Pages

Sunday, April 29, 2018

Undangan Menulis Narasi Memori Tionghoa 2 "Ternyata Ada Aku di antara Tionghoa dan Indonesia"


Sebulan lalu, buku narasi memori "Ada Aku di antara Tionghoa dan Indonesia" mendapat sambutan luar biasa dari publik. Buku ini berisi kumpulan kisah duka dan suka cita 73 penulis. Mereka juga menyisipkan mimpi Indonesia yang lebih toleran terhadap Tionghoa.

Kehadiran buku itu sekaligus memprovokasi hasrat banyak orang untuk menulis kisahnya sendiri, agar kelak menjadi pelajaran bagi peradaban Indonesia yang perlahan mulai agak rasis.

Kami mengundang semua pihak untuk terlibat menulis di proyek narasi memori Tionghoa jilid II. Syaratnya? Tulisan merupakan kisah nyata pengalaman penulis saat berinteraksi dengan identitas Tionghoa. Kami ingin pembaca bisa belajar langsung dari pengalaman penulis, baik sebagai Korban maupun Pelaku.

Panjang tulisan 900 hingga 1.300 kata, tunduk pada kaidah berbahasa Indonesia yang benar, memakai pola 5W+1H, dan belum pernah diterbitkan sebelumnya. Batas akhir pendaftaran 22 Mei namun bisa ditutup sewaktu-waktu jika kuota 50 penulis telah terpenuhi.

Apakah penulis akan mendapat honor? Tidak. Kami tidak punya uang. Namun, penulis akan mendapat 1 buku gratis setelah diterbitkan.

Anda tertarik? Silahkan mendaftar melalui link ini. Jangan ragu mengontak Aan Anshori (WA/Telegram 08155045039) jika ada hal yang kurang jelas.

Kisah Anda sangat berguna bagi peradaban ini.

I love you!

*Aan Anshori*
08155045039
IG @gantengpolnotok
Twitter @aananshori

Tuesday, April 3, 2018

PSM IAIN Salatiga, you're not alone!

Dulur-dulur, kita bahagia saat paduan suara IAIN Salatiga tampil di Paskah GKJ Sidomukti. Kini kabarnya mereka tengah mengalami banyak tekanan dari berbagai pihak.

Untuk itu, sudilah mengirimkan pesan solidaritas melalui Zein +62 856-4015-8371, salah satu aktifis mahasiswa IAIN Salatiga. Mereka butuh apresiasi dan dukungan moril kita.

Berikut contoh yang aku kirim;
"Zen, aku Aan Anshori, GUSDURian Jombang. Aku sangat mengapresiasi penampilanmu dkk di GKJ kemarin. Aku tahu ada banyak tekanan terhadap kampus dan PSM. Jangan takut, jangan menyerah. Salam hormat- Aan Anshori"

Mohon di-CC ke Rektor IAIN Salatiga, Dr. Rahmat Hariyadi +62 815-7739-031

Jika tidak keberatan, sudilah juga memforward dukungan itu ke nomor WAku 08155045039

Suwun,

Aan Anshori

Wednesday, March 21, 2018

Order Buku Tionghoa

Teman-teman yang baik, silahkan mengklik link ini untuk membeli buku Narasi Memori "Ada Aku di antara Tionghoa," Jika ada kesulitan, silahkan WA/Telegram ke 08155045039.

Aan Anshori

Monday, March 12, 2018

Undangan Narasi Memori "Melampaui Rasa Takut"


Project narasi memori "Melampaui Rasa Takut" adalah inisiatif menuliskan pengalaman unik/menegangkan seputar interaksi dengan kekristenan, misalnya pertama kali masuk gereja, ikut natal, berteman dengan orang Kristen, dll. Contoh tulisan yang bisa dirujuk adalah "Termenung di hadapan Salib GKJW Banyuwangi" karya Fina Mawaddah PMII Untag Banyuwangi

Tujuan project ini adalah untuk memperkuat dialog hubungan Islam - Kristen di Indonesia melalui penarasian memori kader/alumni PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia).

Project ini bersifat mandiri, tidak didukung oleh lembaga donor, parpol atau institusi sejenis lainnya.

Beberapa hal penting:
1. ‎Penulis adalah kader/alumni PMII dari mana saja.
2. ‎Tulisan merupakan pengalaman pribadi (melihat, melakukan, mendengar) penulis, non-fiksi, dan belum pernah dipublikasi sebelumnya.
3. ‎Ditulis dalam gaya bebas, memenuhi kriteria 5W+1H (what, when, where, who/whom, why, and how), sebanyak 700-1000 kata, dan dikirim ke pmii4diversity@gmail.com PALING LAMBAT 5 Mei 2018
4. ‎Editor berhak mengedit tulisan jika diperlukan
5. ‎Penulis menyertakan profil pendek yang memuat sekurang-kurangnya data identitas PMII, misal, _Aan Anshori, Mapaba 2000 Komisariat Pattimura PC PMII Jombang_
6. ‎Penulis akan mendapat buku gratis jika sudah diterbitkan
7. ‎Informasi lebih lanjut bisa mengontak WA/Telegram 08155045039

Thank

Aan Anshori

Friday, January 19, 2018

Kenapa Saya Tidak Bisa Ber-Tafsir LGBT di Aswaja Center?


Hari Rabu (17/1) jam 16:13, gadget saya berbunyi. Ada pesan WA masuk, dari Yusuf Suharto kawan saya:

"Mas Aan, atas nama panitia kami mengundang Mas Aan Ansori mengisi Seminar Tafsir LGBT pada Sabtu, 20 Januari 2018 ini. Semoga Mas Aan bisa nggih? Nanti ada Kiai Musta'in Syafii"

Pada pukul 17.14 di hari yang sama, saya balas.

"Wahh acara bagus. Aku senang ente mulai tertarik mengkaji isu ini. Sayangnya, aku terlanjur punya acara lain. Aku tunggu tulisannya ya.. Suwun."

Meski sudah menyatakan tidak bisa, sehari kemudian, Kamis (18/1) jam 11.20, ia tetap mengirimkan surat permohonan menjadi narasumber. Saya berfikir, kenapa tetap mengirimkan surat padahal saya tidak dapat hadir. Ini tentu agak di luar kelaziman. Akan tetapi saya melihat hal itu sebagai hasrat positif panitia yang menggebu-gebu.

Setelah saya baca, acara yang akan dilaksanakan nanti berbentuk "seminar" dengan judul "Tafsir LGBT dan Lintas Iman" Sayangnya, dalam surat tersebut tidak disebutkan dengan siapa saja saya akan dipanelkan, apalagi dalam perspektif lintas iman --yang pastinya akan melibatkan para tokoh agama lain.

Di luar itu semua, meski dipanel dengan siapa saja, saya tetap tidak bisa datang karena sudah terlanjur punya janji dengan kelompok lain, di hari dan jam yang sama.

Secara personal, saya sangat mengapresiasi kerja Aswaja Center yang telah begitu sigap merespon isu ini, tentu dengan harapan bisa meminimalisir perasaan LGBT-fobia.

Saya juga meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada panitia karena belum bisa memenuhi undangan terhormat tersebut. Namun demikian, saya akan berupaya sekuat tenaga untuk menulis gagasan saya terkait tema yang diusung agar bisa menjadi medium pembelajaran bagi khalayak umum, juga sebagai bentuk terima kasih saya kepada teman-teman Aswaja Center.

Jika berkenan, silahkan baca beberapa tulisan saya terkait LGBT, sebagai media saling belajar.

√ Perihal Lesbian dalam al-Quran

√ Mencambuki Homoseksual, Mencambuki Keislaman Kita

√ Why did Indonesia's most prominent moderate Islam group take a stance vs LGBT?

√ Hadits LGBT: Ikut Tifatul atau Muslim-Bukhari?

√ Warna-warni waria zaman Nabi: Dari Mak Comblang hingga pengusiran

√ A Gusdurian's oath vs the heteronormative credo,

√ Tuhan Pelangi di Mahkamah Konstitusi,

√ Apakah Homoseksual Masuk Surga?

√ Homofobia di Universitas Andalas


Matur suwun.

Aan Anshori

Wednesday, January 3, 2018

Yang Terhormat Ibuku


Lihatlah perempuan yang aku lingkari. Itu adalah ibuku, Alfiyah. Ia putri kedua alm. Abdul Wahab, kiai kampung di Plemahan Sumobito Jombang yang pernah menjadi anggota DPR kabupaten dari Partai NU hasil Pemilu 1955.

Ibuku adalah kembang desa, suaranya merdu, dan sangat mandiri secara ekonomi. Ia bekerja menjaga toko pracangan yang ia bangun sejak dari nol di Pasar Mojoagung. Dalam aspek ekonomi, bapakku yang lebih fokus ngurusi politik dan perLSMan sangat beruntung mendapatkannya.

Entahlah, kenapa ibuku memilih dia dari sekian banyak laki-laki yang mengejarnya. Ibu tidak pernah bercerita padaku, kecuali bahwa hubungan mereka tidak direstui oleh ibu dari bapakku.

Nenekku, disamping sudah punya calon istri untuk bapakku, nampak cukup terancam dengan kosmpolitanisme ibuku. Ibuku itu sangat mudah bergaul dengan siapa saja. Yang aku ingat, setiap kali berjalan, ia selalu menyapa orang yang dikenalnya -bahkan ketika yang disapa itu tidak sedang melihatnya sekalipun.

Ia tidak segan berteriak hanya untuk mendapat perhatiaannya. Aku kadang sampai malu, "Nek wonge mboten semerap mbok nggih mboten usah diceluk, buk," kataku suatu ketika menahan malu.

Alfiyah muda juga merupakan vocalist grup samroh di kalangan perempuan NU di kecamatan Mojoagung. Grupnya manggung di mana-mana; dari Seketi hingga Suwaru, dari Jonggrong hingga Klampisan.

Saat beromantika dengan bapakku, ibuku adalah seorang janda. Ia dicerai suaminya karena dianggap mandul setelah perkawinan mereka berlangsung 12 tahun. Kata orang-orang yang sezaman dengan ibu, ibuku nangis tanpa henti, tak mau diceraikan.

Bapakku juga berstatus duda dengan dua orang anak; Agus Rifai dan Alifah. Saya menduga, keduanya bertemu melalui kakekku Abdul Wahab, karena bagaimanapun ayah ibuku dan bapakku sama-sama orang politik. Pasti nyambung lah kalau ngomongin Golkar. Aku bisa membayangkan.

Di tengah ketidaksetujuan ibu dari bapakku, bapak akhirnya melamar ibu. Jadilah mereka pasangan suami istri. Tidak lama kemudian lahirlah jabang bayi yang sedang menulis cerita ini. Ibu dan bapakku saling mencintai, namun tetap saja mertua perempuan ibuku (nenekku) tidak kunjung bisa menerima ibu, bahkan ketika aku telah lahir sekalipun.

Bapakku benar-benar bingung dalam realitas yang bertabrakan ini. Ia begitu mencintai istri dan aku namun di sisi lain ia harus berbakti pada ibunya. Bisa dikatakan ibu adalah menantu yang tidak diinginkan. Itu juga yang membuat ibu tidak hidup serumah dengan mertua. Hidup berpindah dari satu kos ke kos yang lain.

Aku bisa membayangkan betapa stressnya bapakku kala itu. Pernah aku mendengar bapakku diminta menceraikan ibuku. I think you know who gave him the order, right? But he said no.

Di tengah relasi yang tidak ideal seperti itu, pernah suatu ketika ada laki-laki yang ingin bermain api dengan ibuku --- cantik dan supel memang terkadang bisa menjadi semacam kutukan. Mungkin maksud laki-laki itu sekedar berteman saja.

Dia baik padaku, suka memberi uang jajan. Mendengar hal itu, bapakku yang lebih sering ke rumah orang tuanya jadi naik pitam. Ia membawa senjata tajam dan datang ke kontrakan kami di daerah Pekunden, tetangga desa Kauman.

Otoritas daerah Pekunden pun jadi heboh dan berusaha menenangkan bapakku. Aku sendiri masih ingat diungsikan ke tetangga kontrakan, rumah wak polo (kadus).

Relasi ibu dan bapakku terus mengalami pasang surut hingga suasananya membaik pascawafatnya nenekku. Kami semua kemudian pindah ke rumah Kauman; berkumpul bersama dua kakakku.

Keluarga kami semakin lengkap dengan kehadiran adikku, Lail, yang lahir saat aku berusia 8 tahun. I love you!

*ditulis saat kehujanan di pos siskamling Nanggalan Watugaluh Diwek dan teras CU Semangat Warga

NU Queer di Warung Daun

Saat usai perhelatan ngopi bareng di Warung Daun Kediri, Kamis (16/11), saya bilang ke Mas Sanusi, direktur LSM Suar, "Mas, kalau mau jujur, NU iki queer lho dalam isu LGBTIQ," ujar saya sembari terbahak-bahak. Queer itu istilah dalam dunia gender dan seksualitas yang merujuk pada sesuatu di luar kebiasaan, aneh, antik, unik, atau kontradiktif.

Contoh gampangnya begini, Bunda Maria dipercaya mengandung tanpa proses yang ghalib, nah itu aneh, queer namanya. Atau, ada mobil yang bisa jalan dengan bahan bakar air, bukan bensin, itu juga queer.

Atau, ada tiang listrik tetap kokoh berdiri sedangkan Fortunernya ringsek dan Setnov katanya benjol sebesar bakpao, itu juga queer, aneh bin ajaib. Dalam isu LGBTIQ, sikap PBNU sudah sangat tegas; menolak dan mengutuk keras. Bahkan merekomendasi Negara untuk aktif membantu rehabilitasi "penderitanya," Anda bisa cek pemberitaan sekitar 26 Februari 2016.

Sungguhpun demikian, yang menarik, sikap ini tidak serta merta diikuti oleh jajaran di bawahnya di banyak daerah. Beberapa badan otonom, lajnah maupun lembaga di level propinsi maupun kabupaten/kota, terlibat dalam berbagai kegiatan yang melibatkan kelompok LGBTIQ, terutama di isu penanggulangan HIV/AIDS.

Bagi saya, ini queer. Ke-queer-an juga terjadi kemarin di acara cangkrukan di Warung Daun Kediri. Yang datang sangat beragam; perwakilan pemkab, mahasiswa STAIN Kediri, gay, trangender, lesbian, pekerja seks, germo, aktivis, dan lain-lain.

Hampir semuanya pakai qunut kalau subuhan, atau setidaknya nyekar ke kuburan dan melaksanakan 7 hari, 40 hari, 100 hari, dan 1000 hari kematian. Saya yang didapuk memantik diskusi, ya wong NU, begitu juga moderatornya, Mas Sanusi. Yang berdoa malah ketua GP Ansor Kabupaten Kediri, Munasir Huda.

Ancen NU iki Queer kok...:)

Featured Post

Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 35

Rilis Jaringan NU Kultural (JANUR)  Jombang, 19 Agustus 2026 Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 35 Muktamar ke-35...