Pages

Monday, July 26, 2021

WUJUDKAN TEMPAT PEMAKAMAN UMUM (TPU) DESA SOOKO KECAMATAN SOOKO MOJOKERTO

Press Rilis Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD) Jawa Timur

"WUJUDKAN TEMPAT PEMAKAMAN UMUM (TPU) DESA SOOKO KECAMATAN SOOKO MOJOKERTO"


Jaringan Islam Antidikriminasi (JIAD) Jawa Timur mendukung upaya serius GUSDURian Mojokerto dalam upaya pemberian keadilan akses pemakaman bagi warga non-Islam desa Sooko kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto.

Upaya ini merupakan rentetan terjadinya diskriminasi jenazah bu Emi dan Pak Totok yang tidak bisa dimakamkan di desanya sendiri karena alasan agamanya (cek beritanya di https://tinyurl.com/yhsdhvm2)

Beberapa hari lalu, GUSDURian Mojokerto secara resmi mengirimkan surat ke otoritas desa Sooko. Isinya, terkait klarifikasi seputar status tanah makam desa; apakah khusus untuk warga Islam saja atau terbuka bagi semua warga desa. 

Hingga saat ini surat tersebut belum direspon oleh Kepala Desa tanpa alasan yang jelas. Padahal sebenarnya masalah ini tidak perlu terjadi manakala pemerintahan desa bersetia pada empat pilar bangsa; Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. 

Sebagai catatan, terdapat lebih dari 100 warga desa Sooko yang beragama selain Islam. Kejelasan nasibnya saat meninggal dunia masih terancam tidak bisa dikuburkan di desanya sendiri. Padahal, saat pengadaan tanah makam tersebut, mereka juga terlibat urunan pembiayaan.

Terkait hal ini, Jaringan Islam Antidiskriminasi menyatakan sikap sebagai berikut:

1. Mendukung sepenuhnya langkah advokasi GUSDURian Mojokerto terkait hal ini;

2. Mendesak kepada Kepala Desa dan BPD Desa Mojokerto untuk mengeluarkan keputusan yang isinya menetapkan makam desa sebagai tempat pemakaman umum (TPU);

3. Mendesak kepada Bupati Mojokerto untuk memastikan seluruh desa di kabupaten memiliki TPU, bukan hanya Makam Islam saja;

4. Menyerukan kepada semua elemen lintasagama untuk ikut serta memperjuangkan hal ini;

5. Meminta kepada semua pihak mengirimkan pesan dukungan berisi, "Saya Aan Anshori (ganti dengan nama Anda), pengajar Universitas Ciputra (ganti dengan afiliasi Anda), mendukung Kepala Desa Sooko menyediakan tempat pemakaman umum (TPU) bagi seluruh warga desa -- apapun agama, ras, suku dan etnisnya," Kirim pesan tersebut ke WA Kades Sooko https://tinyurl.com/ydrtp97k dan Camat Sooko https://tinyurl.com/yz9k2ht3 

Jombang, 25 Juli 2021

Aan Anshori


*Narahubung GUSDURian Mojokerto; Imam Maliki (+62 855-3694-0161) Kukun Triyoga (+62 812-3086-0673)

Thursday, July 22, 2021

ISMAIL ATAU ISHAQ? TIGA FAKSI ISLAM DAN UPAYA PEMBACAAN ULANG

Dalam drama percobaan penyembelihan oleh Abraham, siapapun yang Anda dukung; apakah Ishaq atau Ismail, aku sama sekali tidak keberatan. Sepenuhnya aku bisa memahami hal itu. Aku sungguh sangat senang seandainya kita bisa tumbuh dan berkembang sampai pada posisi Gus Dur dalam urusan ini;“Dua-duanya, baik Ismail maupun Ishaq, tidak jadi disembelih. Jadi buat apa diributkan,” Bagi banyak orang, posisi Gus Dur memang terasa lebih menenangkan, lebih rekonsiliatif, ketimbang kita gegeran karena terperosok dalam rezim binerik --Ishaq atau Ismail.

Yang hendak aku tawarkan dalam tulisan ini adalah seputar cara pandangku kenapa Islam terasa lebih memilih Ismail ketimbang Ishaq dalam drama percobaan penyembelihan oleh bapaknya, atas nama perintah Tuhan. Sebagai catatan, aku belum membaca semua karya tulis di Google Scholar berkaitan dengan topik ini. Sehingga bisa jadi telah ada sarjana yag relah menulisnya namun belum aku sebut karyanya. Untuk hal ini, aku minta maaf.

BASIS AWAL

Aku mencukupkan diriku pada teks alquran sebagai sumber primer. Dalam tradisi Sunni-Nadliyyin yang aku tahu, jika ingin mempelajari al-Quran lebih mendalam, seseorang akan sangat disarankan untuk membaca tafsirnya. Namanya juga tafsir, kebenarannya tetaplah relatif dan tidak bisa dianggap sejajar dengan al-Quran. Jumlah kitab Tafsir cukup banyak dan beragam. Tergantung juga pada madzhab keislamannya. misalnya Sunni. Syiah, atau Ahmadiyyah.

ALQURAN DAN PENYEMBELIHAN 

Di kitab suciku, teks seputar upaya percobaan penyembelihan anak Ibrahim, setidaknya, tergambar dalam Alquran Surah 37 (al-Saffat, rombongan/barisan Malaikat) ayat 102. Namun, demi memahami ceritanya lebih utuh, aku akan beberkan ayat 100-113. Aku gunakan terjemahan/tafsir milik Quraish Shihab yang ada di tanzildotnet.

37:100; Ya Tuhan, berikanlah aku keturunan yang saleh yang akan melanjutkan misi dakwah setelah aku.

37:101; Kemudian malaikat memberinya kabar gembira berupa anak yang cerdas dan sabar.

37:102; Anak itu pun lahir dan tumbuh. Ketika anak itu menginjak dewasa dan telah pantas mencari nafkah, Ibrâhîm diuji dengan sebuah mimpi. Ia berkata, "Wahai anakku, dalam tidur aku bermimpi berupa wahyu dari Allah yang meminta aku untuk menyembelihmu. Bagaimana pendapat kamu?" Anak yang saleh itu menjawab, "Wahai bapakku, laksanakanlah perintah Tuhanmu. Insya Allah kamu akan dapati aku termasuk orang-orang yang sabar."

37:103; Tatkala sang bapak dan anak pasrah kepada ketentuan Allah, Ibrâhîm pun membawa anaknya ke suatu tumpukan pasir. Kemudian Ibrâhîm membaringkannya dengan posisi pelipis di atas tanah sehingga siap disembelih.

37:104-105 ; Allah mengetahui kebenaran Ibrâhîm dan anaknya dalam melaksanakan cobaan tersebut. Kemudian Allah memanggilnya dengan panggilan kekasih, "Wahai Ibrâhîm, sesungguhnya engkau telah memenuhi panggilan wahyu melalui mimpi dengan tenang, dan engkau tidak ragu-ragu dalam melaksanakannya. Cukuplah bagimu itu semua. Sesungguhnya Kami akan meringankan cobaan Kami untukmu sebagai balasan atas kebaikanmu, seperti halnya Kami membalas orang-orang yang berbuat baik karena kebaikan mereka."

37:106; Sesungguhnya cobaan yang Kami berikan kepada Ibrâhîm dan anaknya adalah bentuk cobaan yang menjelaskan inti keimanan dan keyakinan mereka kepada Tuhan semesta alam.

37:107; Kami menebus anak itu dengan sembelihan yang besar, sebab datangnya atas perintah Allah.

37:108; Kami abadikan Ibrâhîm dengan pujian yang baik di kalangan orang-orang yang datang setelahnya.

37:109; Salam kesejahteraan dilimpahkan kepada Ibrâhîm.

37:110; Seperti balasan yang menolak bencana itu, Kami akan memberi balasan orang-orang yang berbuat baik dengan melaksanakan semua perintah Allah.

37:111; Sesungguhnya Ibrâhîm termasuk hamba-hamba Kami yang tunduk pada kebenaran.

37:112; Dengan perintah Kami, malaikat memberi kabar gembira kepadanya berupa kedatangan seorang anak, yaitu Ishâq, meskipun istrinya mandul dan sudah putus asa untuk mendapatkan anak. Anak itu nantinya akan menjadi seorang nabi yang termasuk orang-orang saleh.

37:113; Ibrâhîm dan anaknya Kami berikan keberkahan dan kebaikan di dunia dan akhirat. Di antara anak keturunannya ada yang berbuat baik dengan keimanan dan ketaatan, dan ada pula yang menzalimi diri sendiri dan jelas-jelas tersesat karena kekafiran dan kemaksiatan yang dilakukannya.


TIGA FAKSI

Dari berbagai terjemahan al-Quran yang aku bisa akses, hanya terjemahan milik Kementerian Agama RI yang berani menyebut kata “Ismail,”secara gamblang saat menerjemahkan/menafsirkan ayat 102. Selain milik Kemenag, aku juga mengecek beberapa terjemahan berbahasa Inggris dan Indonesia, misalnya; Shahih International, Maududi, Mubarakpuri, Pickthall, Qarai, Qaribullah & Darwish, Sarwar, Shakir, Wahiduddin Khan, Yusuf Ali, dan tentu saja Quraish Sihab. Tidak ada satupun dari mereka yang menyebut nama“Ismail,” Alih-alih, mereka menggunakan kata “anaknya” (anak Ibrahim). 

Di titik ini, untuk mempermudah penggolongannya marilah kita sebut saja mereka ini kelompok netral. Tidak disebutnya nama Ismail oleh mereka bisa jadi merupakan hal wajar karena kata Ismail memang tidak ada dalam atar 100-113. 

Selain kelompok netral, al-Qurtubi (d. 1272) —dalam Al-Jami’ li Ahkam Al- Qur’an— saat menjelaskan QS. 37:102 menyampaikan adanya dua kelompok lagi dalam khazanah intelektual Islam; pro-Ishaq dan pro-Ismail. Dibelakang pendukung Ishaq, terdapat nama-nama seperti Ali bin Abi Talib, Abu Zubair, Abdulah bin Mas’ud, Muqatil bin Sulayman, al-Abbas bin Abdul Muthalib, dan Said bin Jabir. Sayangnya, al-Qurtubi sepertinya kurang mengelaborasi lebih jauh argumentasi kelompok pro-Ishaq.

Sedangkan di barisan kelompok pro-Ismail —yang berpandangan bahwa Ismail sebagai sosok pilihan Tuhan yang akan dikorbankan— terdapat nama-nama, diantaranya, Abu Tufail Amir bin Watsilah, Abu Huraira, Ibn 'Arabi, Ibn Kathir, al-Maududi, dan hampir semua orang Islam yang tiap tahun menyelenggarakan Iduladha. 

Jika boleh menduga, argumentasi kelompok pro-Ismail sangat mungkin demikian; jika narasi ayat-ayat di atas dibaca secara kronologis, maka ayat 100-112 menceritakan seorang anak yang akan disembelih. Siapa anak itu? Entahlah. Namun kelompok pro-Ismail sangat mungkin akan berkata; pastilah bukan Ishaq sebab dia baru disebut pada ayat 113. 

"Kan ya tidak masuk akal ada orang disembelih padahal ia belum dilahirkan?," --barangkali demikian afirmasi sederhananya. Maka, dengan afirmasi seperti inilah seluruh bangunan epistemologi pro-Ismail dalam Islam mendapat basis legitimasinya. Namun justru di titik ini, legitimasi tersebut, menurutku, tidaklah sesederhana.

MENYELIDIKI AFIRMASI

Ada hal yang membuatku penasaran kenapa Alquran terasa memilih "jalan lain," --dianggap condong memilih Ismail-- ketimbang narasi Perjanjian Lama yang diyakini Yahudi dan Kristen. Dua agama ini memang unik; bersekutu terkait siapa yang akan dikorbankan Ibrahim, namun dalam banyak aspek, Kristen justru terasa melakukan "pemberontakan," terhadap ajaran Yahudi melalui Perjanjian Baru-nya. 

Kenapa Kristen bisa rukun dengan Yahudi dalam soal Ishaq, seperti Jokowi dan Prabowo-Sandy dalam kabinet Indonesia sekarang? Sangat mungkin karena keduanya berkepentingan menjaga kemurnian garis keturunan Ibrahim dari Sarai ketimbang Hagar. Sarai dan keturunannya dianggap lebih mulia dan terhormat ketimbang Hagar yang hanya seorang budak --sungguh pun keduanya digauli dengan penis yang sama.

"Mbak, kalau aku baca ceritanya Hagar di Alkitab, betapa ia sangat terlunta-lunta. Dia ini budak yang dikondisikan minder dengan majikannya. Saat ia mulai memperoleh konfidensi karena sanggup memiliki anak Ismail. ia harus menerima penindasan dari Sarai sang majikan yang berkomplot dengan Abraham —bapak dari anaknya," kataku pada seorang kawan, pendeta perempuan. 

Hagar, tambahku, laksana“sudah jatuh tertimpa tangga pula,”Dia harus menerima kenyataan Tuhan yang ia cintai justru malah tampak bersekutu dengan Sarai-Abraham. Alih-alih menolong, El-Roi —nama Tuhannya Hagar-- justru meminta perempuan ini kembali ke keluarga Abraham, menerima dengan ikhlas penindasan dari Sarai, nyonyanya. Sungguh, betapa menakjubkannya El-Roi!

Penderitaan Hagar dan Ismail nampaknya belum reda, kataku. Pada saat akhirnya Ismail memiliki adik —Ishaq yang lahir dari rahim Sarai, lihatlah, betapa njomplangnya perlakukan Ibrahim terhadap keduanya. Persis seperti perlakukan Jakarta terhadap Jawa atas Papua. Abraham mengusir Hagar dan Ismail; agar Sarai dan Ishaq bisa hidup tenang bersamanya?

"Menurutku, peristiwa yang terjadi pada Hagar dan Ismail adalah salah satu cerita penindasan domestik berbasis kelas sosial dan gender. Namun yang semakin menggangguku, kenapa ya aku sangat jarang mendengar para pendeta menggunakan cerita ini dalam khotbahnya," kataku. Perasaan ini persis seperti yang aku alami saat menemukan fakta kurang terapresiasinya Yesus dalam komunitas Islam --sungguhpun Alquran menceritakan sosok ini melebihi hampir semua Nabi dan Rasul.

Dalam kasus Hagar dan Ismail. marilah kita bayangkan bagaimana kondisi psikologis keduanya --terutama Ismail. Anak kecil ini senyatanya telah dirawat dalam kurusetra domestik yang sungguh tidak sehat; menyaksikan sendiri bagaimana ayahnya menganakemaskan Ishaq dan Sarai ketimbang memberikan perlakukan yang setara pada ia dan ibunya. 

Tak perlu gelar psikolog untuk bisa memahami Ismail akan selalu dikurung oleh perasaan marah, terbuang, tertindas, dan diselimuti kobaran kebencian yang meluap. Maka, benarlah adanya jika Perjanjian Lama mendefinisikan Ismail sebagai, "Seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai liar, demikianlah nanti anak itu; tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, dan di tempat kediamannya ia akan menentang semua 4 saudaranya,"

SARAI ENVY?

Aku merasa, jangan-jangan masih ada diantara kita yang terjebak Sarai Envy--sebuah kondisi psikologi seseorang yang secara tak sadar meminggirkan peran dan posisi orang atas dasar kecemburuan kelas sosial tertentu (majikan terhadap budaknya) seperti yang dialami Sarai. 

Bagi siapapun yang mengaku sebagai pewaris "keturunan," Ishaq, —baik secara biologis maupun ideologis— Sarai Envy adalah metode dan strategi yang sangat ampuh --sekaligus berbahaya-- untuk menjaga klaim kemurnian pewarisan tersebut. Sarai Envy akan menstimulasi siapapun untuk tidak rela menyaksikan Ismail dan followernya mendapatkan kesetaraan dan kesejajaran rasa hormat.

Itu sebabnya, menurutku, cerita Ishaq yang "terpilih," untuk dikorbankan dan juga disunat lebih bernuansa teologis ketimbang historis. Nuansa teologis tersebut sangat kuat beraroma bias Ishaq terhadap Ismail. 

Dalam imajinasiku, jika cerita ini terus dilanggengkan dengan semangat Sarai Envy maka Hagar dan Ismail —beserta ratusan juta pendukungnya— akan merasa semakin terpinggirkan. Jika ini terjadi, maka resistensi Ismail Cs. dalam menuntut balas akan semakin keras, salah satunya dengan cara melontarkan wacana tanding untuk "mengoreksi klaim telogis yang sudah mapan," terkait siapa yang sesungguhnya terpilih untuk dikorbankan oleh ayahnya saat itu. Aku kuatir dunia Islam-Kristen-Yahudi justru akan terasa tidak semakin membaik. 

TUHAN YANG MEMBAYAR HUTANG

Aku menduga kuat narasi Al-Quran, yang tidak secara tegas menyebut nama Ismail namun meletakkan kelahiran Ishaq dalam ayat lanjutan penyembelihan, sedang menantang kita agar terus berpikir ulang. Misalnya, seperti yang ada dalam pikiranku saat ini; apakah narasi Alquran ini bukan semacam gently reminder Tuhan bagi siapa saja yang pikirannya masih terjangkiti Sarai Envy secara akut. 

Peringatan lunak ini sekaligus bisa jadi merupakan upaya El-Roi "menebus kesalahannya" di masa lalu karena "membiarkan" Hagar dan Ismail hidup dalam ketatnya penindasan domestik kala itu.

Dengan menggunakan Alquran, Tuhan --jika kita meyakini Dia adalah sutradara yang sama dalam drama domestik Ibrahim-Ismail-Ishaq narasi Yahudi, Kristen dan Islam-- seperti sedang menuliskan lanjutan drama ini. Isinya, rekonsiliasi dan romantisme Ibrahim bersama Ismail -- putra yang pernah ia sengsarakan -- saat membangun tempat suci di Makkah (QS 2:124-129) maupun mensejajarkanya dalam galaksi para Nabi/Rasul. 

Pada saat yang bersamaan, sang sutradara ini juga meletakkan relasi Ishaq-Ismail dalam tensi yang jauh dari menenangkan --ketimbang di sekuel Perjanjian Lama. Kata "Ismail," disebut sekitar 12 kali dalam Alquran; enam kali disebut bersamaan dengan Ishaq (dan bapaknya) dalam posisi setara (QS.2:133, 136,140; QS.3:84, QS.4: 163), tiga kali disebut bersama nabi/rasul lain minus adik dan bapaknya (QS.6:86, QS.38:48, QS.21: 85), satu kali disebut sendirian (QS.19:54) dan bersama Ishaq (QS.14:39), serta dua kali disebut bersama bapaknya saat membangun Ka’bah (QS.2: 125,127)

Anda tahu berapa kali nama Ishaq disebut dalam Alquran? 17 kali! --lebih banyak dari Ismail. Dan tidak ada satu pun yang bermuatan konfrontatif; tidak terhadap ibunya, bapaknya, maupun tidak terhadap ibu tiri dan kakak tirinya. 

AKHIR: SIAPA YANG DIKORBANKAN?

Siapa yang (telah) akan dikorbankan oleh Abraham sudah sangat jelas di al-Quran; yakni anaknya! Kita bisa menetapkan pilihan; pro-Ishaq, pro-Ismail, atau netral. Semua pilihan tersebut tidak hanya ditopang banyak tokoh/sarjana Islam namun juga, di sisi lain, memiliki konsekuensi. Salah satunya, ketika pilihan tersebut tercampuri fanatisme maka dunia Islam-Kristen-Yahudi akan semakin gelap. Itu berarti, kita mungkin gagal mengambil hikmat dari drama domestik keluarga Abraham.(*)

--Daftar Bacaan--

1.Alkitab SABDA™, https://www.alkitab.sabda.org/home.php

2.MW Pickthall, The Glorious Qurʼan: Translation. TTQ, INC., 2001.

3.Means, E. G. "Genesis, and: Hagar and Sarai, and: Remembering Being Is Birth, and: Natality." Colorado Review 44.1 (2017): 140-145.

4.Tanzil - Quran Navigator, https://tanzil.net/, © 2007-2021 Tanzil Project

5.Ali, Abdullah Yusuf. English translation of the Holy Quran. Lushena Books, 2001.

6.https://www.englishtafsir.com/Quran/37/index.html#sdfootnote57sym

7.Al-Qurtubi, Abu Abdu Allah. (2003). Tafsir Al-Qurtubi Al-Jami’ li Ahkam Al- Qur’an (Al-Qurtubi's Interpretation of the Holy Quran). Riyadh: Dar Alam Al-kutub.

8.Afsar, Ayaz. "A Comparative Study of the Intended Sacrifice of Isaac/Ismail in the Bible and the Qur'ān." Islamic studies (2007): 483-498.

9.Sayyid Abul Ala Maududi - Tafhim al-Qur'an - The Meaning of the Qur'an, http://www.englishtafsir.com/

Tuesday, July 20, 2021

Ada Yesus dan Petrus dalam kata Id(ul) Adha dan Id(ul) Fitri


Seorang kawan, cewek lulusan Teologi UKDW yang jadi PNS di Kemenag, mengingatkanku; penulisan yang benar adalah "iduladha," atau "idulkurban," -- bukan "idul adha," atau "idul kurban,"

"Digabung ya, gus, tidak dipisah," tulisnya di wall FBku.

Aku merasa seperti penjual soto Lamongan yang sedang menerima order nasi dan kuah soto dicampur, dijadikan satu --padahal biasanya terpisah.

Aku tak hendak mendebatnya selain mengatakan aku masih menunggu penjelasan dari KBBI kenapa dua diksi tersebut harus digabung, padahal "biasanya," terpisah. 

"Mungkin KBBI tidak siap berpisah, takut LDR, Feb," kataku mencoba jenaka. 

Selama ini ku selalu mengartikan kata "id," dalam dua hari raya dengan kata "kembali,"; Idul Fitri berarti "Kembali ke fitrah penciptaan manusia," dan Idul Adha bermakna "Kembali berkorban,"

Namun siang ini, rasanya aku harus mengoreksi pemahamanku terkait kata "id," Kata ini menurutku lebih tepat diartikan sebagai "perayaan," atau "festival," 

Sebab secara historik, munculnya dua hari raya ini merupakan respon Islam awal (saat Nabi masih hidup) ketika hijrah ke Medina dan menyaksikan penduduk asli (komunitas Yahudi) merayakan dua perayaan. 

Sangat mungkin Nabi merasa perlu umat Islam memiliki hari raya sendiri dalam rangka memperkuat konsolidasi keimanan umat. Jika benar demikian, maka yang terjadi selanjutnya adalah cara kerja normati interrelasi kebudayaan;  amati, tiru dan modifikasi. Informasi seputar hal ini setidaknya terekam dalam Musnad Ibn Hanbal No.11595, 13058, 13210.


Id sebagai momentum bersuka cita juga dapat ditemui dalam Shahih al-Bukhari No. 3931.  Di hadits tersebut, Aisha menceritakan kenangannya bersama sang suami (Nabi Muhammad). 

Saat itu mereka berdua sedang menikmati alunan lagu yang dinyanyikan dua penyanyi perempuan, merayakan hari Bu'ath --pertempuran besar antara dua suku Yahudi Madinah; Aws dan Khazraj.

Saat keduanya asyik menikmati, datanglah Abu Bakar -- ayah Aisha yang sekaligus mertua Nabi. "Instrumen musik adalah setan," seru Abu Bakar sembari menatap dua penyanyi. 

Nabi menjawabnya dengan santai "Biarkan saja, Abu Bakar. Setiap bangsa memiliki perayaannya, dan hari ini adalah perayaan kita,"

Id dalam makna "hari raya/perayaan/festival," bahkan terekam dalam al-Quran. Dan yang mengagumkan, ayat tersebut merujuk pada perkataan Yesus kepada para muridNya (hawariyyun). 

قَالَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللهم رَبَّنَآ اَنْزِلْ عَلَيْنَا مَاۤىِٕدَةً مِّنَ السَّمَاۤءِ تَكُوْنُ لَنَا عِيْدًا لِّاˆوَّلِنَا وَاٰخِرِنَا وَاٰيَةً مِّنْكَ وَارْزُقْنَا وَاَنْتَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ

Isa putera Maryam berdoa, "Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau, beri rezekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezeki Yang Paling Utama." (QS. Al-Maidah (5):114)

Terjemahan Inggris versi Yusuf Ali maupun Shahih International memberi arti kata " 'idan," dengan "festival," 

English - Sahih International:

"Said Jesus, the son of Mary, "O Allah, our Lord, send down to us a table [spread with food] from the heaven to be for us a festival for the first of us and the last of us and a sign from You. And provide for us, and You are the best of providers."

English - Yusuf Ali:

"Said Jesus the son of Mary: "O Allah our Lord! Send us from heaven a table set (with viands), that there may be for us - for the first and the last of us - a solemn festival and a sign from thee; and provide for our sustenance, for thou art the best Sustainer (of our needs)."

Oleh al-Quran, Yesus diceritakan mampu menghadirkan satu set meja hidangan, lengkap dengan aneka makanannya, dari Tuhan secara magis. Mungkin seperti para pesulap atau kisah-kisah keajaiban para Rasul dalam banyak kitab suci.

Yang menarik, Tafsir versi Kemenag RI, sebagaimana yang aku miliki, mencoba merelasikan ayat ini dengan "Doa Bapa Kami," dalam Matius 6:11 serta laparnya rasul Petrus dalam Kisah Para Rasul 10:9-12. 

Aku sempat tercenung sesaat; ini apa-apaan ya? Apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh kitab suciku?

Jika mau jujur, QS.5:114 memang tidak cukup gamblang menjelaskan; dalam konteks apa persisnya Yesus menghadirkan makanan bagi para muridNya. Jangan-jangan ayat ini tentang Perjamuan Akhir sebelum Yesus dikhianati dan akhirnya disalibkan. Entahlah.

Namun dalam jamuan akhir tersebut, aku hanya membayangkan bagaimana cara Yesus saat melayani para muridNya; Eh kamu, ya kamu... Sotonya dipisah atau campur? (*)

Wednesday, May 26, 2021

SAAT KELAS KAMI MEMBAHAS PENYALIBAN DAN KENAIKAN

Bagaimana respon mahasiswa Kristen kelas Religion Ciputra saat mengetahui lebih dalam sikap Islam mainstream seputar kenaikan dan penyaliban Yesus?

Serta, bagaimana respon teman mereka yang Islam ketika tahu AlQurannya terasa affirmatif atas kematian a la trinitarian?
**
Hari-hari menjelang berakhirnya semester ini, aku mengajak kelas Religionku berefleksi minggu lalu. Refleksinya seputar bertemunya dua perayaan suci islam-Kristen; Idul Fitri dan Kenaikan Yesus. Lebih dari 85 persen penghuni kelas kami adalah pengikut Yesus, baik Katolik maupun Protestan.

"Gimana ibadahmu saat perayaan Kenaikan? Apa yang disampaikan pendetamu?" tanyaku pada salah satu mahasiswa.
"Nggak tahu pak, saya nggak ke gereja," katanya pendek.

Rupanya ia bukanlah satu-satunya yang tidak ke gereja. Masih ada beberapa yang lain. Namun sebagian mahasiswa tetap beribadah, baik online maupun offline.

Aku undang beberapa dari mereka menjelaskan linimasa, setidaknya dimulai dari Jumat Agung, Paskah dan Kenaikan Yesus. Satu per satu mereka saling menambahi dan melengkapi.

"Setahumu saja. Kalau nggak tahu ya ndak apa-apa. Jangan merasa bersalah apalagi berdosa," timpalku saat ada mahasiswa/i Kristen yang terasa kurang percaya diri menjelaskan.

Di kelas, aku memang membiasakan; salah dan tidak sempurna adalah manusiawi. Termasuk dalam hal ini, memahami agama.

Aku selanjutnya meminta Aldy, satu dari dua mahasiwa Islam di kelasku, menjelaskan apa yang ia ketahui tentang kenaikan Yesus.

Seperti yang aku duga, ia memaparkan cara pandang normatif bagaimana Isa dinaikkan Tuhan. Yang mengagetkanku, ia menyisipkan interpretasinya seputar penyaliban yang agak mengafirmasi model trinitarian.

"Saya bisa memahami kok, gus, cara pandang teman-teman Kristen seputar penyaliban. Menurut saya itu memperkaya penafsiran," katanya.

Kenaikan dan penyaliban memang satu paket. Tidak hanya dalam kristologi Kristen namun juga Islam. Bedanya, kenaikan dalam Islam terasa seperti sebuah skenario agar Yesus/Isa tidak disalib.

"Kenapa orang Islam tidak bisa menerima kenyataan Isa disalib? Simpel jawabnya. Kami tidak bisa membiarkan kekasih Tuhan dipermalukan, sungguhpun kejadiannya adalah nyata," ujarku.

Selanjutnya aku menjelaskan lebih dalam mengenai soal ini. Tujuanku, bukan mengajak trinitarian supaya berpindah keyakinan, atau, ingin mengobarkan debat kusir a la Zakir Naik. Sama sekali tidak.

Dalam soal penyaliban, aku mengibaratkan ada dua anak yang sama-sama mencintai ayahnya dengan cara yang berbeda, termasuk dalam hal bagaimana ia mati dan naik ke langit.

"Tanpa mengetahui apa yang dirasakan orang lain, mustahil kita bisa memahami, mustahil kita bisa mengasihi secara tulus," ujarku berusaha menyampaikan motifku.

Kelas hening mendengarkanku berbusa-busa menjelaskan. Hening karena mendengarkan atau ditinggal tidur -- semua mic dan kamera mereka dalam posisi off. Aku sangat ingin mengetahui respon mereka. Di sisi lain aku tidak dapat memaksa mereka berbicara, open mic dan cam.

"Ok, sekarang begini, aku beri kalian waktu 14 menit untuk menulis feed back atas penjelasanku. Sekitar 2-3 paragraf. Uploadlah di Moodle sebagai bukti kalian masuk kelas," kataku, menggunakan jurus saktiku untuk mengetahui apa yang ada dalam pikiran mereka.

Jika biasanya aku meminta salah satu mahasiswa memimpin doa penutup kelas, khusus pada hari itu, aku sendiri yang memimpin.

".....Gusti, senantiasa berilah kami hikmat untuk belajar mengetahui dan memahami apa yang berbeda dengan kami. Kami percaya, hanya dengan cara ini kami berharap bisa semakin teguh dalam keimanan kami. Rabbana atina fiddunya hasanah wa filakhirati hasanah..."

Kelas semakin hening sebelum akhirnya...bubar. (*)


--------


Lampiran respon para mahasiswa atas penyaliban dan kenaiakan Yesus versi Islam.


JGW: Menurut saya Kristologi Islam merupakan bukti bahwa agama Kristen dan Islam memiliki kemiripan. Kemiripan ini tidak seharusnya menjadi alasan untuk bermusuhan, melainkan alasan untuk saling menjaga dan melindungi arena kemiripan bukan sesuatu yang buruk. 
---------

FP: Berdasarkan pendengaran saya mengenai proses kenaikan Kristus dalam agama Islam yang dijelaskan oleh pak aan. Islam dan kristen memiliki pemikiran yang berbeda mengenai proses kenaikan Tuhan Yesus, dimana di Kristen, Yesus mati di kayu salib, mati, turun kedalam kerajaan maut, lalu bangkit dari kematian 3 hari kemudian, memberitakan injil dan pengajaran tentang Kristen kepada murdi-muridnya dan diangkat ke surga setelah 40 hari dihadapan semua bangsa.

Sementara di Islam, dijelaskan bahwa Yesus tidak mati di kayu salib melainkan orang lain yg di salibkan (Yudas/Simon) karena Yesus memiliki tubuh yang ilahi jadi tidak dapat merasakan sakit, dan Yesus adalah kekasih Allah jadi tidak mungkin Ia disalibkan karena proses penyaliban itu sendiri adalah sesuatu yang hina, sedangkan nabi itu tidak boleh hina.

Perbedaan pandangan ini sendiri juga memiliki sejarahnya masing-masing dimana mereka beradu mana yang lebih benar. Karena trinitas yang menang saat itu, mereka yang tidak mendukung atau menyetujui agama yang tentunya pengikutnya sangat banyak ini berpindah ke daerah arab, dimana banyak ajaran-ajaran menyesatkan tumbuh disana.

Menurut saya sendiri, seperti yang pak aan juga sudah smapaikan, sebenarnya dalam Islam itu mereka seperti ibu yang tidak ingin menyampaikan kebenarannya secara gamblang kepada anaknya mengenai kematian bapaknya. Jadi, dalam Islam itu seperti yang sudah saya sebutkan juga tadi, mereka itu tidak ingin nabi yang dikasihi Tuhan itu terlihat hina karena proses penyaliban itu, oleh sebab itu muncullah ajaran-ajaran yang lumayan tidak benar keadaannya. 
 ----------------

KEV: Masalah penyaliban, kematian dan kebangkitan Yesus (Isa) ditolak oleh sebagian besar (tidak semua) Muslim, tetapi mirip dengan orang-orang Kristen yang mereka percaya bahwa Yesus akan kembali sebelum hari Akhir. Kebanyakan Muslim percaya bahwa Yesus tidak disalib, tetapi diangkat tubuhnya ke surga oleh Allah.Dasar dari semua keyakinan ini adalah interpretasi dari ayat ini dalam Al-Qur'an Sebagian besar tradisi Islam, kecuali beberapa, secara kategoris menyangkal bahwa Yesus meninggal secara fisik, baik di kayu salib atau cara lain.

Pendapat tersebut ditemukan dalam tradisi Islam sendiri, dengan laporan Hadis paling awal yang mengutip para sahabat Muhammad yang menyatakan bahwa Yesus telah meninggal, sementara sebagian besar Hadis dan Tafsir berikutnya telah mengemukakan sebuah argumen yang mendukung penyangkalan tersebut melalui eksegesis dan apologetika, menjadi populer. (Ortodoks). 
------------------

FS: Berdasarkan hasil diskusi hari ini serta pencarian saya di internet mengenai kenaikan Isa Al Masih dalam pandangan Islam, saya memperoleh sejumlah pengetahuan baru. Yang pertama yakni terkait teori, dimana menurut pandangan Islam, setelah Isa Almasih (Yesus Kristus) lolos dari rencana pembunuhan oleh orang-orang Yahudi, Ia diangkat ke langit dan masih hidup hingga saat ini, kemudian akan turun kembali menjelang hari Penghakiman dan bertugas selama 40 tahun untuk menegakkan kebenaran ajaran Allah serta meluruskan berita Injil Kerajaan Sorga yang pernah diajarkannya. Dengan kata lain, adanya kepercayaan bahwa proses penyaliban itu tidak ada.

Lain halnya dengan ajaran kristen, yang menceritakan adanya proses penyaliban, hingga Yesus mati, bangkit, dan menemui murid-muridnya selama 40 hari. Kemudian, Yesus terangkat ke sorga dan akan kembali ke bumi dengan cara yang sama seperti naiknya. Jika, diperhatikan dengan seksama, terdapat kesamaan pandangan antara Islam dan Kekristenan perihal diangkatnya Isa ke langit (sorga), kemudian turunnya kembali ke bumi menjelang hari kiamat nanti. Namun, yang menjadi faktor pembeda adalah mengenai kisah apakah Yesus telah atau belum mati saat proses pengangkatan. Hal ini juga masih menjadi pertanyaan dalam diri saya, tapi saya tetap menghargai apa yang telah diajarkan dalam --------


HJ: Menurut ajaran Kristen, kematian Tuhan Yesus dengan cara disiksa lalu disalibkan. Ini mungkin bisa menjadi salah satu pembeda dibandingkan ajaran agama lain. Mungkin ini dapat membuat para pemeluk agama mereka tenang dan dapat merasakan perasaan Tuhan pada saat itu. Tapi bagi saya, saya lebih percaya bahwa Tuhan Yesus mati itu dengan cara disiksa dulu. Lalu Ia disalibkan, ini bertujuan agar kita umat manusia dibebaskan oleh dosa yang telah mereka telah perbuat selama ini ---- MC: Kematian/kebangkitan Yesus artinya sama tetapi yang membedakan adalah pemahaman atau persepsi dari umatnya. Ada yang mengartikan ini sebagai kematian yang membuat umatnya tenang karena Ia sudah tidak merasakan apa” lagi ada juga yang mempunyai pemahaman lain. Tapi yang saya tahu bahwa Kematian dan Kebangkitan Tuhan Yesus adalah tanda Tuhan mengasihi umatnya dengan Ia rela mati menebus dosa” umatnya.
 ---------

RAR: Kaget karena ada ayat mengenai kematian Nabi Isa di dalam Alquran. Apalagi ayatnya juga kontradiksi dengan Surat An-Nisa ayat 157-159. Tetapi ada suatu ayat dimana Nabi Isa itu sendiri itu akan meninggal dan akan dibangkitkan kembali lalu naik menuju ke langit. Yaitu di Surat Maryam ayat 33. "Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali".

Saya yang awalnya ragu karena didoktrin seperti itu, akhirnya semakin yakin dengan apa yang aku percayai sejak MTs, karena saya percaya bahwa mukjizat dari Tuhan itu tidak ada batasnya. Lalu kenaikannya dalam versi Kristen jauh lebih wah dan bisa dibilang sebagai mukjizat daripada versi yang didoktrinkan Islam kebanyakan. Yang terdengar seolah Tuhan memiliki kelemahan bahwa Tuhan tidak bisa membangkitkan manusia yang dikasihinya.

Saya kagetnya itu bahwa di Alquran itu ada ayat yang saling menopang satu sama lain mengenai apa yang kupercayai sejak MTs karena saya percaya bahwa bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Sehingga, perlu dliakukan pengajaran selain yang diajarkan oleh agama Islam pada umumnya. Supaya lebih mudah memahami bahwa perbedaan itu adalah hal yang wajar. 
-----------

IRE: Pendapat saya mengenai kenaikan Tuhan Yesus dalam sisi agama Kristen dan islam yang diumpamakan seperti seorang Ibu yang akhirnya tidak mengatakan kebenaran akan meninggalnya ayah mereka dengan mengenaskan kepada anaknya yang masih kecil, dan munculnya seorang saudara yang langsung salah paham dan menyatakan bahwa ibu ini tidak dapat menerima kematian suaminya adalah sebagai berikut.

Saya merasa bahwa tindakan yang benar adalah mengatakan kepada anak tersebut bahwa Ayah mereka sudah meninggal. Namun cara penyampaian haruslah dengan kebenaran itu sendiri, bahwa Ayah mereka sudah berpulang ke pangkuan Bapa yang di Sorga. Kita tidak perlu berlarut dalam duka karna di Rumah Bapa tidak ada penyesalan, tidak ada sakit dan penderitaan.

Sang anak yang sedari awal mengetahui kebenaran tersebut akan menerima seiring berjalannya waktu. Daripada diberi harapan kosong dan ketika Ia sudah besar nanti baru mengetahui kebenaran yang menyakitkan dan merasa terkhianati karena telah dibohongi oleh Ibunya sendiri.

Saya memiliki pemikiran bahwa sebenarnya justru anak kecil pasti tidak mengerti meninggal itu seperti apa dan lainnya karena mereka masih polos. Membohongi anak tersebut dengan pemikiran agar anak tersebut tidak terluka adalah sebuah pemikiran yang egois dan tidak dewasa. Justru dengan ketidak jujuran tersebut bisa jadi anaknya jadi meragukan semua perkataan Ibunya yang adalah kebenaran. Hanya karna satu kebohongan, rasa percaya anak terhadap Ibunya bisa hilang. 
--------

YDS: Kematian/Kebangkitan Tuhan Yesus memiliki cerita yang berbeda dalam versi islam dan kristen, meskipun kebenarnya dari kedua cerita tidak dapat 100% di konfirmasi , banyak yang percaya bawah kebenaranya adalah Yesus mati di salib. Dari sini mungkin versi yang lainya adalah untuk “meringankan”cerita agar kebanyakan orang dapat merasakan ketenangan atas kematian Yesus , bahkan ada yang bilang Yesus tidak bisa merasakan penderitaan dan lain-lain. Namun saya percaya bawah Tuhan Yesus mati mendertia untuk penebusan dosa manusia, dan penderitaan adalah bagian dari pengorbanannya. 
-------

Thursday, March 25, 2021

Kematian Berkabut; Refleksi Personal Menghormat Paskah

Dengan Blackberry jadul 9220, tulisan ini mulai saya ketik Jum'at pagi, 4 April 2015 sambil ngantor di Warkop Cak Freddy Pasar Legi.  Dua hari ke depan merupakan perayaan Paskah, hari dimana hampir semua umat Kristen mengimaninya sebagai tahapan penting laku Yesus. 

Penyaliban, pemakaman hingga kebangkitan Yesus merupakan isu sentral dalam iman Kristen. Oleh penganutnya, Yesus merupakan sang juru selamat. Penyalibannya adalah pengorbanan yang tak terhingga. Setiap tetesan keringat, kucuran darah, serta cuilan daging yang terbawa cambuk duri milik eksekutor suruhan Pilatus, berharga untuk mempertebal keyakinan atas ajaran yang dibawanya.
-------
Saya dididik sebagai muslim yang taat sejak kecil. Dalam banyak hal, pengajaran agama bersifat terbuka untuk didiskusikan. Fiqh, ilmu kalam, filsafat, tasawwuf, sira' atau bidang keilmuan lainnya. Namun jika terantuk urusan akidah, biasanya “lampu kuning” langsung menyala. Dalam serial Harry Potter, semua siswa boleh menjelajahi setiap lekuk sekolah sihir terkemuka, Hogward, namun jangan pernah berfikir memasuki the secret chamber yang dijaga Pluffy, anjing raksasa berkepala tiga. Atau, lampu kuning itu mirip aura tabu menyebut nama Voldermort sehingga setiap orang cukup memanggilnya you-know-who.

Urusan akidah –salah satunya- juga menyangkut hal paling sensitif dalam hubungan Islam-Kristen, yakni terkait Isa (Yesus). Tidak dalam aspek ketuhanan Isa yang ingin saya bahas, namun terkait bagaimana polarisasi pandangan beberapa cendekia Muslim awal memotret peristiwa penyaliban hingga diangkatnya nabi berpredikat 'ulul azmi ini oleh Tuhan.

Yang dibenamkan dalam memori kolektif saya dan teman-teman di madrasah dulu; Isa masih hidup. Dia tidak salib, apalagi mengalami penderitaan-sangat via dolorosa sebagaimana film kontroversial besutan Mel Gibson. Justru, yang merana di tiang salib adalah Yudas, sang pengkhianat. Dia, Isa, diangkat Allah ke langit, yang nanti akan turun kembali ke bumi empat puluh hari sebelum Kiamat. Dia -lanjut guru-guru saya- akan memerangi Dajjal dan menjadi eksekutor bagi umat Kristen yang tidak mau memilih Islam semasa hidup mereka. Andai guru-guru saya pernah membaca Personal Narrative of a Pilgrimage to al-Madinah & Meccah karya Richard Burton, mereka sangat mungkin akan menambahkan bahwa liang lahat untuk Isa telah disediakan, berjejer dengan makam Nabi Muhammad, Abu Bakar dan Sayyida Umar. Kuburan itu konon akan digunakan setelah Isa menyelesaikan tugasnya. Wallohu a'lam.

Tidak Tunggal

Namun demikian, apakah kisah di atas merupakan satu-satunya cerita-teologis terkait Isa? Ternyata tidak. Bahkan soal penyaliban, kematian dan diangkatnya Isa ke langit memicu polemik sendiri di kalangan para penafsir al-Quran dan cendekia Islam. Kontroversi ini dimulai dari penggalan teks QS. 4:157.

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَـكِن شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُواْ فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِّنْهُ مَا لَهُم بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلاَّ اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِيناً

Hampir semua penafsir al-Quran menganggap teks yang digarisbawahi telah jelas menyatakan; yang dibunuh dan disalib adalah orang yang diserupakan dengan Isa. Saya katakan hampir karena ternyata diksi shubbiha lahum membuat al-Zamakhsari (d.1144) terkesan cukup kerepotan memaknainya. Dalam buku al-Kasyf ‘an haqaiq ghawamid al-tanzil, dia berargumen; jika sejak menit pertama subyek dari dua ayat itu adalah Isa, maka kata syubbiha, yang bermakna pasif; diserupakan, disamarkan terasa janggal. 'Isa diserupakan' dengan siapa? Bukankah lebih tepat “seseorang diserupakan dengan Isa”?. Justru sebaliknya, banyak literatur klasik Islam menyatakan orang lain yang diserupakan menjadi Isa.  Zamakhsari seperti tengah mengajukan kuis pada pembacanya untuk menyingkap misteri subyek diksi syubbiha lahum, sebelum akhirnya dia menetapkan pandangannya bahwa peristiwa penyaliban itulah yang disamarkan, bukan khusus pada Isa.

Saya tentu merasa terusik. Tidak mungkin 'ajaran' yang bersifat qath'i (definitif) ini dikacaukan sedemikian rupa. Saya melakukan komparasi beberapa terjemahan al-Quran, tentu saja selain milik Kementerian Agama RI karena sudah jelas “posisinya”. Saya semakin terperanjat menemukan fakta tidak sedikit penerjemah bersikap senada dengan Zamakhsari. Penerjemah seperti Pickthall (1930), Muhammad Asad (d.1992), Shakir (d.1939), Yusuf Ali (1938), dan Fakhry (1997) -- mereka menggunakan kata 'it' (peristiwa penyaliban) ketimbang 'him' (Isa) dalam menjelaskan siapa (atau apa) yang disengketakan dalam diksi syubbiha. Saya tambah penasaran.

Ragam terjemahan ini sekaligus menyadarkan saya terdapat dispute mengenai penyaliban itu sendiri dalam Islam. Jemaat Ahmadiyah barangkali merupakan salah satu yang bisa diajukan sebagai contoh. Kelompok yang kerap mendapat persekusi di beberapa negara termasuk Indonesia ini meyakini Nabi Isa mengalami penyaliban namun tidak sampai terbunuh di tiang salib. Mereka --yang juga mendasarkan keyakinannya pada ayat yang sama ini, berpandangan Isa telah wafat, sebagaimana utusan Allah lainnya.

Stuntman vs Voluntary?

Di sisi lain, saya juga menemukan adanya perbedaan pandangan di kalangan penafsir al-Quran -yang mendukung nabi Isa selamat dari peristiwa penyaliban- terkait siapa yang akhirnya berposisi sebagai stuntman. Muqatil bin Sulayman (d.c 767), sosok yang dikenal sebagai penafsir al-Quran generasi awal, dalam kitab Tafsir-nya menyatakan Isa dikhianati oleh seseorang bernama Yudas Iskariot. Oleh Allah, wajah lelaki ini lalu diserupakan Isa. Yudaslah yang ditangkap dan disalib. Sedangkan Nabi Isa sendiri dinaikkan ke langit oleh Allah.

Pandangan Muqatil ini selanjutnya "diperkaya" oleh Abu Ja'far al-Tabari (d.923). Dalam masterpiece-nya Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an, sosok paling disegani dalam tafsir dan sejarah ini mengungkapkan, pria yang disalib merupakan salah satu dari pengikut setia Isa (hawariyyun). Lelaki tersebut, Sergius namanya -menurut Ibn Kathir (d.1373), mengajukan dirinya sebagai stuntman.

Lebih lanjut, al-Tabari menambahkan sebenarnya Isa sudah mendapat kabar dari Allah terkait rencana penangkapan itu. Setidaknya ada dua skenario bagaimana wajah pria itu diserupakan. Pertama, sebelum digerebek, Isa mengumpulkan semua muridnya dalam sebuah kamar. Allah mengubah wajah semuanya menjadi serupa Isa. Saat pintu kamar didobrak, tentara Roma kebingungan dan menanyakan mana Isa yang asli. Nabi isa lalu berkata "Which one of you will win paradise for his soul today? ". Setelah murid yang mengaku Isa maju menyerahkan diri dan dibawa keluar rumah, wajah murid-muridnya yang tersisa kembali seperti semula. Nabi Isa lalu terangkat ke langit melalui atap dalam kondisi tertidur (asleep).

Skenario kedua, Nabi Isa berada dalam satu ruangan bersama 13 pengikut setia. Sebelum digrebek ada 1 orang yg bersedia menggantikan posisi Isa. Laki-laki itu selanjutnya berubah paras sperti Isa, dibawa oleh prajurit Roma lalu disalibkankan. Isa sendiri kabarnya diangkat Allah ke langit dalam posisi tertidur. Ibnu Kathir -sebagaimana dikutip Said Reynold (2009)-  menambahkan opininya bahwa telah terjadi 3 polarisasi pandangan menyangkut peristiwa itu di kalangan para hawariyyun. Pertama, faksi Jacobites (ya'qubiyyah) yang berkata "God was among us and then ascended to heaven". Kedua, kelompok Nestorian (Nasturiyyah) yang menyatakan sikap "The son of God was among us and then God raised him to Himself". Sedangkan ketiga, kelompok Muslim dengan keyakinannya "A servant of God and His messenger was among us and then God raised him to Himself". Kathir lantas berpandangan dua kelompok pertama selalu berusaha memberangus kelompok terakhir.

Memusingkan Tawaffa

Diferensiasi pandangan di kalangan para penafsir al-Quran dalam hal penyaliban ini berlanjut hingga pada aspek kematian dan pengangkatan (ke langit) Isa. Ini -sekali lagi- dipicu oleh firman Allah dalam QS. Al-Imran. Dalam potongan ayat 55, ada larikan penting "idz qala allohu yaa isaa inni mutawaffika wa raafiuka". Muqotil mengartikan kata "mutawaffika" dengan "wafat/mati" dalam konteks setelah Isa turun ke bumi dan menyelesaikan tugasnya mengalahkan Dajjal. Untuk memperkuat pandangannya, Muqatil menawarkan cara baca terbalik (taqdim al-muakhkhar/hysteron proteron) sehingga larikan itu berbunyi "Aku mengangkatmu lalu mewafatkanmu". Pandangan ini diamini oleh Ibn Kathir. Terus terang saja, saya agak sulit untuk tidak mengatakan Muqotil bin Sulayman terkesan sedang memperkosa teks.

Al-Tabari sendiri menyatakan ada berbagai tafsir berkaitan dengan mutawaffika dalam ayat tersebut. Dia mencatat terdapat penafsir yang mengartikan kata itu dengan “tertidur”, "menggenggam" (qabada, to seize), maupun model terbalik ala Muqatil. Tabari juga menambahkan bahwa ada juga yang mengartikannya dengan 'wafat sementara' dan 'wafat'; dalam arti benar-benar mati. Meskipun akhirnya Tabari cenderung memilih arti “menggenggam” karena menurutnya seseorang hanya bisa mati sekali.

Sedangkan Zamakhsari malah lebih unik. Dia memaknai kata tersebut menjadi 'berakhirnya masa hidup Isa namun tidak mati". Kelak –lanjutnya- Allah akan mewafatkan Isa secara natural, bukan dibunuh seperti yang dilakukan tentara Romawi.

Said Reynolds pernah menghitung kata tawaffa dalam al-Quran. Dia menemukan  25 kata. Hampir semuanya dimaknai sebagai perpisahan antara tubuh dan jiwa alias mati. Tidak sedikit muslim kerap menjadikan QS. 7:126 sebagai doa seraya mengartikan kata tawaffani dengan wafat/mati. Saya terkadang juga menggumam lirih kepada Allah saat sepi; tawaffani musliman wa alkhikni bi al-sholikhin. Kalau mau dimaknai ala pesantren, kira-kira begini; Tawaffa, mugi mejahi Panjenengan. Ni, ing ingsung. Wa al-khik, lan mugi ngempalaken Panjenengan. Ni, ing ingsun. Bi al-sholikhin, kaliyan tiyang-tiyang ingkang soleh.

Namun yang agak aneh, saat kata tawaffa bertemu dengan Isa di al-Quran, suasananya menjadi rikuh dan terasa serba salah. Para mufassir berlomba-lomba menggeber berbagai kemungkinan adanya makna lain yang kita semua tahu kemana tendensinya. "Matinya" Isa sebenarnya telah disinggung dalam beberapa ayat, setidaknya bisa kita baca pada QS.Maryam 33 dan dialog panjang QS al-Maidah 167-8.

Setuju untuk Tidak Setuju

Saya ber-husnudzon saja,  kitab-kitab tafsiir di atas disusun para mufassir dalam situasi konfrontatif antara Islam-Kristen. Mereka barangkali merasa perlu membangun tembok kukuh teologis untuk melindungi akidah umat Islam. Di Indonesia yang majemuk ini, tembok tersebut masih tetap terasa auranya hingga sekarang, bahkan sampai kapanpun. Persekusi atas nama keyakinan berserak banyak, dan sangat mungkin dikontribusi oleh tembok yang subtil ini. Lantas bagaimana mengatasi problem seperti ini? Entahlah. Menjebolnya bukanlah hal yang sepenuhnya bijak. Ia akan berimplikasi pada pengaburan identitas masing-masing.

Saya, sebagai Muslim bersyukur mendapati karya-karya besar sosok seperti Muqatil, Tabari, Zamakhsari dan Kathir. Usaha mereka mengapresiasi pandangannya patut dilestarikan. Dari mereka, yang tampak nyata oleh saya adalah tersedianya keragaman tafsir seputar peristiwa penyaliban dan wafatnya Isa. Umat Islam perlu berterima kasih karena keragaman ini semakin memudahkan kita memahami dan tidak gampang menyalahkan keyakinan orang lain. Dari Tabari, saya belajar kejujurannya menghampar hampir semua pandangan yang berbeda terkait peristiwa itu. Sangat jelas terlihat, dia begitu percaya diri umat tidak akan tersesat meski dissenting opinion para ulama dibuka ke publik. Memang, terdapat beberapa ciri ketidakpercaya-dirian seseorang dalam beragama, yakni ia yang selalu mudah was-was, kaya kekuatiran, punya keminderan melimpah, dan gampang merasa terancam oleh keyakinan lainnya. Ciri-ciri ini biasanya hanya akan menyebabkan seseorang terjerembab dalam tindak destruksi dan intoleransi. Wallohu a’lam.(*)

*Tulisan ini pertama kali tayang di Kompasiana.

**Aan Anshori | @aananshori |Jaringan Islam Anti-Diskriminasi| No.KARTANU 13.120612.0288.02

Monday, March 15, 2021

"Menemui" Pak SBY

Mungkin Pak SBY bukanlah sosok idola banyak orang akhir-akhir ini. Apalagi setelah ia dan partainya tengah menjalani lakon teraniya di balik isu kudeta.

Persentuhan terakhirku dengan SBY secara maya terjadi beberapa waktu lalu. Ketika itu aku bersuara agak keras seputar keinginannya membangun museum dengan bantuan dana provinsi. Museum itu akan didirikan di kota kelahirannya, Pacitan.

Pacitan bukanlah kota besar. Alih-alih, kabupaten ini termasuk kategori terpencil. Jauhnya minta ampun, terutama bagi orang yang belum pernah ke sana sebelumnya, sepertiku. Berkali-kali aku berpiki kota ini sangat cocok untuk pensiunan. Dekat pantai dan tidak terlalu ramai.

"Selamat datang di Pacitan Bumi Kelahiran SBY Presiden Republik Indonesia yang ke-6"

Aku melihat tulisan itu di balik kaca mobil yang aku tumpangi, Jumat (5/2/2021). Tanda sudah sampai Pacitan, setelah hampir dua jam aku tertidur melewati rute penuh kelokan dari Ponorogo.

Ya, akhirnya aku bisa mencapai kabupaten itu. Satu-satunya wilayah di Jawa Timur yang belum pernah aku kunjungi meski telah hidup satu provinsi.

Tulisan selamat datang itu ternyata masih cukup jauh dengan lokasi di mana aku akan mengisi acara Sekolah Gender PMII Putri. "Kurang 30 menit lagi kira-kira, gus" kata penjemputku. Aku menatapnya getir.

Setelah sempat beristirahat sejenak di warung kopi, akhirnya aku tiba di Paroki Fransiscus Xaverius. Aku langsung dibawa panitia ke meja besar tempat berkumpul banyak orang, termasuk Romo Sabas, empunya paroki. Panitia memang aku wanti-wanti agar mempertemukanku dengannya sebelum mengisi acara.

Meski tidak pernah berjumpa sebelumnya, aku tidak canggung sedikit pun dengannya. Aku kenal dekat banyak teman Romo Sabas. Pun sebaliknya. Jika ada orang bertanya padaku; dari paroki mana aku berasal, aku sudah menyiapkan jawabannya; semua paroki yang ada di wilayah keuskupan Surabaya -- bisa Kristus Raja, Santa Maria Jombang, Salib Suci, Kelsapa, SMTB, dan tentu M17. Aku memang merasa dekat dengan keuskupan ini, kecuali Mgr. Tikno tentu saja.

"Mo, dengan setulus hati, aku ingin mengucapkan matur nuwun memperbolehkan anak-anak PMII ikut menikmati bagian dari paroki ini. Aku memang tidak mau datang jika tempat pelatihannya tidak di gereja," kataku sembari mendedas aneka makanan di atas meja.

Aku menjelaskan motivasiku dibalik kenapa harus gereja. Romo Sabas tersenyum. Tanda sangat memahami motivasiku. Ia mengaku sangat senang jika parokinya senantiasa ramai dikunjungi banyak orang, khususnya dulur-dulur Islam. Menurutnya itu semakin menunjukkan betapa harmonisnya kehidupan di Pacitan selama ini.

Dengan berat hati aku kemudian pamit karena harus mengisi acara. Puluhan kader putri PMII sudah menungguku di ruang sebelah, persis di belakangku.

"Mo, sebelum usai, kami minta barokah doa dulu ya," pintaku sembari meminta beberapa panitia untuk mendekati meja. Romo Sabas terlihat agak kaget, begitu juga mas Bianto -salah satu jemaat yang ikut nongkrong dengan kami. Doa kemudian dilarungkan dengan penuh hikmat.

"Gus, aku yo pamit sik ya, mimpin ibadah sik. Mengko bar maghrib kita main ke GKJW. Grejo nang sebelah. Gak adoh kok," " kata Romo Sabas. Kami pun bubar, menunaikan tugas masing-masing.

Hampir tiga jam aku dan puluhan kader putri PMII Pacitan dan Ponorogo belajar tentang gender dan seksualitas. Suasananya begitu akrab, meski awalnya agak seret. Maklumlah, tidak ada yang lebih menantang ketimbang belajar dari pengalaman masing-masing. Sebagaimana sering aku sampaikan; perempuan di kalangan Islam-Sunni-Nahdliyyin-Jawa tidak terlalu terbiasa menyatakan secara merdeka apa yang dialami menyangkut seksualitas, apalagi di hadapan banyak lelaki. Ini berlaku sebaliknya juga.

"Pak, aku mau cerita," kata salah satu kader. Ia kemudian menceritakan betapa hidupnya sebagai perempuan dibedakan dalam keluarganya. Bapaknya pernah mau membelikan laptop dan motor.

"Lha tapi bapak tidak mau mendengarkanku. Yang ditanya selalu kakakku, laki-laki. Pokoknya dia yang menentukan apa yang terbaik untukku," ujarnya. Ia tidak mampu menahan kekesalannya.

"Podo, mbak. orang tuaku juga keberatan aku ikut pencak silat, padahal aku suka," timpal peserta lain.

Silih berganti mereka menarasikan ceritanya "sebagai perempuan," dalam kehidupan. Aku lebih banyak mendengarkan mereka. Sesekali aku menimpali dan menautkannya dengan materiku.

"Oke begini, siapa di antara kalian yang pernah berciuman?" tanyaku.

Sontak forum menjadi senyap. Aku perhatikan mereka. Malu-malu, menundukkan kepala sembari menahan tawa-tawa. Aku yakin belum ada satupun dari mereka yang pernah mengalaminya.

"Aku mau cerita, pak," perempuan yang dilarang ikut pencak silat mengacungkan tangannya. Ia memang tampak paling berani diantara peserta lainnya.

"Tentang ciuman?" tanyaku mengkonfirmasi.
"Iya" jawabnya tegas.
Semua sorot mata terarah padanya menikmati setiap kalimat yang ia rangkai seputar pengalamannya.

Aku sangat bersyukur menemukan banyak kader perempuan PMII yang mulai tumbuh keberaniannya --keberanian untuk menyatakan apa yang dialaminya selama ini. Keberanian akan menentukan masa depannya. Sebagaimana yang pernah dialami Lady Sukayna, Lady Diana, atau Meghan Markel.

Selesai forum, aku selanjutnya mengunjungi mas Sapto, pendeta yang melayani di GKJW Pacitan. Aku tidak sendirian. Ada Romo Sabas dan beberapa kader PMII yang ikut bersama.

"Mas, grejo sampeyan kok uapik. Gak koyo kebanyakan grejo GKJW yang aku temui," kataku kepada mas Sapto setelah mengelilingi komplek GKJW.

Bangunan GKJW terlihat menteren. Begitu juga ruang ibadah dan bangunan pendukung lainnya. Bagus sekali. Aku menduga jemaatnya pasti banyak.

"Gak akeh kok, gus. Hanya saja mereka militan," katanya sembari tertawa.

Aku dan Mas Sapto ternyata pernah bertemu saat di Banyuwangi. Ia pindahan dari sana. Aku sendiri sudah lupa jika tidak diingatkannya.

"Ini lho, gus, kita pernah berfoto," katanya sembari menyodorkan gadgetnya. Ada aku dia dan istrinya. Dengan polosnya aku menimpali, "Ini foto pas di mana ya, mas?" Tawa kami pun kembali berderai.

Hampir jam 9 malam. Dingin Pacitan mulai mengurung. Kami pamit. Aku sudah ditunggu puluhan anak PMII yang sudah berkumpul di STAINU Pacitan untuk berdiskusi seputar 9 nilai Gus Dur. Saking semangatnya, forum STAINU selesai sekitar jam 23 lebih.

Aku baru sadar jika tenggorokanku bermasalah. Suaraku tidak sempurna. Berkali-kali aku ngomong sesuatu namun yang keluar dalam bentuk bunyi hanya 60-70 persen saja. Terkorupsi entah di mana.

"Kepegelen, Gus, istirahat dulu. Nanti akan pulih," kata Romo Sabas, sekembalinya aku dari STAINU. Romo Sabas juga memintaku tidur di pastorinya. Aku mengiyakan. Panitia yang telah menyiapkan tempat beristirahat di rumah dinas seseorang bisa memakluminya.

Aku terus berusaha menormalisasi suaraku dengan cara terus ngomong. ternyata semakin sering ngomong suaraku semakin terkorupsi. Aku benar-benar panik karena sore harinya aku harus mengisi acara di TVRI Surabaya. Tubuhku benar-benar penat. Jika dihitung, aku memang nonstop berbicara lebih dari 8 jam, sejak pukul 15 hingga 23.30.

"Gusti, tolonglah aku," pintaku lirih sembari merebahkan tubuh di kasur. Sebenarnya aku malu sekali meminta tolong padaNya. Maksudku, betapa tidak tahu dirinya aku ini; menggunakan pemberianNya dengan ugal-ugalan kemudian meminta tolong saat rusak.

Yang mengagetkanku, panitia kemudian berinisiatif mengantarkanku sampai rumah. Membawa tubuhku yang lungkrah dari Pacitan menuju Jombang. Mungkin begitu besar anugerah yang aku terima sehingga tubuhku meminta penyesuaian. Penyesuaian yang tidak mudah. Tuah Kota Pak SBY memang benar-benar dahsyat.(8)

Sunday, March 14, 2021

KECEMBURUAN MENYINGKIRKAN MEGHAN?

Masih soal Mehan-Harry sebab kisah Kaesang-Felli berlangsung antiklimaks, sedangkan Ata-Laurel terlalu normatif.

Banyak sekali orang berspekulasi terkait kenapa Meghan "disingkirkan," oleh keluarga kerajaan Inggris hingga akhirnya ia memutuskan pindah ke Los Angeles sekeluarga. Oprah Winfrey mengupas habis masalah ini melalui pengakuan Meghan dan Harry dalam wawancara eksklusifnya.

Yang cukup mengejutkanku, sekitar  menit 1:04:08 Oprah mengajukan pertanyaan tajam pada Harry apakah keluarga kerajaan menerima Meghan pada awalnya.

"Yes, better than I expected," kata Harry. Menurutnya semua anggota keluarga menyambut Meghan dengan sangat baik. 

"But it really changed after the Australia tour, after our Asia Pacific's tour," tambahnya..

"After I announced my pregnancy with Archie. That's our first tour.," Meghan menimpali pasangannya.

"And, it was also the first time that family got to see how incredible she's with the job. And that brought back memory," lanjut Harry menyudahi penjelasannya. 

Suasana menjadi senyap sekita 3 detik. Terasa sangat lama. Semuanya terdiam. Hingga Oprah menyambar dengan pernyataan yang ia ulang dua kali. 

"I am thinking because I watch the ground," kata sembari menanyakan apakah keduanya juga "watch the ground," -- Tiga kata ini sangat mungkin bermakna agar lebih berhati-hati.

Oprah selanjutnya mengkonfirmasi Harry apakah yang dimaksud "memory," adalah perjalanan ayah-ibunya, Charles dan Lady Di, ke Australia.

Aku kemudian mencari informasi mengenai perjalanan orang tua Harry ke Australia. Ternyata, terjadi pada tahun 1983, saat aku masih kelas dua SD. 

"The Crown has put Prince Charles and Princess Diana's Royal visit to Australia in 1983 in the spotlight. So what happened?" 

Itulah judul tulisan di portal online Australia abc.net.au yang aku temukan di internet. 

Duh Gusti, aku baru sadar telah salah mendengarkan; yang dimaksud Oprah adalah "I watched The Crown," bukan "I watched the Ground," 

The Crow adalah tayangan di Netflix yang mengisahkan perseteruan dan rivalitas politik serta kisah percintaan selama Ratu Elizabeth II berkuasa.

"Do you watch the Crown," tanya Oprah. Harry dan Meghan mengangguk. Pada musim keempat tayangan tersebut, tambahnya, ada tayangan Charles-Diana berkunjung ke Australia. Harry mengkonfirmasi bahwa itu yang ia sebut dengan "memory,"

"So are you saying that they were (hence?) some jealousy?' sergap Oprah.

Meghan dan Harry terdiam beberaoa saat. Dengan agak terbata-bata --sangat mungkin karena berat menjawabnya-- Harry kemudian meresponnya begini.

" Look I... I wish that we all learnt from the past. But to see how effortless it was from Meghan to come in to the family so quickly in Australian and across New Zealand, Fiji and Tonga, and just be able to connect with the people in such a..."  

Oprah buru-buru memotong Harry; bukankah hal yang demikian itu yang kamu dan keluarga inginkan --supaya Megan bisa diterima semua pihak.

Harry mengiyakan hal tersebut seraya menambahkan Meghan tidak hanya dapat diterima keluarganya namun juga dunia, khususnya negara-negara persemakmuran,

"She had one of the greatest assets to the commonwealth that family could've ever  wishful," ujar Harry.

Rasanya semua menjadi semakin jelas kenapa Meghan disingkirkan dengan cara membuatnya tidak nyaman. Apakah media di Inggris bersekongkol dengan kerajaan untuk memuluskan penyingkiran tersebut? Meghan dan Harry memiliki pendapat menarik. 

Dan, tentu saja, hanya yang punya video lengkap wawancaralah yang tahu persis pendapat Meghan dan Harry. 

Kamu punya? :)


Featured Post

Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 35

Rilis Jaringan NU Kultural (JANUR)  Jombang, 19 Agustus 2026 Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 35 Muktamar ke-35...