan sekitar 13 perempuan yang pernah hidup di sekeliling Nabi --baik sebagai istri maupun selir. Sembilan dari mereka, dalam tradisi Muslim-Sunni, dikenal sebagai ummahat al-mu'minin (mothers of believers). Tiga orang meninggal sebelum Nabi. Satu yang lain adalah Maria Qibtiyyah (Koptik).

Aku berusaha menuliskan mereka supaya pengetahuanku bertambah dan, yang paling penting, agar lebih mengingat mereka. Menulis adalah salah satu cara terbaik untuk mematri dalam ingatan.

Selama ini, yang aku ingat dari para perempuan dalam rumah tangga Nabi adalah mereka yang berstatus istri maupun selir. Jumlahnya sudah aku sebutkan di atas.

Yang baru aku tahu, setelah membaca karya Montgomery Watt, Muhammad at Medina, masih ada cukup banyak perempuan yang ada di sekeliling Nabi.

Dalam buku tersebut, tepatnya di bagian Excursus L, Watt menjadikan beberapa buku sejarah dan tafsir yang tergolong babon sebagai sumbernya. Misalnya, karya Ibn Hisyan, al-Tabari --Tarikh al-Rusul dan Tafsir Jami' al-Bayn-- serta kitab milik Ibn Sa'ad, Tabaqat. Selain itu, Watt melengkapinya dengan catatan dari Caetani, Annali dell' Islam; G.H. Stern, Marriage in Early Islam; Wellhausen, Die Ehe bei den Arabern.

Siapapun yang mempelajari sejarah Islam pasti tahu buku-buku rujukan tersebut. Watt memang dikenal bukan sarjana kaleng-kaleng. 

Ia adalah professor studi-studi Arab dan Islam di Universitas Edinburg. Penerima gelar kehormatan Doctor of Divinity dari Universitas Aberdeen ini juga tercatat sebagai pendeta di Gereja Episkopal Skotlandia. Oleh beberapa media Islam, Watt dijuluki sebagai Orientalis Terakhir. 

Mendengar kata "orientalis," biasanya akan banyak orang Islam yang ancang-ancang membuang muka, menyepelekan apapun hasil kinerja mereka. Tidak peduli seakademik apapun karya mereka dihasilkan. 

Kritisisme mereka akan selalu dianggap merongrong Islam. Aku sendiri pernah lama dididik untuk berpikir seperti itu juga, sampai akhirnya aku merasa malu mempertahankan nalar itu.

Mungkin, keterusterangan Watt mengupas para perempuan di sekeliling NM akan dimaknai sebagai penggangsiran kredibiltas sosok paling suci dalam agama Islam. Hanya saja, menurutku, justru melalui tulisan dan analisisnya, setiap orang bisa memutuskan bagaimana ia akan bersikap.

Saat menelisik para perempuan, selain yang berjumlah 13 tadi, Watt tidak cukup yakin berapa jumlah persisnya. NM pada waktu sangatlah berkuasa. 

Itu sebabnya, banyak suku (tribe) ingin menjalin relasi dengannya melalui jalur perkawinan. Aku menjadi teringat bahwa model seperti ini mirip dilakukan oleh pesantren-pesantren untuk memperkuat jaringan antarmereka. 

Anak kiai pesantren x dikawinkan dengan anak kiai dari pesantren lainnya, ditautkan sedemikian rupa sehingga membentuk pola seperti sarang laba-laba. 

Watt mencatat terdapat setidaknya 16 perempuan yang kabarnya memiliki relasi (civil union) dengan NM namun tidak bertahan sampai selesai (berpisah). 

Siapa saja mereka?

Dari Banu (keluarga) Kindah, terdapat dua nama. Pertama, Asma bint Nu'man, menikah Juni 630 Masehi. Menurut cerita, Asma berpisah sebelum sempat dinikahi. 

Ada yang berpandang Asma termasuk "mothers of believers," namun ada sebagai versi cerita yang menolak statusnya ini. Ia dikabarkan menikah lagi setelah berpisah dengan NM. 

Kedua, Qutayla bint Qays, saudari al-Ash'ath bin Qays yang pernah memberontak terhadap Abu Bakar sebelum akhirnya bergabung dengan Islam dan menjadi pemimpin. Rencana perkawinan Qutayla gagal karena NM meninggal dunia.

Perempuan ketiga dari Banu Layth, bernama Mulaykah bint Ka'b (Layth). Terdapat beberapa kabar yang menyatakan; pertunangan tidak berlanjut ke jenjang perkawinan (consumation); keduanya menikah Januari 630 dan meninggal; serta ada kabar yang menyatakan NM tidak pernah melakukan perkawinan dengan perempuan dari keluarga Kinanah --dimana banu Layth menjadi bagiannya.

Perempuan keempat yang disebut Watt adalah Bint Jundub binn Damrah, keluarga Kinanah. Terdapat cerita yang menyatakan perkawinan keduanya terjadi namun juga ada yang menyangkal.

Perempuan kelima hingga kesembilan berasal dari Banu Kilab, yakni: Fatimah bint ad-Dahhak, 'Amrah bint Yazid, 'Aliyah bint Zabyan, Saba bint Sufyan, dan Nashah bint Rifa'ah.

Perempuan kesepuluh adalah Ghazlyah bint Jabir, atau terkenal dengan nama Umm Sharik. Terdapat kesepakatan luas diantara sejarawan Islam bahwa ia adalah sosok yang disebut dalam Q. 4. 25/29), yakni perempuan yang mengajukan dirinya untuk diperistri NM. 

Ada versi yang menyatakan, NM yang mengajukan lamaran. Sharik diceraikan sebelum keduanya "berkumpul," (consumate).

Sedangkan perempuan kesebelas hingga lima belas adalah Fatimah bint Shurayh; Sana atau Saba bint (Asma' b.) as-Salt (Sulaym),  meninggal sebelum perkawinan dilangsungkan; ash-Shanba' bint 'Amr dari Banu Ghifar sekutu Banu Qurayza --diceraikan karena menyampaikan perkataan yang skeptis terkait kematian Ibrahim putra NM dengan Maria Qibtiyah; Khawlah bint al-Hudhayl dari Banu Taghlib, meninggal sebelum perkawinan berlangsung; dan, 
Khawlah bint Hakim dari Banu Sulaym. 

Kabarnya, saat Khawlah meninggal "posisinya," digantikan Sharaf bint Khalifah dari Banu Kalb), yang merupakan bibinya dari garis ibu. Dengan demikian Sharaf merupakan perempuan keenambelas dalam cerita romansa NM.

Apakah berhenti sampai di sini? Ternyata tidak. 

Watt menemukan tujuh nama perempuan lain yang pernah diperbincangkan akan dikawinkan dengan NM. Namun, tidak ada rencana tindak lanjut setelahnya. Mereka adalah Habibah bint Sahl dari kelompok Ansar -- keluarga Malik b. an-Najjar; Layla bint al-Khatim dari kelompok Ansar -- keluarga Zafar;  Umm Hani' bint Abi Talib dan Umm Habib bint al-'Abbas, keduanya dari Banu Quraysh -- keluarga Hashim); Duba'ah bint 'Amir dari keluarga 'Amir b. Sa'sa'ah); Safiyah bint Bashshamah dari Banu Tamim -- keluarga al-'Anbar); dan yang terakhir adalah 'Ammarah (atau Umamah) bint Hamzah dari Banu Quraysh -- keluarga Hashim.

Maka, total jumlah perempuan yang dikabarkan pernah berada dalam kehidupan personal-romansa NM adalah 36 orang. 

Pertanyaan krusial yang mungkin mengemuka dari pemaparan di atas; bagaimana kita, baik orang Islam atau bukan, menyikapinya? 

Semoga ada waktu menuliskan hal ini. Wallohu a'lam.(*)

Featured Post

Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 35

Rilis Jaringan NU Kultural (JANUR)  Jombang, 19 Agustus 2026 Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 35 Muktamar ke-35...