Pages

Thursday, January 29, 2026

SEPEDA UNGU UNTUK MESSIAH DAN ELIANA


Aku sempat ragu sepeda warna ungu atau biru yang akan aku pakai ke pasar. Dua sepeda pancal tersebut adalah warisan dari Galang dan Cecil yang sudah tidak dipakai lagi.

Aku putuskan pakai ungu saja meski rem belakangnya tidak cukup nyaman. Ungu bukanlah warnaku. Hanya saja, aku sulit tidak memperhatikannya. Semacam ada magnet yang terasa membetotku --tidak peduli apakah aku suka atau tidak.

Dalam sejarah Yunani kuno, ungu merupakan warna yang melambangkan kebangsawanan dan kedaulatan. Hanya keluarga sultan dan kroni-kroninya saja yang mampu memakainya.

Entah kenapa bisa seperti itu. Sangat mungkin karena tidak mudah membuat warna ini. Diperlukan banyak keong laut sebagai bahan warna ini. Kabarnya.

Ungu semakin ngehit sebagai warna sultan kala Raja Sulaiman (Solomon) memilihnya sebagai warna tirai kuil suci yang ia bangun di Yerussalem. Konon. Aku belum menyaksikannya sendiri.


Saat Yesus disiksa tentara Romawi, konon, Ia dijubahi warna ungu bersamaan dengan mahkota duri. "Hail King of Jews!" sorak mereka memcemooh seraya memukuliNya.

Mungkin itu sebabnya banyak kawan-kawanku pendeta memakai selendang berwarna ungu di masa tertentu. Entah karena motivasi kesultanan (royalty) ataukah justru sebagai solidaritas atas penghinaan padaNya.

Aku belum tahu, misalnya, apakah warna jubah Nabi Muhammad juga ungu ketika mengalami penderitaan akibat makanan yang diduga bercampur racun. 

Namun yang aku tahu, Messiah tidak memakai warna ungu saat "menyentuh," Eliana -- pekerja seks yang ditugaskan menggoda Messiah.

"Do you think we will have a sex?" tanya Messiah saat Eliana menelusupkan tanganya ke payudaranya sendiri.

"I want to," ujar Eliana sembari mulai membuka mantelnya.

"How's that going to cure you?" Messiah terus mencecarnya dengan pertanyaan. Eliana memang mengklaim kedatangannya menemui Messiah di hotel karena ingin sembuh dari penyakitnya.

Namun Messiah sudah tahu siapa Eliana --pekerja seks yang dibayar orang penting di Gedung Putih untuk mendekreditkannya. Tanpa disadari, dua orang ini sedang diawasi cctv tersembunyi. Dikontrol Will Mather, seorang US Marshall. Ia diminta mengawasi Messiah 24 jam.


Di layar cctv, Will melihat jelas Messiah, dengan kelembutan yang sangat piawai, berhasil menyadarkan Eliana agar tidak meneruskan menjadi kaki tangan orang jahat. 

Saat itu Messiah meminta Eliana tidak takut berkata jujur; tidak hidup dalam kepura-puraan.

"How can you be the person God intended if you're not honest about who you are?" ujar Messiah. Eliana makin terisak. Sesenggukan. Air matanya meleleh deras.

Perkataan Messiah ini rupanya juga "menampar," Will yang selama ini merasa hidup dalam kepura-puraan. Pura-pura bahagia berkeluarga bersama istrinya, padahal ia tidak bisa hidup tanpa kekasih prianya. 

"I love you," kata Will kepada pacarnya, di ujung telpon.

Messiah adalah serial Netflix yang beberapa kali aku tonton. Sayangnya, karena mendapat banyak menuai protes gara-gara dianggap antiislam, serial ini berhenti produksi. Padahal menurutku film ini bagus sekali. 

****
Pisang ijo, tahu, kopi ketan sambel, krupuk, tempe, dan air kelapa. Nggak sampai 40k. Cukup untuk berhari-hari.(*)

----
https://www.google.com/amp/s/www.christianity.com/wiki/holidays/why-is-the-color-purple-associated-with-easter.html?amp=1

https://sunnah.com/bukhari:3169
https://sunnah.com/bukhari:2617

https://www.google.com/amp/s/www.independent.co.uk/arts-entertainment/tv/news/messiah-netflix-series-1-s2-cancelled-islamophobia-jordan-a9430946.html?amp

**FB 29 Januari 2022

A-M-B-Y-A-R



Akhirnya jebol juga air mata Kartika Diredja saat menjadi partnerku memfasilitasi sesi STIGMA di forum Chtistian Study for Muslim Scholars 2020 Asosiasi Teolog Indonesia, Senin (27/1), di STT Setyabakti Malang.

Suara perempuan Tionghoa ini semakin parau di hadapan puluhan peserta. Ia nampak begitu terluka saat 16 orang Islam "mendapat" stigma dari puluhan mahasiswa/mahasiswi STT SATI yang hadir dalam sesiku. 

"Saya bersama mereka selama beberapa hari ini. Mereka orang baik. Tidak seperti yang kalian tuliskan di papan ini," katanya serak. Air matanya makin meluap saat ia menautkan luka historik yang ia miliki bersama keluarganya. Peserta Islam menyodorkan tisu padanya 

Diam-diam aku merasakan buliran hangat meleleh dari mataku melihat perempuan ini dari pojokan. 

"Cuk, ambyar kabeh," aku membatin.

Saat sesi baru mulai, Kartika berdiskusi denganku untuk meminta setiap peserta Muslim menulis stereotype orang Kristen yang ada dalam pikirannya. Begitu juga sebaliknya; yang Kristen menulis stereotype orang Islam dalam pandangan mereka.

"Semua boleh menulis apa saja. Jangan takut ketahuan karena kalian tidak perlu menulis nama atau IG kalian di kertas tersebut," kataku memberi petunjuk. 

Semua kemudian menulis di kertas secara cepat. 

Aku menggotong papan besar di depan dan meminta selotip untuk menempelkan hasil tulisan mereka. White board aku beri tanda pemisah. "Kertas dari Kristen ditempel sebelah sini. Yang dari Islam ditaruh sebelah sini,"

Panitia bekerja sangat efisien. Kertas-kertas ditempelkan dengan sangat cepat. Aku beberapa kali mengecek hasil tempelan dua kelompok. Aku merasa agak kuatir.

"Guys, listen to me. Tdak boleh ada yang memotret hasil kerja kalian. Kertas-kertas di papan ini tidak boleh keluar dari ruangan," kataku setengan berteriak dan memberi senyuman.


Selanjutnya, aku meminta semua peserta untuk maju ke depan membaca hasil tabulasi aspirasi mereka, dengan terlebih dahulu meninggalkan gadget mereka. Aku memang agak kuatir jika ada yang memotret dan kemudian mengunggahnya ke media sosial.

Kekuatiran lebih karena konten-konten tersebut akan berpotensi memicu kesalahpahaman yang tidak perlu. Utamanya kertas konten yang berisi pandangan peserta Kristen terhadap Islam. Isinya begitu tajam. Sangat tajam. 

Itu sebabnya, barangkali, Kartika merasa perlu merespon hal itu. Bahkan, dosen mereka, bung gembala Jefry sempat agak emosional setelah mengetahui begitu pekat stigma yang dilekatkan terhadap keislaman. Ia terlihat benar-benar terkejut dan meminta maaf.

"Mereka tidak salah kok karena sejak awal kita meminta mereka bersikap jujur. Ini adalah fakta berharga yang perlu kita refleksikan bersama," kataku menetralisir. Aku juga meminta peserta Islam meneladani sikap elegan Kartika dan Jefry saat itu; berani meminta maaf saat klompoknya dianggap menyinggung perasaan orang lain. 

Aku kemudian diberi kesempatan agak panjang mengurai dari mana stigma pekat Islam terhadap Kristen yang berakibat fatal hingga hari ini. Stigma tersebut dilekatkan begitu mendalam melalui teks suci dan diimplementasikan secara totaliter dalam lanskap historis. 

"Persekusi terhadap Kekristenan sudah mendekati level genosida," kataku sembari memapar data yang dirilis BBC tahun lalu. Aku selanjutnya memapar kenapa hal itu bisa terjadi termasuk betapa dahsyat kontribusi Kristologi al-Quran. 

Mereka tertawa saat mendengar istilah kristologi al-Quran. Mungkin mereka belum diajari hal itu.

"Yang akan aku papar ini materi level master atau bahkan level doktoral yang mungkin belum pernah kalian nikmati. Kalian beruntung mengundangku," kataku sembari mapar model kristologi al-Quran yang begitu sangat dipengaruhi model kekristenan awal lawan dari kelompok Trinitarian aliran utama seperti sekarang.

Entah mereka paham atau tidak. Namun aku berusaha menjelaskan segamblang mungkin. "Kami ini seperti seorang adik yang begitu sangat bernafsu membuktikan dirinya juga sukses seperti kakaknya. You know what I mean, don't you?" kataku.

Di forum itu pula aku bertemu dengan salah satu peserta, perempuan asal GUSDURian Malang. Aku bertanya tentang trinitas karena ada sesi khusus tentang itu di acara ini. 

"Duh.. Aku masih bingung, gus. Makin rumit. Kenapa harus serumit itu ya?" katanya di luar forum. Aku yakin ia tidak sendirian. Aku sangat berkepentingan tiap peserta Muslim bisa memahami secara sederhana konsep tersebut agar bisa menetralisir stigma menyekutukan Tuhan (shirk) terhadap orang Kristen. Stigma ini sangat prevalent di kalangan orang Islam dan sangat berbahaya. 


"Jika ada orang Islam menganggap Tuhan orang Kristen ada tiga, maka sebagai lulusam CSMS kamu berkewajiban menjelaskannya. Tuhan mereka esa, bukan tiga," ujarku sembari menjelaskan dengan meminjam segitiga sebagai ilustrasinya. 

"Ini bukan penjelasan ideal namun setidaknya kalian bisa lebih terbantu memahami ajaran Kristen yang terstigma sebagai 'menyekutukan Tuhan' dalam ajaran kita," ujarku.

Aku melihat senyuman dari arah perempuan tersebut. Wajahnya terlihat lega. Tanda ia lebih paham. Aku meyakini.

Di luar forum, aku menemui gerombolan peserta Islam. Mewanti-wanti agar mereka terus belajar tentang kekristenan agar selamat dari stigma. 

"Jika bingung dengan penjelasan dari orang Kristen, kontaklah aku. Mungkin aku bisa menjelaskan dengan nalar Islam yang aku pahami," kataku sembari meninggalkan mereka, mencari kopi bersama Danang dan genk GUSDURian Malang serta Nganjuk.

Jam 3.30 aku membangunkan satpam STT. Memintanya membuka gerbang agar aku bisa mencegat bis. Aku harus bergeser ke Univ. Ciputra karena ada matakuliah Pancasila jam 7.30-nya.

Di atas bis, aku buka gadgetku. Melihat dua foto tempelan kertas-kertas mereka di papan. Aku perhatikan lagi sebelum kemudian menghapusnya. 

Thanks, ATI and STT SATI!

** Facebook 29 Jan 2020

Wednesday, January 28, 2026

I LOVE THEE, KUPANG



Melihat begitu demonstratifnya penolakan Masjid Darul Amanah Liliba Kota Kupang, hatiku campur aduk-aduk. 

Menurutku, ini pengalaman pertamaku melihat sedemikian "garang" masyarakat di sana menolak rumah ibadah yang bukan milik mayoritas. Dalam memoriku, Kota Kupang adalah simbol toleransi paling moncer seluruh jagad Indonesia, selain Manado, Singkawang dan Salatiga. 

Aku tahu ada problem administratif dalam pembangunan masjid tersebut. Namun melakukan vandalisme terhadap bangunan masjid maupun rumah ibadah lain sungguhlah tidak perlu dilakukan, kecuali dengan maksud mengirimkan pesan kepada publik.

Ya, aku merasa sedemikian kuat aura penolakan pembangunan masjid itu. Dalam berbagai komentar di medsos, kegeraman terhadap masjid tersebut sedemikian garang dan menyayat hati. 

Seakan, mereka para penghujat masjid tersebut tengah mengirimkan pesan sangat jelas dan keras kepada Indonesia bagian Barat, khususnya Pulau Jawa, "Lihatlah, kami juga bisa melakukan hal serupa sebagaimana kalian memperlakukan gereja/rumah ibadah Kristen di sana, bahkan mungkin bisa lebih pedih,"

Aku sangat bisa memahami keterlukaan banyak orang Kristen Kota Kupang. Mereka "pantas" membalas atas nama penderitaan banyak saudara seagamanya karena diperlukan tidak adil, khususnya, di Pulau Jawa. Mata harus dibayar dengan mata -- apalagi secara hukum masjid tersebut dianggap "bersalah" membangkang peraturan bersama menteri.


Dalam 2-3 bulan terakhir ini, aku -- yang Islam ini-- menyuarakan masalah GKJW Mojoroto Kediri. Pembangunannya ditolak sebagian orang Islam sekitar dengan alasan administratif, sama seperti di Kota Kupang. 

Bedanya, di Kediri tidak terdeteksi ada vandalisme. Begitu pula kejadian di Tarik Mojokerto maupun GPIB Benowo. Khusus di Benowo, ada spanduk penolakan namun kemudian segera diturunkan oleh, konon, aparat. 

Dalam 3 kejadian tersebut, aku yang --sekali lagi-- Islam ini, berteriak supaya kemerdekaan beragama orang Kristen dijamin; rumah ibadahnya dibiarkan berdiri dan bahkan harus dipercantik. Bagiku, setiap orang bisa merdeka menjalankan aktifitasnya, termasuk membangun rumah ibadahnya.

Aku membayangkan; panitia pembangunan masjid Darul Amanah ini kurang lebih sama posisinya dengan sekelompok orang Kristen di Jawa yang juga membutuhkan rumah ibadah. Keduanya, dengan semangat toleransi, idealnya perlu dibantu ketimbang dipalu. 


Di Kupang, rasanya aku belum mendengar keberpihakan aktifis Kristen toleran yang berani bersuara agak jernih, sebagaimana sebagian orang Islam bersuara membela keberadaan gereja/rumah ibadah yang dipersekusi sekelompok orang Islam. Tapi mungkin perasaan seperti ini dianggap terlalu berlebihan. 

Aku membayangkan para aktifis toleransi di Kupang sangat mungkin memilih diam. Bisa jadi kediaman mereka karena didorong nalar birokratis yang normatif-regulatif. Atau, bisa jadi karena mereka membayangkan kengerian dirisak kawan-kawan mereka sendiri yang sedemikian ekspresif menyatakan penolakan terhadap masjid -- persis seperti kegarangan banyak orang Islam saat menutup rumah ibadah Kristen/Katolik di Jawa. 

Namun, mari kita sadari, ke-diam-an tersebut sesungguhnya telah secara tegas menunjukkan pada posisi mana kaki kita berpijak. Bagiku, gerakan mata-dibalas-mata kini terasa di depan mata. Dan, yang membuatku sedih, gerakan tersebut mengemuka dari Kota Kupang. 

Bagi umat Islam di sana, yang merasa belum mendapatkan hak-haknya secara optimal, tak perlu berkecil hati. Kalian masih tetap bisa beribadah. Peristiwa ini menunjukkan betapa relasi antaragama perlu lebih giat dipupuk agar kecurigaan semakin terkikis.

Bagi umat Islam di luar Kupang, khususnya di Jawa, peristiwa penyegelan dan vandalisme merupakan ujian mahaberat dan pastilah menyakitkan. Ada dua jenis rasa sakit; yang merugikan orang lain, dan rasa sakit yang menyembuhkan. 

Jenis yang pertama tadi adalah rasa sakit yang menghasilkan dendam; mata dibalas mata -- "Kau tutup masjid, aku ganti tutup gerejamu!"

Sedangkan yang kedua, rasa sakit yang menyembuhkan -- semacam rasa sakit yang menyebabkan seseorang tidak akan melakukan aktifitas yang membuat orang lain menderita. 


Aku sedemikian menyayangi Kupang dan, itu sebabnya, mencoba menuliskan perasaanku ini. Memang, aku sudah lama tidak mengunjungi kota ini. Terakhir kali aku ke sana sebelum Covid menyerang. Saat itu aku mengunjungi UKAW membedah bukunya Prof. Gerrit, serta ke STF Ledalero.

Namun keterkaitanku dengan Kupang dan NTT selalu terjaga setiap waktu. Semester ini, ada mahasiswa/i Kupang ikut belajar di hampir semua kelasku. Kordinator matkulku orang NTT.


Menurutku Kupang sedang dalam ujian toleransi. Ujian mengatasi rasa sakit. Aku sendiri juga tidak cukup mengerti bagaimana indikator kelulusan dari ujian tersebut nantinya.

Aku membayangkan Kupang akan menemukan kedewasaannya, menawarkan format baru toleransi yang tidak legalistik sebagaimana Jawa.

Yang jelas, pelan tapi pasti, intoleransi di Jawa sedang merambat ke Indonesia Timur. Rivalitas Islam vs. Kristen; Indonesia Barat vs. Indonesia Timur makin nyata di pelupuk mata. 

I love thee, Kupang.(*)

Wednesday, January 21, 2026

KEBAHAGIAAN CECERAN NATALAN


Natal telah lama berlalu. Namun demikian, kenangannya selalu hadir meski aku orang Islam.

"Pak, kalau jajan natalnya masih ada, saya mau mampir ya," aku menirim WA ke Pak Setyo Adi, jemaat GKJW Mutersari Bareng. 

Aku kenal dia sejak lama karena cukup sering beraktifitas di gerejanya. Tidak hanya itu, aku juga akrab dengan Yulius, anaknya yang menjadi pendeta di GKJW. 

Bersama Rifan, aku datang ke rumahnya, Rabu (14/10 di Banjaragung Bareng, siang hari. Rumahnya sangat dekat dengan kediaman almarhum Mas Yanto, bupati Jombang. 

Terakhir kali aku mengunjungi rumah Mas Yanto saat ia maju bupati menggandeng Pak Wijono. Belum ada pemilihan langsung. Kepala Daerah dipilih DPRD. Jika tidak salah, keduanya melawan Pak Harto dan Gus Tamim. Suyanto-Widjono keluar sebagai pemenang. 

"Monggo mlebet, Gus Aan," undang Pak Adi mempersilahkan kami berdua. 

Tak seberapa lama, istrinya bergabung bersama kami. Obrolan melantur ke mana-mana. 

Pak Adi menceritakan putrinya, yang baru saja diangkat sebagai P3K Paruh Waktu di SMAN dekat rumahnya. Putrinya lulusan salah salah satu sekolah tinggi pendidikan agama Kristen (PAK) di Malang, yang saat ini tengah hamil tua. 

Aku senang ada banyak generasi muda Kristen mengambil jurusan PAK. Indonesia yang aku rasakan masih membutuhkan tenaga pendidikan profesional dalam pengajaran agama Kristen.

Setelah menikmati sajian makan siang, aku pamit dan minta tolong diantarkan ke makam Mas Yanto. Aku ingin nyekar seniorku ini karena gagal hadir ketika pemakaman. 


Tiba di TPU Serning, aku langsung menuju kompleks pemakaman keluarga Sukito --bapaknya Mas Yanto. 

Pak Sukito adalah Tionghoa yang beristri Jawa. Dengan demikian, anak-anaknya adalah "Cino Ampyang" -- istilah orang-orang Suroboyo. 

Aku dan Rifan duduk dan membaca tahlil singkat. Setelah selesai, aku mengambil dua ranting pohon. Aku tancapkan di pusara kepala Mas Yanto.

"Amit yo, mas. Cekne gak sepiro kepanasan," ujarku lirih kepada Mas Yanto yang aku yakin mendengarku.

Teologi untuk Gian

Dari TPU Serning, kami berdua selanjut bergeser ke rumah Endah. Natalan. Ia juga warga GKJW Mutersari sebagaimana Pak Adi. Rumahnya tidak terlalu jauh dari TPU, di desa Penggaron.

Aku punya sejarah khusus dengan Penggaron. Desa ini merupakan homebase Exxon Mobil saat raksasa ini mengobrak-abrik Jombang dengan uji seismiknya. 

Saat itu aku masih di Lakpesdam NU Jombang, melakukan perlawanan bersama organisasi lainnya. 

Memori lainnya, ada makam unik di salah satu dusun di Penggaron. Makam Mbah Buyut Nolo. Aku pernah ke sana. Tiap tahun makam tersebut menjadi tempat berkumpulnya seluruh warga desa pada bulan tertentu. 

Mayoritas warga Penggaron adalah muslim. Namun tidak sedikit yang Kristian. Mereka tumplek blek di makam memanjatkan doa di makam beliau. 

Aku pernah masuk di cungkupnya. Ada yang unik. Terdapat 3-4 kuburan di dalamnya. Ada yang membujur timur-barat. Ada juga yang utara-selatan. Kuburan-kuburan tersebut konon adalah keluarga Buyut Nolo.

Seingatku kuburan Buyut Nolo membujur timur-barat. Sisanya, selatan-utara.

Dari model kuburannya, secara sekilas kita akan tahu ini kuburan campuran. Islam dan Kristen. Tokohnya adalah Buyut Nolo.

Aku meyakini Buyut Nolo memeluk Kristen, meski buktiku tidak cukup melimpah. Aku tidak punya cukup energi merisetnya. 

Keyakinanku atas kekristenan Buyut Nolo mendorongku mengambil hipotesis betapa uniknya makam ini. Merupakan hal cukup lumrah jika ada kuburan tokoh Islam dikunjungi peziarah Islam dan Kristen, misalnya makam Gus Dur atau Bung Karno. 

Namun, berapa banyak makam tokoh Kristen terus dihidupi oleh baik warga Islam maupun Kristen? Inilah keunikannya.

Aku pernah didatangi, secara tidak bersamaan, dua mahasiswa yang sedang mengeksplorasi jejak toleransi di Jombang. Satu dari UKSW, Yadija cowok. Satunya dari Unesa, cewek, lupa namanya. 

Aku langsung meminta mereka berdua menulis tentang Buyut Nolo. Keduanya menyanggupi dan langsung aku arahkan ke Endah sebagai narahubung lokal.

Hanya saja mereka tak pernah mengabari lagi, apalagi membagi hasil risetnya. Pokoknya la salam wa la kalam.

Saat tulisan ini aku ketik, aku mencoba mencarinya di Google Scholar dengan keyword "buyut nolo penggaron"

Woila.. muncul satu jurnal, ditulis duet Nanda Citra Karunia dan Maya Mustika Kartika Sari. Keduanya dari Unesa. Judulnya "Tradisi Kirab Dusun Masyarakat Dusun Sukoharjo dalam Membangun Kerukunan Antar Umat Beragama"

Aku jadi teringat; sangat mungkin yang menemuiku adalah Nanda. Entahlah.

**


Aku dan Rifan ditemui Endah dan ibunya. Kami ngobrol seputar banyak hal. Tak seberapa lama, datanglah Gian, anak semata wayang Endah.

Gian menyalamiku dan Rifan. 
"Ngambil teologi ya, le, kalau kuliah, jadi pendeta," ujarku spontan.
"Nggih," jawabnya pendek dengan wajah agak sumringah.

Aku jadi kaget atas respon anak kelas 3 SMP ini. Ibunya lalu menceritakan tentang anaknya, yang sejak lama memiliki ketertarikan dengan dunia kependetaan.

Aku senang sekali mendengar cerita ini. Mbah putrinya Gian, yang juga duduk bersama kami, juga terlihat gembira. 

Tak seberapa lama, datanglah papanya Gian. Ia rupanya habis bekerja. Terlihat dari peralatan "perang" yang ia bawa di atas motor. 

"Nek kulo, Gus, luwih remen Gian dadi pulisi," ujarnya datar. 

Aku sangat mengapresiasi keinginan tersebut. Menjadi polisi adalah pekerjaan mulia, pada dasarnya. 

Masa depan Gian masih panjang. Ia memiliki kemerdekaan menentukan hidupnya. Menurutku, ia perlu bersyukur memiliki keluarga yang supportif. 

Kami berdua pamit. Namun kunjungan Natal ke dua keluarga ini bukanlah yang terakhir. Aku dan Rifan berencana mengunjungi keluarga besar GKJW di Besowo dan Gedangan Kandangan.(*)

Friday, January 16, 2026

Bach Di Tarawih Pertama


"Bach lagi meratap soal apa? Kok terasa kelam sekali?" batinku.

Pelan-pelan aku cari judulnya. Bahasa Jerman. Ketemu. Aku ketik di Google untuk menemukan liriknya. Ketemu juga.

***

Sunday, January 11, 2026

NANAS TANAH SUCI



Kemarin, Sabtu (10/1), aku motoran ke Pasar Induk Sayur di Pare Kediri. Jaraknya sekitar 30 km. Tekadku satu; beli nanas. 

Sebulan terakhir ini keluarga sangat doyan nanas, kecuali Galang. Hampir tiap kami beli nanas; di pasar, pinggir jalan, atau minimarket. 

Yang paling brutal mengkonsumsi nanas adalah Cecil. Ia memang terlihat diet. Makanan utamanya telur rebus dan...nanas. Entah madzhab apa dietnya. 

Kenapa di Pasar Induk Pare? Aku meyakini harganya lebih miring. Benar dugaanku. Nanas besar per biji hanya dihargai Rp.4.500. Di pasar Jombang 7-8 ribu. Di pinggir jalan, 13k.

Sunday, January 4, 2026

Ketamakan Agamis

Jika ketidakbahagiaan berumah tangga ditandai, salah satunya, dengan perceraian, maka harusnya perkawinan seagamalah yang harusnya dilarang, karena menyebabkan ketidakbahagiaan. 

Featured Post

SEPEDA UNGU UNTUK MESSIAH DAN ELIANA

Aku sempat ragu sepeda warna ungu atau biru yang akan aku pakai ke pasar. Dua sepeda pancal tersebut adalah warisan dari Galang dan Cecil ya...