Pages

Tuesday, August 30, 2022

MELAYANI GEREJA MELAYANI INDONESIA


Persinggunganku meladeni kunjungam GPIB ke Tebuireng dan Tambakberas, Minggu (21/8), menyisakan sebuah refleksi seputar konsep melayani.

Saat banser tengah dikritik habis di kalangan internal karena rutin menjaga gereja saat Natal, mereka tetap kukuh dengan pendiriannya. Salah satu alasannya, dengan mengutip pendirian Gus Dur; bahwa yang sedang dijaga Banser adalah Indonesia.


Gus Dur seolah mengatakan pada kita semua --terlepas betapa sulitnya memahaminya, "Sebagai mayoritas, yang memiliki berbagai macam privilese --termasuk paramiliter, NU harus melindungi Indonesia, salah satu caranya adalah dengan memastikan saudaranya yang berbeda agama dapat merasakan kedamaian dan rasa tenang saat beribadah,"


Sebagai santri madzhab GUSDURian, aku terinspirasi dan berusaha melakoni hal. Sekuat tenaga --sungguhpun tidaklah mudah. Inspirasi itu pelan-pelan membentuk jati diriku; apa yang aku inginkan dalam hidup dan bagaimana cara mewujudkannya. 

Aku merasa seperti seorang jongos dalam relasi antaragama, khususnya Islam-Kristen. Kalau ada orang Islam yang butuh berelasi dengan Kristen/Katolik atau agama lain, aku berusaha membantu mereka. Misalnya, untuk kebutuhan kunjungan, mengenal ajaran agamanya, berteman, atau apa saja. 

Pun, sebaliknya. Jika ada gereja yang ingin berelasi dengan Islam, dalam bentuk yang sama, aku pun dengan senang hati membantunya. 

"Selamat datang di Pesantren Tebuireng," ujarku berkali-kali kepada puluhan orang yang turun dari dua bis besar dan 5 mobil. Mereka adalah rombongan majelis sinode GPIB. Jumlahnya sekitar 70an orang. Banyak temanku di sana. 

Aku seperti tour-guide mereka yang memang sedang ingin mengenal pesantren lebih jauh, khususnya Tebuireng ---tempat bersemayamnya KH. Abdurrahman Wahid.

Aku mendampingi Gus Lukman, yang mewakili pengasuh Tebuireng, membawa rombongan ke makam Tebuireng. Mereka bisa masuk ke lokasi terdalam makam atas kebijakan pengelola makam. 



"Dalam tradisi kami, orang-orang yang kami anggap dekat dengan Gusti hanya mati fisiknya. Mereka tetap kami anggap hidup. Makam ini seperti Yerusalem, diziarahi banyak orang," ujarku pada rombongan. 

Saat itu, selain rombongan GPIB, ada sekitar seratusan lebih peziarah membanjiri makam Tebuireng. Semuanya muslim. Lantunan teks Arab menderu mengurung makam. Persis seperti dupa yang meluap-luap.

Aku tidak tahu bagaimana perasaan semua anggota rombongan GPIB berada di tengah lautan suara ini. Senang? Miris? Begidik? Galau? Biasa saja? Sangat mungkin ini merupakan pengalaman pertama bagi mereka. 

Tabur bunga dilakukan beberapa pendeta, di atas pusara Gus Dur, salah satunya. Puluhan kamera mengabadikan banyak momen.

"Kak, kalau misalnya mau berdoa, silahkan ya. Ndak papa," ujarku pada Pdt. Elly Debell, salah satu pengurus sinode. 
"Boleh?" katanya dengan muka agak serius. Tatapan konfirmasi. Seperti tidak terlalu percaya. 
"Boleh dong," ujarku.

Kak Elly kemudian meminta seluruh rombongan mendekat ke pusara, termasuk yang di luar pagar. Aku terus menunjukkan gesture ke kak Elly dan rombongan agar tidak ragu berdoa secara kristiani ke pusara Tebuireng.

Di tengah deru ratusan orang mengaji, ia memimpin doa secara Kristen. Khusyuk. Begitu pula anggota rombongan, termasuk aku yang berada di samping agak belakang kak Elly.

"Sebentar lagi, kita akan menuju Pesantren Assaidiyyah 2 Bahrul Ulum Tambakberas," ungkapmu saat mengantar mereka ke kendaraan.

Aku melihat ada perasaan gembira terpancar dari mayoritas rombongan GPIB saat meninggal Tebuireng. Tak lupa aku berpamitan ke Pak Lukman, tour guide Tebuireng, serta Gus Kikin, pengasuh pesantren.

"Matur nuwun, Gus, telah bersedia melayani rombongan GPIB," ujarku sembari mencium tangan Gus Kikin.


Aku datang terlebih dahulu di Tambakberas, menemui Ning Um yang sudah siap-siap di lokasi. 

Rombongan GPIB akan diterima di Pesantren Bayt Al-Quran, unit pengembangan pendidikan pesantren Tambakberas yang diasuh Gus Muhammad Imdad, putra sulung Ning Um. Unit ini memang dikhususkan bagi mereka yang berkehendak menghafalkan Al-Quran.


Saat rombongan datang, beberapa santri sedang berbaris menunggu giliran untuk "setor," hafalan ke ustadznya. Pemandangan ini menarik minat beberapa anggota rombongan.

"Ini adalah salah satu fase rutin di seluruh pesantren yang fokus menghafal Al-Quran. Tidak setiap hari kan kawan-kawan menjumpainya?" ujarku pada mereka.

Banyak dari rombongan GPIB minta izin masuk masjid --tempat "setoran," berlangsung-- untuk mengabadikan proses para santri. 


Sangat mungkin ini pengalaman baru, tidak hanya bagi mereka namun juga para santri. Sebab, tidak setiap hari para santri setor dilihat para pendeta.

"An, kita terima mereka di lantai atas pesantren ya, soalnya masjid dipakai setoran," ujar Ning Um.
"Inggih,"

Aku yang didapuk menjadi moderator dalam forum ramah tamah tersebut berusaha sekuat tenaga mencairkan kekakuan-kekakuan. 


"Ini kenapa ya Pdt. Paulus sambutannya agak tegang? Biasanya kalau khotbah lancar sekali," godaku pada Ketum GPIB yang disambut tawa para peserta. 

Selain Ning Um yang hadir, forum menjadi semakin lengkap karena Kiai Hasan dan Gus Imdad juga hadir. Kiai Hasan adalah suami Ning Um. 

"Npunten Kiai Hasan, Pdt. Paulus ini, kalau dalam struktur NU, selevel dengan Gus Yahya Staquf lho," ujarku.
"Oh ya? Ketua PBNU berarti ya," ujarnya.

Aku memang berusaha menjembatani agar siapapun dapat memahami dunia kekristenan dan struktur organisasinya. Kalau aku ngotot memakai kata "sinode," "mupel," "jemaat" pasti agak sulit dicerna. Paling enak, mencari padanan dalam struktur yang sudah dipahami.


"Jadi yang hadir saat ini, katakanlah, merupakan rombongan PBNU dan perwakilan PWNU seluruh Indonesia," ujarku mengibaratkan.

Baik Ning Um, Kiai Hasan dan Gus Imdad, ketiganya memberikan pandangan seputar Islam, pesantren dan komitmen keindonesiaan. Pantikan ini tak pelak menyulut animo banyak peserta untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis. 

Forum berjalan begitu gayeng dan penuh kehangatan persahabatan. Itu sebabnya, waktunya molor. 

Kehangatan tersebut mungkin salah satunya disebabkan karena ada irisan antara GPIB dan pesantren ini; Ning Um dan Gus Imdad adalah lulusan UIN Sunan Kalijaga --tempat puluhan pendeta GPIB menyelesaikan studi master dan doktoralnya.

"Boydo, ndak usah sungkan dengan kakak angkatanmu ya. Kalian ini satu almamater," ujarku pada Pdt, Boydo kepada Ning Um. 

Sebelum meninggalkan Tambakberas, rombongan GPIB meninggalkan kenang-kenangan. Mereka menanam beberapa pohon di areal pesantren.


Aku melihat ada semangat dan ketulusan terpancar, baik di Tebuireng dan Tambakberas. Semangat menghormati dan  melayani setiap orang yang bersilaturahmi, tak terkecuali gereja. 

Namun kemampuanku terbatas. Aku tidak dapat membaca pikiran Gus Kikin, Ning Um, Kiai Hasan dan Gus Imdad dibalik keramahan dan kehangatan penyambutan rombongan GPIB.

Namun sangat mungkin mereka, yang memang sudah terdidik mempertahankan identitas keindonesiaan, berpikiran; melayani gereja merupakan bagian dari melayani Indonesia.(*)

Saturday, July 9, 2022

Bagaimana MSAT Akhirnya Menyerahkan Diri?


Hingga Jumat sore, 8/7, aku belum menemukan satu liputan yang menggambarkan bagaimana Moh. Subchi A Tsani (MSAT) menyerahkan diri. 

Apa yang membuat pria ia memilih menyerah? Apakah karena pemadaman lampu? Dijebak? Atau jangan-jangan ia dikhianati anak buahnya sendiri?

***
Setelah dikepung selama lebih kurang 15 jam oleh seribu lebih gabungan polisi Polda Jawa Timur dan Polres Jombang, akhirnya MSAT menyerahkan diri sekitar pukul 23.00, Kamis (7/7). 

Hal ini diketahui setelah Kapolda Nico melakukan jumpa pers di depan gerbang pesantren, mengabarkan MSAT telah menyerahkan diri. 

Sayangnya, sosok MSAT tidak diperlihatkan ke publik pada saat itu. Kabarnya, ia langsung dibawa menuju Polda Jawa Timur. Tidak seberapa lama, terlihat mobil sedan mewah hitam keluar dari gerbang pondok. 

"Siapa itu, mas?" tanyaku pada si Hitam
"Itu pak yai dan bu nyai Sof, menyusul MSAT ke Polda," ujarnya, di salah satu warung makan belakang Pabrik Gula Jombang Baru, Jumat (8/7) pukul 19.30.

Si Hitam adalah nama polisi yang menjadi pelindungku saat aku ikut penggerebekan di pesantren Ploso, Kamis (7/7). Saat banyak polisi mencurigai keberadaanku dalam penggerebekan tersebut, ia selalu bilang; intel. Semuanya diam. 

Tak terhitung berapa kali aku dicurigai aparat. Sangat mungkin karena wajah dan tubuhku terlalu imut untuk ukuran polisi.

Aku tak pernah tahu posisi si Hitam di Polda. Namun sepanjang yang aku bisa saksikan dalam penggerebekan, ia memiliki posisi yang cukup sentral. 

HPnya tidak pernah berhenti digunakan. Baik untuk menelpon atau menerima telpon. Terutama untuk menemukan lokasi persembunyian MSAT. Puluhan anggota Brimob serta Reskrim juga mengikuti arahannya. 

Aku melihat sendiri ia dipanggil dan diberi arahan oleh Pak Totok, Direktur Ditreskrimum Polda Jatim pada saat melakukan negoisasi dengan keluarga Yai Tar. Yang keluar dari mulutnya hanya kata-kata, "Siap, ndan. Nggih, ndan" 

Menurut sumberku di Polres Jombang, sangat mungkin si Hitam  berkantor Kamneg (Keamanan Negara). "Kalau urusan teroris, dia yang turun, gus," ujarnya di sebuah kedai kopi daerah Sengon, Sabtu (9/7).

Saat bertemu si Hitam sehari pascapenggerebekan, aku langsung bertanya padanya bagaimana proses MSAT menyerah. 

"Apakah karena lampu dimatikan, mas?" tanyaku. Faktor pemadaman lampu di areal pesantren sempat mencuat sebagai salah satu penyebabnya. Hipotesisnya, lampu dimatikan, MSAT tidak kuat lalu menyerahkan diri. 

Hipotesis ini ditepis oleh sumberku di Polres Jombang tadi, Menurutnya, lampu memang semoat dipadamkan namun tak seberapa lama dihidupkan kembali. Lampu mati, menurutnya, justru membuat suasana pesantren akan gelap gulita dan memudahkan MSAT keluar dari pesantren tanpa diketahui.

"Ia bersembunyi di mana sih, mas?" tanyaku pada si Hitam, "Hampir semua lokasi sudah kita susuri lho. Apakah benar ia sembunyi di bunker?" 

Aku menyerocosinya dengan aneka pertanyaan. Aku benar-benar kepo pada saat itu.

"Kami bernegoisasi alot dengan keluarga. Jika MSAT tidak diserahkan maka siapapun yang menghalanginya akan dibawa ke Polda karena menghalang-halangi penegakan hukum, termasuk pak yai dan bu nyai," ujar si Hitam.

Kabarnya, gertakan ini cukup ampuh menyiutkan nyali, terutamasang ibu. 

Tak seberapa lama keluarga akhirnya bersedia menyerahkan MSAT dengan syarat; harus menghadirkan seorang perwira menengah polisi. Keluarga mempercayai perwira tersebut.

"Lho kok gitu, mas?" tanyaku.
"Entahlah, aku yo kaget kok," ujar si Hitam tersenyum kecut.
"Dia ada dalam tim penggerebekan?"
"Tidak,"
"Looh.. Tapi dia dinas di Jawa Timur?" tanyaku memburu
"Iya,"
"Terus?"
"Ya akhirnya ia diperintahkan untuk ke Jombang malam itu juga,"
"Dari?"
"Surabaya,"
"Namanya, mas?" aku sudah tak sabar.
"*&*&**(*(*((" ujar si Hitam.

Aku kemudian menggogling namanya. Rupanya dia pernah berdinas di Polres Jombang. 

Entah punya kesaktian apa perwira menengah tersebut sehingga Yai Tar mempercayainya dalam proses penyerahan diri anaknya. 

"Embuh, mas, aku juga ndak tahu," ujar si Hitam menghisap rokoknya dalam-dalam.

"Sebentar, mas," tanyaku, "Jadi selama proses penggerebekan dan pengepungan pondok, MSAT sembunyi di mana?"

"Di rumah adik ibunya, sekitar satu kilo dari pondok," ujarnya.

Menurutnya, sangat mungkin MSAT masih di dalam pondok saat penggerebekan. Ia menyelinap keluar pondok sekitar jam 9 pagi. Sebagai catatan, pasukan brimob membuka paksa gerbang pondok sekitar jam 7.45. Aku bersama mereka.

"Kok bisa ya, mas? Bukannya polisi sudah mengepung rapat lokasi tersebut?" ujarku tidak terima.

"Lha ya itu mas, aku juga heran," ujar si Hitam meringis. Ia menyiratkan ada kemungkinan faktor mistis dalam lolosnya MSAT. 

"Tapi dari mana sampeyan tahu ia masih di pondok hingga jam 9 pagi?" tanyaku tetap dengan intonasi tidak terima.

Menurutnya ada jejak-jejak di kamar MSAT yang mengindikasikan dia masih di sana pada saat itu.

"Oh ya, mas, nemu laptop milik MSAT nggak?" tanyaku to the point.
"Sudah kami amankan," ujarnya tertawa.
"Woww keren! Isinya?"
"Horor" ujarnya tertawa.
"Termasuk rekaman adegan ritual esek-esek MSAT, mas?" tanyaku super kepo.

Si Hitam hanya tersenyum dan mengedipkan mata kirinya, seperti ingin mengatakan; ada deeehhh.

Asyemm.

Friday, June 17, 2022

MENGADILI BABI DENGAN LIMA TEORI


Ketidaksukaan terhadap babi atas nama agama perlu dilucuti. Sebab, ia sudah melampaui ambang batas, telah berubah menjadi kebencian yang membahayakan hak orang lain. 

Tidak memakan babi karena alasan ajaran agama merupakan hal baik. Hanya saja, ketika pilihan ini berada dalam level tertentu dan menyebabkan konsumen/produsen babi terlanggar hak konstitusionalnya, inilah yang aku maksud dengan "melampaui ambang batas,"

Viralnya kasus pemolisiaan warung nasi pandang berdaging babi merupakan satu dari sekian fragmen ketidaksukaan yang telah berubah menjadi kebencian. Sebelumnya, beberapa tahun lalu, sekelompok umat Islam di Makassar memaksa sebuah lapak babi ditutup. Dengan alasan agama, babi begitu dibenci dan dianggap menakutkan sehingga membuat individu/kelompok nekat berbuat seperti itu. 

SINDROM ELEAZAR
Mungkin para pelakunya secara tidak sadar sedang terjangkiti sindrom Eleazar. Ini istilahku sendiri. Nama Eleazar merujuk pada orang Yahudi terpandang yang dipersekusi Antiochus IV Epiphanes (175-164 SM) dengan cara dipaksa memakan daging babi. 

Eleazar tentu sekuat tenaga menolaknya. Ia memilih mati dicambuk ketimbang memakan daging babi. 

Hanya saja, tidak ada satu kejadian pun di Indonesia modern, yang terekam dalam dokumentasi publik, yang menunjukkan adanya praktek pemaksaan mengkonsumsi babi. Setiap gerai babi pada umumnya memasang tanda cukup jelas agar calon konsumennya sadar sejak awal.  

Sebagai muslim, aku merasa ketidaksukaan banyak orang Islam terhadap babi telah mendorong mereka masuk dalam ketakutan luar biasa yang tidak beralasan, fobia. Fobia menyebabkan seseorang cenderung berbuat destruktif dan merugikan. Padahal al-Quran telah mewanti-wanti; janganlah kebencianmu pada sesuatu/seseorang/kelompok membuatmu berlaku tidak adil padanya. Tak terkecuali terhadap babi dan penikmatnya.


ISLAM MAKMUM KE YAHUDI?
 
Islam terasa mengikuti hukum Musa (Taurat) terkait babi. Secara historis, hal ini bukanlah sesuatu yang rahasia. Saat Nabi Muhammad dan banyak pengikut-awalnya mengalami persekusi dari beberapa kelompok Mekkah, mereka ditolong komunitas Madinah (dulu bernama Yathrib).

Kalau kita percaya Montgomery Watt dalam “Muhammad at Medina,” Madinah merupakan basis kelompok Yahudi. Relasi Yahudi dan Islam-awal menyebabkan tidak sedikit kemiripan dua agama ini. 

Bahkan, sebelum datang perintah Tuhan kepada nabi Muhammad terkait pergantian kiblat, Islam-awal "menemui," tuhannya persis sebagaimana cara orang Yahudi; menghadap Yerussalem. 

Ya, sedekat itu relasi Islam-Yahudi awalnya. Seperti bestie, saling mendukung, dan saling memengaruhi satu dengan lainnya, khususnya Yahudi terhadap Islam, tak terkecuali dalam hal perbabian.

BABI DAN SIKAP AL-QURAN
Jika menelisik Perjanjian Lama (PL), sangat nampak Yahudi-patriarki melakukan perlawanan total terhadap babi. Agama ini tidak hanya melarang umatnya memakan hewan ini, namun juga melarang menyentuhnya. 


Di hadapan PL, babi diposisikan sedemikian rendahnya. Tak punya harga diri. Kitab Keluaran, Imamat, Ulangan, dan Yesaya bisa dirujuk sebagai argumentasinya. 

Sebelum membahas hipotesis ketidaksukaan Yahudi pada babi, aku merasa penting mengetahui terlebih dulu sikap Al-Quran terkait binatang ini. Babi dinarasikan Al-Quran dalam dua gambaran yang pejoratif. Pertama, sebagai simbol negatif perumpaan orang yang menentang perintah Allah (QS. 5:60). Kedua, sebagai salah satu dari yang tidak boleh dikonsumsi.

Uniknya, terkait poin kedua tadi, terdapat 3 ayat al-Quran (QS.2:173; 16:115; 6:145) yang  memberi kelonggaran (kebolehan) memakan daging babi dalam kondisi tertentu, 
".. . Tetapi barang siapa terpaksa (memakannya), bukan karena menginginkannya dan tidak pula melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Alloh mahapengampun, mahapenyayang."

Jika dibandingkan dengan sikap PL yang memborgol rapat keharaman mengkonsumsi daging babi, maka ayat-ayat al-Quran tadi, meski tetap kaku mengharamkan, terasa mengambil sikap yang relatif moderat. 

Al-Quran seperti berkata, "Guys, makan babi ndak boleh lho ya. Namun, kalau dalam kondisi terpaksa, atau ndak sengaja, sepanjang ndak berlebihan, ya ndak papa. Nggak dosa kok,”

Sayangnya, Al-Quran tidak menjelaskan secara gamblang alasan pelarangan makan babi. Hewan ini oleh alquran cukup distempel dengan kata harram dan rijsun yang artinya terlarang dan kotor/najis. 

Maka menjadi penting bagi siapa saja untuk menemukan alasannya. Namun tidak hanya itu, yang terpenting, kita juga sepatutnya menguji sejauhmana kekokohan alasan tersebut.  

Dalam konteks ini, aku membangun asumsi dasar; pelaran konsumsi babi dalam Islam diduga kuat menapaktilasi ajaran Yahudi. Dengan demikian penyingkapan pengharamannya di Yahudi akan menjadi modalitas bagi kita mengetahui alasan di Islam.

LIMA TEORI BABI
Secara ringkas, terdapat 5 "teori" pelarangan konsumsi babi. Pertama, teori kenikmatan yang diajukan Philo of Alexandria (± 20 SM - 50 M) melalui “On special law 4 (Concerning Animal): 100-107. 

Pria ini meyakini pelarangan makan babi dikarenakan kelezatan dagingnya. Tidak ada daging hewan darat yang menandingi gurih dan empuknya babi.

Bagi Philo, pelarangan diperlukan agar orang Yahudi tetap dapat mengontrol kesederhanaan hidup, mampu menahan nafsu dan kerakusan. 

Rasa enak yang berlebihan, kala itu, menurut Philo, secara moral dan etika dianggap tidak pantas. Mungkin Philo ada benarnya. Hanya saja, sejauhmana relevansi alasan tersebut untuk mempertahankan pelarangan dewasa ini? 

Teori kedua, teori jijik, diperkenalkan Moses Maimonades (1138 M - 1204 M). Dia adalah ahli Taurat yang terpandang dan memiliki peran penting semasa pemerintahan Salahudin al-Ayyubi.

Dalam Dalalat al-Hairin (Panduan bagi Orang Bingung, 3:14) ia mengatakan Taurat melarang babi karena --baik perilaku maupun apa yang ia konsumsi-- dianggap menjijikkan. Teori ini barangkali dengan mudah dibantah, misalnya, dengan mengatakan kenapa kerbau, bebek, ayam --yang kehidupannya tidak lebih menjijikkan dari babi-- tidak serta merta terlarang dikonsumsi? Entahlah.

Teori problem alam yang ditawarkan Marvin Harris merupakan teori ketiga. Ia berargumentasi; pelarangan babi, saat itu, lebih disebabkan karena faktor alam.

Babi membutuhkan banyak air untuk hidup. Sedangkan kawasan Timur Tengah yang dikenal berkontur gurun pasir dianggap tidak mendukung pengembangbiakan babi. Itu sebabnya, untuk mengatasi persoalan teknis, menurut Harris, babi akhirnya dilarang. 

Silahkan percaya pada Harris kalau mau. Hanya saja, ada informasi menarik dari Isabel Kershner. Perempuan ini pernah menulis di The New York Times tahun 2013, berjudul "Who’d Import Pigs to Israel? Ancient Europeans, Researchers Say," 

Menurutnya, sejumlah arkeolog yang dipimpin Israel Finkelstein melakukan penelitian di wilayah Levant --saat ini meliputi Israel, Gaza dan Syiria. Wilayah Levant dulunya dihuni orang Philistine --Goliath, lawan David dalam kisahnya yang terkenal, berasal dari Philistine. 

Para peneliti ini menemukan bukti arkeologis babi pernah dikembangbiakan di sana sekitar tahun 900 SM. 
Penemuan in tak pelak mematahkan teori Harris seputar perbabian. 

Pematahan ini mendorong kita untuk menemukan lebih jauh kenapa babi dilarang oleh bangsa Yahudi sebagaimana tersebat dalam PL. Menjadi menarik untuk mengandaikan; dengan mengacu pada teori Harris,  apakah dengan demikian status pelarangan babi bisa diubah manakala bisa diternakkan? Ternyata tidak. 

Buktinya, hingga saat ini, manakala teknologi telah berkembang sedemikian pesat dan memungkinkan babi bisa dikembangbiakkan di segala medan, hewan ini tetap meringkuk dalam statusnya yang dianggap haram dan najis oleh kalangan Yahudi dan Islam.

Teori keempat adalah teori trichinosis. Teori menyatakan babi, jika dimasak kurang matang, dapat menimbulkan semacam infeksi yang disebabkan sejenis cacing parasit. Parasit ini tidak hanya ada pada babi namun juga binatang lain, misalnya beruang, kucing liar, rubah, anjing, serigala, kuda, anjing laut, atau walrus. 

Apakah trichinosis telah ada saat PL ditulis, ataukah teori ini datang belakangan untuk merasionalisasi demonisasi terhadap babi? Yang pasti, hingga saat ini belum ada penyakit khusus yang bersifat mewabah dan berbahaya dalam skala meluas yang ditimbulkan karena mengkonsumsi babi. 

Alih-alih, berbeda dengan misalnya sapi. Hewan ini pernah membuat geger karena virus anthraxnya. Namun toh sapi tidak lantas diharamkan karena kegegeran tersebut.

Mengapa Yahudi (dan Islam) terasa lebih mengampuni sapi ketimbang babi? Ini pertanyaan yang barangkali hendak dipecahkan oleh teori kelima, aku menyebutnya; teori kesucian reproduksi patriarki.

TEORI KESUCIAN REPRODUKSI PATRIARKI
Teori ini pertama kali aku baca dari tulisan Nicole Ruane, "Pigs, Purity and Paternity: The Multiparity of Swine and Its Problems for Biblical Ritual and Gender Construction," 

Ruane meyakini Yahudi merupakan agama yang tidak hanya patriarki --sistem sosial dan budaya yang menempatkan lelaki lebih unggul ketimbang perempuan-- namun juga patrilineal --sistem garis keturunan yang bertumpu pada ayah.

Dua atmofsir ini, menurut Ruane, membuat agama tersebut sangat menjaga kesucian dalam aspek reproduksi dan seksualitas. Cara pandang ini, dengan sekuat tenaga, diproyeksikan/direfleksikan terhadapa apa yang boleh dan tidak boleh mereka konsumsi.

Dari semua hewan darat yang dianggap suci dalam kitab Ulangan, babi dianggap "mbalelo," karena mempunyai satu kemampuan yang tidak dimiliki mereka. Yakni, mampu bereproduksi secara luar biasa pada saat hewan-hewan tersebut hanya mampu melahirkan tunggal atau kembar. 

Sedangkan babi, ia rata-rata mampu melahirkan 12 hingga 37 anak babi dalam sekali proses kelahiran. Angka terakhir tadi berdasarkan catatan Guiness World Record di Inggris tahun 1993. 

Kemampuan reproduksi babi yang sedemikian luar biasanya ini dianggap "mengganggu," superioritas patriarki. Ada ketakutan hebat, lebih tepatnya; kecemburuan, dalam diri patriarki, posisinya akan tersaingi oleh kemampuan seperti ini -- sungguhpun hal tersebut hanya terjadi dalam hewan darat. 

Patriarki terobsesi untuk sedapat mungkin mengontrol apa saja, termasuk apa yang dianggapnya ideal dalam galaksi kuliner. Semua harus tunduk dan menghamba pada kemasyhuran patriarki. Tidak boleh ada yang berpotensi merusak kemasyhuran tersebut, terlebih oleh perempuan dengan menggunakan faktor kesuburan reproduktif.

Yahudi-patriarki merasa terganggu superioritas kesuburannya akan kalah mentereng dibanding kesuburan perempuan dengan menggunakan faktor melimpahnya keturunan. Sangat mungkin Yahudi-patriarki terobsesi tidak ingin meniru masyarakat Hittie, pilar kerajaan Kusara di semenanjung Anatolia (1750-1650 SM). 
Hittie yang begitu mengagungkan kesuburan perempuan sebagai elemen superiotasnya, menurut Collins dalam "Necromancy, Fertility and the Dark Earth," maupun "Pigs at the Gate," bahkan dikabarkan memiliki semboyan heroik, "let her give her often like pig,"

Bagi Yahudi-patriarki, melahirkan 1 hingga 4 bayi secara bersamaan masih bisa ditolerir. Namun 12 hingga 37 anak sekaligus? Hal tersebut merupakan mimpi buruk yang harus dicegah.

Bagi mereka; yang tidak boleh terjadi dalam dunia manusia sedapat mungkin juga tidak boleh terjadi di dunia hewan. 
Bagi Yahudi-patriarki, tambah Ruane, kesuburan reproduksi babi yang begitu melimpah juga menyisakan problem imaji-psikologis; mereka kesulitan menentukan babi mana yang dianggap sulung. 

Memang, PL tidak membahas khusus menyangkut aspek anak sulung babi. Hanya saja kesulitan ini memunculkan konflik tersendiri di kalangan Yahudi-patriarki terkait ritus-biblikal yang berhubungan dengan hewan persembahan.

Dalam PL, sulung dari hewan darat yang diternakkan (termasuk babi, seharusnya) bukanlah binatan sembarangan. Dia dianggap paling suci dan itu sebabnya memiliki privilage untuk dipersembahkan kepada tuhan maupun Levites (Keluaran 13:12; Ulangan 15:19-20; Bilangan 18:15-17).

Yahudi-patriarki, sekali lagi, berupaya memproyeksikan keunggulan status sulung dalam sistem sosial budaya mereka ke dalam ritus-biblikal yang berkaitan dengan hewan. Bukan rahasia lagi, anak sulung dalam sistem Yahudi-patriarki, setidaknya tercermin dalam PL, memiliki hak-hak khusus yang tidak dimiliki anak setelahnya, terutama dalam hal garis keturunan dan pewarisan, yang juga dapat kita temukan dengan mudah di sistem sosial-budaya kelompok lain.

Oleh karena Yahudi-patriarki terlihat tidak mampu mengontrol model reproduksi babi maka yang dapat dilakukan adalah mengeksklusi babi dari kehidupan sehari-sehari; melabelinya dengan ketabuan, kenajisan, kekotoran serta aneka lainnya.

Memang, setiap agama memiliki sistem ideologi dan ritual keagamaan yang tidak hanya unik namun juga menarik untuk dicermati ketika menyangkut sesuatu yang boleh dan tidak untuk dikonsumsi, termasuk agama Yahudi, Kristen dan Islam. 

Namun, sikap ideologis Yahudi-patriarki terkait babi memang terasa cukup ganjil sebab, tambah Ruane dalam tulisannya, terdapat agama-agama kuno yang, meskipun patriarki dan patrilineal tetapi, tidak alergi mempersembahkan babi bagi Tuhannya.

Mungkinkah Yahudi-Patriarki, melalui PLnya saat itu, tengah mengembangkan model baru dalam sistem patriarki dan patrilineal? Benarkah model ini kemudian, secara diam-diam, diikuti oleh bestienya, Islam? Hanya Alloh yang tahu.(*)


Bacaan Lanjutan
  1. Sapir-Hen, L., Bar-Oz, G., Gadot, Y., & Finkelstein, I. (2013). Pig Husbandry in Iron Age Israel and Judah: New Insights Regarding the Origin of the" Taboo". Zeitschrift des Deutschen Palästina-Vereins (1953-), (H. 1), 1-20.
  2. Translation of the Meanings of the Noble Qur'an - English Translation - Hilali and Kha, https://quranenc.com/en/browse/english_hilali_khan
  3. Watt, W. M. (1981). Muhammad at Medina. Oxford University Press.
  4. Harris, M. (1989). Cows, pigs, wars & witches: The riddles of culture. Vintage.
  5. Ruane, N. J. (2015). Pigs, purity, and patrilineality: the multiparity of swine and its problems for biblical ritual and gender construction. Journal of Biblical Literature, 134(3), 489-504.
  6. Kershner, Isabel. (n.d.). Who’d Import Pigs to Israel? Ancient Europeans, Researchers Say - The New York Times. Retrieved June 16, 2022, from https://www.nytimes.com/2013/11/05/world/middleeast/pigs-in-israel-originated-in-europe-researchers-say.html
  7. Duffy, & Daniel Philip. (n.d.). Eleazar. Retrieved June 16, 2022, from https://catholicism.en-academic.com/4165/Eleazar
  8. Collins, B. J. (2015). Necromancy, fertility and the dark earth: The use of ritual pits in Hittite cult. In Magic and ritual in the ancient world (pp. 224–241). Brill.
  9. Collins, B. J. (2006). Pigs at the gate: Hittite pig sacrifice in its eastern Mediterranean context. Journal of Ancient Near Eastern Religions, 6(1), 155–188.
  10. Philo of Alexandria, https://plato.stanford.edu/entries/philo/
  11. CDC, What is Anthrax?, https://www.cdc.gov/anthrax/basics/index.html

Friday, June 10, 2022

AKAR HOMOFOBIA DAN PRIA TAK BERSELERA WANITA

*** tulisan ini pernah tayang di locita.co 2018 sebelum akhirnya tidak bisa diakses**

Pascatayang di program FAKTA TVOne membahas LGBT, Agama dan HAM, saya mendapat luapan komentar. Sebagian besar menghujat, terutama soal ayat. Saya salah kutip nomor ayat dalam QS. al-Nur. Seharusnya ayat 31, namun saya sebut ayat 30. Sungguh merupakan kekhilafan saya.

Akan tetapi atas substansi topik yang dibahas, saya tetap meyakini Alloh mampu menciptakan manusia yang beragam. Dia berkuasa menciptakan sosok lelaki --baik yang menyukai perempuan atau yang tidak terangsang melihat Christina Aguilera sekalipun.

Kemampuan ini oleh Alloh diabadikan secara benderang dalam dua ayat; qauliyah --sebagaimana tertera dalam QS. 24:31, dan kauniyah --keberadaan mereka dalam realitas empirik.

Allah bahkan saya yakini berkuasa mampu menciptakan apa yang menurut kita mustahil. Sebab, tanpa keyakinan  seperti ini, akan sia-sia bangunan tauhid yang kita percayai selama ini.

Dua ayat ini bisa dikatakan sebagai bukti legalitas tekstual maupun empirikal keberadaan mereka, sebanding dengan legalitas kehadiran ragam ciptaan lain yang bersuku-bangsa, sebagaimana disinggung dalam QS. 49:13.

PRIA TAK BERSELERA WANITA
Lantas, siapakah mereka -- pria tak berselera terhadap wanita ini, sebagaimana tercantum dalam QS. An-Nur 31? Ragamnya bisa banyak, tergantung sejauhmana ketercukupan pengetahuan seseorang dalam membaca alam raya ini.

Dengan merangkum berbagai pandangan (Ibnu Abbas, Qatadah, Mujahid, Sha'bi) yang bersumber dari dua kitab tafsir al-Quran milik Jarir al-Tabari dan Ibnu Kathir, tokoh Sunni ortodok asal Pakistan, Al-Maududi, mencoba menjelaskan sosok yang tertera di QS 24:31 itu di tafsir Tafhim al-Quran.

Dalam versi bahasa Inggris, dia menterjemahkan teks "tabi'in ghoyru uli al-irba" sebagai those from among the men who are your subordinates and have no desire -- pembantu laki-laki yang tidak punya hasrat seksual terhadap perempuan.

Al-Maududi selanjutnya merujuk pada sosok Hit, pria feminim (mukhannats) berdasarkan kisah dari Ummu Salamah dan Aishah yang terekam dalam beberapa kitab hadits kanonik seperti  Bukhari, Muslim, Nasa'i dan Abu Dawud.

Kisah tersebut menceritakan; suatu ketika di rumah Ummu Salamah terjadi obrolan antara 3 orang; Hit duduk di samping Ummu Salamah, dan Abdullah bin Abi Umayyah, saudara Ummu Salamah.
"Eh nanti kalau kamu berhasil menaklukkan kota Taif, jangan lupa mencari puterinya Ghilan Tsaqafi ya," kata Hit ke Abdullah sembari mendeskripsikan kemolekan puteri Ghilan.

Nampaknya Nabi mendengar perbincangan itu dan berkata la yadkhulanna haulai 'alaykunna (mereka --para perempuan-- seharusnya tidak boleh masuk ke rumah kalian --para perempuan--).

Ungkapan bernada ketidaksukaan Nabi ini kemudian bisa dipahami dalam beberapa tafsir. Pertama, Nabi tidak suka dengan seluruh waria secara umum. Namun hal ini tidak cukup beralasan mengingat sangat mungkin Hit adalah asisten rumah tangga, atau minimal dekat, dengan Ummu Salamah. Hal ini bisa diketahui dari kesediaan Ummu Salamah duduk di samping Hit saat itu. Kedua, Nabi tidak suka dengan omongan Hit, bukan keberadaannya.

Hipotesis kedua ini nampaknya yang paling memungkinkan. Saya menduga Nabi kuatir hal-hal pribadi istrinya akan dibocorkan Hit --sebagaimana Hit membocorkan kemolekan puteri Ghilan Tsaqafi kepada Abdullan bin Abi Umayyah.

Namun menurut al-Maududi, nabi bersikap seperti itu karena menganggap Hit tidak sepenuhnya tidak suka perempuan. Kedetilan Hit mendeskripsikan puteri Ghilan dianggap Nabi sebagai indikator ketertarikannya pada perempuan --sungguhpun Hit adalah waria.

Mungkin ini sebabnya, Yusuf al-Kirmani (w. 1384) membagi waria menjadi dua kategori; khilqy (pemberian tuhan, given) dan takallufi (gadungan).

Waria jenis takallufi adalah ia yang menyamar menjadi perempuan padahal  masih punya hasrat seksual terhadap perempuan. Kepura-puraannya hanyalah kedok untuk melakukan kejahatan, misalnya kekerasan seksual (Rowson 1991). Sangat mungkin Nabi kuatir Hit adalah waria takallufi, yang itu sebabnya ia diusir.

Lebih lanjut, tidak ditemukan lagi penjelasan apakah pascaperistiwa itu Hit tetap di rumah Ummu Salamah atau tidak. Jika tetap di sana, maka saya anggap ia telah berhasil mengklarifikasi dirinya adalah waria khilqy. Waria jenis ini, dalam kacamata kajian gender dan seksualitas, adalah laki-laki homoseksual (karena tidak punya hasrat terhadap perempuan) dengan identitas gender feminim (berpenampilan gemulai). Sebab ada juga jenis laki-laki homoseks yang tetap mempertahankan identitasnya sebagai pria maskulin.

AKAR HOMOFOBIA
Lalu, kenapa banyak diantara kita yang marah dan kejang-kejang menerima hal ini, bahkan cenderung bertindak destruktif?

Sulit untuk tidak mengatakan masih banyak orang mengidap problem psikologis dalam bentuk homofobia -- yakni ketakutan akut terhadap orang yang suka sesama jenis. Menariknya, jika seringkali rasa takut menyebabkan keminderan bagi penderitanya, maka ketakutan berjamaah ini bisa membentuk semacam penyatuan psikologis dengan ikatan yang sangat kuat. Layaknya air bah, ketakutan ini berubah menjadi kekuatan mematikan yang intimidatif.

Hemat saya, homofobia muncul melalui tiga tahap utama --sebelum bertengger di tahap dua terakhir; diskriminasi dan kekerasan fisik terhadap kelompok LGBT.

Tahap pertama adalah bias -- yakni cara pandang yang bertumpu pada keyakinan bahwa identitas tertentu lebih unggul/baik ketimbang identitas lainnya. Kelompok hetero merasa dirinya lebih baik ketimbang non-hetero, salah satunya karena keunggulan reproduktif.

Laki-laki feminim dan perempuan maskulin dipersepsi sebagai aib, tidak natural dan mencoreng kehormatan diri, keluarga dan lingkungan.

Namun, apakah cara pandang ini diperbolehkan Islam? Saya ragu. Al-Quran tidak pernah memerintah kita menumpahkan kebencian atas keragaman identitas. Justru menurut Alloh, setiap orang berada dalam derajat yang sama, dengan ketakwaan sebagai barometer pembedanya -- bukan jenis kelamin, kemampuan reproduksi, atau faktor lainnya.

Di tahap kedua, bias tadi mendapat topangan kokoh dari "stereotype" --yakni anggapan miring semua orang dengan ciri tertentu pasti sama semua. Misalnya, anggapan bahwa semua laki-laki pasti suka lawan jenis, atau semua yang berorientasi seksual homo pastilah melakukan persetubuhan-paksa seperti kaum Luth, atau pemangsa anak laki-laki seperti Robot Gedeg.

Cara pandang ini sama ngawur dengan simpulan; "semua laki-laki hetero pasti seperti Syekh Puji, sebab dia juga hetero". Puji adalah laki-laki hetero asal Semarang yang tersandung kasus perkawinan perempuan bawah umur beberapa tahun lalu. Stereotype sangat berbahaya jika digunakan secara berlebihan, sebab bisa menjerumuskan pikiran ke dalam jurang kesesatan logika.

Kedua tahap ini selanjutnya disempurnakan oleh tahap ketiga, yakni prejudice -- praduga tanpa ketercukupan pengetahuan yang bisa menimbulkan perasaan tidak suka terhadap seseorang/sesuatu. Minimnya pengetahuan tentang Syiah, Ahmadiyah, Tionghoa, Penghayat, Korban 65-66, Non-Muslim maupun LGBT, seringkali mendongkrak sentimen negatif kita atas mereka. Yang ujungnya, seseorang akan mudah bertindak diskriminatif dan melakukan kekerasan.

Saya merasa ketiga tahapan homofobia ini tumbuh subur dan massif dengan memanfaatkan tafsir agama tanpa disertai keberimbangan dan ketercukupan pemahaman mengenai kelompok ini. Tanpa belajar tentang keilmuan gender dan seksualitas, ditambah keengganan berinteraksi langsung dengan kelompok LGBT, saya ragu seseorang akan mampu memupus bias, stereotype dan juga prejudice.

Bagaimana mungkin kita bisa mendaku sebagai hakim tanpa terlebih dahulu memahami dan menguasai kasus yang hendak diputus? Menurut saya, menghukumi LGBT tanpa terlebih dahulu memahami secara utuh tentang gender dan seksualitas akan menyebabkan ketidakadilan hukum. Dan menurut St. Agustine, hukum yang mengabaikan keadilan bukanlah hukum.

BERFIKIR WARAS
Homofobia --atau fobia-fobia yang lain -- jelas berangkat dari sebuah ketidakpahaman yang memunculkan perasaan takut. Tidak sedikit kalangan hetero yang kuatir tertular menjadi homo. Itu hanya mitos, sebagaimana mitos minum kencing unta akan membuat otak menjadi lebih encer. Orientasi seksual bukanlah sesuatu yang menular, sebagaimana HIV/AIDS.

Disamping aspek minimnya interaksi dan pengetahuan, ada kemungkinan besar pengidap homofobia justru orang yang punya orientasi seksual homo. Kok bisa? Iya. 

Hipotesisnya, ia belum bisa menerima kenyataan dirinya secara utuh. Jiwanya masih meronta dan menggugat keberbedaan yang ia miliki. Yang bersangkutan belum siap dan merasa tidak aman hidup di tengah lingkungan yang sangat fanatik mengusung kredo heteronormatifitas.

Orang seperti ini membutuhkan rasa aman untuk menyembunyikan jati dirinya yang sesungguhnya. Caranya? Ikut-ikutan merisak dan mempersekusi kelompok LGBT.

Dengan cara ini, ia berharap identitasnya tetap terlindungi dan bisa diterima oleh lingkungannya. Strategi seperti ini mungkin relatif sama dengan pelaku kejahatan yang berupaya menutupi jejaknya dengan cara berpura-pura ikut membantu menyingkap kasus tersebut.

Selain itu, pengidap homofobia kemungkinan besar merupakan seseorang yang bersimpati pada anak-anak korban kekerasan seksual sejenis, ataupun bersimpati memburuknya situasi penyebaran HIV/AIDS.

Sayangnya, keinginan mulia tersebut disalurkan pada kanal yang salah; yakni membenci secara membabi buta orang yang suka sejenis meskipun ia tidak pernah melakukan perkosaan terhadap anak. Dan, menumpahkan seluruh kesalahan HIV/AIDS serta aneka penyakit kelamin kepada kelompok ini --padahal menurut Pusat Data Informasi HIV/AIDS Kementerian Kesehatan, kelompok paling rentan tertular HIV/AIDS adalah kalangan heteroseksual, yakni ibu rumah tangga (Kompas 1/12/2017).

Menghilangkan homofobia, saya bisa katakan merupakan proses mudah tapi agak sulit. Dikatakan mudah, karena kita tinggal membuang prasangka yang kerap mengepung cara berfikir kita. Namun hal ini tidaklah semudah membalik telapak tangan. Musuh terbesar dalam hal ini tak lain adalah diri kita sendiri, ego kita.

Jika kuatir akan ada gay yang akan menyukai kita, janganlah panik, apalagi merasa dilecehkan kelelakiannya. Cara pandang seperti itu tak berguna sedikit pun, malah justru akan memerosotkan kedewasaan anda dalam merespon persoalan.

Apakah jika ada pria yang suka dengan kita (laki-laki) maka secara otomatis membuat kita menjadi homo? Tentu tidak. Kegopohan ini imbas merupakan imbas dari didikan cara pandang klasik-konservatif; bahwa pria hanya boleh disukai oleh lawan jenisnya.

Namun bagi sebagian orang, disukai lawan jenis dianggap terlalu mainstream. "Wajar lah.. kalau laki-laki atletis, rupawan dan pintar banyak disukai perempuan. Nah kalau ada laki-laki yang juga tertarik, itu berarti dirimu telah sempurna --dicintai dua jenis kelamin " kata kawan saya. Ia yang merupakan lelaki hetero menjelaskan bahwa lelaki tampan sejati bukanlah ia yang hanya digilai perempuan. Lebih jauh ia juga diminati oleh lelaki.

Saya tahu, bagi seorang homofobik, disukai sesama jenis memang akan terasa cukup aneh, namun kita tidak bisa melarang dengan siapa orang jatuh cinta. Sungguhpun begitu kita tetap punya hak untuk membalas cintanya dengan sepadan (jika kita homo) atau mengucapkan terima kasih dan menolaknya (jika kita hetero), atau kita bisa marah dan memukulinya sebagai bentuk penolakan kita (jika kita homofobia).

Homofobia sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan kita tentang kelompok ini. Semakin minim informasi, bisa dipastikan semakin besar potensi kesalahpahaman yang akan terjadi. Oleh karena itu, kerendahan hati untuk belajar adalah kata kunci.

Dengan belajar dan berinteraksi, prejudice (prasangka buruk) yang telah mengendap lama dan mengerak dalam memori kita akan terlucuti. Sebab jika tidak, memori purba ini akan menjadi modal awal dan dikelola dalam tiga tahap di atas tadi. Pada waktunya, memori tersebut akan berubah menjadi penyumbang utama praktek diskriminasi dan kekerasan terhadap kelompok LGBT. Wallohu a'lam.

Aan Anshori

Monday, June 6, 2022

CINTA DIANTARA TAMU DAN DUA BUNGKUS NASI GORENG

Tadi malam, Minggu (5/6), aku kedatangan tamu. Satu keluarga. Terdiri dari ayah, ibu dan satu orang anak lelaki.  

Sang anak adalah dokter. Sangat disayang kedua ortunya. Sayangnya, kedua ortu belum bisa menerima kondisi sang anak yang memiliki orientasi seksual non-hetero dengan ekspresi gender yang cenderung feminin.

"Pak Ustadz, kami sekeluarga tidak bisa menerima kondisi dia," ujar sang ibu, sangat serius.

Dia bersikukuh anaknya sedang terpengaruh oleh lingkungan sejak dia masuk kuliah. Berkali-kali ia meyakinkanku bahwa sang anak tidak seperti itu awalnya. 

"Pokoknya dia salah gaul. Saya ibunya, yang melahirkan, merawat, tahu bagaimana dia sejak lahir. Dia harus kembali normal. Lha wong dia pernah pacaran sama perempuan kok," ujarnya berapi-rapi. 

Ditengah argumentasinya ia tak mampu menahan airmatanya. Ambrol bak bendungan. 

Ia tetap berorasi di depan kami dengan suara yang hampir parau diselingi isakan tertahan.

"Nggih, bu. Minum dulu ya bu," ujarku selembut mungkin.

Ia menolak air minum yang aku sodorkan. Juga snack yang telah aku sediakan sejak sore untuk mereka. Tak disentuhnya sama sekali.

Mungkin ia dan suaminya sudah merasa aku bukan di pihak mereka. Tatapan mereka padaku memang agak lain, seperti berkata, "Hah? Ini ustadz anakku? Nggak salah apa?"

Di menit awal, aku memang menjelaskan dengan perlahan. Ilmu pengetahuan dan Alquran tidak saling bertentangan terkait orang seperti anaknya.

"Ada lho bu Alquran menyebut lelaki yang yang tidak memiliki hasrat seksual terhadap perempuan, Mungkin seperti anak ibu ini," ujarku menjelaskan. 

Sang ibu segera mengambil kertas dan pulpen, mencatat nama ayat dan nomornya. Mungkin ia akan membaca dan mengklarifikasikan kepada guru agamanya.

Berkali-kali aku melirik anaknya, si dokter. Aku melihat ia mati-matian menahan amarah, resah, dan luapan emosi saat ibunya memuntahkan kejengkelannya. 

"Ia pernah mau minggat. Hidup sendiri. Emang dikira gampang apa? Apa iya, orang yang akan menampung dia akan sesayang kami?" ujar perempuan ini. Intonasinya campuran, antara sinis dan rasa sayang.

Ungkapan "Kami sangat menyayanginya," keluar sedemikian banyaknya dari mulut sang ibu. Tak terhitung lagi.

Sang dokter tampak makin emosional. Ia menahan sekuat tenaga. 

Mukanya makin kusut, terlihat seperti ingin menangis dan ngamuk. Saking inginnya, ia bahkan tak tahu apa yang harus diperbuat. 

"Aku ke mobil dulu. Supaya kalian lebih mendapat privacy," kata sang dokter, agak ketus, sembari ngeloyor. Kami akhirnya bertiga di forum.

Kesempatan ini aku gunakan untuk ngomong secara lebih terbuka lagi, menyampaikan gagasanku pada kedua orang tuanya.

"Kalau sampeyan berdua sudah siap kehilangan anak ini, silahkan teruskan menggunakan cara seperti ini. Apa kurang cukup anak sampeyan mencoba bunuh diri tiga kali? Sampeyan berdua ini orang terpelajar lho, berkali-kali ngomong sayang pada dia," ujarku sembari menatap tajam mereka.

Nampaknya mereka mulai melunak. Tidak sefrontal tadi. 
Aku mengingatkan mereka betapa pentingnya menyediakan ruang yang nyaman bagi anak agar bisa tumbuh secara baik. Seorang anak akan stress jika terus-menerus dipojokkan dengan dalih sayang.

"Bayangkan sampeyan, mas, " kataku sambil mengarahkan pandangan pada sang ayah, "...terus menerus dipojokkan, dimarahi, disalahpahami orang terdekat. Apa nggak stress?" 

Aku meminta keduanya untuk berdiskusi dengan psikolog atau psikiater terkait hal ini. Agar, kataku, pengetahuan kita tentang ciptaan Tuhan makin bertambah. 

Namun lagi-lagi sang ibu ngotot, merasa paling tahu kondisi sang anak. "Karena saya ibunya, yang mengandung, merawat, dan membesarkannya,"

Aku menahan tawa dalam hati, "Gusti, ampuni hambamu (aku) yang lemah ini,"

"Bu, kalau mobil sampeyan rusak, bengkel memberi saran lalu sampeyan yang tidak paham mesin menolak saran tersebut dengan argumentasi sampeyan yang membeli dan merawat hingga saat ini, apa pas ya seperti itu?" ujarku sembari tersenyum.

Sebelum mereka pamit pulang, aku mengajak keduanya lebih bersabar terhadap anaknya. Termasuk, bersabar untuk tidak terlalu memaksakan kehendak.

Bagiku, mencintai berarti memahami dan melayani. Memang tidaklah mudah.
**

"Mas, aku pengen nasi goreng," -- pesan WA dari pasanganku saat aku melepas kepergian tamu.

Aku segera bergegas menelpon penjual nasi goreng dan menembus dinginnya malam mengambil dua bungkus nasgor mawut superpedas.(*)

Monday, May 23, 2022

INSIDE PURWOKERTO; CERITA DARI PASTORI BELANDA


Selama di Purwokerto, aku "dititipkan," ke GKJ Bhayangkara oleh kawan-kawan GUSDURian setempat. Dengan kebaikan Pdt. Maria, aku dipersilahkan menempati salah satu kamar yang ada di rumah dinasnya. 

Rumahnya besar sekali, bergaya Belanda di jantung kota Purwokerto. Satu komplek dengan gereja. 

Agak merinding juga sih. Teringat cerita-cerita-cerita horor di banyak film. 

Hanya saja aku percaya rumah ini cukup "aman," dan sudah jinak. Setidaknya cukup banyak tanda salib dan lukisan Yesus di sana. Konon, dua tanda itu cukup ampuh untuk menangkal energi negatif.

Dan benar, selama di sana aku tidak menemukan hal-hal aneh. Semua baik-baik saja.

Justru, aku disambut dengan baik. Tidak hanya oleh puan rumah namun juga banyak jemaatnya.  Aku cukup familiar dengan gereja ini. Sudah seperti rumah sendiri. 


"Selamat pagi, Gus Aan," 

Itulah sapaan yang kerap aku terima dari banyak staff dan jemaat saat mereka bertemu denganku. Khususnya saat pagi. Hampir tiap hari aku jogging di lapangan Kranji belakang kantor Telkom Purwokerto.

Kehangatan para jemaat GKJ Bhayangkara sangat terasa pada Selasa (19/5) sore. Saat itu beberapa dari mereka mendatangi rumah dinas Pdt. Maria, untuk bertemu denganku.

Rupanya, Maria memberiku kesempatan bertemu mereka, untuk mendiskusikan apa saja terkait relasi Islam-Kristen. 

"Aku buatkan forum informal dengan wargoku ya, An," ujarnya. Aku sangat senang sekali. 

Kami ngobrol seputar banyak hal, khususnya menyangkut salah satu pandangan; kenapa Islam mainstream tidak mau mengaku realitas Yesus mati di kayu salib.

Aku menjelaskan bahwa hal itu merupakan "cara termudah," menunjukkan rasa sayang kami kepada sosok Yesus, salah satu sosok penting dalam Islam. 

"Kan ya tidak mudah merekonsiliasi kenyataan dengan ekspektasi, khususnya jika menyangkut orang yang kita cintai,: ujarku.

Ini mirip, ujarku, dengan model perawatan orang mati dalam kekristenan; tak peduli sejelek apapun jasadnya, ia biasanya akan didandani secara layak. Wajah dan tubuhnya akan dimake-up secara baik.

Cara ini tidak lantas dianggap sebagai upaya membohongi realitas yang terjadi pada jasad sang mayat. Alih-alih, ini merupakan upaya untuk menghormatinya.

"Mungkin analogi ini bisa menggambarkan kenapa Islam cenderung tidak mempercayai Yesus disalib," ujarku.

Aku tidak tahu apakah para tamu dapat menerima penjelasanku. Hanya saja, wajah mereka terlihat bisa memahaminya. Pemahaman seperti ini menurutku penting diketahui oleh orang Kristen agar lebih dapat berempati pada orang Islam yang ngotot antipenyaliban.

"Sing luwih paham, sebaiknya lebih bisa menahan diri, luwih sabar," ujarku.

"Gus, apakah dalam Al-Quran disebutkan Gusti Yesus adalah Tuhan?" tanya jemaat perempuan.

Aku termenung sejenak. 

Al-Quran pernah menyatakan ketegasan posisinya seputar keesaan Tuhan seraya mengecam siapa saja yang menyekutukannya. Posisi ini setidaknya disebutkan dalam QS. al-Maidah 73.

"Sungguh, telah kafir orang-orang yang mengatakan, bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa azab yang pedih." 


Sayangnya, begitu banyak orang Islam menggunakan ayat di atas untuk menuduh orang Kristen-trinitarian sedang menyekutukan Allah. Padahal, menurutku, mereka tidak tepat menggunakan ayat tersebut.

Ayat di atas adalah kecaman Alloh terhadap adanya tiga tuhan (triteisme). Kristen trinitarian bukanlah penganut triteisme. 

Tuhan mereka satu. Esa. Sama seperti Islam maupun Yahudi --meskipun cara memahaminya tentu saja tidak persis sama.  

"Dalam al-Quran, Isa dianggap sebagai Kalimat Allah dan Ruh Allah. Nah, apakah kalimat Allah itu Allah, apakah ruh Allah itu Allah? Tiap orang memiliki pandangan masing-masing. Berbeda itu biasa, bahkan bagus," ujarku.

Aku sendiri cukup prihatin menyaksikan banyak orang Islam yang belum mampu menahan dirinya terkait keragaman perbedaan pendapat seputar sosok Yesus. Tidak jarang, bahkan, mereka tak mampu untuk tidak melakukan kekerasan terhadap mereka yang berbeda. 

"Anjingnya banyak yang mati, gus. Diracun orang. Saya tahu sendiri," kata salah satu jemaat/staff GKJ, lelaki, yang aku temui di gazebo depan gereja.

Ia merespon keherananku kenapa tidak lagi ada anjing di gereja ini. Ke mana mereka? Terakhir kali aku ke sini, ada sekitar 3-4 anjing yang kerap lalu-lalang di komplek gereja. Aku merasa ada yang hilang. Sedih. 

"Ia keluar pagar. Tak seberapa lama, saya mendengar suara aneh darinya. Dan benar, ia sudah terkapar di pinggir jalan," ujarnya sedih mengingat peristiwa tersebut sembari menunjukkan arah di mana anjing itu dikubur.

Entah sampai kapan dua agama besar di Indonesia ini bisa semakin akur dan saling memahami. Rasanya penat dan capek menyaksikan aneka kekerasan terjadi diantara mereka. 

Kekerasan seperti ini merupakan dampak dari kesalahpahaman yang menumpuk ribuan tahun. Jarang terurai hingga saat ini.

"Hayuk kita berfoto sebelum bubaran," seru Pdt. Maria.

Seperti biasanya, aku yang memilih lokasi pemotretan. Cekrek! (*)

Friday, May 6, 2022

KATEKISASI DAN PENYALIBAN DI WARKOP TEKONG


Gresik bagian Sembayat Manyar begitu panas malam ini, Selasa (3/5). Banyak orang rela keluar rumah, sekedar untuk memapah semilirnya angin.

Aku sendiri memilih nongkrong di warkop Tekong dekat kuburan mertuaku. Kopinya begitu khas Gresik. Pekat nikmat dan "jahat,"

Aku jadi teringat sesi katekisasi beberapa hari lalu, di GKI Pondok Indah. Acaranya berlangsung sekitar 1,5 jam. 

Tidak ada sesi presentasi. Murni Q&A -- Kalian bertanya, Aan menjawab.

"Kenapa Tuhan menciptakan banyak agama?" tanya Kia, penatua yang saat itu jadi moderator.

"Sejujurnya, aku tidak tahu. Namun aku bisa membayangkan apa mauNya," ujarku berusaha jujur.

Ada dua kemungkinan, setidaknya, menurutku. Pertama, Tuhan tidak bermaksud membuat banyak agama tapi manusialah yang berkreasi, mengatasnamakan Tuhan. Banyak manusia begitu berhasrat menemukan Tuhan, dengan berbagai cara. 

Kedua, ya, Tuhan memang sengaja menciptakan keragaman agama sebagai caraNya memberitahu manusia; Aku tidak hanya bisa ditemui dengan jalan tunggal lho. Banyak cara. 


Kemungkinan kedua ini memperhadapkan manusia dalam dua tawaran pelik; merasa pilihan agamanya yang paling benar --fanatis, atau menjadi lebih dewasa --meniscayakan ada kebenaran lain diluar galaksi agamanya.

"Sebelum trinitas dimenangkan secara politis sebagai model berteologi yang paling benar di lingkungan kekristenan, ada banyak jalan menuju Gusti Yesus," ujarku. 

Pengunggulan teologi trinitas, tambahku, lantas dibarengi dengan peliyanan jalan nontrinitarian. Gusti Yesus kemudian terasa dimonopoli oleh model ini. 

"Pelan-pelan, nontrinitas didemonisasi. Hanya diajarkan dalam kerangkan untuk memperkuat superioritas trinitarian," kataku. 

Akibatnya bisa ditebak; banyak orang Kristen trinitarian menjadi kurang optimal dalam mengimplementasi ajaran kasih --ajaran inti dalam Kekristenan. 

Model dan strategi seperti ini, dalam beberapa aspek, juga terjadi dalam dinamika teologi Islam yang jumlahnya cukup banyak. Saling mengunggulkan diri seraya menginjak yang-lain sebagai yang inferior.

"Gus, kenapa banyak orang Islam tidak mau percaya kalau Yesus disalib? Padahal secara historis, ia memang disalib," tanya salah satu katekisan, seingatku.

"Pertanyaan cerdas," sambutku.

Tahu nggak, lanjutku, Tuhan kalian itu, dalam al-Quran, merupakan sosok sangat terhormat. Superterhormat. 

Kami diminta menghormati sosok sepertiNya, bahkan harus rela mati-matian melakukan pembelaan seandainya ada upaya untuk menghinakan dirinya. 

"Kristologi kami tidak bisa membiarkanNya diperlakukan serendah itu, disalib, dipersekusi secara kejam dan senista itu. Kami seperti terpanggil untuk melakukan pembelaan --bahkan, jika perlu, dengan menafsirkan secara radikal realitas historis sekalipun," ujarku. 

Kekristenan melakukan pembelaan atas penyalibanNya dengan cara mengakui kejadian tersebut seraya menafsirkan penderitaan dan penghinaan tersebut dengan begitu mengagumkan. 

Sedangkan, kristologi Alquran terlihat menggunakan cara yang, katakanlah, relatif "sederhana," dan straight-forward ---menyangkal kejadian itu seraya menyatakan Tuhan yang lebih tahu kejadiannya. Cara ini, secara jujur, bukanlah genuine Al-Quran sebab ada kelompok Kristen awal, pra-Islam, yang memiliki sikap serupa, sebelum akhirnya disesatkan. 

Saya suka sekali memperhatikan bagaimana model kekristenan merawat jasad jenazah sebelum ibadah penutupan peti. Tak peduli seburuk apapun kondisi awal jenasah, ia akan dimakeup sedemikian bagus. Tampak ganteng dan cantik dengan pakaian yang begitu elegan dan anggun. Pokoknya, jenazah harus ditampilkan dengan cara terbaik di hadapan para pelayat. 

"Mungkin seperti itu kristologi al-Quran membela Kristus dalam peristiwa penyaliban. To honor him. Mungkin," terangku.

Lalu mana yang benar? Mana saja yang paling bisa membuat kita berbuat baik, menjadi rahmat, menjadi terang dan garam, bagi kehidupan ini.

Di akhir sesi, aku memberikan pengharapanku pada para katekisan. Menjadi pengikut Yesus adalah pilihan tepat. 

Pilihan tersebut memiliki konsekuensi yang tidak enteng. Sebab, mengasihi sesama manusia, bagiku, mensyaratkan kewajiban untuk bisa memahami jalan lain, jalan yang berbeda dari pilihan kita. 

"Sederhananya begini; semakin kamu Kristen, semakin kamu bisa menerima nonkristen. Semakin kamu eksklusif maka harusnya kamu semakin inklusif," ujarku.

Sementara itu, gerah dan panas terus mengurung warkop ini. (*)

Sumber tulisan di sini.

Featured Post

Buyut Nolo Drono; Makam Kristen Dirawat Masyarakat Islam dan Kristen

Ditengah maraknya persekusi simbol-simbol kekristenan di Indonesia oleh sebagian kelompok Islam, apa yang dilakukan masyakarat I...