Pages

Wednesday, July 5, 2017

Beasiswa Short Course Gender dan Seksualitas 29-31 Juli 2017

Kami mengundang Anda yang berminat dalam isu gender dan seksualitas meraih kesempatan beasiswa short course selama 3 hari.

Beasiswa yang meliputi; akomodasi selama pelatihan, dan dukungan transportasi lokal ini juga memberikan prioritas kepada Anda yang bekerja/belajar/beraktifitas di institusi/komunitas keagamaan. Hanya 20 orang (khusus JAWA TIMUR) yang akan mendapatkan beasiswa ini.

Short course akan diampu oleh Dede Oetomo (founder GAYa NUSANTARA), Vivi Widyawati (feminis), Ahmad Zainul Hamdi (akademisi/aktifis CMaRS), Andreas Kristianto (teolog/GKI), Muhammad Iqbal (CMaRS) dan Aan Anshori (JIAD Jawa Timur).

Materi short course meliputi; (1) Seks, Gender, dan Seksualitas; (2) Gender, Seksualitas dan Negara; (3) Gender, Seksualitas, dan Agama, (4) Gender, Seksualitas, dan Budaya, (5) Gender, Seksualitas, dan HAM.

Kegiatan ini akan dilaksanakan pada tanggal 29-31 Juli. Jika tertarik, Anda bisa mengisi formulir online di SINI, sedangkan petunjuk pengisiannya bisa didownload di SINI.

Batas akhir pendaftaran; 23 Juli 2017. Informasi lebih lanjut, hubungi Sigit (+62 813-3136-4684).

Kami tunggu Anda di acara tersebut.

Thanks!

Tuesday, July 4, 2017

Seratus Orang Angkat Pena soal Tionghoa

Mereka di bawah ini adalah orang-orang yang akan menulis pengalamannya bersinggungan dengan identitas Tionghoa. Ada cerita tentang darah, air mata, selaput kehormatan yang terkoyak, dan juga harapan, mimpi dan kejujuran.

Mereka yang tergabung dalam proyek penarasian memori; "Ada Aku di antara Tionghoa dan Indonesia" ini menulis secara sukarela, demi Indonesia yang lebih beradab.

1. Yuliati Umrah, aktifis anak, Surabaya.
2. Supri, GUSDURian Banjarmasin
3. Ellen Nugroho, EIN Institute, Semarang
4. Michael Andrew, Aktivis Roemah Bhinneka dan Mahasiswa S1 Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (Non-Frater/Non-Seminaris), Surabaya
5. Pdt. Surya G, GKI Semarang
6. Muhammad Bintang Akbar, mahasiswa S1 Pendidikan Sejarah UNY, Jogja
7. Freddy Mutiara, dosen Ubaya
8. Willy P Samadhi, aktifis dan peneliti, Yogyakarta.
9. Rovien Aryunia, profesional SDM dan aktivis MAFINDO.
10. Priyo Sambadha, Puan Amal Hayati Ciganjur, Jakarta.
11. Kristanto Tatok, teolog, GUSDURian Jatim.
12. Andreas Kristianto, aktifis GKI, GUSDURian
13. Affandi, dosen UNIM Mojokerto
14. Antonius Herujiyanto, dosen Sanata Dharma
15. Alim Tobing, SSi, Apt, RFP, Vihara BDC Surabaya
16. Muliasari Kartikawati, dosen UC, GUSDURian Jombang
17. Robi Dharmawan, GEMA INTI Jawa Timur, Surabaya
18. Adi Sujatmika Tjiong (Acong), blogger, dosen Ubaya, relawan Savy Amira Surabaya, co-founder & kontributor growthia.net, penggiat kebhinnekaan.
19. Aan Anshori, JIAD, GUSDURian Jombang
20. Sujoko Efferin, dosen Ubaya.
21. Michelle Angelia, mahasiswi S2 Ubaya
22. Mefangna Wibowo, mahasiswi S2 Ubaya
23. Pietra Widiadi, aktifis lingkungan
24. Herman Saputra Kwan, pengusaha dan aktivis sosial, Surabaya.
25. Virgo TS Anggoro, aktifis, penatua GKI Madiun
26. M. Cheng Hoo Djadi Galajapo, Pelawak (penuntun laku di segala waktu) , Surabaya
27. Pdt. Reza Syaranamual, konselor aktifis perdamaian, Maluku.
28. Hillary Syaranamual, penggiat interfaith, Ambon.
29. Rahmat Hidayat, S2 Filsafat Agama UIN Sunan Ampel, Surabaya.
30. Kartika Ratnasari, pendidik anak berkebutuhan khusus, Mojokerto.
31. Samanera Chang Shi, BDC Surabaya
32. Deddy Marciano, dosen Ubaya, konsultan keuangan
33. Advent Sarbani, Akademi Sekretaris Widya Mandala Surabaya
34. Erfan Sutono, M.H., Generasi Muda Khonghucu.
35. Sugiandi Surya Atmaja, MATAKIN, Jakarta.
36. Ongky Setio Kuncono aktifis dialog antar iman, dosen Agama Khonghucu di berbagai perguruan tinggi.
37. Ronald Hartono, Gema INTI Makassar, Sulsel
38. Arif Muzayin, aktifis Post Institute, Blitar
39. Iryanto Susilo, aktifis Rumah Bhinneka, alumni Sinlui 81, Surabaya.
40. Js. Inggried Budiarti, rohaniawan, aktif di DPK&FKDM Tegal Jawa Tengah
41. Putu Anom Mahadwartha, dosen Ubaya, konsultan, Surabaya
42. Astuti Parengkuh, aktifis perempuan dan anak, Solo
43. Laili Anisah, aktifis perempuan, studi S2 Ilmu Hukum UGM, Jombang
44. Abaz Zahrotien, M.Hum, Jurnalis, GUSDURian Temanggung
45. Aang Fatihul Islam, dosen STKIP Jombang.
46. Najib Ilmi, penggerak Jaringan GUSDURian Malang
47. Heri Pratono, dosen Ubaya, pemerhati multikultiralisme, Surabaya.
48. Liza Kusuma, ibu rumah tangga, penggiat pluralisme dan kebangsaan, Surabaya.
49. Tonny Dian Effendi, dosen HI dan peneliti pada pusat kajian Etnis dan Diaspora Sosial Universitas Muhammadiyah Malang
50. Debby R Santosa, wiraswasta, anggota Perhimpunan Indonesia Tionghoa Malang Raya
51. Halim Eka Wardhana, redaktur bulletin berkala PSMTI Cirebon.
52. Pdt. Steve Suleeman, teolog dan dosen STT Jakarta, aktifis gender dan seksualitas.
53. Shitavadhani Devi, pengusaha, Notaris/PPAT, dosen dan aktivis, Surabaya
54. Djoko Pratomo, penggerak FORMAGAM, GKI Gresik
55. Daisy Irawan, saintis CIFOR, Bogor
56. Woro Wahyuningtyas, aktifis, Direktur JKLPK, Jakarta
57. Linna Gunawan, pendeta di GKI Kayu Putih, Jakarta
58. Novita Sutanto, pendeta di GKI, Jakarta
59. Dian Lestariningsih, peneliti dan nona Rumah Lestari, Jogja
60. Abel Kristofel, mahasiswa teologi di Malang
61. Carmia, mahasiswi teologi, Malang
62. Rebeca Harsono, aktivis pembela hak perempuan, mendamping Cina  Benteng, Tangerang
63. Soka Handinah Katjasungkana  aktivis LBH APIK Semarang
64. Fitria Sari, aktivis hak reproduksi perempuan, Pasuruan.
65. Dede Oetomo, dosen, aktifis dan pendiri GAYa NUSANTARA, Surabaya
66. Vivid Sambas, penggiat perdamaian, Surabaya
67. Siti Mazdafiah, penggiat perempuan di Savy Amira, Surabaya
68. Dony Setyawan, penulis dan pendeta di GKJ, Salatiga
69. Olin Monteiro, aktivis perempuan, Jakarta
70. Maria Engeline Santoso, dosen UI, Perempuan Khonghucu Indonesia (PERKHIN), Depok
71. Irmia Fitriyah, feminis, Surabaya
72. Damairia Pakpahan, aktivis perempuan, Jogja
73. Eddy Suprapto, aktivis dan jurnalis, Jakarta
74. Poedjiati Tan, dosen UC, aktivis, penulis dan co-founder www.konde.com, Surabaya
75. Khanis Suvianita, aktifis dan dosen, Surabaya
76. Renata Arianingtyas, aktifis HAM, Jakarta
77. Zastrouw al-Ngatawi, budayawan NU, Jakarta
78. Dhyana Wijayanti, pendidik dan penulis, Klaten
79. Putri Widi Saraswati, dokter, feminis, Bandung.
80. Agnes Dwi Rusjiati, koordinator Aliansi Bhinneka Tunggal Ika Jogjakarta
81. Rika Theo, jurnalis, tengah studi S3 di Belanda
82. Nina Rossina, ibu rumah tangga, bekerja di LSM pertanian, Bali
83. Abigail Soesana, dosen dan aktifis kebhinnekaan, Surabaya
84. Humam Rimba, koordinator Jaringan GUSDURian Kebumen
85. Shantoy Hades, aktifis, Jogja
86. Vania Sharleen, S.Si (Teol), mahasiswa paskasarjana S-2 Teologi UKDW, Yogyakarta
87. Hemasari Dharmabumi, Advokat, Komunitas Hukum Padjajaran, Bandung
88. Azharul Husna, relawan perempuan untuk kemanusiaan, Aceh
89. Suma Mihardja, aktifis HAM, Jakarta
90. Jenni Anggita, mahasiswi S2 Cultural Studies UI, Depok
91. Joe Sava Budirianto, aktifis GKI, mahasiswa akuntansi Unika Darma Cendika, Surabaya
92. RT. Sudarno Hadipuro, pelestari budaya Jawa, Batu
93. Harijanto Tjahjono, dosen Ubaya, Surabaya
94. Adrianus Yosia, pengamat budaya, GKKK Ambon
95. Shinta Lesmana Hoo, accounting, Bogor.
96. Kusuma Budi P, konsultan IT, Bekasi
97. Cut Marini, Lakpesdam NU, Aceh.
98. Pdt. Firman Adi Kristiyono, Jaringan GUSDURian, Banyumas
99. Yerry Wirawan, dosen sejarah di Yogyakarta
100. Handoko Wibowo, aktivis HAM, Batang.

Monday, July 3, 2017

90 Ksatria; Penarasian Memori Tionghoa

Terima kasih bagi yang sudah berkomitmen untuk ikut project penarasian memori "Ada Aku di antara Tionghoa dan Indonesia".*

*Menjura

1. Yuliati Umrah, aktifis anak, Surabaya.
2. Supri, GUSDURian Banjarmasin
3. Ellen Nugroho, EIN Institute, Semarang
4. Michael Andrew, Aktivis Roemah Bhinneka dan Mahasiswa S1 Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (Non-Frater/Non-Seminaris), Surabaya
5. Pdt. Surya G, GKI Semarang
6. Muhammad Bintang Akbar, mahasiswa S1 Pendidikan Sejarah UNY, Jogja
7. Freddy Mutiara, dosen Ubaya
8. Eve Jap, sedang menyelesaikan tesis di STT Harvest
9. Rovien Aryunia, profesional SDM dan aktivis MAFINDO.
10. Priyo Sambadha, Puan Amal Hayati Ciganjur, Jakarta.
11. Kristanto Tatok, teolog, GUSDURian Jatim.
12. Andreas Kristianto, aktifis GKI, GUSDURian
13. Affandi, dosen UNIM Mojokerto
14. Antonius Herujiyanto, dosen Sanata Dharma
15. Alim Tobing, SSi, Apt, RFP, Vihara BDC Surabaya
16. Muliasari Kartikawati, dosen UC, GUSDURian Jombang
17. Robi Dharmawan, GEMA INTI Jawa Timur, Surabaya
18. Adi Sujatmika Tjiong (Acong), blogger, dosen Ubaya, relawan Savy Amira Surabaya, co-founder & kontributor growthia.net, penggiat kebhinnekaan.
19. Aan Anshori, JIAD, GUSDURian Jombang
20. Sujoko Efferin, dosen Ubaya.
21. Michelle Angelia, mahasiswi S2 Ubaya
22. Mefangna Wibowo, mahasiswi S2 Ubaya
23. Pietra Widiadi, aktifis lingkungan
24. Herman Saputra Kwan, pengusaha dan aktivis sosial, Surabaya.
25. Virgo TS Anggoro, aktifis, penatua GKI Madiun
26. Jodi Galajapo, aktifis budaya, Sidoarjo.
27. Pdt. Reza Syaranamual, konselor aktifis perdamaian, Maluku.
28. Hillary Syaranamual, penggiat interfaith, Ambon.
29. Rahmat Hidayat, S2 Filsafat Agama UIN Sunan Ampel, Surabaya.
30. Kartika Ratnasari, pendidik anak berkebutuhan khusus, Mojokerto.
31. Samanera Chang Shi, BDC Surabaya
32. Deddy Marciano, dosen Ubaya, konsultan keuangan
33. Advent Sarbani, Akademi Sekretaris Widya Mandala Surabaya
34. Erfan Sutono, M.H., Generasi Muda Khonghucu.
35. Sugiandi Surya Atmaja, MATAKIN, Jakarta.
36. Ongky Setio Kuncono aktifis dialog antar iman, dosen Agama Khonghucu di berbagai perguruan tinggi.
37. Ronald Hartono, Gema INTI Makassar, Sulsel
38. Arif Muzayin, aktifis Post Institute, Blitar
39. Iryanto Susilo, aktifis Rumah Bhinneka, alumni Sinlui 81, Surabaya.
40. Js. Inggried Budiarti, rohaniawan, aktif di DPK&FKDM Tegal Jawa Tengah
41. Putu Anom Mahadwartha, dosen Ubaya, konsultan, Surabaya
42. Astuti Parengkuh, aktifis perempuan dan anak, Solo
43. Laili Anisah, aktifis perempuan, studi S2 Ilmu Hukum UGM, Jombang
44. Abaz Zahrotien, M.Hum, Jurnalis, GUSDURian Temanggung
45. Aang Fatihul Islam, dosen STKIP Jombang.
46. Najib Ilmi, penggerak Jaringan GUSDURian Malang
47. Heri Pratono, dosen Ubaya, pemerhati multikultiralisme, Surabaya.
48. Liza Kusuma, ibu rumah tangga, penggiat pluralisme dan kebangsaan, Surabaya.
49. Tonny Dian Effendi, dosen HI dan peneliti pada pusat kajian Etnis dan Diaspora Sosial Universitas Muhammadiyah Malang
50. Debby R Santosa, wiraswasta, anggota Perhimpunan Indonesia Tionghoa Malang Raya
51. Halim Eka Wardhana, redaktur bulletin berkala PSMTI Cirebon.
52. Pdt. Steve Suleeman, teolog dan dosen STT Jakarta, aktifis gender dan seksualitas.
53. Shitavadhani Devi, pengusaha, Notaris/PPAT, dosen dan aktivis, Surabaya
54. Djoko Pratomo, penggerak FORMAGAM, GKI Gresik
55. Daisy Irawan, saintis, Jakarta
56. Woro Wahyuningtyas, aktifis, Direktur JKLPK, Jakarta
57. Linna Gunawan, pendeta di GKI Kayu Putih, Jakarta
58. Novita Sutanto, pendeta di GKI, Jakarta
59. Dian Lestariningsih, peneliti dan nona Rumah Lestari, Jogja
60. Abel Kristofel, mahasiswa teologi di SAAT Malang
61. Carmia, mahasiswi teologi, Malang
62. Rebeca Harsono, aktivis pembela hak perempuan, mendamping Cina  Benteng, Tangerang
63. Soka Handinah Katjasungkana  aktivis LBH APIK Semarang
64. Fitria Sari, aktivis hak reproduksi perempuan, Pasuruan.
65. Dede Oetomo, dosen, aktifis dan pendiri GAYa NUSANTARA, Surabaya
66. Vivid Sambas, penggiat perdamaian, Surabaya
67. Siti Mazdafiah, penggiat perempuan di Savy Amira, Surabaya
68. Dony Setyawan, penulis dan pendeta di GKJ, Salatiga
69. Olin Monteiro, aktivis perempuan, Jakarta
70. Maria Engeline Santoso, dosen UI, Perempuan Khonghucu Indonesia (PERKHIN), Depok
71. Irmia Fitriyah, feminis, Surabaya
72. Damairia Pakpahan, aktivis perempuan, Jogja
73. Eddy Suprapto, aktivis dan jurnalis, Jakarta
74. Poedjiati Tan, dosen UC, aktivis, penulis dan co-founder www.konde.com, Surabaya
75. Khanis Suvianita, aktifis dan dosen, Surabaya
76. Renata Arianingtyas, aktifis HAM, Jakarta
77. Zastrouw al-Ngatawi, budayawan NU, Jakarta
78. Dhyana Wijayanti, pendidik dan penulis, Klaten
79. Putri Widi Saraswati, dokter, feminis, Bandung.
80. Agnes Dwi Rusjiati, koordinator Aliansi Bhinneka Tunggal Ika Jogjakarta
81. Rika Theo, jurnalis, tengah studi S3 di Belanda
82. Nina Rossina, ibu rumah tangga, bekerja di LSM pertanian, Bali
83. Dr. Abigail Soesana, MA.,M.Th., M.Si., dosen dan aktifis kebhinnekaan, Surabaya
84. Humam Rimba, koordinator Jaringan GUSDURian Kebumen
85. Shantoy Hades, aktifis, Jogja
86. Vania Sharleen, S.Si (Teol), mahasiswa paskasarjana S-2 Teologi UKDW, Yogyakarta
87. Hemasari Dharmabumi, Advokat, Komunitas Hukum Padjajaran, Bandung
88. Azharul Husna, relawan perempuan untuk kemanusiaan, Aceh
89. Suma Mihardja, aktifis HAM, Jakarta
90. Jenni Anggita, mahasiswi S2 Cultural Studies UI, Depok.

Friday, June 30, 2017

Doa Fitri dari Pdt. Ari Mustyorini

Sudah dua kali rombongan Forum Masyarakat Gresik Pecinta Keberagaman (FORMAGAM) bersilaturahmi lebaran ke rumah mertua saya di Ngampel Manyar Gresik. Tahun kemarin dan lebaran barusan.

Formagam adalah motor gerakan toleransi di luar struktur negara, semacam FKUB swasta. Saat deklarasi beberapa tahun lalu, mereka memanfaatkan momentum kedatangan ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman dalam acara sahur bersama di Pemkab Gresik. Naskah deklasinya ditandatangani istri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid.

Saya masih ingat, kala itu, sempat dikritik paspampres gara-gara menyisipkan acara penandatangan deklarasi. Tidak sesuai rundown yang tertera. "Mas, harusnya kami diberitahu sejak awal supaya bisa lapor komandan," kata anggota paspampres sembari memfoto naskah deklarasi, 30 menit sebelum ditandatangani. Saya nyengir kuda. Panitia lokal berharap-harap cemas, kuatir nggak diloloskan.

Mungkin itu sebabnya, saya merasa sangat dekat dengan Formagam hingga sekarang. Saya merasa dipelakukan seperti saudara, termasuk oleh Pdt. Ari Mustyorini, pendeta di GKJW Gresik.

Pagi itu, Kamis (29/6) ia memimpin rombongan Formagam menuju rumah mertua saya. Ia datang bersama seluruh keluarganya, dan beberapa teman Formagam; Mbak Nunik, Mbak Christina Ariani, si mungil Febe, dan Pak Eko dari Paroki Gresik.

Saya sadar rute rumah mertua saya agak rumit karena harus membelah Pasar Sembayat yang super meliuk-liuk. Itu sebabnya, meski sudah saya kirimi koordinat dari GoogleMap,  saya tetap merasa perlu menyanggong rombongan di mulut desa. "Desa Ngampel Manyar. Masuk Pasar Sembayat 1 km. Nanti tanya saja desa Ngampel. Setelah sampai  Ngampel, nanya saja rumah Amiroh, Hj. Askonah / (alm) Kiai Adnan," begitu bunyi WA saya ke dia, disusul dengan "share location".

Saya tunggui mereka di Warkop Mat Seri yang letaknya di tanggul desa. Desa Ngampel memang punya tanggul besar untuk mencegah luberan banjir dari Bengawan Solo.

Datang ke rumah, rombongan lantas saya perkenalkan dengan keluarga besar the Adnans, termasuk pasangan saya, Amiroh. Sayang sekali hampir semua kakak ipar saya tidak bisa ikut  jagongi rombongan. Mereka harus melawat ke Bungah untuk bersilaturahmi dengan keluarga pesantren di sana. Riyayan ke Bungah adalah kewajiban bagi the Adnans. Dulu yang menikahkan saya dengan Amiroh adalah alm. Kiai Maimun Bungah, sebab alm. ayah mertua mengalami masalah kesehatan --sebelum akhirnya meninggal dunia sehari setelah akad nikah.

Rasanya, baik Amiroh maupun saya, telah dirawat oleh tradisi menghormati orang yang kami anggap punya integritas-relijius. Kepada mereka, kami kerap meminta barokah doa. Benar bahwa setiap orang bisa memanjatkan doanya langsung pada Alloh, namun secara sosiologis, tetap saja selalu ada aktor-aktor intermediari (bahasa prokemnya; makelar) antara Tuhan dan manusia.

"Mbak, sebelum pamit, tolong aku minta barokah doanya ya," kata saya ke Mbak Ari. Mungkin ia tidak menyangka diminta demikian, sehingga saya kembali memperkuatnya, "Iya, sampeyan doain saya dan keluarga di sini,"

Maka Mbak Ari pun memimpin doa bersama --doa yang saya pahami, dengan khitab yang jelas dlomirnya. Disamping saya ada Mas Bas, ia adalah menantu the Adnans, suami kakaknya Amiroh. Saya tidak tahu apakah ia ikut mengamini atau tidak. Saya tidak terlalu memperhatikannya karena terus menunduk khusyuk saat doa diluncurkan.

Setelah berdoa, kami melakukan ritual wajib; berfoto ria --di rumah dan di pinggir tambak.

Thursday, June 29, 2017

The Eighty-four of Saints; Narasi Memori Tionghoa di Indonesia

Terima kasih bagi yang sudah berkomitmen untuk ikut project penarasian memori "Ada Aku di antara Tionghoa dan Indonesia".*

*Menjura

1. Yuliati Umrah, aktifis anak, Surabaya.

2. Supri, GUSDURian Banjarmasin

3. Ellen Nugroho, EIN Institute, Semarang

4. Michael Andrew, Aktivis Roemah Bhinneka dan Mahasiswa S1 Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (Non-Frater/Non-Seminaris), Surabaya

5. Pdt. Surya G, GKI Semarang

6. Muhammad Bintang Akbar, mahasiswa S1 Pendidikan Sejarah UNY, Jogja

7. Freddy Mutiara, dosen Ubaya

8. Eve Jap, sedang menyelesaikan tesis di STT Harvest

9. Rovien Aryunia, profesional SDM dan aktivis MAFINDO.

10. Priyo Sambadha, Puan Amal Hayati Ciganjur, Jakarta.

11. Kristanto Tatok, teolog, GUSDURian Jatim.

12. Andreas Kristianto, aktifis GKI, GUSDURian

13. Affandi, dosen UNIM Mojokerto

14. Antonius Herujiyanto, dosen Sanata Dharma

15. Alim Tobing, SSi, Apt, RFP, Vihara BDC Surabaya

16. Muliasari Kartikawati, dosen UC, GUSDURian Jombang

17. Robi Dharmawan, GEMA INTI Jawa Timur, Surabaya

18. Adi Sujatmika Tjiong (Acong), blogger, dosen Ubaya, relawan Savy Amira Surabaya, co-founder & kontributor growthia.net, penggiat kebhinnekaan.

19. Aan Anshori, JIAD, GUSDURian Jombang

20. Sujoko Efferin, dosen Ubaya.

21. Michelle Angelia, mahasiswi S2 Ubaya

22. Mefangna Wibowo, mahasiswi S2 Ubaya

23. Pietra Widiadi, aktifis lingkungan

24. Herman Saputra Kwan, pengusaha dan aktivis sosial, Surabaya.

25. Virgo TS Anggoro, aktifis, penatua GKI Madiun

26. Jodi Galajapo, aktifis budaya, Sidoarjo.

27. Pdt. Reza Syaranamual, konselor aktifis perdamaian, Maluku.

28. Hillary Syaranamual, penggiat interfaith, Ambon.

29. Rahmat Hidayat, S2 Filsafat Agama UIN Sunan Ampel, Surabaya.

30. Kartika Ratnasari, pendidik anak berkebutuhan khusus, Mojokerto.

31. Samanera Chang Shi, BDC Surabaya

32. Deddy Marciano, dosen Ubaya, konsultan keuangan

33. Advent Sarbani, Akademi Sekretaris Widya Mandala Surabaya

34. Erfan Sutono, M.H., Generasi Muda Khonghucu.

35. Sugiandi Surya Atmaja, MATAKIN, Jakarta.

36. Ongky Setio Kuncono aktifis dialog antar iman, dosen Agama Khonghucu di berbagai perguruan tinggi.

37. Ronald Hartono, Gema INTI Makassar, Sulsel

38. Arif Muzayin, aktifis Post Institute, Blitar

39. Iryanto Susilo, aktifis Rumah Bhinneka, alumni Sinlui 81, Surabaya.

40. Js. Inggried Budiarti, rohaniawan, aktif di DPK&FKDM Tegal Jawa Tengah

41. Putu Anom Mahadwartha, dosen Ubaya, konsultan, Surabaya

42. Astuti Parengkuh, aktifis perempuan dan anak, Solo

43. Laili Anisah, aktifis perempuan, studi S2 Ilmu Hukum UGM, Jombang

44. Abaz Zahrotien, M.Hum, Jurnalis, GUSDURian Temanggung

45. Aang Fatihul Islam, dosen STKIP Jombang.

46. Najib Ilmi, penggerak Jaringan GUSDURian Malang

47. Heri Pratono, dosen Ubaya, pemerhati multikultiralisme, Surabaya.

48. Liza Kusuma, ibu rumah tangga, penggiat pluralisme dan kebangsaan, Surabaya.

49. Tonny Dian Effendi, dosen HI dan peneliti pada pusat kajian Etnis dan Diaspora Sosial Universitas Muhammadiyah Malang

50. Debby R Santosa, wiraswasta, anggota Perhimpunan Indonesia Tionghoa Malang Raya

51. Halim Eka Wardhana, redaktur bulletin berkala PSMTI Cirebon.

52. Pdt. Steve Suleeman, teolog dan dosen STT Jakarta, aktifis gender dan seksualitas.

53. Shitavadhani Devi, pengusaha, Notaris/PPAT, dosen dan aktivis, Surabaya

54. Djoko Pratomo, penggerak FORMAGAM, GKI Gresik

55. Daisy Irawan, saintis, Jakarta

56. Woro Wahyuningtyas, aktifis, Direktur JKLPK, Jakarta

57. Linna Gunawan, pendeta di GKI Kayu Putih, Jakarta

58. Novita Sutanto, pendeta di GKI, Jakarta

59. Dian Lestariningsih, peneliti dan nona Rumah Lestari, Jogja

60. Abel Kristofel, mahasiswa teologi di SAAT Malang

61. Carmia, mahasiswi teologi, Malang

62. Rebeca Harsono, aktivis pembela hak perempuan, mendamping Cina  Benteng, Tangerang

63. Soka Handinah Katjasungkana  aktivis LBH APIK Semarang

64. Fitria Sari, aktivis hak reproduksi perempuan, Pasuruan.

65. Dede Oetomo, dosen, aktifis dan pendiri GAYa NUSANTARA, Surabaya

66. Vivid Sambas, penggiat perdamaian, Surabaya

67. Siti Mazdafiah, penggiat perempuan di Savy Amira, Surabaya

68. Dony Setyawan, penulis dan pendeta di GKJ, Salatiga

69. Olin Monteiro, aktivis perempuan, Jakarta

70. Maria Engeline Santoso, dosen UI, Perempuan Khonghucu Indonesia (PERKHIN), Depok

71. Irmia Fitriyah, feminis, Surabaya

72. Damairia Pakpahan, aktivis perempuan, Jogja

73. Eddy Suprapto, aktivis dan jurnalis, Jakarta

74. Poedjiati Tan, dosen UC, aktivis, penulis dan co-founder www.konde.com, Surabaya

75. Khanis Suvianita, aktifis dan dosen, Surabaya

76. Renata Arianingtyas, aktifis HAM, Jakarta

77. Zastrouw al-Ngatawi, budayawan NU, Jakarta

78. Dhyana Wijayanti, pendidik dan penulis, Klaten

79. Putri Widi Saraswati, dokter, feminis, Bandung.

80. Agnes Dwi Rusjiati, koordinator Aliansi Bhinneka Tunggal Ika Jogjakarta

81. Rika Theo, jurnalis, tengah studi S3 di Belanda

82. Nina Rossina, ibu rumah tangga, bekerja di LSM pertanian, Bali

83. Dr. Abigail Soesana, MA.,M.Th., M.Si., dosen dan aktifis kebhinnekaan, Surabaya

84. Humam Rimba, koordinator Jaringan GUSDURian Kebumen

Wednesday, June 28, 2017

Kunjungan Fitri dari Paroki

Saya merasa perlu mengabarkan moment ini. Lebaran hari kedua kemarin, rombongan Paroki Santa Maria Jombang mendatangi rumah saya di Mojongapit, Senin (26/6). Tidak tanggung-tanggung, mereka dipimpin langsung oleh dua orang romonya; Rm. Warno, yang senior, dan Rm. Sentosa, lebih muda.

Saya anggap ini kunjungan spesial dan bisa dikatakan sebagai lawatan balasan. Natal tahun lalu saya dkk. diperkenankan bersilaturahmi ke Paroki. Saat itu Romo Warno terlihat kaget namun ia tampak sumringah, ada semburat kegembiraan. Wajahnya seakan berkata 'Hah? Dikunjungi orang Islam pas natalan di Paroki?  This could be too damn good to be true!'

Romo Warno memang pantas terkejut, di tengah bombardiran fatwa haram mengucapkan 'selamat natal' dari MUI, lha kok malah ada anak muda datang berjamaah ke gereja hanya untuk melanggar fatwa haram itu.

Kami saat itu datang tidak sembunyi-sembunyi. Sebaliknya, kunjungan kami bisa dikatakan demonstratif. Saya undang media dan liputannya menjadi headline di Radar Jombang besoknya. Masih saya simpan kliping korannya.

Saat datang ke rumah saya malam itu, Romo Warno dan warga Katolik tengah berusaha menampilkan keseimbangan dalam berelasi. Keseimbangan ini merupakan barometer etis dalam tata krama. Maksudnya, alangkah tidak beradabnya kita yang hanya mau disowani namun enggan sowan balik. Jika rumah atau tempat ibadahmu pernah dikunjungi penganut agama lain, maka sebenarnya kita telah berhutang kunjungan-balik kepada mereka. Sesimpel itu menurut saya.

"Eh Mo, tahu nggak, tempat duduk sampeyan itu persis dengan posisinya Modik pas main ke sini," kata saya. Modik adalah call sign Romo Didik, vikaris jenderal keuskupan Surabaya sebelum akhirnya digantikan Romo Eko. Modik memang pernah mampir ke rumah, bersama kawan saya Tatiek dan Kiky.

Malam itu ngobrol ngalor-ngidul tentang banyak hal, terutama seputar intoleransi dan inisiatif kami dalam merespon hal itu. Saya bilang akan mengadakan kegiatan "Walk for Peace" pertengahan Juli ini ---semacam kunjungan anak muda lintas iman ke beberapa rumah ibadah Jombang untuk belajar singkat tentang agama-agama. Termasuk kunjungan ke Paroki Santa Maria.

Melihat Romo Warno sangat apresiatif mendengar hal itu, saya langsung menimpali, "Tapi nganu, mo, kami datang ke Paroki pas jam makan siang ya, sekalian minta makan siang. Anggaran kami mepeeeet banget,"

Saya ngomongnya sembari cengar-cengir. Tanpa beban sama sekali. Rasa malu dan sungkan telah saya amputasi sedemikian pendek untuk mengatakan hal itu. "Oh siap Gus.. Kami senang dan siap. Ada lagi yang harus kami persiapkan?" jawabnya balik. Saya sempat mikir, "Busyet ..wong iki tengah menyindirku (nglulu, bahasa Jawa) atau serius nanya ya?" Saya memang hanya butuh makan siang saja di Paroki untuk aspek logistik.

Tak seberapa lama kemudian, datanglah Pendeta Kristian Muskanan, gembala Gereja Bethel Indonesia Jemaat Diaspora. Ia datang bersama istrinya. Pak Kris yang tahun lalu menjabat sebagai Ketua Persekutuan Gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII) cabang Jombang, adalah pendeta yang memimpin doa saat aqiqahnya Galang.

Selang sesaat setelah Pak Kris dan istrinya pamit pulang karena ada tamu, rombongan Katolik juga minta undur diri.

"Boleh pulang tapi tolong saya minta doanya ya, Mo, agar rumah ini menjadi lebih barokah," ujar saya. Romo Warno mempersilahkan Romo Sentosa memimpin doa. Kami semua khusuk mengamininya, terutama saya.

Saya bersyukur mendapat kunjungan fitri dari paroki. Ke depan, jika ada pemuka agama lain atau penghayat kepercayaan datang ke rumah saya, pasti saya akan minta mereka berdoa di rumah saya.

Monday, June 26, 2017

Histori dan Memori: Undangan Menulis Pengalaman Bergumul dengan Tionghoa

Saat diundang BDC Surabaya mengisi forum diskusi "Tionghoa dalam Lintasan Sejarah Indonesia", Jum'at (22/6), begitu banyak refleksi personal dari peserta. Kebanyakan mereka adalah Tionghoa-non Muslim. Usai acara, saya ngobrol dengan beberapa peserta, terutama untuk mendorong mereka berani menuliskan pergumulannya dengan identitas ketionghoaan. Namun bagaimanapun, tradisi oral tidak akan bertahan lama sepanjang tidak dituliskan. Peradaban hanya akan kokoh jika ada pengalaman yang dirujuk sebagai pondasi.

Undangan ini adalah ikhtiar menarasikan memori personal agar keragaman di Indonesia --terutama dalam isu Tionghoa-- menjadi lebih kaya dan semakin kokoh. Kami sadar, sangat mungkin narasi-narasi nanti berisi kepiluan dan kepedihan, namun bukankah hal itu akan menjadi lokomotif-ingatan utama agar cerita kelam tersebut tidak terulang kembali? Project ini bertajuk "Ada Aku di antara Tionghoa dan Indonesia".

Siapa yang bisa menjadi penulis?
Anda tidak perlu terlebih dulu menjadi Tionghoa untuk bisa menulis di project ini. Siapapun yang merasa pernah bersinggungan dengan identitas ketionghoaan bisa menulis kisahnya. All are invited. Yang terpenting, tulisan tersebut berbasis kisah nyata. Bukan fiksi.

Seperti apa format penulisannya?
Tidak ada format baku. Anda bisa menulis dengan berbagai gaya sepanjang menggunakan bahasa Indonesia sesuai EYD (ejaan yang disempurnakan). Tulislah sesuai kata hati. Anda bisa gunakan resep William Wallace dalam film Finding Forrester (2000), "First, you have to write with your HEART. Then rewrite it with your HEAD". Intinya, m-e-n-u-l-i-s. Jangan terlalu dipusingkan dengan apapun. Pokoknya, menulis..menulis dan menulis.

Berapa panjang tulisannya?
Anda bisa menulis minimal 600 kata  (spasi tidak dihitung), atau sekitar 1,5 halaman quarto. Maksimal? Tidak terbatas.

Apakah penulis akan mendapat honor (uang)?
Kami tidak punya anggaran dana untuk itu. Bahkan, untuk mencetaknya sebagai buku, kami belum punya uang. Namun kami yakin masih ada orang baik yang akan berdonasi untuk menerbitkannya. Hal yang kami tawarkan sebagai honor adalah kehormatan dan keabadian para penulis untuk berkontribusi bagi dialog kultural Tionghoa dan Indonesia.

Apakah nama penulis akan tercantum?
Jelas, nama setiap penulis akan dicantumkan dalam karyanya. Buku kumpulan cerita ini akan menjadi milik para penulis, khususnya. Serta menjadi milik peradaban dunia, pada umumnya.

Jika buku ini dicetak dan dijual, siapa yang mengantongi royaltinya?
Royalti akan menjadi milik para penulis. Kami belum tahu teknis pembagiannya. Namun jika boleh usul, royalti bisa digunakan untuk mendanai promosi buku ini, misalnya dengan cara mengadakan event bedah buku atau sejenisnya. Mari kita tidak mencari rejeki di proyek ini. Slogannya; dari kita untuk peradaban Indonesia.

Siapa saja yang telah bersedia menjadi penulis?
Banyak, diantaranya adalah; Acong Sudjatmika (Aktifis), Andreas Kristianto (GKI, GUSDURian), Samanera Chang Shi (BDC), Affandi (Dosen UNIM, GUSDURian), Mefangna W (praktisi SDM), Muliasari Kartikawati (Dosen UC, GUSDURian), Michelle Angelia (mahasiswi pascasarjana), Kristanto Tatok (teolog, GUSDURian), Sujoko Efferin (Dosen Ubaya), Robi Dharmawan (INTI Muda), Aan Anshori (JIAD, GUSDURian).

Batas Akhir Pengiriman
Diharapkan seluruh tulisan telah terkumpul paling lambat 15 Agustus 2017, dan dikirim ke tulisantionghoa@gmail.com

Kontak Inisiator
Siapa saja yang berminat menulis, silahkan menghubungi Aan Anshori 08155045039 (WA), Twitter @aananshori FB. aan.anshori@gmail.com atau http://www.aananshori.web.id

Penutup
Jangan pernah minder menuliskan pengalaman diri!

Thanks.

Featured Post

Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 35

Rilis Jaringan NU Kultural (JANUR)  Jombang, 19 Agustus 2026 Beri Jalan Ulama Perempuan dalam Keanggotaan AHWA di Muktamar 35 Muktamar ke-35...