Pages

Monday, April 24, 2023

VIKARIS DOLAR AJA, GUS

Aku selalu berusaha berpikir lebih maju, menembus batas normatifitas. Batas akan selalu aku geser menjadi lebih maju. Namun, aku sadar, tidak selamanya publik menerimanya. Tak mengapa. 


Seingatku, Gus Dur rasanya pernah bilang; jika ingin perubahan, jangan tunduk pada realitas. Alih-alih, kita harus berani menciptakan realitas baru.

Dulu aku pernah menyatakan; jangan ngaku ganteng atau cantik paripurna jika belum pernah disukai orang berorientasi seksual non-hetero. 

Kalau kamu hanya disukai secara seksual oleh sesama etnis; sesama agama; sesama suku --menurutku peringkat keseksianmu biasa-biasa saja. Berbeda, jika yang antri mendapatkan cintamu orang-orang yang berbeda etnis, suku, agama dan ras. Keseksianmu bisa dibilang agak di atas rata-rata. Mungkin.

Begitu juga jika kamu mendapatkan ucapan perayaan hanya dari sesama agama saja maka, menurutku, itu hal yang wajar, normatif, sudah selayaknya. Berbeda halnya jika kamu mendapatkan ucapan tersebut dari pemeluk agama lain. 

Ini yang aku yakini sebagai sesuatu yang progresif; selangkah lebih maju. Istilah dalam Islam; ihsan --berbuat lebih baik.

"Mas, ayo ke pesarean," ajak imbrutku Amiroh.

Yang ia maksud adalah pesarean ayahnya, mertuaku. Beliau meninggal hari Sabtu, tepat sehari setelah kami akad nikah, 21 tahun lalu. Kami membaca yasin dan tahlil secara mandiri. Untuk doa, aku yang pimpin. 

Oh ya, aku tak selalu memimpin doa dalam keluarga. Setiap kali tarawih di rumah, pasanganku yang memimpin doa tarawih dan witir. Aku mengamini saja. 

"Gus, kami otw dari kiai Arif di Dukun," pesan dari Pdt. Lantika masuk ke handphoneku. Kami sudah janjian bertemu di rumahku.

Ia datang bersama 7 orang. Semuanya GKJW. Gabungan dari GKJW Gresik dan GKJW Menganti.

Siang tadi, cuaca begitu terik. Matahari terasa lebih kejam dari biasanya. Aku melihat muka mereka lelah sekali. 

"Hayuk makan dulu, sudah aku siapkan bakso. Pengennya sih bakso B2 tapi nggak ada yang jual di sini," selorohku.

Mereka tertawa terbahak-bahak sambil saling menatap satu dengan yang lain. Mungkin sembari mbatin, "Ancen wong gendeng,"

Aku sendiri memilih memperhatikan mereka. Tidak ikut makan karena sedang pantang.

Mereka lahap sekali makannya. Segera aku ke dapur, mengambil magiccom berisi nasi, mempersilahkan mereka menyantapnya bersama bakso.

Kami ngobrol ngalor-ngidul seputar banyak hal, terutama terkait gereja mereka. Aku selalu kepo dengan kondisi mereka. Maksudku, jika aku selalu nyaman beribadah, aku juga ingin mereka merasakan hal serupa. 

Dari Pdt. Lantika, aku tahu GKJW Menganti relatif bisa beribadah dengan tenang dan nyaman, meskipun belum bisa memasang papan nama, apalagi salib. 

"Kami di perumahan, gus. Jemaat kami makin bertambah," ujarnya.
"Harusnya segera direnovasi biar jemaat nyaman beribadah," ujarku normatif.

Dia tertawa getir sembari menceritakan pengalaman gereja tersebut saat mengurus perijinan. Daftar tanda-tangan 60-90 yang asli raib entah ke mana setelah diserahkan ke oknum aparat desa. 

"Kapan-kapan aku main ke tempatmu ya," kataku pada Pdt. Lantika. 

Aku kemudian memberikan saran-saran, sembari memapar contoh yang pernah dilakukan kawan-kawan GDian Jombang dalam kasus serupa. 

Saran-saran juga aku berikan kepada Pdt. Daniel yang kini melayani di GKJW Gresik, menggantikan mbak Pdt. Arie. Dalam waktu dekat, gerejanya akan mengadakan kupatan bersama GDian Gresik.

"Nanti mbak Khosyiah yang bawa lontong dan kupatnya. Kami sediakan sayur dan lauknya," ujar mbak Erlynna, salah satu warga GKJW Gresik yang ikut dalam rombongan tersebut.

Setelah kenyang, mereka pamit. Namun aku buru-buru mencegah mereka. 

"Aku minta doanya ya sebelum pulang. Siapa yang akan pimpin?" tanyaku.
"Vikaris (calon pendeta) Dolar aja, Gus," kata Pdt. Lantika sembari menunjuk Dolar --panggilan dari Sung Sabda Gumelar. Aku tahu Lantika sedang menguji Dolar --apakah ia sudah layak jadi pendeta atau belum.

Dolar merapal mantranya dalam bahasa Jawa. Aku sampai tersengal-sengal berusaha mengunyah diksi-diksi yang ia gunakan, saking tingginya. 

Terima kasih sudah mengunjungiku!(*)


Thursday, April 20, 2023

ABDUL RAZAK YANG PENDETA

Aku punya banyak kawan pendeta yang dulunya muslim dan muslimah. Namun yang memiliki nama sangat Islami, aku belum punya, hingga aku bertemu lelaki ini. 

"Hah?! Serius itu nama abang?" kataku tak percaya.
"Iya, gus," ujarnya pendek sembari senyum nyengir.

Aku masih sulit percaya. 
Dengan perasaan tak enak aku memintanya mengeluarkan KTP. 
"Ini, silahkan baca sendiri," katanya pendek. Tetap dengan tersenyum.

Tertulis, "Pdt. Abdul Razak" Nama sangat Islami untuk seorang pendeta yang pernah aku jumpai. 

Friday, April 14, 2023

KESUCIAN; KITA ADA DI MANA?


Kesucian selalu menjadi obsesi banyak orang. Tak peduli apapun identitasnya. Untuk menjadi suci, jika kita teliti, seseorang biasanya akan menumbalkan sesuatu, bahkan mengorbankan seseorang. 

Di kitab suci, sebuah peradaban digambarkan perlu mengorbankan binatang dan orang, dipersembahkan kepada alam semesta agar mendapat keselamatan, atau terbebas dari kutukan. Ibrahim kabarnya juga hampir saja menumbalkan anaknya agar kesetiaannya dianggap suci di hadapan ilahi.

Di Aceh, beberapa mahasiswa Universitas Teuku Umar ditumbalkan kampusnya. Mereka dianggap telah menodai "kesucian" marwah kampus gara-gara mengunggah ucapan selamat Jumat Agung. Kabarnya, mereka terus mengalami persekusi hingga keselamatannya terancam.

Baru saja terjadi di Sumatera Barat, 300 orang memilih jalan memalukan untuk menjaga kesucian ramadlan. Dua perempuan diarak, ditelanjangi, dan diceburkan ke laut. 

Keduanya saat itu sedang santai di karaoke. Ratusan orang itu marah. Karaoke dianggap menodai kesucian Ramadlan. Untuk itulah, praktek barbar terhadap dua perempuan diperlukan sebagai penebusan.

Jika dicermati, ada dua cara yang biasanya dianggap sebagai jalan melakukan pensucian. Pilihan ini menunjukkan kualitas keagamaan seseorang/peradaban.

Pertama, peradaban rendah; mereka yang selalu memilih makhluk hidup --selain dirinya-- sebagai tumbal untuk menyucikan sesuatu. 

Kalau kita, misalnya, melarang orang lain membuka warung saat ramadlan, kita ada dalam level ini. Tigaratus pelaku kekerasan di Sumbar ada di sini juga. 

Kalau kita menyalahkan model busana perempuan karena dianggap terlalu seksi, kita akan terperosok dalam peradaban ini. Peradaban rendah. Otoritas kampus UTU, maupun mereka yang menerpali biru patung Bunda Maria di DIY tempo hari, sangat mungkin masuk golongan ini juga. 

Pendek kata, dalam aspek yang lebih luas, siapa saja yang terobsesi menjaga kemurniannya, kesuciannya, eksistensinya, dengan cara mengorbankan pihak lain, ada di peradaban ini. 

Kedua, peradaban maju, yakni mereka yang memilih mengorbankan diri mereka sendiri untuk menjaga kesucian. 

Jika kita tidak tahan terhadap gempuran lalu lalang seseorang berpakaian seksi; jika kita tak mampu menahan aroma makanan saat puasa di siang hari, alih-alih kita lebih memilih tidak melihat dan membauinya ketimbang melarang orang berpakaian seksi maupun merazia warung makan, maka kita berada di level ini. 

Bagi otoritas UTU, jika ingin naik level, harusnya bisa mengorbankan ego dan kepentingan kelompoknya. Kesucian dan marwah Islam tidak bisa lagi dijaga dengan model diskriminasi dan persekusi seperti itu. Hal ini berlaku juga terhadap kelompok-kelompok agama yang masih bersikap intoleran pada mereka yang berbeda.

Sebaliknya, kesucian dan kebesaran agama harus direpresentasikan dengan kesediaan kita berkorban dengan cara memberikan ruang dan mempersilah mereka yang berbeda untuk menjalankan hak-hak dasar. Tak terkecuali untuk mengucapkan Jumat Agung, membangun rumah ibadah, menjual makanan dan minuman seperti biasa saat Ramadlan, membuka tempat hiburan maupun berpakaian seksi.

Kita perlu secara serius mengganti cara menjaga kesucian; dari mengorbankan orang lain menjadi mengorbankan diri sendiri.(*)

**Berastagi --bukan Beraskencur

https://www.kompas.tv/amp/article/398009/videos/kronologi-2-wanita-diarak-diceburkan-ke-laut-dituduh-lc-karaoke-di-sumbar-300-orang-diduga-terlibat

Sunday, March 12, 2023

GUSDURian Sukowati GKJ Tamanasri



Puluhan orang lintasagama dan etnis berkumpul di GKJ Tamanasri, Sabtu, 11 Maret, mengikuti rangkaian ulangtahun gereja ini, yang ke-39.

Ada tiga acara dalam hari itu, saling sambung menyambung. Pertama, talkshow "Trinitas, Gereja dan Harmoni Lintas Agama," dengan dua narasumber, Pdt. Dr. Izak Lattu, dekan Teologi Satya Wacana, dan aku. 

Dengan sangat brilian, Mas Izak mengupas bagaimana teologi monoteisme-trinitarian bisa menjadi basis fundamental melawan praktek intoleransi. 

Penjelasannya terang benderang. Sarat dengan referensi akademis maupun praktis. Presentasinya bisa dinikmati di https://youtube.com/live/qpEEP2EQhpo?si=EnSIkaIECMiOmarE mulai menit 1:28:58.

Aku tidak bisa menyangkal pemaparannya. Sebab berdasarkan data, hampir semua pengikut Yesus aliran monoteisme-trinitarian yang belajar di semua kampus memiliki tingkat toleransi sangat tinggi. Survei PPIM UIN Jakarta dua tahun lalu menyatakan itu. 

Sebaliknya, mahasiswa/i beragama Islam justru terpuruk, kadar toleransinya sangat rendah. Lebih-lebih saat mereka merespon kehadiran kekristenan aliran trinitarian. 

Kenapa bisa demikian? Aku mencoba mengurainya dalam durasi sekitar 30-40 menit. Bisa disimak  https://youtube.com/live/qpEEP2EQhpo?si=EnSIkaIECMiOmarE mulai menit 48:55. 

Pemaparan kami berdua mendapat respon menarik, tidak hanya dari kalangan Kristen namun juga Islam https://youtube.com/live/qpEEP2EQhpo?si=EnSIkaIECMiOmarE (menit 2:12:12). Pada acara tersebut ada sekitar 8 orang perempuan berjilbab yang mengikuti acara. Mereka datang dari komunitas Nahdlatul Ulama Sragen.

Hampir semua dari mereka mengaku baru pertama kali ini masuk gereja. Pengalaman ini menyisakan kesan tersendiri bagi mereka, khususnya pengalaman imani. 

"Sempat deg-degan juga pas pertama kali masuk dan duduk di kursi depan mimbar," ujar salah satu dari mereka kepadaku. 

Setelah makan siang, peserta diajak belajar tentang enterpreneurship oleh Pdt. Saryoto dari Magelang. Dia juga mengajak kami belajar langsung membuat sabun dan eco enzym. Kami semua maju ke depan menyimak pemaparannya, https://youtube.com/live/wnDlmxLlXl0?si=EnSIkaIECMiOmarE (menit 57:16)

Melihat antusiasme mereka terutama perempuan berjilbab, aku merasa senang. Mereka tak lagi canggung masuk gereja dan berinteraksi dengan warga jemaat.

Kami semua menutup acara dengan peneguhan komitmen, membentuk dan memperkuat komunitas GUSDURian Sukowati, nama lain dari Sragen. Deklarasinya berjalan secara spontan. 

Aku minta semua hadirin berdiri depan mimbar. Beberapa orang aku undang menyatakan harapannya secara singkat sebelum akhirnya kami menguncinya dengan melantunkan bersama Bagimu Negeri https://youtube.com/live/wnDlmxLlXl0?si=EnSIkaIECMiOmarE (menit 1:18:23). 

Setelah itu, kami menyempurnakan perjumpaan kami dengan menembangkan lagu Endahing Paseduluran. Lalu kami keluar gereja bersama, melepas dua ekor burung merpati putih, simbol sukacita dan komitmen kami.

"Mas, orang Islam itu kalau sudah mau masuk gereja dan makan minum hidangan yang disediakan gereja, insyaalloh tidak akan intoleran," ujarku pada Pdt. Gunawan dan Lupie, istrinya.

Lupie juga sempat berdialog dengan para perempuan berjilbab tadi, dan mendapatkan pengakuan serupa; pengakuan pengalaman pertama kali masuk gereja. Aku minta dia mau menuliskan pengalaman perjumpaan tersebut.

Selama di Sragen, aku ditampung di rumah dinas (pastori) mereka. Mereka hidup bersama putrinya, Kinan. Si sulung tinggal dan bersekolah di Purwokerto.

Aku juga bertemu dengan kawan lamaku, Dimas dan ibunya, cik Naniek, satu-satunya anggota DPRD Sragen beretnis Tionghoa. Rasanya senang sekali selama di Sragen.

"Aku muleh sik, mas. Matur nuwun. Nitip GUSDURian Sragen," ujarku pada Pdt. Wawan dan keluarganya di Stasiun. Badan terasa remuk redam kecapean.(*)

Sumber: Facebook

Saturday, March 4, 2023

NU DAN GKJW; NESTAPA SAUDARA


Lagi-lagi peristiwa pelarangan ibadah terjadi. Kali ini menimpa jemaat GKJW yang berada di desa Sumbersari kecamatan Gedangan kabupaten Malang.

Menurut informasi dari Erik Priyanto, kawan aktifis toleransi setempat, jumlah warga terdampak sekitar 20 kepala keluarga. Mereka adalah warga jemaat GKJW Suwaru.

Selama ini mereka beribadah ke gedung GKJW Suwaru yang jaraknya sekitar 9 kilometer. Beda kecamatan. Diluar itu, mereka kerap beribadah secara berkeliling, bergiliran, dari rumah warga satu ke lainnya di desa Sumbersari.

Dalam beberapa bulan ini, mereka berinisiatif membangun pepantan (bakal jemaat/pos pelayanan) di RT/RW 47/14 dusun Sumbersari desa Sumberagung kecamatan Gedangan. Sayangnya, pembangunan ini mendapat penolakan sebagian warga.

Pada 20 Januari 2023, pengurus Nahdlatul Ulama (NU) ranting desa Sumberejo mengirim surat penolakan pendirian rumah doa atau gereja kepada kepala desa. 

Isinya; menolak pendirian rumah doa; meminta kepala desa tidak mengeluarkan rekomendasi; melarang panitia pembangunan melanjutkan proses pendirian, dan meminta agar setiap pihak menjaga keharmonisan, kenyamanan dan keamanan bersama.

Sehari setelah surat tersebut diluncurkan, tepatnya 21 Januari, pemerintah desa menerbitkan surat yang ditandatangani kepala desa Abdul Rohman. Perihalnya; penyampaian hasil mediasi pembangunan rumah doa. 

Surat yang ditujukan kepada Ketua Pepanthan Sumbersari GKJW Jemaat Suwaru tersebut berisi dua hal; menghentikan segala kegiatan berkaitan dengan pembangunan rumah doa sampai batas waktu yang tidak ditentukan, dan pemerintah desa akan berkordinasi serta berkonsultasi dengan kecamatan dan kabupaten.

Menyikapi hal ini, Erik Priyanto bersama beberapa perwakilan pepanthan menemui pengurus PCNU Kabupaten Malang, sekitar dua hari sebelum peringatan 1 Abad NU di Sidoarjo. Khusnul Hakim, wakil sekretaris PCNU yang menerima rombongan, berjanji akan segera menindaklanjuti persoalan ini. 

Namun hingga saat ini, sayangnya, problem belum terselesaikan. Warga GKJW tetap tidak boleh membangun pepanthan.

Entah bagaimana akhir dari persoalan ini. Yang jelas, selama ini relasi antara GKJW dan warga/aktifis NU di berbagai daerah terbilang sangat harmonis. Gus Dur dan Kiai Hasyim Muzadi memiliki relasi khusus dengan GKJW. 

Peristiwa penolakan ini seperti makin menandaskan nestapanya kelompok Kristen di Jawa Timur dalam menjalankan hak beribadahnya. 

Nestapa ini rasanya semakin menyesakkan dada manakala justru ditorehkan oleh saudaranya sendiri; orang-orang NU yang sangat dicintai dan disayangi warga Kristen, lebih-lebih warga GKJW.(*)

Sumber: Facebook

Tuesday, February 7, 2023

JANGAN KUATIR TIDAK ADA BABINYA KOK

Tidak seperti kawan-kawanku lainnya, saat di Sidoarjo kemarin siang, Selasa (7/2), aku tak sempat berfoto dengan para elit NU atau negeri ini. Mereka sudah pada balik ke Jakarta. 

Selain itu, aku memang mencukupkan diriku menikmati hal-hal ringan selama bergabung dengan ratusan ribu jemaat NU di #1AbadNU. 

Contohnya saat aku di posko GKI Sidoarjo. Aku membantu panitia lokal gereja menjadi among tamu sementara. 

Begitu banyak peserta acara lalu lalang di depan posko. Kebanyakan berhenti sebentar, melihat ke atas, dan mereka tahu kalau posko itu adalah gereja.

"Monggo bapak ibu, ngasoh dulu. Ada toilet, nasi, snack, teh, kopi, air mineral. Semua gratis," ujarku berseru. Persis marketing tenant di bandara, berusaha menarik sebanyak mungkin pengunjung. 

Sayangnya, belum banyak yang terjaring, hingga serombongan ibu-ibu berpakaian putih masuk ke halaman dan langsung duduk di karpet menghadap screen besar. Posko ini memang melengkapi dirinya dengan live streaming acara dari Youtube. 

Aku dekati mereka, melihat wajahnya dari dekat. Seperti wajah orang  yang butuh asupan makan namun sungkan jika langsung mengambil makanan di meja. Memang, semua makanan dijaga dengan ketat oleh ibu-ibu dari GKI. 

"Sampun nedo?" tanyaku.
"Sampun," ujar salah satu dari mereka pelan. 

Aku tahu ia tidak sepenuhnya jujur. 
Aku terus mempersuasi mereka untuk mau mengambil makanan. Mereka masih malu-malu dan terlihat takut. 

Aku begitu bernafsu "memaksa," mereka berani ekspresif atas rasa laparnya. Aku tahu betul rasanya. Sungguh.

Negoisasi begitu cukup alot. Aku tiba-tiba bersuara agak keras.

"Ibu-ibu, jangan kuatir. Makanan ini nggak ada babinya kok. Nggak bakalan jadi Kristen setelah mengambil makanan dan minuman di meja itu,"

Sontak mereka tertawa, termasuk para pengurus gereja. 

Guyonanku pelan-pelan mencairkan suasana. Beberapa orang mulai mau mengambil makanan. Beberapa lagi masih keukeuh mengaku tidak lapar.

Aku lalu mengambil nasi bungkus dan nasi kotak serta air mineral, memberikan kepada yang tadi mengaku tidak lapar. Eh, diterima. 

Suasana begitu akrab. Beberapa ibu GKI menghampiri mereka. Menemani ngobrol di atas karpet. 

Tiba-tiba ada lelaki pakai sarung dan tas. Masuk ke posko. Di punggungnya terpasang tongkat dan bendera NU.

"Mau kopi atau teh, mas?" tanyaku.
"Nganu, mau ikut pipis," ujarnya sembari tingak-tinguk menahan sesuatu.

Aku lalu tunjukkan toilet posko. Toilet tersebut sering aku gunakan saat berkunjung ke GKI. 

Dalam momen #1AbadNU, banyak orang melayani acara ini, dengan berbagai cara yang berbeda. Aku dan Fathur memilih cara yang sederhana saja. Cara yang menurut kami akan memberikan impresi berbeda bagi sebagian kecil para tamu acara.

Kelak, mereka yang memilih beristirahat di posko milik gereja akan memiliki cerita tersendiri. Cerita ini pastinya akan disebarkan ke lingkaran mereka. 

Aku membayangkan setiap kali mereka bertemu dengan orang Islam yang menarasikan miring terkait gereja, sangat mungkin mereka akan menepisnya dengan argumentasi historis pengalaman personal ini. "Kata siapa gereja menakutkan? Aku lho pas acara NU tinggal di gereja, diperlakukan dengan baik,"

Sikap tidak menutup diri seperti ini tak ayal akan menyumbang pendewasaaan warga NU dalam bernegara. Survei SMRC menunjukkan NU memiliki modalitas pluralisme cukup besar. 

Sebanyak 57% warganya tidak setuju umat Islam (kelompok mayoritas) mendapat privilege (perlakuan lebih baik) ketimbang minoritas. Juga, sekitar 58% mereka tidak setuju sila pertama Pancasila harus dipahami "hanya sesuai dengan yang diyakini orang Islam,"

Pengalaman personal berinteraksi akan membentuk sikap komunitas. Begitu juga yang akan terjadi saat para tamu posko GKI pulang ke rumah dan komunitas mereka.

Mereka akan pulang membawa seluruh pengalaman selama di Sidoarjo. Tak ada argumentasi paling sahih selain pengalaman personal yang dialami masing-masing orang.

Persis seperti pengalamanku pertama kali menjajal catwalk di perempatan besar CiPlaz.(*)


Friday, February 3, 2023

DITOLAK MK, KAWIN BEDA AGAMA TETAP BISA. BEGINI CARANYA.


Banyak pihak berpikir perkawinan beda agama (PBA) tidak bisa dilakukan di Indonesia pascaputusan Mahkamah Konstitusi (MK) No. 24/PUU-XX/2022. Pandangan ini, menurutku, salah kaprah dan keliru. PBA tetap bisa dilakukan. Seperti sedia kala.

Ramos, warga Papua, mengajukan uji materiil UU 1/74 tentang Perkawinan. Menurutnya, UU ini dianggap menghalangi hak konstitusinya untuk mempersunting pasangannya yang berbeda agama. Ia meminta MK menggunakan kewenangannya  untuk mengatakan UU 1/74 bertentangan dengan UUD 1945. 

Sayangnya, MK berpandangan lain. Institusi ini tidak menganggap UU 1/74 bertentangan dengan UUD 1945. Dalam pandangan MK, sah dan tidaknya perkawinan bukan menjadi domain Negara namun institusi keagamaan. Negara hanya "sekedar" mencatat peristiwa perkawinan yang telah dianggap sah oleh institusi keagamaan. 

Dengan demikian, sepanjang ada institusi keagamaan yang dapat mengesahkan PBA maka negara akan mencatat dan menerbitkan akta/surat perkawinan. 

MK hanya melakukan tugasnya seperti yang sudah biasa dilakukan dalam 9 kasus serupa ; memutuskan untuk menolak uji materiil UU 1/74. Intitusi ini tidak memutuskan PBA dilarang di Indonesia. PBA tetap bisa dilakukan di Indonesia, seperti biasanya. Pencatatan administratifnya dilakukan oleh Catatan Sipil yang ada di kabupaten/kota.  

Supaya lebih memperjelas, marilah kita simulasikan dalam sebuah ilustrasi.

Kevin, Katolik, Jakarta, ingin menikahi Zulaikha, Jombang, Islam. Keduanya berkeinginan tetap memeluk agamanya masing-masing. Kolom agama di KTP tetap Katolik dan Islam. Bisa? Tentu bisa.

Pengesahan perkawinan mereka berdua diawali dengan pemberkatan perkawinan di lingkungan gereja Katolik yang memang memungkinan untuk itu. Setelah diberkati/disahkan oleh gereja, keduanya akan mendapat surat pemberkatan dari gereja. 

Bagaimana jika Kevin pemeluk Kristen Protestan? Ia bisa menanyakan ke gerejanya apakah dapat melayani PBA. Jika tidak bisa melayani, ia bisa menghubungi  denominasi Protestan yang bisa melayani PBA, misalnya sebagian GKJ, GKI, GKP, GKN, dan denominasi lainnya. 

Berbekal surat ini beserta dokumen lain seperti KTP dan KK, keduanya menulis surat permohonan penetapan perkawinan, ditujukan ke ketua Pengadilan Negeri di mana perkawinan akan dicatatkan, bisa di Jakarta atau Jombang. 

Surat permohonan ini setidaknya memuat tiga hal; permohonan agar perkawinan dianggap sah; permohonan agar hakim memerintahkan Dukcapil mencatat perkawinan tersebut, dan; membebankan biaya perkara kepada pemohon. 

Yang perlu diingat, jangan pernah memasukkan permohonan penetapan perkawinan ke PN SEBELUM mengantongi surat pemberkatan dari gereja. Kecuali jika keduanya memang ingin "kalah," di pengadilan.

Untuk kepentingan ini, pasangan bisa mengurus secara mandiri atau menggunakan jasa pengacara. Banyak pasangan yang melakukan pengurusan secara mandiri. 

Dalam beberapa kasus, ada oknum di PN yang menyatakan PBA tidak bisa dilakukan. Jika menemui hal seperti ini, jangan percaya. 

Oknum tersebut hanya menakut--nakuti saja. PN tidak akan mungkin berani membuat surat resmi yang berisi penolakan tersebut. Sebab, hal tersebut tidak ada dasar hukumnya. 

Setelah berkas dimasukkan ke PN dan dianggap lengkap, proses sidang penetapan akan dilangsungkan. Biasanya berjalan cepat dan tidak bertele-tele. Hakim biasanya akan mengabulkan tiga permohonan di atas.

Setelah itu, pasangan bisa membawa surat penetapan dari PN tersebut ke Dukcapil agar diterbitkan surat/akta perkawinan. 

** 
Jika ini adalah permainan catur antara kelompok pro dan kontra PBA, maka penolakan MK atas legalisasi PBA bisa dikatakan adalah draw/remis. Status quo. Tidak ada yang menang, tidak ada yang kalah. 

Namun yang paling penting, setiap orang memiliki hak konstitusional untuk menciptakan keluarga dengan orang yang ia cintai, sungguhpun berbeda agama/keyakinan. Putusan MK atas permohonan Ramos tidak mencabut hak tersebut. Sekali lagi; tidak dicabut.

Maka, meski terus-menerus mendapat tekanan dari kelompok kontra yang senantiasa terobsesi menyucikan dirinya, siapapun masih dapat melakukan PBA di Indonesia, secara sah, tercatat dan murah.(*)

Featured Post

Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 35

Rilis Jaringan NU Kultural (JANUR)  Jombang, 19 Agustus 2026 Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 35 Muktamar ke-35...