Pages

Tuesday, February 10, 2026

TAK BISA JAUH-JAUH DARI SETIJADI



Entah siapa Setijadi itu. Yang pasti ia tentulah lelaki. Aku berani bertaruh. Tak pernah aku bertemu dengannya, baik maya ataupun nyata. 

Dua minggu lalu, aku diminta para senior Tionghoa menemani  perempuan Tionghoa, dosen di Singapura. Namanya Charlotte Setijadi, Never heard that name. 

Saat aku lacak di Google Scholar, karyanya bertebaran bak cendawan di musim hujan. "Pinter sekali nonik satu ini," batinku. Forum online kami dengan tajuk "Menganalisis Survei Relasi Tionghoa-NonTionghoa," berjalan cukup lancar. 

Ya, terbukti, Charlotte memang pintar. Kalau tidak, mana mungkin Prof. Robin Bush berkehendak menjadikannya sebagai asisten mengajar. Kami hanya bertemu maya saat itu. Tidak ada kontak lanjutan.

Dua hari setelah itu, kira-kira, aku mendapat pesan privat di instagram, dari perempuan yang bukan temanku. Namanya Sasha. Ia memintaku bersedia menjadi salah satu narasumber untuk riset tesisnya, di UPH Jakarta. Ia mengambil jurusan komunikasi, sedang menulis tentang pesan toleransi sebuah tayangan yang sempat kontroversial.

"Iya boleh, silahkan," kataku. 

Ia sangat senang atas kesediaanku. Sejurus kemudian aku penasaran kenapa dan dari mana ia memperoleh informasi tentangku. 

"Aku disarankan oleh mom Naniek, pembimbingku, Gus," katanya riang.
"Mom Naniek? Siapa dia?" kataku makin penasaran. Iki sopo maneh --aku membatin.

"Naniek Setijadi, Gus. Itu lho mamanya Charlotte Setijadi -- yang baru saja seforum sama gus Aan," katanya dengan percaya diri.

Aku googling sebentar. Naniek Setijadi ternyata dekan FISIP UPH Jakarta. Aku stalking nama tersebut di Facebook. Ia tidak cukup aktif. Pastilah. Mana mungkin dekan universitas seserius UPH lebih fokus ke FB ketimbang urusan kampus --aku menduga.

Namun meski aku tidak mengenalnya, aku sempat melihat interaksinya di FB, khususnya dengan beberapa nama yang aku kenal lama. "Ooohh ternyata masih dalam lingkaran yang sama. Santai." aku membatin.

Dua hari setelah berinteraksi dengan Sasha, tak kusangka anaknya Mom Naniek Setijadi, yakni Charlotte Setijadi, mengirim email padaku. Isinya undangan nongkrong di kelasnya. 


"Ya awwohh kenapa aku tidak bisa jauh-jauh dari Setijadi?" batinku, sambil tersenyum sendiri.

Charlotte mengajakku nongkrong di kelas yang ia ampu, kelas antropologi di Singapore Management University (SMU). Entah di Singapura sebelah mana. Aku memang pernah ke negeri kecil itu. Namun sekedar transit saja di bandara dalam perjalanan pulang dari Amerika.

Namun di manapun SMU berada, aku senang sekali bisa berbagi perspektif dengan puluhan nonik dan sinyo di kelas tersebut. Rupanya kelas tersebut telah menerapkan offline. 

Begitu melihat para nonik dan sinyo di kelas, dari warkop Persada, tempatku beronline-ria, aku jadi kangen kelas offlineku di Ciputra. Ya, mereka mengingatkanku pada para mahasiswi/aku. 

Bedanya, di ruang SMU, banyak yang memakai celana pendek, sedangkan di Ciputra tidak diperbolehkan. Aku jadi mikir kenapa nggak boleh pakai celana pendek, lha wong aku tidak keberatan mengajar pakai celana yang sama. Saat online bersama mereka, aku memakai celana itu. Koloran.

Kolor itu elastis, tidak kaku. Longgar. Tidak seperti model pendidikan agama di Indonesia yang rata-rata kaku. Misalnya, siswa/i Islam hanya diajar tentang Islam, tidak agama lain. Padahal tanpa pengetahuan tentang agama lain, pastilah seseorang berpotensi menjadi kaku, seperti kadrun. Itu


Namun aku percaya dua Setijadi merupakan orang yang lebih suka longgar ketimbang kekakuan. Sangat mungkin kelonggaran itulah yang membuat keduanya bertemu denganku, meski hanya dalam bentuk simbol.

Beberapa menit setelah Charlotte memposting suasana kelas tadi, dengan menandaiku di FB, aku mengomentarinya "Your class did make me nervous," 

Ibu dan anak, dari klan Setijadi itu, memberikan emoticon pada komentar tersebut. 

Aku memang tidak bisa jauh-jauh dari Setijadi.(*)

**Facebook 10 Februari 2021

Friday, February 6, 2026

SEMPRO CALON DALANG POTEHI



Tiga hari lalu, aku mengunjungi Museum Wayang Potehi (WMP) Gudo. Sudah agak lama aku tidak mengunjungi pemiliknya, Mas Toni. 

Sebulan sebelumnya kami janjian untuk maesong. Sayangnya ia tidak bisa hadir. Mamanya masuk rumah sakit dan ia harus menjaganya. Anak laki-laki adalah kekasih ibunya. Itu hukum alam.

Aku bertemu dengannya di MWP dan mulai ngobrol seputar banyak hal, termasuk wayang Potehi.

"Mas, aku sudah lama berkecimpung di wayang potehi. Tapi aku merasa nggak bisa apapun. Paling-paling hanya bisa cerita sejarah museum ini. Aku tidak punya kemampuan memainkan alat musik, apalagi menjadi dalang. Aku pengen iso ndalang," ujarku tiba-tiba. 

"Wah, apik mas. Aku dukung penuh," ujar mas Toni dengan mata berbinar-binar. Aku tak menyangka.

"Tapi mas, aku ndak mau membawakan cerita masa lalu, masa kerajaan, Sun Go Kong, dll. Aku tidak tertarik. Aku tertarik membawakan cerita perjuangan Tionghoa Indonesia modern," ujarku
"Wah, joss mas.. sip!"
"Beri aku usulan cerita, mas," kataku memberinya pekerjaan rumah.

Tak seberapa lama, ia mengusulkan cerita, seputar perjuangan perkawinan Khong Hu Cu (KHC) pertama kali dan keterlibatan Gus Dur. 


Pertengahan awal tahun 90am, Indonesia pernah digegerkan dua orang Tionghoa; Budi Wijaya dan Lany Guito. Keduanya nekat kawin KHC padahal agama tersebut belum diakui negara. Dampaknya jelas, Catatan Sipil Surabaya (CSS) menolak menerbitkan Kutipan Akta Perkawinan.

Yang mengagumkan, keduanya tak patah arang. Sikap CSS digugat melalui PTUN Surabaya, PT TUN hingga judex juris, Mahkamah Agung. 

"Ok, mas, aku sreg dengan cerita itu," kataku.

Aku selanjutnya melakukan riset pustaka secara cepat. Tugasku memahami alur kronologis peristiwa tersebut dan, sekuat tenaga, menemukan kutipan-kutipan otoritatif, termasuk ucapan-ucapan Gus Dur saat ini. 

Google Scholar adalah database intelektual yang pertama kali aku sasar. Selanjutnya adalah klipingan koran dan majalah yang terbit pada 1995-2000. Ini pekerjaan yang melelahkan namun menyenangkan bagiku.

Kemudian, aku menyusun kronologi itu dalam draft kasar cerita wayang; terdiri dari 6 babak. Aku menargetkan pertunjukan ini tidak lebih dari 30 menit. 

"Mas, aku sudah selesai dengan draft awal. Aku ingin mempresentasikan dengan sampeyan dan para dalang untuk mendapatkan input serta gambaran lebih riil terkait tata musik dan visualnya," ujarku kemarin.

Hari ini, aku presentasi draft tersebut di hadapan tiga dalang; Mas Toni, Mas Widodo dan Kelung. Ketiganya punya jam terbang tinggi, baik lokal hingga internasional. 

Kami terlibat dalam diskusi yang sangat bernas dan konstruktif. Mereka sangat responsif mengusulkan visualisasi dan musikalisasinya. Dengan cepat mas Toni mencatat kebutuhan kostum dari banyak sosok pemain yang muncul dari penjelasanku. 

Aku sedemikian bergairah hingga tak jarang harus berdiri untuk menyitir ucapan-ucapan Gus Dur maupun para hakim yang menyidangkan kasus tersebut.

"Tenang, mas, aku nanti bersedia jadi asisten dalang. Sampeyan jadi dalangnya," kata mas Toni yang ikut-ikut bersemangat sepertiku. 


Suasana forum tadi siang mirip seminar proposal (sempro). Ya, sempro dari calon dalang. 

Kepada mereka aku menyatakan dalang tidak harus aku. Siapapun bisa. Yang penting, skripnya jelas dan oke. Khususnya, terkait ucapan-ucapan Gus Dur dan para aktor lainnya, diupayakan harus verbatim.

"Oooo tidak bisa, mas, dalangnya harus sampeyan. Kalau dalang lain, ndak pas," ujarnya.

Dalam draft yang aku buat dan bagikan kepada para dalang, aku sertakan pula bibliografi. Persis seperti bikin tulisan ilmiah. 

Bagiku ini pekerjaan ilmiah. Perlu riset. Perlu kutipan. Agar penonton mendapatkan realitas yang optimal.

Sempro calon dalang berjalan lancar. Ada banyak catatan dari para dosen yang perlu aku masukkan dalam draftku. 

"Kita ketemu dua minggu lagi untuk mendiskusikan draft penyempurnaan," ujarku. Mereka menyambut dengan gembira.

Saat mau pulang aku bertemu Pak Kekek. Usianya sudah tua. Perawakannya masih segar. Karena jarang melihatnya di MWP, aku pikir ia sekedar tamu yang tidak terlalu penting.

Mas Toni mengisahkan sosok Kekek sebagai tukang becak di ITC dekat Stasiun Surabaya Kota, selama lebih dari selama 30 tahun. 

"Mas, jangan salah, ia adalah dalang wayang Potehi yang sangat jago, khususnya dalam mengkreasi guyonan-guyonan," katanya. 

Aku benar-benar tak menyangka ia seorang dalang. Harusnya ia bergabung dalam tim dosen yang mengujiku dalam sempro.(*)

https://medium.com/@gantengpolnotok/sempro-calon-dalang-potehi-6cff3759dbed


Monday, February 2, 2026

MENCARI HIKMAT LGBT DI MANADO



"Karena firman itu telah menjadi daging," aku berbisik pada Prof. Emanuel Gerrit Singgih (EGS) di GMIM Sion Winangun Manado, Jumat (2/2). "Anda telah menyelamatkan kekristenan Indonesia, pak, dan juga kami," lanjutku.

Aku berkata seperti itu saat melihat hampir seratusan orang yang hadir memenuhi gereja tersebut menyuarakan pentingnya mengakhiri stigmatisasi terhadap kelompok LGBTIQ, dalam bedah buku "Menafsir LGBT dalam Alkitab,"

Selain keberadaan EGS yang mampu menjelaskan 12 ayat/perikop Alkitab --baik yang pro maupun antiLGBT-- aku merasa kesaksian Rajawali Coco II dan Tiara, keduanya transpuan-- mampu menggedor-gedor nurani peserta. Keduanya begitu gamblang menceritakan apa yang dilakukan gereja terhadap mereka.

Coco mengaku butuh 16 tahun untuk bisa berdamai dengan dampak perundungan gurunya saat taman kanan-kanak. "Sekolah TKnya ada di samping gereja ini. Masih ada jungkat-jungkit yaang biasa kami buat main," Coco mulai mengingat masa lalu. Suaranya mulai serak. 

Perundungan dari gereka juga kerap ia terima dari pendeta-pendeta yang menyinggung-nyinggung ekspresi gendernya. "Kita heran kenapa materi khotbah tiba-tiba berpindah ke Sodom dan Gomora saat melihat kita ibadah? Tadi kita rencana mo kase 50 ribu maar dia ngomong bagitu, bekeng kita sakit hati, so akhirnya saribu jo," kata Coco disambut tawa hadiri.

Yang dialami Coco juga terjadi pada Tiara. 

"Saya ikut menyanyi di gereja, berpenampilan feminin seperti ini. Tiba-tiba pendetanya langsung khotbah soal Sodom dan Gomora. Hati saya sakit sekali diperlakukan seperti itu. Tidak seharusnya gereja bersikap demikian," ungkap Tiara.

Ketidaknyamanan atas berbagai peristiwa yang menimpa mereka berdua membuat Coco dan teman-temannya memilih model bergereja mula-mula. Mereka berkumpul membaca Alkitab secara mandiri. 

"Sampai kemudian kami bertemu Bunda Ruth Ketsia yang membimbing kami menemukan Yesus yang ramah kepada kami," Coco tak lagi mampu menahan air matanya. Aku memegang pundaknya dan menyodorkan tisu.

Bunda Ruth adalah Ruth Ketsia, temanku. Pernah menjabat sebagai ketua umum Perempuan Berpendidikan Teologi (Peruati) yang juga pendeta di GMIM dan salah satu inisiator acara.  

Bunda Ruth tidaklah sendiri di sana. Ada banyak pendeta GMIM yang hadir saat itu. Salah satunya Pendeta David Tulay yang menjadi salah satu penanggap sepertiku. Ia menekankan pentingnya keberanian kita mereformasi cara pandang kekristenan dalam merespon isu LGBT. 

"Buku Prof. Gerrit Singgih ini sangat penting dibaca oleh siapa saja termasuk para pendeta di GMIM," ujarnya.

Di dalam buku tersebut, EGS menjejer dan menjelaskan 12 ayat/perikop yang ada di Alkitab; enam yang pro, enam lainnya bernada kontra. Semua diulas dengan sederhana, gamblang, dan masuk akal. "Kenapa kita selalu lebih suka memakai ayat-ayat yang antiLGBT namun tidak memedulikan enam yang lain?" kata EGS mencoba berefleksi. 

Refleksi EGS memicu berbagai respon peserta, baik dari Muslim maupun Kristen; baik hetero ataupun homo; baik trans maupun cis-gender. 

Dari sekian banyak perespon, ada satu orang yang menarik. Namanya Pdt. Musa dari GMIM. Dia maju ke depan dan langsung mengekspresikan penyeselan atas sikapnya selama ini. 

"Saya bertobat dari cara pandang saya yang salah terhadap kelompok LGBT. Mereka tidak seharusnya diperlakukan seperti itu," 

Kejujuran dan keberanian pendeta gempal ini mendapat apresiasi panjang dari peserta diskusi. Mereka bersorak sorai. Aku trenyuh dan larut dalam situasi emosional di gereja ini. 

Secara khusus, sebagai seorang muslim-nahdliyyin, aku sangat bahagia mendapati puluhan adik-adikku PMII dan GUSDURian, perempuan dan laki-laki, yang hadir saat itu, ikut merasakan situasi kebatinan saudara-saudara Kristennya terkait isu LGBT. 

Bagi kami, situasi seperti ini bisa dikatakan sebuah kemewahan pada saat kami terus berjuang agar isu ini tidak lagi dianggap momok untuk didiskusikan di komunitas Muslim. 

Aku sendiri di forum tersebut, maupun di IAKN Manado, mengatakan sebuah hal yang mungkin sangat jarang diketahui orang Kristen maupun Muslim. Yakni, terkait narasi al-Quran menyangkut apa yang Allah ajarkan kepada Yesus/Isa. 

"Anda, para pengikut Yesus, perlu tahu bahwa saat Maryam gundah menerima kabar akan kehamilannya tanpa 'sentuhan' laki-laki, Allah menegaskan Dia punya kuasa menjadikan apa saja yang Ia kehendaki, termasuk membuat Maryam hamil secara queer," kataku sembari membaca QS. 3:47. Dan di ayat selanjutnya, aku meneruskan, Allah mengajari Yesus dengan Al-Kitab, Hikmat, Taurat dan Injil.

Apakah hikmat itu? Dalam bahasa Inggris, sepadan dengan diksi 'wisdom," yang bermakna "the natural ability to understand things that most other people cannot understand," 

Yesus dibekali instrumen khusus agar dapat memahami hal-hal yang orang kebanyakan tidak mampu memahaminya. Maka sudah sewajarnya para pengikut Yesus juga diberkati oleh hikmat tersebut. 

"Saya ini kadang merasa heran dan sering tertawa sendiri, bagaimana mungkin ada orang Kristen bisa menerima dengan suka cita Maryam yang melahirkan namun tetap dianggap perawan -- dan bahkan mengagungkan perempuan tersebut beserta bayinya-- namun tidak bisa menerima kenyataan ada orang berpenis emoh vagina. Bukankah dua hal tersebut sama-sama anehnya? Rasanya, orang Kristen tersebut belum mendapat hikmat sebagai Allah yang mengajari Yesus," kataku di forum.

Malam itu, hikmat tersebut rasanya telah menubuh dalam karya EGS, Coco dan Tiara, Pdt. David dan Pdt. Musa, Bunda Ruth, GMIM Sion Winangun, IAKN Manado dan semua yang hadir dalam acara bedah buku.

Wallohu a'lam.(*)

Special thanks to Opa Jago Amadeo Devin Daniel Udampoh Linda Raihanda Ibrahim Steve Suleeman

**FB 20 Feb 2020

Featured Post

TAK BISA JAUH-JAUH DARI SETIJADI

Entah siapa Setijadi itu. Yang pasti ia tentulah lelaki. Aku berani bertaruh. Tak pernah aku bertemu dengannya, baik maya ataupun nyata.  Du...