Tuesday, March 2, 2021
PENGHORMATAN ATAS PARA KORBAN
Saturday, February 27, 2021
MENGUKUR KADAR ELJIBITI DI KOHATI
"Sekarang, mari kita main survei kecil-kecilan. Silahkan masuk mentimeter untuk ikut polling ini. Jangan Kuatir, identitas kalian terlindungi," ucapku di akhir presentasi pada peserta sekolah gender Korps HMI-Wati (KOHATI) Fakultas Hukum Universitas Brawijaya di layar zoom, Sabtu (27/2/2021).
Sejak awal aku sudah deg-degan memikirkan apa hasilnya nanti. Yang terlintas, mereka akan memilih apa yang aku kuatirkan. Survei ini sebenarnya merupakan post-test untuk melihat sejauhmana materi yang aku sampaikan mendarat dengan baik.
Acara tadi tidak hanya diikuti anak KOHATI saja. Peserta umum bisa ikut bergabung. Namun aku tidak bisa mengindentifikasi satu per satu mereka. Kekuatiranku makin bertambah manakala aku hanya memiliki waktu terbatas untuk mempresentasikan gagasanku. Bagaimana mengharapkan perubahan besar dalam waktu singkat? Perubahan pemikiran seseorang biasanya berjalan gradual, evolutif, bukan revolutif.
Rupanya kekuatiranku tak terbukti. Banyak dari mereka menjatukan pilihan yang luarbiasa; tidak setuju tentara tersebut dipecat.
Ya, aku menanyakan respon mereka atas peristiwa pemecatan salah satu tentara dari kesatuannya. Ia, oleh pengadilan militer, dianggap terbukti melanggar pasal 103 KUHP Militer atau pasal 281 KUHP tentang perbuatan asusila. Tidak hanya dipecat, tentara ini juga dihukum penjara selama 8 bulan.
"Aku tidak akan banyak ngomong soal pasal. Alih-alih, aku mendorong kalian sebagai seorang scholar cum activist untuk berani mempertanyakan pasal. Berpikirlah lebih substantif. Mainlah di arena filsafat hukum," kataku menggebu-gebu.
Dengan menggunakan trisula kekerasan yang pernah ditawarkkan Galtung, aku yakinkan mereka bahwa kekerasan langsung dipicu oleh kekerasan struktural. Kekerasan struktural sangat tergantung kekerasan kultural.
"Kekerasan kultural bisa berbentuk norma dan epistemologi serta model bergama yang kita anut," ujarku.
Pelan-pelan aku kuliti; bagaimana pekatnya narasi klasik keislaman yang masih sangat bias identitas gender dan seksualitas prokreasi. Narasi didistribusikan secara massif dan sistematis melalui kanal-kanal pendidikan formal maupu pesantren.
"Siapa yang tidak hujjatul Islam Imam Ghazali dengan karya agungnya Ihya 'Ulumuddin? Jika kita tidak hati-hati menjelaskan pandangannya terkait perempuan di kitab tersebut, peradaban ini akan mundur kembali," kataku sembari menampilkan slide berisi 11 poin "idealitas," perempuan versi Imam Ghazali.
"Namun aku tidak akan berhenti mencukupkan penjelasanku soal perempuan tanpa menyinggung mereka yang lesbian, biseksual, aseksual, atau mereka yang memilih tidak mau bereproduksi. Aku tidak yakin dosenmu di UB memberimu informasi terkait hal ini. Begini....." aku pun mulai berbusa-busa menjelaskan panjang lebar latar belakang ketakutan nalar Islam klasik terhadap LGBT dan seksualitas yang tidak reproduktif.
Entah karena pemaparanku atau faktor lainnya, mereka seyatanya telah memilih posisinya atas kasus LGBT dan tentara. Gambaran polling ini merupakan potret yang harus kita syukuri. Berkali-kali aku mengatakan rasa syukurku, di forum, atas kesediaan HMI-Wati mendengar suara alternatif yang aku yakini.
"Ingat, jangan pernah biarkan orang lain menentukan apa yang terbaik bagi tubuhmu, bahkan dengan membawa-bawa agama sekalipun. Kalian diberi akal dan nurani. Biarkan keduanya menuntun kalian," tutupku.
Thursday, February 25, 2021
Majulah Pemudi-Pemuda Nahdlatul Ulama!
Monday, February 15, 2021
DILINDUNGI! Jangan Malah Digerayangi dan Dicabuli
Wednesday, February 10, 2021
TAK BISA JAUH-JAUH DARI SETIJADI
Wednesday, February 3, 2021
JAWA DI ANTARA GUEST HOUSE DAN KURUSETRA ISLAM-KRISTEN
**ditulis untuk merayakan HUT ke-92 GKJ Bhayangkara Purwokerto
Dari sekitar 340an gereja milik GKJ sangat mungkin guest house GKJ Purwokerto yang paling sering aku tiduri. Guest house GKJ biasanya diperuntukkan bagi para pendeta yang "tukar mimbar," -- istilah bagi pendeta yang melayani diluar jemaatnya.
Meski aku bukan pendeta, GKJ Purwokero berbaik hati menampungku di sana. Mungkin mereka menerapkan prinsip; fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh teman-temannya. Tak peduli apapun agamanya -- mirip seperti yang ada dalam konstitusi.
Tidak hanya memberiku tempat tidur, mereka juga berbaik hati memberiku makan dan minum selama di sana. Namun tang paling penting justru, aku berkesempatan belajar kekristenan model GKJ Purwokerto.
Pada setiap kesempatan mengunjungi komunitas non-Islam, aku memposisikan diriku seperti mahasiswa jurusan studi agama-agama. Setiap tempat adalah medan pembelajaran memahami liyan. Pembelajaran ini tidak bertujuan apapun selain untuk bisa mengenali agar tidak salah paham.
Pada banyak kesempatan, selama di sana, aku sering ikut nimbrung saat ada pertemuan formal maupun informal. Aku pernah menyaksikan para adiyuswa (sebutan jemaat lansia) senam zumba di halaman gereja. Kebetulan salah satu pendetanya, Maria Puspitasari, cukup lihai dalam aspek ini.
Beberapa kali juga aku ikut sit-in bersama jemaat, baik sewaktu ibadah maupun pendalaman Alkitab. Jika ada yang tidak aku pahami --, misalnya, terkait liturgi maupun penggunaan bahasa Jawa level tinggi, aku biasanya bertanya pada Pdt. Maria dan mas Yohannes Triwidiantono. Untuk urusan bahasa aku lebih sering ke nomor dua ketimbang nomor satu. Menurutku, nomor satu "tidak terlalu Jawa" meski sangat Jawa. Bahasa jawanya kurang medok.
Jawa dan Kekristenan di Indonesia adalah hal yang unik. Agama ini hadir saat islam berusaha mati-matian menguasai pangsa pasar agama di kalangan suku Jawa. Kekristenan Jawa yang tidak bisa dilepaskan dari nama, salah satunya, seperti Radin Abas --sebelum berubah menjadi Kiai Sadrach-- senyatanya telah berhasil mengambil hati banyak orang Jawa pascaperang Jawa. Kekristenan ini seperti menawarkan model keselamatan alternatif selain Islam.
Sadrach, begitu pula Tunggul Wulung dan Coolen, adalah faksi Kristen yang memilih mempertahankan identitas kejawaannya, ketimbang model kekristenan londo yang juga banyak pengikutnya. Mereka, terutama Sadrach, menggunakan berbagai simbol kejawaan untuk menjelaskan teologi kristen trinitarian. Sangat mirip dengan strategi sinkretisme-mistis yang digunakan Islam kala "menaklukkan," Jawa. Mungkin itu sebabnya ia mendapat banyak pengikut di kalangan Jawa.
Saat kekristenan Jawa di bawah Sadrach berkembang, tidak sedikit orang Islam yang marah. Hampir semua gereja yang dibangun pengikut Sadrach dibakar, antara 1882-1884.
Sadrach memang fenomenal. Ricklefs mencatat lelaki yang pernah belajar di Pesantren Jombang (Tebuireng?) ini sebagai tokoh lokal paling berpengaruh dalam kekristenan di Jawa Tengah.
Hingga 1900, terdapat sekitar 20.000 orang Kristen di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jumlah ini kira-kira 0,1 persen saja dari populasi di Jawa. Angka ini tentu saja sangat kecil dibanding dengan jumlah orang Jawa yang berislam.
Namun pada 1967-1970, jumlah orang Indonesia yang berpindah Kristen meningkat tajam. Sekitar hampir 1 juta orang. Gereja-gereja di Jawa mendapat pengikut baru yang tidak sedikit. Ukur dan Cooley memperkirakan GKI Jawa Timur mendapat 17 persen, GKJTU 15,5 persen, GITJ 12,2 persen, GKJ dan GKJW masing-masing 9 persen.
Banyak elit Islam saat itu, bahkan hingga kini begitu terluka melihat peristiwa ini. Kemarahan mereka semakin mendidih terhadap kekristenan. Mereka menganggap kekristenan tengah "mencuri," orang-orang Islam. Diksi kristenisasi di Indonesia jika mau dilacak, menurutku, berakar dari peristiwa ini.
Peristiwa ini, bagi banyak orang Jawa-Islam, terasa seperti goresan pada luka yang pernah ditorehkan Sadrach. Aku sendiri pernah dikondisikan untuk merasakan luka tersebut, luka yang dikreasi agar banyak orang Islam, khususnya Jawa, marah pada Kekristenan.
Jika kini aku merasa tengah berproses agar bisa sembuh dari luka sejarah tersebut namun mungkin tidak bagi banyak muslim-Jawa lainnya. Mereka sepertinya masih memilih merawatnya dengan cara pandang klasik. Aku bisa merasakan itu, termasuk saat tidur di guest house yang hanya berjarak kurang dari 5 cm dari masjid yang dibangun secara unik.
Keunikan ini menyeret rasa penasaranku untuk menelisik dan menuliskannya, sekitar 2-3 halaman. Namun pada akhirnya aku memilih untuk tidak mempublikasikannya atas saran beberapa orang. Aku respek pada mereka meski sempat agak kecewa dengan mereka.
Saran mereka semakin membuatku percaya dan bersyukur Jawa akhirnya tidak lagi dimonopoli total oleh Islam. Monopoli, dalam hal apapun --termasuk agama, tidaklah sehat bagi jiwa dan tubuh bangsa. Kita butuh keragaman. Keragaman membuat kita memiliki banyak opsi dan kita merdeka memilih opsi tersebut seraya harus tetap menghormati pilihan lain.
Selamat ulang tahun ke-92 GKJ Bhayangkara Purwokerto. Majulah kekristenan Jawa untuk merawat kebinnekaan Indonesia. Biarlah guest house tetap terbuka untuk orang-orang sepertiku.
Ttd
Aan Anshori
Jawa-Islam-Nahdlyyin-GUSDURian
Wednesday, January 20, 2021
Memberi Makan atau Tidak?
Brown adalah satu dari empat anjing yang datang menyambut kami di pepanthan Sumbergogor GKJW Wonosalam, Senin (6/1).
Aku merasa hanya ia yang menaruh perhatian padaku. Pikiran konspiratifku langsung berkata; jangan-jangan ia memang ditugaskan genk anjing tersebut untuk menakut-nakutiku, mencobaiku, selama di sana.
Aku sendiri sebenarnya sudah tidak terlalu takut pada anjing. Ini penting aku sebutkan karena tidak demikian halnya kebanyakan Muslim. Sejak orok, mereka telah dikondisikan takut dan, pada titik tertentu, membencinya.
Dari mana aku tahu? Mudah, sebab aku dibesarkan dalam tradisi Muslim-Sunni-Nahdliyyin-Syafi'iyan --denominasi Islam terbesar di Indonesia sekaligus penentu kebenaran secara politik dan sosial.
Syafiiyan adalah sebutan penganut hukum Islam klasik (fikih) madzhab Imam Syafii. Sosoknya hidup antara 767-820 M. Ia adalah raksasa yang begitu kuat menggenggam nalar hukum Muslim Indonesia. Ada lebih dari 27.000 pesantren Indonesia yang hampir semuanya berpayung padanya.
Padahal, ada 8 madzhab fikih lain yang bisa dipilih selain Syafii. Yakni; Hanafi, Maliki, Hanbali, Ja'fari, Zaydi, Zahiri, Ibadis dan Mu'tazili. Kesembilan dewa fikih seringkali berbeda pandangan satu dengan yang lain dalam banyak hal. Termasuk soal anjing.
Kesembilannya tentu mengambil basis alQuran dan kemudian menafsirkannya. Produk tafsir inilah yang "wajib" dikonsumsi oleh kebanyakan Muslim saat ini --disebut Muslim awam --termasuk aku. Tugas Muslim awam adalah read and follow. Praktek norok bunthek seperti ini yang dulu dikritik hebat Soekarno lewat "Islam Sontoloyo,"
Entah bagaimana ceritanya, terutama oleh Syafiian, anjing dianggap binatang --tidak hanya najis namun -- supernajis. Mungkin Imam Syafii pernah memiliki pengalaman personal terkait anjing sehingga berposisi demikian.
Syafiian sangat mungkin mendasarkan posisinya pada perkataan yang kabarnya dari Nabi Muhammad. Misalnya, malaikat tidak akan masuk rumah yang ada gambar, lukisan maupun anjingnya; Nabi memerintahkan membunuh anjing.
Perkataan ini (jika memang benar dari Nabi) selanjutnya "ditelan," mentah-mentah, tanpa dicerna konteksnya saat itu. Para sarjana psikologi modern yang juga pakar anjing, misalnya Stanley Coren, menganggap pelarangan tersebut sangat mungkin berkaitan dengan wabah rabies.
Selain itu, beberapa hadits antianjing dinarasikan Abu Hurairah (father of little cat). Tokoh hadits tersohor ini oleh beberapa kalangan kalangan dianggap cukup anti terhadap anjing dan, perempuan.
Sikap antianjing dalam Islam patut ditelisik karena aneh. AlQuran sendiri tidak pernah menyebut kenajisan binatang ini. Tidak seayat pun. Yang terjadi justru sebaliknya; Anjing (Qitmir) diposisikan dalam cerita heroik-spiritual ashabul kahfi (seven sleepers) dan bahkan kabarnya ikut ke surga.
Aku menduga kuat ketidaksukaannya terhadap anjing kemudian diwariskan, secara turun-temurun, menggunakan rantai epistemologi hukum klasik Islam yang dikenal sangat rigid.
"Afala yatadabbaruuna al-qur'ana walaw kana min 'indi ghayr allaha lawajaduu fiihi ikhtilaafan katsiroo," -- Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS.4:82)
**
Tak kusangka, Brown mendekat saat aku duduk santai di depan. Lidahnya dijulur-julurkan. Gigi-gigi berderet rapi. Taringnya, uuuhhh.. menyeramkan.
Aku makin kalut. Antara berani, takut dan jijik. "Ia baik.. ia baik.. ia baik..: begitulah yang terus aku wiridkan saat ia mulai mengendus sepatuku. Jaraknya begitu dekat. Aku berusaha setenang mungkin. Mencoba mengajaknya berbicara -- padahal sebenarnya aku sedang menutupi kegugupanku.
Aku berhasil menguasai diriku sendiri. Tidak lari menyingkir, menjauhinya. Brown kemudian memilih menjauhiku. Sangat mungkin ia menganggapku "undangerous," dari hasil endusannya.
Menurutku ia berbuat baik padaku. Sama sekali tidak membahayakan. Itu sebabnya, saat ia tidur-tiduran, aku menghampirinya. Mengelusnya sebagai tanda terima kasihku atas sambutannya.
Percayalah, aku benar-benar berusaha memberanikan diriku sendiri, berkalang rasa takut dan ketidakpastian yang terus menjalar. Mungkin ini seperti yang pernah dirasakan Soekarno saat datang ke rumah nonik Belanda untuk melamarnya, sebelum akhirnya diusir calon mertua lakinya secara tragis.
"Thank you for being nice to me," kataku padanya dalam hati.
**
Aku, Pdt. Ridha, Edi dan Pdt. Anggi bergerak menuju ruang makan. Terhidang aneka makanan khas Wonosalam, terutama sayur plompong --sejenis sayur lodeh dengan bahan dasar batang talas. Empuk seperti spon dan enak, jika bisa masaknya.
Tersedia juga lele goreng, telur dadar, sambal goreng tongkol dicampur tempe, sambal dan, tentu saja, krupuk.
Awalnya aku makan di dalam ruangan. Kemudian bergeser ke luar. Aku ingin makan sembari menikmati suasana pegunungan.
Aku melihat brown berjalan mendekatiku. Saat dekat ia duduk di depanku. Dua kaki depannya berdiri. Bokongnya diletakkan di lantai. Mukanya memelas. Lidahnya dikeluarkan. Tanda ia ingin makan juga.
Aku reflek mengambil potongan lompong dan aku lempar ke sebelahku. Ia mengambilnya. Begitu selesai, ia kembali duduk di depanku. Posisi semula; minta makan.
"Ini anjing opo tho yooo. Mosok mangane lodeh lompong," aku bicara sendiri sambil tertawa. Sejenak aku berpikir; kenapa makanannya harus aku lempar? Kenapa tidak aku berikan langsung dengan tanganku sendiri? Tapi bagaimana jika tanganku yang justru diterkamnya? Siapa yang akan menjamin tanganku tidak digigitnya?
Pertanyaan-pertanyaan ini terus berkecamuk dalam pikiranku. Berputar-putar dengan sendirinya. Terjadi pergolakan dalam diriku.
Entah dorongan apa menggerakkan tanganku untuk menyodorkan potongan lompong ke mulutnya. "Awas jika tanganku kau gigit, aku tendang kamu," batinku mengambil ancangan.
Saat mulutnya hanya berjarak dua sentimeter dengan posisi terbuka, aku kaget sekali. Reflek aku tarik tanganku cepat. Lompong terjatuh antara aku dan Brown. Ia menjumputnya dengan mulut dan mengunyah. Entahlah apakah apakah ia tahu aku sedang berjuang dengan ketakutanku sendiri. Ia begitu santainya. Duduk dan berposisi semula; ingin makan.
Aku mencoba lagi mengulurkan lompong, langsung dari tanganku. Kali ini aku meyakinkan diriku; tidak akan digigit. "Kalau dia berkehendak menikmati dagingku, ia lho bisa melakukannya sejak awal. Namun ternyata tidak kan?" kataku meyakinkan diri.
Keyakinanku terbukti. Mulut Brown hanya mengambil lompongnya saja. Tanganku dibiarkan tak terjamah. Mungkin ia sadar, jika tanganku ikut-ikutan dilahap maka hal tersebut akan mengubah nasibnya.
Aku menikmati proses relasiku dengan Brown. Ini adalah pengalaman pertamaku selama hidup hampir 50 tahun. Tak pernah akku sedekat ini dengan anjing. Aku membayangkan apakah keintiman seperti ini yang terjadi pada peristiwa ashab al-kahfi dengan anjing Qitmir.
Tahu berapa kali aku bolak-balik ke meja makan untuk nambah sayur lompong? Delapan kali! Gara-gara si Brown.
Featured Post
Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 35
Rilis Jaringan NU Kultural (JANUR) Jombang, 19 Agustus 2026 Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 35 Muktamar ke-35...
-
Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer --semena-mena; hitam-putih. Yang satu merasa lebih superior sembari ...
-
Bukan, ia bukan tokoh masa kini seperti Lady Di(ana) atau Lady Gaga. Saya berani jamin Anda pasti kesulitan melacaknya di Vanity Fair atau ...
-
Santy Winarta, Religion F, Univ. Ciputra Surabaya, IG @santywinarta MENURUT saya, selain melakukan ibadah, puasa dapat diartikan sebagai car...





