"Ayo Cinere-Cinere ngumpul. Diajak foto sama Gus Aan," kata Mikha memberi komando kumpulan kawan-kawannya di warung kopi depan Hotel Lotus Kediri, Minggu (1/3).
**
Mikha adalah aktifis transpuan, sudah malang-melintang di dunia minoritas gender dan seksual Jawa Timur. Ia sudah aku anggap sebagai adikku sendiri.
Malam itu, setelah buka bersama, ia membawa sebagian peserta acara yang ia selenggarakan ngopi tipis-tipis. Aku bersama mereka karena diundang memberikan materi, seputar jiwa, ruh dan religiusitas.
Ada sekitar 25an orang ikut dalam acara tersebut. Separuhnya transpuan (waria). Separuhnya lagi transman. Mereka datang dari Surabaya, Malang raya dan Kediri raya.
Aku bukan narasumber satu-satunya. Ada adikku Pdt. Nicky yang mengawal dalam perspektif kristiani.
"Gus Aan, ceritakan pada kami tentang jiwa (nafs). Benarkah di akhirat nanti ia akan menjelma sebagai laki-laki dan akan disediakan 72 bidadari?" tanya seorang transman.
Aku kemudian menjelaskan agak panjang seputar hal itu. Tentunya dari perspektif Al-Quran yang aku pahami.
Jiwa dan ruh diyakini bersifat kekal. Dalam diri manusia, ia tersusun, salah satunya, dari percikan apa yang dimiliki Allah. DNA-Nya dibawa manusia sampai kapanpun.
Dalam asmaul husna, Allah dapat dikatakan tercitrakan secara unik (queer); ia tidak hanya memiliki sifat positif, namun juga sifat negatif -- setidaknya dalam nalar awam.
Allah tidak hanya mahapenyayang, pengasih, suci, pemberi keselamatan, pemelihara, memuliakan, adil, maupun lembut. Alih-alih, Allah juga dilabel sebagai maha-menghinakan (al-Mudzil), merendahkan (al-Khafidl), menyempitkan (al-Qabidl), menundukkan, maupun pemberi mudarat.
"Sifat-sifat itu, semuanya, bisa kita saksikan dengan mudah pada manusia. Dan yang paling penting Ia juga mahasabar," kataku.
Namun demikian, terkait penggambaran surga, aku agak keberatan jika tempat itu diklaim hanya menyediakan bidadari (perempuan) saja. Pandangan tersebut sangat mungkin merupakan fantasi lelaki heteroseksual. Menurutku hal itu tidak cukup fair.
Dalam bahasa al-Quran, bidadari adalah terjemahan bebas dari kata "hur al-ayn" --artinya orang-orang bermata sangat indah (dengan putih mata kontras dan mata besar). Diksi ini tidak spesifk menyebut perempuan (bidadari) meski sering dinisbatkan pada jenis kelamin ini.
Memang, ada banyak aktris Hollywood memiliki mata seperti ini. Sebut saja Mila Kunis, Elizabeth Taylor, Zoey Deschanel, Mia Khalifa, Audrey Hepburn hingga Anne Hathaway. Namun, cukup banyak aktor yang juga memilikinya, misalnya Ian Somerhalder, Jared Leto, Omar Sharif maupun Cillian Murphy.
"Kadzalika wa zawwajnahum bi hurin 'in. Demikianlah dan kami pasangkan mereka (penghuni surga) dengan hur 'in. Jadi, apapun orientasi seksualnya, kalian tenang saja," ujarku.
Diskusi kami di forum sedemikian hangat dan menarik. Peserta menghujaniku dengan pertanyaan dan gugatan bertubi-tubi. Wajar, banyak peserta beragama Islam.
Forum selanjutnya bergeser ke warung kopi. Puluhan pengunjung sudah ada di sana sebelum kami datang. Rombongan kami begitu menyita perhatian mereka. Bisa jadi dandanan dan gaya komunikasi sedemikian memprovokasi.
Selama kegiatan, aku mendeteksi setidaknya ada 3-4 Tionghoa queer di sana, baik transpuan maupun transman. Salah satunya adalah Chikita -- nama samaran.
Ia adalah penganut Protestan taat. Tiap minggu masih aktif ke gereja. Ia mengaku tidak ada diskriminasi sejauh ini. Namun aku tidak sepenuhnya percaya, mengingat aku tahu karakter gereja tempatnya beribadah.
"Iya sih gus, dulu rambutku panjang. Lalu diminta untuk potong. Aku keberatan. Namun mau bagaimana lagi. Ini aja aku pakai wig," katanya dengan nada sedih.
Kepadanya, aku berpesan agar tetap menjaga kewarasan mental. Tuhan Yesus tidak meminta yang aneh-aneh pada siapapun yang datang padaNya. Semua diterima dengan terbuka, selama datang dengan ketulusan, kesadaran dan kejujuran hati.
"Nonik, kalau kamu tidak lagi nyaman di gereja tersebut, temukan wajah Yesus di gereja lain yang lebih akomodatif atas kejujuran dirimu. Aku punya banyak gereja yang seperti itu di Surabaya, Gresik, Sidoarjo. Kamu tinggal bilang saja," kataku.
"Ayo Cinere-Cinere ngumpul. Diajak foto sama Gus Aan," kata Mikha.
Aku langsung terperanjat sekaligus mengagumi diksi Cinere yang dipakai Mikha. Cinere adalah bahasa binan di sebagian kalangan Pelangi, untuk merujuk pada diksi Cina -- tanpa nada pejoratif. Mahal diganti mehong atau maharani. Cina dihaluskan menjadi Cinere.
Sungguh kreatif!
"Yo opo nek kalian, para Cinere, membentuk organisasi berbasis identitas? Misalnya PUTTI, perhimpunan transpuan dan transman Tionghoa Indonesia. Keren lho," kataku bersemangat.
Mereka langsung menyambut dengan tawa yang tersipu.(*)

