Pages

Sunday, December 24, 2017

Dekri dan Eljibiti di Warkop Cak Cip


Jangan ngaku mahasiswa Univ. Darul Ulum (Undar) jika tidak kenal Cak Cip. Bagiku, ia adalah mahadosen semua jurusan untuk matakuliah kerendahan hati melalui secangkir kopi. Warkopnya tak pernah sepi meski kampus ini pernah sekarat gara-gara dualisme kepemimpinan.

Sedangkan Dekri? Ia adalah salah satu selebritis gerakan mahasiswa Undar pertengahan 90an saat aku masuk kampus ini. Nama lengkapnya Chalid Tualeka. Silahkan digoogling nama itu.

Saturday, December 16, 2017

Donasi untuk Pembangunan Gereja GKJW Sumbermbag Malang


Kawan-kawan,

Beberapa hari lalu, saya dikontak oleh kawan saya, Cahyo Saputro, pendeta GKJW Sumbermbag Sitiarjo Sumbermanjing Malang bagian selatan. Ia menceritakan usahanya membangun sebuah pepantan (pos) dari gereja induk beberapa tahun ini.

Jauhnya lokasi gereja induk dengan rumah warga merupakan alasan pendirian pepantan tersebut. Para jemaat sudah membuat rencana dan prosesnya pembangunannya telah mencapai sekitar 75%.

Mereka sedang berusaha mendapatkan dana publik untuk menutup kekurangan biaya sekitar 20 jutaan, dari total anggaran sekitar Rp. 120 juta. Sudilah membantunya jika punya kelebihan rejeki.











Jika ada pertanyaan lebih lanjut, silahkan kontak ke Pdt. Cahyo Saputro (Mbing) +62 812-3552-7946 081804325682 - 085334341225, atau Facebook Cahyo Saputro.


Terima kasih,


Aan Anshori
08155045039

Tuesday, November 28, 2017

Hitam-Putih di GKI Pondok Indah

Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer --semena-mena; hitam-putih. Yang satu merasa lebih superior sembari menista yang lain sebagai "yang lebih rendah".  Seluruh bangunan pengetahuan kemudian dibangun untuk mengokohkan itu.

Agama langit datang mendaku sebagai yang superior. Kepercayaan lokal yang lebih dulu datang dituding menjadi yang sesat.

Oleh yang "putih", " hitam" adalah gelap --musuh dari terang. Tidak boleh ada percampuran. Sebab, percampuran berarti pengkhianatan yang berakibat timbulnya berbagai konsekuensi, termasuk eksklusi, perdikan, ekskomunikasi, dan alienasi.

Malam itu, Senin (27/11), dalam peneguhan Pdt. Bonnie, kawan saya yang bertugas di GKI Pondok Indah, saya menabraki itu semua. Hitam bercampur putih. Gelap mengkhianati takdirnya; menelusup di antara yang hitam. Anehnya, oleh yang hitam, saya yang putih tidak dipandang sebelah mata. Sebaliknya, saya dirangkul dengan hangat tanpa dipaksa menjadi hitam.

Saya pernah mengikuti berbagai macam upacara ritual kekristenan, Hindu, Buddha, Khonghucu, dan pernah begitu dekat dengan aliran kepercayaan. Namun saya tidak pernah merasa sedemikian dekat seperti malam itu.

"Gus, nek awakmu nyaman pakai sarung, gaween wae," ujar Bonnie di lantai tiga. Saya memang membawa sarung di ransel yang memang sudah seperti rumah kedua saya. Saya datang memakai celana hitam, hem putih mengkilat pemberian orang, dan peci hitam kebanggaan saya.

Sejak dalam perjalanan ke Jakarta, saya sudah berniat memakai sarung dalam acara itu, namun saya agak ragu, takut terlalu demonstratif di rumah orang lain. Saya perlu menjaga perasaan. Namun permintaan Bonnie merupakan konfirmasi sebagai pemilik rumah.

Saya kemudian berbaris bersama puluhan pendeta perempuan dan laki-laki. Hampir semua dari GKI. Ada juga kawan saya, Pdt. Palti Panjaitan dari HKBP dan kawan sebangku saya, Pdt. Eben dari GKJ --ternyata ia adalah "adik" Pdt. Ratih GKJ Manahan. Ah betapa dunia sempit sekali seperti metromini.

Setelah hampir seribuan tamu undangan duduk rapi dalam gereja yang berarsitektur lumayan artistik itu, saya dan para pendeta diminta masuk ruangan, berjalan dengan gagah membelah ruangan, seperti sepasukan Musa. Semua pasukan berseragam hitam, kecuali saya, satu-satunya yang putih.

Saya edarkan pandangan ke seluruh ruangan saat kami membelah lautan manusia. Saya merasa tidak sedikit sorot mata ditubrukkan ke saya. Perasaan saya campur aduk membayangkan apa yang ada di benak mereka. "Kenapa kesucian hitam harus dikotori oleh slilit berwarna putih pada momen ini?", "Kok bisa orang Islam itu diletakkan pada posisi setinggi itu? Berbaris bersama para laskar Kristus yang punya kuasa melakukan sakramen"

Saya berusaha menerka-nerka benak mereka.

Anda mungkin tidak percaya, namun tidak mudah menjadi yang liyan di tengah sebegitu banyak orang. Apalagi saya diperbolehkan duduk di atas panggung bersama para laskar pilihan.

Ada sekitar dua fotografer resmi yang mengambil gambar selama acara berlangsung. Dan saya tahu ia berkali membidik saya dari berbagai angle, candid. Saya melirik mereka.

Setelah melalu serangkaian acara duduk-berdiri-duduk-berdiri, tibalah puncak penahbisan Pdt. Bonnie dan emiritasi Pdt. Purbaya. Kami para laskar berkumpul di depan mimbar menyaksikan keduanya saling "mengeksekusi" -- Pak Purbaya meneguhkan Bonnie sebagai penggantinya, Bonnie mengangkat Pak Purbaya dalam jabatan emeritusnya.

Saya melihat proses itu dalam jarak kurang dari semester.

Mungkin banyak orang menganggap  saya sebagai asesoris pemanis, seperti warna putih dalam kue black forrest. Namun hal itu tidaklah cukup tepat.

Keputihan saya adalah a blatant public statement --that is it is absolutely normal to be part of sacred different faith moment.

Saya sendiri secara diam-diam meyakini, sebagai penggerak GUSDURian, perlu ikut meneguhkan Bonnie sebagai kader penggerak keragaman. GKI Pondok Indah adalah area formal pelayanannya nanti, namun sesugguhnya tanggung jawab Pdt. Bonnie adalah kemanusiaan secara luas di Indonesia.

Bagi saya, ia hanya "dititipkan" di Pondok Indah, sebagaimana Pdt. Palti yang ditempelkan di HKBP. Penitipan dan penempelan itu sifatnya mutahawwil (berubah), sedangkan tugas utamanya menjaga Indonesia berstatus tsubut (permanen).

Selamat berkiprah, Bonnie!

*warkop depan stasiun Mojokerto 29/11/2017.
* credit photo Pdt. Palti

Friday, November 17, 2017

Undangan Berpartisipasi Menerbitkan Buku Narasi Memori "Ada Aku di antara Tionghoa dan Indonesia"


KAWAN-KAWAN, setelah melalui proses panjang akhirnya kami bisa mengumpulkan sekitar 70an tulisan  narasi memori Tionghoa. Penulisnya datang dari latar belakang yang sangat beragam; pendeta, santri, bhante, seniman, guru, ustadz, dosen, teolog, pengacara, ibu rumah tangga, aktifis, mahasiswa, Kristen, Islam, Buddha, Khonghucu, agnostik, hetero, homo, Jawa, Madura, Tionghoa, campuran, dll. Tumplek blek.

Sebagian nama penulis, bisa dicek di sini. Dan menariknya, mereka menulis secara sukarela alias tidak dapat honor.

Tulisan-tulisan itu merupakan cerita personal masing-masing penulis kala bersinggungan dengan TIONGHOA. Ada suka, namun kebanyakan bercerita tentang duka.
Kini tulisan ini tengah dalam proses editing dan layout.
Jika Anda memandang proyek ini akan bermanfaat bagi peradaban, kami mengundang Anda untuk bisa lebih terlibat dalam penerbitan dan kampanye buku ini.

Caranya? Silahkan donasikan sebagian rejeki anda melalui BCA Prapen Surabaya nomor rekening 5120458304 a/n Sujoko Efferin atau Rovien Aryunia (qq). Tidak harus banyak, Rp. 10.000 pun akan kami terima.

Selain itu, kami juga terbuka menerima bantuan selain berupa uang. Sungguh, jangan sungkan menghubungi kami melalui Rovien Aryunia +62 821-3926-0077 atau Sujoko Efferin +62 855-3008-789.

Nama penyumbang akan dicantumkan dalam lampiran di buku tersebut. Dengan donasi ini, kami berusaha agar buku ini bisa didapat dengan biaya sangat murah, bahkan gratis.
Thank
Love you

Aan Anshori
08155045039
IG @gantengpolnotok
Twitter @aananshori
FB aan.anshori@gmail.com
http://www.gusdurianjombang.id
http://www.aananshori.web.id

Friday, November 10, 2017

Ave Maria dan Rumitnya Cicit Perempuan Nabi

Saya trenyuuuh menonton video yang viral dibagikan oleh akun FB Boedi Suhardi. Dalam video berdurasi 01:39 detik itu, seorang perempuan berjilbab sedang menyanyi Ave Maria di misa requirem, di Gereja Katedral Bogor. Perempuan yang tidak disebut namanya itu, menurut pengunggah status, adalah kawan dari almarhumah, Chatarina Suyanti. Entah siapa dia, saya tidak kenal.

Yang saya tahu, dari ratusan komentar di status tersebut hampir semuanya menyatakan kekagumannya. Terhadap apa pastinya, saya juga tidak yakin.

Namun hipotesis saya mengatakan, mereka tersihir oleh dua hal; keberaniannya menyanyikan Ave Maria dengan seluruh atribut muslimah yang ia kenakan di Katedral, serta suaranya yang sangat menyayat-nyayat. Nampak jelas ia begitu berduka dan mampu meluapkannya melalui nyanyian itu.

Islam, perempuan, nyanyi dan pemakaman merupakan  diksi yang tidak bisa akur. Jika anda perempuan, jangan pernah berfikir untuk berani menyanyi lagu sedih di pemakaman orang Islam. Kenapa bisa demikian? Saya tidak tahu pasti. "Memang begitulah adanya. Kita berbeda," demikian kira-kira jawaban yang akan saya sampaikan jika ada pertanyaan.

Namun demikian, saya ingin bercerita tentang Abd Malik, laki-laki yang pernah dipercaya menyanyikan lagu kematian (funeral song) saat wafatnya Muhammad al-Hanafiyyah di Masjid Nabawi, 25 Februari 700. Muhammaf al-Hanafiyyah adalah anak dari pasangan Ali bin Abi Thalib dan Khaula bint al-Ja'far al-Hanifah.

"Dia melakukan tugasnya dengan luar biasa. Tidak sedikit perempuan yang hadir saat itu menangis tersedu-sedu. Ratapannya sungguh emosional," tulis A. Arazi dalam entri "Sukayna bt al-Husayn" di Encyclopaedia of Islam. Tidak dijelaskan lagu apa yang dinyanyikan oleh Abd Malik kala itu.

Lantas, siapa sebenarnya Abd. Malik ini? Catatan Arazi hanya menyebutkan ia adalah aeorang budak yang bekerja di rumah Sayyidah Sukayna, cicit Nabi Muhammad, putri pasangan Husayn bin Ali dan Sayyidah al-Rabab bint al-Kays al-Kalbiyyah. Kakek Sukayna dari jalur ibu, Imru al-Kays bin 'Adi, meski Kristen, pernah diangkat sebagai komandan pasukan di wilayah Quda'a oleh Umar bin Khattab.

Talenta menyanyi Abd Malik pertama kali diketahui oleh Sayyidah Sukayna. Selanjutnya ia dikirim untuk belajar kepada Ibn Surayj --musisi Persia spesialis elegi dan improvisasi. Mungkin itu sebabnya Abd. Malik dengan suaranya mampu mengaduk-ngaduk perasaan perempuan saat pemakaman al-Hanafiyyah.

Yang menarik, musisi Persia yang awalnya adalah budak ini meyakini dirinya adalah anak didik (protege) Sayyidah Sukayna. Surayj begitu tawaddlu' pada perempuan ini. Setiap kali menciptakan karya baru, dia selalu menyerahkannya kepada Sayyidah Sukayna untuk dikritisi. Perempuan ini juga kerap mengirim teks-teks kepada Surayj agar dihamonisasi menjadi sebuah lagu.

Meski telah masuk Islam, Surayj kerap mengunjungi rumah gurunya tersebut. Mereka masih sering olah vokal bareng di rumah Sukayna, bahkan selama tiga hari berturut-turut, bersama Azza al-Mayla, penyanyi perempuan kondang di Hijaz (Madinah).

Begitu sentralnya sosok Sayyidah Sukayna di antara para penyanyi bukanlah hal yang mengherankan, sebab ia sendiri adalah penyanyi yang cukup terpandang di Madinah. Selain menyanyi, dia dikenal sangat jago berpuisi.

Kegemarannya adalah kongkow-kongkow bersama para seniman (bohemian) Madinah yang semuanya adalah laki-laki. Dia sendiri aktif membuat forum pertemuan para seniman di rumahnya.

Sayyidah Sukayna memang dikenal punya tempat khusus di dalam rumahnya untuk nongkrong para seniman. Di sana mereka beradu karya dan gengsi sebagai penyair. Puisi-puisi yang berkualitas kerap ia apresiasi dengan hadiah berupa uang. "Was it you who wrote the following verses?" katanya sebagaimana dikutip Arazi dari Kitab al-Aghani.

Kepiawaiannya dalam menyiasati puisi begitu terlihat, terutama saat otoritas Madinah menerapkan sensor ketat terhadap penyair yang puisinya bergenre ghazal (baca: Guzzle) --- sejenis puisi yang mengekspresikan rasa kehilangan dan cinta. Mungkin saat itu para penyair dianggap terlalu vulgar dalam mengekspresikannya.

Anda bisa bayangkan; cicit nabi, perempuan, jago nyanyi dan puisi, tidak berjilbab, --mengorganisir para seniman Madinah pada rentang 690-700 masehi!

Sebagai seorang seniman, Sayyidah Sukayna digambarkan berkepribadian terbuka dan kerap berpenampilan eksentrik. Cara dandannya melawan arus kebanyakan perempuan Islam Madinah waktu itu. Rambutnya dibiarkan terurai ikal tanpa penutup kepala.

Mungkin itu sebabnya banyak laki-laki yang antri mengharap cintanya. Namun tentunya hal itu tidaklah mudah karena Sukayna kerap mengajak debat siapapun yang berniat memperistrinya. Mungkin banyak laki-laki yang berfikir; diajak kawin kok malah ngajak debat dulu.

Sukayna setidaknya menetapkan 4 syarat berat bagi siapapun calon suaminya: dia tidak mau dibebani urusan domestik, tetap diperbolehkan beraktifitas sebagaimana sebelum menikah, memiliki hak nusyuz (membangkang --dalam term perkawinan hetero patriarki-misoginis), serta tidak mau diduakan --baik oleh istri lain atau budak (jawari).

Dari sini, betapa sangat terlihat ia memiliki keberanian mengontrol tubuh dan hidupnya sendiri, tidak seperti kebanyakan perempuan pada masa awal Islam atau jaman now.

Jiwanya yang bebas membuat Sayyidah Sukayna  berbeda 180 derajat dengan Fatima, kakak tirinya, yang kabarnya lebih pendiam. Ketika ditanya kenapa kepribadian mereka sangat kontras, ia menjawab --sebagaimana temuan Leila Ahmed dalam bukunya Women and Gender in Islam, "...because she (Sukayna) had been named after her pre-Islamic great-grandmother, whereas her sister (Fatima) has been named after her Islamic grandmother,"

Dari garis ibu, penelusuran sementara saya menunjukkan Sayyidah Sukayna adalah putri Rubab binti Hind al-Hunud binti Safiyyah bint Umayyah.

Saya hampir tak percaya jika ada darah Hind al-Hunud mengalir dalam diri Sayyidah Sukayna, namun situs wikishia.net menyebut demikian. Hind al-Hunud adalah nama lain dari Hind bint Uthbah, ibu tiri Ummu Habibah Ramlah bint Abi Sufyan.

Nenek Sukayna bukanlah tipikal perempuan yang mau diperlakukan semena-mena oleh suaminya. Dalam History of the Caliphs, milik al-Suyuti dan Jarrett, Hind pernah ditendang suaminya, Al-Fakah, karena dianggap selingkuh. Meski Hind kukuh menolak tuduhan itu namun alFakah ngotot menceraikannya.

Ayah Hind sangat marah mendengar anaknya diperlakukan demikian. Dia berjanji akan membunuh menantunya. Namun sebelum itu, ia meminta Hind dan al-Fakah menemui dukun dari Yaman; untuk memastikan Hind berbohong atau tidak.

"Ngadeko, nduk. Kowe suci, ora nglakoni zino. Kowe bakal nduwe anak sing dadi rojo," kata sang dukun. Mendengar hal ini al-Fakih langsung mengulurkan tangan ke Hind, ingin mengajaknya berbaikan. "Nyingkrio, mas. Gak sudi aku. Tak golek wong lanang liyo ae," ujarnya ketus sembari mengibaskan uluran tangan suaminya.

Di kemudian hari, Hind menikah dengan Abu Sufyan dan diberkahi bayi laki-laki bernama Muawiyah, khalifah kedua Dinasti Umayyah setelah Utsman bin Affan.

Nenek Sukayna ini juga sangat tersohor sebagai komandan perang Bani Qurays yang epos keberaniannya tak akan hilang dalam sejarah Islam awal.

Anda mungkin tidak percaya, ia kerap membaca puisi, bernyanyi dan menari secara berjamaah setiap kali memimpin pasukan atau menyemangati mereka yang terjun ke medan perang. Dalam pertempuran Uhud, begini yang ia lantunkan sebagaimana yang dicatat al-Waqidi dalam Islamic Conquest of Syria/Futuh al-Syam.

Night star's daughters are we,
who walk on carpets soft they be
Our walk does friendliness tell
Our hands are perfumed musk smell
Pearls are strung around these necks of us
So come and embrace us
Whoever refuses will be separated forever
To defend his women is there no noble lover?

Dan setelah pindah menjadi muslim, nenek Sukayna juga terlibat dalam peperangan Yarmuk melawan Romawi, dan ia tak pernah lupa menyanyi

O you who flees from his loyal lady!
She is beautiful and stands firmly.
You're abandoning them to the Romans to let them the forelocks and girls seize.
They will take what they want from us to the full and start fighting themselves.

Watak pemberani dan kemampuan Sukayna dalam berolah suara maupun berpuisi jelas merupakan warisan moyangnya dari jalur ibu. Serpihan ini sekaligus menantang kita sebagai Muslim untuk memikirkan ulang konsep Jahiliyah --sebuah era yang didogmakan sangat tidak ramah perempuan.

Terlalu banyak perempuan hebat dalam kerangka feminisme yang punya afiliasi historis dengan era itu. Sejarahnya lamat-lamat semakin terkubur dan sekilas seakan muncul kembali dalam bentuk yang sangat mencengangkan; perempuan berjilbab yang melantunkan Ave Maria di Katedral Bogor.(*)

* Halte depan STFT Jakarta*

Friday, October 27, 2017

Yang Terhormat Ibuku


Lihatlah perempuan yang aku lingkari. Itu adalah ibuku, Alfiyah. Ia putri kedua alm. Abdul Wahab, kiai kampung di Plemahan Sumobito Jombang yang pernah menjadi anggota DPR kabupaten dari Partai NU hasil Pemilu 1955.

Ibuku adalah kembang desa, suaranya merdu, dan sangat mandiri secara ekonomi. Ia bekerja menjaga toko pracangan yang ia bangun sejak dari nol di Pasar Mojoagung. Dalam aspek ekonomi, bapakku yang lebih fokus ngurusi politik dan perLSMan sangat beruntung mendapatkannya.

Entahlah, kenapa ibuku memilih dia dari sekian banyak laki-laki yang mengejarnya. Ibu tidak pernah bercerita padaku, kecuali bahwa hubungan mereka tidak direstui oleh ibu dari bapakku. Nenekku, disamping sudah punya calon istri untuk bapakku, nampak cukup terancam dengan kosmpolitanisme ibuku.

Ibuku itu sangat mudah bergaul dengan siapa saja. Yang aku ingat, setiap kali berjalan, ia selalu menyapa orang yang dikenalnya -bahkan ketika yang disapa itu tidak sedang melihatnya sekalipun. Ia tidak segan berteriak hanya untuk mendapat perhatiaannya. Aku kadang sampai malu, "Nek wonge mboten semerap mbok nggih mboten usah diceluk, buk," kataku suatu ketika menahan malu.

Alfiyah muda juga merupakan vocalist grup samroh di kalangan perempuan NU di kecamatan Mojoagung. Grupnya manggung di mana-mana; dari Seketi hingga Suwaru, dari Jonggrong hingga Klampisan.

Saat beromantika dengan bapakku, ibuku adalah seorang janda. Ia dicerai suaminya karena dianggap mandul setelah perkawinan mereka berlangsung 12 tahun. Kata orang-orang yang sezaman dengan ibu, ibuku nangis tanpa henti, tak mau diceraikan.

Bapakku juga berstatus duda dengan dua orang anak; Agus Rifai dan Alifah. Saya menduga, keduanya bertemu melalui kakekku Abdul Wahab, karena bagaimanapun ayah ibuku dan bapakku sama-sama orang politik. Pasti nyambung lah kalau ngomongin Golkar. Aku bisa membayangkan.

Di tengah ketidaksetujuan ibu dari bapakku, bapak akhirnya melamar ibu. Jadilah mereka pasangan suami istri. Tidak lama kemudian lahirlah jabang bayi yang sedang menulis cerita ini.

Ibu dan bapakku saling mencintai, namun tetap saja mertua perempuan ibuku (nenekku) tidak kunjung bisa menerima ibu, bahkan ketika aku telah lahir sekalipun.

Bapakku benar-benar bingung dalam realitas yang bertabrakan ini. Ia begitu mencintai istri dan aku namun di sisi lain ia harus berbakti pada ibunya. Bisa dikatakan ibu adalah menantu yang tidak diinginkan.

Itu juga yang membuat ibu tidak hidup serumah dengan mertua. Hidup berpindah dari satu kos ke kos yang lain. Aku bisa membayangkan betapa stressnya bapakku kala itu. Pernah aku mendengar bapakku diminta menceraikan ibuku. I think you know who gave him the order, right? But he said no.

Ditengah relasi yang tidak ideal seperti itu, pernah suatu ketika ada laki-laki yang ingin bermain api dengan ibuku ---cantik dan supel memang terkadang bisa menjadi semacam kutukan. Mungkin maksud laki-laki itu sekedar berteman saja. Dia baik padaku, suka memberi uang jajan.

Mendengar hal itu, bapakku yang lebih sering ke rumah orang tuanya jadi naik pitam. Ia membawa senjata tajam dan datang ke kontrakan kami di daerah Pekunden, tetangga desa Kauman.

Otoritas daerah Pekunden pun jadi heboh dan berusaha menenangkan bapakku. Aku sendiri masih ingat diungsikan ke tetangga kontrakan, rumah wak polo (kadus).

Relasi ibu dan bapakku terus mengalami pasang surut hingga suasananya membaik pascawafatnya nenekku. Kami semua kemudian pindah ke rumah Kauman; berkumpul bersama dua kakakku. Keluarga kami semakin lengkap dengan kehadiran adikku, Lail, yang lahir saat aku berusia 8 tahun.

I love you!

*ditulis saat kehujanan di pos siskamling Nanggalan Watugaluh Diwek dan teras CU Semangat Warga

Thursday, October 26, 2017

Analisis Pendek Cawabup Jombang --untuk Anggi Radar


Jombang ke depan butuh kepemimpinan yang lebih baik dari duet Nyono-Munjidah karena kabupaten ini punya berbagai persoalan, terutama layanan publik di hampir semua sektor.

Realitas politik hari ini masih menempatkan Nyono Suharly sebagai figur sentral yang punya kesempatan memenangkan pilkada. Peluang yang sama juga dimiliki oleh Munjidah -sungguhpun harus diakui keduanya termasuk bagian dari rezim hari ini.

Keduanya selama lima tahun telah menunjukkan kelemahan fundamental, yakni tidak mampu mengelola birokrasi yang bekerja dalam koridor tata pemerintahan yang transparan dan akuntabel.

Bagi saya, keduanya perlu memikirkan secara serius siapa yang akan digandengnya dengan cara menempatkan kepentingan perbaikan kabupaten ini sebagai prioritas -bukan sekedar hitungan politik menang-kalah.

Cawabup yang harus mendampingi haruslah figur kuat yang mampu memperkuat soliditas birokrasi dalam melayani kepentingan publik dengan sensitifitas terhadap keberadaan Jombang sebagai Kota Toleransi. Sosok cawabup seperti ini haruslah yang bisa berdiri dan melayani semua golongan --tanpa diskriminasi.

Dari beberapa nama yang muncul di permukaan saat ini, saya melihat dua nama yang berpeluang untuk digandeng, yakni Subaidi dan Sumrambah. Keduanya sama-sama politisi yang punya latar belakangan nasionalisme dan rekam jejak aktif di gerakan mahasiswa kelompok Cipayung. Saya melihat mereka juga punya komitmen kuat membesarkan Jombang sebagai kabupaten yang mampu bersaing dengan kabupaten yg lain dalam hal ekonomi, sosial dan budaya.

Namun demikian keduanya masih perlu diuji secara terus-menerus komitmennya, terutama dalam hal transparansi dan akuntabilitas kekayaannya, misalnya sejauhmana mereka taat melaporkan harta kekayaannya ke publik dan penegak hukum.

Parpol yang akan bertarung di pilbup nanti tidak seharusnya egois dalam upaya mengusung calonnya. Pengabaian aspirasi warga akan semakin membuat kabupaten ini lebih lama dalam cengkeraman oligarki politik yang tidak mensejahterakan mereka.

Featured Post

Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 35

Rilis Jaringan NU Kultural (JANUR)  Jombang, 19 Agustus 2026 Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 35 Muktamar ke-35...