Pages

Tuesday, November 24, 2020

Gegeran Saksi Ahli di Persidangan Eljibiti (Bag.1)

"Majelis Hakim, dengan melihat kualifikasi yang kami dengar, kami menyatakan keberatan dengan calon saksi ahli yang diajukan Penggugat," kata salah satu perwakilan Tergugat. Aku yang telah duduk di tengah persidangan, di hadapan tiga hakim dan di antara penggugat dan tergugat, agak kaget. "Mudah banget orang ini menganggapku tidak cukup kompeten ngomong soal gender dan seksualitas hanya dengan melihatku kurang dari 10 menit?" rutukku kecut.

Pengacara Penggugat, Maruf Bajamal, langsung merespon keberatan Tergugat. Pria ini menyatakan diriku merupakan aktifis yang telah lama berkecimpung dalam urusan gender dan seksualitas.

"Aktifitas dan pandangannya mengenai gender dan sekualitas, akan sangat berguna bagi persidangan ini untuk lebih mengetahui duduk perkara yang kami ajukan," katanya kepada majelis hakim -- dua lelaki dan satu perempuan.

Ruangan sidang hening. Krik...krik..

Dadaku berkecamuk. Pikiranku membayangkan aku tidak jadi bersaksi di persidangan ini. Padahal sudah berkereta lebih dari 7 jam dari Jombang ke Semarang. Ingatanku tiba-tiba melayang ke pak Mahfud MD ketika gagal jadi wapres, padahal sudah santer dikabarkan media dan dikontak Jokowi langsung. MMD sudah menunggu dekat lokasi pertemuan tempat Jokowi berada, menunggu kabar baik, sampai kemudian diminta menjauh karena koalisi partai meminta Jokowi memilih Ma'ruf Amin.(1)

"Apakah aku akan terusir dari kursi ini?" batinku terus bertanya-tanya. Pandanganku terus menatap ke meja para hakim. Aku melihat ketua majelis hakim tampak berfikir keras. Ia kemudian berbisik sebentar ke masing-masing hakim anggota, kiri dan kanan.

***

Seorang polisi, sebut saja XX, tidak terima dirinya dipecat karena orientasi seksualnya. Ia bukan seorang heteroseksual. Kesatuannya menganggap yang bersangkutan menyalahi kode etik dan tidak layak lagi berproses. XX bersama pengacaranya dari LBH Masyarakat menggugat pemecatan tersebut ke PTUN Semarang.(2) Dari sinilah keterlibatanku bermula, hingga aku duduk di kursi persidangan PTUN Semarang, 18 November 2020.

Sekitar seminggu sebelumnya, sebuah WA dari nomor yang tidak aku kenal masuk ke gadgetku, Pengirimnya seorang perempuan, Aisyah, dari LBH Masyarakat. Ia meminta bantuanku agar hadir dalam persidangan kasus gugatan XX kepada Kapolda Jawa Tengah.

"Saya dapat nomor Gus Aan dari #&&^@*@," katanya sembari menyebut nama temanku, seorang petinggi di Komnas Perempuan.

Aku tidak langsung menyetujuinya. Butuh waktu untuk memikirkannya. Aku memang pernah diuji beberapa kali di ILC dan persidangan akademik saat mempertahankan tesis 4 tahun lalu. Namun, aku belum pernah diuji di persidangan formal yang melibatkan hakim, tergugat dan penggugat.

"Why me? begitu tanyaku pada anak-anak LBH Masyarakat. Aku merasa, masih banyak ahli gender dan seksualitas yang jauh lebih mumpuni dariku. Juga, yang memiliki kemampuan menjelaskannya dalam perspektif Islam.

"Mayoritas sumber-sumber kami mengarahkan ke Gus Aan," kata Maruf.

Aku tentu saja merasa terhormat sekaligus gelisah. Kegelisahanku lebih karena aku tidak memiliki pengalaman secuilpun bersaksi di forum persidangan. Bukankah berbicara di aneka forum pada dasarnya sama saja? Secara teknis iya. Namun secara psikologis, tentulah sangat berbeda. Striker nomor wahid di turnamen sepak bola antarkampung belum tentu moncer saat berlaga di stadion level kabupaten, maupun provinsi. Apalagi jika harus berlaga di Gelora Bung Karno atau Old Trafford.

Sekiranya dua jam kemudian, aku membalas WA Aisyah; tidak keberatan untuk datang. Aisyah kemudian menjelaskan singkat apa yang harus aku lakukan di hadapan persidangan. Intinya, aku diminta menjelaskan pandanganku terkait gender dan seksualitas, termasuk dalam perspektif Islam dan hukum positif ---sebuah hal yang sering aku lakukan di banyak forum

***

"Begini, kami memutuskan menerima saudara calon saksi ahli bisa bersaksi. Jika Tergugat keberatan, itu haknya. Tidak bertanya juga tidak apa-apa. Begitu ya. Untuk itu kami persilahkan saudara calon saksi ahli maju ke depan untuk disumpah. Ikuti perkataan saya," kata ketua majelis hakim.

Aku beranjak dari kursi dan maju ke depan. Di belakangku, ada seorang petugas menyorongkan buku tebal, mirip Al-Quran, dekat kepalaku -- buku yang akan digunakan membela dan melawan XX, polisi gay yang diberhentikan secara tidak hormat dari kesatuannya.

(BERSAMBUNG)

-----

(1) Simak testimoni MMD di https://www.youtube.com/watch?v=W4Dbd3b9GSo

(2) Apa Kabar Gugatan Polisi yang Dipecat Gegara Kasus LGBT di Semarang,” https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-5214812/apa-kabar-gugatan-polisi-yang-dipecat-gegara-kasus-lgbt-di-semarang

Sunday, November 8, 2020

YESUS DI TANGAN MAHASISWI BERJILBAB

Kubaca berkali-kali lembar jawaban UTS yang ada di gadgetku. Milik Talitha Sani --mahasiswiku kelas Religion Ciputra. Benarkah ini ditulis oleh seorang muslimah? Jika iya, mungkin ia adalah satu-satunya mahasiswi Muslim yang cukup berani menulis apresiasinya atas kekristenan selama UTS.

Ia menjuduli tulisan pendeknya, "Pengorbanan Yesus Menebus Dosa Manusia," sekitar 2,5 halaman kuarto.

Karena tak terlalu percaya dengan dirinya aku mengontak Liechel, mahasiswi yang paling aku kenal di kelas. Dia mengkonfirmasi Talitha seorang muslimah. "Ia tenglang, Chel?" tanyaku lagi. Liechel malah tidak tahu apa itu tenglang.

Kelas online selama semester ini memang sedikit memaksaku menginvestigasi profil mahasiswa lebih mendalam. Aku tak pernah bertemu fisik dengan mereka. Nama dan penampilan profil pic di kelas maya tidak menjadi jaminan aku dapat menebak agama mereka secara akurat.

Tidak sedikit dari mereka yang sengaja tidak memasang profil pic foto mereka --baik di aplikasi Line maupun Moodle. Aku memang tidak memaksa mereka untuk memasang. Kecuali dalam kondisi terpaksa, seperti dalam kasus Talitha.

"Tha, aku barusan membaca tulisan UTSmu," aku mengechatnya personal.
"Oooh... Apakah ada masalah, Pak?" tanyanya balik. Aku membayangkan ia kuatir.



Aku baru sadar jika sebelum UTS kami pernah terlibat dalam sebuah percakapan. Arsip percakapan kami di Line ,masih ada. Saat itu ia mengusulkan topik yang akan ia tulis untuk UTSnya. Namun aku tolak karena ia menulis tentang sesuatu yang kurang pas.

UTS matakuliah Religion semester ini memang mengajak mahasiswa menceritakan pengalamannya berinteraksi dengan pemeluk agama lain, dan ajaran dari pemeluk tersebut.

Ajaran apa saja yang menarik minat mahasiswa. Tulisan tersebut tidak hanya bersifat appreciative inquiry namun juga tetap memberikan ruang mahasiswa untuk memasukkan analisanya atas apa yang ia ceritakan.

Misalnya tidak sedikit dari mahasiswaku, Kristen dan Katolik, yang menulis apresiasinya terkait Saksi Yehuwa. Sekte yang kerap dianggap sesat tidak sedikit orang Kristen trinitarian ini memang diundang khusus dalam kuliah umum kampusku semester ini, bersama Millah Ibrahim, Ahmadiyyah, dan Kristen Ortodok Syiria.

Dari banyak mahasiswa yang menulis tentang SY, ada dua orang yang menggunakan kata 'Iblis," dan "sesat," untuk mengasosiasikannya dengan SY. Aku sangat kaget saat membacanya. Tak pernah aku mengajari kelasku untuk menggunakan atribut seperti itu agi orang/kelompok yang berbeda.

Alih-alih menghubungi dua mahasiswa tersebut, aku memilih mengirim pesan umum ke grup Line kelas, agar dibaca semuanya.

"Guys, selamat pagi. Aku sedang membaca tulisan UTS kalian. Menurutku bagus. Ada beberapa diantara kalian menggunakan diksi yang terlalu tajam dan emosional saat membahas Saksi Yehuwa, misalnya, iblis dan sesat. Please, do not use those words again to describe those who differed from your beliefs. It hurts as well as when it stabbed you. Happy Sunday,"

Tidak ada yang menjawab postinganku. Namun tak seberapa lama, ada pesan personal Line masuk; dari salah satu mahasiswa yang menggunakan kata iblis. Ia meminta maaf dan mengakui hal tersebut merupakan dampak dari kuatnya doktrin dari pendetanya. Ia berjanji tidak akan melakukannya lagi, Aku tersenyum sembari mengucapkan terima kasih dan "Happy Sunday," Ia mengirimkan emoticon lega.

**

"Tha, jika tidak keberatan, bolehkah aku melihat foto profil picmu?" pintaku pada Talitha --permintaan yang tentu saja berpotensi disalahpahami. Dosen kok meminta foto diri mahasiswinya.

Aku hanya ingin memastikan seperti apa Talitha mencitrakan dirinya di etalase terdepan personalnya. Aku merasa penting untuk mengetahuinya. Profil pic Linenya memang kosong. Aku coba lacak ia di Instagram namun akunnya berstatus private, padahal aku ingin stalking.

'Ini profil saya pak," jawabnya sembari mengirimkan foto diri. Tak menyangka ia berjilbab relatif rapat.

Aku lantas meminta ijin untuk mengunggah tulisan dan fotonya sekalian. Ia tidak keberatan.

Friday, November 6, 2020

Deru KALABAHU

Kalabahu singkatan dari Karya Latihan Bantuan Hukum -- sebuah elemen pengkaderan milik Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Lembaga hukum bereputasi mentereng ini memiliki puluhan kantor LBH seantero Indonesia, termasuk Surabaya.

"Saya Aan Anshori. Silahkan googling nama saya. Barusan lulus dari S2 Hukum Keluarga Islam Universitas Hasyim Asy'ari Tebuireng," kataku membuka perkenalan.

"Siapa di sini yang di ahwal al-yakhsiyyah?" tanyaku. Itu adalah nama Arab dari prodiku. Entah berapa gelintir dari mereka yang tahu.

"Saya, mas," kata peserta perempuan, yang tentu saja berjilbab.


Aku memang merasa perlu menandaskan latar belakangku, khususnya kampus Tebuireng karena beberapa hal.

Pertama, banyak yang memakai jilbab. Kedua, begitu banyak diksi Madura dari peserta laki-laki. "Jilbab," "NU," dan "Madura," memang harusnya familiar dengan kata "Tebuireng," -- kebangetan kalau tidak.

Ketiga, topik yang aku bawakan relatif berat, khususnya jika dihantam dari perspektif keagamaan. Aku memang diminta mengampu topik problem struktur keadilan gender, dan memilih untuk menggenjot mereka dengan pilihan non-binary dan non-conforming gender a.k.a LGBTIQ. Keempat, mereka memandangku dengan heran saat aku masuk kelas dengan celana pendek dan berbatik. Sorot mata mereka terasa ingin mengiris-irisku.

Aku memang sengaja tidak membawa celana panjang. Sudah aku niati untuk bercelana pendek dari rumah ke hotel Arcadia hingga balik lagi ke rumah.

Seingatku, sudah dua kali aku mengisi Kalabahu LBH Surabaya dengan memakai celana pendek. Panitia tidak pernah mengirimkan surat keluhan resmi padaku. Tidak juga kami pernah membicarakannya. Mereka tahu aku tidak pernah berniat secuilpun merendahkan forum.

"Aku akan mendorong kalian mampu seperti para Hakim Konstitusi yang bertugas mereview hukum, bukan sekedar pemakai hukum,"


Selama satu jam lebih aku mengocok-ocok pikiran mereka seputar gender, hukum, agama, dan seksualitas. Berkali-kali aku menanyakan pada peserta apakah mereka memahami apa yang aku sampaikan. "Aku terbuka jika kalian memiliki dissenting opinion terhadapku," ujarku.

Kelas terasa semakin panas saat ada peserta --laki-laki berlatar belakang pesantren dengan logat Madura kental-- mulai tersulut. Ia mengemukakan pandangannya soal cerita kaum Luth dari perspektifnya. Aku mengamini ceritanya yang mencampuradukkan nrasi Alquran dan sumber lain.

"Menurutmu, dalam ceritamu tadi, aktifitas kaum Nabi Luth berkategori pemaksaan kehendak atau suka-sama-suka," tanyaku
"Iya juga sih. Pemaksaan," ujarnya sambil tertawa.

Aku juga ikut tertawa.

"Nah kawan-kawan, sekarang bayangkan, aku memperkosa Irkhas," kataku pada mereka sembari mendekati Irkhas, peserta perempuan. "....maka yang salah adalah pemerkosaannya atau karena aku suka perempuan?"

"Perkosaannyaaaaaaaaaaa..." mereka berkoor.

Aku gembira mereka mulai semakin dapat berfikir jernih menyangkut kabut kelam kaum Nabi Luth. Aku mendengar ada suara peserta yang menyatakan ia baru menyadari hal ini meski telah mendengar cerita kaum nabi Luth sejak lama. Bagiku ini sungguh kemajuan yang berarti.

Agar suasananya semakin panas, aku selanjutnya mengajak mereka bermain debat terbuka, antarpeserta. Aku belah mereka menjadi dua kelompok; jaksa penuntut umum dan pengacara.

Aku beri mereka sebuah kasus; seorang prajurit TNI terancam dipenjara dan pecat karena dianggap LGBT.

"Tugas kalian adalah membela dan menghukumnya," kataku.

Kelas Kalabahu selanjutnya berubah seperti arena demonstrasi. Argumentasi saling bersahutan, dengan penuh deru.

Tuesday, November 3, 2020

PENGUSIRAN ARWAH DAN EMMANUEL MACRON

Kemarin malam aku nonton The Exorcism of Emily Rose. Entah sudah yang keberapa kalinya. Aku suka banget film itu. Film bersetting Katolik yang kabarnya didasarkan pada kejadian nyata Anneliese Michel dan Linney.

Ceritanya, ada romo yang dibawa ke pengadilan gara-gara dituding melakukan pembunuhan saat proses pengusiran arwah yang merasuki Emily, salah satu jemaatnya. 

Perempuan ini mati sangat mengenaskan. Tubuhnya sangat kurus dengan penuh luka. Tragis. 

Pemerintah kota merasa perlu menegakkan keadilan. Harus ada yang dihukum atas peristiwa ini. 

Oleh karena tidak mungkin mengadili Lucifer dan 5 setan lain yang merasuki Emily, maka tentu saja romo tersebut yang harus menanggungnya. 

Duel menarik pun terjadi antara sang pengacara  dan jaksa penuntut. Yang menarik, pengacara romo adalah agnostik, perempuan. Tau sendirikan orang agnostik? Rasionalitasnya membumbung ketimbang hal-hal yang bersifat absurd. Iman masuk dalan kategori itu.

"Romo, apakah Emily termasuk orang yang taat beragama?" tanya si pengacara.
"Sangat taat,"
"Lalu kenapa Tuhan sampai setega itu membuatnya sengsara dan menderita?" si loyer terus memburu kliennya di kursi pesakitan.

Lalu si Romo membacakan surat yang ditulis Emily sehari sebelum meninggal --setelah proses pengusiran arwah yang sangat apik dan melelahkan. 

Dalam surat itu Emily bercerita. Ia mimpi ketemu Holy Mary dan mengajukan pertanyaan persis seperti yang diajukan loyer tadi ke romo

Aku sejak awal sudah galau, dag-dig-dug menduga-duga apa persisnya jawaban Holy Mary. Sebab, menurutku, ini merupakan pertanyaan kelas berat secara teologis.

Holy Mary menawarkan dua pilihan kepada Emily; tetap menderita untuk hal yang lebih besar dari penderitaannya, atau mengakhiri penderitaan dari "gangbang-an" kuasa gelap 5 rajanya setan. 

"I choose to stay," kata Emily kepada Holy Mary. Maka ia pun mati dengan cara menyedihkan dan mengenaskan.

Aku belajar banyak dari film ini, khususnya menyoal penderitaan yang selalu ditawarkan realitas dan begitu banyak dari kita memilih menghindarinya. 

Emmanuel Macron termasuk seperti Emily. Lelaki ini menurutku memilih tidak mau menyerah meski tengah didera penderitaan hebat. Dicaci maki jutaan orang Islam, termasuk teman-temanku sendiri.

Ia memilih menderita menjaga hal paling fundamental dalam demokrasi; kemerdekaan berekspresi, meskipun sangat mungkin ia bisa dengan mudah menghindarinya. 

Diakhir film, romo tadi mengunjungi makam Emily bersama si pengacara. Saat melihat nisan Emily, sang pengacara membaca tulisan yang tergurat di sana. 

Bunyinya; work out your own salvation with fear and tremblings --- petikan surat Paulus ke jemaat Filippi, yang hingga kini aku simpan rapi dalam memori dan sanubariku, bersama ayat serupa di Alquran.

Tuesday, October 27, 2020

JAMBI DIPERSEKUSI, PMII MALAH KE GKI

Oleh Aan Anshori

Dari dulu, aku selalu mempercayai Pergerakan Mahasiswa Indonesia (PMII), almamaterku, adalah salah satu kawah candradimuka gerakan Islam toleran. Dengan mempertahankan keyakinan tersebut aku sekaligus mengimani; MENYELAMATKAN PMII akan MENYELAMATKAN KEBHINEKAAN INDONESIA.

"Coba kamu cek, organisasi mahasiswa mana, yang mengusung label 'Islam', yang kader-kadernya paling banyak bergerak di isu antariman? Rasanya hanya PMII," ungkapku di hadapan puluhan kader PMII yang sedang mengikuti pengkaderan tingkat lanjut (PKL) yang diselenggarakan PMII Sidoarjo, Jumat (8/9) di Pesantren al-Falah Siwalan Panji Buduran Sidoarjo.

Aku sebenarnya hanya mengampu sesi normatif, "Antropologi Masyarakat Indonesia," Tidak ada kaitan langsung dengan dinamika intoleransi di Indonesia. Namun aku sengaja mengambil sudut pandang itu. 

Saat di atas kereta Jenggala, terbersit gagasan untuk mengadakan kunjungan "mendadak" ke gereja terdekat. Yang ada dalam pikiranku adalah rumahku sendiri; Gereja Kristen Indonesia (GKI) Sidoarjo! 

Aku tahu, GKI adalah institusi yang tidak hanya sangat well prepared administrasinya, namun juga sangat terencana programnya. Kunjungan dadakan seperti ini jelas akan menyulitkan mereka. 

"Tapi....mana mungkin mereka kuat menolak rengekan dan pesonaku?" batinku menghibur.

Segera aku mengirim WA ke adikku, Pdt. Yoses. Centang dua tapi lama tak berbalas. Aku kemudian mengirim pesan ke seniornya di sana, Pdt. Leo. Dan benar dugaanku, aku diterima dengan tangan terbuka. Tanpa surat, tanpa rapat, just WA.

[9/28, 08:03] Aan Anshori: Mas, pagi.
[9/28, 08:03] Aan Anshori: Nanti siang di gereja kah?
[9/28, 08:04] Aan Anshori: Aku ngisi training di Sidoarjo. Pengen ngajak peserta dulin nang GKI, biar lebih mengasah sensitifitas mereka.
[9/28, 08:04] Aan Anshori: Ini mampir saja.. Nggak formal..
[9/28, 08:06] Leo GKI Sidoarjo: Dengan senang hati. Jam berapa nanti mau mampir?
[9/28, 08:07] Aan Anshori: Thank mas..
[9/28, 08:07] Aan Anshori: Sekitar jam 11 ya mas..
[9/28, 08:08] Aan Anshori: Maaf mendadak..
[9/28, 08:08] Aan Anshori: Terlintas di benakku baru saja soal ini.
[9/28, 08:09] Aan Anshori: Hanya dengan sebanyak mungkin membawa muslim ke gereja, kesalahpahaman akan terlucuti.
[9/28, 08:09] Aan Anshori: Thank mas..
[9/28, 09:26] Leo GKI Sidoarjo: Ok. Trims mau mampir. Hal yg sebaliknya juga harus dilakukan teman2 kristen ke komunitas muslim dll. Sampai nanti ya.."

Tak seberapa lama Pdt. Yoses membalas chatku sembari meminta info jumlah yang akan hadir. "Ojo repot-repot ya. Kami cuma bertiga puluh," balasku. Aku tahu GKI pasti tidak menggubris permintaanku supaya tidak repot. Tapi kan nggak sopan kalau terlalu straight dan demonstratif. 

Aku membayangkan para tamu akan dibelikan makan siang. Lucky them!

Saat aku menawarkan jam tambahan mengunjungi gereja, hampir semua peserta menyambut gembira. Namun aku merasakan ada beberapa orang yang enggan. Bahkan ada satu orang yang menunjukkan resistensinya secara terbuka sejak di forum. Namanya J. 

Aku tentu kalem saja. Mempersuasi dalam soal ini adalah keahlian Gemini. Apalagi yang pernah membaca strategi William Lynch saat menjadi maestro pengelolaan budak dalam sejarah Amerika masa lalu. "I will take 'no' for answer" batinku. 

Akhirnya semua kader ikut ke GKI. Kami berarak-arakan memakai motor. Berboncengan tiga. Lengkap dengan jaket PMII. Situasinya mirip orang berkampanye atau demonstrasi. 

Beberapa orang di dekat GKI tampak heran melihat rombongan ini masuk pelataran GKI. "Mas, ini mau ada apa kok banyak anak pakai peci dan jilbab nggruduk gereja? Ada masalah apa?" tanya Pak RT yang kebetulan fotokopi di depan gereja, kepada Dedi penatua GKI. Dedi pun menjawab bahwa mereka ingin silaturahmi saja. Ia menceritakan peristiwa ini saat di forum.

Kami duduk melingkar. Kursi tempat ibadah yang telah tertata rapi, tentu saja, aku acak-acak. Disesuaikan dengan model yang aku kehendaki. "Perjalanan ini bagian dari kelas yang saya ampu. Saya bertanggung jawab 100%, tidak saja di sini namun juga di 'sana' nanti," kataku sembari menunjukkan jari ke atas. "Sana" bermakna akhirat. 

Forum berjalan sangat gayeng. Saat aku bertanya apakah ada peserta yang baru pertama kali masuk gereja, 5-6 orang mengangkat tangannya. Aku benar-benar kaget dan senang. Ternyata banyak juga. Kemudian aku tawarkan ke mereka untuk berbagi perasaan seperti apa yang berkecamuk di batin mereka. Mereka diam. Forum hening. Aku tak sabar. 

"Saya sudah katakan, kalian ini adalah perwira tinggi di komisariat masing-masing. Rajawali! Bertindaklah seperti perwira," kataku agak meninggi sedikit. " Jadi, adakah yang mau mulai menceritakan perasaannya?" tuturku lembut. Lembut sekali.

Satu per satu mereka bercerita. Ada yang sampai tak mampu menguasai perasaannya. Nafasnya agak tersengal-sengal. Aku membiarkannya. Ada juga yang mengungkapkan kemarahan. Aku diam saja sembari mengaktifasi kuda-kuda. Mempersiapkan yang terburuk. 

"Saya awalnya heran. Ini PKL macam apa kok disuruh ke gereja. Saya awalnya sudah malas ikut ke sini. Namun saya mau melihat apa yang akan terjadi," kata pria di sampingku dengan logat Madura yang sangat kental. Rupanya dia dari PMII Bangkalan. 

Entah bagaimana, ia kemudian menceritakan masa lalunya yang kelam. Masa lalu yang dipenuhi kebencian terhadap Kekristenan karena menganggapnya sebagai musuh. 

"Saya sudah mau membakar gereja di tempat saya bersama teman-teman namun dicegah kiai," ujarnya. Kalau kalian menghancurkan gereja, ia mengutip perkataan kiainya, kabupaten ini yang justru hancur.

Aku melihat sendiri puluhan wajah-wajah lelah namun gembira. Setelah Pdt. Leo menutup forum dengan doa yang dimengerti yang hadir, mereka kemudian semburat ke bagian-bagian ruang Ibadah; mencoba mimbar, menunjuk replika roti, berselfie ria dan memegang kantong-kantong persembahan.

"Matur suwun, Gusti. Aku bahagia dengan ini semua. Tak sia-sia aku naik motor 60 km dan berkereta. Berangkat jam 7 pagi, sampai rumah jam 19," batinku sambil mendupai tubuh agar bisa menutup defisit BPJS. Rokok aku apit jari tangan kiri, mengepalkannya ke muka, sembari mewiridkan lirih mars kami.

"Inilah kami wahai Indonesia. Satu angkatan dan satu jiwa. Putera bangsa, bebas merdeka, tangan terkepal dan maju ke muka"

Friday, October 23, 2020

Kegagalan yang Menggairahkan

Gagal kok menggairahkan? Mungkin itu yang Anda lontarkan pada judul ini. Namun iya, aku benar-benar merasakan gairah atas kegagalan tersebut. 

Ceritanya, barusan aku dikontak salah satu, katakanlah, adikku. Sebut saja Juwita. Ia calon pendeta di sebuah gereja. Bukan gereja kalian kok. 

Dalam pandanganku, Juwita termasuk calon pendeta yang cukup progresif. Passionnya terhadap gerakan lintasiman begitu menggelora. Ia nampak dengan mengagumkan mempercayai kuatnya persekusi terhadap agamanya lebih dikarenakan minimnya perjumpaan. 

“Kalau jarang berjumpa, orang bakal terperosok pada prasangka, gus. Prasangka adalah akar dari segala kekerasan,” katanya pada suatu ketika. Ia telah lama berencana mengundangku di katekisasi. Dimintanya aku memberikan pandangan kepada anak-anak muda gerejanya seputar maraknya kekerasan berbasis agama. 

Sungguh mulia sekali bukan? Namun demikian kemuliaan terkadang seperti merpati; ia jinak tapi mudah pergi jika didekati.

**

“Gus, aku habis berperang, berusaha mempertahankanmu di katekisasi. Tapi sepertinya aku gagal,” tulisnya. 

Aku tidak melihat wajahnya. Namun dugaanku, kesedihan telah nangkring lama di pelupuk matanya.

“Duh Juwita, betapa kamu membuatku terharu dan tidak enak. Aku terharu karena kamu melakukan hal yang cukup berani. Tidak enak; karena kamu harus berperang melawan saudara-saudaramu di internal. Thank you ya,” ujarku.

“Ga papa Gus.. Tugasku kan memang. Dan yang membuatku prihatin sih sebetulnya. betapa di tahun 2020 saudaraku masih berfikir dengan sangat eksklusif. Tidak mudah sangat, tapi ya ini tantanganku Gus, cuma untuk saat ini aku belum cukup kuat punya fondasi. semoga kelak ketika fondasiku sudah lebih kuat, kondisi bisa lebih baik ya.” balasnya.

“Ta, sebagaimana pernah aku singgung; kondisi seperti ini adalah imbas dari kuatnya doktrin tertentu tanpa mengenalkan doktrin lainnya. Termasuk doktrin atas trinitas. Sebenarnya aku tahu sejak lama di internal islam; betapa kejamnya dampak doktrin unitarian atas trinitarian. But to be honest, aku tidak menyangka hal ini juga berdampak relatif sama di kalangan trinitarian.” timpalku. “… Too much love will kill you. Too much unitarian will kill Trinity. And too much Trinity will kill unitarian as well? Gelap rasanya dunia ini, Ta,” aku terus nyerocos di whatsapp.

Aku melanjutkan, “Kadang aku mikir; apa Arianus, Tertullian dan St. Athanasius merumuskan doktrin unitarian dan trinitas yang sangat spektakuler ini agar pengikutnnya membenci pengikut ajaran lain? Sedih aku,”

“Bukannya Arius dan Athanasius juga dua pihak yg saling bersengketa demi klaim doktrin terbenar? Bukannya konsili yang memutuskan doktrin-doktin itu sarat dan sangat kental dengan politik yg kejam? jadi wajar, bila hasil dari keributan dan kebencian adalah kebencian lebih lanjut,” Juwita terus menderu. Terlihat sekali kematangannya dalam berteologi. Jujur. Emoh bersilat lidah khas teologia-apologetik.

Aku terus membalasnya sembari tiduran, “Iya, harusnya kita meletakkan perseteruan teologis dan politis mereka seperti halnya dalam insiden Daud dan Betsyeba. Yakni, nggak boleh ditiru..😓

“Yup.. dan disalahpahami. Menyedihkan. bahkan kemudian menggunakan bahasa2 yg sangat agamis untuk mendukung gagasan ini. Tapi rasanya sudah terlanjur gus. Mengubah apa yg sudah dihidupi puluhan tahun itu tidak mudah sama sekali,” ia dengan cepat membalas chatku.

“Iya, Ta, namun aku selalu percaya perubahan aku datang; semakin Kristen/Islam seseorang, semakin ia mempercayai adanya keselamatan di luar keyakinannya. Terasa aneh memang. But it worked for me at least.😬

“Iya gus, sangat paham aku dengan itu. Sedihnya lagi, menurutku dialog tidak akan pernah bisa terjadi bila semua berangkat dengan prasangka.. dan orang-orang ini berangkat dengan prasangka. khawatir sekali mereka kalau kamu akan mengislamkan anak-anak katekisanku. Betapa sebuah pandangan yang sangat dangkat tentang indahnya jalan bersama,” Juwita tak kalah sengitnya membalas pesanku.

Rasanya makjleb ketika membaca diksi “islamisasi,” di kalimatnya. Uluhatiku terasa ditusuk peniti. Aku tak menyangka itu akan ada dalam benak teman-teman Juwita. Diksi itu termasuk hal yang membuatku tidak nyaman, Diksi yang sangat kuat aura kolonialnya, sekuat kata “normalisasi,” yang disemburkan untuk intensi mengubah orientasi seksual seseorang. “Jahat,” --meminjam istilah Cinta pada Rangga.

“Juwita, aku merasa ada kekuatiran kuat di internal gerejamu. Aku bisa memahami hal itu meski tidak ada niat seupil pun terbersit di pikiranku untuk islamisasi. I don't want to convert anyone because I love the way they choose their religion. Sometimes love shows itself so dangerous, don't you think? ☺” aku terus membalas chatnya.

“Hehehe... its okey Gus.. Tugas kita yang sudah paham dan siap berjalan bersama walau tak sama untuk terus bergerak to? Yang penting kita saling support, kelak akan ada masanya dimana orang mulai membuka mata dan sadar pentingnya menikmati hidup bersama,” ia membalas dengan penuh optimisme. Betapa beruntungnya gerejanya mendapat calon pendeta sepertinya. Betapa bangganya kampus almamaternya. Betapa senangnya ibu dan bapaknya. Dan yang terpenting, betapa beruntungnya Indonesia memiliknya.

“Juwita, aku pasti senang jika kita terus berjalan beriringan. I promise you,” pungkasku.

Ya, kami berdua gagal mengantarkanku. Namun percakapan ini menggairahkanku untuk tidak patah. Sayup-sayup aku mendengar suara di pikiranku; fight, win, fight, win, fight, lose, fight harder!

 

Sunday, October 18, 2020

Menderita di Kelas Agama

Sudah tiga hari ini aku menikmati waktu membaca tulisan para mahasiswaku kelas religion. Aku minta mereka menulis bebas, seputar penderitaan yang paling "berkesan," dalam kehidupan mereka.

Bagaimana jluntrungannya hingga tiba-tiba mereka menulis tentang itu? Topik apa sebenarnya yang sedang kami bahas?

Inilah uniknya kelas Religion di salah satu kampus yang barangkali paling mahal seantero Jawa Timur.

Di kelas ini, agama diajarkan secara agak liberal dan progresif. Yang paling kentara, dosen pengajarnya belum tentu punya agama sama dengan mahasiswanya.

Aku misalnya, Muslim-Jawa, mengajar matakuliah ini di kelas dengan populasi Kristen-Tionghoa lebih dari 90%. Sisanya, Tionghoa Katolik, Khonghucu, Buddha, Jawa-Islam, dan yang menyenangkan, beberapa mahasiswaku mengaku atheis. Paling tidak, agnostik.

Itu sebabnya, topik-topik di kelas Religion kami terbilang cukup berbeda dari pengajaran umumnya di institusi-institusi pendidikan. Misalnya, seputar konsep ketuhanan, simbol dan ritual, agama dan sains, kematian, dan tentu saja; penderitaan.

Kelompok yang mempresentasikan penderitaan telah menunaikan tugasnya dengan sangat baik minggu lalu. Presentasinya memantik pembicaraan hangat di dua kelas yang aku ampu.

"Bukannya penderitaan sebenarnya menjadi bukti Tuhan tidak ada? Atau setidaknya tengah mempermainkan kita, guys? Cobalah kita pikir lagi; kalau dia sayang kita, kenapa ia biarkan kita menderita," kata Jon, nama samaran, mulai memprovokasi kelas. Aku langsung ngakak.

Menurutnya, banyak orang beragama merasa diminta Tuhan untuk membelaNya dalam hal ini. Yakni, dengan menyatakan Tuhan ingin kita menganggap penderitaan ini sebagai ujian, bukan ketidakmampuan Tuhan atau ketidakadaan Tuhan.

Pendapat Jon mendapat respon beragama dari beberapa temannya, yang beragama. Uniknya, mereka tidak marah atau memintaku memarahi Jon atas pendapatnya.
Jon dan siapapun di kelas mendapat perlakuan sama dariku; tak peduli mengakui Tuhan atau tidak; tak peduli beragama atau tidak.

Di kelasku, kami sebisa mungkin menganut freedom to believe or not to believe. Justru yang tidak kami anut adalah kebolehan mempersekusi orang yang tidak sama dengan yang lain.

"Dalam kitab suci, potret penderitaan muncul dalam dua gambar besar; yang tampak dan disadari, serta yang tersembunyi dan kadang tidak disadari," kataku.

Contoh pertama misalnya kisah Ayub atau pekerja seks yang dibela Yesus saat dilempari batu orang-orang kampung. Sedangkan contoh kedua, menurutku, adalah mereka yang mendapat peran jelak dan jahat dalam kitab suci.

"Mereka yang sombong, gemar mengumbar kekerasan dan berprilaku melawan keadilan dan kesensitifan, sebenarnya sedang dalam penderitaan," kataku.

Hanya saja, tambahku, mereka tidak menyadarinya. Mereka merusak reputasinya, dan menjadi contoh sepanjang hayat, agar kita tahu hal itu merupakan perbuatan jelek dan kita berhenti menirunya.

Penderitaan selanjutnya aku tautkan dalam narasi postkolonial, betapa cukup banyak dari kita yang dulu menjadi korban dan menderita. Namun ketika sudah merdeka, mereka malah justru balik membuat orang lain menderita.

"Kini, aku undang kalian untuk menuliskan penderitaan yang pernah kalian alami. Ini undangan lho ya. Ndak wajib. Yang nulis akan dapat nilai," kataku setelah aku terlebih dahulu menceritakan salah satu penderitaanku di Stasiun Senen.

Aku awalnya tak menyangka jika undanganku akan direspon dengan riang gembira. Aku tidak tahu apa motivasinya. Bisa jadi soal nilai, namun aku ragu karena ini matakuliah yang "tidak terlalu penting," menurutku.

Hampir semua mahasiswa mengirimkan tulisan refleksi. Ada yang memberi catatan dalam tulisannya; tidak untuk disebarkan, tidak untuk didiskusikan dalam kelas. Untuk bapak saja.

Namun ada juga yang menuliskan ia tidak keberatan kisahnya dipublikasikan; "supaya tidak ada yang mengalami lagi seperti saya," -- kata Joyce, samaran. Perempuan ini beberapa kali ingin bunuh diri, tidak kuat karena menjadi bahan risakan teman-temannya.

Joyce tidak sendirian. Ada banyak yang menjadi korban serupa saat kecil. Dibully karena agama, fisik, atau sikapnya yang pendiam. Aku membacanya dengan perasaan galau dan teraduk.

Ada juga yang menceritakan penderitaannya, nangis hampir seminggu, kala anjingnya mati. Padahal aku berfikir sebaliknya setelah kejadian dua minggu lalu. "Pak, tolong doain Holy ya. Ia tiba-tiba muntah. Saya harus bawa ke dokter. Saya nggak ikut kelas sampai tuntas ya pak," kata Fara

Soal nangis, bukan Fara saja yang mengalami. Beberapa mahasiswi mengaku kerap menangis karena begitu banyak tugas di kampus.

Tugas seringkali memerangkap mereka, tereksklusi dari teman, rutinitas, dan orang tua. "Orang tua saya kerap marah-marah kenapa saya tak lagi membantu kerjaan mereka. Saya sudah katakan namun tidak dimengerti," kata Annabel, juga bukan nama asli.

Namun yang membuat keningku berkerut sembari tersenyum justru ketika membaca tulisannya Judith.

"...dan penderitaan terakhir yang paling berkesan adalah ketika my dad got caught cheating and had a lover. It was such a heartbreaking thing for us cos he’s actually a very bad person and we didn’t know about it. It was so chaotic and my mom was very stressed and was depressed. It was a very dark memory for our family,"

Kisah-kisah mereka mengingatkanku pada Denzel Washington. Dalam The Equalizer 2, pria ini menyatakan; there are two kinds of pain in this world. The pain that hurts, the pain that alters.

Aku percaya mereka berada dalam kuadran kedua.

Featured Post

Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 35

Rilis Jaringan NU Kultural (JANUR)  Jombang, 19 Agustus 2026 Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 35 Muktamar ke-35...