Pages

Tuesday, January 17, 2023

HAMIL TUA GUSDURIAN KEPUNG


Setelah bertahun-tahun tertund a, akhirnya aku bisa mengunjungi GKJW Besowo di kecamatan Kepung Kediri. Lokasinya cukup asri dan menanjak, di lereng Gunung Kelud. Aku ke sana menupang mobil Rifan Fauzi, aktifis GDian Kediri, Senin (9/1).

Adalah mas Bowo, salah satu jemaat gereja yang juga kepala dusun Besowo, yang mengundangku. Kami bertemu saat GDian Pare dideklarasikan. Ia sempat bergabung ke sana. 

"Wis mas, wis wayahe bikin GUSDURian Kepung. Biar denyut pluralisme di wilayah Kepung semakin kokoh," ujarku di forum. 

Usulku disambut positif peserta cangkrukan yang hadir di balai pertemuan GKJW Besowo, Senin (9/1). Ada sekitar sepuluh orang di sana, termasuk para jemaat GKJW sekitar Pare. 

Pembentuakan GDian Kepung akan didahului dengan acara haul Gus Dur. Mungkin akhir bulan ini. Lokasinya di rumah pembinaan iman (RPI) desa Kepung yang menginduk di GKJW Besowo. Ada sekitar 7-10 kepala keluarga di RPI tersebut. Semuanya warga GKJW Besowo.

Sayangnya, RPI ini masih belum bisa digunakan secara optimal karena dihambat oleh camat dan beberapa tokoh Islam setempat. Dengan alasan, belum memenuhi prasyarat tanda tangan 60-90.


"Warga kami sudah lama beribadah menumpang di salah satu rumah warga di desa tersebut. Lalu kami membeli rumah di dekatnya
 Beda RT. Kami ndak enak numpang terus. Saat kami mau pindah, tidak diperbolehkan," kata salah satu warga RPI yang juga hadir dalam acara cangkrukan.

Sekitar pertengahan Desember 2022, diadakan mediasi di balai desa Kepung. Dihadiri oleh kades, perwakilan GKJW, wakapolsek, perwakilan tokoh Islam masjid desa, camat dan RT. 

Camat dan tokoh Islam keberatan dengan kepindahan RPI dan meminta agar segera memenuhi syarat pendirian gereja. Jika belum dipenuhi maka RPI hanya boleh digunakan sebulan sekali. 

Keputusan ini tentu mengecewakan pengurus dan jemaat RPI Kepung. Ibadah mereka menjadi terkendala karena keputusan tersebut. 

Secara administratif, dalam hal perizinan, rumah doa/rumah pembinaan iman/rumah persekutuan doa atau dengan sebutan lain, tidak dapat dikatakan "sejajar" dengan gereja. 

Misalnya, jika ada komunitas agama di sebuah wilayah memiliki anggota kurang dari 90 orang, mereka tetap bisa memiliki tempat beribadah. Namanya bukan gereja secara formal. Melainkan rumah doa.

Menurutku, mereka belum wajib mengurus IMB gereja. Namun jika anggotanya sudah lebih dari 90 orang, mereka bisa mulai mengurus izin tersebut. 

Artinya, berapapun jumlah pengikut sebuah agama, mereka tetap memiliki hak beribadah dan konstitusi menjamin hal tersebut.

"Apakah kamu menandatangani sesuatu saat pertemuan tersebut? Misalnya surat pernyataan atau sejenisnya?" tanyaku pada Pdt. Merrys yang ikut dalam pertemuan mediasi kala itu. Dia memastikan tidak memberikan tanda tangan apapun. Aku lega. 

Biasanya, dalam situasi seperti ini di banyak daerah, perwakilan gereja/rumah ibadah akan "ditekan," oleh kelompok intoleran dan oknum aparat untuk menandatangani surat yang intinya bersedia menghentikan kegiatan ibadah. 

Surat tersebut pada akhirnya akan dijadikan alat sandera kedepannya. Aku seringkali menjumpai hal seperti ini. Itu sebabnya aku selalu berpesan; jangan mau disuruh menandatangani apapun!

"Terus pripun, gus? Apa yang sebaiknya kami lakukan?" tanya mas Bowo.

Aku meminta mereka untuk tidak balik melawan namun tetap berusaha menggunakan gedung RPI dengan lebih optimal lagi. Tidak melakukan apapun, termasuk patah semangat, bukanlah merupakan pilihan. 

"Sekali kita memperlakukan rumah ibadah seperti onggokan mati, maka ia telah mati sejak saat itu," ujarku sembari menceritaka sekelumit kisahku saat mengawal kasus di GKJW pepanthan Ngimbang Lamongan.

Aku juga mengusulkan agar forum pertemuan tersebut menginisiasi terbentuknya GUSDURian Kepung. Dengan adanya GDian, aku percaya konsolidasi elemen lintas identitas yang selama ini telah terjalin baik di wilayah Kepung akan berjalan lebih cepat dan progresif. 

"Tapi, gus, bukannya sudah ada GUSDURian Pare?" tanya mas Bowo. 
"Ya ndak papa, komunitas GDian bisa didirikan di mana saja. Bahkan hingga level desa dan kecamatan sekalipun," ujarku.

GDian berbasis komunitas yang tidak terlalu terikat dengan otoritas kewilayahan secara administratif. Artinya, sangat dimungkinkan ada lebih dari satu simpul/komunitas dalam satu wilayah. 

Di Jombang, contohnya, ada 3 simpul GDian; Staramuda, GDian Mojoagung dan GDian Jombang. Semuanya memiliki posisi setara di hadapan skeretariat nasional (Seknas) Jaringan GUSDUrian. 

Aku sendiri berupaya membentuk sebanyak mungkin simpul GDian di wilayah Jombang. Bagiku, more will be merrier!

GDian Kepung memang belum lahir. Ia sedang berproses dalam kandungan. Hamil tua. Semoga ia bisa segera menghirup udara segar Kepung dan menjaganya.

Sebelum pulang, kami tak lupa berfoto dulu di beberapa spot komplek GKJW Besowo.(*)

Wednesday, January 4, 2023

OPPUNG DAN MERTUA


Aku selalu penasaran dengan apa yang sebenarnya bersarang dalam benak pejabat publik seperti Walikota Medan ini. Ia bukanlah satu-satunya pejabat yang secara vulgar dan terbuka mengumbar sentimen kebencian terhadap identitas gender dan orientasi seksual. 

Jika KUHP baru telah diimplementasikan, ia dan lainnya berpotensi terancam pidana pasal 242, "
Setiap Orang yang Di Muka Umum menyatakan perasaan
permusuhan, kebencian, atau penghinaan terhadap satu
atau beberapa golongan atau kelompok penduduk Indonesia
berdasarkan ras, kebangsaan, etnis, warna kulit, jenis
kelamin, disabilitas mental, atau disabilitas fisik, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau
pidana denda paling banyak kategori IV."

Mungkin Bobby Nasution (BN) tidak menyadari ucapannya mengandung narasi kebencian berbasis identitas. Ia sangat mungkin justru merasa tindakannya benar, termotivasi untuk melindungi masyarakat. 

Melindungi dari apa? Inilah yang patut ditanyakan pada BN. Jika ia menganggap LGBT adalah penyakit, ia mungkin tidak perlu merasa malu untuk belajar lagi. LGBT bukanlah penyakit. 

Lelaki suka lelaki sama normalnya dengan perempuan suka lelaki maupun perempuan sama perempuan. Yang bisa dianggap berpotensi mengalami gangguan jiwa justru ketika ada orang yang tidak bisa menerima kondisi dirinya yang berujung terganggunya kondisi psikologis. 

Misalnya, ada lelaki homoseksual yang terus-terusan meyakini dirinya heteroseksual sehingga mengakibatkan kondisi jiwanya terganggu. Nah, ini yang aku sebut sebagai gangguan kejiwaan. 

Dengan kata lain, jika ada orang heteroseksual dan mengekspresikannya dengan cara menggandeng dan berciuman dengan lawan jenis, maka ia tidak sedang mengalami gangguan jiwa. Normal dan wajar --sama halnya dengan dua orang homoseksual yang memanifestasikan perasaan saling ketertarikannya di ruang publik. 

Dengan demikian, homoseksualitas dan heteroseksualitas -- juga orientasi seksual lain yang jumlahnya puluhan-- memiliki kesetaraan hak. 

Warga negara Indonesia, apapun identitas gender dan orientasi harus diperlakukan sama. Tidak peduli kita suka atau tidak. Negara ini tidak dibangun dan diatur berdasarkan perasaan tersebut.


Di titik ini, barangkali kita bisa menafsirkan apa yang pernah disampaikan oleh Menteri Luhut (LBP). Saat itu cukup banyak orang mempertonton kebodohannya. Kebencian terhadap kelompok LGBT diumbar sedemikian massifnya. Riuh rendah.

"Mereka punya hak untuk dilindungi negara karena mereka juga warga negara Indonesia," ujar Luhut sebagaiamana dikutip dari portal Kompas.com, Jumat (12/2/2016).

Luhut tidak setuju jika kelompok LGBT menjadi korban kekerasan. Ia berpesan agar masyarakat bisa merefleksikan diri dan bersikap bijak. 

"Jangan cepat menghakimi oranglah, kalau berbeda diusir, dibunuh. Silakan refleksikan diri sendiri saja," ujar dia

Sudah waktunya BS perlu banyak belajar dari LBP. Termasuk belajar bertindak adil dengan cara tidak menyamaratakan semua individu LGBT dengan predator seksual anak sesama jenis. 

Jika nekat menggebyah uyah seperti itu maka orang heteroseksual juga harus dilarang karena begitu banyak predator seksual berorientasi heteroseksual. Bahkan, secara statistik jumlahnya jauh melebihi pelaku non-heteroseksual.

Medan dikenal sebagai wilayah yang memiliki toleransi cukup tinggi. Aku pernah pernah tinggal di sana beberapa hari dan merasakan hal itu. Kelompok LGBT hidup berdampingan dengan kelompok lain. Saling menjaga dan merawat. 

Aku tidak yakin pluralitas di Medan akan terawat baik jika dikelola dengan cara seperti walikota BS; merawat dengan perasaan takut dan keengganan belajar memahami LGBT.
 
Mas Wali, belajarlah rendah hati seperti oppung dan mertuamu.(*)

Saturday, December 10, 2022

MEMORI GEREJAWI DI TEPIAN BATANGHARI


Aku dengar nama sungai Batanghari sejak lama, saat lagi booming drama radio Saur Sepuh. Siapa yang tak kenal Brahma Kumbara dan Mantili. Kami rela bergerombol mengelilingi radio. 

Di sela-sela mengisi diskusi publik Hari HAM di salah satu ruang komplek Gubernuran Jambi, Rabu (7/12), aku mengunjungi rumah ibadah Huria Kristen Indonesia (HKI) Alam Barajo, pinggiran kota.

Suasana Natal sudah begitu terasa. Terdapat beberapa terop besar di samping gereja. Ada pernak-pernik natal sederhana. 

Sudah empat tahun ini mereka tidak bisa menempati gereja mereka karena disegel walikota Jambi. Gereja mereka tidak jauh dari terop tersebut. 


Jaraknya mungkin setengah meter saja. Di terop itu, mereka biasanya melakukan ibadah minggu.

"Sudah empat tahun ini kami beribadah di samping gereja. Kami tidak mengerti kenapa bisa seperti ini?" kata salah satu warga jemaat. 

Menurutnya, tidak ada keberatan dari warga sekitar. Semuanya hidup rukun. Diduga kuat penyegelan tersebut beraroma politik. Saat itu pesta demokrasi pemilihan walikota memang sedang menghangat. 

Aku ke sana bersama Defripal Rahman, kordinator GUSDURian Jambi. Ia masih muda, sedang menuntaskan skripsinya di prodi Ilmu Politik Universitas Jambi. 

Anak muda ini memang sengaja aku sertakan untuk memperkuat relasi GUSDURian dan kelompok gereja yang ada di Kota Jambi. Khususnya, setelah aku meninggalkan kota ini. Strategi encountering-broker seperti ini selalu aku lakukan di wilayah yang kebetulan aku kunjungi.


"Kalau yang di atas itu gereja apa, mas?" tanyaku ke pendeta Advent Nadapdap, penanggung jawab HKI Alam Barajo.
"Itu GSJA, mas. Ikut disegel juga bersama kami. Yang sebelah itu, GMI. Sama dengan kami saat itu. Disegel," ujarnya.  

Kami pun bergerak menuju GSJA. Kebetulan saat itu ada pria paruh baya bersama perempuan. Rupanya itu pendetanya bersama istri. 

Dari logat bicaranya, sang pria tersebut, aku meyakini bukan Batak. Melayu Jambi pun tidak. Terasa aroma ngapak.

"Bukan asli sini kan, pak pendeta?" tebakku.
"Saya Jonathan, marga Purba. Purbalingga," sambutnya tertawa. Pantesan jejak ngapaknya sangat terasa. Istrinya orang Boyolali. 

Kami pun ngobrol dengan bahasa campuran; Jawa, Ngapak, dan Indonesia. Aku tidak berani ngomong Batak. Tak secuil pun aku mampu.

"Tanah seluas ini, yang dibuat gereja, dibantu oleh orang Islam. Dulu gereja kami ada di sana, yang sekarang jadi kandang," ujarnya bercerita,


Saat ia dan jemaatnya ditawari tanah oleh ibu Siti Juwariyah. Namun ia tak punya uang. Ia diminta membayar separuh saja. Yang separuhnya lagi dihibahkan.

"Tetap saja kami tidak punya uang. Namun Bu Juwariyah mempersilahkan kami mencicil. Ya, kami cicil semampu kami. Gereja ini berhutang kebaikan pada beliau," ujar  

Sama seperti HKI, GSJA juga sedang mempersiapkan acara natal, di halaman samping gereja yang disegel hingga saat ini. 

Yang agak mengagetkanku, tidak melihat ada simbol-simbol penyegelan di dua tempat tersebut. Tidak kertas, palang pintu, maupun semacam "police line,"  

Kabarnya tiga gereja tersebut ditutup tanpa ada selembar surat apapun. Pokoknya disegel. Titik.

Dari kronologi yang diberikan Pdt. Advent padaku https://tinyurl.com/2kj234mw pihak pemkot memerintahkan GSJA dan HKI pindah tempat jika mereka tidak mau bergabung tempat ibadahnya di GMI. 

Perintah ini sekedar perintah tanpa disertai upaya fasilitasi. Dua gereja ini tak pelak harus bersusah payah membeli lahan dan mulai pengurusan dari nol. 

Aku melihat kekecewaan mendalam di setiap wajah jemaat dan pendeta HKI dan GSJA. Kekecewaan ini ditutupi dengan ketabahan spiritualitas dan kepasrahan. 

Tenaga perlawanan yang seharusnya mereka tunjukkan sebagai respon ketidakadilan terlihat benar-benar padam. 

Entah mengapa, aku selalu berpikir Alkitab selalu berhasil membuat para pengikut Yesus menjadi pribadi yang senantiasa mengedepankan ketaatan, nriman, pengampunan dan tetap bersuka cita meski dalam penindasan. 

Aku jadi teringat film The Book of Eli, bercerita tentang upaya mati-matian Denzel Washington mempertahankan Alkitab supaya tidak jatuh ke tangan, Carnegie, pemimpin tiran yang meyakini Alkitab merupakan obat bius ampuh agar rakyat bisa dikendalikan, tidak melawan, meskipun dijajah. 

Mungkin strategi ini juga digunakan Belanda, salah satunya, untuk melanggengkan penjajahan. Elit Belanda saat itu, kabarnya, meyakini lebih mudah "bekerja sama," dengan penduduk Hindia Belanda pengikut Yesus ketimbang Muslim. 

Mungkin itu pula sebabnya, dalam kurun waktu 1920-1940, pribumi Protestan/Katolik menerima gelontoran subsidi keagamaan fantastis ketimbang mereka yang Islam. Perbandingannya sangat jomplang; kisaran 1.000.000 vs. 5.500 gulden. M. Natsir pernah mencatat hal ini dalam kumpulan tulisannya, "Islam dan Kristen di Indonesia,"

Dalam perspektif strategi adu-domba, kebijakan ini tak pelak menempatkan pribumi Islam meradang dalam kurun waktu lama dan kebencian terhadap Belanda dipercikkan kepada saudara mereka yang pribumi Kristen/Katolik.

Jejak-jejak memori kepahitan seperti ini sangat mungkin menelusup dan diwariskan hingga saat ini, membuat sebagian besar orang Islam masih belum bisa menerima kelompok Kristen/Katolik sepenuhnya tanpa prasangka. Tak terkecuali Walikota Jambi terhadap tiga gereja di Smpang Rimbo.

"Kamu dan kawan-kawan GUSDURian dari Islam perlu sesering mungkin tahu penderitaan mereka," ujarku pada Def. Penderitaan akan menaikkan kadar empati serta mencegah seseorang bertindak zalim kepada orang lain.

Selain Def, datang juga beberapa kawan muslim lain dari GDian, diantaranya Imam Nasution dan satu lagi anak KAMMI. Yang mengagetkan, ternyata kawan lamaku, Hafidzen --seorang aktifis, juga tinggal di Jambi, dekat dengan lokasi kami nongkrong di Simpang Rimbo.

"Kita nongkrong dan ngopi-ngopi di sini ya, Zen" balasku melalui WA.

Malam itu aku senang sekali. Jagongan di HKI Alam Barajo menjadi pertemuan para aktifis Islam jambi dan jemaat gereja tersebut. Diskusi kami menjadi lebih gayeng manakala Cak Wawa, anggota komisioner Komnas HAM, ikut bergabung. 

"Belum ada surat pengaduan terkait penyegelan tiga gereja ini masuk ke Komnas HAM," ujar Cak Wawa.

Aku tentu saja agak kaget. Semestinya setiap tindakan yang melanggar hak asasi manusia dilaporkan ke Komnas HAM, supaya terdata dan bisa ditindaklanjuti oleh lembaga tersebut. 

Aku kemudian meminta Pdt. Advent menyempatkan membuat surat pengaduan dalam 1-2 minggu ini. Dalam benakku, penanggung jawab sebuah kota/kabupaten akan dipaksa memberi atensi manakala wilayahnya dikunjungi secara resmi oleh Komnas HAM. 

Diskusi kami terhenti. Makan malam sudah datang. Ditata di karpet. Kami semuanya bersiap untuk makan. Namun sebelum itu, aku meminta Ephorus HKI Pdt. Firman Sibarani memimpin doa makan. 

Suasana makin meriah karena secara tak terduga jemaat HKI juga mengeluarkan kue tart dengan lilin di atasnya. Rupanya Pdt. Advent ulang tahun. Entah yang keberapa.

Paginya, saat mengantarku ke bandara, aku sempat menitipkan pesan khusus kepada Pdt. Adven dan Mas Nainggolan, sintua. Pesan ini adalah materi yang sempat aku diskusikan dengan beberapa jemaat HKI saat makan malam. 

"Meski gereja disegel, tolong jangan perlakukan gedung tersebut seperti organisme yang mati karena tidak terawat," ujarku. 

Bangunan gereja yang disegel harus tetap diperlakukan sebagaimana organisme yang hidup. Ia harus dibersihkan tiap hari. Jendela dan pintunya dibuka agar sirkulasi udara tetap terjaga. 

"Wah nanti malah didatangi aparat pemkot, mas" kata Pdt. Advent sembari tertawa nyengir.
"Ya ndak papa didatangi. Kan, jemaat tidak beribadah, hanya membersihkan dan menata, apa salahnya?" ujarku. Dia manggut-manggut.

Yang tidak aku sangka adalah kejadian saat akan check-out dari hotel. Saat itu lobby terasa begitu ramai. Mirip ketika ada pejabat atau artis datang.

"Pak..pak.. Bolehkah kita berfoto dulu?" teriak pegawai hotel di depanku kepada pria tegap berjenggot tipis, berpeci, dikelilingi beberapa satpol PP. 

Mereka bergerombol menata pose.

"Siapa dia, mas?" tanyaku kepo, berbisik kepada Pdt. Advent.
"Walikota Jambi, mas" ujarnya sambil tersenyum.
"Ooooo..."(*)

Sunday, November 20, 2022

THE MIGHTY KINZIE


"Aku Kinzie, gus, kita pernah bertemu di pertemuan nasional penggerak GUSDURian di Surabaya kemarin," katanya memperkenalkan diri saat kami bertemu di Catolic Center Kota Medan, Rabu, 16 November.

Aku perhatikan sekilas anak ini, Tionghoa berpenampilan maskulin dengan sisa-sisa feminitasnya yang masih terasa. 

Aku kembali mengingat apakah saat acara GUSDURian di Asrama Haji Sukolilo beberapa bulan lalu pernah bertemu dengannya. Sayangnya memoriku terlalu usang.

"Ketemu dengan Amar Alfikar juga?" aku memberanikan diri menebaknya. Kinzie mengiyakan. 

Tebakan ini sebenarnya ingin mengkonfirmasi dugaanku terkait dirinya dan dari "faksi," GUSDURian apa ia berelasi. 

Penggerak GDian yang bernaung dalam Jaringan GUSDURian itu seperti, katakanlah, polisi. Punya "detasemen," masing-masing, selain tentu saja, terbagi secara geografis. Ada sabhara, Intel, reserse, brimob, dll. 

Penggerak GDian juga demikian. Mereka memiliki fokus kerja masing-masing. Aku menyebutnya "faksi," atau "detasemen,"

Nah dalam pemetaanku secara personal, kerja-kerja para penggerak GDian terbagi menjadi berbagai isu, sesuai passion dan concern masing-masing. Ada yang bergerak di isu interfaith, ekologi, filantropi, community development, pendidikan, disabilitas, dan lain-lain, tak terkecuali detasemen LGBT.

Amar Alfikar, di kalangan para penggerak GDian, sudah tersohor ada di detasemen ini. Aku barangkali juga akan dinisbatkan ke dalamnya. 

Aku masih ingat, saat bertemu gus Amar di acara Sukolilo, ia mengatakan ada penggerak GDian yang seperti dirinya, transman, dari Medan. Waktu itu aku belum sempat mengeksplorasi lebih jauh terkait dirinya. 

Di kalangan penggerak GDian, aku memang sedang getol mengkampanyekan ruang aman bagi mereka di Jaringan GDian. Artinya, jaringan ini tidak hanya memperjuangkan isu lintas agama, lintas etnis, ekologi, filantropi, namun juga kesetaraan gender dan seksualitas. 

Berdasarkan radar yang aku miliki, ada puluhan penggerak GDian yang menaruh minat dalam isu ini. Baik mereka yang berstatus allies maupun yang berasal dari komunitas LGBTIQ sendiri. 

Kinzie datang ke acara di Catholic Center bersama genk GDian Medan lainnya. Beberapa penggeraknya adalah Bhante Dirapunno, Maulana Idris dari Jemaat Ahmadiyyah, dan Purjatian Anhar. 

"Aku transman, gus. Dengan satu anak, cewek," ujarnya saat kami ngopi bersama. 

Transman adalah istilah dalam rumpun identitas gender, menurut Webster, merujukan pada seorang (yang merasa) lelaki yang dulunya terlahir memiliki organ reproduksi perempuan.

Kinzie bercerita banyak terkait dirinya; bagaimana mengarungi jalan terjal hingga akhirnya mampu menerima kondisinya (coming in) maupun mengekspresikan penerimaan itu ke publik (coming out).

"Esther tahu pergumulanmu, Kinzie?" tanyaku. Esther adalah nama putrinya.
"Tahu dong. Aku kasih tahu dia. Termasuk agar ia memanggillku 'papa,' ketimbang 'mama,"" ujarnya sembari tersenyum.

Kinzie nampak begitu konfiden dan bersemangat menceritakan sejarahnya. Ia mengaku sedang berupaya menulis kisah hidupnya. Aku sangat senang dengan inisiatifnya tersebut.

Aku awalnya mengira ia seorang pengikut Kristus atau folower Siddharta Gautama. Ternyata dugaanku meleset. 

"Aku muallaf, gus, aku bisa seperti ini karena merasa dibimbing Kristus," ujarnya. "Menarik ini," batinku.

Dalam pandangan Kinzie, kekristenan adalah akar hidupnya. Tidak bisa dilepas begitu saja, dan tidak akan ia ingkari keberadaannya. 

Menurutku ini agak unik manakala kita menjumpai proses konversi agama senantiasa diletakkan dalam kategori binerik-pejorative; melupakan dan mengingkari jasa agama lama --bahkan mengoloknya jika perlu, agar dapat bercinta dengan yang baru.  

"Aku selalu ngomong ke publik bahwa Kristen merupakan akar hidupku. Islam adalah my next chapter of life," tambahnya, dengan ekspresi yang menurutku serius. 

Dibandingkan dengan model spiritualitas Daniel Mananta yang viral barusan, rasanya Kinzie menawarkan genre yang relatif lebih "dewasa," --menurutku. 

"Tau nggak, nyo?" tanyaku
"Opo, gus?"
"Di dunia pesantren, model beragamamu selaras dengan doktrin al-muhafadzotu 'ala al-qadimi al-salih wa al-akhdu di al-jadidi al-aslah,"
"Opo maneh iku, gus?" tanyanya meringis. 
"Arti bebasnya, menjaga nilai-nilai lama yang baik serta, dalam waktu bersamaan, juga mengambil nilai-nilai baru yang dianggap lebih baik," jawabku

Kinzie, kepadaku, bertekad akan terus mengkampanyekan pentingnya toleransi dan penciptaan ruang aman bagi orang-orang seperti dirinya. Ia merasa GUSDURian mampu memberinya semacam kekuatan untuk melakukan hal itu.

Kekuatan spiritualitas seperti ini barangkali yang mendorongnya aktif mengelola akun IG @muaraidn --akun yang bergerak mengedukasi publik seputar SOGIESC -- sexual orientation gender identity and expression and sexual characteristic.

Aku bersyukur ia nyaman di GDian dan terus bekerja untuk kemanusiaan melalui detasemen yang ia pilih. Aku melihat teman-temannya di GDian Medan juga menopang kerja-kerja Kinzie. Sebaliknya, Kinzie juga ikut serta mendukung kerja-kerja para penggerak lain.

"Gimana dengan orang tuamu, Kinzie?" tanyaku.
"Aku hidup bersama mamaku. She is fine with me, with life I choose. Mungkin pada saat itu pasanganku beretnis Tionghoa. Tidak tahu juga kalau misalnya aku jalan bukan sama tenglang," ujarnya tertawa.(*)

Saturday, October 22, 2022

BERNEGOISASI DENGAN TUHAN DI PASAR


Aku merasa cara pandang manusia terhadap tuhan dapat dianalogikan dengan bagaimana kita bernegoisasi dengan tuhan.

Pagi ini (22/10) aku ke pasar dengan Amiroh. Ia awalnya malas. Lebih suka mager di rumah. Aku agak memaksanya agar ia lebih banyak bergerak. Sejak seminggu ini ia mengeluh badannya sakit semua. Kurang gerak --pikirku.

Kami menyusuri ruang-ruas pasar, baik di lingkar dalam maupun luar. Becek dan berbau khas. Bau yang aku suka. 

Kami mengunjungi sekitar 10 lapak untuk memenuhi kebutuhan kami, dengan berjalan kaki. Diam-diam aku perhatikan bagaimana Amiroh berinteraksi dengan para penjual. 

"Murah-murah, mas," matanya berbinar-binar sembari memilih apa yang ia maui. Tanpa merasa perlu bernegoisasi. Baginya, sangat mungkin, para penjual terlihat begitu pemurah dengan harga yang telah ditetapkan.

Amiroh bisa jadi bertindak seperti ini karena, dalam berbelanja, telah terbiasa menggunakan pendekatan "watch listen and obey, no negotiate,"  

Kalau kita ke supermarket atau mall, kita memakai pendekatan itu. Mereka, para provider, bertindak seolah seperti Tuhan yang kaku dan tak bisa bernegoisasi. 

Label harga adalah firmannya. Jika teks suci masih membuka adanya interpretasi, label harga tidak. Kecuali salah cetak. 

"Mau sawo?" tanyaku padanya saat kami melintas depan  penjual sawo dengan gelaran terpal sempit.

Kami pun balik kanan mennghampirinya. Aku segera berjongkok berusaha menyejajarkan dengan penjualnya yang duduk di aspal jalan. 

Mataku memberi kode "on your knees, please," pada Amiroh yang masih tetap berdiri saat berkomunikasi dengan penjual. 

Aku mendengar sang penjual menyebutkankan harga untuk satu kumpulan sawo. Isinya sekitar 8-10 biji.

Ini model transaksi klasik di mana timbangan tak lagi diperlukan. Semua didasarkan kepantasan dan, tentu saja, firman sang penjual.

"Niki tuwek wit, mas" ujarnya. Kalau bahasa Indonesia, masak pohon, tidak karbitan. Aku ho oh saja. 

"Mas, nek kabeh pinten nggih?" tanyaku seraya menunjuk dua kumpulan sawo. Aku tidak menyebutkan harga. 

Pertanyaanku ini mungkin seperti orang bodoh yang bisa dimaknai aku tidak memahami perkalian dasar. Padahal tanpa kalkulator pun aku tahu harga sebenarnya.

Namun, siapapun yang pernah ke pasar pasti paham ini adalah kode sangat sopan bernegoisasi; minta keringanan.

Sang penjual pun menyebutkan harga yang menurutku sangat pantas untuk semua sawo tersebut. Pelan-pelan ia memasukkan sawo ke kresek, satu per satu. Aku mengeluarkan uang bergambar pak Frans Kaisiepo. Satu-satunya yang tersisa. 

Aku berpikir ketetapan Tuhan mungkin seperti regulasi harga di pertokoan dan mall yang semuanya serba fixed dan rigid. Namun bisa jadi ketetapanNya tidaklah sekaku itu. Menurutku, Tuhan senantiasa tetap menawarkan ruang untuk berdiskusi, bernegoisasi. 

Pernahkah kita merasa terjebak dalam situasi buntu, memilih berdoa bernegoisasi  denganNya dan akhirnya kita merasa mempu menemukan solusi atas keterjebakan tersebut? Jika iya, sangat mungkin itu adalah sebagaimana yang aku maksud dengan open for negotiation.

Tuhan sendiri, dalam beberapa kitab suci, secara eksplisit menyatakan dirinya, "Berdoalah maka akan aku kabulkan," atau --dalam salah satu ayat Alkitab yang aku ingat, ayat favorit- ”Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan 

Maka, secara tidak langsung, (ketetapan) Tuhan itu, menurutku, terasa lentur. Elastis. 

Elastisitas inilah yang membuat Tuhan bersikap asyik, menyesuaikan dengan kondisi dan proses kedewasaan siapa saja yang berpikir atas diriNya. 

Aku pernah ditanya seseorang menyangkut operasi ganti kelamin yang dilakukan beberapa kawan transgender. Bukankah ini mengubah sesuatu yang telah diberikan, dan melawan kodrat, tuhan yang, itu sebabnya, pasti dibenci olehNya? Aku tidak menyalahkan cara pandang seperti itu.

Hanya saja, bukankah "mengubah pemberian tuhan," dalam arti longgar merupakan hal yang jamak dilakukan kita semua? Tiap bulan kita ke tukang cukur rambut, memotong kuku, memakai skincare, mengubah gigi, maupun hal lainnya. Padahal aktifitas tersebut merupakan hal yang bisa dikategorikan mengubah pemberian tuhan.

Aku justru tertarik dengan penanda dari Tuhan bagi kita untuk mengabarkan kapan kita perlu "mengubah" pemberianNya, yakni ketika Dia, dalam al-Quran, mengatakan, "la yukallifu alloha nafsan illa wus'aha" (Alloh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya).

Ayat ini, berlaku elastis. Tiap orang memiliki kesanggupannya masing-masing. Ada banyak orang sanggup berambut panjang. Namun, tidak sedikit yang risih memiliki rambut agak panjang, yang oleh karenanya memutuskan untuk memangkasnya.

Secara personal, untuk hal tersebut,  aku merasa lebih nyaman menggunakan frasa "merawat pemberian Gusti," ketimbang "mengubah pemberian Gusti," Frasa ini menurutku lebih netral dan apresiatif. 

Dalam konteks pergantian kelamin, menurutku, Tuhan telah memberi yang terbaik kepada hampir semua orang dengan organ reproduksi masing-masing; penis dan vagina. Sebagian besar sangat nyaman dan bangga atas pemberian tersebut. Itu sebabnya, mereka tidak hendak melakukan transformasi organ reproduksi. 

Namun demikian, tidak menutup kemungkinan ada orang yang dalam kondisi tertentu merasa tidak nyaman dengan pemberian itu dan berniat melakukan "perawatan ekstra" sebagai tanda rasa syukurnya kepada Tuhan. Untuk hal ini, apakah ada hal yang salah? Kita mungkin bisa berbeda pendapat atas hal ini. 

Namun, terhadap Tuhan yang membuka kemungkinan adanya ruang negoisasi, sebagaimana penjual sawo di pasar, kita sangat mungkin memiliki kesamaan titik pijak. Rugi jika tidak.

"Dimakan sawone, mas, ojo ngetik terus," sindir Amiroh. (*)

Thursday, September 15, 2022

Menasehati Talita Kum

Siapalah aku ini diminta menasehati orang lain? Apalagi menasehati, what so called, para kekasih tuhan yang dikirim untuk membawa pesan profetis kesetaraan gender dan seksualitas?
--
Selama tiga hari, 1-4 September 2022, aku di Solo Jawa Tengah mengikuti musyawarah tertinggi Talita Kum. Organisasi ini berdiri sekitar 2009, fokus pada isu kesetaraan hak asasi manusia di kalangan komunitas LBTQ+ (lesbian, bisexual, transgender female to male, and queer).

Sepanjang 2018-2022, aku diminta masuk menjadi salah satu anggota badan penasehat organisasi. Seorang kawan lama, kiai feminis terkenal, kabarnya merekomendasikan namaku pada organisasi tersebut untuk menggantikan posisinya. 

Aku merasa terhormat bisa meneruskan keteladanannya di badan tersebut. Posisi ini sekaligus memberiku kesempatan belajar lebih mendalam terkait isu gender dan seksualitas di Talita Kum. 

Talita Kum punya ciri khusus; melakukan penguatan dan advokasi konstituennya yang hampir semuanya perempuan berorientasi seksual non-hetero. 

"Aku dan kawan-kawan membentuk komunitas ini di Solo tahun 2009," kata Juita Manurung, yang kerap aku panggil itok Jo. 

Dia juga anggota badan penasehat dalam periodeku. Saat berbincang bersama, aku menangkap kesan kuatnya pendirian dan cara pandangnya terkait isu gender dan seksualitas. Setiap orang, menurutnya, memiliki kemerdekaan untuk menentukan identitas dan ketubuhannya, lebih-lebih perempuan.

Sangat mungkin latar belakang teologinya ini memengaruhi itok Jo menginisiasi pengorganisasian terhadap para perempuan yang memiliki orientasi seksual dan identitas gender berbeda. Kenapa harus mendampingi perempuan non-biner? Aku tidak tahu. Setiap orang memiliki panggilan sucinya masing-masing. Sifatnya sangat personal dan kadang arbitrer.

"Kita memiliki kewajiban untuk membebaskan kelompok yang ditindas," ia menambahkan. Rokoknya terus mengepul dari bibirnya. 

Sangat jelas aura kebatakan memancar dari perempuan ini. Omongannya ceplas-ceplos, terbuka, tanpa tendeng aling-aling, dan kerap diselingi humor. 

Tiga belas tahun Talita Kum berproses mengemban visi dan misinya. Sejauhmana lembaga ini mewarnai republik ini? Pasti cukup signifikan.

Selama periode 2018-2022 menjalankan program kerjanya, Talitaum mengklaim telah menjangkau sekitar 600an perempuan dari komunitas LBTQ+ di Jawa Tengah, khususnya di Pantura. Berbagai aktifitas penguatan diri, kampanye dan advokasi diberikan kepada mereka.

"Berapa estimasi perempuan non-biner di Jawa Tengah, tok," tanyaku padanya.

Ia tidak menjawab secara pasti selain kata "banyak," Ketidakpastian ini barangkali disebabkan belum adanya survei mendalam seputar populasi komunitas LBTQ+ di Indonesia.

Namun, meski ada survei yang, katakanlah, selevel Susenas sekalipun, aku tak terlalu yakin akan berjalan optimal. Salah satu faktornya, gender non-biner dan orientasi non-hetero masih dianggap tabu, kurang pantas, melawan kodrat.

Identitas gender dan orientasi seksual tadi bukanlah hal lumrah untuk disampaikan ke publik. Seseorang tidak dapat dengan mudah mengatakan, "Hai, aku lesbian," "Halo aku perempuan, suka laki dan juga perempuan," atau "Apa kabar? Aku perempuan queer," --Belum bisa seperti itu.

Sebab, aneka potensi persekusi dan diskriminasi siap menerkam siapa saja yang berani menyatakan kejujuran diri. Lihatlah kasus mahasiswa baru di Universitas Hasanuddin Makassar beberapa hari lau.

Video pengusirannya viral di mana-mana. Ia diusir karena ia berkata jujur pada dua orang dosen. 

Betapa pengetahuan SOGIESC mahasiswa baru tersebut melampaui keduanya.
Banyak dosen, guru dan pendidik di Indonesia belum memahami pengetahuan tersebut, begitu juga di kalangan masyarakat, lebih-lebih dengan kultur agama yang konservatif.

"Saya senang berproses di Talita Kum, mampu mengubah diri saya. Awalnya saya sangat pendiam, tidak tahu apa yang harus dilakukan terkait identitas saya. Kini saya merasa lebih mampu berekspresi," ujar salah satu partisipan.

Kebangkitan seperti ini mungkin yang diharapkan Jo saat memberi nama organisasi ini Talita Kum. Kata ini ada di Alkitab, berasal dari bahasa Aram. Artinya; wahai perempuan, bangkitlah.

Perempuan diminta bangkit; menyuarakan potensi dan identitasnya secara mandiri dan merdeka. Tidak takut-takut lagi. Bagi penggemar serial televisi The X-Files, ada salah satu episode yang mengambil judul serupa. Hanya saja tidak terkait langsung dengan orientasi seksual.

Homoerotisisme di kalangan perempuan dalam narasi Islam klasik begitu terkunci rapat dengan beragam penghakimam. Yang paling menakutkan, dosa dan penghukumannya disetarakan dengan perzinahan itu sendiri. 

Padahal, aku menduga kuat, penghakiman seperti itu lebih karena didorong oleh keserakahan nalar politik agama yang terobsesi memperbanyak pengkut dengan cara mengoptimalkan perempuan sebagai mesin reproduksi. 

Nalar seperti ini melihat fenomena perempuan-suka-perempuan sebagai penyia-nyiaan rahim yang seharusnya bisa dibuahi dan menghasilkan konstituen baru bagi bagi agama. Memang repot jika agama dimaknai ibarat bisnis multilevel marketing.

Hipotesis ini, bisa jadi merupakan motivasi kuat dibalik pengharaman tingkat tinggi terhadap relasi erotis perempuan-suka-perempuan, sebagaimana kerap kita temui dalam kitab-kitab klasik hukum Islam 

Narasi Alquran QS. 4:15-16 sendiri, menurutku, bersifat inkonklusif, tidak sepenuhnya terang benderang –baik melarang maupun membolehkan. Meskipun, tafsir klasik-konservatif di kalangan Sunni maupun Syiah tentu saja kita tahu isinya; melarang!. 

Hanya saja, tafsir al-Quran sendiri tidaklah tunggal. Orang-orang seperti Fazlur Rahman telah mengenalkan model tafsir progresif. Sa’diyya Shaikh menawarkan apa yang ia sebut sebagai “tafsir praksis,” -- di mana tafsir kitab suci perlu terus didialogkan dengan realitas kehidupan sehari-hari, tak terkecuali pengalaman hidup perempuan – baik heteroseksual maupun non-hetero.

Dalam tradisi Islam klasik, cerita tentang homoerotisisme perempuan tidaklah semelimpah homoerotisisme laki-laki. Akan tetapi, keberadaannya tidak bisa dianggap tidak ada.

Kita tentu tahu cerita agung lesbianisme antara Hind bint al-Nu'man, anak perempuan raja Lakhmid terakhir yang beragama Kristen, dengan Hind bint al-Khuss al-Iyadiyyah --sering dipanggil dengan nama al-Zarqa, dari Yamama Arab. 

"O Hind, you are truer to your word than men. / Oh, the difference between your loyalty and theirs! Begitulah kata Hind kepada Hind (al-Zarga)"

Hind begitu loyal dan mencintal al-Zarqa. Saat al-Zarqa meninggal, Hind begitu berduka.

Ia memotong rambutnya, mengenakan pakaian hitam, meninggalkan semua kesenangan duniawi dan bersumpah pada Tuhan untuk hidup sendiri sampai mati. Ia membangun tempat khusus untuk menyendiri di daerah Kufa Irak.

Percintaan mereka, kabarnya, merupakan cerita lesbian pertama dalam sejarah Arab, sebagaimana tercatat dalam kitab Jawami' al-Ladhdha (Encyclopedia of Pleasure) karya Abul Hasan Ali ibn Nasr al-Katib.

Kisah Hind dan al-Zarqa rupanya bukanlah satu-satunya. Menurut Samar Habib, mengutip al-Fihrist karya al-Nadim, dalam tulisannya berjudul "Medieval Arab lesbians and lesbian-like women," terdapat setidaknya 12 judul buku yang diambil dari nama pasangan perempuan, diduga kuat mereka memiliki jalinan asmara.

Keduabelas buku tersebut yakni the Book of Rihanna and Qoronfel; the Book of Ruqayya and Khadija; the Book of Mo'ees and Zakiyya; the Book of Sakina and al-Rabab; the Book of al-Ghatrifa and al-Dhulafa'; the Book of Hind and Bint al-Nu'man; the Book of 'Abda al-Aqila and 'Abda al-Ghaddara; the Book of Lu'lu'a and Shatira; the Book of Najda and Zu'um; the Book of Salma and Su'ad; the Book of Sawab and Surur; the Book of al-Dahma' and Ni'ma. 

Sahar Amer juga menambahkan, terdapat karya berbahasa Arab milik Shihab al-Din Ahmad al-Tifashi berjudul Nuzhat al-Albab fi ma la yujad fi kitab, yang berisi tidak hanya informasi seputar homoerotisisme di kalangan laki-laki namun juga perempuan. 

Mengutip penelitian Edwardes (1959), Shahab menceritakan teknik pemuasan seksual antarperempuan juga diajarkan di lingkungan hareem --sebutan para selir dan gundik elit kerajaan yang biasanya hidup bersama dalam satu komplek. 

Namun demikian, tidak berarti institusi hareem harus senantiasa diidentikkan dengan praktek lesbianisme. Hanya saja, temuan Shahab merupakan hal menarik sekaligus mengejutkan.

Temuan ini tak pelak memberi kita kesempatan berpikir ulang terkait dua hal. Pertama; bahwa seksualitas manusia memiliki spektrum luas yang terlalu sederhana untuk diringkas dalam narasi hitam-putih. Dus, yang kedua, pemahaman tersebut menantang kita semua; sejauhmana kita bersedia menghargai mereka sebagai manusia dan memperlakukan mereka secara setara.

Apalagi, terkait poin kedua, survei SMRC yang dirilis Juli 2022 menunjukkan terdapat 49,3 persen rakyat Indonesia tidak menilai komunitas LGBT sebagai manusia. 

"Jadi orang yang memiliki status sosial LGBT dianggap bukan manusia oleh sebagian masyarakat kita. Wow. Sangat mengejutkan, buat saya, bagaimana status atau makhluk manusia itu hilang simply because orientasi seksualnya berbeda,” kata guru besar Ilmu Politik UIN Jakarta ini secara retoris, dikutip dari rakyatntt.com.

Aspek manusia dan kemanusiaan ini, bagiku, sangatlah penting. Ketika orang tidak lagi menganggap seseorang sebagai manusia maka, biasanya, ia akan tidak keberatan manusia tersebut mengalami diskriminasi, penindasan, maupun persekusi.

Menurutku, hal ini tidak bisa dibiarkan karena bertentangan tidak hanya dengan spirit Islam, namun juga cita-cita Pancasila. 

Nurani dan seluruh akal sehatku tidak dapat menerima kenyataan seseorang boleh ditindas hanya karena ia berusaha menjadi dirinya sendiri tanpa merugikan orang lain. Yakni; mengakui dan merawat identitas gender-seksualitasnya --sesuatu yang aku yakini sebagai sunatullah, pemberian dari Allah. 

Identitas terberikan dari Gusti Alloh inilah yang sejak 2009 hingga saat ini akan terus dirawat Talita Kum. Aku berharap sampai kiamat nanti. Talita Kum kini telah berhasil memilih nahkoda baru. Namanya Dan Panjul, sebagai direktur eksekutif.

Ia yang selama ini telah aku anggap sebagai adikku sendiri akan bekerja selama 4 tahun bersama rekan-rekannya. Masa depan keragaman Indonesia, juga, akan ditentukan oleh Panjul dan Talita Kum. 

"Ya, saya bersedia menjabat kembali sebagai salah satu anggota badan penasehat periode 2022-2026," ucapku menyatakan kesediaan diri dalam forum pembentukan badan penasehat. Keterlibatanku dalam organisasi ini sepenuhnya bersifat sukarela (voluntary), alias tidak mendapat gaji.

Semoga Gusti senantiasa menaungi kerja-kerja Talita Kum (*)


Daftar Bacaan

  1. Amer, Sahar. “Medieval Arab Lesbians and Lesbian-like Women.” Journal of the History of Sexuality 18, no. 2 (2009): 215–36.
  2. Apakah LGBT Dan Yahudi Dihargai Sebagai Manusia, 2022. https://www.youtube.com/watch?v=F3tIZkm2D5c.
  3. Fitriyati, Suciana. “Studi Kasus Tentang Orientasi Seksual Lesbian (Penelitian Kasus Terhadap Tiga Orang Lesbian Di Organisasi Talita Kum Surakarta),” 2016.
  4. “Hasil Survei SMRC, 49,3% Masyarakat Tidak Menilai LGBT Sebagai Manusia - Rakyat NTT,” July 28, 2022. https://rakyatntt.com/hasil-survei-smrc-493-masyarakat-tidak-menilai-lgbt-sebagai-manusia/.
  5. Kinsley, Daniel Allan, and Allen Edwardes. The Jewel in the Lotus: A Historical Survey of the Sexual Culture of the East. Julian Press, 1959.
  6. Kugle, Scott Siraj al-Haqq. “Strange Bedfellows: Qurʾan Interpretation Regarding Same-Sex Female Intercourse.” Theology & Sexuality 22, no. 1–2 (2016): 9–24.
  7. “Laporan LGBT Nasional Indonesia,” n.d., 85.
  8. Lowry, Brian, Chris Carter, and Sarah Stegall. Trust No One: The Official Third Season Guide to the X Files. Vol. 2. Harper Entertainment, 1996.
  9. Müller, Kathrin. “Hind Bt. al-Khuss.” In Encyclopaedia of Islam, THREE. Brill, July 7, 2016. https://referenceworks.brillonline.com/entries/encyclopaedia-of-islam-3/*-COM_30473.
  10. Oetomo, Dédé, Khanis Suvianita, K. S. Halim, J. Liang, S. Soeparna, and L. Surahman. “Hidup Sebagai Lgbt Di Asia: Laporan Nasional Indonesia.” Diakses Dari: Https://www. Usaid. Gov/Sites/Default/Files/Documents/2496/Being_LGBT_in_Asia_Indonesia_Country_Report_Bahasa_language. Pdf, 2013.
  11. Prihatini, Zintan. “Video Viral Mahasiswa Unhas Diusir Karena Mengaku Non-Biner, Apa Perbedaan Jenis Kelamin Dan Gender?” Accessed September 11, 2022. https://www.kompas.com/sains/read/2022/08/22/170200223/video-viral-mahasiswa-unhas-diusir-karena-mengaku-non-biner-apa-perbedaan.
  12. Rowson, Everett K. “Homosexuality.” In Encyclopedia of the Qurʾan --Edited by Jane McAuliffe, 2:144–144. Leiden: Brill, 2002.
  13. Shaikh, Sa’diyya. “A Tafsir of Praxis: Gender, Marital Violence, and Resistance in a South African Muslim Community.” Violence against Women in Contemporary World Religions: Roots and Cures, 2007, 66–89.
  14. Sugesti, Francisca Devia. “Dilematika Konsep Diri Transgender Priawan (Studi Fenomenologi),” 2017.
  15. biblestudytools.com. “Talitha Cumi Definition and Meaning - Bible Dictionary.” Accessed September 11, 2022. https://www.biblestudytools.com/dictionary/talitha-cumi/.

Tuesday, August 30, 2022

MELAYANI GEREJA MELAYANI INDONESIA


Persinggunganku meladeni kunjungam GPIB ke Tebuireng dan Tambakberas, Minggu (21/8), menyisakan sebuah refleksi seputar konsep melayani.

Saat banser tengah dikritik habis di kalangan internal karena rutin menjaga gereja saat Natal, mereka tetap kukuh dengan pendiriannya. Salah satu alasannya, dengan mengutip pendirian Gus Dur; bahwa yang sedang dijaga Banser adalah Indonesia.


Gus Dur seolah mengatakan pada kita semua --terlepas betapa sulitnya memahaminya, "Sebagai mayoritas, yang memiliki berbagai macam privilese --termasuk paramiliter, NU harus melindungi Indonesia, salah satu caranya adalah dengan memastikan saudaranya yang berbeda agama dapat merasakan kedamaian dan rasa tenang saat beribadah,"


Sebagai santri madzhab GUSDURian, aku terinspirasi dan berusaha melakoni hal. Sekuat tenaga --sungguhpun tidaklah mudah. Inspirasi itu pelan-pelan membentuk jati diriku; apa yang aku inginkan dalam hidup dan bagaimana cara mewujudkannya. 

Aku merasa seperti seorang jongos dalam relasi antaragama, khususnya Islam-Kristen. Kalau ada orang Islam yang butuh berelasi dengan Kristen/Katolik atau agama lain, aku berusaha membantu mereka. Misalnya, untuk kebutuhan kunjungan, mengenal ajaran agamanya, berteman, atau apa saja. 

Pun, sebaliknya. Jika ada gereja yang ingin berelasi dengan Islam, dalam bentuk yang sama, aku pun dengan senang hati membantunya. 

"Selamat datang di Pesantren Tebuireng," ujarku berkali-kali kepada puluhan orang yang turun dari dua bis besar dan 5 mobil. Mereka adalah rombongan majelis sinode GPIB. Jumlahnya sekitar 70an orang. Banyak temanku di sana. 

Aku seperti tour-guide mereka yang memang sedang ingin mengenal pesantren lebih jauh, khususnya Tebuireng ---tempat bersemayamnya KH. Abdurrahman Wahid.

Aku mendampingi Gus Lukman, yang mewakili pengasuh Tebuireng, membawa rombongan ke makam Tebuireng. Mereka bisa masuk ke lokasi terdalam makam atas kebijakan pengelola makam. 



"Dalam tradisi kami, orang-orang yang kami anggap dekat dengan Gusti hanya mati fisiknya. Mereka tetap kami anggap hidup. Makam ini seperti Yerusalem, diziarahi banyak orang," ujarku pada rombongan. 

Saat itu, selain rombongan GPIB, ada sekitar seratusan lebih peziarah membanjiri makam Tebuireng. Semuanya muslim. Lantunan teks Arab menderu mengurung makam. Persis seperti dupa yang meluap-luap.

Aku tidak tahu bagaimana perasaan semua anggota rombongan GPIB berada di tengah lautan suara ini. Senang? Miris? Begidik? Galau? Biasa saja? Sangat mungkin ini merupakan pengalaman pertama bagi mereka. 

Tabur bunga dilakukan beberapa pendeta, di atas pusara Gus Dur, salah satunya. Puluhan kamera mengabadikan banyak momen.

"Kak, kalau misalnya mau berdoa, silahkan ya. Ndak papa," ujarku pada Pdt. Elly Debell, salah satu pengurus sinode. 
"Boleh?" katanya dengan muka agak serius. Tatapan konfirmasi. Seperti tidak terlalu percaya. 
"Boleh dong," ujarku.

Kak Elly kemudian meminta seluruh rombongan mendekat ke pusara, termasuk yang di luar pagar. Aku terus menunjukkan gesture ke kak Elly dan rombongan agar tidak ragu berdoa secara kristiani ke pusara Tebuireng.

Di tengah deru ratusan orang mengaji, ia memimpin doa secara Kristen. Khusyuk. Begitu pula anggota rombongan, termasuk aku yang berada di samping agak belakang kak Elly.

"Sebentar lagi, kita akan menuju Pesantren Assaidiyyah 2 Bahrul Ulum Tambakberas," ungkapmu saat mengantar mereka ke kendaraan.

Aku melihat ada perasaan gembira terpancar dari mayoritas rombongan GPIB saat meninggal Tebuireng. Tak lupa aku berpamitan ke Pak Lukman, tour guide Tebuireng, serta Gus Kikin, pengasuh pesantren.

"Matur nuwun, Gus, telah bersedia melayani rombongan GPIB," ujarku sembari mencium tangan Gus Kikin.


Aku datang terlebih dahulu di Tambakberas, menemui Ning Um yang sudah siap-siap di lokasi. 

Rombongan GPIB akan diterima di Pesantren Bayt Al-Quran, unit pengembangan pendidikan pesantren Tambakberas yang diasuh Gus Muhammad Imdad, putra sulung Ning Um. Unit ini memang dikhususkan bagi mereka yang berkehendak menghafalkan Al-Quran.


Saat rombongan datang, beberapa santri sedang berbaris menunggu giliran untuk "setor," hafalan ke ustadznya. Pemandangan ini menarik minat beberapa anggota rombongan.

"Ini adalah salah satu fase rutin di seluruh pesantren yang fokus menghafal Al-Quran. Tidak setiap hari kan kawan-kawan menjumpainya?" ujarku pada mereka.

Banyak dari rombongan GPIB minta izin masuk masjid --tempat "setoran," berlangsung-- untuk mengabadikan proses para santri. 


Sangat mungkin ini pengalaman baru, tidak hanya bagi mereka namun juga para santri. Sebab, tidak setiap hari para santri setor dilihat para pendeta.

"An, kita terima mereka di lantai atas pesantren ya, soalnya masjid dipakai setoran," ujar Ning Um.
"Inggih,"

Aku yang didapuk menjadi moderator dalam forum ramah tamah tersebut berusaha sekuat tenaga mencairkan kekakuan-kekakuan. 


"Ini kenapa ya Pdt. Paulus sambutannya agak tegang? Biasanya kalau khotbah lancar sekali," godaku pada Ketum GPIB yang disambut tawa para peserta. 

Selain Ning Um yang hadir, forum menjadi semakin lengkap karena Kiai Hasan dan Gus Imdad juga hadir. Kiai Hasan adalah suami Ning Um. 

"Npunten Kiai Hasan, Pdt. Paulus ini, kalau dalam struktur NU, selevel dengan Gus Yahya Staquf lho," ujarku.
"Oh ya? Ketua PBNU berarti ya," ujarnya.

Aku memang berusaha menjembatani agar siapapun dapat memahami dunia kekristenan dan struktur organisasinya. Kalau aku ngotot memakai kata "sinode," "mupel," "jemaat" pasti agak sulit dicerna. Paling enak, mencari padanan dalam struktur yang sudah dipahami.


"Jadi yang hadir saat ini, katakanlah, merupakan rombongan PBNU dan perwakilan PWNU seluruh Indonesia," ujarku mengibaratkan.

Baik Ning Um, Kiai Hasan dan Gus Imdad, ketiganya memberikan pandangan seputar Islam, pesantren dan komitmen keindonesiaan. Pantikan ini tak pelak menyulut animo banyak peserta untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis. 

Forum berjalan begitu gayeng dan penuh kehangatan persahabatan. Itu sebabnya, waktunya molor. 

Kehangatan tersebut mungkin salah satunya disebabkan karena ada irisan antara GPIB dan pesantren ini; Ning Um dan Gus Imdad adalah lulusan UIN Sunan Kalijaga --tempat puluhan pendeta GPIB menyelesaikan studi master dan doktoralnya.

"Boydo, ndak usah sungkan dengan kakak angkatanmu ya. Kalian ini satu almamater," ujarku pada Pdt, Boydo kepada Ning Um. 

Sebelum meninggalkan Tambakberas, rombongan GPIB meninggalkan kenang-kenangan. Mereka menanam beberapa pohon di areal pesantren.


Aku melihat ada semangat dan ketulusan terpancar, baik di Tebuireng dan Tambakberas. Semangat menghormati dan  melayani setiap orang yang bersilaturahmi, tak terkecuali gereja. 

Namun kemampuanku terbatas. Aku tidak dapat membaca pikiran Gus Kikin, Ning Um, Kiai Hasan dan Gus Imdad dibalik keramahan dan kehangatan penyambutan rombongan GPIB.

Namun sangat mungkin mereka, yang memang sudah terdidik mempertahankan identitas keindonesiaan, berpikiran; melayani gereja merupakan bagian dari melayani Indonesia.(*)

Featured Post

Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 35

Rilis Jaringan NU Kultural (JANUR)  Jombang, 19 Agustus 2026 Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 35 Muktamar ke-35...