"Karena firman itu telah menjadi daging," aku berbisik pada Prof. Emanuel Gerrit Singgih (EGS) di GMIM Sion Winangun Manado, Jumat (2/2). "Anda telah menyelamatkan kekristenan Indonesia, pak, dan juga kami," lanjutku.
Aku berkata seperti itu saat melihat hampir seratusan orang yang hadir memenuhi gereja tersebut menyuarakan pentingnya mengakhiri stigmatisasi terhadap kelompok LGBTIQ, dalam bedah buku "Menafsir LGBT dalam Alkitab,"
Selain keberadaan EGS yang mampu menjelaskan 12 ayat/perikop Alkitab --baik yang pro maupun antiLGBT-- aku merasa kesaksian Rajawali Coco II dan Tiara, keduanya transpuan-- mampu menggedor-gedor nurani peserta. Keduanya begitu gamblang menceritakan apa yang dilakukan gereja terhadap mereka.
Coco mengaku butuh 16 tahun untuk bisa berdamai dengan dampak perundungan gurunya saat taman kanan-kanak. "Sekolah TKnya ada di samping gereja ini. Masih ada jungkat-jungkit yaang biasa kami buat main," Coco mulai mengingat masa lalu. Suaranya mulai serak.
Perundungan dari gereka juga kerap ia terima dari pendeta-pendeta yang menyinggung-nyinggung ekspresi gendernya. "Kita heran kenapa materi khotbah tiba-tiba berpindah ke Sodom dan Gomora saat melihat kita ibadah? Tadi kita rencana mo kase 50 ribu maar dia ngomong bagitu, bekeng kita sakit hati, so akhirnya saribu jo," kata Coco disambut tawa hadiri.
Yang dialami Coco juga terjadi pada Tiara.
"Saya ikut menyanyi di gereja, berpenampilan feminin seperti ini. Tiba-tiba pendetanya langsung khotbah soal Sodom dan Gomora. Hati saya sakit sekali diperlakukan seperti itu. Tidak seharusnya gereja bersikap demikian," ungkap Tiara.
Ketidaknyamanan atas berbagai peristiwa yang menimpa mereka berdua membuat Coco dan teman-temannya memilih model bergereja mula-mula. Mereka berkumpul membaca Alkitab secara mandiri.
"Sampai kemudian kami bertemu Bunda Ruth Ketsia yang membimbing kami menemukan Yesus yang ramah kepada kami," Coco tak lagi mampu menahan air matanya. Aku memegang pundaknya dan menyodorkan tisu.
Bunda Ruth adalah Ruth Ketsia, temanku. Pernah menjabat sebagai ketua umum Perempuan Berpendidikan Teologi (Peruati) yang juga pendeta di GMIM dan salah satu inisiator acara.
Bunda Ruth tidaklah sendiri di sana. Ada banyak pendeta GMIM yang hadir saat itu. Salah satunya Pendeta David Tulay yang menjadi salah satu penanggap sepertiku. Ia menekankan pentingnya keberanian kita mereformasi cara pandang kekristenan dalam merespon isu LGBT.
"Buku Prof. Gerrit Singgih ini sangat penting dibaca oleh siapa saja termasuk para pendeta di GMIM," ujarnya.
Di dalam buku tersebut, EGS menjejer dan menjelaskan 12 ayat/perikop yang ada di Alkitab; enam yang pro, enam lainnya bernada kontra. Semua diulas dengan sederhana, gamblang, dan masuk akal. "Kenapa kita selalu lebih suka memakai ayat-ayat yang antiLGBT namun tidak memedulikan enam yang lain?" kata EGS mencoba berefleksi.
Refleksi EGS memicu berbagai respon peserta, baik dari Muslim maupun Kristen; baik hetero ataupun homo; baik trans maupun cis-gender.
Dari sekian banyak perespon, ada satu orang yang menarik. Namanya Pdt. Musa dari GMIM. Dia maju ke depan dan langsung mengekspresikan penyeselan atas sikapnya selama ini.
"Saya bertobat dari cara pandang saya yang salah terhadap kelompok LGBT. Mereka tidak seharusnya diperlakukan seperti itu,"
Kejujuran dan keberanian pendeta gempal ini mendapat apresiasi panjang dari peserta diskusi. Mereka bersorak sorai. Aku trenyuh dan larut dalam situasi emosional di gereja ini.
Secara khusus, sebagai seorang muslim-nahdliyyin, aku sangat bahagia mendapati puluhan adik-adikku PMII dan GUSDURian, perempuan dan laki-laki, yang hadir saat itu, ikut merasakan situasi kebatinan saudara-saudara Kristennya terkait isu LGBT.
Bagi kami, situasi seperti ini bisa dikatakan sebuah kemewahan pada saat kami terus berjuang agar isu ini tidak lagi dianggap momok untuk didiskusikan di komunitas Muslim.
Aku sendiri di forum tersebut, maupun di IAKN Manado, mengatakan sebuah hal yang mungkin sangat jarang diketahui orang Kristen maupun Muslim. Yakni, terkait narasi al-Quran menyangkut apa yang Allah ajarkan kepada Yesus/Isa.
"Anda, para pengikut Yesus, perlu tahu bahwa saat Maryam gundah menerima kabar akan kehamilannya tanpa 'sentuhan' laki-laki, Allah menegaskan Dia punya kuasa menjadikan apa saja yang Ia kehendaki, termasuk membuat Maryam hamil secara queer," kataku sembari membaca QS. 3:47. Dan di ayat selanjutnya, aku meneruskan, Allah mengajari Yesus dengan Al-Kitab, Hikmat, Taurat dan Injil.
Apakah hikmat itu? Dalam bahasa Inggris, sepadan dengan diksi 'wisdom," yang bermakna "the natural ability to understand things that most other people cannot understand,"
Yesus dibekali instrumen khusus agar dapat memahami hal-hal yang orang kebanyakan tidak mampu memahaminya. Maka sudah sewajarnya para pengikut Yesus juga diberkati oleh hikmat tersebut.
"Saya ini kadang merasa heran dan sering tertawa sendiri, bagaimana mungkin ada orang Kristen bisa menerima dengan suka cita Maryam yang melahirkan namun tetap dianggap perawan -- dan bahkan mengagungkan perempuan tersebut beserta bayinya-- namun tidak bisa menerima kenyataan ada orang berpenis emoh vagina. Bukankah dua hal tersebut sama-sama anehnya? Rasanya, orang Kristen tersebut belum mendapat hikmat sebagai Allah yang mengajari Yesus," kataku di forum.
Malam itu, hikmat tersebut rasanya telah menubuh dalam karya EGS, Coco dan Tiara, Pdt. David dan Pdt. Musa, Bunda Ruth, GMIM Sion Winangun, IAKN Manado dan semua yang hadir dalam acara bedah buku.
Wallohu a'lam.(*)
Special thanks to Opa Jago Amadeo Devin Daniel Udampoh Linda Raihanda Ibrahim Steve Suleeman
**FB 20 Feb 2020


