Pages

Friday, February 14, 2020

NYALI YUDIAN WAHYUDI


Baru saja dilantik sebagai kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Yudian Wahyudi telah melakukan gebrakan pertama. Dalam sebuah wawancara, pria jebolan Harvad Law University ini menyatakan agama merupakan musuh terbesar Pancasila. 

Sontak banyak pihak kelojotan. Terutama kelompok-kelompok yang selama ini terindikasi getol menelikung Pancasila, baik terang-terangan maupun diam-diam. Mereka ngamuk membabi buta karena topengnya terbuka sedikit. Saking geramnya, Sekjen MUI Anwar Abbas bahkan meminta Jokowi mengganti Yudian. 

"Kalau benar beliau punya pandangan seperti itu maka tindakan presiden yang paling tepat untuk beliau adalah yang bersangkutan dipecat tidak dengan hormat," kata Abbas.

Yudian bukanlah anak kemarin sore yang tidak mengerti pasang surut dinamika agama dan Pancasila dalam sejarah Indonesia. Saya meyakini dia sangat paham dua entitas ini punya relasi yang campur aduk layaknya lagu Def Leppard "When love and hate collide," bahkan hingga sekarang. 

Sejak awal kemerdekaan, sejarah kita mencatat ada upaya serius dari kelompok Islam untuk bisa mengendalikam negara ini dengan cara menginjeksikan  formalisme Islam ke dalam konstitusi, sebagaimana catatan R.E Elson (2007) "Another Look at the
Jakarta Charter Controversy of 1945,"

Ditambah lagi, dengan pengalaman karir akademik dan profesionalitasnya, Yudian telah membuktikan kapasitasnya sebagai sosok kepala batu yang ekspresif "membela" Pancasila di beberapa kebijakannya selama di UIN Sunan Kalijaga. 

Bukanlah keseleo lidah saat pria ini mengatakan agama adalah musuh terbesar Pancasila. Ia masih menjaga kesantunan dengan tidak mengatakan Islam-politik (Islamisme) adalah yang ia maksudkan. 

Islamisme adalah hantu bagi Negara ini.  ia adalah sisi gelap dari Islam yang saya pahami bercita-cita luhur mewujudkan keadilan tanpa diskriminasi atas nama apapun. Cita-cita luhur inilah yang diserap Pancasila beserta saripati agama lain. 

Sebaliknya, hantu Islamisme berfikir secara sempit; ingin menjadikan negara majemuk ini tunduk pada kemauan satu agama saja. Dulu penundukan ini dijalankan dengan kekuatan senjata. Namun pengasong Islamisme sadar Indonesia terlalu kuat jika ditundukkan dengan cara tersebut. 


Maka sejak Demokrasi Terpimpin ditumbangkan rezim Orde Baru++ mereka mengubah strategi menjadi lebih "sopan", tricky dan mematikan. Saya menyebutnya sebagai kudeta merangkak; mendorong umat Islam melaksanakan tuntunan syariat secara kaffah. "...dan negara Islam akan hadir dengan sendirinya," kata Sjafruddin Prawiranegara kepada alm. MC Ricklefs dalam sebuah wawancara. 

Kudeta merangkak diretas dengan menguasai jalur pendidikan di segala level. Baik formal maupun informal; dengan uang pribadi maupun memanfaatkan APBD maupun APBN. Strategi berjalan dengan memanfaatkan gerakan tarbiyah yang terinspirasi Revolusi Iran, dan berjalan secara klandestin lebih dari 20 tahun saat Soeharto berkuasa. 

Jadi jangan heran kalau situasi pendidikan Indonesia menjadi semakin oleng ke kanan dari tahun ke tahun. Wajah regulasi berbau syariat Islam di daerah sejak 1998 hingga 2012 juga menunjukkan kemenangan mereka. Komnas Perempuan mendeteksi ada sekitar 200an aturan daerah seperti ini selama itu.

Bagi mereka, Pancasila bukanlah musuh yang harus dilawan secara frontal -- sebab akan membentur tembok tebal. Melainkan, ia harus dianggap sebagai teman satu selimut yang wajib digangsir  eksistensinya ---dan telah dilakukan sejak lama.

Mereka tidak ingin mengganti Pancasila. Alih-alih, dasar negara ini dipastikan tetap ada namun hanya dipakai casingnya saja. Sebab jerohannya sudah dipreteli dan dimodifikasi agar Negara Islam bisa tegak secara diam-diam. Salah satu yang kerap mereka kampanyekan adalah sila pertama hanyalah milik umat Islam --dengan meyakini secara sepihak Tuhan agama lain tidak esa. 

Entah berapa lama kesaktian Pancasila mampu bertahan setelah diperkosa puluhan tahun. Tidak hanya oleh Islamisme, namun juga Orde Baru, dan Islamisme lagi -- kali ini lebih parah. Dalam konteks inilah, saya kira tudingan Yudian menemukan landasannya. 

Kita butuh kepala BPIP bernyali seperti Yudian Wahyudi. Nyalakannya semoga tidak berhenti untuk negeri ini.


Happy Valentine Day! 


-- Maumere Sikka.

Monday, February 10, 2020

MODERASI BABI


Boleh percaya boleh tidak. Musuh bebuyutan si imut babi, salah satunya, adalah apapun yang merepresentasi dan mengaitkan dirinya dengan Islam. 

Jika mulai banyak orang Islam bisa berdamai dengan anjing maka terhadap babi, hampir tak ada yang berani bersuara selantang terkait, atau berpose demonstratif bersama, babi. 

Bisa dikatakan, babi adalah kelemahan paling menganga dalam bangunan konfidensi Islam. Sesakti apapun seseorang, setinggi langit keilmuan yang ia miliki, ia akan tunduk, lungkrah tak berdaya di hadapan babi. 

Hukum klasik Islam terlihat masih belum bisa move on merekonsiliasi binatang kiyut ini -- tak peduli berapa banyak jumlah Ph.D dan professsor hukum Islam yang berhasil diproduksi oleh sistem pendidikan modern.


Stigma terhadap babi begitu pekat dan tidak main-main. Siapapun yang berani mencoba menguliknya dalam rangka memoderasi hukum Islam atasnya, sedikittttttt saja, pasti aku terjungkal. Cobalah jika tidak percaya.

Namun kenapa perlu dimoderasi? Sebab stigma terhadap babi punya dampak serius terhadap orang yang berdekatan dengan binatang ini, baik mengkonsumsinya atau tak keberatan dengannya. Pada isu lain, metode moderasi juga nampak dilakukan NU saat berusaha menjinakkan kata "kafir"  dengan "muwaththinun," oleh NU beberapa waktu lalu.

Lihatlah yang pernah terjadi di salah satu mall di Makassar. Sekelompok orang Islam memaksa agar gerai kuliner babi ditutup secara sepihak. Aksi itu berhasil. 

Padahal, keharaman babi tidak serta merta membolehkan seorang Muslim bertindak aniaya terhadap hak orang lain yang berpandangan babi boleh dikonsumsi. Ini persis seperti analogi; ketidakbolehan orang Islam menghalangi atau mempersekusi orang beragama lain. Lakum dinukum waliya din. 


"Dunia Perbabian ini mmg  berat dan sensitif ya abangda. Didalam semua rangkaian adat batak, babi memiliki posisi yang strategis sehingga ketika isu pemusnahan babi di Sumut mencuat, spirit soliditas peradatan langsung menguat, abangda," kata temanku, dosen bermarga Purba --entah Purba nomor berapa.

Aku pun membalasnya, "Itu bagus. Jangan biarkan implementasi ngawur doktrin klasik kami menggerus local wisdom di sana. Pertahankan sampai titik darah penghabisan," 

Menurutku, tugas berat moderasi hukum Islam dapat diukur sejauhmana keberhasilannya mendorong sebanyak mungkin umat Islam untuk mampu berkata; bagimu daging babimu, bagiku engkau tetap saudaraku. 

Isn't that pretty, baby?


--warkop by pass Krian menikmati video clip agung Mariah Carey "Always My Baby"

Sunday, February 9, 2020

SERU PASUKAN BIRU DI GKJW WARU


Adakah yang paling membahagiakan selain bisa mengajak banyak orang datang ke tempat yang paling mereka takuti karena dogma –dan akhirnya ketakutan tersebut tidak terbukti? Pastilah ada kebahagiaan lain selain hal tersebut. Namun bagiku hari ini, Sabtu (8/2), adalah hari bahagiaku.


Aku berhasil mengajak 50 orang pasukan biru, sebutan untuk para kader PMII, untuk bisa duduk di ruang ibadah GKJW Waru belajar tentang hadits dalam perspektif keadilan perempuan. 

Maksudnya gereja menyelenggarakan kelas tersebut? Tidak. 


Sebagaimana yang aku tulis di status kemarin, aku meminta panitia Sekolah Islam dan Gender untuk mencari gereja terdekat sebagai tempat sesiku berlangsung. Akhirnya, mereka mendapatkan GKJW Waru. Lokasinya berjarak 7-8 kilometer dari tempat utama. 

"Begitu mendapat kabar akan ada kunjungam dari teman-teman PMII, kami langsung rapat dan memutuskan oke. Kami senang gereja ini berguna, terutama bagi teman-teman Muslim," kata Pdt. Adi dalam sambutannya. 


Saat selesai sambutan, aku langsung menyalaminya dan mengucapkan terima. Kami pun ngobrol bersama majelis lainnya, termasuk mas Yoyok, liaison officer dari GKJW. 


“Kalian harus belajar dari kebaikan GKJW. Tempat sucinya dipersembahkan kepada kita untuk dipakai melangsungkan pembelajaran agama. Rasanya belum ada masjid yang bisa melakukan kebaikan level ini. Itu salah satu poin penting kenapa saya minta lokasinya di gereja, agar kita bisa belajar berempati,” kataku membuka sesi. 


Mereka terlihat tersenyum kecut. Aku tahu apa yang mereka pikirkan sebagai anggota kelompok mayoritas negeri ini.

Aku bertindak sebagai fasilitator di acara tersebut. 

Pertama-tama aku mengajak peserta memahami posisi personalku menyangkut topik yang aku bawakan, "Hadits perspektif Perempuan," Topik ini aku maknai sebagai kewajiban setiap Muslim memperjuangkan keadilan gender --dalam hal ini perempuan. 

"Siapakah yang kita akan sebut sebagai 'perempuan'?" tanyaku pada mereka. Mereka hanya diam dengan wajah bingung, seperti tengah menyatakan "Bukannnya semua sudah jelas, pak?"

Perempuan tidak hanya cukup dicirikan oleh instrumen biologis yang dipunyai seseorang. Memiliki payudara atau vagina tidak lantas membuat pemiliknya merasa dirinya seperti yang dipersangkakan orang lain.   


Seluruh pengalaman personal seseorang yang membentuk keyakinannya menuju siapa sebenarnya dirinya adalah hal inheren yang tidak boleh dikesampingkan. "Maka, kalau ada orang datang padaku dan mengatakan dirinya perempuan maka aku akan menganggapnya sesuai yang ia kehendaki ," ujarku.

Seperti yang sudah aku singgung di depan, sebagian besar peserta merupakan perempuan dan tinggal di pesantren. Lazimnya, ketika ada kata hadits," dan "perempuan/wanita," maka persepsi mereka adalah serangkaian hadits yang membolehkan dan tidak membolehkan tindakan yang dilakukan perempuan. Hadits dipahami sebagai sebuah instrumen kontrol atas diri dan ketubuhan perempuan.

"Di sesi ini aku tidak akan membincang, misalnya, bagaimana shalat perempuan, jenis darah yang keluar dari vagina, atau etika perempuan/istri saat di rumah dan di luar rumah, dalam pandangan Islam klasik. Sebaliknya, aku akan melengkapi pengetahuan dan skill kalian agar bisa berargumentasi ketika ada orang merendahkan perempuan dengan menyitir sebuah hadits," ujarku.

Untuk hal ini, aku memilih 4 landasan sebagai titik pijak. Pertama, bahwa tugas orang Islam adalah menciptakan keadilan sosial bagi dunia (rahmatan lil 'alamin). Kedua, perempuan dan laki-laki berposisi sejajar di mata Gusti karena tumbuh dari satu sumber (nafs wahidah) sebagaimana QS. al-Nisa' 1. Ketiga, kita diminta bersikap kritis atas sesuatu dan diminta bertanya pada ahlinya jika tidak punya pengetahuan, sesuai al-Isra' 36 dan al-Anbiya' 7. Keempat, bagi mereka yang beragama, maka posisi agama dan pengetahuan (sains) adalah saling melengkapi untuk menuju rahmatan lil 'alamin. Keduanya sejajar. 

Aku selanjutnya mengajak mereka mengetahui hal-hal dasar mengenai perhaditsan. Dalam konteks ini, aku memapar problem otentisitas hadits dan cara menyortirnya, keragaman koleksi hadits dari tiap golongan Islam dan, yang paling utama, sejauhmana dialektika penganuliran antara al-quran --sebagai sumber hukum primer-- dan hadits. 

"Derajat tertinggi hadits, menurutku, adalah yang berstatus mutawattir, multiple chains, bukan ahad --single chain," aku berujar. 

Maka menjadi penting, tambahku, menjadikan 4 pokok di atas sebagai landasan. Siapapun yang ngomong bahwa perempuan tidak setara dengan laki-laki, nggak peduli ia kiai, ustadz, habib atau yang lain, abaikan saja. 

Aku selanjutnya memapar pandang Imam Ghazali terkait perempuan yang ditulisnya dalam karya monumentalnya Ihya' 'Ulumuddin. Aku membagi peserta menjadi 4 kelompok dan meminta mereka mendiskusikannya. 

Woila.. Mereka ternyata bisa kritis. Menarik sekali mengingat reputasi Imam Ghazali yang begitu tinggi hingga sangat sedikit orang yang berani mengkritik kitab tersebut.


Mereka mempresentasikan hasil diskusinya di hadapan peserta lainnya. Seru sekali suasana

Di akhir acara, aku mengajak mereka mengunjungi tokoh utama feminisme Islam awal yang sejarahnya ditenggelamkan rezim patriarki Islam. Ia adalah Lady Sukayna bint Rahab wa al-Husayn bin Ali wa Fatimah bint Khadijah wa Muhammad. 

"Ia adalah cicit Rasululloh. Bisa kalian jadikan patron memperjuangkan kesetaraan perempuan kalau kalian mau," ujarku dari pinggir mimbar, bangga melihat mereka belajar hal penting di gereja. 

Kami lalu menutup sesi itu dengan berdiri dan maju ke depan menyanyikan Padamu Negeri.(*)



Friday, February 7, 2020

BULKONAH di IAIN MANADO


Betapa senangnya diriku. Bisa singgah lagi di institusi pendidikan tinggi Islam sementereng IAIN Manado. Dari banyak IAIN atau UIN yang aku pernah kunjungi. Rata-rata model arsitekturnya sama semua. 

Sangat mungkin ada panduannya dari “atas,” atau jangan-jangan kontraktor pelaksananya satu bendera. Terasa tidak kreatif. Entahlah.

Namun sore itu, Sabtu (15/2), aku disambut dengan sangat ramah oleh mas Sulaiman, dosen IAIN yang sehari sebelumnya bertemu denganku di acara bedah buku “Menafsir LGBT dalam Alkitab,” di GMIM Sion Winangun. 

Ia tidak sendirian ternyata. Telah hadir pula mas Ali, wakil dekan, yang ternyata orang Ngapak Brebes. Dunia sempit sekali memang.

Topik yang dibahas dalam forum diskusi dadakan ini seputar Guyonan Gus Dur dan relevansinya saat sekarang –merujuk pada semakin kuatnya intoleransi yang dilakukan banyak orang Islam, terutama pada kelompok Kristen. 

“Saya nggak pernah riset soal guyonan Gus Dur. Namun jika mau dikategorisasikan, saya baru mampu menemukan dua; as self-criticism dan counter Islamic legal opinion,” aku memulai setelah terlebih dahulu menyodorkan humor Gus Dur soal seberapa dekat agama-agama terhadap tuhannya. Hindu memanggil tuhannya dengan “om,” sedang Kristen kerap menyapa dengan “Bapak,”


“Kalau Islam, tuhannya jauuuhh. Manggilnya aja pakai toa,” begitu aku menirukan Gus Dur dan langsung disambut tawa peserta diskusi. 

Di titik ini, aku menyinggung problem musalla di Minahasa Utara di mana penggunaan toa dan speaker dianggap mengganggu kenyamanan lingkungan tersebut. 

“Mas, apa memungkinkan misalnya IAIN mengajukan fiqh sosial seputar penggunaan speaker luar dalam ritual dan dan dampaknya terhadap relasi kemajemukan? Kalau misalnya ada banyak orang Islam yang merasa bising dengan nyanyian orang Kristen dan meminta mereka mengecilkan volumenya, maka harusnya orang Islam tidak melakukan hal sama," kataku pada mas Ali dan Sulaiman. Keduanya merespon dengan argumentasi yang cukup rasional.


Aku selanjutnya mencontohkan dua humor Gus Dur yang aku anggap masuk kategori kedua – sebagai hukum Islam alternative. Dua humor tersebut adalah seputar jawaban Gus Dur ketika ditanya apakah doa orang Katolik/Kristen bisa “nyampek,” ke almarhum orang tuanya yang Muslim. Dan, guyonan tentang curhatan orang NU yang anaknya masuk Kristen.

“Lihatlah, jika dianalisis, Gus Dur seperti sedang menggoda hukum Islam klasik yang masih terlalu serius mewasiti relasi Islam-Kristen. Gus Dur menggunakan guyonan karena tahu betul masih banyak orang Islam yang cenderung tegang dalam membahas hal penting. Dari sini, kita mengenal jargon agung di kalangan NU; dari gegeran menjadi ger-geran” ujarku.

Untuk mengulik lebih dalam seputar maraknya intoleransi di Indonesia, dalam forum tersebut, mau tidak mau, aku juga harus  memapar agak mendalam seputar stigma; apa dan bagaiman makhluk ini bekerja mendorong sebuah peradaban menghancurkan dirinya sendiri.


Selama proses berlangsung, aku benar-benar tak tahan untuk tidak menjamah white-board yang ada di ruangan tersebut. Aku merasa lebih mampu menjelaskan gagasanku menggunakan apa yang disebut bulkonah; bulat, kotak dan panah.

Friday, January 10, 2020

DARI NATAL HINGGA MADRASAH KADER NU ALUMNI PMII JAWA TIMUR




Apa hubungannya Natal dan Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU)? Tidak ada sampai aku melakoni perjalanan dua hari ini.

**""

Aku senang sekali terlibat mewarnai Natal Peradi Surabaya. Menurut informasinya, ini natal warna-warni pertama yang mengundang teman-teman Islam di luar Peradi. Bagiku ini luar biasa karena semangat "sahabat" yang menjadi tema besar PGI-KWI terimplementasi dengan terobosan.

"Saya senang dengan Cak Haryanto. Ia muslim sejati. Kemuslimannya digunakan untuk menjadi rahmat bagi teman-teman profesi yang beragama Kristen," begitulah aku memuji ketua Peradi Surabaya, Jumat (10/1) di rumah makan Emerald Surabaya. 

Cak Haryanto, menurut Mbak Liana Wati --anggota Peradi yang berjemaat di Paroki SMTB-- justru mendorong anggota Peradi Kristen/Katolik agar menyelenggarakan perayaan Natal seperti ini. 

Bagiku ini menarik, mengingat sangat banyak orang Islam yang memilih bersikap sebaliknya. Aku berhutang banyak pada mas Johanes dan Romo Pras. Aku menikmati firman Tuhan yang disampaikan romo dengan gelar berderet ini.

Di hadapan undangan, aku berpesan agar Natal seperti ini, Natal warna-warni, ditradisikan oleh Peradi Surabaya dan ditiru organisasi profesi lainnya. Cukup banyak pengacara Islam yang hadir meski prosentasenya masih kalah jauh dengan yang belum hadir. 



"Bagi yang beragama Islam, mendatangi undangan itu wajib. Apalagi undangan menghadiri peringatan sosok suci yang juga ada dalam teologi Islam," kataku sembari menyitir ayat Natal di Surah Maryam. 

Natal juga menjadi bahan untuk menggodaku pagi ini, saat bertemu banyak alumni PMII di arena Madrasah Kader Nahdlatul Ulama. 


"Lohh... Jik Islam koen tibake An, luwih sering nang grejo timbang nang masjid," kata Faizin sembari ketawa ngakak. Faizin adalah ketua KPU Pasuruan yang juga teman di Tambakberas dulu. 

"Lho...lapo koen nang kene, An" tanya Yeni Lutfiana tak bisa menyembunyikan kekagetannya saat melihatku. Sebelumnya ia sempat heran melihat nama "Aan Anshori," di daftar absensi. "Apa ada Aan Anshori lain selain Aan Anshori ya?" 

Tak hanya Yeni yang kaget, Amik IKPMII Gresik juga tak menyangka ketemu denganku.

"Ya allooohhh... Isun sempat gak percoyo ndelok ente. Lapo awakmu melok ngene iki?" katanya, aku langsung memeluknya sembari menanyakan kabar. Keheranan yang sama juga hinggap ke Irul Giant IKAPMII Tuban hingga mas Amin Said Husni, ketua umum IKPMII Jawa Timur.
"Loh An, awakmu melok tah?" tanyanya heran.

Namun tak ada apresiasi yang lebih "menggairahkan," selain yang diberikan ketua IKPMII Jombang, mas Amir Maliki, saat foto peserta dari Jombang diposting di grup WA. 

"Tafadlol ya ikhwany, wah ada tokoh lgbt di sana ya," 

Aku hanya menjawabnya pendek. "Siapp mas yai.. Kan NU ngurusi semua yang diurusi Republik ini 😉"

Yang aku rasakan, mereka begitu hangat menyambutku, memberiku apresiasi dengan kapasitas dan pengalaman yang terkoleksi dalam memori mereka. Begitu membahagiakan. 



Aku harus berterima kasih pada Furi yang aku anggap sebagai jenderal rombongan peserta dari Jombang. Ia begitu sabar dan telaten membantu kami agar bisa ikut.

Aku sendiri memaknai keikutsertaanku dalam program doktriner NU ini sebagai upaya mendidikku rendah hati dan  mengasah kepekaan terhadap penderitaan liyan, sebagaimana yang aku pahami dari laku GD.

MC baru saja membuka acara. Lantunan al-Quran mulaiy disuarakan. Surah QS. Al-Hasyr 18-20. 

Aku harus mengakhiri status ini. 


-- at UNSURI Sidoarjo

Thursday, January 9, 2020

NATAL DAN PANCASILA-NIAL


Aku sedang berkereta menuju rumah saat ini. Perjalanan panjang Batu-Malang-Ponorogo-Jogjakarta-Purwokerto berakhir sore ini di warkop dekat stadion Jombang. Aku dkk. GDian Jombang akan rapat persiapan Haul Gus Dur yang rencananya akan diselenggarakan secara sederhana saja. 

Besok sore, aku diundang menghadiri acara Natal Peradi Surabaya. Mungkin ini natalan lintas agama pertama kali yang dilakukan organisasi advokat ini. Aku senang sekali sewaktu diajak mendiskusikan acara ini oleh salah satu pengurusnya untuk mempersiapkan acara ini. 

"Undanglah teman-teman Islam dan agama lain pas natalan, mas. Natalan versi 4.0 adalah perayaan yang juga didesain untuk menselebrasi kuatnya relasi Kristen-Islam ditengah kecamuk situasi intoleransi," kataku padanya. Ia menyambutnya gembira. 

Aku juga sudah mengontak beberapa adik-adikku di Surabaya, para Gusdurian, untuk bisa hadir dalam perayaan tersebut. Kehadiran mereka sangatlah penting untuk mengimbangi eskalasi intoleransi. Bayangkan saja, tiap hari, selalu saja tersedia berita intoleransi terhadap Kristiani yang dilakukan banyak orang Islam; GPdI di Bantul, restriksi perayaan natal di Dharmasraya dan Sijunjung, Perumahan di Rajeg dan masih banyak lagi. 

Bayangkan jika persekusi semacam ini berlangsung aktif sejak akhir 90an hingga sekarang. Bayangkan bagaimana situasi psikologis banyak orang Kristen terhadap orang Islam di Indonesia. Itu sebabnya, aku sangat bisa memahami jika ada orang Kristen yang punya persepsi minor terhadap Islam. Lha wong wajah agamaku lebih banyak ditampilkan dengan mengerikan dan tidak ramah. 


Maka, kunjungan Natal oleh teman-teman GDian adalah ijtihad kecil-kecilan agar wajah Islam kembali bersahabat. Upaya ini tentulah tidak mudah karena setiap saat resiko akan siap menghempaskan mereka. Di Jakarta, ada anak GDian yang diwarning keluarganya. Sokongan biaya kuliahnya terancam gara-gara ia sering keluar-masuk gereja melakukan kerja-kerja lintasiman. Di daerah Jawa Tengah, ada ketua forum lintasagama mengundurkan diri untuk meredam gejolak pascavideo ucapan natalnya di gereja sempat viral. Sangat mungkin ia mengalami banyak perisakan. 

Sebagaimana Sudarto Toto yang menjadi tersangka Polda Sumbar, bagiku, mereka adalah para martir bagi agamanya. Mereka memilih jalan sunyi aktifisme untuk mengembalikan marwah Islam, melawan narasi antikeberagaman dari saudaranya sendiri, ketimbang sekedar menumpahkan uneg-uneg dan kemarahannya di media sosial. 

Aku merasa ada masalah serius dalam tubuh Islam Indonesia menyangkut Pancasila. Masalah itu bernama Islamisme, atau dalam bahasa sederhananya; serba Islam --dengan asumsi agama lain jahat dan lebih rendah. Masalah ini harus dipecahkan.


Diskusi pembumian Pancasila di lembaga-lembaga keislaman, jika tidak bisa dikatakan sepi, berjalan agak lamis, yakni masih menganggap Pancasila sebagai yang-sakti sekaligus, diam-diam, meyakininya sebagai jalur legitimatif menegakkan Islamisme. 

Pancasila model lamis inilah yang, terus terang saja, cukup sulit "disembuhkan," termasuk di kalangan milenial Islam. Padahal di kalangan milenial Kekristenan dan agama lain, Pancasila terasa lebih dipahami sebagaimana yang diinginkan oleh para pendiri bangsa ini.

Bagaimana kontestasi dua milenial dalam mengusung model Pancasila yang berbeda ini? Mari kita diskusikan di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya hari Minggu ini.

-- at Stasiun Nganjuk bersama KA Anjasmoro

Wednesday, January 1, 2020

BERAGAMA DALAM ENAM PURNAMA

Oleh Celestine

Prolog; Celestine, bukan nama sebenarnya, adalah salah satu mahasiswiku di Kelas Religion semester lalu. Aku tidak tahu apa agamanya. Mungkin Protestan atau Katolik --dua agama mayoritas di kelas. Ia menulis refleksi ini sebagai bagian tugas UAS. Aku senang membacanya. Judul aku tambahkan untuk melengkapi tulisan. -- Aan Anshori



*****
Setelah mengikuti kelas Religion bersama teman-teman dengan berbagai agama, tentunya memiliki kesan tersendiri bagi saya. Seumur hidup saya, saya belum pernah sekalipun membahas tentang agama bersama dengan teman-teman yang memiliki agama berbeda dengan saya. 

Tetapi, di semester ini, saya diberikan kesempatan untuk merasakan bagaimana berinteraksi, membicarakan soal kepercayaan saya dan orang lain dan mengetahui lebih dalam mengenai agama atau kepercayaan orang lain serta pandangan agama lain terhadap agama yang saya percayai. 

Dengan pertemuan-pertemuan yang dilakukan setiap minggunya, kuliah umum, dan doa yang bergiliran antar agama setiap minggunya, saya merasakan indahnya persatuan. Walau hanya sekali dalam seminggu, tetapi persatuan antar agama sangat dirasakan didalam kelas. 

Saat berdiskusi atau mendengarkan teman-teman yang beragama lain bercerita tentang agamanya, saya merasakan kedekatan antar agama di dalam kelas. Saya merasa tidak ada jarak ataupun penghalang antar agama selama kelas berlangsung. 

Kami semua dapat bersatu, mengutarakan pendapat, mendengarkan pendapat agama lain, dan sama-sama saling mengetahui agama-agama lain. Saya juga merasakan bagaimana selama ini saya salah dalam memandang agama lain dan juga bagaimana agama lain memandang agama saya. 

Menurut saya, belajar bersama teman-teman yang tidak se-agama dengan saya merupakan suatu hal yang sangat berkesan. Tidak hanya ilmu tentang beragama yang didapat dari dosen, tetapi juga ilmu sosial yang secara tidak langsung saya pelajari selama perkuliahan Religion ini. 

Jika sebelumnya saya merasa tidak peduli dengan tata cara berdoa ataupun apapun itu tentang agama lain, sekarang saya sadar bahwa penting untuk mengetahui paling tidak beberapa hal penting untuk menghormati agama lain. Misalnya waktu sholat bagi agama Islam. Menurut saya waktu sholat teman-teman kita yang muslim penting untuk kita ketahui. 

Sebagai mahasiswa Universitas Ciputra, saya mengikuti berbagai organisasi dan kepanitiaan acara-acara yang ada di Universitas Ciputra. Dalam penyelenggaraan acara, khususnya saat perencanaan rundown acara, perlu ada waktu sholat bagi saudara-saudara kita yang beragama Islam. Maka dari itu saya rasa mengetahui waktu sholat mereka sangat penting agar tidak menimbulkan kesalahpahaman nantinya. 

Saya memaknai pembelajaran ini sebagai suatu proses mempelajari asal-usul, ciri-ciri dan struktur asasi agama-agama dengan maksud untuk mengetahui persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaannya yang sebenarnya serta sejauh mana hubungan agama yang satu dengan agama yang lain sehingga dapat diungkapkan pentingnya agama bagi pemeluknya masing-masing. Sehingga dari pembelajaran ini saya tahu apa saja hal-hal yang dapat memecah belah manusia antar agama di Indonesia. 

Pada saat saya berada di dunia kerja nanti, saya yakin apa yang saya pelajari saat ini sangat berguna untuk saya kedepannya. Saat di dunia kerja nanti, saya akan berhadapan dengan banyak sekali orang dengan latar belakang dan sifat yang berbeda-beda. 

Tetapi, selama pembelajaran ini saya rasa saya sudah dilatih untuk bekerja sama dan hidup berdampingan dengan teman-teman agama lain bahkan masuk dan memahami tempat ibadah mereka. Meskipun saya masih harus banyak belajar, tetapi dengan pembelajaran ini sudah sangat memberikan bekal untuk masa depan saya nantinya.

Dari pembelajaran ini, saya memetik banyak hal-hal positif. Yang pertama, saya menjadi mengerti bagaimana beragama yang baik, yaitu tetap taat kepada agama saya dan juga menghormati agama lain disekitar saya karena Indonesia adalah negara majemuk yang memiliki banyak perbedaan yang perlu dipersatukan. Yang kedua, saya belajar bagaimana bersikap yang benar saat menghadapi atau berhubungan dengan panganut kepercayaan lain. 

Saat berhadapan dengan seseorang yang beragama lain, harusnya saya tidak takut atau menjaga jarak selama saya tidak berbuat hal-hal yang dapat menyakiti hati orang tersebut terkait kepercayaannya. Saya percaya, semua agama mengajarkan setiap manusia di dunia ini untuk berbuat baik. Hanya saja terkadang ada beberapa oknum yang menyalahartikan ajaran agamanya dan berbuat sesuatu yang salah dengan mengatasnamakan agamanya. 

Yang ketiga, saya belajar banyak untuk melihat agama saya dari sudut pandang yang berbeda. Saya belajar memahami orang-orang beragama yang berbeda dengan saya. Saya belajar mengerti bagaimana cara mereka memandang agama saya dan bagaimana saya harus bersikap agar mereka tidak salah menilai ajaran agama saya.

Pada intinya, saya sangat bersyukur telah diberikan kesempatan untuk melewati pembelajaran ini selama beberapa bulan. Banyak sekali hal-hal positif yang saya dapatkan dari pembelajaran ini, tidak hanya mengenai teori tetapi juga praktik langsung yang dapat langsung saya rasakan. Saya berharap saya dapat turut menyebarkan dampak positif dari pembelajaran ini kepada orang-orang disekitar saya sehingga tidak ada lagi isu-isu perpecahan bangsa yang dikarenakan perbedaan agama. (*)

Foto: presentasi kelompok "Ritual Agama-agama"

Featured Post

Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 35

Rilis Jaringan NU Kultural (JANUR)  Jombang, 19 Agustus 2026 Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 35 Muktamar ke-35...