Sunday, September 5, 2021
13+16+7
Tuesday, August 31, 2021
ANGGRA DAN PACARAN BEDA AGAMA
Cukup sering aku merasa hidupku seperti dikelilingi de javu --semacam perasaan menempuh dan mengalami hal sama. Salah satunya, peristiwa yang terjadi pada Jumat (27/8).
Aku bersama anak-anak muda, mahasiswa/i, menonton film yang pernah aku tonton bersama anak muda lainnya 9-10 tahun lalu. Judulnya 3 dunia 2 hati 1 Cinta.
Film jadul yang dibintangi Reza Radian dan Fira Basuki ini bercerita tentang lika-liku asmara beda agama antara Rosyid dan Delia; Islam dan Katolik.
BBukan tanpa sebab aku dan puluhan anak=anak Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Univ. Darul Ulum dan Univ. Wahab Chasbullah memilih film ini.
Aku ingin mendorong mereka berani mengeksplorasi isu terlarang ini.
Dalam benak mereka, aku yakin, pacaran beda agama bukanlah hal yang patut dibanggakan. Alih-alih, hal tersebut bisa dianggap sebagai tanda penggelinciran iman; mencari kesengsaraan.
"Lha wong pacaran seagama saja belum tentu lancar apalagi beda agama," kira-kira-kira demikian yang ada dalam benak mereka.
Setelah tuntas menonton lebih dari 1,5 jam, kami pun berdiskusi. Forum dimoderatori Tama, kader PMII transpuan asal kampus Wahab Chasbullah.
Dia tampak agak gugup saat mengelola forum. Sangat mungkin karena di hadapan banyak peserta yang bukan dari kampusnya. Acara memang diselenggarakan di selasar Fakultas Ekonomi Univ. Darul Ulum.
Malam itu, ada dua narasumber yang hadir dari tiga yang telah direncanakan; Anggrani, pendeta GKJW Mutersari Bareng dan aku sendiri. Bill Halan tidak hadir karena kurang sehat badannya.
"Hai Anggra, welcome to my campus," sambutku sebelum acara. Dia datang bersama 3 anak muda, salah satunya adalah Yosia, mahasiswa Teologi UKDW yang sedang stage (baca; stasi) di gerejanya Anggra.
Anggra tampil mempesona malam itu. Betapa ia mengagumi uminya Rasyid dalam film tersebut.
Sosok sang umi begitu kuat menjembatani konflik Rosyid dan abahnya terkait Delia, pacar Rosyid yang Katolik. Sang abah sangat menentang pacaran beda agama --sekeras mama dan papanya Delia.
"Selain umi, saya juga sangat memahami betul perasaan yang dialami Delia," ujar Pdt. Anggra.
Aku meyakini dia, sebagai pendeta, memiliki pengalaman mempastorali jemaatnya yang mengalami hal sama. Pastilah tidak mudah.
Baginya, perpindahan agama yang kerap ditempuh banyak orang saat mencari jalan keluar relasi beda agama merupakan keniscayaan. Saat seseorang sampai pada titik tersebut, Anggra berpandangan ia haruslah memiliki komitman beragama secara serius, bukan hanya sekedar karena alasan perkawinan.
Keseriusan ini sekaligus menjadi titik tolak mengeksplorasi sejauhmana komitmen cinta kasih beda agama.
"Mencintai itu memerdekakan bukan memaksa, termasuk dalam urusan agama atau keyakinan," ujarku meneruskan sebagai narasumber kedua.
Jika ada kekuatiran setelah perkawinan beda agama, misalnya; nanti anaknya ikut agama bapak atau ibunya, bagaimana model beribadah keduanya, satunya makan babi dan lainnya mengharamkan --maka, menurutku, ada ketidakberesan saat pacarannya.
"Jangan-jangan pas pacaran, motifnya adalah penunduan agama satu atas agama lainnya? Kalau benar demikian maka aku meragukan ketulusan relasi tersebut," tambahku.
Penundukan tersebut, lanjutku, merupakan dampak pendidikan seputar agama yang dijejalkan kita sejak lahir. Kita dirawat untuk senantiasa merasa agama kita paling benar.
Kita terus menerus diracuni; bahwa agama lain adalah sesat dan lebih rendah dari kita. Yang paling membahayakan; kita terus diprovokasi bahwa mereka senantiasa membuat plot untuk merongrong agama kita.
Ujungnya, cara terbaik melumpuhkan sekaligus "menyelamatkan," mereka adalah dengan menggiringnya masuk agama kita.
Bahkan jika perlu, dengan cara licik, tipu daya, maupun kekerasan. Rasanya aneh, namun melegakan bagi sebagian orang.
"Bagaimana dengan sikap Islam seputar pindah agama? Bukankah telah jelas disampaikan dalam AlQuran?" tanya seorang peserta.
Alquran adalah kitab pedoman kita, jawabku. Menurutku, kitab ini terlalu suci yang tidak membutuhkan sepasukan orang untuk memaksa orang lain agar percaya ia sebagai kitab petunjuk.
Lemah sekali agama kita seandainya memaksa pengikutnya untuk mempersekusi orang lain agar mempercayainya.
"Tidak ada paksaan dalam Islam," jawabku. Saat banyak orang Islam ikut kerabatnya yang Yahudi meninggalkan Madinah karena pengusiran, Nabi memperbolehkan hal tersebut.
Mereka tidak dipaksa tinggal di Madinah bersama orang-orang Islam. Demikianlah konteks turunnya ayat tersebut.
"Lalu, gus, bukankah telah jelas dalam AlQuran 2:221, seorang Muslim tidak diperkenankan menikahi orang musyrik?" ujar yang lain.
Musyrik itu menyekutukan tuhan, jawabku. Yang percaya Tuhan, dalam ayat tersebut, dinamakan mukmin. Bahasa Inggrisnya; The Believers.
"Sekarang aku akan tanya pendeta Anggra," ujarku sembari langsung menatap Anggra yang duduk di sampingku. "Kamu dan semua orang Kristen, apakah menyekutukan Tuhan?"
"Yo enggak lah, gus," sahutnya sembari tertawa.
Mukmin, menurutku, adalah mereka yang mempercayai adanya Gusti. The Believers. Tidak hanya orang Islam saja, namun juga Kristen, Yahudi, dan agama-agama lainnya.
Dengan demikian, lanjutku di forum, Al-quran QS. 2:221 tidak cukup relevan digunakan untuk mengatur larang perkawinan Islam-Kristen. Apalagi menurutku telah jelas pemeluk Kristen memiliki kitab yang keberadaannya juga wajib diimani oleh orang Islam, merujuk pada QS 2:4.
"Bayangkan, mana mungkin kita tega mengutuk kebahagiaan yang kuat terpancar dari raut muka Tenaya dan Nathanael?" ujarku meyakinkan peserta diskusi sembari menayangkan video pendek "Mesranya Cinta Terlarang," karya Norfa Baroroh, mahasiswiku di Ciputra. https://www.youtube.com/watch?v=kOBSwufNJQw
Malam itu, aku merasa cukup banyak berondongan bersifat teologis dari peserta forum. Begitu banyak ayat-ayat Alquran disemai dan dikutip untuk mempertahankan keyakinan yang selama ini memang dihidupi.
Sejujurnya, aku sangat senang dengan hal itu. Sangat mengasyikkan dapat mendengar mereka berargumentasi menggunakan kitab sucinya.
Namun bagaimana dengan perasaan Pdt. Anggra yang menyaksikan itu semua? Apa yang ada dalam benaknya saat tahu kuatnya resistensi dalam forum tersebut?
Aku memilih membiarkannya, tidak menanyakannya secara khusus saat diskusi usai. Yang justru aku sampaikan adalah rasa senangku melihat kampus ini kembali dikunjungi pendeta GKJW.
"Tahukah kamu kapan terakhir kali pendeta GKJW mengisi acara di kampus ini?" tanyaku
"Kapan, gus?" tanyanya pendek
"Sekitar tahun 2011 atau 2012. Saat itu Nicky yang ke sini," ujarku sembari mengantarkan Anggra ke mobil.
Pelan-pelan kendaraan itu ditelan gelapnya kampus. Balik ke GKJW Mutersari. Thank you Anggra.
Sunday, August 8, 2021
I Will Not Make It Easier For You
Wednesday, August 4, 2021
Come Sunday; "Korupsi Iman," Jemaat sebagai Taruhan
Monday, July 26, 2021
WUJUDKAN TEMPAT PEMAKAMAN UMUM (TPU) DESA SOOKO KECAMATAN SOOKO MOJOKERTO
Press Rilis Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD) Jawa Timur
"WUJUDKAN TEMPAT PEMAKAMAN UMUM (TPU) DESA SOOKO KECAMATAN SOOKO MOJOKERTO"
Jaringan Islam Antidikriminasi (JIAD) Jawa Timur mendukung upaya serius GUSDURian Mojokerto dalam upaya pemberian keadilan akses pemakaman bagi warga non-Islam desa Sooko kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto.
Upaya ini merupakan rentetan terjadinya diskriminasi jenazah bu Emi dan Pak Totok yang tidak bisa dimakamkan di desanya sendiri karena alasan agamanya (cek beritanya di https://tinyurl.com/yhsdhvm2)
Beberapa hari lalu, GUSDURian Mojokerto secara resmi mengirimkan surat ke otoritas desa Sooko. Isinya, terkait klarifikasi seputar status tanah makam desa; apakah khusus untuk warga Islam saja atau terbuka bagi semua warga desa.
Hingga saat ini surat tersebut belum direspon oleh Kepala Desa tanpa alasan yang jelas. Padahal sebenarnya masalah ini tidak perlu terjadi manakala pemerintahan desa bersetia pada empat pilar bangsa; Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Sebagai catatan, terdapat lebih dari 100 warga desa Sooko yang beragama selain Islam. Kejelasan nasibnya saat meninggal dunia masih terancam tidak bisa dikuburkan di desanya sendiri. Padahal, saat pengadaan tanah makam tersebut, mereka juga terlibat urunan pembiayaan.
Terkait hal ini, Jaringan Islam Antidiskriminasi menyatakan sikap sebagai berikut:
1. Mendukung sepenuhnya langkah advokasi GUSDURian Mojokerto terkait hal ini;
2. Mendesak kepada Kepala Desa dan BPD Desa Mojokerto untuk mengeluarkan keputusan yang isinya menetapkan makam desa sebagai tempat pemakaman umum (TPU);
3. Mendesak kepada Bupati Mojokerto untuk memastikan seluruh desa di kabupaten memiliki TPU, bukan hanya Makam Islam saja;
4. Menyerukan kepada semua elemen lintasagama untuk ikut serta memperjuangkan hal ini;
5. Meminta kepada semua pihak mengirimkan pesan dukungan berisi, "Saya Aan Anshori (ganti dengan nama Anda), pengajar Universitas Ciputra (ganti dengan afiliasi Anda), mendukung Kepala Desa Sooko menyediakan tempat pemakaman umum (TPU) bagi seluruh warga desa -- apapun agama, ras, suku dan etnisnya," Kirim pesan tersebut ke WA Kades Sooko https://tinyurl.com/ydrtp97k dan Camat Sooko https://tinyurl.com/yz9k2ht3
Jombang, 25 Juli 2021
Aan Anshori
*Narahubung GUSDURian Mojokerto; Imam Maliki (+62 855-3694-0161) Kukun Triyoga (+62 812-3086-0673)
Thursday, July 22, 2021
ISMAIL ATAU ISHAQ? TIGA FAKSI ISLAM DAN UPAYA PEMBACAAN ULANG
Yang hendak aku tawarkan dalam tulisan ini adalah seputar cara pandangku kenapa Islam terasa lebih memilih Ismail ketimbang Ishaq dalam drama percobaan penyembelihan oleh bapaknya, atas nama perintah Tuhan. Sebagai catatan, aku belum membaca semua karya tulis di Google Scholar berkaitan dengan topik ini. Sehingga bisa jadi telah ada sarjana yag relah menulisnya namun belum aku sebut karyanya. Untuk hal ini, aku minta maaf.
BASIS AWAL
Aku mencukupkan diriku pada teks alquran sebagai sumber primer. Dalam tradisi Sunni-Nadliyyin yang aku tahu, jika ingin mempelajari al-Quran lebih mendalam, seseorang akan sangat disarankan untuk membaca tafsirnya. Namanya juga tafsir, kebenarannya tetaplah relatif dan tidak bisa dianggap sejajar dengan al-Quran. Jumlah kitab Tafsir cukup banyak dan beragam. Tergantung juga pada madzhab keislamannya. misalnya Sunni. Syiah, atau Ahmadiyyah.
ALQURAN DAN PENYEMBELIHAN
Di kitab suciku, teks seputar upaya percobaan penyembelihan anak Ibrahim, setidaknya, tergambar dalam Alquran Surah 37 (al-Saffat, rombongan/barisan Malaikat) ayat 102. Namun, demi memahami ceritanya lebih utuh, aku akan beberkan ayat 100-113. Aku gunakan terjemahan/tafsir milik Quraish Shihab yang ada di tanzildotnet.
37:100; Ya Tuhan, berikanlah aku keturunan yang saleh yang akan melanjutkan misi dakwah setelah aku.
37:101; Kemudian malaikat memberinya kabar gembira berupa anak yang cerdas dan sabar.
37:102; Anak itu pun lahir dan tumbuh. Ketika anak itu menginjak dewasa dan telah pantas mencari nafkah, Ibrâhîm diuji dengan sebuah mimpi. Ia berkata, "Wahai anakku, dalam tidur aku bermimpi berupa wahyu dari Allah yang meminta aku untuk menyembelihmu. Bagaimana pendapat kamu?" Anak yang saleh itu menjawab, "Wahai bapakku, laksanakanlah perintah Tuhanmu. Insya Allah kamu akan dapati aku termasuk orang-orang yang sabar."
37:103; Tatkala sang bapak dan anak pasrah kepada ketentuan Allah, Ibrâhîm pun membawa anaknya ke suatu tumpukan pasir. Kemudian Ibrâhîm membaringkannya dengan posisi pelipis di atas tanah sehingga siap disembelih.
37:104-105 ; Allah mengetahui kebenaran Ibrâhîm dan anaknya dalam melaksanakan cobaan tersebut. Kemudian Allah memanggilnya dengan panggilan kekasih, "Wahai Ibrâhîm, sesungguhnya engkau telah memenuhi panggilan wahyu melalui mimpi dengan tenang, dan engkau tidak ragu-ragu dalam melaksanakannya. Cukuplah bagimu itu semua. Sesungguhnya Kami akan meringankan cobaan Kami untukmu sebagai balasan atas kebaikanmu, seperti halnya Kami membalas orang-orang yang berbuat baik karena kebaikan mereka."
37:106; Sesungguhnya cobaan yang Kami berikan kepada Ibrâhîm dan anaknya adalah bentuk cobaan yang menjelaskan inti keimanan dan keyakinan mereka kepada Tuhan semesta alam.
37:107; Kami menebus anak itu dengan sembelihan yang besar, sebab datangnya atas perintah Allah.
37:108; Kami abadikan Ibrâhîm dengan pujian yang baik di kalangan orang-orang yang datang setelahnya.
37:109; Salam kesejahteraan dilimpahkan kepada Ibrâhîm.
37:110; Seperti balasan yang menolak bencana itu, Kami akan memberi balasan orang-orang yang berbuat baik dengan melaksanakan semua perintah Allah.
37:111; Sesungguhnya Ibrâhîm termasuk hamba-hamba Kami yang tunduk pada kebenaran.
37:112; Dengan perintah Kami, malaikat memberi kabar gembira kepadanya berupa kedatangan seorang anak, yaitu Ishâq, meskipun istrinya mandul dan sudah putus asa untuk mendapatkan anak. Anak itu nantinya akan menjadi seorang nabi yang termasuk orang-orang saleh.
37:113; Ibrâhîm dan anaknya Kami berikan keberkahan dan kebaikan di dunia dan akhirat. Di antara anak keturunannya ada yang berbuat baik dengan keimanan dan ketaatan, dan ada pula yang menzalimi diri sendiri dan jelas-jelas tersesat karena kekafiran dan kemaksiatan yang dilakukannya.
TIGA FAKSI
Dari berbagai terjemahan al-Quran yang aku bisa akses, hanya terjemahan milik Kementerian Agama RI yang berani menyebut kata “Ismail,”secara gamblang saat menerjemahkan/menafsirkan ayat 102. Selain milik Kemenag, aku juga mengecek beberapa terjemahan berbahasa Inggris dan Indonesia, misalnya; Shahih International, Maududi, Mubarakpuri, Pickthall, Qarai, Qaribullah & Darwish, Sarwar, Shakir, Wahiduddin Khan, Yusuf Ali, dan tentu saja Quraish Sihab. Tidak ada satupun dari mereka yang menyebut nama“Ismail,” Alih-alih, mereka menggunakan kata “anaknya” (anak Ibrahim).
Di titik ini, untuk mempermudah penggolongannya marilah kita sebut saja mereka ini kelompok netral. Tidak disebutnya nama Ismail oleh mereka bisa jadi merupakan hal wajar karena kata Ismail memang tidak ada dalam atar 100-113.
Selain kelompok netral, al-Qurtubi (d. 1272) —dalam Al-Jami’ li Ahkam Al- Qur’an— saat menjelaskan QS. 37:102 menyampaikan adanya dua kelompok lagi dalam khazanah intelektual Islam; pro-Ishaq dan pro-Ismail. Dibelakang pendukung Ishaq, terdapat nama-nama seperti Ali bin Abi Talib, Abu Zubair, Abdulah bin Mas’ud, Muqatil bin Sulayman, al-Abbas bin Abdul Muthalib, dan Said bin Jabir. Sayangnya, al-Qurtubi sepertinya kurang mengelaborasi lebih jauh argumentasi kelompok pro-Ishaq.
Sedangkan di barisan kelompok pro-Ismail —yang berpandangan bahwa Ismail sebagai sosok pilihan Tuhan yang akan dikorbankan— terdapat nama-nama, diantaranya, Abu Tufail Amir bin Watsilah, Abu Huraira, Ibn 'Arabi, Ibn Kathir, al-Maududi, dan hampir semua orang Islam yang tiap tahun menyelenggarakan Iduladha.
Jika boleh menduga, argumentasi kelompok pro-Ismail sangat mungkin demikian; jika narasi ayat-ayat di atas dibaca secara kronologis, maka ayat 100-112 menceritakan seorang anak yang akan disembelih. Siapa anak itu? Entahlah. Namun kelompok pro-Ismail sangat mungkin akan berkata; pastilah bukan Ishaq sebab dia baru disebut pada ayat 113.
"Kan ya tidak masuk akal ada orang disembelih padahal ia belum dilahirkan?," --barangkali demikian afirmasi sederhananya. Maka, dengan afirmasi seperti inilah seluruh bangunan epistemologi pro-Ismail dalam Islam mendapat basis legitimasinya. Namun justru di titik ini, legitimasi tersebut, menurutku, tidaklah sesederhana.
MENYELIDIKI AFIRMASI
Ada hal yang membuatku penasaran kenapa Alquran terasa memilih "jalan lain," --dianggap condong memilih Ismail-- ketimbang narasi Perjanjian Lama yang diyakini Yahudi dan Kristen. Dua agama ini memang unik; bersekutu terkait siapa yang akan dikorbankan Ibrahim, namun dalam banyak aspek, Kristen justru terasa melakukan "pemberontakan," terhadap ajaran Yahudi melalui Perjanjian Baru-nya.
Kenapa Kristen bisa rukun dengan Yahudi dalam soal Ishaq, seperti Jokowi dan Prabowo-Sandy dalam kabinet Indonesia sekarang? Sangat mungkin karena keduanya berkepentingan menjaga kemurnian garis keturunan Ibrahim dari Sarai ketimbang Hagar. Sarai dan keturunannya dianggap lebih mulia dan terhormat ketimbang Hagar yang hanya seorang budak --sungguh pun keduanya digauli dengan penis yang sama.
"Mbak, kalau aku baca ceritanya Hagar di Alkitab, betapa ia sangat terlunta-lunta. Dia ini budak yang dikondisikan minder dengan majikannya. Saat ia mulai memperoleh konfidensi karena sanggup memiliki anak Ismail. ia harus menerima penindasan dari Sarai sang majikan yang berkomplot dengan Abraham —bapak dari anaknya," kataku pada seorang kawan, pendeta perempuan.
Hagar, tambahku, laksana“sudah jatuh tertimpa tangga pula,”Dia harus menerima kenyataan Tuhan yang ia cintai justru malah tampak bersekutu dengan Sarai-Abraham. Alih-alih menolong, El-Roi —nama Tuhannya Hagar-- justru meminta perempuan ini kembali ke keluarga Abraham, menerima dengan ikhlas penindasan dari Sarai, nyonyanya. Sungguh, betapa menakjubkannya El-Roi!
Penderitaan Hagar dan Ismail nampaknya belum reda, kataku. Pada saat akhirnya Ismail memiliki adik —Ishaq yang lahir dari rahim Sarai, lihatlah, betapa njomplangnya perlakukan Ibrahim terhadap keduanya. Persis seperti perlakukan Jakarta terhadap Jawa atas Papua. Abraham mengusir Hagar dan Ismail; agar Sarai dan Ishaq bisa hidup tenang bersamanya?
"Menurutku, peristiwa yang terjadi pada Hagar dan Ismail adalah salah satu cerita penindasan domestik berbasis kelas sosial dan gender. Namun yang semakin menggangguku, kenapa ya aku sangat jarang mendengar para pendeta menggunakan cerita ini dalam khotbahnya," kataku. Perasaan ini persis seperti yang aku alami saat menemukan fakta kurang terapresiasinya Yesus dalam komunitas Islam --sungguhpun Alquran menceritakan sosok ini melebihi hampir semua Nabi dan Rasul.
Dalam kasus Hagar dan Ismail. marilah kita bayangkan bagaimana kondisi psikologis keduanya --terutama Ismail. Anak kecil ini senyatanya telah dirawat dalam kurusetra domestik yang sungguh tidak sehat; menyaksikan sendiri bagaimana ayahnya menganakemaskan Ishaq dan Sarai ketimbang memberikan perlakukan yang setara pada ia dan ibunya.
Tak perlu gelar psikolog untuk bisa memahami Ismail akan selalu dikurung oleh perasaan marah, terbuang, tertindas, dan diselimuti kobaran kebencian yang meluap. Maka, benarlah adanya jika Perjanjian Lama mendefinisikan Ismail sebagai, "Seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai liar, demikianlah nanti anak itu; tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, dan di tempat kediamannya ia akan menentang semua 4 saudaranya,"
SARAI ENVY?
Aku merasa, jangan-jangan masih ada diantara kita yang terjebak Sarai Envy--sebuah kondisi psikologi seseorang yang secara tak sadar meminggirkan peran dan posisi orang atas dasar kecemburuan kelas sosial tertentu (majikan terhadap budaknya) seperti yang dialami Sarai.
Bagi siapapun yang mengaku sebagai pewaris "keturunan," Ishaq, —baik secara biologis maupun ideologis— Sarai Envy adalah metode dan strategi yang sangat ampuh --sekaligus berbahaya-- untuk menjaga klaim kemurnian pewarisan tersebut. Sarai Envy akan menstimulasi siapapun untuk tidak rela menyaksikan Ismail dan followernya mendapatkan kesetaraan dan kesejajaran rasa hormat.
Itu sebabnya, menurutku, cerita Ishaq yang "terpilih," untuk dikorbankan dan juga disunat lebih bernuansa teologis ketimbang historis. Nuansa teologis tersebut sangat kuat beraroma bias Ishaq terhadap Ismail.
Dalam imajinasiku, jika cerita ini terus dilanggengkan dengan semangat Sarai Envy maka Hagar dan Ismail —beserta ratusan juta pendukungnya— akan merasa semakin terpinggirkan. Jika ini terjadi, maka resistensi Ismail Cs. dalam menuntut balas akan semakin keras, salah satunya dengan cara melontarkan wacana tanding untuk "mengoreksi klaim telogis yang sudah mapan," terkait siapa yang sesungguhnya terpilih untuk dikorbankan oleh ayahnya saat itu. Aku kuatir dunia Islam-Kristen-Yahudi justru akan terasa tidak semakin membaik.
TUHAN YANG MEMBAYAR HUTANG
Aku menduga kuat narasi Al-Quran, yang tidak secara tegas menyebut nama Ismail namun meletakkan kelahiran Ishaq dalam ayat lanjutan penyembelihan, sedang menantang kita agar terus berpikir ulang. Misalnya, seperti yang ada dalam pikiranku saat ini; apakah narasi Alquran ini bukan semacam gently reminder Tuhan bagi siapa saja yang pikirannya masih terjangkiti Sarai Envy secara akut.
Peringatan lunak ini sekaligus bisa jadi merupakan upaya El-Roi "menebus kesalahannya" di masa lalu karena "membiarkan" Hagar dan Ismail hidup dalam ketatnya penindasan domestik kala itu.
Dengan menggunakan Alquran, Tuhan --jika kita meyakini Dia adalah sutradara yang sama dalam drama domestik Ibrahim-Ismail-Ishaq narasi Yahudi, Kristen dan Islam-- seperti sedang menuliskan lanjutan drama ini. Isinya, rekonsiliasi dan romantisme Ibrahim bersama Ismail -- putra yang pernah ia sengsarakan -- saat membangun tempat suci di Makkah (QS 2:124-129) maupun mensejajarkanya dalam galaksi para Nabi/Rasul.
Pada saat yang bersamaan, sang sutradara ini juga meletakkan relasi Ishaq-Ismail dalam tensi yang jauh dari menenangkan --ketimbang di sekuel Perjanjian Lama. Kata "Ismail," disebut sekitar 12 kali dalam Alquran; enam kali disebut bersamaan dengan Ishaq (dan bapaknya) dalam posisi setara (QS.2:133, 136,140; QS.3:84, QS.4: 163), tiga kali disebut bersama nabi/rasul lain minus adik dan bapaknya (QS.6:86, QS.38:48, QS.21: 85), satu kali disebut sendirian (QS.19:54) dan bersama Ishaq (QS.14:39), serta dua kali disebut bersama bapaknya saat membangun Ka’bah (QS.2: 125,127)
Anda tahu berapa kali nama Ishaq disebut dalam Alquran? 17 kali! --lebih banyak dari Ismail. Dan tidak ada satu pun yang bermuatan konfrontatif; tidak terhadap ibunya, bapaknya, maupun tidak terhadap ibu tiri dan kakak tirinya.
AKHIR: SIAPA YANG DIKORBANKAN?
Siapa yang (telah) akan dikorbankan oleh Abraham sudah sangat jelas di al-Quran; yakni anaknya! Kita bisa menetapkan pilihan; pro-Ishaq, pro-Ismail, atau netral. Semua pilihan tersebut tidak hanya ditopang banyak tokoh/sarjana Islam namun juga, di sisi lain, memiliki konsekuensi. Salah satunya, ketika pilihan tersebut tercampuri fanatisme maka dunia Islam-Kristen-Yahudi akan semakin gelap. Itu berarti, kita mungkin gagal mengambil hikmat dari drama domestik keluarga Abraham.(*)
--Daftar Bacaan--
1.Alkitab SABDA™, https://www.alkitab.sabda.org/home.php
2.MW Pickthall, The Glorious Qurʼan: Translation. TTQ, INC., 2001.
3.Means, E. G. "Genesis, and: Hagar and Sarai, and: Remembering Being Is Birth, and: Natality." Colorado Review 44.1 (2017): 140-145.
4.Tanzil - Quran Navigator, https://tanzil.net/, © 2007-2021 Tanzil Project
5.Ali, Abdullah Yusuf. English translation of the Holy Quran. Lushena Books, 2001.
6.https://www.englishtafsir.com/Quran/37/index.html#sdfootnote57sym
7.Al-Qurtubi, Abu Abdu Allah. (2003). Tafsir Al-Qurtubi Al-Jami’ li Ahkam Al- Qur’an (Al-Qurtubi's Interpretation of the Holy Quran). Riyadh: Dar Alam Al-kutub.
8.Afsar, Ayaz. "A Comparative Study of the Intended Sacrifice of Isaac/Ismail in the Bible and the Qur'ān." Islamic studies (2007): 483-498.
9.Sayyid Abul Ala Maududi - Tafhim al-Qur'an - The Meaning of the Qur'an, http://www.englishtafsir.com/
Tuesday, July 20, 2021
Ada Yesus dan Petrus dalam kata Id(ul) Adha dan Id(ul) Fitri
Featured Post
Buyut Nolo Drono; Makam Kristen Dirawat Masyarakat Islam dan Kristen
Ditengah maraknya persekusi simbol-simbol kekristenan di Indonesia oleh sebagian kelompok Islam, apa yang dilakukan masyakarat I...
-
Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer --semena-mena; hitam-putih. Yang satu merasa lebih superior sembari ...
-
Bukan, ia bukan tokoh masa kini seperti Lady Di(ana) atau Lady Gaga. Saya berani jamin Anda pasti kesulitan melacaknya di Vanity Fair atau ...
-
Oleh Fina Mawadah Entah aku harus memulai ini dari mana, yang jelas semua hal apapun itu pasti ada permulaan, pasti ada yang pertama, pert...






