Pages

Sunday, October 18, 2020

Menderita di Kelas Agama

Sudah tiga hari ini aku menikmati waktu membaca tulisan para mahasiswaku kelas religion. Aku minta mereka menulis bebas, seputar penderitaan yang paling "berkesan," dalam kehidupan mereka.

Bagaimana jluntrungannya hingga tiba-tiba mereka menulis tentang itu? Topik apa sebenarnya yang sedang kami bahas?

Inilah uniknya kelas Religion di salah satu kampus yang barangkali paling mahal seantero Jawa Timur.

Di kelas ini, agama diajarkan secara agak liberal dan progresif. Yang paling kentara, dosen pengajarnya belum tentu punya agama sama dengan mahasiswanya.

Aku misalnya, Muslim-Jawa, mengajar matakuliah ini di kelas dengan populasi Kristen-Tionghoa lebih dari 90%. Sisanya, Tionghoa Katolik, Khonghucu, Buddha, Jawa-Islam, dan yang menyenangkan, beberapa mahasiswaku mengaku atheis. Paling tidak, agnostik.

Itu sebabnya, topik-topik di kelas Religion kami terbilang cukup berbeda dari pengajaran umumnya di institusi-institusi pendidikan. Misalnya, seputar konsep ketuhanan, simbol dan ritual, agama dan sains, kematian, dan tentu saja; penderitaan.

Kelompok yang mempresentasikan penderitaan telah menunaikan tugasnya dengan sangat baik minggu lalu. Presentasinya memantik pembicaraan hangat di dua kelas yang aku ampu.

"Bukannya penderitaan sebenarnya menjadi bukti Tuhan tidak ada? Atau setidaknya tengah mempermainkan kita, guys? Cobalah kita pikir lagi; kalau dia sayang kita, kenapa ia biarkan kita menderita," kata Jon, nama samaran, mulai memprovokasi kelas. Aku langsung ngakak.

Menurutnya, banyak orang beragama merasa diminta Tuhan untuk membelaNya dalam hal ini. Yakni, dengan menyatakan Tuhan ingin kita menganggap penderitaan ini sebagai ujian, bukan ketidakmampuan Tuhan atau ketidakadaan Tuhan.

Pendapat Jon mendapat respon beragama dari beberapa temannya, yang beragama. Uniknya, mereka tidak marah atau memintaku memarahi Jon atas pendapatnya.
Jon dan siapapun di kelas mendapat perlakuan sama dariku; tak peduli mengakui Tuhan atau tidak; tak peduli beragama atau tidak.

Di kelasku, kami sebisa mungkin menganut freedom to believe or not to believe. Justru yang tidak kami anut adalah kebolehan mempersekusi orang yang tidak sama dengan yang lain.

"Dalam kitab suci, potret penderitaan muncul dalam dua gambar besar; yang tampak dan disadari, serta yang tersembunyi dan kadang tidak disadari," kataku.

Contoh pertama misalnya kisah Ayub atau pekerja seks yang dibela Yesus saat dilempari batu orang-orang kampung. Sedangkan contoh kedua, menurutku, adalah mereka yang mendapat peran jelak dan jahat dalam kitab suci.

"Mereka yang sombong, gemar mengumbar kekerasan dan berprilaku melawan keadilan dan kesensitifan, sebenarnya sedang dalam penderitaan," kataku.

Hanya saja, tambahku, mereka tidak menyadarinya. Mereka merusak reputasinya, dan menjadi contoh sepanjang hayat, agar kita tahu hal itu merupakan perbuatan jelek dan kita berhenti menirunya.

Penderitaan selanjutnya aku tautkan dalam narasi postkolonial, betapa cukup banyak dari kita yang dulu menjadi korban dan menderita. Namun ketika sudah merdeka, mereka malah justru balik membuat orang lain menderita.

"Kini, aku undang kalian untuk menuliskan penderitaan yang pernah kalian alami. Ini undangan lho ya. Ndak wajib. Yang nulis akan dapat nilai," kataku setelah aku terlebih dahulu menceritakan salah satu penderitaanku di Stasiun Senen.

Aku awalnya tak menyangka jika undanganku akan direspon dengan riang gembira. Aku tidak tahu apa motivasinya. Bisa jadi soal nilai, namun aku ragu karena ini matakuliah yang "tidak terlalu penting," menurutku.

Hampir semua mahasiswa mengirimkan tulisan refleksi. Ada yang memberi catatan dalam tulisannya; tidak untuk disebarkan, tidak untuk didiskusikan dalam kelas. Untuk bapak saja.

Namun ada juga yang menuliskan ia tidak keberatan kisahnya dipublikasikan; "supaya tidak ada yang mengalami lagi seperti saya," -- kata Joyce, samaran. Perempuan ini beberapa kali ingin bunuh diri, tidak kuat karena menjadi bahan risakan teman-temannya.

Joyce tidak sendirian. Ada banyak yang menjadi korban serupa saat kecil. Dibully karena agama, fisik, atau sikapnya yang pendiam. Aku membacanya dengan perasaan galau dan teraduk.

Ada juga yang menceritakan penderitaannya, nangis hampir seminggu, kala anjingnya mati. Padahal aku berfikir sebaliknya setelah kejadian dua minggu lalu. "Pak, tolong doain Holy ya. Ia tiba-tiba muntah. Saya harus bawa ke dokter. Saya nggak ikut kelas sampai tuntas ya pak," kata Fara

Soal nangis, bukan Fara saja yang mengalami. Beberapa mahasiswi mengaku kerap menangis karena begitu banyak tugas di kampus.

Tugas seringkali memerangkap mereka, tereksklusi dari teman, rutinitas, dan orang tua. "Orang tua saya kerap marah-marah kenapa saya tak lagi membantu kerjaan mereka. Saya sudah katakan namun tidak dimengerti," kata Annabel, juga bukan nama asli.

Namun yang membuat keningku berkerut sembari tersenyum justru ketika membaca tulisannya Judith.

"...dan penderitaan terakhir yang paling berkesan adalah ketika my dad got caught cheating and had a lover. It was such a heartbreaking thing for us cos he’s actually a very bad person and we didn’t know about it. It was so chaotic and my mom was very stressed and was depressed. It was a very dark memory for our family,"

Kisah-kisah mereka mengingatkanku pada Denzel Washington. Dalam The Equalizer 2, pria ini menyatakan; there are two kinds of pain in this world. The pain that hurts, the pain that alters.

Aku percaya mereka berada dalam kuadran kedua.

Saturday, September 12, 2020

Misteri Sebuah Foto Kafir


Duh gustine jagat, betapa susahnya menemukan foto orang sekaliber Prof. Marilyn Robinson Waldman. Aku hanya ingin melihat wajahnya. Wajah seseorang yang aku anggap sebagai guruku pertama belajar terstruktur memahami soal perkembangang kata KAFIR dalam Islam, khususnya al-Quran.

Perempuan berdarah Yahudi ini merupakan murid Marshall G.S. Hodgson yang tersesohor dengan studi Islamnya. Saking takdzimnya pada Hodgson, Marilyn menyebut namanya dalam paper yang tengah aku baca " The Development of The Concept of Kufr in The Qur'an,"

Begini ia menyebut gurunya, tertulis tepat di bawah judul paper yang terbit di Journal of the American Oriental Society, Vol. 88 tahun 1968, "In memory of Marshall G.S. Hodgson, with whose guidance this was written,"

Aku sejak tadi senyum-senyum sendiri sambil garuk-garuk kepala; bagaimana mungkin aku belajar kitab suciku dari orang yang secara dogmatis (kalisk) terlarang menyentuh --dan apalagi-- mempelajarinya.
Aku sendiri belum selesai membaca paper Waldman, namun secara singkat ia mendalilkan konsep Kafir dalam al-Quran mengalami perkembangan, bersifat adaptif, seiring dengan dinamika yang dialami umat Islam saat Nabi Muhammad hidup.

Awalnya, konsep Kafir merupakan konsep untuk melabeli siapapun yang menjadi lawannya saat di Makkah. Juga pada saat itu, konsep Kafir digunakan sebagai lawan tanding dari konsep Amin (dapat dipercaya?). Amin sendir merujuk pada NM dan para pengikutnya.

Konsep Kafir selanjutnya secara teoritik mengalami perkembangan, khususnya ketika bersinggungan dengan konsep shirk (penyekutuan tuhan/idolatry). Hingga pada akhirnya, saat pewahyuan terakhir alQuran, konsep Kafir terkonsolidasi menjadi sebuah label untuk menyebut siapa saja yang harus diperangi oleh kaum mukmin (mukmin dianggap sama dengan muslim).

Lantas di mana letak kelompok Kristen dalam tahapan evolusi Kafir ini? Nah ini menarik, kekristenan (trinitarian) dianggap sebagai kelompok shirk karena menyekutukan keesaan Tuhan. Persis sebagaimana yang banyak dipahami orang Islam saat ini.

Itu artinya, aku menduga kuat berdasarkan pengalaman didikanku, bisa dikatakan seluruh bangunan pengajaran Islam saat ini menyangkut kekafiran masih menggunakan model ini, model klasik.

Aku terus berpikir apakah evolusi konsep ini telah usai seiring dengan berakhirnya pewahyuan? Nampaknya tidak, sebab menurutku, pewahyuan boleh berakhir namun penafsiran atas wahyu masih akan terus bergerak tak terelakkan. Contoh konkritnya, saat PBNU mencoba memapras runcingan kafir menjadi muwaththinun beberapa waktu lalu.

Sembari memikirkanmu, aku juga terus bergerak untuk dapat menemukan foto Professor Marilyn Robinson Waldman. Aku ingin mengucapkan terima kasih padanya, meski sejak tadi telah mengirim Fatihah padanya.

Thank you, Marilyn R. Waldman!

Saturday, August 8, 2020

Saragih Nomor Berapa? 16? 17? 18?

"Aku ucapkan selamat bagi kalian yang sudah sampai pada level ini. Jangan sampai nggak lulus ya. Ikuti setiap prosesnya dengan baik," kataku menyapa peserta katekisasi GKI Pandok Indah Jakarta, Sabtu (8/8).

"....and you should be proud of yourself. Sebab bisa jadi kalian adalah angkatan pertama katekisasi yang sangat unik karena ternodai orang yang dianggap tidak selamat dalam doktrin klasik kekristen," lanjutku tertawa cekikikan di forum.

Aku tidak tahu perasaan mereka kala itu. Niatku hanya guyon. Menertawakan batas-batas teologi antara Kristen dan Islam, yang terkadang sangat nggilani. Nggilani adalah bahasa Jawa dari disgusting. Jika diucapkan dengan penuh emosi a la Jombangan, tulisannya; nggguuuuuuuuilani. 

Menurutku, adalah nggilani jika seorang muslim merasa kecewa atau bahkan marah, saat menemukan teman, saudara atau bahkan pacarnya, memilih keselamatan melalui agama lain --misalnya Kristen. Begitu juga sebaliknya. 

Jika kamu ke Jakarta naik pesawat dan geram,gemes, marah melihat yang lain naik kereta api atau bahkan jalan kaki, pertanyaannya; kamu sehat?

"Gus, gimana pandangannya terkait pacaran beda agama?" kata salah satu satu katekisan. Cewek --entah Tionghoa atau Batak, lupa aku. Aku baru tahu kalau banyak orang Batak di GKI PI.

"Pacaran beda agama itu bagus jika dilakukan dengan kedewasaan tinggi. Namun tentu tidak mudah karena mensyaratkan kedewasaan dua belah pihak," kataku. Tidak banyak orang yang benar-benar sukses berelasi campur oleh karena  niatnya tidak tulus sejak awal. 

"Tidak sedikit pemuda islam yang model beragamanya seperti sales MLM, mencari pacar Kristen untuk diislamkan. Jika ketemu yang seperti ini, sebaiknya hindari. Pikirkan ulang. Cinta  sebenarnya kan memerdekakan, bukan malah menjajah. Just follow your heart," kataku.

Aku senang sekali  berdiskusi dengan mereka. Mengetahui gairah mereka yang menggebu-gebu tentang Islam adalah hal yang menyenangka. Mereka seperti kakak yang terpisah sangat lama dengan adiknya, dan akhirnya bertemu. Jasa Pdt. Joas dan Pdt. Bonnie begitu besar.


"Dik, jihad dan mati syahid itu apa sih?"
"Dik, kabarnya nabimu menikahi gadis di bawah umur. Gimana sih cerita sebenarnya?"
"Dik, gimana sih sebenarnya pandanganmu dan kawan-kawanmu seputar model bertuhan a la tritunggal yang dianut kakak? Tuhanku satu lho, dik, bukan tiga,"
"Dik....
"Dik....

Begitu banyak pertanyaan mengemuka --dari seorang kakak yang telah lama terluka oleh adiknya. Pertanyaan yang tulus campur geregetan.

"Dik, katakan padaku, kenapa teman-temanmu nakal banget kalau ketemu teman-temannya kakak? Kakak harus bagaimana?"

Aku meminta maaf sembari memohon mereka senantiasa tidak kehilangan harapan.

 "Hanya kalian yang bisa menyadarkan. Jika kami tantrum dan kalian menyerah pada kami, nggak peduli, kami tidak akan sembuh. Aku tahu banyak dari kalian yang jengkel, marah dan nggak peduli, bahkan takut. Mari kita berani," kataku.  

Keberanian bagiku bukanlah sebatas menunjukkan rasa tidak takut. Lebih jauh, "Daring is to do what is right in spite of the weakness of our flesh," -- aku mengutipnya dari film The Help. 
***

Meski hanya 1,5 jam namun aku senang sekali bersama mereka. Semoga mereka juga. Aku berharap bisa ketemu mereka kembali.  Jika tidak salah lihat, ada 112 orang yang ikut katekisasi GKI Pondok Indah, Sabtu (8/8), via Zoom. Rata-rata anak-anak muda. Millenial. 

Saat masuk aku langsung disapa Alex, calon pendeta di gereja tersebut yang selama ini bertindak sebagai laison officer. Tiba-tiba muncul seorang perempuan di layar besar zoom. Terlihat senior. Aku menduga ia orang penting di GKI PI. Sekelas penatua. Aku tahu dia Batak dari nama yang tertera. 

"Hai mbak... Apa kabar? Saragih nomor berapa? 16? 17? 18?" aku langsung  menyapanya. Ia terlihat begitu keras mengingat kembali berapa nomor punggungnya.(*)


Laaafff



Friday, August 7, 2020

UJI NYALI KATEKISASI

Selama hidup, dua kali aku mengisi katekisasi. Dua-duanya dilaksanakan oleh GKI Sidoarjo. 

Katekisasi bisa dikatakan semacam forum internum. Fungsinya, sebagai penguat iman kristen. Jika tidak salah, katekisasi adalah tahapan sangat penting bagi orang Kristen untuk memantapkan pilihan beragama mereka. 

Saat di GKI Sidoarjo, aku diminta mempresentasikan Yesus dalam perspektif Islam. Dan, pada katekisasi kedua, aku membincang soal ibunya, the Virgin Mary. 

Dua katekisasi tersebut dilaksanakan secara terbuka di gereja. Terbuka artinya siapapun boleh ikut. Seingatku, banyak sekali peserta dari luar. Tidak hanya Protestan, namun juga Hindu, Islam, Penghayat dan Katolik. 

Katekisasi ketiga rencananya berlangsung besok malam, Sabtu (8/8). Penyelenggaranya masih tetap GKI. Kali ini GKI Pondok Indah Jakarta, tempat dua orang temanku yang melayani di sana. 

Aku pernah ke sana. Gerejanya, bagus pakai banget. Sayangnya, katekisasi besok malam tidak bertempat di gereja. Semua digeser ke Zoom dan tertutup --selain Katekisan nggak boleh masuk. Kabarnya, ada live di Youtube. Namun hanya orang internal yang bisa mengakses.

Lalu, apa yang akan aku sampaikan di forum katekisasi besok?

Inilah yang aku anggap sebagai katekisasi paling berat. Sebab, aku diminta menjelaskan berbagai pertanyaan yang dilontarkan oleh peserta. 

Pertanyaan sudah dikumpulkan terlebih dahulu dari para peserta. Dan dua jam lalu, Alex, calon pendeta GKI, mengirimkannya padaku. 

Saat aku buka, terserak hampir 50 pertanyaan! Sangat variatif ---dari soal pakaian perempuan, kiblat, alkohol, babi, pembunuhan atas nama agama, kenabian, Yudas, ISIS, pahala dan surga, hingga usia Aisha yang di bawah umur. 


"Ya Alloh, Lex. Banyak banget! Suka aku dengan kekritisan mereka pada agama Islam," kataku sembari meringis.

Aku benar-benar mengapresiasi semangat mereka mengetahui tentang agama yang selama bertahun-tahun digunakan sebagai atas nama untuk mempersekusi Kekristenan. Tidak hanya di Indonesia namun juga di seantero jagad raya. 

Pertanyaan mereka, rata-rata, berisi gugatan meski banyak juga yang tidak. Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, sekali lagi, sangat jelas tergambar keingintahuan mereka tentang Islam. Tidak dalam kerangka, keyakinanku, ingin masuk Islam namun lebih pada; kenapa bisa berwajah demikian. 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak hanya harus dijawab -- agar semakin benderang dan meminimalisir kegalauan yang tak terpuaskan -- namun juga perlu mendasarkan jawabannya dalam tatakan kejujuran. 

Betapa capeknya jika aku harus berapologetika menjawab 50 pertanyaan kaliber ujian master?! Capek dan penat. 

Namun bukan soal capeknya, sebab aku bisa menyembuhkannya dengan pijitan.   Akan tetapi jawaban beraroma apologetika hanya akan menyisakan persoalan baru yang cenderung membebani masa depan. Dan itu tidak cukup dewasa. 

Aku sendiri paling males jika pertanyaanku dijawab dengan model seperti itu. 

Dan yang lebih utama, jika aku menjawab dengan model itu aku merasa kurang menghargai ketulusan dan upaya serius GKI PI mengundangku. Aku yakin mereka telah bersusah payah mewujudkan relasi yang sungguh tidak lazim ini. Salutku untuk kalian.

Semoga ada cukup waktu untukku menjawab seluruh pertanyaan.





Sunday, August 2, 2020

Orientasi Seksual; Takdir atau Konstruksi? Belajar dari Chrisye

Ini pertanyaan klasik seputar seksualitas yang hingga kini belum ada kata sepakat. Para ahli kejiwaan dan masyarakat awam sepertiku terbelah menjadi dua kubu. Kubu konstruksi sosial mencibir lawannya --kubu takdir-- malas berfikir. 


Ya, jawaban "takdir," memang seperti response jalan pintas. Persis seperti orang yang gagal mengoptimalisasi akalnya. Kenapa orang menjadi miskin? Takdir! Kenapa perempuan tidak boleh melampaui laki-laki? Takdir! Kenapa orang Kristen kerap tertindas di tengah mayoritas Muslim? Takdirnya memang seperti itu! 

Pendekatan "takdir," sangat beda dengan kubu konstruksi sosial. Kubu kedua ini bersusah payah menelisik, membongkar dan menyatukan kepingan untuk mencari penjelasan ilmiah atasnya. Kerapkali cara ini berhasil pada banyak persoalan. 

Namun untuk urusan orientasi seksual, menurutku, kedua kubu harus berdamai dan  menerima kenyataan mereka tidak bisa egois untuk menang secara mutlak dan binerik. 

Belajar dari Chrisye"

Kalian tahu siapa ini?" tanyaku sembari menampilkan foto penyanyi legendaris Indonesia yang sudah meninggal.

"Bukannya itu Chrisye?" jawab Lidya Kandowangko yang malam itu menjadi moderator Zoominar "Haruskah Kita Memusuhi LGBT," Selasa (14/6).

Aku membenarkan tebakan Lidya. Namun apakah kita pernah menyangka Chrisye adalah Tionghoa? Jika Anda tidak pernah berpikir demikian, maka sama denganku. Tak pernah terlintas dibenakku penyanyi bersuara emas ini ternyata keturunan Tionghoa.

Aku baru tahu ketika salah satu kawan Tionghoa, peneliti, mengabarkan kisah dramatis bagaimana Chrisye memberi pengakuan. Chrisye dikabarkan mengaku Tionghoa kepada penulis biografinya di detik-detik terakhir proses penyelesaian buku tersebut. Dengan perasaan sangat berat, Chrisye menceritakan alasan kenapa ia selama ini cenderung tidak mau terbuka ke publik menyangkut ketionghoaannya. Hal ini berkaitan dengan pengalaman buruk yang pernah ia terima. 

"Itu peristiwa yang menancap cukup dalam di benak saya," kata Chrisye, sebagaimana ditulis tirto.id "Biografi Chrisye, Keturunan Cina dan Kisah Buruknya Jadi Minoritas,"

Chrisye kecil pernah mengalami perundungan hebat pada suatu siang. Segerombolan anak meneriakinya "Cina Lo," setelah sebelumnya menyambit kepala Chrisye dengan batu hingga berdarah. Chrisye memilih tidak menceritakan hal itu kepada siapapun. Ketionghoaannya dikunci rapat belasan tahun hingga ia tidak lagi kuat menahannya. Ambrol di depan penulis biografinya.

"Lalu apa hubungannya Chrisye, orientasi seksual, takdir dan konstruksi sosial?" tanyaku kembali di forum.

Orientasi seksual, dalam pendapatku, sama seperti identitas ketionghoaan Chrisye, atau kejawaanku. Identitas kesukuan maupun orientasi seksual tidak bisa dipilih atau dinegosiasikan. Ia sepenuhnya given. Langsung datang dari Tuhan. 

Yang tidak kalah penting, sebagaimana halnya Chrisye, setiap orang memiliki kemerdekaan untuk mengakui --atau tidak mengakui-- atas identitas tersebut. Selama kurang lebih 30 tahun Chrisye memilih menyembunyikan jatidirinya. 

Ia mungkin berfikir dan merasa tidak aman manakala ketionghoaannya diketahui publik. Konstruksi sosial senyatanya telah begitu memengaruhi keputusan Chrisye, baik saat menyembunyikan diri maupun ketika memutuskan berterus terang, pada akhirnya.

Begitu pula terkait orientasi seksual. Tuhan selama ini telah memasangnya pada setiap orang. Kebanyakan memang heteroseksual. Konstruksi sosial telah menyebabkan individu yang diberi anugerah orientasi non-heteroseksual mengalami persekusi selama 1.973 tahun lamanya -- bahkan hingga sekarang. Selama itu pula mereka dilabeli sebagai pendosa dan mengidap penyakit jiwa. 

Label ini kemudian di review para psikiater di Amerika pada 23 Desember 1973 dan, melalui voting ketat, telah menghasilkan konsensus baru terkait orientasi seksual. Heteroseksual tidak lagi dianggap supreme, sebagai satu-satunya yang benar, karena homoseksualitas dan orientasi seksual lainnya telah diakomodasi. Para agamawan juga mulai melihat dan menyesuaikan kembali tafsiran teks kitab suci mereka 

Namun demikian, meski secara legal orientasi non-heteroseksual telah dinyatakan bukan sebagai penyakit, namun tidak berarti individu non-heteroseksual bisa merdeka dengan sendirinya. Konstruksi sosial yang dialami masing-masing dari mereka sangat menentukan apakah mereka mau terbuka atau tidak dengan identitas yang ia miliki. 

Tuhan telah memberi orientasi seksual kepada kita semunya. Kita sepenuhnya memiliki kemerdekaan untuk mengakui dan merayakannya, seperti halnya Chrisye dengan ketionghoaannya.

Friday, July 31, 2020

Soal Berkurban, Kita Perlu Belajar dari Mereka


Kawan-kawan, terima kasih atas ucapan Idul Adhanya. Hari raya kurban.

Kurban dan korban adalah identik.

Di Indonesia, dalam berkorban, aku merasa non-Muslim masihlah tetap sebagai teladan terbaik. 

Berpuluh-puluh tahun mereka tidak hanya dihajar babak-belur namun juga dianaktirikan sedemikian hebatnya. Saat ini bisa dikatakan merupakan masa-masa sulit bagi mereka. Vivere pericoloso. The year of living dangerously. 

Betapa tidak. Riset terakhir, sebagaimana disampaikan Mirtzner-Muhtadi (2020), menyatakan 52% Muslim, 54% pengikut NU (NU) dan 39% pengikut Muhammadiyah (MU)keberatan dengan rumah ibadah non-Muslim. Sebanyak 52% muslim, 52% NU dan 41% MU keberatan non-Muslim menjadi bupati/walikota. Angka ini relatif konstan untuk keberatan terhadap gubernur non-Muslim 

Sudah tidak terhitung lagi berapa jumlah rumah ibadah/bangunan sakral milik non-Muslim yang dibuat lumpuh tidak bisa digunakan. Bahkan kadang aku berfikir, seandainya ada gereja dijual karena kesulitan finansial, niscaya akan sangat banyak muslim berlomba-lomba infaq dan sadaqah untuk membelinya. Setelah dibeli, mereka akan ubah menjadi masjid. Mereka akan melalukan itu dengan gembira, tanpa perasaan bersalah sekalipun. Aku berani bertaruh.

Yang mencengangkan, alih-alih membenci dan menyerang balik, non-Muslim senyatanya tetap kokoh berdiri dalam cinta dan keyakinan mereka; berupaya mati-matian mencintai Muslim dan meyakini Indonesia sebagai rumahnya. Edan kan? Sudah diperlakukan sangat buruk namun tetap saja mencintai. They are the number one bucin!  

Maka, bagaimana idealitas Muslim Indonesia memaknai Idul Adha yang usianya sudah lebih dari 1.300 tahun ini? 

Tidak ada pilihan lain, kecuali semua Muslim perlu kembali mengingat perintah agung Allah yang senantiasa dibaca imam shalat Jumat di ratusan ribu masjid setiap minggunya, termasuk hari ini. 

"Sesungguhnya Allah menyuruhmu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarangmu berbuat keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu mengambil pelajaran." (QS. 16:90)  

Sederhananya, perintah ini meminta kita agar bertindak adil dan berbuat baik, tidak melakukan hal jelek pada sesama manusia. Ingat; s-e-s-a-m-a -- m-a-n-u-s-i-a. BUKAN HANYA sesama Muslim. 

Bagaimana kita tahu kita melakukan hal itu? Sangat simple, perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Jika kita merasa terganggu dengan bunyi lonceng rumah ibadah agama lain, maka jangan melakukan hal yang sama di masjid/mushalla. Jika kita merasa tersiksa melihat rumah ibadah kita ditolak agama lain maka jangan melakukan hal yang sama.

Sesimpel itu; simpel namun butuh pengorbanan, sebagaimana yang telah mereka teladankan.

Selamat berkorban.
 

Wednesday, July 29, 2020

Misteri 200 Tahun; Antara Abu Janda, Mahfud MD dan Felix Siauw di ILC

Selebriti media sosial, Abu "Permadi" Janda (APJ), tiba-tiba mengagetkan banyak orang yang menyaksikan tayangan ILC TVOn, Senin (5/12) lalu. Ia menyebut angka 200 tahun menyangkut penulisan awal kodifikasi hadits. Saat merespon argumentasi Felix Siaux terkait bendera/panji Islam, al-Liwa al- Royah, APJ nampaknya ingin mematahkannya dengan menyatakan terdapat problem akurasi penulisan hadits, yang baru terkodifikasi sekitar 150- 200 tahun setelah Nabi wafat.

Sayangnya, APJ tidak punya kesempatan menjelaskannya lebih detil di forum tersebut. Lelaki ini makin tersudut saat Prof. Mahfud MD (MMD) mengingatkannya agar berhati-hati dengan statemen 200 tahun itu karena bisa membuat orang marah.

Beberapa hari kemudian, setelah mendapat kecaman hebat di medsos, APB merasa perlu mengunjungi salah habib di Jawa Barat. Nampaknya ia ingin menjernihkan masalah ini. Misteri apa yang sesungguhnya ingin dibuka APJ menyangkut klain 200 tahun ini?

Saya tertarik menelisiknya lebih jauh. Bagi saya, sinyalemen APJ ini bermakna sangat dalam. Begitu dalamnya hingga MMD merasa perlu menanggapinya secara emosional dengan mengatakan pandangan APJ bertentangan dengan pandangan pesantren.

Pertanyaan hipotesis yang sepertinya ingin diajukan APJ kira-kira demikian; jika ada peristiwa hari ini namun laporannya ditulis 150-200 tahun mendatang, sejauh mana akurasi pemberitaannya?

Dalam pandangan saya, APJ sebenarnya ingin mendorong semua pihak berfikir kembali dengan nalar kritis –nalar yang kerap diharamkan ketika berhadapan dengan teks agama.

Dalam teori riak air, semakin jauh dari pusat riak, sebuah gelombang
akan semakin kecil dan habis. Cara berfikir ini bisa diimplementasikan
dalam berbagai studi, termasuk sejarah hadits.

Zubayr Siddiqi dalam salah satu
karyanya, “Hadith Literature: Its Origin, Development And Special Features,” membeber secara benderang sejarah perhaditsan yang diwarnai berbagai praktek tidak terpuji fabrikasi hadits. Praktek ini barangkali yang membuat al-Zurqani (w. 1710) menyatakan Kitab Muwatta’ milik Imam Malik (w. 793), kitab kodifikasi hadits paling awal, hanya memilih ratusan hadits dari sekitar 4.000 – 10.000 yang ia kumpukan.

Pemalsuan ini memang tidak bisa dilepaskan dari kuatnya sosok agung dan berpengaruhnya nabi Muhammad. Hal ini saya yakini
menggoda banyak pihak untuk membawa-bawa figur ini sebagai
legitimasi.

Ibn Hazam, sebagaiman dikutip Siddiqi dari al-Dhahabi (w. 1348 M), menyatakan pemalsuan otoritas Nabi pertama kali berlangsung saat di Madinah, Nabi masih hidup. Saat itu ada lelaki yang datang ke salah satu suku mengaku mendapat mandate dari Nabi.

Kabarnya, dia berbuat demikian karena tengah mengicar perempuan dari suku tersebut. Saat dikonfirmasi langsung salah satu elit suku, nabi membantah dirinya telah memberikan otoritas tersebut. Ketika kekuasaan Islam berada ditangan Abu Bakar dan Umar, pemalsuan hadits yang dilakukan oleh orang murtad meningkat. Itu sebab keduanya sangat selektif terhadap hadits. Abu Bakar dikabarkan pernah membakar 500 hadits yang dianggapnya bermasalah.

Booming hadits abal-abal semakin menggila pascameninggalnga khalifah III Utsman bin Affan. Hal ini disebabkan tajamnya fragmentasi umat Islam seiring menguatnya konfrontasi politik sebagai akibat perpecahan di internal umat Islam. Perpecahan ini terus awet sebagai konsekuensi gagalnya Ali bersikap tegas terhadap para pelaku pembunuh Utsman. Ini skisma terbesar umat Islam yang dampaknya masih terasa hingga kini, yakni ketegangan dua raksasa Islam; Sunni - Syiah.

Perpecahan ini menjalari tidak hanya dalam aspek hukum Islam, namun juga merangsek hingga filsafat, teologi dan aspek lainnya. Dalam konteks ini, hadits menjadi perangkat penting pertikaian, terutama untuk mengungulkan kelompoknya sekaligus menjatuhkan lawan politiknya.

Begitu "produktifnya" hadits mengalami pembiakan, Dr. Mahatir Mohammad pernah menyatakan Bukhari, yang hidup 200an tahun setelah Nabi wafat, mengumpulkan lebih dari 600.000 hadits. Dari ratusan ribu tersebut, dia hanya memilih sekitar 7000an saja untuk dikumpulkan dalam kitab Sahih yang dianggap sangat otoritatif di kalangan Sunni. Itu pun, setelah disinkronisasi agar tidak terjadi duplikasi, jumlahnya menciut jadi 2712 hadits.

Catatan dari al-Amini dalam al-Ghadeer vol. 5 sungguh menarik. Menurutnya, hingga tahun 200 Hijriyah (1858 Masehi), dari total 600.000 hadits, sebanyak 408.324 dianggap hasil fabrikasi oleh 620 pemalsu.

Saya tidak terlaku yakin semua muslim Indonesia tahu mengenai sejarah gelap pemalsuan hadits. Sejarah ini nampak dikunci rapat. Tidak banyak yang tahu karena bersifat tabu.

Egoisme peradaban Islam kontemporer telah sedemikian tingginya hingga memaksa banyak orang merasa jengah jika ada pihak yang mulai mengingatkan soal ini. Alih-alih memberikan ruang diskusi yang nyaman, APJ malah dirisak sedemikian rupa di media sosial.

Saya setuju dengan MMD bahwa hadits yang digunakan, salah satunya oleh kalangan pesantren, telah mengalami proses filterisasi sangat ketat. Dalam pandangan saya, ini sekaligus meneguhkan keberadaan hadits-hadits lain yang bermasalah (sehingga perlu difilter).

Di luar ketelitian mahahebat yang pernah dilakukan Bukhari maupun Muslim, perkembangan kritik-hadits era kontemporer malah menunjukkan perkembangan yang mengejutkan. Adalah Jamal al-Banna, sarjana Mesir adik Hasan al-Banna pendiri Ikhwan al-Muslimin, yang berani melakukan kritik secara terbuka terhadap dua kitab hadits paling otoritatif di kalangan Sunni; Sahih Bukhari dan Sahih Muslim.

Melalui karyanya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, "The Cleansing of Bukhari and Muslim from Useless Hadiths," Jamal menilai terdapat 653 hadits bermasalah di dua kitab tersebut. Hadits-hadits tersebut, menurutnya, berkisar tentang hal-hal yang merendahkan martabat perempuan, membelenggu kemerdekaan beragama dan keharaman berpindah dari Islam (murtad), pemaksaan masuk Islam dan penggunaan kekerasan atas nama agama, keajaiban mukjizat Nabi serta cerita-cerita yang tidak logis (Pierce 2012).

Sebelum Jamal, ada juga nama Zakaria Ouzon yang mengeluarkan trilogi karya kritiknya terhadap Bukhari, Muslim dan Imam Sibawayh, salah satu judulnya cukup kontroversial, Jinayat al-Bukhari: Inqadz al-Ummah min Imam al-Muhadditsin --Kejahatan al-Bukhari: Menyelamatkan Umat dari Penghulu Para Ahli Hadis (Novrianto 2008)

Quo Vadis Hadits?
Skandal 200 tahun di ILC telah menggiring semua muslim untuk merenung secara serius saat berhadapan dengan sumber hukum Islam in. Hemat saya, dalam hal ini kita setidaknya memiliki tiga pilihan; mengamini mentah-mentah apapun yang dianggap sebagai hadits dan menggunakannya untuk mengcopy-paste masa lalu ke saat ini (model revivalis-salafis); meletakkan hadits dalam konteks lebih luas sesuai semangat substantif Islam (model rekonstruksionis-reformis); atau menganggap hadits sebagai "anak dari zamannya" yang belum tentu dapat dipakai dengan ukuran saat ini (model dekonstruksionis-kritis).

Sekarang ini, banyak organisasi Islam seperti kroni-kroni HTI telah sedemikian terobsesi mengubah Indonesia menjadi khilafah Islam. Di sisi lain, MMD, APJ, NU dkk. secara tegas menolaknya. Kedua kubu sama-sama mengklaim punya justifikasi hadits. Mana yang benar? Waktu yang akan menguji. Wallohu a'lam

Featured Post

Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 35

Rilis Jaringan NU Kultural (JANUR)  Jombang, 19 Agustus 2026 Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 35 Muktamar ke-35...