Pages

Saturday, August 19, 2023

Sikap Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD) Jawa Timur Terkait Persekusi Pembatalan Rencana Perayaan Agustusan di Rumah Pergerakan dan Kebangsaan Delta Mandala II Sidoarjo

Terkait Persekusi Pembatalan Rencana Perayaan Agustusan di Rumah Pergerakan dan Kebangsaan Delta Mandala II Sidoarjo*

Sekitar pukul 8.30 tadi, Sabtu (19/8), puluhan massa yang terdiri dari aparat desa Semambung Gedangan Sidoarjo, sebagian warga yang didampingi aparat kepolisian dan militer, mendatangi lokasi yang rencananya akan dibuat acara perayaan memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-78 malam nanti. 

Lokasinya di Rumah Pergerakan dan Kebangsaan Perumahan Delta Mandala II Semambung Gedangan Sidoarjo. Acara tersebut dihelat oleh Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD) dan GUSDURian Suroboyo (Gerdu Suroboyo).

Wednesday, August 9, 2023

MOHAMMAD DAN KRISTEN-PANCASILAIS DI GPID MENSUNG


"Saya mengundang Gus Aan Anshori untuk maju ke depan. Bapak-Ibu, saya baru tahu kalau nama asli Gus Aan adalah Mohammad Anshori," kata Pdt. Selvi di hadapan ratusan jemaatnya, Minggu, 6 Agustus.

Aku punya setidaknya tiga nama. Nama pertama, Urip Santoso, nama Jawa --sebelum akhirnya "dikudeta" oleh nama berbau Arab dan diformalkan menjadi Mohammad Anshori. Sedangkan nama ketiga adalah nama panggung; Aan Anshori.

Wednesday, July 26, 2023

WAYANGAN DAN PERKAWINAN PENGHAYAT


Jika tidak ada aral melintang, 5 Agustus nanti, akan ada wayangan. Penyelenggaranya adalah Persatuan Warga Kerokhanian Sapta Darma Kota Surabaya. 

Wayangan untuk memperingati acara Suroan ini mengambil judul "Wahyu Makutharama," dengan Dalang Ki Bambang Handoyo. Acaranya terbuka untuk umum, di Gedung Cak Durasim Surabaya. Silahkan hadir.

Sayangnya, aku menyesal tidak bisa datang. Tanggal itu aku ada di Parigi Moutong. 

Tuesday, July 25, 2023

NASIB PERKAWINAN BEDA AGAMA SETELAH KELUARNYA SEMA


Banyak orang bertanya bagaimana nasib perkawinan beda agama (PBA) paskakeluarnya Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) kontroversial yang memerintahkan para hakim menolak permohonan PBA di pengadilan.

Nasib PBA di Indonesia makin babak belur. Jika sebelumnya kekuatan intoleran berhasil menekan banyak Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) kabupaten/kota agar menolak permohonan PBA, kini jalur pengadilan pun ditutup. 

Sunday, July 2, 2023

PRAHARA BAHAGIA "PENERBANGAN" KETIGA; PERKAWINAN BEDA AGAMA

Aku meyakini jodoh dalam perkawinan bermakna tujuan, destinasi setiap manusia, yakni kebahagiaan. 

Ada yang bahagia dengan cukup kawin sekali saja selamanya. Namun tidak sedikit yang harus bergonta-ganti "pesawat" agar sampai ke tujuan.  

Tiap orang memiliki jalan penerbangan masing-masing. Tak terkecuali cerita penerbangan Wulan dan Irman.


Keduanya berbeda agama. Wulan Protestan, Jawa ningrat, ASN. Sedangkan Irman, Islam Sunni, berdarah Madura, swasta. Wulan lebih senior tiga tahun ketimbang Irman. Keduanya saling cinta setelah jodoh mereka dengan dua orang sebelumnya berakhir. 

"Hatiku sudah sangat rapat terkunci untuk laki-laki lain, Gus. Aku tidak mudah mempercayai laki-laki. Tapi Irman berbeda dari sebagian besar lelaki yang berusaha mendekatiku. Kami berencana melanggengkan ikatan cinta kami dalam perkawinan beda agama," ujar Wulan.   

Friday, May 5, 2023

DERU PBA DI BECOMING INDONESIA

Di kampusku Ciputra, tidak ada Fakultas Hukum. Entah kenapa. Mungkin 5 tahun lagi baru ada. 


Namun pagi kemarin, Jumat (5/5), aku bereksperimentasi, mencoba mengajak mahasiswa/i matakuliahku "Becoming Indonesia," berselancar tipis ke dunia hukum. 

Aku meminta mereka membaca putusan/penetapan PN Surabaya terkait perkawinan beda agama (PBA) yang diajukan Rizal Adikara dan E. Debora Sidauruk.

Pagi tadi mereka mendengarkan presentasi dua kelompok terkait asimilasi dan akulturasi melalui perkawinan beda agama/etnis. Mereka banyak memapar aspek sosial dan psikologis. 

Wednesday, May 3, 2023

UDENGAN BALI DAN KEKERASAN AGAMA

Entah kenapa aku tiba-tiba ingin pakai udeng Bali saat ngajar. Selasa, 2 Mei, aku memakainya sejak dari Aloha Sidoarjo menuju Citraland. Motoran tanpa helm. Aku melanggar hukum. Temanku tidak membawa helm rupanya. Sungguh aku menyesal. 

Aku baru tahu corak udengku adalah poleng. Warnanya seperti papan catur.


"Mengingatku pada pohon di Bali, Pak. Banyak yang dibebat dengan kain bermotif seperti itu," kata salah satu mahasiswa Religion saat di kelas.

Betul, motif poleng sering dijumpai sebagai pengikat pohon atau lainnya. Rupanya, ini merupakan simbol ekspresi terima kasih (gratitude) atas kontribusi yang diberikan oleh yang-dibebat. Pohon memberikan kontribusi luar biasa atas alam raya. Jika kita membebatnya dengan poleng, itu artinya kita berterima kasih. Tidak boleh ditebang. 

Yang patut juga direnungkan dalam motif poleng adalah penggabungan dua warna; hitam putih. Yin-yang. Negatif-positif. Siang-malam. Baik-buruk.

Ini mengingatkan kita agar mensyukuri apapun yang diberikan kepada kita, sungguh pun tidak semuanya baik. Artinya, kita kurang pas jika hanya bersyukur atas anugerah kebaikan. Alih-alih, kita juga dituntut berani mengapresiasi apa saja yang tidak mengenakkan bagi kita. 

Kalau kita punya kawan pengkhianat, syukurilah. Jangan tidak dianggap sebagai kawan. Begitu pula jika memiliki aib, dosa, kesalahan --jangan membencinya. Harus disyukuri.


"Itu sebabnya, aku bebat kepalaku dengan udeng Bali, sebagI perasaan syukur. Otakku ini telah menuntunku berbuat baik dan buruk selama hidup hampir 50 tahun. Aku berusaha menjadi baik," ujarku pada para mahasiswa. 

Kebetulan sekali pagi itu kami mendiskusikan topik kekerasan agama dan konsep sesama. Aku mengajak para mahasiswa menyadari banyak agama monoteistik sering bersikap ambigu. Satu sisi mengklaim sebagai pembawa damai, namun di sisi lain, menyebabkan kesengsaraan luarbiasa bagi umat lain.

"Yang salah bukan agamanya, pak. Tapi bagaimana ia ditafsirkan," sahut salah satu mahasiswaku.

"Nah, justru dalam argumentasimu itu aku mengendus anasir penyangkalan. Hanya mau buah nangkanya tapi emoh getahnya. Padahal nangka itu ya semuanya; getah, kulit, biji, aroma, rasa manis, termasuk pohon dan daunnya," ujarku.

Aku selanjutnya menantang mereka berani menginklusi doktrin dalam kitab suci mereka melalui esai pendek. Ada 5 agama yang dipeluk keseluruhan mereka. Satu mahasiswa mengaku agnostik.

Esai tersebut sekurang-kurangnya mengeksplorasi jawaban atas 2 pertanyaan; (a) temukan sebanyak mungkin teks dalam kitab sucimu yang (1) berpotensi dijadikan pembenar melakukan kekerasan terhadap orang yang berbeda, (2) berisi ajaran tentang kesetaraan, kemanusiaan, keadilan, cinta-kasih; (b) bagaimana idealitas pembacaan atas dua kelompok teks tersebut agar kita tidak melakukan kekerasan? 

"Esai akan mendapatkan tambahan nilai untuk matakuliah ini," ujarku mengiming-imingi tip biar mereka makin semangat .(*)

Featured Post

ROKOK HKBP

Sudah lama aku tidak silaturrahmi dengan kawan-kawan HKBP Jombang. Mungkin ada setahunan lebih, Namun akhirnya semesta seperti tidak mengizi...