Pages

Monday, July 20, 2020

Tentang Tuhan Yang Berbuntut Panjang

Aku tak menyangka. Keterlibatanku sebagai narasumber di webinarnya Srikandi Lintas Iman, Sabtu (18/7), berbuntut agak panjang.

Saat itu aku memaparkan pandanganku seputar kesalihan dan Tuhan. Dan besoknya, aku dichat oleh salah satu orang yang mengaku peserta webinar.


Sebut saja namanya Qibtiyah. Muslimah berkeluarha. Ia tidak menjelaskan detil latar belakangnya padaku. Aku tak keberatan dengan hal itu.

"Saya mendapatkan nomor gus Aan dari Instagram," ujarnya.

Kami selanjutnya berkorespondensi via Whatsapp. Lebih tepatnya, Qibtiyah mengurai kemarahan dan kegelisahannya selama ini. Ia gelisah dengan dirinya dan menuding Tuhan tidak lagi mencintainya.

Ah betapa aku sangat senang ia berani berfikir seperti itu.

Berikut ini adalah percakapan kami. Aku mengedit penggunaan kata yang ia tulis agar sebisa mungkin bisa lebih dipahami maksudnya.

Salam.

Aan

-----

19/7/2020 Qibtiyah:
Assalamualaikum Gus, perkenalkan nama saya Qibtiyah. Saya adalah salah satu peserta pada Webinar Srili tentang mengenal kesalehan & Tuhan. Saya sangat terpicu oleh diagram yang Gus sampaikan yang terdiri dari kita, agama, sekte & ritual serta kesalihan. Oleh sebab itu saya bertanya apakah mungkin kita mencintai Tuhan tanpa melalui agama, sekte & ritual. 

Jawaban dari Gus tentang Tuhan yang Rahman & Rahim sedikit melegakan saya tetapi itu pula membuat saya tidak bisa tidur tenang karena pikiran-pikiran yang ruwet. Saya seorang muslimah tetapi telah lama saya marah akan konsep ketuhanan. Saya merasa tidak suka atas aturan-aturan yang diberlakukan untuk perempuan. 

Saya kecewa dengan konsep anak berbakti dan istri solehah, seolah-olah seberapapun usaha yg saya lakukan sebagai anak perempuan & istri tidak akan terhitung bila tanpa restu orang tua dan suami. 

Bertahun-tahun saya mencoba menjadi seperti itu tetapi kecewa dan galau terus. Hal ini membuat saya mempertanyakan kasih sayang Tuhan. 

Saya berterima kasih karena Tuhan dengan rencananya mempertemukan saya dengan webinar kemarin. Sebab saya mendapatkan pencerahan atas kegalauan yang telah saya jalani selama 7 tahun ini.

Dua tahun terakhir ini saya memiliki konsep bahwa saya mencintai Tuhan (dalam Islam). Namun saya tidak ingin terikat dengan aturan-aturan yang saya pikir sangat patriarki dan mengekang kehidupan saya -- baik sebagai anak yang terus-menerus dituntut berbuat apapun atas nama berbakti pada orang tua dengan mengabaikan perasaan saya sebagai seorang anak, maupun sebagai istri. 

Saya muak dengan semua penindasan yang dilakukan --atas nama istri harus solihah agar mendapat ridha seorang suami. Saya diwajibkan harus tabah menerima semua perilaku buruknya kepada saya. 

Saya marah, Gus. Marah dgn Tuhan. Saya merasa Tuhan tidak adil. Saya begitu mencintaiNya, melalukan apa yg diperintahkanNya sesuai apa yg diajarkan sejak kecil, mati-matian. Tapi Tuhan malah menempatkan saya  di titik terendah. 

Saya enggan melakukan itu semua lagi. Saya terus-menerus mempertanyakan aturan-aturan itu, Gus, hingga titik konsep ketuhanan yang saya rumuskan semdiri saat ini;  bahwa saya bisa tetap mencintaiNya tanpa perlu terikat pada aturan-aturan dan ritual-ritual itu. 

Saya tetap mencintai Tuhan Islam saya Allah SWT tapi menolak semua penindasan terhadap diri saya atas nama aturan danritual. Beberapa org mengatakan saya sesat karena saya hanya Islam di KTP tanpa menjalankan ritual-ritual dan hukum keagamaan secara menyeluruh.

Namu saya merasakan kedamaian, Gus. Damai dalam hati saya. Saya lebih bisa mencintai Tuhan tanpa beban, menerima manusia dengan welas asih dan mentolerir semua perbedaan yang ada. 

Karena itu saya ingin bertanya pada Gus, apaka keIslaman saya memang tersesat? Apakah saya tidak pantas mendeklarasikan diri saya Islam tanpa menerima semua aturan-aturan dan konsep-konsep perempuan dalam Islam? 

Mohon pencerahannya Gus. 

Terima kasih sebelumnya Gus. Oh iya maaf sebelumnya saya memutuskan menghubungi Gus setelah stalking IG Gus semalam dan menemukan kontak ini πŸ˜πŸ˜πŸ™πŸ™


-----


[7/19, 17:20] Aan Anshori: Hai Qibtiyah.. Thank you mempercayaiku membaca keresahanmu. Aku merasa terhormat. 

Apa yang kita rasakan dalam beragama adalah sesuatu yang penting. Itu sebabnya Gusti kabarnya pernah bilang "siapapun yang sudah tahu tentang dirinya maka ia akan mengenalKu,". 

Menurutku siapapun punya kemerdekaan untuk mengenal Tuhannya. Bukan hanya "punya," namun juga harus "merasa merdeka," mendefinisikan model relasinya dengan Tuhannya. Model bertuhan secara personal, menurutku perlu dipikirkan sebagai alternatif tatkala model mainstream tak lagi nyaman diikuti.

Model mainstream adalah kreasi/persepsi manusia/ulama atas Tuhannya. Belum tentu model tersebut satu-satunya yang dikehendaki Allah. 

Ini berarti sangat mungkin kamu marah terhadap Tuhan yang digambarkan oleh model mainstream. Belum tentu Tuhan seperti itu.

Ciptakanlah modelmu sendiri, pastikan outputnya adalah rahmatan lil 'alamin. 

Soal perempuan, ya aku tahu betapa misogini-patriarkhisnya fiqh kita. Aku kadang ketawa sendiri melihat bagaimana mereka/fiqh mengatur perempuan. Mereka mengatasnakan Tuhan mengatur orang lain. 

Dalam bertuhan, merdekakan dirimu ya, sebagaimana Lady Sukayna memerdekakan dirinya sendiri.☺☺☺

http://www.aananshori.web.id/2017/05/lady-sukayna-sejarah-islam-berhutang.html?m=1

-----
[7/19, 18:26] Qibtiyah: Wah terima kasih Gus atas responnya. Saya membacanya sambil tersenyum, ada rasa lega. Saya suka dengan konsep merasa merdeka mengenal Tuhan. 

Sejarah tentang Lady Sukayna membuat saya terkagum-kagum bagaimana seorang perempuan di jaman dahulu begitu sangat modern pemikirannya tapi jarang dikemukakan riwayatnya. 

Oh iya Gus, saya dulu diajarkan tentang sejarah penyebarluasan Islam. Menurut pengetahuan saya  bahwa Islam juga disebarluaskan dengan jalan peperangan, dan berbagai film2 (terutama India - maaf saya penggemar India😁) menceritakan bahwa penyebaran Islam menggunakan penaklukan wilayah-wilayah. 

Saya ingin minta pendapat dari Gus bagaimana saya dapat mengenal kembali Islam dari awal dimana hanya ada kedamaian di dalamnya, apakah ada sumber referensi yg bisa sy pelajari?

[7/19, 20:11] Aan Anshori: Iya dong.. Islam disebarkan, kala itu, dengan banyak cara. Yang paling dominan, ya menggunakan kekuatan militer, sejak jaman Nabi. 

Banyak orang Islam yang tidak bisa menerima ini karena mungkin dianggap aib. Namun, facts are stubborn. Banyak kok buku yang mengulas soal ini.

----
[7/20, 14:45] Qibtiyah: Hari ini saya terbangun dengan perasaan yang sangat lega dan bahagia. Terasa seperti lahir kembali. Saya tahu sekarang bahwa Tuhan sangat penyayang & pengasih, yang akan menerima saya apa adanya tanpa tuntutan. Tuhan saya lebih tinggi dan pemurah dari semua aturan-aturan yang yang dibuat atas nama Agama. 

Tuhan yang akan memeluk saya maupun saudara-saudara yang beragama lain maupun tidak beragama dengan kasih sayangnya. 

Terima kasih, Gus. Jika Tuhan tidak mempertemukan sy dgn Webinar kemarin & menguatkan saya untuk mengechat Gus mungkin saya akan tetap melalui hari saya dengan mempertanyakan Tuhan saya. 

Semoga Gus sehat selalu & selama sy belajar kembali tentang Tuhan mudah2an Gus tidak berkeberatan bila nantinya saya bertanya kembali apa-apa yang saya temukan dan membuat resah. πŸ™πŸ™

----
[7/20, 15:06] Aan Anshori: Haii... Duh.. Aku ikut senaaaang.... Senang karena Qibtiyah semakin bisa menemukan dirinya sendiri. God loves us no matter how bad we are. 🌹

Wednesday, July 15, 2020

MERAGU DAN LUCIFER MORNINGSTAR

Siapa saya ini, berani-beraninya membincang Tuhan dan kesalehan di hadapan banyak orang? Saya sendiri  masih ragu dengan kualitas dua hal tersebut dalam diri saya. Namun bukankah kita semua harus terus meragu agar bisa percaya?

Seminggu terakhir ini, saya sedang gandrung menonton serial Lucifer Morningstar di Netflix. Sosoknya secara umumnya dianggap sebagai energi atau kekuatan setara tuhan yang merepresentasi  sisi paling jahat dan mengerikan. Barangkali, penggambaran Lucifer paling "ideal' ada dalam film The Exorcism of Emily Rose.


Namun Lucifer Morningstar (LM) dalam serial Netflix benar-benar memporakporandakan imaji kebengisan dan kekejaman Lucifer --dalam pandangan klasik.

Ia, dengan akses British medok, digambarkan begitu seksi, charming, good-looking, dan pintarnya minta ampun.  Tidak ada satupun perempuan dan gay yang tidak kedodoran jika berhadapan dengannya.

Dalam film tersebut, ia diceritakan kabur dari neraka --tempatnya, dan turun ke Los Angeles. Kekaburan ini merupakan bentuk protesnya pada Sang Ayah (Tuhan); kenapa ia diperlakukan sangat buruk dan semena-mena dengan cara ditaruh sebagai penanggung jawab Neraka. Tempat aneka kebengisan, ketidakmanusiawian, dan angkara murka bersatu padu.

Di Los Angeles, LM menubuh dan mendaging, menjadi manusia dan berinteraksi langsung dengan manusia lainnya. Uniknya, pelan tapi pasti, watak kejam dan jahatnya mulai luntur. Sedikit demi sedikit pria ini berubah menjadi baik dan mengasihi.

Kenapa bisa demikian? Jawabannya sederhana; ia terus dibenturkan dengan realitas-langsung, bukan angan-angan dari langit. Benturan ini laksana tetesan air yang terus-menerus menimpa batu hitam, hingga cekung.

Lucifer Morningstar menjadi perenungan serius bagi saya menyangkut bagaimana kita mempersepsi tentang Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam agama Islam, tuhan Allah dipercaya mempunyai 99 nama. Uniknya, ada beberapa nama yang terindikasi merepresentasi sosok Lucifer klasik. Misalnya, al-dhaar (yang maha menimpakan kemudlaratan), al-Qabith (yang maha menyempitkan), dan al-Mudzil (yang maha menghinakan).

Saya tidak terlalu peduli seberapa banyak kita mau menyematkan nama atau sifat Tuhan yang beraroma negatif. Sebab Tuhan, dalam pikiran saya, punya otoritas untuk memilih --atau tidak memilih-- apa saja yang Ia kehendaki. 

Ia juga tidak butuh dipercayai atau tidak dipercayai oleh cipataannya. Pandangan kita atas keberadaannya, saya kira, tidak akan memengaruhi ketuhanannya.

Semudah itu.
 
Ya, tuhan memang mudah sekaligus rumit. Mudah karena Ia --secara logika-- gampang ditemui. Kapanpun, dimanapun, oleh siapapun. Ia adalah representasi kasih-sayang terbaik gabungan dari orangtua. 

Namun jangan lupa, di sisi lain, Ia juga sekaligus rumit. Sebab, namaNya seringkali dibawa-bawa untuk menghancurkan, menindas, mengkorupsi, bahkan tidak jarang namanya dicatut untuk memperkosa dan melecehkan identitas gender tertentu.

"Wajah baik" tuhan terlihat begitu babak belur dan  sangat direndahkan dengan adanya praktek-praktek di atas, Menghinakan, menyempitkan dan menciptakan kemudlaratan --ketimbang mengagungkan, meluaskan dan merawat kemanfaatan.

Sifat-sifat ini akan selalu ada, sebagaimana Lucifer. Namun saya berharap, akan ada tambahan nama di belakangnya menjadi; Lucifer Morningstar. (*)

Sunday, July 5, 2020

MERABA PERABA

Mau ngompori orang Katolik aaah....

Ini adalah kartun di Peraba III Juli 1968, majalah yang berafiliasi ke Katolik. Kartun tersebut berisi kritikan kepada politisi Islam yang selalu ngotot memasukkan Piagam Jakarta dalam aturan formal Indonesia. 

Kartun tersebut, secara khusus, adalah perayaan "kemenangan," kelompok nasionalis ketika berhasil mengKO kelompok Islam dalam pertarungan Piagam Jakarta di pembahasan GBHN MPRS 1968. 

Aku melihat betapa ekspresifnya Peraba menarasikan gagasannya. Ekspresi ini di mata kelompok Islam dianggap cuka yang dilelehkan di atas luka, sebelum cuka lain disiramkan di tahun berikutnya. 

Cuka ini membuat banyak politisi Islam semakin jengkel terhadap Katolik sekaligus memupuk keyakinan akan kekalahan Islam melawan non-Islam. 

Kelompok Islam pantas meradang atas kekalahan yang tidak terduga ini, setidaknya karena dua hal. Pertama, kelompok Islam sangat yakin mampu memenangkan Piagam Jakarta setelah membabat habis --hingga ke akar-akarnya-- pendukung utama Pancasila non-Piagam Jakarta, yakni PKI. 

Kedua, pada Januari 1966, saat parade harlah NU ke-40, terdapat aneka banner yang diusung. Isinya, seruan agar Piagam Jakarta segera dikompilasi sebagai produk hukum. Menariknya, parade tersebut juga diikuti romo, suster dan para pelajar Katolik. Mereka ikut larut dalam perayaan tersebut. Bahkan dalam parade yang sama di Jawa Barat, kelompok Protestan ikut menyumbang kesenian angklung. Keren tho?

NU-Katolik-Protestan berjalan bersama saat perayaan meski diketahui banyak politisi NU saat itu masuk dalam barisan  pendukung Piagam Jakarta. 

Maka, bisa dibayangkan, betapa nelongsonya saat politisi Islam menghadapi kenyataan --tidak hanya kalah di GBHN, namun juga disentil dengan keras oleh Peraba.


Peraba hanya masa lalu. Ia tidak lagi terdengar sekarang. Padahal suara nyaringnya tengah dibutuhkan saat ini --saat banyak politisi Islam beramai-ramai ingin membangunkan Piagam Jakarta. 

Peraba oh Peraba....


*nyamuknya banyak banget di sini.
** sumber: "Feeling Threatened: Muslim ‐Christian Relations in Indonesia's New Order" ( Mujiburrahman, 2009)

Thursday, June 25, 2020

Mei 98 di Surabaya; Raja Pengemis dan Vagina Yang Terkoyak


Bulan Mei baru saja pergi. Namun memori kelamnya tetap tinggal di sana. Abadi. Di bulan itu, titik penting dalam sejarah peradaban Indonesia dimulai.

Saat itu Orde Baru tumbang digantikan Reformasi. Ibarat bayi yang lahir, transisi ini diiringi oleh pertaruhan nyawa. Ada darah yang meleleh, terutama dari tubuh banyak perempuan Tionghoa. Lelehan ini menuntut kita untuk terus terjaga dan berefleksi.

Meski terus menjadi kontroversi karena tidak pernah terselesaikan secara hukum, aroma kekerasan seksual Mei 1998 di Surabaya tetap menyeruak, melalui laporan TGPF Komnas HAM dan Komnas Perempuan.

Catatan Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRuK) menyebut korban terbanyak ada di Jakarta, sekitar 152 orang. Di Solo, Medan dan Surabaya secara akumulatif ada 16 korban. Menurut penelitian Usman Hamid dkk. terdapat 2 korban di Surabaya. Namun benarkah hanya dua, dan sejauhmana kebenarannya?

Geger Dunia Persilatan
Dari disertasi Jemma Purdey, Anti-Chinese Violence in Indonesia, 1996-1999, dapat diketahui kerusuhan terjadi malam hari 14 Mei hingga hampir subuh. Sekitar 6-7 truk bergerak menuju wilayah Semampir Surabaya Utara, diiringi beberapa sepeda motor.

Penjarahan pun terjadi di banyak toko milik Tionghoa. Pelakunya berusia antara 18-30 tahun dengan dialek bahasa daerah tertentu. Rumor yang berkembang, mereka selama ini dikenal kerap mengkonsolidasi diri untuk hajatan kriminal, istilah lain dari geng.

Entah apa yang sesungguhnya terjadi malam itu selain penjarahan. Yang pasti, setelah 6 minggu pascaperistiwa, tepatnya 1 Juli 1998, harian Jawa Pos memuat tulisan dengan judul yang mengagetkan "Ketua Konghucu Surabaya Ungkap Perkosaan Surabaya," Koran Surya pada hari yang sama juga menerbitkan tulisan dengan judul "WNI Cina Diperkosa dalam Kerusuhan Surabaya,"

Adalah Bingky Irawan yang berani mengatakan peristiwa itu melalui media. Tokoh agama yang dikenal dekat dengan Gus Dur tersebut mengaku dicurhati orang tua para korban. Ia menyatakan ada ketakutan dan kepedihan luar biasa di kalangan Tionghoa atas peristiwa perkosaan tersebut, meski ia tidak bersedia menyebutkan peristiwa tersebut secara detil, termasuk jumlahnya.

Atas pemberitaan ini, aparat kepolisian terlihat gusar dengan pria ini. Bingky diancam akan dipenjarakan jika tidak bisa mempertanggungjawabkan statemen di media. "It is hope that people do not make comments which are without evidence and fact. This can cause people to become restless. Let us work to creating an atmosphere of calm," kata M. Dayat, Kapolda Jawa Timur di Harian Surabaya Post 1 Juli 1998 dengan judul "Bingky akan Dipanggil Kapolda," sebagaimana saya kutip dalam disertasi Purdey.

Pada tanggal 2 Juli, harian Suara Indonesia menurunkan berita dengan judul, "Yang Ada Hanya Pengrusakan, Bingky Ditunggu Pasal Kebohongan," Di dalamnya, wartawan mengutip seseorang bernama Mahmud, penduduk setempat. "I am convinced that there is an aim to discredit certain member of society. If indeed this is the case, why not just report it to the authorities. This is era of reform,"

Nampaknya Mahmud merasa tersinggung dengan sinyalemen Bingky yang menyebut pelaku kerusuhan menggunakan dialek bahasa lokal tertentu. Sangat mungkin Mahmud adalah pengguna dialek tersebut, yang secara tak sadar telah menggeser isu; dari kekerasan seksual menjadi konflik berbasis etnis. Jawa Pos di hari yang sama juga memuat berita "Jika Tak Benar, Bingky Bisa Dituntut," Isinya, statemen aparat kepolisian yang mengancam Bingky akan dituntut jika pernyataannya fitnah belaka.

Saya membayangkan betapa berkecamuknya hati dan pikiran senior saya ini saat itu. Ia tengah menghadapi konsekuensi berat atas kejujuran dan keberaniannya menyatakan apa yang menimpa kelompoknya.

Bingky akhirnya menghadap aparat kepolisian sekitar tanggal 10 Juli 1998. Entah apa yang mereka obrolkan selama di dalam. Saat keluar, Bingky tetap tidak mau menjelaskan lebih detil atas pernyataannya, "Ya nanti saja. Jika saya bicara sekarang, bisa geger dunia kang ouw (persilatan) nanti," ujarnya seperti ditulis dalam Surabaya Post 11 Juli, "Geger Dunia Kang Ouw,"

Silat Sang Pengemis
Menariknya, saat ia mendatangi kantor polisi, alih-alih menggunakan setelan jas atau pakaian resmi lainnya, Bingky malah justru memakai setelan yang oleh Jawa Pos ditulis sebagai "kaipang" atau " jiang bao".

Kaipang adalah perkumpulan para pengemis dalam cerita silat Tionghoa. "Ya betul jubah rohaniwan. Jadi Kaipang saat itu, raja pengemis, wong cino kere kata Gus Dur," katanya ketika saya konfirmasi via whatsapp Menurut Bingky, ia diberi gelar ICMI oleh Gus Dur, kepanjangan dari Ikatan Cino Melarat Indonesia.

Dengan pakaian seperti itu, Binky seperti ingin menyatakan pesannya ke publik secara gamblang; Tionghoa sedang mengemis keadilan atas peristiwa 14-15 Mei, dan rohaniawannya sendiri yang maju. Sendirian. Bingky nampak sengaja berlaku satir.

Kedekatannya dengan Gus Dur saat itu tak pelak mendekatkan pria ini dengan jaringan kerjanya, terutama di lingkaran NU Jawa Timur. Dugaan saya, dengan modalitas inilah Bingky mempercayai Choirul Anam, Ketua PW GP Ansor Jawa Timur saat itu, bertemu korban dan saksi. Dan benar, sekitar tiga hari setelah Bingky mendatangi panggilan polisi, Cak Anam memberikan statement yang dimuat Jawa Pos esoknya, 14 Juli, dengan judul sangat kuat "Ansor Benarkan Adanya Perkosaan,"

Saya melihat Bingky tengah memainkan jurusnya dengan lihai; dengan cara "meminjam" otoritas pemimpin puluhan ribu pasukan Banser untuk memperkuat ceritanya, tanpa perlu berhadapan dengan polisi, atau membahayakan identitas para Korban.

Simpang-siur Korban
Lalu berapa jumlah korban menurut Bingky? Menurut wawancara Purdey dengannya, jumlahnya sekitar 10an. Angka ini lebih besar ketimbang laporan yang ditulis Usman Hamid dkk. namun lebih sedikit dari temuan Gema Sukma dan Kelompok Perempuan Pro Demokrasi (KPPD).

Dari hasil investigasinya, keduanya mengklaim terdapat 19 korban perkosaan dan 6 penyerangan seksual. Aksi memalukan yang semuanya terjadi di Surabaya Barat itu kebanyakan dilakukan di dalam ruko. Ansor Jawa Timur juga mengklaim terdapat 2 perempuan etnis Arab yang juga menjadi sasaran kekerasan dalam peristiwa 14-15 Mei tersebut.

Baik Bingky maupun Hesti, aktifis Gema Sukma, keduanya kerap menerima teror untuk tidak meneruskan aktifitasnya. "I received a lot of threatening telephone calls, they started by asking what my ethnicity was, then they threatened me if I continued my involvement in this problem," kata Hesti dalam berita koran Surya 14 Juli 1998, "Hesti: Tak Akan Terpejam," sebagaimana dikutip Purdey.

Hingga disertasi Purdey dipublikasikan, hanya 20% saja Korban memilih tetap tinggal di Surabaya, sisanya hidup di berbagai kota di Indonesia. Saat delegasi Taiwan datang ke Surabaya dan bertemu Bingky, beberapa dari korban mendapat tawaran dukungan medis maupun tempat mengungsi.

***
Peristiwa ini sudah 20 tahun terjadi. Mungkin luka fisik para Korban sudah mulai membaik. Kondisi psikologisnya ditekan sedemikian rupa agar bisa menerima kenyataan ini. Situasinya pasti sungguhlah berat; hidup dalam ketakutan dan bayang-bayang aib jika menyampaikan ke publik. Bangsa ini berhutang banyak permintaan maaf pada mereka.

Sedangkan bagi pelaku, mereka mungkin telah melupakannya, atau malah justru menceritakan "kegagahan" itu dengan bangga ke temannya. Saya berharap akan ada salah satu dari mereka yang berani melakukan testimoni ke publik dan meminta maaf. Sebab, bangsa ini perlu terus diuji apakah bisa memberi pengampunan atau tetap tidak dewasa memandang kesalahan. (*)



**** pernah dimuat di asumsi.co sebelum akhirnya raib :D

Sunday, June 7, 2020

CERITA DI KILOMETER 44


Hari ini, usiaku bertambah (atau berkurang?). Jika dihitung, sudah 44 tahun aku hidup dan berproses di dunia ini. Entah berapa ratus film yang sudah aku tonton. Yang terakhir, tadi jam 23.30, berjudul "The Visitor," Betapa aku sangat menyukainya. 

Tak pernah menyangka aku bisa menikmati hidup penuh liku-liku. Dididik dalam tradisi Islam-Sunni yang relatif ketat, termasuk dengan aneka pengalaman yang ada di dalamnya. Tanpa pernah merasa akan berada dalam sebuah situasi di mana aku mulai mempertanyakan doktrin-doktrin klasik  yang telah lama terinstal.

Masih terasa sekali memori betapa aku merasa tidak senang dengan orang yang  berbeda agama, khususnya Kristen, dan juga Tionghoa. Memori masa kecilku yang sering mengolok waria dan ikut sekumpulan orang dewasa memburu anjing --untuk dibunuh ramai-ramai, masih juga mengendap di otakku. 

Aku sungguh bersyukur dengan memori tersebut, yang telah menjadi modalitasku untuk bisa berdamai dengan hal-hal tersebut, pada akhirnya. 

Tuhan memang penuh teka-teki. Bagaimana tidak, aku kini malah justru didekatkan dengan hal-hal yang dulu aku takuti dan benci. Lebih dari separuh teman FBku beragama Kristen/Katolik. Bergaul dengan transgender, keluar-masuk gereja, adalah aktifitas yang cukup dominan, setidaknya dalam 15 tahun terakhir ini. Yang lebih "parah," sudah dua semester ini aku mengampu kelas di mana 95% mahasiswanya adalah Tionghoa. 

Aku bersyukur atas hidupku, atas setiap hal yang telah dianugerahkan padaku. Termasuk anugerah bisa nongkrong di warung kopi dan online tiap hari. Ke pasar, bersepeda, belanja, masak, membaca dan menulis apapun yang aku inginkan. 

Mungkin hidupku lebih mirip bapakku --lelaki yang bisa dikatakan punya kekurangan dalam kepiawaiannya berbisnis. Tidak seperti ibuku. Bapakku orang politik. Waktunya dihabiskan untuk rapat, mengetik, dan mengarsip file ---ketimbang berbisnis. 

Pada tahun itu, 80an, saat aku kecil, ia berseberangan dengan Golkar. Otomatis ia tidak suka dengan Soeharto. Ia mungkin tidak menyadari bahwa anaknya ini, laki-laki yang sedang menulis ini, lahir pada tanggal yang sama dengan orang yang dibencinya. 

Kalau ingat pak Harto, aku jadi ingat seseorang. Orang besar dengan nama sangat mentereng, melampaui Puncak Himalaya. Ia meninggal sama dengan tanggal aku lahir, 8 Juni. 

Kematiannya bisa dikatakan tragis. Mungkin itu sebabnya tidak dirayakan layaknya orang besar.

Mungkin sekitar 2-3 hari sebelum meninggal, ia jatuh sakit. Tidak diketahui secara persis apa sebabnya. Namun dari informasi yang tersedia, ia sakit sehabis memakan daging yang dimasak seorang perempuan Yahudi. Kabarnya, daging itu dibubuhi racun olehnya, dengan sengaja. 

Perempuan ini melakukannya didorong keinginan balas dendam atas apa yang dianggapnya telah dilakukan laki-laki itu, tidak hanya terhadap ayah dan saudara-saudaranya, namun juga kelompoknya. 

Laki-laki itu dianggap bertanggung jawab atas kematian mereka saat menyerang desanya. 

Sewaktu perempuan tersebut ketahuan meracuninya, para pengawal laki-laki itu langsung meminta izin untuk membunuhnya. Namun izin tidak diberikan. 

Laki-laki itu terus berjuang dengan rasa sakit yang dialaminya. Ia begitu menderita akibat daging tersebut. Tubuhnya limbung tak berdaya. Ia kemudian memilih tinggal bersama salah satu istrinya, yang sangat ia sayangi. Hingga akhirnya meninggal, dipelukan sang istri. 

Yang menarik, sebelum meninggal, ia berpesan dengan nada marah agar para pengikutnya bertindak keras terhadap orang Yahudi dan Kristen. Sangat mungkin pesan itu muncul akibat kondisinya yang tidak sehat. 

Entahlah. Namun uniknya, hingga saat ini negara di mana ia dilahirkan masih steril dari pemeluk dua agama tersebut, persis seperti desaku. 

Inilah kisahku. Di titik yang ke-44. 

Selamat ulang tahun, untuk diriku sendiri.

Saturday, June 6, 2020

MENGHORMAT SUMATERA BARAT


Aplikasi Injil berbahasa Minangkabau seketika lenyap dari playstore setelah surat Gubernur Sumatera ramai di media sosial. 

Siapapun pejabat publiknya ---apalagi selevel menteri-- sepanjang KTPnya tidak Islam, akan mengkeret jika disomasi untuk urusan yang dianggap sensitif. 

Pancasila, UUD 45, UDHR, dan aneka kovenan yang menjamin kesetaraan dan kemerdekaan ekspresi keagamaan, minggir dulu. Fokus utama Menteri, bagaimana agar si Bungsu di Sumatera Barat yang susah dewasa berhenti tantrum karena fobia.

Ini tidak berarti  sang menteri takut, namun sebaliknya, aku melihat ia merupakan kakak yang sangat perhatian pada adiknya. Tidak tega melihat si bungsu kepanasan melihat ada alkitab berbahasa Minang. Pak Menteri seperti tengah menjalankan perannya sebagai seorang Katolik sejati; work out his own salvation with fear and trembling (Phillipians 2 12).


Benarlah adanya. Orang yang sedang tantrum karena fobia tidak boleh dibully, dimaki, dicemooh atau dikritik. Itu sangatlah tidak bijak. Semakin ia diperlakukan seperti itu, semakin sulit sembuh, dan yang terparah, semakin lukanya menganga. 

Entah tantrum karena fobia atau motif politik elektoral, namun ketakutan terhadap kekristenan adalah nyata. Orang seperti Gubernur Sumatera Barat perlu diajak bicara, dilawat, diajak ngobrol, disowani, terutama oleh PGI atau KWI dengan ditemani ormas Islam Sumbar yang masih moderat --jika ada. 

Semakin interaksi antara Islam dan Kristen/Katolik terjadi di sana, semakin besar peluang fobia akan sembuh. Tanpa interaksi yang intensif, Pancasila hanya akan jadi pajangan. 

Hal ini tentu tidaklah mudah. Ketakutan dan rasa gentar selalu akan mengiringi hal tersebut. Padahal, dua perasaan itu kerap membuat kita tidak nyaman dan sering memaksa kita menghindarinya. 


Pagi ini, aku akhirnya bisa menginstal aplikasi Injil Minangkabau yang sudah raib dari playstore. Dengan cara ini, dan menuliskannya untuk publik, aku merasa telah menghormat Sumatera Barat, sebagai seorang Muslim.

Aku buka beberapa halama aplikasi tersebut dan membayangkan teman-temanku berbicara dengan logat Minang. Aku tertawa-tawa sendiri membayangkannya. 

Selanjutnya aku mencari salah satu ayat yang aku kenal. Ayat ini telah lama aku dengar --baik ketika digunakan melengkapi citra rasa humor atau saat khotbah. Ayat ini pula yang menjadi pusat perhatianku sewaktu menonton "Imitation Game," karena digunakan sebagai kunci enkripsi sandi dalam film tersebut.

"Mintaklah, mako angkau ka mana-rimo. Carilah, mako angkau ka man-dapek. Tokoklah pintu, mako pintu ka dibukakkan untuak angkau."

*** warkop pasar pithik

Thursday, June 4, 2020

ANDAI GUS DUR PAKAI FACEAPP


Aku tidak bermaksud kurang ajar, namun seandainya Gus Dur masih hidup, punya banyak waktu main gadget dan mencoba FaceApp untuk mengetahui bagaimana akan tampak dalam wujud feminin, sangat mungkin akan mirip gambar ini; foto ibunya -- bu nyai Solichah putri KH. Bisri Syansuri --kiai yang kabarnya sangat kokoh menjaga ortodoksi hukum Islam. 

Dalam hukum Islam bergaya ortodok, perempuan adalah sepenuhnya penjaga medan domestik, bukan di arena publik. 

Namun lihatlah putrinya, tampil berpidato di hadapan para habib dan banyak kiai, saat acara majelis ta'lim di Masjid Luar Batang Penjaringan Jakarta Utara. Entah tahun berapa. 

Di forum tersebut, beliau setidaknya mengutip dua petuah yang kerap dinisbatkan kepada Sayyidina Ali karrama allohu wajhah menyangkut betapa pentingnya ilmu pengetahuan ketimbang harta benda. Mungkin dalam konteks kekinian; betapa pentingnya tembus Scopus, Sinta 1, 2 dan Sinta 3. 

Bu nyai Solichah dalam pandanganku tergolong sakti. Betapa tidak, saat NU mengalami kontraksi hebat pada 1984 dan terbelah menjadi dua kubu; Cipete (KH. Chalid Mawardi dkk.) dan Situbondo (Gus Dur dkk.), beliau tampil menginisiasi rekonsiliasi. 

Bayangkan, kultur NU yang sangat patriarkhi dan maskulin, kala itu --entah saat ini, terasa luluh dan lumer di hadapan perempuan berwibawa ini.

Sekira tanggal 10 September 1984, di Pesantren Ngelom Sepanjang, beliau menghadiri acara tahlilan. Dengan pengaruhnya yang sangat besar, ia sanggup "memaksa," para kiai-kiai besar dari dua kubu untuk membuat Maklumat Keakraban. 

Maklumat bersejarah itu ditandatangani tujuh ulama terkemuka; KH. R. As’ad Syamsul Arifin, KH. Ali Ma’shum, KH. Idham Chalid, KH. Macrus Aly, KH. Masjkur, KH. Saifuddin Zuhri dan KH. Achmad Siddiq.

Sangat jelas bahwa orang tua bu Nyai Sholichah telah mendidiknya sangat optimal, sehingga membuatnya mampu  melakukan kerja-kerja edukatif cum rekonsiliatif seperti ini. 

Namun tahukah kalian siapa nama nenek dari Nyai Sholichah? Ini yang baru aku tahu. Menurut Wikipedia namanya Mariah --bentuk lain dari Maria, Mary, Mirriam, Merriam. 

Ya, seperti nama ibunya Yesus.

*warkop Pasar Pithik Pasar Legi -- sebelum lockdown seperti Pasar Peterongan.

Featured Post

Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 35

Rilis Jaringan NU Kultural (JANUR)  Jombang, 19 Agustus 2026 Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 35 Muktamar ke-35...