Pages

Saturday, August 8, 2020

Saragih Nomor Berapa? 16? 17? 18?

"Aku ucapkan selamat bagi kalian yang sudah sampai pada level ini. Jangan sampai nggak lulus ya. Ikuti setiap prosesnya dengan baik," kataku menyapa peserta katekisasi GKI Pandok Indah Jakarta, Sabtu (8/8).

"....and you should be proud of yourself. Sebab bisa jadi kalian adalah angkatan pertama katekisasi yang sangat unik karena ternodai orang yang dianggap tidak selamat dalam doktrin klasik kekristen," lanjutku tertawa cekikikan di forum.

Aku tidak tahu perasaan mereka kala itu. Niatku hanya guyon. Menertawakan batas-batas teologi antara Kristen dan Islam, yang terkadang sangat nggilani. Nggilani adalah bahasa Jawa dari disgusting. Jika diucapkan dengan penuh emosi a la Jombangan, tulisannya; nggguuuuuuuuilani. 

Menurutku, adalah nggilani jika seorang muslim merasa kecewa atau bahkan marah, saat menemukan teman, saudara atau bahkan pacarnya, memilih keselamatan melalui agama lain --misalnya Kristen. Begitu juga sebaliknya. 

Jika kamu ke Jakarta naik pesawat dan geram,gemes, marah melihat yang lain naik kereta api atau bahkan jalan kaki, pertanyaannya; kamu sehat?

"Gus, gimana pandangannya terkait pacaran beda agama?" kata salah satu satu katekisan. Cewek --entah Tionghoa atau Batak, lupa aku. Aku baru tahu kalau banyak orang Batak di GKI PI.

"Pacaran beda agama itu bagus jika dilakukan dengan kedewasaan tinggi. Namun tentu tidak mudah karena mensyaratkan kedewasaan dua belah pihak," kataku. Tidak banyak orang yang benar-benar sukses berelasi campur oleh karena  niatnya tidak tulus sejak awal. 

"Tidak sedikit pemuda islam yang model beragamanya seperti sales MLM, mencari pacar Kristen untuk diislamkan. Jika ketemu yang seperti ini, sebaiknya hindari. Pikirkan ulang. Cinta  sebenarnya kan memerdekakan, bukan malah menjajah. Just follow your heart," kataku.

Aku senang sekali  berdiskusi dengan mereka. Mengetahui gairah mereka yang menggebu-gebu tentang Islam adalah hal yang menyenangka. Mereka seperti kakak yang terpisah sangat lama dengan adiknya, dan akhirnya bertemu. Jasa Pdt. Joas dan Pdt. Bonnie begitu besar.


"Dik, jihad dan mati syahid itu apa sih?"
"Dik, kabarnya nabimu menikahi gadis di bawah umur. Gimana sih cerita sebenarnya?"
"Dik, gimana sih sebenarnya pandanganmu dan kawan-kawanmu seputar model bertuhan a la tritunggal yang dianut kakak? Tuhanku satu lho, dik, bukan tiga,"
"Dik....
"Dik....

Begitu banyak pertanyaan mengemuka --dari seorang kakak yang telah lama terluka oleh adiknya. Pertanyaan yang tulus campur geregetan.

"Dik, katakan padaku, kenapa teman-temanmu nakal banget kalau ketemu teman-temannya kakak? Kakak harus bagaimana?"

Aku meminta maaf sembari memohon mereka senantiasa tidak kehilangan harapan.

 "Hanya kalian yang bisa menyadarkan. Jika kami tantrum dan kalian menyerah pada kami, nggak peduli, kami tidak akan sembuh. Aku tahu banyak dari kalian yang jengkel, marah dan nggak peduli, bahkan takut. Mari kita berani," kataku.  

Keberanian bagiku bukanlah sebatas menunjukkan rasa tidak takut. Lebih jauh, "Daring is to do what is right in spite of the weakness of our flesh," -- aku mengutipnya dari film The Help. 
***

Meski hanya 1,5 jam namun aku senang sekali bersama mereka. Semoga mereka juga. Aku berharap bisa ketemu mereka kembali.  Jika tidak salah lihat, ada 112 orang yang ikut katekisasi GKI Pondok Indah, Sabtu (8/8), via Zoom. Rata-rata anak-anak muda. Millenial. 

Saat masuk aku langsung disapa Alex, calon pendeta di gereja tersebut yang selama ini bertindak sebagai laison officer. Tiba-tiba muncul seorang perempuan di layar besar zoom. Terlihat senior. Aku menduga ia orang penting di GKI PI. Sekelas penatua. Aku tahu dia Batak dari nama yang tertera. 

"Hai mbak... Apa kabar? Saragih nomor berapa? 16? 17? 18?" aku langsung  menyapanya. Ia terlihat begitu keras mengingat kembali berapa nomor punggungnya.(*)


Laaafff



Friday, August 7, 2020

UJI NYALI KATEKISASI

Selama hidup, dua kali aku mengisi katekisasi. Dua-duanya dilaksanakan oleh GKI Sidoarjo. 

Katekisasi bisa dikatakan semacam forum internum. Fungsinya, sebagai penguat iman kristen. Jika tidak salah, katekisasi adalah tahapan sangat penting bagi orang Kristen untuk memantapkan pilihan beragama mereka. 

Saat di GKI Sidoarjo, aku diminta mempresentasikan Yesus dalam perspektif Islam. Dan, pada katekisasi kedua, aku membincang soal ibunya, the Virgin Mary. 

Dua katekisasi tersebut dilaksanakan secara terbuka di gereja. Terbuka artinya siapapun boleh ikut. Seingatku, banyak sekali peserta dari luar. Tidak hanya Protestan, namun juga Hindu, Islam, Penghayat dan Katolik. 

Katekisasi ketiga rencananya berlangsung besok malam, Sabtu (8/8). Penyelenggaranya masih tetap GKI. Kali ini GKI Pondok Indah Jakarta, tempat dua orang temanku yang melayani di sana. 

Aku pernah ke sana. Gerejanya, bagus pakai banget. Sayangnya, katekisasi besok malam tidak bertempat di gereja. Semua digeser ke Zoom dan tertutup --selain Katekisan nggak boleh masuk. Kabarnya, ada live di Youtube. Namun hanya orang internal yang bisa mengakses.

Lalu, apa yang akan aku sampaikan di forum katekisasi besok?

Inilah yang aku anggap sebagai katekisasi paling berat. Sebab, aku diminta menjelaskan berbagai pertanyaan yang dilontarkan oleh peserta. 

Pertanyaan sudah dikumpulkan terlebih dahulu dari para peserta. Dan dua jam lalu, Alex, calon pendeta GKI, mengirimkannya padaku. 

Saat aku buka, terserak hampir 50 pertanyaan! Sangat variatif ---dari soal pakaian perempuan, kiblat, alkohol, babi, pembunuhan atas nama agama, kenabian, Yudas, ISIS, pahala dan surga, hingga usia Aisha yang di bawah umur. 


"Ya Alloh, Lex. Banyak banget! Suka aku dengan kekritisan mereka pada agama Islam," kataku sembari meringis.

Aku benar-benar mengapresiasi semangat mereka mengetahui tentang agama yang selama bertahun-tahun digunakan sebagai atas nama untuk mempersekusi Kekristenan. Tidak hanya di Indonesia namun juga di seantero jagad raya. 

Pertanyaan mereka, rata-rata, berisi gugatan meski banyak juga yang tidak. Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, sekali lagi, sangat jelas tergambar keingintahuan mereka tentang Islam. Tidak dalam kerangka, keyakinanku, ingin masuk Islam namun lebih pada; kenapa bisa berwajah demikian. 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak hanya harus dijawab -- agar semakin benderang dan meminimalisir kegalauan yang tak terpuaskan -- namun juga perlu mendasarkan jawabannya dalam tatakan kejujuran. 

Betapa capeknya jika aku harus berapologetika menjawab 50 pertanyaan kaliber ujian master?! Capek dan penat. 

Namun bukan soal capeknya, sebab aku bisa menyembuhkannya dengan pijitan.   Akan tetapi jawaban beraroma apologetika hanya akan menyisakan persoalan baru yang cenderung membebani masa depan. Dan itu tidak cukup dewasa. 

Aku sendiri paling males jika pertanyaanku dijawab dengan model seperti itu. 

Dan yang lebih utama, jika aku menjawab dengan model itu aku merasa kurang menghargai ketulusan dan upaya serius GKI PI mengundangku. Aku yakin mereka telah bersusah payah mewujudkan relasi yang sungguh tidak lazim ini. Salutku untuk kalian.

Semoga ada cukup waktu untukku menjawab seluruh pertanyaan.





Sunday, August 2, 2020

Orientasi Seksual; Takdir atau Konstruksi? Belajar dari Chrisye

Ini pertanyaan klasik seputar seksualitas yang hingga kini belum ada kata sepakat. Para ahli kejiwaan dan masyarakat awam sepertiku terbelah menjadi dua kubu. Kubu konstruksi sosial mencibir lawannya --kubu takdir-- malas berfikir. 


Ya, jawaban "takdir," memang seperti response jalan pintas. Persis seperti orang yang gagal mengoptimalisasi akalnya. Kenapa orang menjadi miskin? Takdir! Kenapa perempuan tidak boleh melampaui laki-laki? Takdir! Kenapa orang Kristen kerap tertindas di tengah mayoritas Muslim? Takdirnya memang seperti itu! 

Pendekatan "takdir," sangat beda dengan kubu konstruksi sosial. Kubu kedua ini bersusah payah menelisik, membongkar dan menyatukan kepingan untuk mencari penjelasan ilmiah atasnya. Kerapkali cara ini berhasil pada banyak persoalan. 

Namun untuk urusan orientasi seksual, menurutku, kedua kubu harus berdamai dan  menerima kenyataan mereka tidak bisa egois untuk menang secara mutlak dan binerik. 

Belajar dari Chrisye"

Kalian tahu siapa ini?" tanyaku sembari menampilkan foto penyanyi legendaris Indonesia yang sudah meninggal.

"Bukannya itu Chrisye?" jawab Lidya Kandowangko yang malam itu menjadi moderator Zoominar "Haruskah Kita Memusuhi LGBT," Selasa (14/6).

Aku membenarkan tebakan Lidya. Namun apakah kita pernah menyangka Chrisye adalah Tionghoa? Jika Anda tidak pernah berpikir demikian, maka sama denganku. Tak pernah terlintas dibenakku penyanyi bersuara emas ini ternyata keturunan Tionghoa.

Aku baru tahu ketika salah satu kawan Tionghoa, peneliti, mengabarkan kisah dramatis bagaimana Chrisye memberi pengakuan. Chrisye dikabarkan mengaku Tionghoa kepada penulis biografinya di detik-detik terakhir proses penyelesaian buku tersebut. Dengan perasaan sangat berat, Chrisye menceritakan alasan kenapa ia selama ini cenderung tidak mau terbuka ke publik menyangkut ketionghoaannya. Hal ini berkaitan dengan pengalaman buruk yang pernah ia terima. 

"Itu peristiwa yang menancap cukup dalam di benak saya," kata Chrisye, sebagaimana ditulis tirto.id "Biografi Chrisye, Keturunan Cina dan Kisah Buruknya Jadi Minoritas,"

Chrisye kecil pernah mengalami perundungan hebat pada suatu siang. Segerombolan anak meneriakinya "Cina Lo," setelah sebelumnya menyambit kepala Chrisye dengan batu hingga berdarah. Chrisye memilih tidak menceritakan hal itu kepada siapapun. Ketionghoaannya dikunci rapat belasan tahun hingga ia tidak lagi kuat menahannya. Ambrol di depan penulis biografinya.

"Lalu apa hubungannya Chrisye, orientasi seksual, takdir dan konstruksi sosial?" tanyaku kembali di forum.

Orientasi seksual, dalam pendapatku, sama seperti identitas ketionghoaan Chrisye, atau kejawaanku. Identitas kesukuan maupun orientasi seksual tidak bisa dipilih atau dinegosiasikan. Ia sepenuhnya given. Langsung datang dari Tuhan. 

Yang tidak kalah penting, sebagaimana halnya Chrisye, setiap orang memiliki kemerdekaan untuk mengakui --atau tidak mengakui-- atas identitas tersebut. Selama kurang lebih 30 tahun Chrisye memilih menyembunyikan jatidirinya. 

Ia mungkin berfikir dan merasa tidak aman manakala ketionghoaannya diketahui publik. Konstruksi sosial senyatanya telah begitu memengaruhi keputusan Chrisye, baik saat menyembunyikan diri maupun ketika memutuskan berterus terang, pada akhirnya.

Begitu pula terkait orientasi seksual. Tuhan selama ini telah memasangnya pada setiap orang. Kebanyakan memang heteroseksual. Konstruksi sosial telah menyebabkan individu yang diberi anugerah orientasi non-heteroseksual mengalami persekusi selama 1.973 tahun lamanya -- bahkan hingga sekarang. Selama itu pula mereka dilabeli sebagai pendosa dan mengidap penyakit jiwa. 

Label ini kemudian di review para psikiater di Amerika pada 23 Desember 1973 dan, melalui voting ketat, telah menghasilkan konsensus baru terkait orientasi seksual. Heteroseksual tidak lagi dianggap supreme, sebagai satu-satunya yang benar, karena homoseksualitas dan orientasi seksual lainnya telah diakomodasi. Para agamawan juga mulai melihat dan menyesuaikan kembali tafsiran teks kitab suci mereka 

Namun demikian, meski secara legal orientasi non-heteroseksual telah dinyatakan bukan sebagai penyakit, namun tidak berarti individu non-heteroseksual bisa merdeka dengan sendirinya. Konstruksi sosial yang dialami masing-masing dari mereka sangat menentukan apakah mereka mau terbuka atau tidak dengan identitas yang ia miliki. 

Tuhan telah memberi orientasi seksual kepada kita semunya. Kita sepenuhnya memiliki kemerdekaan untuk mengakui dan merayakannya, seperti halnya Chrisye dengan ketionghoaannya.

Friday, July 31, 2020

Soal Berkurban, Kita Perlu Belajar dari Mereka


Kawan-kawan, terima kasih atas ucapan Idul Adhanya. Hari raya kurban.

Kurban dan korban adalah identik.

Di Indonesia, dalam berkorban, aku merasa non-Muslim masihlah tetap sebagai teladan terbaik. 

Berpuluh-puluh tahun mereka tidak hanya dihajar babak-belur namun juga dianaktirikan sedemikian hebatnya. Saat ini bisa dikatakan merupakan masa-masa sulit bagi mereka. Vivere pericoloso. The year of living dangerously. 

Betapa tidak. Riset terakhir, sebagaimana disampaikan Mirtzner-Muhtadi (2020), menyatakan 52% Muslim, 54% pengikut NU (NU) dan 39% pengikut Muhammadiyah (MU)keberatan dengan rumah ibadah non-Muslim. Sebanyak 52% muslim, 52% NU dan 41% MU keberatan non-Muslim menjadi bupati/walikota. Angka ini relatif konstan untuk keberatan terhadap gubernur non-Muslim 

Sudah tidak terhitung lagi berapa jumlah rumah ibadah/bangunan sakral milik non-Muslim yang dibuat lumpuh tidak bisa digunakan. Bahkan kadang aku berfikir, seandainya ada gereja dijual karena kesulitan finansial, niscaya akan sangat banyak muslim berlomba-lomba infaq dan sadaqah untuk membelinya. Setelah dibeli, mereka akan ubah menjadi masjid. Mereka akan melalukan itu dengan gembira, tanpa perasaan bersalah sekalipun. Aku berani bertaruh.

Yang mencengangkan, alih-alih membenci dan menyerang balik, non-Muslim senyatanya tetap kokoh berdiri dalam cinta dan keyakinan mereka; berupaya mati-matian mencintai Muslim dan meyakini Indonesia sebagai rumahnya. Edan kan? Sudah diperlakukan sangat buruk namun tetap saja mencintai. They are the number one bucin!  

Maka, bagaimana idealitas Muslim Indonesia memaknai Idul Adha yang usianya sudah lebih dari 1.300 tahun ini? 

Tidak ada pilihan lain, kecuali semua Muslim perlu kembali mengingat perintah agung Allah yang senantiasa dibaca imam shalat Jumat di ratusan ribu masjid setiap minggunya, termasuk hari ini. 

"Sesungguhnya Allah menyuruhmu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarangmu berbuat keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu mengambil pelajaran." (QS. 16:90)  

Sederhananya, perintah ini meminta kita agar bertindak adil dan berbuat baik, tidak melakukan hal jelek pada sesama manusia. Ingat; s-e-s-a-m-a -- m-a-n-u-s-i-a. BUKAN HANYA sesama Muslim. 

Bagaimana kita tahu kita melakukan hal itu? Sangat simple, perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Jika kita merasa terganggu dengan bunyi lonceng rumah ibadah agama lain, maka jangan melakukan hal yang sama di masjid/mushalla. Jika kita merasa tersiksa melihat rumah ibadah kita ditolak agama lain maka jangan melakukan hal yang sama.

Sesimpel itu; simpel namun butuh pengorbanan, sebagaimana yang telah mereka teladankan.

Selamat berkorban.
 

Wednesday, July 29, 2020

Misteri 200 Tahun; Antara Abu Janda, Mahfud MD dan Felix Siauw di ILC

Selebriti media sosial, Abu "Permadi" Janda (APJ), tiba-tiba mengagetkan banyak orang yang menyaksikan tayangan ILC TVOn, Senin (5/12) lalu. Ia menyebut angka 200 tahun menyangkut penulisan awal kodifikasi hadits. Saat merespon argumentasi Felix Siaux terkait bendera/panji Islam, al-Liwa al- Royah, APJ nampaknya ingin mematahkannya dengan menyatakan terdapat problem akurasi penulisan hadits, yang baru terkodifikasi sekitar 150- 200 tahun setelah Nabi wafat.

Sayangnya, APJ tidak punya kesempatan menjelaskannya lebih detil di forum tersebut. Lelaki ini makin tersudut saat Prof. Mahfud MD (MMD) mengingatkannya agar berhati-hati dengan statemen 200 tahun itu karena bisa membuat orang marah.

Beberapa hari kemudian, setelah mendapat kecaman hebat di medsos, APB merasa perlu mengunjungi salah habib di Jawa Barat. Nampaknya ia ingin menjernihkan masalah ini. Misteri apa yang sesungguhnya ingin dibuka APJ menyangkut klain 200 tahun ini?

Saya tertarik menelisiknya lebih jauh. Bagi saya, sinyalemen APJ ini bermakna sangat dalam. Begitu dalamnya hingga MMD merasa perlu menanggapinya secara emosional dengan mengatakan pandangan APJ bertentangan dengan pandangan pesantren.

Pertanyaan hipotesis yang sepertinya ingin diajukan APJ kira-kira demikian; jika ada peristiwa hari ini namun laporannya ditulis 150-200 tahun mendatang, sejauh mana akurasi pemberitaannya?

Dalam pandangan saya, APJ sebenarnya ingin mendorong semua pihak berfikir kembali dengan nalar kritis –nalar yang kerap diharamkan ketika berhadapan dengan teks agama.

Dalam teori riak air, semakin jauh dari pusat riak, sebuah gelombang
akan semakin kecil dan habis. Cara berfikir ini bisa diimplementasikan
dalam berbagai studi, termasuk sejarah hadits.

Zubayr Siddiqi dalam salah satu
karyanya, “Hadith Literature: Its Origin, Development And Special Features,” membeber secara benderang sejarah perhaditsan yang diwarnai berbagai praktek tidak terpuji fabrikasi hadits. Praktek ini barangkali yang membuat al-Zurqani (w. 1710) menyatakan Kitab Muwatta’ milik Imam Malik (w. 793), kitab kodifikasi hadits paling awal, hanya memilih ratusan hadits dari sekitar 4.000 – 10.000 yang ia kumpukan.

Pemalsuan ini memang tidak bisa dilepaskan dari kuatnya sosok agung dan berpengaruhnya nabi Muhammad. Hal ini saya yakini
menggoda banyak pihak untuk membawa-bawa figur ini sebagai
legitimasi.

Ibn Hazam, sebagaiman dikutip Siddiqi dari al-Dhahabi (w. 1348 M), menyatakan pemalsuan otoritas Nabi pertama kali berlangsung saat di Madinah, Nabi masih hidup. Saat itu ada lelaki yang datang ke salah satu suku mengaku mendapat mandate dari Nabi.

Kabarnya, dia berbuat demikian karena tengah mengicar perempuan dari suku tersebut. Saat dikonfirmasi langsung salah satu elit suku, nabi membantah dirinya telah memberikan otoritas tersebut. Ketika kekuasaan Islam berada ditangan Abu Bakar dan Umar, pemalsuan hadits yang dilakukan oleh orang murtad meningkat. Itu sebab keduanya sangat selektif terhadap hadits. Abu Bakar dikabarkan pernah membakar 500 hadits yang dianggapnya bermasalah.

Booming hadits abal-abal semakin menggila pascameninggalnga khalifah III Utsman bin Affan. Hal ini disebabkan tajamnya fragmentasi umat Islam seiring menguatnya konfrontasi politik sebagai akibat perpecahan di internal umat Islam. Perpecahan ini terus awet sebagai konsekuensi gagalnya Ali bersikap tegas terhadap para pelaku pembunuh Utsman. Ini skisma terbesar umat Islam yang dampaknya masih terasa hingga kini, yakni ketegangan dua raksasa Islam; Sunni - Syiah.

Perpecahan ini menjalari tidak hanya dalam aspek hukum Islam, namun juga merangsek hingga filsafat, teologi dan aspek lainnya. Dalam konteks ini, hadits menjadi perangkat penting pertikaian, terutama untuk mengungulkan kelompoknya sekaligus menjatuhkan lawan politiknya.

Begitu "produktifnya" hadits mengalami pembiakan, Dr. Mahatir Mohammad pernah menyatakan Bukhari, yang hidup 200an tahun setelah Nabi wafat, mengumpulkan lebih dari 600.000 hadits. Dari ratusan ribu tersebut, dia hanya memilih sekitar 7000an saja untuk dikumpulkan dalam kitab Sahih yang dianggap sangat otoritatif di kalangan Sunni. Itu pun, setelah disinkronisasi agar tidak terjadi duplikasi, jumlahnya menciut jadi 2712 hadits.

Catatan dari al-Amini dalam al-Ghadeer vol. 5 sungguh menarik. Menurutnya, hingga tahun 200 Hijriyah (1858 Masehi), dari total 600.000 hadits, sebanyak 408.324 dianggap hasil fabrikasi oleh 620 pemalsu.

Saya tidak terlaku yakin semua muslim Indonesia tahu mengenai sejarah gelap pemalsuan hadits. Sejarah ini nampak dikunci rapat. Tidak banyak yang tahu karena bersifat tabu.

Egoisme peradaban Islam kontemporer telah sedemikian tingginya hingga memaksa banyak orang merasa jengah jika ada pihak yang mulai mengingatkan soal ini. Alih-alih memberikan ruang diskusi yang nyaman, APJ malah dirisak sedemikian rupa di media sosial.

Saya setuju dengan MMD bahwa hadits yang digunakan, salah satunya oleh kalangan pesantren, telah mengalami proses filterisasi sangat ketat. Dalam pandangan saya, ini sekaligus meneguhkan keberadaan hadits-hadits lain yang bermasalah (sehingga perlu difilter).

Di luar ketelitian mahahebat yang pernah dilakukan Bukhari maupun Muslim, perkembangan kritik-hadits era kontemporer malah menunjukkan perkembangan yang mengejutkan. Adalah Jamal al-Banna, sarjana Mesir adik Hasan al-Banna pendiri Ikhwan al-Muslimin, yang berani melakukan kritik secara terbuka terhadap dua kitab hadits paling otoritatif di kalangan Sunni; Sahih Bukhari dan Sahih Muslim.

Melalui karyanya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, "The Cleansing of Bukhari and Muslim from Useless Hadiths," Jamal menilai terdapat 653 hadits bermasalah di dua kitab tersebut. Hadits-hadits tersebut, menurutnya, berkisar tentang hal-hal yang merendahkan martabat perempuan, membelenggu kemerdekaan beragama dan keharaman berpindah dari Islam (murtad), pemaksaan masuk Islam dan penggunaan kekerasan atas nama agama, keajaiban mukjizat Nabi serta cerita-cerita yang tidak logis (Pierce 2012).

Sebelum Jamal, ada juga nama Zakaria Ouzon yang mengeluarkan trilogi karya kritiknya terhadap Bukhari, Muslim dan Imam Sibawayh, salah satu judulnya cukup kontroversial, Jinayat al-Bukhari: Inqadz al-Ummah min Imam al-Muhadditsin --Kejahatan al-Bukhari: Menyelamatkan Umat dari Penghulu Para Ahli Hadis (Novrianto 2008)

Quo Vadis Hadits?
Skandal 200 tahun di ILC telah menggiring semua muslim untuk merenung secara serius saat berhadapan dengan sumber hukum Islam in. Hemat saya, dalam hal ini kita setidaknya memiliki tiga pilihan; mengamini mentah-mentah apapun yang dianggap sebagai hadits dan menggunakannya untuk mengcopy-paste masa lalu ke saat ini (model revivalis-salafis); meletakkan hadits dalam konteks lebih luas sesuai semangat substantif Islam (model rekonstruksionis-reformis); atau menganggap hadits sebagai "anak dari zamannya" yang belum tentu dapat dipakai dengan ukuran saat ini (model dekonstruksionis-kritis).

Sekarang ini, banyak organisasi Islam seperti kroni-kroni HTI telah sedemikian terobsesi mengubah Indonesia menjadi khilafah Islam. Di sisi lain, MMD, APJ, NU dkk. secara tegas menolaknya. Kedua kubu sama-sama mengklaim punya justifikasi hadits. Mana yang benar? Waktu yang akan menguji. Wallohu a'lam

Monday, July 20, 2020

Tentang Tuhan Yang Berbuntut Panjang

Aku tak menyangka. Keterlibatanku sebagai narasumber di webinarnya Srikandi Lintas Iman, Sabtu (18/7), berbuntut agak panjang.

Saat itu aku memaparkan pandanganku seputar kesalihan dan Tuhan. Dan besoknya, aku dichat oleh salah satu orang yang mengaku peserta webinar.


Sebut saja namanya Qibtiyah. Muslimah berkeluarha. Ia tidak menjelaskan detil latar belakangnya padaku. Aku tak keberatan dengan hal itu.

"Saya mendapatkan nomor gus Aan dari Instagram," ujarnya.

Kami selanjutnya berkorespondensi via Whatsapp. Lebih tepatnya, Qibtiyah mengurai kemarahan dan kegelisahannya selama ini. Ia gelisah dengan dirinya dan menuding Tuhan tidak lagi mencintainya.

Ah betapa aku sangat senang ia berani berfikir seperti itu.

Berikut ini adalah percakapan kami. Aku mengedit penggunaan kata yang ia tulis agar sebisa mungkin bisa lebih dipahami maksudnya.

Salam.

Aan

-----

19/7/2020 Qibtiyah:
Assalamualaikum Gus, perkenalkan nama saya Qibtiyah. Saya adalah salah satu peserta pada Webinar Srili tentang mengenal kesalehan & Tuhan. Saya sangat terpicu oleh diagram yang Gus sampaikan yang terdiri dari kita, agama, sekte & ritual serta kesalihan. Oleh sebab itu saya bertanya apakah mungkin kita mencintai Tuhan tanpa melalui agama, sekte & ritual. 

Jawaban dari Gus tentang Tuhan yang Rahman & Rahim sedikit melegakan saya tetapi itu pula membuat saya tidak bisa tidur tenang karena pikiran-pikiran yang ruwet. Saya seorang muslimah tetapi telah lama saya marah akan konsep ketuhanan. Saya merasa tidak suka atas aturan-aturan yang diberlakukan untuk perempuan. 

Saya kecewa dengan konsep anak berbakti dan istri solehah, seolah-olah seberapapun usaha yg saya lakukan sebagai anak perempuan & istri tidak akan terhitung bila tanpa restu orang tua dan suami. 

Bertahun-tahun saya mencoba menjadi seperti itu tetapi kecewa dan galau terus. Hal ini membuat saya mempertanyakan kasih sayang Tuhan. 

Saya berterima kasih karena Tuhan dengan rencananya mempertemukan saya dengan webinar kemarin. Sebab saya mendapatkan pencerahan atas kegalauan yang telah saya jalani selama 7 tahun ini.

Dua tahun terakhir ini saya memiliki konsep bahwa saya mencintai Tuhan (dalam Islam). Namun saya tidak ingin terikat dengan aturan-aturan yang saya pikir sangat patriarki dan mengekang kehidupan saya -- baik sebagai anak yang terus-menerus dituntut berbuat apapun atas nama berbakti pada orang tua dengan mengabaikan perasaan saya sebagai seorang anak, maupun sebagai istri. 

Saya muak dengan semua penindasan yang dilakukan --atas nama istri harus solihah agar mendapat ridha seorang suami. Saya diwajibkan harus tabah menerima semua perilaku buruknya kepada saya. 

Saya marah, Gus. Marah dgn Tuhan. Saya merasa Tuhan tidak adil. Saya begitu mencintaiNya, melalukan apa yg diperintahkanNya sesuai apa yg diajarkan sejak kecil, mati-matian. Tapi Tuhan malah menempatkan saya  di titik terendah. 

Saya enggan melakukan itu semua lagi. Saya terus-menerus mempertanyakan aturan-aturan itu, Gus, hingga titik konsep ketuhanan yang saya rumuskan semdiri saat ini;  bahwa saya bisa tetap mencintaiNya tanpa perlu terikat pada aturan-aturan dan ritual-ritual itu. 

Saya tetap mencintai Tuhan Islam saya Allah SWT tapi menolak semua penindasan terhadap diri saya atas nama aturan danritual. Beberapa org mengatakan saya sesat karena saya hanya Islam di KTP tanpa menjalankan ritual-ritual dan hukum keagamaan secara menyeluruh.

Namu saya merasakan kedamaian, Gus. Damai dalam hati saya. Saya lebih bisa mencintai Tuhan tanpa beban, menerima manusia dengan welas asih dan mentolerir semua perbedaan yang ada. 

Karena itu saya ingin bertanya pada Gus, apaka keIslaman saya memang tersesat? Apakah saya tidak pantas mendeklarasikan diri saya Islam tanpa menerima semua aturan-aturan dan konsep-konsep perempuan dalam Islam? 

Mohon pencerahannya Gus. 

Terima kasih sebelumnya Gus. Oh iya maaf sebelumnya saya memutuskan menghubungi Gus setelah stalking IG Gus semalam dan menemukan kontak ini πŸ˜πŸ˜πŸ™πŸ™


-----


[7/19, 17:20] Aan Anshori: Hai Qibtiyah.. Thank you mempercayaiku membaca keresahanmu. Aku merasa terhormat. 

Apa yang kita rasakan dalam beragama adalah sesuatu yang penting. Itu sebabnya Gusti kabarnya pernah bilang "siapapun yang sudah tahu tentang dirinya maka ia akan mengenalKu,". 

Menurutku siapapun punya kemerdekaan untuk mengenal Tuhannya. Bukan hanya "punya," namun juga harus "merasa merdeka," mendefinisikan model relasinya dengan Tuhannya. Model bertuhan secara personal, menurutku perlu dipikirkan sebagai alternatif tatkala model mainstream tak lagi nyaman diikuti.

Model mainstream adalah kreasi/persepsi manusia/ulama atas Tuhannya. Belum tentu model tersebut satu-satunya yang dikehendaki Allah. 

Ini berarti sangat mungkin kamu marah terhadap Tuhan yang digambarkan oleh model mainstream. Belum tentu Tuhan seperti itu.

Ciptakanlah modelmu sendiri, pastikan outputnya adalah rahmatan lil 'alamin. 

Soal perempuan, ya aku tahu betapa misogini-patriarkhisnya fiqh kita. Aku kadang ketawa sendiri melihat bagaimana mereka/fiqh mengatur perempuan. Mereka mengatasnakan Tuhan mengatur orang lain. 

Dalam bertuhan, merdekakan dirimu ya, sebagaimana Lady Sukayna memerdekakan dirinya sendiri.☺☺☺

http://www.aananshori.web.id/2017/05/lady-sukayna-sejarah-islam-berhutang.html?m=1

-----
[7/19, 18:26] Qibtiyah: Wah terima kasih Gus atas responnya. Saya membacanya sambil tersenyum, ada rasa lega. Saya suka dengan konsep merasa merdeka mengenal Tuhan. 

Sejarah tentang Lady Sukayna membuat saya terkagum-kagum bagaimana seorang perempuan di jaman dahulu begitu sangat modern pemikirannya tapi jarang dikemukakan riwayatnya. 

Oh iya Gus, saya dulu diajarkan tentang sejarah penyebarluasan Islam. Menurut pengetahuan saya  bahwa Islam juga disebarluaskan dengan jalan peperangan, dan berbagai film2 (terutama India - maaf saya penggemar India😁) menceritakan bahwa penyebaran Islam menggunakan penaklukan wilayah-wilayah. 

Saya ingin minta pendapat dari Gus bagaimana saya dapat mengenal kembali Islam dari awal dimana hanya ada kedamaian di dalamnya, apakah ada sumber referensi yg bisa sy pelajari?

[7/19, 20:11] Aan Anshori: Iya dong.. Islam disebarkan, kala itu, dengan banyak cara. Yang paling dominan, ya menggunakan kekuatan militer, sejak jaman Nabi. 

Banyak orang Islam yang tidak bisa menerima ini karena mungkin dianggap aib. Namun, facts are stubborn. Banyak kok buku yang mengulas soal ini.

----
[7/20, 14:45] Qibtiyah: Hari ini saya terbangun dengan perasaan yang sangat lega dan bahagia. Terasa seperti lahir kembali. Saya tahu sekarang bahwa Tuhan sangat penyayang & pengasih, yang akan menerima saya apa adanya tanpa tuntutan. Tuhan saya lebih tinggi dan pemurah dari semua aturan-aturan yang yang dibuat atas nama Agama. 

Tuhan yang akan memeluk saya maupun saudara-saudara yang beragama lain maupun tidak beragama dengan kasih sayangnya. 

Terima kasih, Gus. Jika Tuhan tidak mempertemukan sy dgn Webinar kemarin & menguatkan saya untuk mengechat Gus mungkin saya akan tetap melalui hari saya dengan mempertanyakan Tuhan saya. 

Semoga Gus sehat selalu & selama sy belajar kembali tentang Tuhan mudah2an Gus tidak berkeberatan bila nantinya saya bertanya kembali apa-apa yang saya temukan dan membuat resah. πŸ™πŸ™

----
[7/20, 15:06] Aan Anshori: Haii... Duh.. Aku ikut senaaaang.... Senang karena Qibtiyah semakin bisa menemukan dirinya sendiri. God loves us no matter how bad we are. 🌹

Wednesday, July 15, 2020

MERAGU DAN LUCIFER MORNINGSTAR

Siapa saya ini, berani-beraninya membincang Tuhan dan kesalehan di hadapan banyak orang? Saya sendiri  masih ragu dengan kualitas dua hal tersebut dalam diri saya. Namun bukankah kita semua harus terus meragu agar bisa percaya?

Seminggu terakhir ini, saya sedang gandrung menonton serial Lucifer Morningstar di Netflix. Sosoknya secara umumnya dianggap sebagai energi atau kekuatan setara tuhan yang merepresentasi  sisi paling jahat dan mengerikan. Barangkali, penggambaran Lucifer paling "ideal' ada dalam film The Exorcism of Emily Rose.


Namun Lucifer Morningstar (LM) dalam serial Netflix benar-benar memporakporandakan imaji kebengisan dan kekejaman Lucifer --dalam pandangan klasik.

Ia, dengan akses British medok, digambarkan begitu seksi, charming, good-looking, dan pintarnya minta ampun.  Tidak ada satupun perempuan dan gay yang tidak kedodoran jika berhadapan dengannya.

Dalam film tersebut, ia diceritakan kabur dari neraka --tempatnya, dan turun ke Los Angeles. Kekaburan ini merupakan bentuk protesnya pada Sang Ayah (Tuhan); kenapa ia diperlakukan sangat buruk dan semena-mena dengan cara ditaruh sebagai penanggung jawab Neraka. Tempat aneka kebengisan, ketidakmanusiawian, dan angkara murka bersatu padu.

Di Los Angeles, LM menubuh dan mendaging, menjadi manusia dan berinteraksi langsung dengan manusia lainnya. Uniknya, pelan tapi pasti, watak kejam dan jahatnya mulai luntur. Sedikit demi sedikit pria ini berubah menjadi baik dan mengasihi.

Kenapa bisa demikian? Jawabannya sederhana; ia terus dibenturkan dengan realitas-langsung, bukan angan-angan dari langit. Benturan ini laksana tetesan air yang terus-menerus menimpa batu hitam, hingga cekung.

Lucifer Morningstar menjadi perenungan serius bagi saya menyangkut bagaimana kita mempersepsi tentang Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam agama Islam, tuhan Allah dipercaya mempunyai 99 nama. Uniknya, ada beberapa nama yang terindikasi merepresentasi sosok Lucifer klasik. Misalnya, al-dhaar (yang maha menimpakan kemudlaratan), al-Qabith (yang maha menyempitkan), dan al-Mudzil (yang maha menghinakan).

Saya tidak terlalu peduli seberapa banyak kita mau menyematkan nama atau sifat Tuhan yang beraroma negatif. Sebab Tuhan, dalam pikiran saya, punya otoritas untuk memilih --atau tidak memilih-- apa saja yang Ia kehendaki. 

Ia juga tidak butuh dipercayai atau tidak dipercayai oleh cipataannya. Pandangan kita atas keberadaannya, saya kira, tidak akan memengaruhi ketuhanannya.

Semudah itu.
 
Ya, tuhan memang mudah sekaligus rumit. Mudah karena Ia --secara logika-- gampang ditemui. Kapanpun, dimanapun, oleh siapapun. Ia adalah representasi kasih-sayang terbaik gabungan dari orangtua. 

Namun jangan lupa, di sisi lain, Ia juga sekaligus rumit. Sebab, namaNya seringkali dibawa-bawa untuk menghancurkan, menindas, mengkorupsi, bahkan tidak jarang namanya dicatut untuk memperkosa dan melecehkan identitas gender tertentu.

"Wajah baik" tuhan terlihat begitu babak belur dan  sangat direndahkan dengan adanya praktek-praktek di atas, Menghinakan, menyempitkan dan menciptakan kemudlaratan --ketimbang mengagungkan, meluaskan dan merawat kemanfaatan.

Sifat-sifat ini akan selalu ada, sebagaimana Lucifer. Namun saya berharap, akan ada tambahan nama di belakangnya menjadi; Lucifer Morningstar. (*)

Featured Post

Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 35

Rilis Jaringan NU Kultural (JANUR)  Jombang, 19 Agustus 2026 Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 35 Muktamar ke-35...