Monday, May 22, 2017
Konstruksi Gelap Pemurtadan Rosnida
Dari mana Pesona Lady Sukayna Bermula?
Encyclopaedia of Islam tidak menyebut pasti di mana Sukayna lahir dan kapan. Ini agak aneh mengingat buku berjilid-jilid ini dikenal cukup komplit. Namun berpijak pada wilayah di mana keluarga Sukayna hidup sebelum Peristiwa Karbala, maka saya meyakini Sukayna lahir dan besar di Madinah.
dinarasikan Abdullah bin Abbas.
ternyata mengagumi style perempuan Madina, sudah berani memprotesnya ketika merasa diperlakukan tidak adil. Umar juga dikenal resisten atas gaya egalitarian Nabi terhadap perempuan.
perempuan-perempuan yang ikut takziyyah ke makam Ruqayya, putri Nabi. Umar rupanya tidak suka melihat perempuan menangis-duka di kuburan. "Let them weep, Umar. But beware of braying of Satan" cegah Nabi.
kompromistis.
Pelacakan saya menunjukkan Peristiwa Karbala tidak bisa diabaikan dalam pembentukan watak dan karakter Lady Sukayna. Karbala merupakan tragedi pembantaian massal keluarga Sukayna oleh rezim Umayyah yang dipimpin Yazid I.
sebagaimana dikutip Peter Chelkowski, "There was no other more eloquent woman than Zaynab; when she spoke, men held their breath. One person who heard her speak said, 'I swear to God that I have never heard a woman with such lucid, clear, and accurate language and such logical rhetoric in my life,"
hadapan publik maupun pengadilan.
(worthy) dan juga tidak punya otoritas untuk itu,” ketus jawabnya.
Dalam konteks poligini, saya punya hipotesis personal; semakin
perempuan punya posisi tawar --terutama dari aspek ekonomi atau status sosial, serta pendidikan dan keberanian, maka (harusnya) semakin kecil kemungkinan ia bersedia dimadu. Saya menyebutnya sebagai tiga
antibiotik poligini.
kira, adalah Dewi Yull dan Maia Esthianti. Keduanya menolak tunduk
pada hasrat-kuno-laki-laki yang ditawarkan suami mereka; Ray Sahetapy dan Ahmad Dhani.
you are ever in the center, not being a partisan among the people for
this or for that. And I love you for your trustworthiness, and for the
beauty of your character and the truth of your speech."
gejolak hatinya tanpa pernah merasa minder menerima resiko penolakan.
terima akan dipoligini, dan melaporkannya ke Muhammad SAW. Nabi kemudian mengatakan siapapun yang menyakiti Fatimah berarti menyakiti dirinya. Ali pun surut. Belakangan, setelah Fatimah tiada, Ali melakukan poligini.
Integritas, keberanian, dan intelektualitas Lady Sukayna bahkan mengilham berdirinya sebuah majlis taklim perempuan di Rawalpindi Pakistan, semacam forum khusus di mana anggotanya bisa bertukar
gagasan, menyanyikan pujian, bahkan menghelat perayaan bagi Lady Sukayna. Rata-rata mereka tidak memakai burqa, jilbab atau chadour -pakaian khas yang biasa dikenakan perempuan Iran.
berchadour? Apakah ini berkaitan dengan pengalaman pahitnya saat
dipaksa tidak berhijab oleh tentara Yazid? Apakah ia tengah melawan
sesuatu dengan menjadi barza? Ikuti tulisan selanjutnya.
interpretation of women's rights in Islam. Basic Books.
Encyclopedia of Islam, vol. VIII, (Leiden: EJ Brill & London:
Luzac&Co, 1971).
the Households of the First Imams in Shi'ite Devotional Literature.
Women in the Medieval Islamic World, ed. Gavin RG Hambly (New York: St. Martin's, 1998), pp.80-81.
Memory. Oxford University Press.
Excellence, 2010, ISBN: 9781452007472.
Muhammad. Pakistan Branch, Oxford University Press.
the Middle East and North Africa. Scarecrow Press.
History of Arabian Music to the XIIIth Century.
Murals, Stamps, and Posters." The Women of Karbala: Ritual Performance and Symbolic Discourses in Modern Shi'i Islam, ed. Kamran Scot Aghaie (Austin: U of Texas P, 2005)
14. Abbas, Shemeem Burne, “Sakineh The Narrator of Karbala: An
Ethnographic Description of a Women's Majles Ritual in Pakistan”, in Aghaie, Kamran Scot, ed. The Women of Karbala: Ritual Performance and Symbolic Discourses in Modern Shi'i Islam. University of Texas Press,
2009.
Brill-Leiden, Vol.IV.
Edition, Vol.II. p.841-859, Brill-Leiden.
Al-Raida Journal, pp.8-9.
edition edition.
‘ism. This is an edited version of an article originally published in the Encyclopedia Iranica on December 15, 2004 available at http://www.
iranicaonline.org; print, 12, p.2.
https://www.al-islam.org/articles/khadijah-daughter-khuwaylid-wife-prophet-muhammad-yasin-t-al-jibouri
hingga Pengusiran”,
http://www.rappler.com/indonesia/124228-waria-zaman-Nabi-muhammad
Thursday, May 18, 2017
KUPI Dan Perjuangan Panjang Kaum Tertindas
Wednesday, May 17, 2017
Mewahidkan Nusron
Lady Sukayna; Sejarah Islam Berhutang Banyak Padanya
Sunday, May 14, 2017
Senjata dan Kepanikan di Joglo Kembar Klaten
Wednesday, May 10, 2017
Occam Razor: Dibalik Kebebalan Ahok
Aan Anshori (Penggerak Jaringan GUSDURian Jombang)
Saya menyukai Occam Razor. Mungkin jutaan yang lain juga meskipun terkadang tidak menyadarinya. Occam's razor bisa dipahami sebagai sebuah prinsip;jawaban/solusi praktis atas suatu persoalan akan cenderung diadopsi. Misalnya begini, bagaimana cara agar seseorang terpenuhi kebutuhan online-nya selama 24 jam? Ganti ke smart phone, atau tetap mempertahankan hp jadul - dan menumpukan diri pada laptop plus modem eksternal? Rasanya opsi pertama akan banyak dipilih mengingat sisi praktisnya.
Contoh lagi, terkadang kita mengalami kebosanan mendengar penjelasan para ahli yang bertele-tele ketika menawarkan solusi persoalan. Argumentasinya penuh buih dan busa sehingga tak jarang kita mengantuk sembari terlebih dahulu menggerutu; Keep it simple, stupid!. Gerutuan ini sering saya gunakan sebagai pengawas lalu lintas saat menuliskan sesuatu. Inilah maksud dari Occam's Razor.
Namun demikian, saya sepenuhnya bisa memahami teriakan Albert Einstein yang mewanti-wanti agar kita tidak terjebak pada penyederhanaan masalah. Tahun 1933, sekitar 7 abad setelah William Ockham meninggal, wantian Einstein berbunyi “Theories should be as simple as possible, but no simpler." Dalam filosofi Jawa, pemilik E=MC2 ini seperti ingin bilang 'Ngunu yo ngunu tapi yo ojo ngunu'.
Sungguhpun begitu, dengan memadukannya bersama prinsip lainnya, seperti Alexious principle, Occam Razor masih tetap digunakan dan digemari, terutama untuk hal-hal yang membutuhkan keputusan-keputusan taktis. Jika beras di rumah habis, maka solusinya adalah membeli beras, agar keluarga bisa kenyang dan kita bisa meninggalkan mereka untuk mendemo pemerintah - misalnya- kenapa harga beras begitu membumbung padahal gabah petani dikulak Bulog dengan murah.
Namun merupakan hak individu seandainya ia memilih opsi menolak membeli beras sembari mengatakan 'Wahai istri dan anak-anakku, meskipun tabungan kita lebih dari cukup membeli seliter beras, kita tidak usah beli beras dulu ya. Papa dan kawan-kawan akan mendemo pemerintah dulu. Kalau harga beras sudah turun, baru kita beli.'
Jika anda memilih opsi pertama, saya bisa memahami karena pilihan kedua, meskipun tidak salah, namun tidak praktis dan cenderung menimbulkan masalah yang tidak perlu.
Dengan Occam Razor, saya cukup terbantu menyisir keberpihakan kepala daerah pada warganya. Jika yang bersangkutan tidak pernah menggusur rumah warganya namun enggan memenuhi hak sipol dan ekosob -misalnya dalam bentuk jaminan kesehatan dan pendidikan murah berkualitas- saya akan coret dia. Apalagi jika ada kepala daerah yang tidak mau rutin melaporkan hartanya, membayar pajak dan melaporkan jumlah pendapatannya. Dia akan saya coret double.
Katakanlah, yang bersangkutan menjamin hak-hak dasar warga plus melakukan segitiga-pembersihan-diri sebagaimana di atas tadi, namun seandainya kepala daerah tersebut melakukan KDRT -poligami atau selingkuh misalnya, ia tetap akan saya silang. Bagi saya, idealnya pejabat publik imharus mampu menjadi teladan dalam hampir semua aspek.
Saya agak lama menelisik Ahok menggunakan Occam Razor, berharap menemukan alasan untuk menyerah mendukungnya. Namun saya gagal. Misalnya dalam sengkarut pasal 15% kontribusi tambahan bagi pengembang di raperda reklamasi Teluk Jakarta yang menyeret Sanusi ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, saya mengikuti kesaksian Ahok melalui Youtube. Gubernur DKI ini begitu ngotot mempertahankan 15% di hadapan JPU KPK, majelis hakim, dan terdakwa beserta penasehat hukumnya. Percayalah, tidak ada yang lebih mengerikan ketimbang dikuliti hidup-hidup di depan persidangan yang disiarkan seantero jagad.
Jika kita bukan pihak yang jujur atau tidak terlatih berbohong, pertanyaan-pertanyaan Maqdir Ismail Cs. akan membuat keringat kita menetes lebih cepat di tengah sorotan kamera. Kesimpulan sementara saya terkait kasus ini, jika selama ini Ahok dituduh pro pengusaha (reklamasi) kenapa ia ngotot 15% hingga membuat Aguan merasa perlu menyuap anggota DPRD agar membatalkannya menjadi 5%? Kenapa Ahok tidak mengikuti jejak Foke yang diduga kuat "bermain" saat mengeluarkan izin prinsip bagi pengembang seminggu sebelum Jokowi-Ahok dilantik? Jika Ahok dianggap kaki-tangan pengembang, kenapa ia nekat menyegel bangunan yang berdiri illegal di atas salah satu Pulau reklamasi? Jika dan jika ia ingin curang, bukankah dia akan lebih aman kalau tidak 'lebay' mengunggah hampir seluruh rapatnya ke Youtube? Dengan menggunakan Occam Razor, jawabannya cukup simpel; ia merasa bersih sehingga tidak punya beban ngomong apa adanya.
Occam Razor sangat tampak menjadi tulang punggung (backbone) pengambilan hampir semua kebijakan Ahok, termasuk penggusuran yang disertai relokasi warga Jakarta atas nama perang melawan banjir. Jika banyak pihak -termasuk aktifis- tidak tega melihat rumah-rumah penduduk dibongkar paksa, maka tidak demikian bagi Ahok. Semua disapu bersih dan memindahkannya ke rusun -bagi mereka yang mau dan memenuhi syarat.
Kenapa ia bisa demikian 'kejam' bak raja tega? Mudah saja. Dari berbagai strategi penanggulangan banjir, ia masih meyakini normalisasi sungai sebagai opsi; efektif, namun beresiko besar secara politik karena mengharuskannya menggusur rumah. Yang patut dicermati pada kasus penggusuran demi normalisasi sungai, semuanya tidak menggunakan model beli-paksa (konsinyasi).
Artinya, Ahok hanya mengambil kembali apa yang dianggap menjadi milik pemprov, yakni sungai yang telah diuruk warga dan dibangun rumah di atasnya. Jangan tanya apakah warga tersebut punya sertifikat karena logikanya BPN tidak mungkin mengeluarkan sertifikat jika tidak sesuai prosedur.
Yang mengkhawatirkan, sangat mungkin banjir terakhir di Kemang beberapa waktu lalu akan membuat Ahok kalap menggunakan tangan besinya menggusur memakai cara konsinyasi. Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan konsekuensi logis mengingat telah berdiri tidak sedikit bangunan bersertifikat di bantaran kali sepanjang 33 kilometer tersebut.
Saya bisa membayangkan drama penggusuran Kali Krukut ini akan berjalan lebih dramatis, koersif sekaligus destruktif. Ahok akan semakin dibombardir kritik oleh lawan-lawan politiknya. Aksinya juga akan menambah panjang deretan angka penggusuran yang ditabulasi LBH Jakarta beberapa waktu lalu.
Dalam keyakinan saya, Ahok akan tetap memilih berkepala batu karena -sekali lagi- ia begitu mempercayai cara kerja Occam Razor. Baginya strategi paling efektif mengatasi banjir di Kemang adalah memastikan lebar Kali Krukut -yang saat ini hanya 3 meter- menjadi 20 meter kembali, dengan membeli paksa jika perlu. Konfidensi Ahok semakin kuat manakala secara praktis ia merasa mendapat empat modalitas; tersedianya payung hukum, komitmen dan teladan antikorupsi, cita-cita kesejahteraan bagi warga Jakarta, serta keberanian mengambil resiko.
Diluar itu semua, dalam politik elektoral tahun depan, Ahok pasti akan menuai apa yang ia tanam selama ini -baik dukungan maupun ketidakpercayaan. Semoga yang terbaik akan memimpin ibukota. Mari kita lihat.
Featured Post
Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 35
Rilis Jaringan NU Kultural (JANUR) Jombang, 19 Agustus 2026 Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 35 Muktamar ke-35...
-
Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer --semena-mena; hitam-putih. Yang satu merasa lebih superior sembari ...
-
Bukan, ia bukan tokoh masa kini seperti Lady Di(ana) atau Lady Gaga. Saya berani jamin Anda pasti kesulitan melacaknya di Vanity Fair atau ...
-
Santy Winarta, Religion F, Univ. Ciputra Surabaya, IG @santywinarta MENURUT saya, selain melakukan ibadah, puasa dapat diartikan sebagai car...