Bagaimana respon mahasiswa Kristen kelas Religion Ciputra saat mengetahui lebih dalam sikap Islam mainstream seputar kenaikan dan penyaliban Yesus?
Serta, bagaimana respon teman mereka yang Islam ketika tahu AlQurannya terasa affirmatif atas kematian a la trinitarian?
**
Hari-hari menjelang berakhirnya semester ini, aku mengajak kelas Religionku berefleksi minggu lalu. Refleksinya seputar bertemunya dua perayaan suci islam-Kristen; Idul Fitri dan Kenaikan Yesus. Lebih dari 85 persen penghuni kelas kami adalah pengikut Yesus, baik Katolik maupun Protestan.
"Nggak tahu pak, saya nggak ke gereja," katanya pendek.
"Saya bisa memahami kok, gus, cara pandang teman-teman Kristen seputar penyaliban. Menurut saya itu memperkaya penafsiran," katanya.
Selanjutnya aku menjelaskan lebih dalam mengenai soal ini. Tujuanku, bukan mengajak trinitarian supaya berpindah keyakinan, atau, ingin mengobarkan debat kusir a la Zakir Naik. Sama sekali tidak.
"Ok, sekarang begini, aku beri kalian waktu 14 menit untuk menulis feed back atas penjelasanku. Sekitar 2-3 paragraf. Uploadlah di Moodle sebagai bukti kalian masuk kelas," kataku, menggunakan jurus saktiku untuk mengetahui apa yang ada dalam pikiran mereka.
Jika biasanya aku meminta salah satu mahasiswa memimpin doa penutup kelas, khusus pada hari itu, aku sendiri yang memimpin.
".....Gusti, senantiasa berilah kami hikmat untuk belajar mengetahui dan memahami apa yang berbeda dengan kami. Kami percaya, hanya dengan cara ini kami berharap bisa semakin teguh dalam keimanan kami. Rabbana atina fiddunya hasanah wa filakhirati hasanah..."
--------
Lampiran respon para mahasiswa atas penyaliban dan kenaiakan Yesus versi Islam.
JGW: Menurut saya Kristologi Islam merupakan bukti bahwa agama Kristen dan Islam memiliki kemiripan. Kemiripan ini tidak seharusnya menjadi alasan untuk bermusuhan, melainkan alasan untuk saling menjaga dan melindungi arena kemiripan bukan sesuatu yang buruk.
FP: Berdasarkan pendengaran saya mengenai proses kenaikan Kristus dalam agama Islam yang dijelaskan oleh pak aan. Islam dan kristen memiliki pemikiran yang berbeda mengenai proses kenaikan Tuhan Yesus, dimana di Kristen, Yesus mati di kayu salib, mati, turun kedalam kerajaan maut, lalu bangkit dari kematian 3 hari kemudian, memberitakan injil dan pengajaran tentang Kristen kepada murdi-muridnya dan diangkat ke surga setelah 40 hari dihadapan semua bangsa.
Sementara di Islam, dijelaskan bahwa Yesus tidak mati di kayu salib melainkan orang lain yg di salibkan (Yudas/Simon) karena Yesus memiliki tubuh yang ilahi jadi tidak dapat merasakan sakit, dan Yesus adalah kekasih Allah jadi tidak mungkin Ia disalibkan karena proses penyaliban itu sendiri adalah sesuatu yang hina, sedangkan nabi itu tidak boleh hina.
Perbedaan pandangan ini sendiri juga memiliki sejarahnya masing-masing dimana mereka beradu mana yang lebih benar. Karena trinitas yang menang saat itu, mereka yang tidak mendukung atau menyetujui agama yang tentunya pengikutnya sangat banyak ini berpindah ke daerah arab, dimana banyak ajaran-ajaran menyesatkan tumbuh disana.
Menurut saya sendiri, seperti yang pak aan juga sudah smapaikan, sebenarnya dalam Islam itu mereka seperti ibu yang tidak ingin menyampaikan kebenarannya secara gamblang kepada anaknya mengenai kematian bapaknya. Jadi, dalam Islam itu seperti yang sudah saya sebutkan juga tadi, mereka itu tidak ingin nabi yang dikasihi Tuhan itu terlihat hina karena proses penyaliban itu, oleh sebab itu muncullah ajaran-ajaran yang lumayan tidak benar keadaannya.
KEV: Masalah penyaliban, kematian dan kebangkitan Yesus (Isa) ditolak oleh sebagian besar (tidak semua) Muslim, tetapi mirip dengan orang-orang Kristen yang mereka percaya bahwa Yesus akan kembali sebelum hari Akhir. Kebanyakan Muslim percaya bahwa Yesus tidak disalib, tetapi diangkat tubuhnya ke surga oleh Allah.Dasar dari semua keyakinan ini adalah interpretasi dari ayat ini dalam Al-Qur'an Sebagian besar tradisi Islam, kecuali beberapa, secara kategoris menyangkal bahwa Yesus meninggal secara fisik, baik di kayu salib atau cara lain.
Pendapat tersebut ditemukan dalam tradisi Islam sendiri, dengan laporan Hadis paling awal yang mengutip para sahabat Muhammad yang menyatakan bahwa Yesus telah meninggal, sementara sebagian besar Hadis dan Tafsir berikutnya telah mengemukakan sebuah argumen yang mendukung penyangkalan tersebut melalui eksegesis dan apologetika, menjadi populer. (Ortodoks).
FS: Berdasarkan hasil diskusi hari ini serta pencarian saya di internet mengenai kenaikan Isa Al Masih dalam pandangan Islam, saya memperoleh sejumlah pengetahuan baru. Yang pertama yakni terkait teori, dimana menurut pandangan Islam, setelah Isa Almasih (Yesus Kristus) lolos dari rencana pembunuhan oleh orang-orang Yahudi, Ia diangkat ke langit dan masih hidup hingga saat ini, kemudian akan turun kembali menjelang hari Penghakiman dan bertugas selama 40 tahun untuk menegakkan kebenaran ajaran Allah serta meluruskan berita Injil Kerajaan Sorga yang pernah diajarkannya. Dengan kata lain, adanya kepercayaan bahwa proses penyaliban itu tidak ada.
Lain halnya dengan ajaran kristen, yang menceritakan adanya proses penyaliban, hingga Yesus mati, bangkit, dan menemui murid-muridnya selama 40 hari. Kemudian, Yesus terangkat ke sorga dan akan kembali ke bumi dengan cara yang sama seperti naiknya. Jika, diperhatikan dengan seksama, terdapat kesamaan pandangan antara Islam dan Kekristenan perihal diangkatnya Isa ke langit (sorga), kemudian turunnya kembali ke bumi menjelang hari kiamat nanti. Namun, yang menjadi faktor pembeda adalah mengenai kisah apakah Yesus telah atau belum mati saat proses pengangkatan. Hal ini juga masih menjadi pertanyaan dalam diri saya, tapi saya tetap menghargai apa yang telah diajarkan dalam --------
HJ: Menurut ajaran Kristen, kematian Tuhan Yesus dengan cara disiksa lalu disalibkan. Ini mungkin bisa menjadi salah satu pembeda dibandingkan ajaran agama lain. Mungkin ini dapat membuat para pemeluk agama mereka tenang dan dapat merasakan perasaan Tuhan pada saat itu. Tapi bagi saya, saya lebih percaya bahwa Tuhan Yesus mati itu dengan cara disiksa dulu. Lalu Ia disalibkan, ini bertujuan agar kita umat manusia dibebaskan oleh dosa yang telah mereka telah perbuat selama ini ---- MC: Kematian/kebangkitan Yesus artinya sama tetapi yang membedakan adalah pemahaman atau persepsi dari umatnya. Ada yang mengartikan ini sebagai kematian yang membuat umatnya tenang karena Ia sudah tidak merasakan apa” lagi ada juga yang mempunyai pemahaman lain. Tapi yang saya tahu bahwa Kematian dan Kebangkitan Tuhan Yesus adalah tanda Tuhan mengasihi umatnya dengan Ia rela mati menebus dosa” umatnya.
RAR: Kaget karena ada ayat mengenai kematian Nabi Isa di dalam Alquran. Apalagi ayatnya juga kontradiksi dengan Surat An-Nisa ayat 157-159. Tetapi ada suatu ayat dimana Nabi Isa itu sendiri itu akan meninggal dan akan dibangkitkan kembali lalu naik menuju ke langit. Yaitu di Surat Maryam ayat 33. "Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali".
Saya yang awalnya ragu karena didoktrin seperti itu, akhirnya semakin yakin dengan apa yang aku percayai sejak MTs, karena saya percaya bahwa mukjizat dari Tuhan itu tidak ada batasnya. Lalu kenaikannya dalam versi Kristen jauh lebih wah dan bisa dibilang sebagai mukjizat daripada versi yang didoktrinkan Islam kebanyakan. Yang terdengar seolah Tuhan memiliki kelemahan bahwa Tuhan tidak bisa membangkitkan manusia yang dikasihinya.
Saya kagetnya itu bahwa di Alquran itu ada ayat yang saling menopang satu sama lain mengenai apa yang kupercayai sejak MTs karena saya percaya bahwa bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Sehingga, perlu dliakukan pengajaran selain yang diajarkan oleh agama Islam pada umumnya. Supaya lebih mudah memahami bahwa perbedaan itu adalah hal yang wajar.
IRE: Pendapat saya mengenai kenaikan Tuhan Yesus dalam sisi agama Kristen dan islam yang diumpamakan seperti seorang Ibu yang akhirnya tidak mengatakan kebenaran akan meninggalnya ayah mereka dengan mengenaskan kepada anaknya yang masih kecil, dan munculnya seorang saudara yang langsung salah paham dan menyatakan bahwa ibu ini tidak dapat menerima kematian suaminya adalah sebagai berikut.
Saya merasa bahwa tindakan yang benar adalah mengatakan kepada anak tersebut bahwa Ayah mereka sudah meninggal. Namun cara penyampaian haruslah dengan kebenaran itu sendiri, bahwa Ayah mereka sudah berpulang ke pangkuan Bapa yang di Sorga. Kita tidak perlu berlarut dalam duka karna di Rumah Bapa tidak ada penyesalan, tidak ada sakit dan penderitaan.
Sang anak yang sedari awal mengetahui kebenaran tersebut akan menerima seiring berjalannya waktu. Daripada diberi harapan kosong dan ketika Ia sudah besar nanti baru mengetahui kebenaran yang menyakitkan dan merasa terkhianati karena telah dibohongi oleh Ibunya sendiri.
Saya memiliki pemikiran bahwa sebenarnya justru anak kecil pasti tidak mengerti meninggal itu seperti apa dan lainnya karena mereka masih polos. Membohongi anak tersebut dengan pemikiran agar anak tersebut tidak terluka adalah sebuah pemikiran yang egois dan tidak dewasa. Justru dengan ketidak jujuran tersebut bisa jadi anaknya jadi meragukan semua perkataan Ibunya yang adalah kebenaran. Hanya karna satu kebohongan, rasa percaya anak terhadap Ibunya bisa hilang.
YDS: Kematian/Kebangkitan Tuhan Yesus memiliki cerita yang berbeda dalam versi islam dan kristen, meskipun kebenarnya dari kedua cerita tidak dapat 100% di konfirmasi , banyak yang percaya bawah kebenaranya adalah Yesus mati di salib. Dari sini mungkin versi yang lainya adalah untuk “meringankan”cerita agar kebanyakan orang dapat merasakan ketenangan atas kematian Yesus , bahkan ada yang bilang Yesus tidak bisa merasakan penderitaan dan lain-lain. Namun saya percaya bawah Tuhan Yesus mati mendertia untuk penebusan dosa manusia, dan penderitaan adalah bagian dari pengorbanannya.





